Happy Reading!

.

.

.

.

.

.

Jimin menggosokkan kedua tangannya kuat, berharap hal itu bisa mengurangi dingin yang menyelimuti tubuhnya. Ia terus menengok ke kanan dan ke kiri, berharap bayangan seseorang yang sedari tadi ditunggunya muncul bersama titik-titik salju yang berjatuhan.

"Taehyung idiot.."

Tubuhnya seolah beku, tapi Jimin tak peduli. Ia harus menunggu. Manik arangnya terbuka lebar tak sampai sepuluh detik kemudian saat bayangan seseorang berjalan ke arahnya. Orang itu berjalan dalam balutan mantel dan sebuah syal putih tulang. Bayangan tersebut terus mendekat hingga kini ia mampu melihat wajahnya. Benar orang itu. Hingga saat orang tersebut berdiri tepat di hadapan Jimin, ia menangis.

"TAEHYUNG IDIOT! TOLOL! BAJINGAN!"

Jimin meneriaki pemuda di hadapannya dengan berbagai kata umpatan. Tangannya ia gunakan untuk memukul tubuh tegap yang bergeming di hadapannya. Ia rindu, terlalu rindu untuk mengucapkan kata 'selamat datang' dengan benar.

"Aku pulang."

Pria itu- Taehyung membawa Jimin dalam dekapannya. Merasakan tubuh yang kini bertambah kurus itu bergetar dalam tangisan.

"Kau tolol.."

Jimin bergumam dalam tangisannya. Taehyung mengangguk, mengiyakan.

"Kau bajingan.."

Taehyung kembali mengangguk.

"Kukira kau sudah tak mencintaiku lagi dasar sinting!"

Taehyung melepaskan dekapannya pelan. Ia menatap Jimin dengan maniknya yang legam. Jimin balas menatap.

"Tidak akan pernah dalam hidupku aku berhenti mencintaimu. Jangan bicara omong kosong."

Setelahnya Taehyung menyatukan bibir mereka, memagut pelan menyalurkan rasa rindu yang menumpuk belasan tahun lamanya. Kini keduanya sama, menangis.

"Maafkan aku."

Taehyung berucap kala pagutan keduanya terlepas. Ia mengusap pelan air mata Jimin yang meleleh turun. di kecupnya kedua manik yang selama ini hanya bisa ia lihat lewat sebuah foto. Kini ia bisa menyentuh Jimin secara langsung, Taehyung lebih bahagia dari siapapun di muka bumi ini.

"Idiot. Aku tak sudi memaafkanmu."

Jimin mendekap Taehyung erat. Tubuhnya bergetar. Ia benar-benar rindu. Dadanya terasa akan meledak saking bahagianya. Jimin ingin berteriak kencang, mengatakan pada seisi semesta bahwa Taehyung telah kembali. Kekasihnya telah kembali.

"Kita pulang sekarang? Di sini dingin, aku tak mau kita berdua berakhir dengan demam di hari pertama bertemu."

Jimin bergeming.

Taehyung tersenyum lembut dan mengangkat tubuh Jimin pelan, menggendongnya seperti koala. Ia terkekeh dalam hati mengingat jika kini Jimin sudah menginjak usia 31 tahun. Dasar bayi besar.

"Kau hangat.."

Jimin menelusupkan kepalanya pada perpotongan leher Taehyung. Menghirup aroma khas kekasihnya itu yang amat ia rindukan. Bau Taehyung seperti kayu manis, menenangkan. Kini matanya mulai terasa berat, ia mengantuk.

"Tidurlah, nanti ku bangunkan."

Taehyung mengelus punggung kekasihnya pelan.

"Ini bukan mimpi kan? Kau sungguh akan ada di sampingku saat nanti aku terbangun?"

Jimin mengangkat kepalanya dan menatap Taehyung.

"Ini lebih dari sekedar nyata. Jadi sekarang tidurlah."

Taehyung mengecup singkat pucuk hidung Jimin dan tersenyum kecil. Jimin mengangguk, mengembalikan kepalanya pada perpotongan leher Taehyung.

"Jangan pergi lagi dasar idiot."

"Tidak akan."

.

.

.

.

.

End

A/N : Haloo aku balik lagi~ karena kemaren ada yg minta supaya jangan angst jadi ini aku bawain yang lumayan manis hehe

See you next chap!