DURARARA!

Story by: Reni-is-Ishida with Orihara Miyaji

Disclaimer: Ryohgo Narita

Warning: OOC, Yaoi, geje, beberapa kata yang ambigu. Don't like leave it!

Pair: Shizaya

Summary: Hujan dan gelap. Dua hal yang dibenci Shizuo. Dan keadaan itu diperparah dengan kehadiran seseorang yang juga dibenci olehnya. Orihara Izaya.

BLACKOUT part II

-flashback-

"Hentikan, flea! Atau aku akan…"

"Hmm~? Akan apa, Shizu-chan~"

-end of flashback-

Dan gara-gara provokasi Izaya itulah mereka berada dalam posisi sekarang ini. Shizuo-yang tentunya masih naked- di atas Izaya-yang masih memakai kaos dan jins hitamnya-. Air ofuro yang tadinya cukup hangat sekarang sudah mulai mendingin. Untung saja air di ofuro itu masih dalam batas yang memungkinkan Izaya untuk mengambil nafas. Karena kalau tidak, mungkin Izaya akan dalam perjalanan menuju alam sana berkat Shizuo yang tidak segan untuk menenggelamkannya.

"Ara, Shizu-chan mau apa~?" ujar Izaya dengan menyeringai.

"Diam kau, flea!"

"Nee~nee~ Shizu-chan~ jangan-jangan kau mau me-rape ku ya~"

"Ha? Rape? Apa itu?"

"Eh?" sesaat Izaya terpana mendengar jawaban Shizuo yang polos itu. "Hmph…ahaha… Shizu-chan polos sekali ya~"

Dan wajah Shizuo pun menjadi merah mendengar ucapan informan itu. "Di-diam kau!"

"Kalau tidak~?" balas Izaya dengan nada menggoda.

Dengan kasar Shizuo mendaratkan bibirnya ke Izaya dan menggigitnya. Izaya yang sudah merencanakan hal itu dari awal, membiarkan Shizuo menggigit bibirnya hingga berdarah. Setelah beberapa saat Shizuo melepaskan ciuman-atau lebih tepat dibilang gigitan-nya.

"Shizu-chan menginginkanku ya~" ujar Izaya nakal sambil menjilat bibirnya yang berdarah.

"Diam!" dan Shizuo pun mendaratkan bibirnya lagi di bibir Izaya, namun kali in lebih lembut. Hal yang tidak disangka oleh informan itu adalah bahwa Shizuo bisa selembut itu.

Sementara itu, tangan sang mantan bartender itu mulai menyentuh leher Izaya, turun ke bawah dan jari-jarinya mulai menyelusup ke dalam kaos hitam Izaya dan menelusuri lekuk tubuh sang informan. Izaya pun mengerang pelan, dan kesempatan itu digunakan Shizuo untuk memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulut Izaya.

Dengan liar, lidah mereka mulai beradu. Saliva yang menetes dari bibir mereka pun tidak mereka hiraukan lagi. Tangan Izaya memegang sisi ofuro untuk menahan tubuhnya agar tidak masuk lebih dalam ke dalam air. Sedangkan tangan Shizuo yang tidak sabar segera merobek kaos Izaya, mengekspos tubuh bagian atasnya. Jari-jari Shizuo mulai merayap ke tubuh Izaya. Merasakan kulit pucat sang informan, dan mulai memainkan tonjolan pink yang ada di dadanya.

"Ngh," erang Izaya pelan. Kesempatan ini digunakan Shizuo untuk menjelajah rongga mulut Izaya lebih dalam. Merasakan setiap inci dari mulutnya dan samar Shizuo bisa merasakan esensi dari kopi yang diminum Izaya sesaat sebelum dia menyusup ke apartemen Shizuo.

Kehabisan napas, dua orang itu pun melepaskan ciuman mereka. Sesaat memandang satu sama lain dalam kegelapan dan Shizuo mulai menyerang leher Izaya. Kecup. Jilat. Hisap. Gigit. Seperti melodi yang diulang tanpa henti sampai membentuk beberapa kismark. Semakin lama gerakan lidah Shizuo semakin liar. Bibirnya menuju ke tonjolan pink di dada Izaya dan memainkannya dengan mulutnya.

"Ngh, ah. Sh-shizu..benar-benar..ah…menginginkanku…yah.." ucap Izaya dengan nafas yang tersengal-sengal.

Shizuo hanya membisu. Sementara bibir Shizuo bermain dengan bagian atas tubuh Izaya, tangannya mulai bergerak menuju jins Izaya. Dengan pelan dia menurunkan resletingnya dan mengelus apa yang ada di baliknya.

"Nnh..Sh-shizu.." erang Izaya.

"Hm?" balas Shizuo pendek, merasa sukses dengan 'usaha'nya menggoda Izaya. Dan dia pun melepaskan bibirnya dari tubuh Izaya. Memandangi wajah super merah-ala uke- dari sang informan yang tidak bisa dilihat setiap hari tentunya. Tangannya masih saja mengelus bagian bawah Izaya yang masih dibatasi oleh kain tipis.

"Ja-jangan ngh..cuma menggodaku…"

"Maksudmu?" ucapShizuo sambil menyeringai dan diimbangi dengan gerakan tangannya yang semakin cepat di barang pribadi Izaya.

"Haah…ngh…"

Karena Shizuo juga tidak sabar melihat ukenya yang amat menggoda itu, dengan cepat dan kasar dia melepaskan jins sekaligus apapun yang menghalangi 'akses' tangannya. Dan tampaklah tubuh polos Izaya tanpa memakai pelindung apapun. Tangan Shizuo pun mulai bergerak ke 'barang' Izaya dan perlahan meremasnya.

"Bilang 'kumohon, Shizuo', dan aku akan melakukan apa yang kau butuhkan .ya." ujar Shizuo.

Dan mau tidak mau, meski sebenarnya terpaksa, 'tapi apa boleh buat' batin Izaya.

"P-please, Shizuo."

-tbc-

Yosh, cliffhanger XDD

Next chapter, last part, otanoshimi ni~~

Don't forget to review, plea~~se