Soul Calibur : Rise of The Family

Genre : adventure / drama

Rating : T

Synopsis : Dimulai dari pertemuan tidak disengaja, siapa yang akan menyangka jika pencarian pedang justru membawa mereka pada jantung perebutan kekuasaan keluarga bangsawan.

Disclaimer : Soul Calibur itu punyanya Namco. Saya cuma punya Oc-nya saja.

Author's note : Don't like don't read, Ok! OC inside, RnR?


BAB 1

WHEN THE BATTLE IS OVER

.

"If you find a good wife you'll be happy;

if not, you'll become a philosopher."

.

-Socrates-

.

Athena, Kekaisaran Turki Usmani

1 bulan kemudian

.

Hembusan angin musim panas yang lembut membelai dedaunan pohon zaitun secara perlahan. Ciptakan sedikit goyangan pelan pada tiap rantingnya untuk sesaat. Rontokkan beberapa helai daun dari tempatnya dalam kesejukan. Menyentuh tanah lalu kembali tertiup oleh aliran berikutnya. Sebagian terbang melayang. Sebagian lagi teronggok begitu saja. Menjadi sampah yang tiada berharga.

Mungkin untuk sebagian orang, semua ini sangat membosankan. Tiada suatu keistimewaan tersembunyi dari hal tersebut, apalagi saat mendapati bahwa segalanya hanya terjadi pada sebuah daerah kosong di pinggiran kota yang sepi kehidupan. Sepi kegiatan. Hanya sebatang pohon besar dan sebuah rumah sederhana, tidak lebih.

Simbol kemandekan...bisa saja demikian.

Tapi bagi penghuninya, daerah itu mampu memberikan apa yang tidak bisa diberikan oleh tempat lain. Sesuatu yang langka...juga membahagiakan.

.

Kedamaian

.

Ya, sesuatu itu adalah kedamaian. Di lokasi yang terpencil itu kau akan menemukan sebuah surga kecil dimana kamu dapat hidup sebagai dirimu sendiri. Jauh dari cengkram cakar jahat penguasa tamak, terasing dari perampok ofisial berwujud petugas pajak juga lepas dari ancaman prajurit lalim yang suka memeras pundi-pundi uangmu manakala kau tertimpa sial menjumpai mereka saat sekumpulan hyena itu kalah main judi. Tidak ada perang, nihil penindasan. Intinya...justru di lokasi seperti inilah kau dapat hidup tenang. Fokus pada perkembangan diri, pasangan hidup dan juga keturunanmu.

Persis seperti apa yang dirasakan oleh Sophitia Alexandra sekarang, saat dirinya tengah bersiap-siap. Bermaksud untuk awali pagi dengan penuh makna serupa dengan hari-hari sebelumnya pasca kembali dari perjalanan panjang demi sebilah pedang. Tak ada lagi pertumpahan darah, sirna sudah penderitaan. Waktu yang dijanjikan Hephaestus telah datang, dan fokusnya telah teralih.

Pertarungan telah berakhir.

Pedang dan perisai sudah kembali.

Usai sudah tumpahan darah yang mengalir

Kembali pada kebahagiaan yang sejati.

Kini, ia hanyalah seorang oracle di kuil junjungannya. Seorang penjaga yang kehilangan mata batinnya. Tugasnya sudah berubah pada fungsi perawatan semata. Para dewa memang selalu di hati wanita berambut panjang itu, tetapi aulanya telah berbagi tempat dengan keluarganya. Di hatinya sudah tersimpan sang suami, Rothion yang siang malam bekerja sebagai pandai besi (merangkap single parent). Juga kedua anaknya: Pyrrha dan Patroklos, dua orang malaikat kecil menggemaskan, lucu akan tetapi terkadang (mungkin) kurang mendapat kasih sayang seorang ibu oleh karena tugas beratnya dulu.

Oleh karena itu, sekarang adalah kesempatan untuk memperbaiki semua. Menyelamatkan apa yang kiranya bisa diamankan. Ia tidak ingin berakhir tragis, menjalankan tugas Dewa sebagai penyelamat dunia akan tetapi tidak bisa mempertahankan keluarganya sendiri. Ia tidak ingin pula jadi begitu menyedihkan...tampil sebagai penolong yang mampu membimbing orang lain keluar dari kegelapan, tetapi tidak mampu mengurus anak-anak serta suaminya dengan sebagai mana mestinya. Meskipun mereka memang bisa memahami maksud kepergiannya.

Sebab ia adalah seorang ibu.

Dan alasan itu pulalah yang mendasari tindakannya untuk mengajak kedua buah hatinya ke kuil sang dewa pandai besi guna melewatkan waktu bersamanya...seperti hari ini. Setelah segala hal yang perlu usai dipersiapkan.

"Mama..." panggil Pyrrha, sang anak perempuan sembari menarik rok sang bunda dengan tangan mungilnya. Membuat perhatiannya teralih pada anaknya itu.

"Ada apa, sayang?"

"Apa papa akan ikut kita ke sana hari ini?"

Sophitia tersenyum, untuk sesaat ia melirik sesosok sibuk di belakang wajah merah anaknya. Pada sang suami yang bergegas menuju pekerjaannya di kota. Memandanginya sebentar...lalu mengusap kepala bocah kecil itu.

"Hari ini papa kalian ada pekerjaan..."

"Yahhh...payah..." seru Patroklos. Muka cemberut terpasang di wajah, "Kenapa kita nggak bisa ke sana sama-sama? Apa papa nggak suka pergi sama kita"

"Jangan begitu...papa melakukan itu bukannya ia tidak suka, Patroklos. Dia melakukan itu karena sayang sama kamu."

"Ummm..."

"Sudahlah, jangan merengut terus...ayo..." Secara perlahan, Sophitia lalu berdiri...mengajak anaknya untuk berjalan keluar menuju halaman depan rumah yang hangat. Cerah dimana langit biru telah menunggu. Menyinari keceriaan kanak-kanak mereka.

Ia lalu kembali mengarahkan dirinya pada Rothion, bermaksud untuk berpamitan akan tetapi rupa-rupanya sang suami telah berada di dekatnya. Mengamati semuanya dengan penuh kehangatan. Pria itu tidak bicara banyak kecuali satu hal.

"Hati-hatilah di jalan, Sophie..." sembari melayangkan satu buah kecupan pada pipinya. Lalu puas menatap raut muka istrinya yang merona merah.

"Kau juga, Rothion..."

"Seperti biasa...jangan sampai dicurigai." suaminya kembali berucap. Coba mengingatkan sang istri agar berhati-hati dengan posisinya sebagai seorang oracle—sebuah posisi yang sangat mengindikasikan identitasnya sebagai seorang politeis. Pemeluk agama lama dengan kepercayaan pada para Dewa Olympus. Suatu kepercayaan yang jelas-jelas telah dilupakan sekaligus dianggap sesat baik oleh Kekaisaran Turki Usmani yang berazaskan Islam maupun komunitas Nasrani serta Yahudi di wilayah itu. Tertangkap karena kejahatan iman seperti ini jelas tidak dapat ditoleril. Alat pancung dan tiang bakaran menanti mereka yang lengah. Kecuali mereka mau mengingkari iman tersebut.

"Ya..." wanita berusia pertengahan dua puluh tahunan itu kemudian menjawab pelan. "Semoga sukses dengan pekerjaanmu hari ini."

"Tentu saja..."

Kemudian ibu muda itu lantas pergi bersama dengan kedua anaknya. Meninggalkan sang ayah selagi sang kepala keluarga bergegas menuju mata pencahariannya di tengah kota. Mengarah kerumunan bangunan pada areal kaki Pathenon yang sepi dimana orang-orang berkumpul mencari sarana pemenuhan kebutuhan. Yang salah satu pojok kotanya beredar kabar perihal perkembangan keadaan sekitar Eropa, Mediterania dan Timur Tengah. Semisal :

.

Maraknya perompakan di perairan Spanyol

Kemunculan hantu Vlad Tepes di Wallachia

Sosok raksasa di luar kota Basra

Informasi tentang penjaga dunia baru

Perselisihan Prancis dan Inggris yang semakin meruncing

Upaya pembunuhan yang gagal terhadap Philip II of Spain

.

dan

.

Pembentukan Dewan Kota sementara pengganti Grand Duke of Firenze

pasca pembunuhan terhadap Ferdinando I de' Medici.

.

Dari mulut ke mulut, keributan para pelaut di dermaga pelabuhan berikut dengan dialog para pedagang. Ibarat mata rantai...semuanya bercampur baur jadi satu merangkai setiap kata dan aksara menjadi satu kesatuan penuh. Gabungkan segala rumor dan fakta gambaran yang ada. Memutar roda sejarah.

.

TBC

.


Special thx to wikipedia, google dan Wikia yang sudah memberikan banyak informasi tentang: keadaan zaman Rennaisance, letak geografis Yunani, silsilah bangsawan, rumah Yunani kuno ,Kekaisaran Turki Usmani, juga tentang karakter-karakter yang muncul di bab ini. Dan tak lupa grup band Padi atas inspirasi kata-kata. (esp lagu Sang Penghibur)

Glossarium :

Oracle : program komputer...entah sekarang udah sampai seri berapa -plak- (canda2^^) , dalam banyak kebudayaan...lebih dikenal sebagai orang bijak dengan kemampuan untuk berhubungan langsung dengan Dewa dalam agama Politheisme