"Sai…"

Ekspresi marah di wajah Sakura tidak membuat laki-laki itu menarik dirinya untuk berjalan mendekati Sakura.

"Sakura, gomen. Aku sudah melakukan hal yang salah. Tapi kumohon, percayalah denganku. Aku sangat menyesalinya," kata Sai sambil berusaha menarik lengan Sakura.

OKAMA'S REPORT

Chapter 2: May I Have Your Order?

Disclaimer: the manga is MASASHI-ANIKI'S! *plak*

Warning: heavy OOC, AU, slight sho ai, bunch of okamas

Sakura menyentakkan tangannya dengan keras, "Jangan sentuh aku!" ia menoleh pada Naruto, "Ayo, Naru-chan. Kita pergi!"

"E-eh…"

Naruto yang masih kebingungan sudah ditarik paksa oleh Sakura untuk kabur dari laki-laki itu. Saat Naruto menoleh ke arahnya, ia melihat raut sedih di wajah Sai.

Setelah beberapa lama mereka berlari, barulah Sakura melepaskan tangan Naruto.

"G-gomennasai, Naru-chan! Gara-gara aku, kau jadi ikut terlibat," kata Sakura sambil berusaha mengatur nafasnya.

"Tidak apa-apa, Sakura-chan. Memangnya tadi itu siapa?" Sakura terlihat enggan menjawab pertanyaan Naruto, membuatnya langsung panik. "E-ettou, kalau memang kau tidak mau menjawabnya, tidak apa-apa, kok kalau tidak dijawab—"

"Dia itu pacarku." Jawab Sakura akhirnya sambil memasang raut wajah sedih sekaligus marah.

Naruto merasa aneh saat mendengar jawaban Sakura, "Pacar… Pacar?"

"Ya. Memangnya kenapa, Naru-chan?" Sakura mengerutkan dahinya, "Tapi… seharusnya kami sudah putus sekarang." Ucapan Sakura itu langsung membuat wajah Naruto berseri-seri sampai akhirnya— "Kalau saja kami tidak masih saling menyukai satu sama lain."

***RED***

Sasuke menendang kepala Naruto keesokan paginya di sekolah saat ia melihat laki-laki blonde itu terkapar lemas di atas mejanya. Ia mengerutkan dahinya saat Naruto tidak meresponsnya. Sasuke kembali menendang kepala Naruto, kali ini dengan cukup keras. Sayangnya Naruto tetap tidak bergerak, hanya menggumam tak jelas.

"Oi, kau ini masih hidup atau tidak, Dobe?" tanya Sasuke, sudah habis kesabaran.

"Dia sudah memiliki pacar… sudah memiliki orang yang disukai… tak ada celah untukku…" gumam Naruto tak jelas.

"Hah?" Sasuke semakin tidak mengerti dengan keadaan temannya itu. Ia mendekati Naruto, berusaha melihat wajah temannya itu dari dekat. Dahinya kembali berkerut saat ia melihat Naruto beruraian air mata, "Kau menangis? Memangnya kali ini kau gagal dalam ujian apalagi sampai menangis seperti itu?"

"Aku patah hati…" Naruto kembali bergumam tak jelas.

"Dengan anak perempuan yang kemarin? Sudah kubilang ti—"

Naruto refleks menarik kerah baju Sasuke saat sebuah ide muncul di otaknya. "Sasuke! Kau itu, kan cowok populer, dan banyak anak perempuan menyukaimu, kan?!"

"Kau kenapa, hah? Perlu kuantar ke UKS?" Sasuke balik bertanya.

"Bagaimana untuk menarik perhatian seorang cewek yang sudah menyukai orang lain?"

Pertanyaan Naruto membuat Sasuke bungkam.

"Kumohon, beritahu aku, Sasuke!"

"Ah. Kurasa wajah. Kau tahu, aku memiliki wajah yang banyak disukai oleh wanita. Juga kepribadianku." Naruto menahan tangannya agar tidak melayang tiba-tiba ke wajah Sasuke. "Karena itu anak-anak perempuan menyukaiku."

"Lalu bagaimana denganku? Apakah kekurangan yang aku miliki?" tanya Naruto.

"Kekuranganmu? Mungkin tubuhmu agak pendek," sahut Sasuke dingin. Naruto menginjak kaki Sasuke dan membuat laki-laki berambut jabrik itu memasang wajah kesakitan. "Baiklah. Kalau aku jujur, wajahmu itu sebenarnya cukup imut, bagi seorang laki-laki—tapi tidak cukup menarik untuk seorang wanita."

"K-kenapa begitu?" Naruto terlihat bingung, "Bukankah anak perempuan menyukai hal-hal yang kawaii, imut-imut begitu?"

"…soalnya mereka tidak mau memiliki pacar yang lebih imut dari mereka."

Naruto dan Sasuke saling menatap satu sama lain.

"Ya, pasti begitu." Naruto memaksakan dirinya tertawa. "Terima kasih sudah menjadi teman yang baik, Sasuke." Ia menepuk bahu Sasuke.

"Kurasa aku sudah boleh menjauh darimu sekarang," ucap Sasuke sambil mengarahkan tangannya ke belakang bahunya—menunjukkan sekumpulan anak-anak perempuan mengarahkan kamera handphone mereka ke Sasuke dan Naruto. "Kau tahu, semenjak ada grup bernamakan Fujoshi, anak-anak perempuan sepertinya selalu mengintai kegiatan kita berdua."

***RED***

Naruto berulang kali menghela nafas, merasakan hatinya galau memikirkan Sakura. Bahkan saat ia kebagian kerja part time, Naruto beberapa kali tidak mendengar panggilan Kakashi.

"Kau tidak enak badan, Naruto?" tanya Kakashi saat Naruto mendengarkan panggilannya setelah berkali-kali gagal dipanggil.

"Ah. Aku tidak apa-apa, Kakashi-sensei."

"Jangan memanggilku 'sensei' lagi, aku sudah bukan guru lesmu lagi," kata Kakashi. "Kalau kau memang lelah, istirahatlah. Aku tidak tahu harus bilang apa pada Kushina-san dan Minato-san kalau kau sampai jatuh sakit karena kelelahan. Bisa-bisa ketahuan kalau aku mengajakmu bekerja di sini."

Naruto mengingat-ingat kedua orang tuanya yang tinggal di luar kota. Semenjak ia memutuskan untuk pindah ke Tokyo untuk bersekolah, Naruto mendapatkan bantuan dari Kakashi yang bertindak sebagai walinya di Tokyo. Ia bekerja di café ini atas ajakan Kakashi dan juga bisa mendapatkan apartemen yang murah walau bobrok dengan bantuan pria itu. Mau tidak mau, Naruto tidak ingin mengkhawatirkan orang yang sudah berjasa padanya.

"Aku mengerti, Kakashi-san." Naruto tersenyum kecil.

"Kalau begitu bawakan pesanan ini ke meja nomor 24. Oke?"

Naruto mengangguk dan membawa nampan berisi pesanan pada pelanggannya. Matanya sesekali sibuk, berusaha mencari kehadiran Sakura. Benar juga, bagaimana mungkin Sakura akan terus menerus datang ke sini? Rasa kecewa sedikit menyesaki dada Naruto.

Tidak boleh, aku tidak boleh berpikiran terus soal Sakura-chan. Aku harus fokus saat ini.

Refleks kepalanya menoleh ke arah pintu masuk saat ia mendengar suara pintu dibuka, "Moshi, moshi, okaerinasaimasen!"

Wajahnya langsung berubah pucat saat melihat apa yang baru saja memasuki café tempatnya bekerja. Seorang pria bertubuh tinggi besar dan berambut pink pucat dengan betuk aneh. Pria itu mengenakan kimono wanita dengan warna mencolok, dan make up sekenanya. Di belakangnya juga ada seorang pria berambut putih panjang yang juga mengenakan kimono. Seisi café langsung menoleh ke arah mereka dengan mulut menganga.

"Mereka okama sungguhan!" seru Naruto—sebelum akhirnya mulutnya dibekap oleh Kiba.

"Jangan bicara sembarangan, Naruko!" bisik Kiba sambil memegangi mulut Naruto, "Mereka itu pemilik café ini."

"Pemilik café ini…" Sasuke yang dari tadi berdiri di sebelah mereka menelan ludahnya, "Oh, Kami-sama…"

"Ara, Kizune-sama dan Jiraina-sama! Ohisashiburi," kata Kakashi menyapa mereka sambil membungkukkan tubuhnya.

Orang yang bernama Kizune, yang berambut pink pucat menutupi wajahnya dengan kipas, "Fufu, apa kabar, Kakashi? Sepertinya keadaan café baik-baik saja sejauh ini. Bahkan pelanggan akhir-akhir ini semakin meningkat, ya? Tidak berat, kan, menjadi chef dan manajer café di saat yang bersamaan?"

"Ah, tentu saja tidak, Kizune-sama," kata Kakashi. Ia memberi isyarat pada maid yang lain untuk melanjutkan pekerjaan mereka. "Bagaimana kalau kita ke atas saja? Banyak orang yang melihat ke arah kita."

Ketiga pria—okama itu langsung berjalan menaiki tangga.

Naruto, Kiba, Sasuke saling berpandangan.

"Apa itu benar-benar pemilik café?" tanya Naruto tidak percaya.

"Tentu saja. Aku sudah bekerja lebih lama dari kalian," jawab Kiba. "Tapi kalian tidak perlu khawatir. Walau wajah mereka seperti itu, mereka baik, kok. Jiraina-sama terutama. Dia pasti akan menyukai kalian."

"Kok rasanya aku merinding, ya," Sasuke memegangi tengkuknya.

Shikamaru berteriak dari jauh, "Oi, cepat kerja! Masih banyak pelanggan yang berdatangan!"

"Hai!"

***RED***

"Mereka bekerja sebagai maid di sini. Dari kanan ke kiri, Nara Shikamaru, Inuzuka Kiba, Uzumaki Naruto, dan Uchiha Sasuke. Nama mereka saat bekerja adalah Shikako, Kiko, Naruko dan Sasuna," Kakashi menunjuk ke arah Naruto dan teman-temannya, memperkenalkan mereka pada Kizune dan Jiraina.

"Wah, yang ini cantik sekali. Apa benar dia bukan perempuan?" Jiraina mengerling genit pada Naruto.

Naruto berpegangan pada Sasuke sambil memegangi mulutnya, berusaha menahan rasa mualnya saat ini. Untung saja Kakashi berdeham agar Jiraina kembali memperhatikannya.

"Sedangkan maid yang lainnya, ada Deidara dan Neji. Mereka sedang berhalangan hadir." Kakashi menoleh pada dua orang di belakangnya, "Lalu dua orang di sana, mereka chef sepertiku. Sasori dan Yamato."

Yamato membungkukkan tubuhnya, sementara Sasori—pria yang paling berbeda karena satu-satunya yang tidak mengenakan pakaian perempuan, hanya mengangkat tangannya untuk memberi salam 'Yo'.

"Ara, banyak sekali," Kizune menyalami pegawai Maid d'Latte's satu persatu. "Semoga kalian betah untuk bekerja di sini."

"Selama kau tidak datang ke sini, aku akan betah."

"Sst!" Kiba menyikut Naruto dengan cukup keras.

Tidak mendengar ucapan Naruto, Kizune hanya tersenyum ramah dan berkata, "Baiklah, kalian boleh melanjutkan waktu istirahat kalian." Dan Naruto dengan terang-terangan menghela nafas lega.

***RED***

"Naru-chan? Sudah selesai kerjanya?"

Naruto yang saat itu bertugas membuang sampah, langsung menoleh ke arah Sakura yang tiba-tiba muncul di belakangnya.

"Sakura-chan, kau mengagetkanku!"

"Hehe, gomen," Sakura menjulurkan lidahnya sambil tertawa.

"Kenapa malam-malam begini kau masih di sini? Berbahaya, kan… Bagaimana kalau ada orang jahat yang hendak berbuat sesuatu padamu?" ujar Naruto khawatir

"Tenang saja… Aku ini sudah memegang sabuk hitam di karate semenjak kelas 5 SD, kok," kata Sakura berusaha meyakinkan Naruto, "Dan aku kebetulan ke toko 24 jam di sebelah sana untuk membelikan ibuku obat maag."

"Kenapa tidak ayahmu saja yang membelikannya?" Naruto mengerutkan dahinya, "Atau saudara laki-lakimu…"

Wajah Sakura berubah sedih. "Aku tidak punya saudara… dan aku hanya tinggal bersama ibuku."

Ucapan itu membuat Naruto merasa bersalah sekaligus salah tingkah, "M-maafkan aku, aku kira…"

"Tenang saja, memang itu kenyataannya. Kau tidak perlu merasa bersalah, Naru-chan" Sakura tersenyum pada Naruto. "Meski tidak ada pria itu di rumah, aku dan ibuku tetap hidup bahagia dan berkecukupan, semua berkat usaha ibu." Wajah Sakura yang tadinya tersenyum murung, berubah mengerikan, "Tidak masalah kalau tidak ada pria dalam kehidupan kami. Semua pria memang sama saja, mereka akan mengkhianati wanita yang pernah mencintai mereka. Sai begitu, ayahku juga begitu…"

Kata-kata Sakura membuat Naruto menelan ludahnya. "Tapi, kan, masih ada laki-laki yang tidak seperti itu. Meski aku pernah menjadi korban dari laki-laki…" anak laki-laki yang saat ini berpakaian ala maid dan memakai wig twin tail itu tertawa miris—membayangkan nasibnya sendiri saat menjadi seorang 'perempuan'.

"Pada dasarnya semua laki-laki itu sama saja," gerutu Sakura kesal. Saat ia melihat wajah Naruto, sikapnya kembali melunak. "Sepertinya sikapku tadi berlebihan, ya? Duh, lagi-lagi aku kelewatan bicara. Maafkan aku…"

"Tidak apa-apa. Memang ucapanmu ada benarnya, Sakura-chan," Naruto tersenyum. "Tapi percayalah, suatu saat nanti akan ada laki-laki yang akan setia padamu dan tidak pernah meninggalkanmu. Yang bisa mengobati luka di hatimu." Dan semoga saja orang itu adalah aku.

Sakura menatap Naruto lekat-lekat, membuat wajah laki-laki blonde itu memerah, "Kau itu ternyata cukup dewasa juga, ya, Naru-chan? Rasanya kalau mendengarmu bicara begitu, aku jadi merasa tenang."

"E-eh? Benarkah?" Naruto menggaruk kepalanya dengan sungkan, "Baguslah kalau begitu."

Tiba-tiba saja pintu belakang café terbuka, menunjukkan sosok Kizune yang sedang berdiri sambil memegangi gagang pintu, "Naruko-chan, boleh aku minta to—" ucapannya langsung terhenti saat matanya tertuju pada Sakura. Mulutnya langsung menganga lebar dan wajahnya terlihat kaget.

Ia langsung menutup pintu dengan keras.

"L-lho? Kizune-sama…" Naruto mengernyitkan dahinya melihat keanehan sikap Kizune.

"Tadi itu okama, kan?" tanya Sakura kaget. "Kenapa bisa ada okama di dalam café? Salah satu pengunjungmu, Naru-chan?"

"Ah, bisa dibilang begitu…" Naruto berbohong sambil tertawa kaku.

Sakura terlihat berpikir sambil melipat kedua tangannya di dada, "Entah kenapa, rasanya aku mengenal okama tadi…"

Naruto menoleh pada Sakura, "HAH?"

***RED***

Setelah Sakura pulang, Naruto memberanikan dirinya untuk menemui Kizune. Ia penasaran dengan sikap aneh Kizune saat melihat Sakura dan ucapan gadis berambut pink itu bahwa ia mengenali Kizune. Naruto menarik nafasnya dalam-dalam dan mengetuk pintu ruangan manajer, tempat di mana Kizune berada saat ini.

"Sumimasen."

"Masuk."

Naruto mengintip lewat celah pintu dan melihat hanya ada Kizune yang sedang duduk di atas sofa dengan kaki terlipat. Kalau saja Kizune memang sungguhan wanita, mungkin Naruto akan berdebar melihatnya. Tapi yang duduk di sana adalah okama dengan kaki masih berbulu dan otot yang masih terbentuk, dengan make up yang tebal yang dan facial hair yang masih kelihatan. Naruto meringis melihatnya.

"Jadi, ada perlu apa denganku, Kizune-sama?"

Kizune melirik ke arah Naruto dan tersenyum ramah, "Ah, Naruko-chan. Maafkan aku tadi, kukira kau sudah selesai membuang sampah. Aku ingin memintamu untuk membantuku. Tapi tenang saja, Shikako-chan untuk membantuku tadi."

"Oh begitu," Naruto menggaruk pipinya. Rasanya aneh sekali kalau ada okama yang memanggilnya dengan nama 'Naruko'. Kenapa dia tidak memanggilnya dengan nama aslinya saja, sih? Toh café sudah tutup.

"Anak perempuan tadi temanmu, ya?"

Naruto mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Kizune, "Siapa? Oh, yang tadi… Bisa dibilang begitu."

"Apa dia tahu kalau kau ini seorang laki-laki?"

"Ehm, tidak. Aku tidak berani mengatakan identitasku yang sesungguhnya padanya."

"Jangan sampai kau berbuat apa-apa padanya. Jika hal itu terjadi, kau harus berhadapan denganku, Naruko-chan," wajah Kizune yang biasanya terlihat ramah mendadak berubah kejam.

Naruto mundur hingga punggungnya menabrak pintu, "H-hai! A-aku me-mengerti!" sahutnya ketakutan. "A-aku permisi dulu, Kizune-sama!"

Ia langsung menutup pintu dengan takut-takut. Kenapa Kizune bersikap protektif pada Sakura? Padahal sepertinya mereka tidak saling mengenal. Tapi mengingat sikap Kizune saat melihat Sakura dan mendengar ucapan cewek berambut pink itu…

"Hah. Sudahlah. Toh Kizune-sama tidak mungkin melihatku bersama Sakura terus, kan," ucap Naruto pada dirinya sendiri.

***RED***

Keesokan paginya, Naruto menyempatkan dirinya ke sekolah melewati bangunan sekolah Sakura. Sekolah mereka ternyata terletak tidak begitu berjauhan. Dan seperti yang diharapkan dari sekolah bagi anak-anak kaya, Santa Maria Gakuen memang bangunan yang sangat megah dan luas dari pada sekolahnya, Konoha Gakuen. Beberapa mobil dengan brand terkenal dari negeri maupun luar negeri bertebaran di mana-mana, mengantarkan para tuan dan nona muda mereka ke sekolah.

"Kenapa kau malah ke sini, Naruto?"

"Soalnya ada seseorang yang ingin aku lihat. Kau sendiri kenapa malah mengikutiku, Teme?"

"Kebetulan aku melihatmu berjalan ke sini saat keluar dari apartemen," sahut Sasuke. "Kau mau melihat anak perempuan itu, ya? Siapa namanya? Sakura?"

"TEME! AWAS!"

Naruto berteriak pada Sasuke saat sebuah mobil hitam nyaris menabrak laki-laki berambut raven itu. Sasuke melompat ke belakang dan mengumpat kesal, "Sialan! Mentang-mentang orang kaya!"

"Kau yang berdiri terlalu ke tengah jalan," gumam Naruto, merasa iri saat pandangan siswi-siswi dari sekolah kaya itu hanya terpaku pada sosok Sasuke.

Matanya bergerak mencari-cari sosok yang ingin dilihatnya. Berambut pink, bermata emerald, dan senyum yang cool. Tanpa sadar Naruto mengeluarkan air liur membayangkannya. Semoga tidak ada yang melihatnya, atau ia bakal dikira orang mesum dan sebagainya.

Sebuah mobil limusin berwarna putih mutiara meluncur melewatinya, lalu berhenti tepat di depan gerbang Santa Maria Gakuen. Dua orang pria berjas hitam turun dari sana, yang satu membukakan pintu dan yang satu lagi memapah seorang penumpang dari dalam. Mata Naruto terpaku pada sosok yang dilihatnya keluar dari mobil tersebut.

Seorang gadis berambut pink sepanjang bahu dan mata emerald, berseragam putih hitam dan rok kotak-kotak melangkah dari dalam mobil. Bukan hanya Naruto saja yang terpaku melihatnya, tapi juga siswa-siswa di sekitar asyik mengamati Sakura. Sakura tidak mempedulikan mereka, dan dengan anggunnya melangkah masuk ke wilayah sekolah.

"Aduh!"

Suara seorang cewek terdengar dari belakang Naruto. Menoleh ke belakang, Naruto mendapati seorang anak perempuan berambut biru keunguan jatuh terduduk di belakangnya, sementara Sasuke terlihat hampir kehilangan keseimbangan. Anak itu juga mengenakan pakaian yang sama dengan Sakura. Sesaat menyadari bahwa anak itu habis bertabrakan dengan Sasuke, Naruto langsung menghampirinya.

"G-gomennasai, a-aku tidak melihat ada orang…" kata anak itu, masih dalam posisi duduk.

"Lain kali hati-hati bisa, tidak?" tanya Sasuke dingin pada anak perempuan itu, tidak sekalipun membantunya untuk berdiri.

"G-gomen—"

Naruto mendorong bahu Sasuke pelan, "Sasuke! Jangan kasar begitu! Dia ini cewek, tahu!" ia menoleh pada anak perempuan itu dan mengulurkan tangannya, "Bisa bangun?"

Anak perempuan itu menatap Naruto cukup lama. Lalu ia memalingkan wajahnya yang memerah sambil menyambut uluran tangan Naruto, "A-arigatou."

Naruto membalas ucapan anak itu dengn senyuman. Setelah ia membantu anak itu bangkit, ia berpaling pada Sasuke, "Aku sudah melihatnya. Ayo, kita pergi sekarang."

"T-tunggu!" panggil anak perempuan tadi pada Naruto. "K-kalau boleh tahu, siapa namamu?"

"Nama?" Naruto menatap anak itu dengan bingung. "Uzumaki Naruto. Kau?"

Wajah anak itu memerah lagi, "H-Hyuuga Hinata."

"Baiklah, Hinata. Kami pergi dulu!" Naruto melambaikan tangannya pada Hinata sebelum akhirnya ia pergi bersama Sasuke.

Sasuke mendecak kesal saat mereka berjalan menuju sekolah, "Dia menanyakan namamu, tapi tidak menanyakan namaku? Hebat. Kenapa bisa ada anak perempuan yang lebih tertarik padamu daripada aku?"

Naruto hanya terkekeh, "Cemburu?"

"…tidak. Sama sekali tidak."

***RED***

"Moshi, moshi, okaerinasaimasen!"

Para maid di Maid D'latte's menyambut para pelanggan yang baru datang. Kebetulan yang bertugas hari itu ada Neji.

"Tadi pagi aku melihatmu dan Sasuke di sekolahku," kata Kiba pada Naruto saat mereka sedang menunggui pesanan yang akan diantarkan di dekat dapur.

"Oh, ya?"

"Sasuna langsung menjadi bahan pembicaraan anak-anak perempuan di sekolahku, lho."

"Heeh. Memang dia begitu, kan?" Naruto memasang wajah kesal. Sudah pasti Sasuke akan langsung disukai oleh anak-anak perempuan.

"Tadi pagi kau juga berbicara dengan Hinata, ya?" tanya Kiba.

Naruto langsung mengingat sosok Hinata, "Hyuuga Hinata? Ya, tadi pagi ia dan Sasuke bertabrakan dan Sasuke malah memarahinya. Jadi malah aku yang menolongnya," ceritanya. "Dan Sakura-chan… Dia sama sekali tidak melihat ke arahku. Aku berharap kalau saja aku bisa menunjukkan sosokku yang sebenarnya padanya…"

Kiba menepuk bahu Naruto, "Bersabarlah, Naruto. Suatu saat pasti akan tiba saatnya kau dapat jujur padanya. Tapi sayangnya dia sudah memiliki pacar yang sangat sempurna sepertinya."

Sai, toh. Naruto tersenyum kecil sambil mengambil pesanan yang sudah jadi.

"Oh, ya, ngomong-ngomong Hinata itu adik Neji."

Naruto nyaris menjatuhkan nampannya, "A-adik? Maksudmu mereka bersaudara?" tanyanya mengulangi perkataan Kiba. Ia langsung mengingat nama keluarga Neji. Ah, mereka memang sama-sama Hyuuga.

"Ada yang sedang membicarakanku?"

Kiba dan Naruto tersentak kaget saat Neji tiba-tiba saja muncul di hadapan mereka. Pria itu memakai pakaian maid khas Cina dengan potongan rok panjang, sementara rambutnya yang memang panjang dibuat dua cepolan. Kalau saja suaranya tidak berat dan rendah, pasti orang-orang akan tertipu dengan penampilannya.

"Ah, tidak. Tenang saja. Ya, kan, Kiko?" Naruto menepuk bahu Kiba. Kiba hanya tertawa kaku.

Keduanya langsung kabur membawa nampan berisi pesanan.

Selesai Naruto membawakan pesanan pelanggannya, bel tanda pelanggan datang kembali berbunyi.

"Moshi, moshi. okaerinasaimasen—"

Naruto melihat Sakura, masih dengan seragam sekolahnya, berjalan memasuki café. Saat melihat ke arah Naruto, cewek berambut pink itu melambaikan tangannya. Di belakangnya, ada Hinata dan seorang anak perempuan berambut blonde pucat.

"Aku datang bersama teman-temanku, Naru-chan," kata Sakura sambil tersenyum. "Masih ada tempat untuk kami, kan?"

"Tentu saja. Di meja nomor 10 seperti biasa, ya." Naruto menyeringai senang melihat kemunculan Sakura. Ia melompat-lompat dengan senang, dan tanpa disadari beberapa pelanggan pria berusaha melihat ke bagian bawah roknya. Saat ia sampai di dapur, Naruto melihat ke arah Neji, "Hei, ada adikmu, tuh."

Neji mengerutkan dahi, "Adik? Darimana kau tahu aku memiliki seorang adik?"

"Kiko bercerita padaku," jawab Naruto. Ia mengarahkan kepalanya ke meja nomor 10, "Dia ada di sana bersama teman-temannya."

Wajah Neji berubah pucat, "…kau saja yang melayani pesanan mereka…"

"Memang aku, kan?" Naruto terlihat bingung. Beberapa saat kemudian ia menyadari sesuatu, "Rupanya adikmu tidak tahu kalau kau bekerja di sini?"

Saat keduanya melihat bahwa Hinata sedang memperhatikan mereka, Neji langsung memalingkan wajahnya sambil menarik kerah baju Naruto, "Pokoknya layani saja mereka. Jangan sampai Hinata tahu bahwa aku bekerja di sini! Jangan sampai dia melihatku!"

"…h-hai."

Naruto langsung berlari ke meja nomor 10 dan meminta pesanan Sakura beserta teman-temannya. Setelah ia selesai menyebutkan pesanan mereka, Hinata menatap Naruto.

"K-kenapa?" tanya Naruto khawatir, melihat Hinata terus menatapnya. "A-ada sesuatu di wajahku?"

"Rasanya aku mengenalmu..."

Naruto menelan ludahnya, "Umm... aku harus cepat mengantarkan pesanan kalian." Buru-buru Naruto berjalan meninggalkan meja.

"Kenapa dia kelihatan panik? Memangnya kau bilang apa padanya, Hinata?"

"Bukan apa-apa, Ino."

Sakura memandangi Hinata dengan curiga dan melihat ke arah Naruto (atau Naruko) menghilang.

***RED***

"Firasat cewek itu selalu tajam, ya."

"Hah?"

"Gadis yang kutolong tadi pagi—sehabis kau tabrak, bilang bahwa dia mengenalku."

Sasuke mengerutkan dahi, "Ya, baguslah. Artinya ada seorang cewek yang mau mengenalmu."

Naruto tersinggung, "Entah itu ejekan atau bukan. Kau tahu, kalau dia mengenalku, mungkin saja dia juga mengenalmu dan identitas kita dalam bahaya! Apalagi kalau Neji sampai ketahuan oleh adiknya sendiri bahwa dia bekerja di sini sebagai maid, reputasi cafe kita dalam bahaya!"

"Dan kau baru menyadarinya sekarang? Dasar lamban," komentar Sasuke sambil melenggang pergi sambil membawa nampan berisi makanan dan minuman yang berwarna warni.

Kesal, Naruto menendang bokong Sasuke dan membuat cowok berambut raven itu nyaris menjatuhkan nampannya ke wajah seorang pelanggan. Sasuke langsung menyumpahi Naruto dan begitu pula sebaliknya.

Selesai menunggui pesanan pelanggan favoritnya dan mengantarkan makanan, Naruto buru-buru kembali ke kounter dapur. Pandangan Hinata menusuk ke arahnya.

Apa dia tahu jati diriku yang sesungguhnya? Aku kan baru memberitahukan namaku tadi pagi, masa dia langsung mengenaliku...

"Hinata... apa dia bertanya sesuatu tentangku?"

Naruto melompat kaget saat tiba-tiba saja Neji muncul di hadapannya, "I-iie! Sama sekali tidak. Kalian kan sama sekali belum bertemu di sini."

Neji menghela napas lega, "Baguslah. Aku akan merasa malu seumur hidup dan tidak pernah keluar dari kamarku kalau sampai Hinata menemukanku seperti ini."

"...kau terlalu berlebihan," Naruto menepuk bahu Neji, menenangkan seniornya di cafe. "Lagi pula, dia curiga padaku. Gara-gara tadi pagi aku bertemu dengannya dan menyebutkan namaku, tiba-tiba saja dia mengenaliku."

"Kalau begitu kau harus lebih berhati-hati. Mungkin kau juga harus jarang menampakkan dirimu yang sesungguhnya."

"Ah, benar juga."

***RED***

Setelah Sakura dan teman-temannya pergi, Naruto langsung mengganti pakaiannya dan bergegas pulang. Hari ini ia merasa sangat lelah, harus berpura-pura di hadapan lebih banyak orang termasuk Sakura. Mungkin ucapan Neji memang benar, bisa gawat kalau dia banyak menampakkan diri dalam sosok aslinya. Apalagi Hinata, yang baru ditemuinya bisa langsung mengenali dirinya.

Malam itu kota cukup ramai oleh suara sirene mobil dan lalu lalang orang-orang yang habis pulang dari kantor maupun yang sedang pergi menghadiri acara masing-masing. Ia melewati sebuah gang kecil gelap menuju apartemen bobrok, di mana ia bertetanggaan dengan Sasuke (yang merupakan suatu kebetulan mereka bisa bertetangga).

Sasuke sendiri sudah pulang dari tadi, beralasan bahwa ia harus membetulkan atap rumahnya yang bocor—padahal ia tinggal di apartemen. Naruto kadang bisa mengerti di mana letak kebodohan temannya itu, meski ia sendiri mungkin jauh lebih payah dari Sasuke—kalau saja ia mau mengakuinya.

Gang kecil itu berbelok menuju sebuah jalan pertokoan dengan jalan raya di tengah-tengahnya. Banyak orang-orang berlalu lalang di sana. Cowok berkumis kucing itu hendak menyebrangi jalan raya saat ia melihat siluet seseorang yang dikenalnya.

"Hei, ayolah, pergi bersama kami saja. Kami akan mentraktirmu nanti."

"Percayalah, kami bukan orang jahat. Kami semua ini orang baik, kok."

"Kita ke bar di situ saja, yuk? Atau kau mau kami antar ke hotel? Yang mana saja boleh."

Ternyata orang yang dikenal oleh Naruto itu adalah Sakura, di tempat yang ramai dengan orang—tempat yang sebenarnya tidak cukup aman untuk didatangi sendirian. "Aku tidak mau ikut dengan kalian. Ada hal yang harus kuselesaikan." Sakura berlalu pergi dengan sikap dingin, tapi sebuah tangan menarik lengannya.

"Jangan kasar begitu, kalau tidak, kami yang akan memaksamu."

"Lepaskan aku!" Sakura berusaha menendang salah seorang pria, tapi justru tubuhnya ditarik di satu sisi yang lain oleh seorang lagi yang menahannya

Gawat! Sakura-chan dalam bahaya! Apa yang harus kulakukan?! Batin Naruto panik. Ia sadar bahwa tempat Sakura diganggu oleh kawanan pria mesum itu cukup jauh dari perhatian orang-orang, sehingga kalau Sakura berteriak pun belum tentu ada yang mendengarnya. Kalau begitu aku yang harus menolongnya. Tapi wajahku kelihatan begini, sialan... Naruto melihat ke sekelilingnya dan menemukan sebuah kantung plastik hitam, lalu menyambarnya. Ia langsung memakaikan kantung itu ke wajahnya.

"Lepaskan aku, atau aku akan te—"

"PAHLAWAN DATANG! JENG JENG JENG!"

Naruto melompat ke arah kawanan pria yang menahan Sakura sambil memasang pose ala Kamen Rider. Ia langsung merubah posisinya saat sadar bahwa beberapa pasang mata menatapnya dengan tatapan tak senang.

Sialan, kenapa aku melakukan hal ini, hah! "P-pokoknya, lepaskan cewek itu atau kalian akan berakhir di rumah sakit. Tidak, kalau lebih parahnya di tempat pemakaman. BWAHAHAHA." Cowok blonde itu penasaran pada dirinya sendiri, berapa banyak film pahlawan super yang sudah dilihatnya sampai ia bisa berkata demikian.

"Hei, orang aneh, minggir kau. Justru kau yang akan babak belur," kata seorang pria dengan tak senang.

"Hmmf. Coba saja kalau bisa," Naruto mengayunkan tangannya—mengajak kawanan pria tersebut agar berhadapan dengannya. Untung saja aku sudah sering berguru Karate pada Otou-san dan Thai Boxing pada Okaa-san. Kalau begini aku...

PLAK. BUGH. DUAKK. BUGH. BUGH.

"Hajar lagi anak yang sok ini!"

Naruto melindungi wajahnya yang sudah setengahnya babak belur sehabis dihajar. Kenapa kenyataan selalu tak seindah apa yang orang harapkan?

"Hentikan!"

Sakura melompat ke arah seorang pria sambil mengangkat kakinya tinggi-tinggi, lalu mendaratkannya ke wajah orang itu. Belum selesai, ia berputar dan meninju wajah para pria yang shock melihat seorang kawanan mereka ambruk ke tanah. Lalu cewek berambut pink itu membanting tubuh seorang pria yang lebih gemuk daripada pria lainnya dengan suara debuman keras.

BRAK. BRUK. BUGH. DUAKK. DESH. DESH.

Naruto menatap pemandangan di hadapannya dengan tidak percaya. Kawanan pria yang jumlahnya lebih dari 10 orang itu kini terkapar tak berdaya di hadapannya setelah dihajar oleh Sakura. Masih mematung, tiba-tiba saja tangannya ditarik oleh cewek cantik itu—mengajaknya untuk menjauhi para pria yang sudah terkapar di tanah.

Mereka berlari menyebrangi trotoar yang berada di seberang (yang untungnya lebih ramai dan lebih aman, mungkin).

"Kau tidak apa-apa?" tanya Sakura. Wajahnya terlihat dingin, mungkin karena pengaruh kebenciannya terhadap pria—sosok Naruto yang sesungguhnya yang tidak ia ketahui—tetapi juga penuh kelembutan. Naruto menyadari bahwa Sakura mengkhawatirkan dirinya.

"Aku tak apa-apa. Justru seharusnya aku yang bertanya padamu," Naruto menyeringai.

Sakura membersihkan luka di wajah Naruto dengan sapu tangannya, "Harusnya memang aku yang bertanya, baka! Kalau kau memang tidak bisa berkelahi, seharusnya jangan sok menyelamatkan cewek yang tidak pernah kau kenal!"

Naruto hanya tertawa pahit, seperti saat ia habis menghirup kuah ramen yang tidak sengaja terlalu banyak dimasukkan wasabi oleh ibunya. Dan itu rasanya sama sekali tidak enak. Bahkan Sakura juga sepertinya tidak ingat bahwa ia pernah bertemu dengan wujud asli 'Naruko'. "Gomennasai. Aku kira kau tidak akan bisa menghadapi mereka."

"Aku memang tidak mungkin bisa menghadapi mereka kalau tidak ada kau, sebenarnya..." kata Sakura sambil tersenyum tipis. "Jadi, arigatou... umm..."

"Tidak masalah. Namaku Uzumaki Naruto. Naruto." Buru-buru Naruto menabrakkan wajahnya ke dinding sebuah bangunan. Sialan, apa yang baru saja ia katakan? Ia baru saja mengatakan namanya pada Sakura, dua kali! Sebelumnya ia memperkenalkan diri sebagai Uzumaki Naruko, dan sekarang Uzumaki Naruto! Rahasianya sudah pasti akan terungkap—

"Kau... saudara laki-laki Naru-chan, ya? Naruko, maksudku. Uzumaki Naruko."

Hening.

"Eh?"

"Wajah kalian juga mirip. Pasti kalian bersaudara..." Sakura terdiam beberapa saat. "OH, aku ingat! Kau pernah bertemu denganku sekali. Dan saat itu kau juga memanggil namaku!"

"Oh? I-itu... ya, ya! Naruko pernah bercerita padaku bahwa dia memiliki seorang teman bernama Sakura..."

"Tapi kenapa kau bisa mengenali wajahku?"

"I-itu... itu... kebetulan. Hahaha."

Sakura mengernyitkan dahi dengan tidak percaya. "Kalau begitu, aku pergi. Hati-hatilah, dan jangan lupa untuk segera memeriksakan luka-lukamu ke dokter." Ia membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan Naruto.

"K-kau juga, Sakura-chan! Hati-hati!"

Sakura membalas lambaian tangannya dengan sebuah tangan yang terangkat.

Ternyata Sakura-chan tidak sepenuhnya membenci cowok. Artinya aku masih punya kesempatan...

Tiba-tiba Naruto teringat sesuatu,"...Lalu bagaimana caranya aku menjadi dua orang dalam satu tubuh?"

***RED***

a/n: Yang masih ingat dengan fic ini, maafkan saya tidak pernah mengupdate dan butuh waktu 2 tahun untuk chapter barunya;; gara-gara saya baca ulang fic ini, saya langsung mikir bikin lanjutannya XD Beginilah jadinya kalau banyak fic yang belum diupdate *ngeles*

review, flames, kritik dan segala macamnya diterima! Sankyuu~