A/N: Chapter kemaren gaada warningnya jadi taro disini. PAKE CAPSLOCK SUPAYAA KELEN PAY ATTENTIONNNtadinya pen ngusir readers soalnya ini cerita jelek banget q aja sampe muntah tai tapi yhaa gimana udah telanjur sayangg kelen.

.

Disclaimer: ini tuh formalitas banget astaga kelen gausah dikasitau lagi

Rate: M

Pair: minakushi fugamiko, thanks me later

WARNING: implisit sex scene, AU,ADA OC, GUE GABISA MASTIIN INI IC, CERITANYA SEENAK PANTAT GUE SENDIRI ga tau gimana rasa SMA, taunya sma tuh seru aja, ALURNYA SECEPAT KAMU MENINGGALKANKUU, READ AT UR OWN RISK inspirasiQ ada byk, referensi sedikit plus hasil memerkosa imajinasi saya. SILAHKAN FLAMEE lah emg ada yg baca?

"HAHAHAHAHAHA." Mereka berlima tertawa lepas seakan tidak ada hari esok di kelas X IPS. Seakan lupa dengan dosa-dosa mereka.

"Oh, ya. Mana dua lainnya." Tanya seseorang dari mereka.

"Oh, itu. Kau lupa mereka anak IPA? Tentu saja punya tugas yang merepotkan sehingga suka telat berkumpul -ttebane!" Jawab Kushina yang berada di rangkulan seseorang berambut hitam dengan anting-anting yang memakai jaket hitam.

Kelas X IPS sepi pada tiap-tiap jam istirahat. Siswanya berhamburan ke kantin, tidak ada yang menetap di kelas untuk sekedar belajar. Karena sudah rahasia umum kalau kelas ini berisi anak-anak tidak punya harapan. Dan didominasi anak nakal. Kecuali Kushina, ia rajin belajar di rumah. Tapi tetap tergabung dalam anak nakal kelas kakap itu.

Tuk. Tuk. Terdengar suara langkah kaki dari luar.

"Siapa itu!" Teriak Kushina.

"Anak IPA sepertinya," jawab salah seorang dari mereka.

"Teman kita?"

"Bukan."

"Hehe, kalian bercanda. Semua anak IPA musuh IPS -ttebane!" Sanggah Kushina.

"Tidak, ini musuh paling besar."

Karena dia…

Penegak Kebenaran.

Pemuda tinggi berambut pirang jabrik berdiri di depan pintu. Ia berperawakn tinggi dan dari pakaiannya terkesan rapi dan berwibawa. Tidak seperti lima manusia berantakan yang berada di belakang kelas ini. Mata safirnya menatap tajam pada segerombolan di belakang kelas yang sedang bergumul. Kumpulan orang itu menatapnya tidak kalah tajam.

Pemuda pirang itu mendengus. Blazer berwarna abu-abu tua dengan lambang OSIS di dada kirinya membungkus kemeja putih seragamnya. Ia berjalan ke arah belakang kelas. Mendekati perkumpulan itu. Dengan tidak mengurangi tatapan tajamnya.

"Maaf, Satou Haku punya urusan dengan kedisiplinan," Ujarnya dengan dingin.

Sosok berjaket hitam sewarna dengan rambutnya melepaskan rangkulannya dari Kushina dan berdiri. Menatap mata Minato yang terpaut sedikit tinggi darinya.

Kushina mendelik. "Kau punya urusan apa dengannya ha!?" bentak Kushina.

"Ini tentang pelanggaran yang ia perbuat. Saya permisi dulu." Ujar Minato tenang, tidak seperti tatapannya. "Saudara Satou-san, ikuti saya menghadap ketua kedis." Mereka pun meninggalkan kelas X IPS.

Yoshino berpapasan dengan Minato dan Haku saat berjalan ke X IPS. "Ada apa ini?" Gumamnya.

Saat ia sampai ke dalam kelas. Cepat-cepat ia menghampiri teman-temannya. "Ada apa dengan Haku?" Tanyanya.

"Sepertinya ia ketahuan." Balas Kushina malas.

"APA! Ketahuan?" Bentak Yoshino.

"Bukan kok, hanya membolos. Bukan yang lain."

"Kalau itu, mustahil OSIS sial mengetahuinya. Karena kita telah menutupnya dengan sempurnya. Hahaha."

"Oh, iya, Yoshino. Kemana satu lagi, anak IPA 2?"

"Tidak tahu. Jajan kali? Aku sendiri masih punya tugas. Aku akan kembali sekarang. Aku kesini tadi cuma menanyakan Haku. Semoga proyek kalian lancar." Yoshino pun meninggalkan kelas IPS.

"Kau lihat! Itu sebabnya aku tidak mau ada anak IPA disini, Kushina!" Kata seseorang diantara mereka yang tersisa sambil menghirup rokok.

"Hey tenanglah! Aku yakin dia tidak akan mudah membocorkan rahasia." Bentak Kushina.

"Oh iya? Seberapa yakinkah." Pemuda itu mendekati Kushina dan menyentuh rambutnya.

Kushina menolak dan menatapnya dengan tatapan membunuh. "Kalian tahu kalau kalian berbuat macam-macam aku akan menghajar kalian."

"Ah, nona. Santailah. Kita kan teman." Diikuti dengan gelak tawa yang membahana. HAHAHAHA.

Sementara itu. Minato menyeret Haku ke ruang BK. Disitu sesorang sudah menunggu.

Pria dengan rambut hitam mencuat-cuat yang dikuncir ke belakang bersandar pada tembok ruangan kosong itu dengan tangan disilangkan di depan dada. Ia mengenakan blazer abu-abu yang sama dengan Minato

"Aku sudah membawa salah satu dari mereka." Kata Minato pada seniornya, Shikaku Nara. Ketua divisi kedisiplinan OSIS. Kelas sebelas IPA dua.

"Kalau kita bergerak lambat seperti ini lama akan membongkar kejahatan anak-anak IPS itu. Bocah ini saja kita memanggilnya cuma karena membolos. Seharusnya, ada kasus yang lebih besar kita kuak dari mereka." Kata Shikaku Nara pada Minato, juniornya yang merupakan anggota kedisiplinan OSIS.

"Iya aku tahu." Minato menghela nafas. "Aku yakin kasus mereka bukan sekedar kenakalan remaja biasa. Pelanggaran-pelanggaran sepele ini pasti untuk menutupi kejahatan sesungguhnya. Mereka melakukan kenakalannya diam-diam, tidak mencari sensasi. Aku masih berusaha. Kalau mengurus anak bolos, merokok, aku sudah bosan."

"Iya, tapi ini memang kerjaan kita. Kalau mengurus kriminal, bukan urusan kita lagi. Itu urusan polisi." Shikaku memutar bola matanya malas, menatap tangkapan mereka kali ini. "Satou Haku."

"Ya," jawab Haku.

"Karena bolos, berlari mengitari lapangan tujuh kali." Ujar Shikaku.

"Apa? Aku tidak salah dengar?" Tanya Haku.

"Iya kau tidak salah. Sekarang, lakukan."

"Ini pasti salah! Harusnya lima putaran!"

"Apa iya kau mau mengaku kalau kau wanita?" Shikaku tersenyum meremehkan.

"Iya." Jawabnya. Shikaku menatap Hiruka dan Minato berganti-gantian.

"Ah, ini." Minato menyerahkan map data murid bertuliskan 'Haku Satou'.

Shikaku membaca sebentar. Tiba-tiba matanya membelalak. Ia menatap Minato, "Aku juga tidak percaya," kata Minato. Lalu menatap Haku. Haku sebal ditatap seperti itu. "Apa namaku kurang cewek?" Tanya Haku.

Shikaku menyerahkan map itu kepada Minato tanpa berhenti menatap heran pada Haku.

"Apa?" Tanya Haku. Tiba-tiba tangannya mengambil pergelangan tangan Shikaku dan meletakkannya di dadanya.

Shikaku terlonjak kaget. Pipinya merah dan darah segar mengucur dari hidungnya. Minato memilih mengalihkan pandangan tidak mau matanya melihat adegan tidak senonoh ini.

"Masih tidak percaya?" Tanya Haku. Dengan lancang ia menarik pergelangan tangan Shikaku dan memasukkannya kedalam celana panjangnya. Shikaku sempat menggerakkan tangannya merasakan bulu-bulu halus disana sebelum hidungnya memuntahkan banyak darah dan terkulai lemas di lantai.

"Saudari Hiruka. Anda telah menyalahi aturan seragam. Saya tidak tahu dan tidak mau tahu darimana kau dapat seragam pria. Besok kenakan rok, aku tidak peduli. Sekarang berlari lima putaran." Ujar Minato cuek.

--hi author disini dan ini adalah divider yaa--

Minato duduk di kursinya. Setelah istirahat, pak guru Jiraiya masuk dan mengajar tentang biologi.

Fugaku yang duduk di sampingnya dengan serius mendengarkan dan mencatat bagai dunia hanya miliknya dan pelajaran biologinya. Minato menghela nafas melihat sahabatnya, Fugaku. "Fugaku, kau terlalu ambis." Ujar Minato. Fugaku mana dengar. Ia tetap saja fokus pada papan tulis.

Benar kata Minato, Fugaku terlalu ambisius. Ia sempat dua kali merebut predikat rangking satu angkatan dalam tes harian mengalahkan Minato. Tenang, hanya sekedar tes harian. Tapi Minato jelas lebih mengunggulinya dalam segala bidang. Terlebih Minato memenangkan award-siswa terbaik angkatan semester satu.

Fugaku tidak bisa mengalahkan Minato dari rangking angkatan All time. Mungkin belum. Belum cukup baginya sekedar mendapatkan posisi runner up award-siswa terbaik. Entah siapa yang membuatnya seperti ini. Mungkinkah Fugaku merasa ia kalah oleh Minato yang mendominasi segalanya, dengan metode belajar yang relatif santai?

Minato merasa miris. Tidak mengerti apa yang memisahkan mereka. Meskipun ia sebangku dengan Fugaku, tapi mereka tidak akrab lagi seperti dulu.

Sama halnya seperti Mikoto, yang menjadi kalangan cewek populer SMA 02 Konoha. Karena parasnya dan tubuhnya yang menjual. Juga kekayaannya.

Apalagi dengan Kushina. Gadis manis itu bergabung dengan komplotan anak IPS yang kalau bisa dibilang, 'kriminal'. Minato tidak habis pikir apa yang menyebabkan mereka terpisah seperti itu dan memilih jalan masing-masing.

Minato yang paling merasa tidak berubah. Masih seperti ketika di SMP. Masuk anggota OSIS. Ah! Itu.

Apakah mereka berubah sejak Minato masuk OSIS?

--divider lagi--

"Kushina!"

Ah apakah ada yang memanggilku? Aku mengedarkan pandanganku.

Ya disitu! Haku menghapiriku dan merangkul pundakku. Aku tertawa dan menyandarkan kepalaku di pundaknya.

Sekarang waktunya pulang. Seperti biasa, 'teman-teman'ku dari kelas IPS berada di sampingku. Dan di depan, kau tahulah. Jalang-jalang yang sok sosialita memblokir jalan. Rasanya aku ingin memotong leher mereka, terlebih Mikoto. Mengapa dia mau-maunya bergabung dengan lacur-lacur itu?

Aku? Bagaimana denganku? Apa yang membuatku mau menginjak jalan kriminal seperti sekarang?

Aku juga tidak tahu persis. Aku, di kelas IPS, dan bertemu teman-teman yang mengasyikkan. Bermain dengan mereka lebih seru daripada dengan Minato dan Fugaku. Apalagi sejak semester kedua ini, Minato masuk OSIS. Aku pun secara tidak sadar membuat jarak dengan sahabat lamaku. Ah, sudahlah tak usah dipikirkan.

Teman baruku suka melanggar aturan. Benar-benar musuh besar OSIS. Aku benci mereka yang sok penegak kebenaran. Nyatanya aku sering melihat mereka pacaran diluar. Padahal itu dilarang.

Dan aku tidak mengerti kenapa, api yang di dalam tubuhku membara ketika ikut dengan temanku melancrakan aksi. Aku merasa candu melanggar peraturan. Apalagi tanpa ketahuan. Aku selalu ingin lebih, lebih, yang lebih menantang. Ini masih kurang.

Suatu hari mereka mengajakku berbisnis. Bisnis yang mengasyikkan dan sangat menantang, mereka bilang. Adrenalinku terpacu. Aku pun ikut mereka.

Bisnis apa itu? Aku tidak tahu. Katanya nanti aku akan tahu. Yang penting ini seru! Darahku menguap karena hawa panas yang membakar hati ini!

Aku melihat ke kananku, "Haku." Panggilku.

"Ya."

"Bagaimana dengan anak OSIS tadi?"

"Oh, itu." Hiruka menyeringai. "Aku sudah memberi mereka pelajaran. Yah, meski akhirnya aku harus berlari juga sih. Katanya besok aku harus pakai rok. Aku tidak maulah!"

"Ah! Aku tahu itu, hahaha…"

Aku tertawa dan mengeratkan tanganku di pinggangnya. Katanya Haku lesbian. Masa bodoh. Aku juga tidak tahu. Aku hanya merasa nyaman ketika dengan Haku.

Aku melihat ke kiri, teman-teman cowokku di kelas IPS sedang berbisik-bisik. Aku tidak peduli sih. Salah satu dari mereka memegang kemasan botol tanpa merek yang berisi cairan coklat, seperti kopi.

"Kita beritahu Kushina? Hanya dia yang belum tahu tentang bisnis kita.

"Nanti saja. Kita gunakan dia sebagai kelinci percobaan dulu. Dia yang pikirannya masih polos dan suci diantara kita."

"Jahat sekali kau diam-diam merusak hidup seorang gadis."

"Ssh, diam. Memangnya kau masih mengenal dosa? Hm, ku akui sih Kushina memang manis, terlebih tubuhnya seksi."

"Memang, ia sepertinya susah kita sentuh. Melihat kedekatannya dengan si lesbian, sepertinya dia ingin memacari Kushina. Biarlah, masih banyak wanita yang bisa kita 'pakai'."

"Kau, berikan ini" Ia memberikan botol itu kepada temannya yang posisinya persis disamping Kushina.

Mereka selesai berdiskusi. Apakah seperti itu disebut diskusi? Entahlah.

"Kushina." Panggil pemuda di sebelah kanan kushina.

"Ya," kushina menyahut. Pemuda itu melempar sebuah botol. Botol itu berhasil mendarat dengan mulus di tangan kushina.

Kushina melepas gelendotannya dari Haku dan berdiri tegak. "Apa ini?" Kushina keran.

"Itu adalah bisnis kita."

Kushina memperhatikan botol itu "Kopi?" Kushina mengernyit.

"Sebenarnya tidak hanya kopi sih, kita punya jus lemon, dan… sudahlah kau coba saja!"

Kushina mengamati botol itu lagi. "pft!"

"AHAHAHAHAHA~!" Ia tertawa. Sejak kapan teman-temannya ini suka berbisnis halal?

Kushina memutar tutup botol itu. Ia meminumnya seteguk. Ia menatap botol itu lagi dengan tatapan tidak percaya. Matanya membelalak.

"Bagaimana? Rasanya?" Tanya pemuda itu.

Kushina memandang botol itu dengan kagum, sekaligus kaget. Pokoknya ekspresinya tidak terdefinisikan.

"YOU MUST F*CKIN KIDDING ME! Oh god, aku tidak pernah mencoba kopi seenak ini, dattebane!" Kushina menegak kopi itu sampai habis sama sekali.

"Aku mau lagi!" Serunya.

Pemuda itu tertawa kecil. Ia sendiri tidak pernah mencoba minumannya.

"Asal kau tahu ya, nona. Kopi itu sangat mahal. Tapi kami akan memberikan potongan harga pada member kami."

"Kau bercanda-ttebane! Aku akan terus membeli dari kalian!"

Disamping semua itu, sepasang mata safir mengintai mereka di keramaian.

"Tidak bisa seperti ini terus. Tidak bisa dibiarkan. Kushina dalam bahaya."

Jam istirahat. Aku duduk di kursi kantin yang tidak ada empuk-empuknya sama sekali, tapi harum yang menggoda dari jajanan disini yang menjadi daya tarik.

Rambutku digerai tidak rapi, kemejaku berantakan, dasiku longgar seperti biasanya. Inilah penampilanku kini, berantakan. Tentu saja, karena aku bergaul dengan orang-orang yang sama berantakan.

Aku hanya berdua di keramaian kantin. Haku duduk di depanku. Kami sedang menikmati semangkuk bakso dan mie ayam. Tak terhitung sudah berapa minggu aku tidak jajan di kantin. Lebih sering menghabiskan istirahat di kelas menyusun rencana dengan teman-temanku.

Tapi, euforia dengan bakso ini harus terganggu karena ada yang memanggilku.

"Kushina!"

Suaranya cukup familiar di telingaku. Tiba-tiba pergelangan tanganku ditarik paksa membuatku berdiri. Aku menggeram. Mata safir yang selalu menatapku lembut, rambut pirang itu. Minato.

Dengan kasar, ia menarikku keluar dari kantin. Haku hanya menatap kami. Aku sempat memberontak dan melepaskan cengkramannya padaku. "Kau mau apa!" Bentakku. Tapi apa daya, kekuatannya lebih besar. Ia kembali menarikku paksa keluar kantin.

Dan, disini aku sekarang. Di belakang kelas. Tempat yang sangat sepi, aku sendiri tidak pernah terpikir kesini. Ada pohon besar disini dan dibawahnya berserakan puing-puing.

Tapi kemudian dengan lancangnya ia mendorongku ke tembok. Aku tidak bisa bergerak. Ia mencengkeram kuat kedua tanganku di sisi kepalaku.

"Kau mau apa." Tanyaku dengan aura intimidasi yang kuat.

Ia menatapku, aku tak bisa mengertikan tatapannya. Lalu ia mendekatkan wajahnya. Aku membuang wajahku ke kiri. Aku benar-benar tidak bisa bergerak sekarang. Apakah ia akan menciumku? Aku tak tahu.

Aku bisa merasakan hangat deru nafasnya menerpa pipiku dan leherku. "Kau harus berhenti dari semua ini." bisiknya tepat di telingaku. Tubuhku menengang.

"Apa maksudmu." Aku berusaha untuk membalas dengan dingin.

Ia menggigit daun telingaku. Aku tidak bisa menolak hawa aneh yang merasuki tubuhku. "Mereka bukan orang baik. Mereka bermaksud menggunakanmu."

Aku tak bergeming. "Sekarang, kembalilah padaku. Pada kami. Kau tahu, aku sudah berusaha mengembalikan Fugaku yang gila belajar, dan ia akan mengembalikan Mikoto juga."

"Itu tidak akan bisa. Sudahlah. Itu sia-sia." Jawabku.

Bibir Minato turun ke leherku. Aku merasakan basah dan hangat, dia menjilat leherku, kemudian menghisapnya. Aku… aku tidak tahu apa yang aku rasakan. Sepertinya aku menikmatinya… ah! Tidak bisa seperti ini.

"Mereka bukan orang baik, Kushina."

"Yah, aku tahu. Siapa bilang mereka baik."

"Iya, dan kau. Kau yang baik. Mereka yang akan menggunakanmu, memanfaatkanmu."

Aku tertawa miris, "aww, aku tersentuh atas perhatianmu, Namikaze-san." masih menghadap ke kiri. Aku sama sekali tak menatap wajahnya ketika berbicara.

Aku tak percaya! Dia membuka kancing kemeja sejagamku, sekitar 4 buah dari atas. Dan bukan dengan tangannya, Dengan mulutnya! Kedua tangannya masih mencengkeram kuat pergelangan tanganku.

Dia menggigit dasi abu-abu seragamku, hingga dasi itu melonggar. Aku rasa sekarang ia dapat melihat belahan dadaku. Dia menjilatnya sekali lagi. Aku menggigit bibirku. Tidak bisa menahan sensasi ini.

Dia menggigit kecil dadaku atasku yang tidak tertutup bra. Namun bibirnya beraksi semakin kurang ajar. Ia menurunkan bra-ku hingga hampir terlihat seluruhnya.

Aku memejamkan mataku. Pasrah atas apa yang hendak dia lakukan. Aku ingin menangis. Ah, bibirku sakit. Aku menggigitnya terlalu kuat hinga berdarah.

Tapi Minato menghentikan aksinya. Ia melepaskan tangan kanannya dari pergelangan tangan kiriku. Membawa wajahku menghadap wajahnya. "Percayalah, aku berkata jujur" Lirihnya. Ia mendekatkan wajahnya, menjilat berkas darah di bibirku.

Selagi ada kesempatan, tangan kiriku mendorong dadanya. Ia mundur dua langkah.

Aku mengusap bibirku, mataku panas. Tidak, aku tidak boleh menangis di depannya!

Namun ia mendekat kembali. mengusap tetesan basah di bulu mataku. Aku rapuh ia sentuh seperti itu. Aku ingin menangis dalam pelukannya seperti dulu.

Nafasku memburu, tidak bisa aku kendalikan air mata yang menumpuk di pelupuk mataku.

Entah dia membaca pikiranku atau apa, ia membawaku ke dekapannya. Mau tidak mau aku menangis membasahi blazer abu-abunya. Aku tidak bisa mengendalikan diriku, aku menangis sesengukan. Sebenarnya aku malu, tapi aku tidak bisa menahan perasaanku.

Dia memelukku erat. Dalam dekapannya aku merasa hangat. Dan nyaman. Jauh lebih nyaman dibanding saat aku dipeluk Hiruka.

Dia mengusap punggungku yang naik turun dengan lembut. Lalu mengikat rambutku dengan ikat rambut yang sepertinya ada di pergelangan tangannya sejak tadi.

"Ini ikat rambut yang pernah kau tinggalkan di kamarku dulu."

Aku kesal. Kenapa aku bisa tunduk seperti ini di hadapannya.

THROWBACK

"Minato, apa yang kau temukan dari anak-anak IPS itu?" Tanya Shikaku.

Minato tersenyum kaku, "Aku sudah menemukan sesuatu. Yang sangat penting. Bahkan bisa diserahkan ke kepolisian. Ini tentang 'minuman'."

"Ah, menarik. Tidak salah aku menjadikanmu anggota kedisiplinan." Puji Shikaku dengan tetap mempertahankan wajah datarnya.

"Tapi, aku sarankan senpai jangan bertindak gegabah. Aku harus menyelamatkan seseorang dulu."

"Oh, itu. Si Uzumaki ya? Gadis yang kau suka."

"Aku tidak mau dia terseret lebih jauh. Dia tidak bersalah."

Shikaku melihat ekspresi juniornya yang diliputi amarah.

Karena.

"Kau adalah korban." Kata Minato.

Kushina menatapnya dengan tatapan tidak percaya setelah mendorongnya dengan kasar setelah Kushina puas menangis.

Minato mendekati Kushina membenarkan seragamnya, memasangkan kancing-kancing yang sempat ia lepas dan membetulkan dasinya.

Kushina masih menatap Minato dengan tatapan tidak percaya.

Kushina marah, atau perasaan lain dari itu, entahlah. Ia tidak mau ambil pusing atas perkataan Minato. Ia pun melenggang pergi.

"Yang tadi itu tidak dihitung ciuman ya, Uzumaki! Bilangin juga sama pacarmu yang lesbian itu, suruh dia pake rok!" Seru Minato.

"Yaya, terserah kau, kaka OSIS yang 'sok' jagoan!" Balas Kushina tanpa sekalipun melihat Minato.

"Ah, betapa banyak waktu istirahatku terbuang." Kushina melirik ke pergelangan tangannya setelah duduk manis di meja kantin.

"Kushina." panggil Haku.

"Ah, iya."

"Apakah kau dihukum Namikaze-san karena ketahuan melanggar?"

"Tidak, eh maksudku… i-- iya." Jawab Kushina takut Haku curiga.

"Hm, mencurigakan." Kata seseorang yang dengan lancangnya duduk disamping Kushina. "Kau tidak bersekongkol dengan OSIS kan?"

"Tentu saja tidak, Hata!" Kushina menjauhkan tempat duduknya dari Hata, yang memberinya sebotol 'kopi' kemarin. "Untuk apa aku melakukannya."

Minato masih berada di dekat sana, mengamati, mendengarkan, atau bisa dibilang memata-matai mereka.

"Lalu apa hubunganmu dengan OSIS yang sombong itu?" Tanya Haku.

"Oh iya, waktu dulu sekali, aku sering melihatmu bersama dengannya. Sepertinya kalian dekat. Pacarmu?" Serang Hata bertubi-tubi.

"Oh, itu, b--bbukan." Jawab Kushina.

"Lalu…" desak Hata yang menggeser pantatnya agar dekat dengan Kushina.

Minato panas melihatnya.

"Dia itu, teman SMP-ttebane!"

"Oh, iya? Hanya itu?"

"Iya!" Seru Kushina sambil beranjak berdiri, tidak nyaman dengan Hata.

"Omong-omong, temanmu itu hebat juga dia masuk OSIS," Kata Hata. Pendaftaran OSIS hanya untuk kelas sebelas.

"Iya, dia juga pintar. Rangking satu all-time bukan? pantas saja. Oh, iya. Dia juga tampan dan tubuhnya atletis!"

Kushina masih berdiri disana mendengarkan ocehan Hata dan Haku tentang Minato.

"Apa? Haku, kau bilang 'tampan'? Bukannya kau lesbian ya."

"Hey! Aku ini hanya tomboy. Dan ku akui, tubuhnya bagus." Bantah Haku. Kushina sambil memutar bola matanya.

"Persetan dengan dia! Aku kembali ke kelas saja!" Kushina meninggalkan mereka di kantin.

"Kushina! Minumanmu besok sudah ada!" Seru Hata.

Kemarin sore, Haku datang ke rumah Kushina.

THROWBACK

Ting tong

Krieeeett

"Ah, hei Kushina."

"Haku? Tumben datang kesini."

"Aku boleh numpang mandi?" Tanyanya. Kushina melihat ke luar. Hujan deras dan Hiruka basah kuyup.

"Ah, boleh. Masuklah."

Kushina menyerahkan handuk yang berada di pundaknya pada Haku.

"Kushina, memangnya kau ingin mandi?"

"A-- ah iya. Tapi kau duluan saja."

"Kenapa? Kita kan bisa mandi bareng?" Tanya Haku dengan 'sok' polosnya.

Pipi Kushina memerah seperti kepiting rebus. "Tidak, tidak mau!" Ia langsung mendorong Haku dengan paksa ke kamar mandi.

Ia menyiapkan pakaian untuk Haku dan meletakkannya di atas kasurnya.

Sementara itu, Haku sedang mengguyur rambut pendeknya di kamar mandi. Ia gagal mandi dengan Kushina? Padahal biasanya ia dengan mudah bisa mandi dengan 'pacar-pacarnya'. Sulit mendapatkan Kushina. Haku rasa. Dengan waktu selama ini pula, ia masih saja pedekate, belum jadian. Haku tertantang untuk 'mendapatkan' Kushina. Iya, mendapatkannya.

Ketika hujan, Haku suka mengunjungi rumah 'pacar-pacarnya' kemudian mandi disana, bersama 'pacar'nya tentunya.

"Haku! Aku taro bajunya disi-- WAAA1!!!1!1!!" Kushina kaget melihat Haku yang telanjang bulat di ambang pintu kamar mandi yang terbuka.

"Ada apa memanggilku?" Tanya Haku dengan 'sok' polos lagi.

"APA MAKSUDMU CEPAT TUTUP PINTUNYA!" Kushina mendorong Haku kedalam kamar mandi dan membanting pintunya dengan amarah. Kushina menutupi wajahnya yang merah dengan kedua tangannya.

Selesai mandi, Haku keluar dari kamar mandi dengan tubuh dilapisi handuk. Di ruangan itu, kamar Kushina, hanya ada dirinya. Ia pun mengambil pakaian yang di atas kasur. Ia memakai bra nya.

"Sial kedodoran. Dadanya besar sekali." Gumam Haku melempar bra cup C itu sembarang arah.

Sementara itu, Kushina di ruang tamu. Melihat tas Haku yang tergeletak di sofa. Ia penasaran dengan tas hitam itu.

Ia membuka tas itu. Matanya membelalak lebar satu detik setelah ia mengerti benda seperti apa yang ia pegang sekarang. Kushina sangat terkejut, sangat terpukul. Cepat-cepat ia kembalikan benda itu ke tempatnya.

Hujan telah berhenti, berganti dengan warna warni pelangi. 'pelangi'.

"Haku hujannya sudah berhenti, cepat kau kembali ke rumahmu!" Bentak kushina mendorong Haku sampai keluar dari rumahnya. Kemudian Kushina melempar tas hitam milik Haku yang berisi sebuah 'benda laknat' hingga tas itu menghantam wajahnya.

Setelah Haku pergi, Kushina menangis, ia mengambil buku diari nya. Menulis sebuah kalimat disana. Ia menangis hingga lelah dan tertidur disana sampai pagi.

Dammit, how can a girl have a sexual desire to me :( Thanks god, even my lips still have its virginity.

THROWBACK

"Kau tahu, ini sudah sangat tidak sehat, Fugaku." Kata Minato dengan nafas yang memburu karena ia sedang mengejar sahabatnya, Fugaku. Lebih tepatnya kejar-kejaran.

Fugaku terus berjalan cepat seakan-akan ia benar-benar menghindari Minato. Di koridor SMA 02 Konoha yang sudah sepi. Jarum pendek menunjukkan angka lima dan jarum panjang menunjukkan angka satu.

Fugaku baru beres belajar tambahan-mandiri di kelas seusai sekolah. Tidak bisa dipercaya Minato menungguinya selama itu dan mengejar-ngejarnya ketika ia keluar.

Fugaku tak mau tahu apa yang akan Minato katakan, paling tidak jauh-jauh dari masalah dirinya yang terlalu ambis. Fugaku percaya, Minato selalu berkata seperti itu karena takut posisinya tergeser olehnya. Atau bicara tentang Kushina dan Mikoto. Fugaku sudah bosan mendengarnya. Ia terus melangkahkan kakinya dengan cepat ke gerbang sekolah.

Menurutnya, biarlah masing-masing melanjutkan hidupnya seperti pilihannya. Peduli amat sama mimpi anak SMP yang masih ingusan.

"Fugaku, Fugaku! Kau sudah tidak peduli dengan cintamu?"

Krek.

Fugaku merasa ada bagian di hatinya yang menghilang.

Fugaku akhirnya berbalik badan menghadapi Minato. Tepat sebelum keluar dari gerbang sekolah.

Ia menunggui Minato sampai di hadapannya.

Minato menormalkan napasnya yang tersengal-sengal sebelum berbicara.

"Kau tidak biasanya seperti ini. Bukannya larimu cepat, ya. Kilat kuning?" Sindir Fugaku.

Minato tertawa garing setelah menormalkan napasnya. "Buat apa mengejar penuh kekuatan orang yang sedang berjalan santai?" Sindir Minato balik. Fugaku menunjukkan ekspresi wajah tidak suka. Minato menyeringai.

"Sudahlah, sindir-sindiran gini biar apa coba." Kata Minato membunuh hawa-hawa tidak enak.

Fugaku mendelik, "Kau lah yang terlalu ambis menjatuhkanku."

"Siapa? Siapa menjatuhkanmu? Aku? Hahaha." Minato tertawa lepas.

"Karena sebentar lagi nomor 1 all-time rangking dan best student award jatuh padaku." Kata Fugaku dengan bangga. Sambil menunjuk dadanya.

"Siapa peduli? Apakah mendapatkan itu lebih baik daripada ketika kita berkumpul bersama seperti dulu?"

"Gak perlu sok suci deh, Minato. Aku tahu persis ada tempat untukmu di hati setiap guru-guru yang pilih kasih itu, dan anak cewek disini. Terlebih kau anak OSIS yang khusus ditunjuk ketika masih kelas 10."

Minato menghela nafas. "Kau tahu, kau juga punya itu. Semester kemarin, kau menempati runner up best student award. Guru-guru disini selalu memperhitungkanmu. Dan, jika kau mau melihat, kau punya segerombol gadis-gadis fangirl mu. Dan OSIS, kau direkomendasikan."

Mata Fugaku terbelalak medengar kalimat terakhir MInato. Tapi cepat-cepat ia bersikap dingin kembali. "Cih. Tahu dari mana."

"Tentu saja aku tahu," Minato menunjuk logo di dada kirinya, OSIS. OSIS tahu segalanya.

"Nah, Fugaku, biarkan ini jadi keegoisan terakhirmu. Kau ingat Mikoto? Tentu kau ingat."

Fugaku menatap Minato dengan tatapan tidak percaya ketika Minato menyebut sebuah nama.

"Kau masih mencintainya? Ah, kau pasti selalu mencintanya, bukan?"

Fugaku tak bergeming.

"Kalau kau mencintainya, bawalah ia kembali ke dekapanmu,"

'Ke dekapanku…' Fugaku membatin, mengamati dalam-dalam kedua telapak tangannya. Minato tersenyum melihatnya.

"Nah, bung!" Minato menepuk pundak Fugaku. "Kau mengerti, kan apa yang harus kau lakukan?"

Fugaku mengangguk mantap.

"Iya, itu yang harus kau lakukan." Minato menerawang ke langit.

'Iya, Mikoto harus aku dapatkan kembali.'

Fugaku memgambil ponselnya, dan mengetik beberapa kalimat panjang kemudian mengirimnya pada sebuah nomor yang telah ia tandai. Nama Mikoto, yang telah ia tandai dari lama.

RESTORAN TE AMO 21.10 PM

Delapan gadis 'sok' sosialita yang mengenakan pakaian yang 'terbuka' duduk di meja makan bundar di restoran ini.

"Mebuki, kau sangat hebat memesan tempat private seperti ini." Seru Mikoto.

"Aah, tentu saja." Mebuki menjawab dengan angkuhnya.

"Miko-chan, kau terlihat senang sekali. Sepertinya saran Mebuki tepat membawamu kesini."

"Iya, Miko-chan. Nah, sekarang kau bisa jelaskan pada kami apa yang mengganggumu belakangan ini.

"Apakah ada cewek mengejar-ngejarmu ingin masuk komunitas kita?"

"Ah, ah atau cowok-cowok kampungan yang mengejarmu?"

"Haduh, Miko-chan gimana sih. Kau lupa caranya menolak cowok?"

Mikoto tertawa garing sebelum ia melanjutkan. "Iya, ini tentang cowok. Tapi berbeda."

"Ini tentang Fugaku." Lanjutnya. Wanita-wanita itu langsung melotot lebar seketika.

"Ada apa dengan Fugaku, es kering itu?"

"Dia mengejarmu? Kupikir dia hanya tau belajar."

"Miko-chan, kau harus menerimanya, dia tampan, tajir, dan, oh…! Tajir sepertinya.."

Mikoto bertarung dengan pikirannya sendiri. Apa yang akan ia jawab ketika fugaku menjemputnya pukul 11 nanti.

to: XXXXXXXXXXXPak supir, tidak perlu menjemputku, temanku yang akan menjemputku nanti. thx

Mikoto meletakkan ponsel mahalnya. Ah, sampai mana tadi?

Fugaku,

23.02

Sudah sangat sepi disini, teman-temanku sudah dijemput dengan mobil jemputan mereka.

Cahaya mobil mendekatiku, Fugaku…

"Jadi, apa jawabanmu?"

Aku terhenyak. Cowok ini langsung menanyai jawabanku. Tidak bertanya perasaanku terlebih dahulu. Atau pertanyaan sederhana seperti, 'sudah lama menungguku?'

"Tergantung. Jika aku bergabung kembali dengan kalian, apa yang akan kudapat." Tanyaku perhitungan pada seonggok es kering dihadapanku.

Fugaku tampak berpikir sebentar. "Hm," Ia menatapku. "Kau sangat seksi dengan pakaian seperti itu."

"Itu bukan jawaban pertanyaanku, Fugaku." Aku mendengus sebal, memutar bola mataku dan melipat tanganku didepan dada.

"Memang." Jawabnya singkat.

Aku sebal dengan es kering ini. Apa maksudnya ini?

"Kau pasti kedinginan, jadi masuklah ke mobilku." Lanjutnya. Mau tidak mau aku masuk ke mobilnya.

Setelah aku duduk manis, aku kembali bertanya, "Kalau aku bergabung lagi dengan kalian, apa yang kudapat?" Kali ini dengan tambahan "Kau tahu aku punya segalanya bila bersama dengan mereka. Populer, dipuja-puja banyak pria, mengundang iri banyak wanita, coba, apa yang kurang?"

Ia mendengus, menatapku dalam. Aku tidak tahu apa yang tersirat di wajahnya, cahaya yang menerangi kami sangat minim. Hanya satu-dua toko pinggir jalan yang lampunya masih menyala.

"Kau senang dipuja-puja seperti itu?"

"Tentu saja," jawabku angkuh.

"Kau… kau tahu mereka tidak tulus."

"Peduli amat." Aku memalingkan pandanganku.

"Tapi, apa yang kau dapat dariku," ia menarik wajahku menghadap wajahnya. "adalah cinta yang tulus."

Kemudian ia menciumku. Aku menikmatinya. Ia melumat bibirku dengan ganas.

Ia meraba punggungku yang terbuka, dan perlahan menurunkan gaunku hingga dadaku terekspos. Aku tidak mau kalah, aku mengangkat kaus hitamnya dan meraba dadanya dalam kegelapan. Aku berbisik di telinganya "Aku juga mencintaimu, Fugaku."

Tanganku turun ke dalam celana jeans nya. Aku menyentuh benda yang menegang sempurna itu. Aku membuka resletingnya sehingga benda itu bisa berdiri tegak menantang langit.

Aku mengulumnya. Fugaku mendesah. Aku melakukannya lebih cepat.

Tapi, tanpa kusangka, seonggok es kering ini ternyata agresif juga. Ia mendorongku hingga punggung polosku menghantam jendela mobil. Aku mengaduh, tapi Fugaku tidak sekedar memberi kesempatanku untuk bernafas, ia mencopot, mencampakkan segala yang melekat di tubuhku.

Aku mendesah ketika ia menyentuh bagian paling sensitifku. Ia melebarkan pahaku sehingga benda milikku terbelalak begitu saja di hadapannya, tubuhku memanas.

Dengan ganas, ia melesakkan benda tegang miliknya itu ke dalam tubuhku. Aku mendesah 'Ah, Fugakkuuhhhnn~'

Dan malam yang gelap itu, aku melepaskan keperawananku di dalam mobil Fugaku.

Aku tidak begitu ingat apa yang terjadi,

Yang aku ingat hanyalah, aku mencintaimu, Fugaku.

.

.

bersambungg h3h3

.

.

A/N lagi karena saya doyan bct: Haku tuh cewek ya disini dan doi lesbi. nanti aja jelasnya.Gue gamau bikin lemon disini, nanti aja lemonnya minakushi dadah.Terlebih gue masih terlaluuu UNDERAGE. Kalo mau tau umur saya, saya tuh seangkatan sama bowoo, tau bowo? Tau lah ya, dya menjyjykan.Gue udah nulis 3 chapter depan. Sampe tengah malem gue nulis lemon dan secara tiba2 gue berenti ditengah2. Keknya gue gakuat lagi kalo harus mikireun adegan2 hot rasanya pengen motong urat nadi aja saya tuh.Kakak2 bisa menentukan seharusnya saya lanjut jangan, pake lemon jangan. Atau kalo bisa sy nunggu setaun lagi sampe kelas 9 (kelas 9 jg masih underage sih ya)makasi 'kak' ega lah akunya baper ada yg baca.mksh, dadah.

ohiya, REVIEWNYA SAYAANGG