Baekhyun dengan riang masuk ke dalam studio musik Chanyeol sambil menenteng tas berisi kotak makan siang. Hari ini Baekhyun memang memiliki janji dengan Chanyeol untuk menggarap lagu terbarunya. Baekhyun berinisiatif untuk membawakan makan siang untuk produser sekaligus sahabatnya sejak kecil itu.

"Aku tidak tau kau akan datang cepat." Chanyeol berdiri dari kursinya saat menyadari Baekhyun datang. Kemudian ia melakukan sedikit peregangan sebelum menghampiri Baekhyun yang membongkar tas makan siang di atas meja.

"Apa itu?"

"Aku membawa makan siang untuk kita. Kau pasti belum makan."

"Woahh.. Terima kasih Baek. Kau memang pengertian." Chanyeol mengelus surai Baekhyun pelan sedangkan Baekhyun hanya menunduk dan fokus pada kotak makan siang itu.

"Jadi, bisakah kita makan sekarang?"

"Tentu. Silahkan menikmati tuan Park."

Mereka berdua menikmati makan siang dengan tenang. Satu-satu nya yang membuat berisik hanya Chanyeol yang terus memuji bahwa masakan Baekhyun sangat lezat. Sedangkan Baekhyun hanya menanggapi dengan kekehan kecil karena ia sepenuhnya menikmati makanannya.

"Oh ya, Baek. Bagaimana menurutmu tentang demo yang aku kirimkan kemarin?"

Baekhyun yang tengah membereskan sisa makan siang mereka menatap Chanyeol yang duduk di depan komputernya. "Bagus. Hanya saja, aku belum menemukan perasaan yang pas untuk membawakan lagu itu."

"Ahh.. Begitu rupanya." Chanyeol mengangguk mengerti dan sejenak berpikir. "Bagaimana jika kau coba dulu. Aku akan membantumu."

Baekhyun berjalan mendekati Chanyeol dan duduk di kursi sebelah pria itu. "Tapi sebelumnya, bisakah kau menjelaskan makna lagu ini? Maksudku, aku ingin tau bagaimana sudut pandangmu tentang ini."

Chanyeol menyanggupinya. "Lagu ini sebenarnya sangat sederhana, hanya tentang cinta yang datang tanpa disadari dan terus tumbuh seiring waktu berjalan. Aku menjelaskan tentang bagaimana tahapan itu berjalan. Jika kau ada di usia muda maka cinta adalah tentang emosi dan hasrat untuk memiliki, sesuatu seperti itu sangat menggebu. Tapi seiring kita semakin dewasa, cinta itu tentang logika dan menjadi lebih rasional. Kita akan memberi cinta itu pada sesuatu yang kita butuhkan dan hasrat itu mulai hilang. "

Baekhyun mengangguk paham. Pikirannya mencerna semua yang penjelasan Chanyeol dan berusaha untuk menempatkan dirinya dalam situasi tersebut. Definisi cinta miliknya dan Chanyeol sedikit berbeda namun ia masih bisa menangkap esensi yang Chanyeol tuangkan.

"Apa itu seperti saat kita dewasa, kita tidak memaksakan harus memiliki orang yang kita cintai?"

Chanyeol menjentikan jarinya. "Ya. Semacam itu."

"Baiklah aku akan mencobanya."

Baekhyun memulai rekaman percobaannya. Sesekali Chanyeol membantunya jika ada bagian yang kurang tepat. Terkadang mereka melakukan eksperimen kecil dengan mengubah beberapa bagian lagu untuk mendapat hasil terbaik. Hingga tidak terasa 13 jam berlalu saat Baekhyun menyelesaikan rekamannya itu.

"Kerja bagus, Baek." Chanyeol memeluk Baekhyun saat pria itu keluar dari ruang rekamannya. Baekhyun juga membalas pelukan pria itu. Baekhyun merasa begitu berterima kasih karena Chanyeol bekerja keras untuk comebacknya nanti.

Mereka berdua memutuskan untuk istirahat sejenak sebelum pulang ke rumah masing-masing. Obrolan ringan mengiringi kesunyian di studio karena sudah lewat tengah malam saat mereka menyandarkan punggung kelehan mereka di sofa. Sekaligus Baekhyun menunggu seseorang yang akan menjemputnya dari studio.

"Baek.."

"Hmm..?" Baekhyun hanya menjawab dengan deheman karena terlalu lelah.

"Apa kau masih ingat pertemuan pertama kita?"

Baekhyun membuka matanya yang semula terpejam dan menoleh pada Chanyeol disampingnya yang menatap langit-langit studio.

"Tentu saja. Memangnya kenapa?"

Chanyeol menghela napas pelan dan tersenyum tipis.

"Aku masih ingat, saat itu aku baru pindah ke sekolah kita. Sebagai anak laki-laki aku cukup pemalu, bahkan hanya untuk berkenalan dengan teman-teman di kelas."

Baekhyun tertawa, "hahaha.. Kau benar Chan. Bahkan aku masih ingat wajahmu yang terlihat ketakutan."

Melihat mata Baekhyun yang membentuk eyesmile membuat Chanyeol otomatis ikut tersenyum.

"Bagaimana tidak ketakutan jika semua orang disekolah membullyku. Mereka terus mengataiku aneh, apalagi dengan telingaku yang lebar ini."

"Tapi suatu hari, ada seseorang yang merubah keadaan itu." Chanyeol melanjutkan, "dia anak laki-laki yang meminjamkan sapu tangannya padaku."

Chanyeol beralih menatap Baekhyun yang tidak melepas atensinya pada Chanyeol. Mata mereka bersitatap, tak terelakan. Seolah itu terkunci dan mereka merasakan sesuatu memercik di bawah rusuk-rusuk. Sensasi yang menyenangkan.

"Jika hari itu kau tidak datang padaku, mungkin saja tidak ada Chanyeol seperti hari ini. Tidak akan ada Chanyeol yang percaya diri, tidak ada Chanyeol yang pemberani."

"Kau memberiku kekuatan, Baek. Kau terus mendorongku untuk berani dan menggapai semua mimpiku. Bahkan ketika aku merasa tidak bisa lagi menciptakan musik yang indah, kau selalu bisa menjadi sumber inspirasiku."

"Chan..." Baekhyun berkata dengan suara bergetar. Bohong jika ia tidak terharu dengan kata-kata Chanyeol. Chanyeol seolah membuat Baekhyun menjadi pahlawan dalam hidup pria itu.

"Baekhyun, kau sangat berharga bagiku."

Chanyeol bangkit dan duduk lebih dekat dengan Baekhyun sehingga dia bisa melihat jelas wajah Baekhyun yang tersapu cahaya remang disitu.

Baekhyun tidak berubah. Kulitnya masih saja putih bersih dengan rona kemeran di tulang pipi. Bibir mungil yang tipis itu samar berwarna pinkish. Walau gurat lelah terlihat di sekeliling matanya, bahkan kantong matanya terlihat tebal, namun itu tak membuat Baekhyun kehilangan sinar indah di matanya. Baekhyun sangat cantik.

Chanyeol mengulum senyum tipisnya dan menarik napas pelan.

"Baekhyun, kau tau, bukan hanya sifatku yang berubah karenamu. Tapi ada sesuatu lain, sesuatu yang lebih dalam." Chanyeol menjeda, "dan aku tidak tau apa yang harus kulakukan dengan ini."

Chanyeol mengeratkan genggaman pada tangannya sendiri.

"Baekhyun-ah.."

"Sebenarnya aku..."

"Tring!"

Baekhyun segera menyambar ponselnya yang berbunyi

"Yeol, dia sudah menjemputku. Ayo, kau harus bertemu dengannya!"

Belum selesai Chanyeol mencerna situasi, Baekhyun sudah menariknya keluar dengan sedikit tergesa. Hingga saat tiba di tempat parkir, ia melihat sebuah mobil hitam dengan wanita cantik berdiri di dekatnya.

"Baekhyunie!" wanita itu berseru dan berhambur memeluk Baekhyun. Chanyeol yang melihatnya hanya diam mematung.

"Yeon, aku merindukanmu." Baekhyun membalas pelukan wanita itu kemudian menggiringnya ke samping Chanyeol.

"Chanyeol, kenalkan, dia Taeyeon dan dia baru pulang dari Amerika. Dan Tae, ini Chanyeol."

Chanyeol menyambar tangan Taeyeon sesaat setelah wanita itu mengulurkan tangannya.

"Aku Taeyeon. Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan Chanyeol. Orang yang sering Baekhyunie ceritakan padaku." ujar Taeyeon dengan senyumnya.

"Eumm.. Ya, aku Park Chanyeol."

"Yeol, ada sesuatu yang ingin ku katakan padamu." itu Baekhyun.

"Sebenarnya, aku dan Taeyeon.." Baekhyun menjeda, "Kami.." Baekhyun perlahan menggenggam tangan Taeyeon.

Dan Chanyeol secara tiba-tiba merasa takut dengan apa yang akan dia dengar karena apa yang Baekhyun lakukan cukup memberi gambaran.

"Kami pacaran..."

Sesuatu seperti runtuh dalam dada Chanyeol.

"Dan mungkin, akan menikah.."

Segala sesuatu berjalan begitu cepat. Itu semua datang dalam satu periode waktu dengan hantaman yang kuat dalam hati Chanyeol. Ia sedang tidak bisa berpikir karena ada sesuatu yang tiba-tiba kacau dalam pikirannya. Tanpa sadar jari tangannya seperti mengkerut.

"Benarkah?"

Chanyeol harap itu mimpi.

"Ya, kami sudah merencanakannya."

Chanyeol juga sudah punya rencana untuk malam ini.

"Kenapa? Kenapa kau tak pernah bercerita padaku Baekhyunie?"

Chanyeol menjerit dalam hatinya. Kenapa semua tidak bisa berjalan sesuai apa yang ia harapkan? Apa mimpinya sudah berakhir sekarang?

"Ya, aku memang belum mengungkap hubunganku dengan Taeyeon pada orang manapun kecuali orang tua kami. Kau orang luar yang pertama tau. "

Chanyeol sadar, dia bukan apa-apa.

"Baiklah, Chan. Kami harus segera pergi. Kau tau, aku sangat merindukannya."

"Sampai jumpa, Chanyeol." Taeyeon melambaikan tangannya saat mereka masuk kedalam mobil.

Chanyeol hanya membalas dengan senyum tipis yang nyatanya berat untuk dia munculkan. Mobil itu semakin menjauhi area parkir studio. Meninggalkan Chanyeol yang mematung disana.

Chanyeol seperti tidak menapak. Perasaannya kacau bukan main. Euphoria bahagia yang dia rasakan tadi entah hilang kemana. Hanya ada rasa kosong dan sesuatu yang menyakitkan seperti tergores dalam dadanya.

Baekhyun, Byun Baekhyun.

Mataharinya, kekuatannya, cintanya.

Baekhyunnya yang manis.

Harusnya senyum cerah itu hanya milik Chanyeol.

Mata indah itu, sinarnya hanya untuk Chanyeol.

Seluruh hatinya, pikir akalnya, harus beserta Chanyeol sebagai yang terkuat disana.

Baekhyun, hidupnya.

Baekhyun harus pergi.

Chanyeol melangkah gontai kembali kedalam studio. Ia membanting pintu dan menguncinya seolah ruang itu hanya milik kesedihannya. Dia duduk kembali ke kurisnya dan matanya tak sengaja menilik track di komputernya.

Ia mengulang rekaman itu sepanjang malam. Tanpa jeda. Karena itu yang bisa menutup sesaknya-nyatanya membuka luka. Selalu akan menjadi yang terakhir dia dengarkan. Hingga tiba pagi berikutnya, orang lain yang harus mematikan rekaman itu untuknya.

Dan sesuatu yang lain tersimpan dalam komputernya, tanpa ada yang tau. Sebuah lagu demo dengan versi lain bersama pesan singkat di akhir intronya,

"Baekhyun, menikahlah denganku."