Naruto © Masashi Kishimoto
Staring At You From Afar © Kushina Namikaze027
Warning! : OOC, OC, alur kecepetan, ide pasaran, tulisan berantakan, Typos bertebaran dimana-mana, cerita dan judulnya gak nyambung, ancur lebur, dll
Pairing : Kushina Uzumaki & Minato Namikaze
Rate : T
Genre : Hurt/Comfort, Family, Romance
DON'T LIKE, DON'T READ! OKE?
Note : kemarin aku lupa buat bilang kalo 'Sara', istrinya Minato itu aku ambil dari naruto Movie 4 : The Lost Tower. Disini akan ada 3 flashback tentang kejadian masa lalu Minato dan Kusina, bagaimana mereka bertemu dan bagaimana mereka bertengkar.
Happy Reading and Reviewing, Minna-san!
Chapter 2 : Pernikahan
"Ngghh…" Kushina mengerang ketika sinar mentari menyeruak masuk kedalam kamarnya dan menyilaukan matanya. Gadis berambut merah itu pun merenggangkan tubuhnya dan dengan malas-malasan gadis itu turun dari tempat tidurnya dan menyambar handuk yang tergatung di pintu lalu mengalungkannya dileher. Setelah itu dia membuka pintu kamarnya dan berjalan menuju kamar mandi sampai suara seorang wanita menghentikannya,
"Kushina, Ohayou." Sapa seorang nenek berambut biru keunguan sambil melempar senyum ramah kearah Kushina. Kushina balas tersenyum,
"Ohayou mo, Chiyou baa-chan." Balas Kushina.
"Mandilah dulu, akan nenek siapkan sarapan untukmu." Ucap nenek Chiyou.
"Baik." Kushina pun segera melesat ke kamar mandi.
Nenek tadi adalah nenek Chiyou, satu-satunya anggota keluarga yang dimiliki oleh Kushina yang masih tersisa. Kedua orang tua Kushina meninggal karena kecelakaan ketika hendak menjemput Kushina yang sedang berlibur kerumah neneknya di Suna. Saat itu umur Kushina masih 10 tahun. Mobil orang tua Kushina bertabrakan dengan sebuah mobil truk besar, sehingga mobil itu hancur dan meledak. Sungguh, kejadian naas itu tidak akan terlupakan dari benak Kushina. Setelah kedua orang tuanya meninggal, Kushina menjadi mogok makan dan suka menangis sendiri di tengah malam. Akhirnya Kushina dilarikan kerumah sakit besar konoha karena terkena dehidrasi dan ditangani oleh dokter Tsunade. Tapi bukannya sembuh. Penyakit Kushina malah semakin parah. Kushina sama sekali tidak ingin dirawat dan selalu berteriak kalau dia ingin menyusul kedua orang tuanya. Tentu saja kelakuannya itu membuat pihak rumah sakit menjadi resah. Sampai pada ketika Kushina diam-diam hendak kabur dari rumah sakit, dia bertemu dengan Minato yang pada saat itu masih berumur 11 tahun.
-Flash back-
"Mau kemana kau?" Tanya Minato.
Kushina menghentikan langkahnya dan menoleh kearah bocah berambut pirang yang tengah menatapnya dengan tatapan curiga.
"Kau…mau kabur dari rumah sakit, ya?" tanyanya lagi sambil memicingkan mata. Dia merasa curiga dengan gadis berambut merah di depannya yang memakai seragam pasien dan berjalan mengendap-endap menuju pintu keluar.
"Bukan urusanmu." Jawab Kushina cuek membuat bocah pirang itu menjadi cengo. Lalu dia kembali melanjutkan rencananya untuk melarikan diri dari rumah sakit sialan itu. Namun tiba-tiba dia merasa kepalanya sangat pening dan kakinya menjadi lemas, alhasil dia terjatuh dilantai. Minato segera menghampirinya.
"Hei! Kau tidak apa-apa?" tanyanya panik.
"Pergi! Jangan pedulikan aku! Aku mau mati saja!" jerit Kushina.
"Apa! Mana bisa aku membiarkanmu begini saja! Kau sudah gila ya? Kenapa kau berkata 'aku mau mati saja' seperti itu?" Tanya Minato mulai panic melihat Kushina meringkuk sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.
"Diam kau-dattebane! Aku memang sudah gila semenjak orang tuaku meninggalkanku!" teriak Kushina. Minato sempat terkejut dengan jawaban gadis aneh di hadapannya ini. Tapi dia segera mengambil tindakan, dia mengangkat tubuh Kushina dan menggendongnya.
"Hei, apa-apaan kau? Turunkan aku!" Kushina meronta sambil memukul-mukul dada Minato. Namun Minato sama sekali tidak menggubrisnya.
"Suster! Suster!" teriak Minato.
"Lho, Minato? Ada apa kau kesini? Dan kenapa kau menggendong seorang gadis?" Tanya Tsunade yang tiba-tiba muncul sambil menunjuk Kushina yang sedang meronta-ronta.
"Kaa-san! Apa Kaa-san tidak lihat? Gadis ini sedang kesakitan. Cepat periksa dia." Jawab Minato. Tsunade terkejut melihat putranya begitu panik terhadap seorang gadis yang tidak dikenalnya. Tapi ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan hal itu. Tsunade segera menyuruh perawat yang kebetulan lewat untuk membawa Kushina kembali kekamarnya. Setelah Kushina sudah tertidur karena obat penenang, Tsunade menghampiri Minato,
"Minato, ada apa kau kemari?" Tanya Tsunade sambil duduk di kursi kerjanya.
"Huh, Kaa-san meninggalkan ponsel dirumah." Dengus Minato sambil menyodorkan ponsel Tsunade.
"Wah, terima kasih. Kau memang anak yang baik. Ngomong-ngomong kau mengenal gadis kecil tadi?" Tanya Tsunade sambil mengambil ponselnya dari tangan Minato.
"Tidak. Aku bertemu dengannya di gerbang rumah sakit. Tampaknya dia hendak kabur dari sini." Ucap Minato santai.
"Lalu kenapa kau tadi panik begitu? Dia hanya sakit kepala biasa karena stress sebab orang tuanya meninggal."
"Lalu, apa yang terjadi dengannya?" Tanya Minato.
"Dia menjadi mogok makan dan terkena dehidrasi. Tampaknya dia benar-benar syok dan menjadi trauma. Beberapa kali dia mencoba melarikan diri dari sini, tapi selalu gagal. Sekarang neneknya sedang mengurusi perusahaan ayahnya yang terbengkalai karena tidak ada yang mengurusi dan hampir bangkrut." Jawab Tsunade.
"Begitu…baiklah, kalau begitu aku pulang dulu." Ucap Minato seraya beranjak dari tempat duduknya dan membuka pintu ruang kerja ibunya.
"Ksihan sekali gadis itu…lebih baik aku melihat keadaannya dulu." Batin Minato. Lalu dia berbelok menuju kamar dimana Kushina dirawat.
Ketika sampai di depan pintu kamar Kushina, Minato segera memutar kenop pintu dan matanya terbelalak mendapati bahwa kamar itu kosong. Selimut tersingkap begitu saja diatas kasur, dan selang infuse tergeletak diatas lantai. Minato segera menghampiri ranjang, diraba-rabanya seprai tempat Kushina berbaring.
"Masih hangat. Berarti dia belum jauh dari sini." Dengan cepat Minato berlari keluar menuju pintu keluar rumah sakit. Namun dia sama sekali tidak mendapati gadis berambut merah di sekitar jalan yang menuju pintu keluar.
"Tidak ada. Mustahil. Seharusnya dia masih di sekitar sini dengan keadaannya yang seperti itu." Gumam Minato. Dia tidak tahu kenapa dia bisa sepeduli ini pada seseorang yang tidak dikenalnya. Minato pun mulai mencari di seluruh penjuru rumah sakit. Dan pada akhirnya dia berhasil menemukan Kushina tengah duduk dibangku taman rumah sakit sambil menundukan kepalanya. Bahunya bergetar, seperti sedang menangis.
"Hei." Panggil Minato. Gadis itu tersentak dan mendongak kedepan untuk melihat orang yang telah mengganggu acara menangisnya.
"Kau!" gadis itu menatap tajam kearah Minato. Minato bisa melihat ada genangan air di pipi dan pelupuk matanya. Benar dugaannya, gadis ini memang menangis. Minato mendudukan dirinya disebelah gadis itu.
"Mau apa lagi kau!" Tanya Kushina geram sambil menghapus genangan air matanya.
"Aku tidak menginginkan apa-apa. Aku hanya khawatir jika kau kabur dari sini dan tiba-tiba mati ditengah jalan dan tidak ada yang mempedulikanmu." Jawab Minato santai.
"Untuk apa kau mempedulikanku? Aku lebih suka mati." Dengus Kushina.
"Kenapa kau suka sekali berkata begitu? Kau tahu, bila kau mati bagaimana dengan orang-orang terdekatmu? Keluargamu? Sahabat-sahabatmu? Mereka pasti sedih kehilanganmu." Ucap Minato.
Kushina terhenyak mendengarnya. Apa yang dikatakan bocah pirang disebelahnya ini ada benarnya. Bagaimana keadaan neneknya yang sangat ia sayangi ketika dia mati? Bagaimana perasaan teman-temannya kalau tahu dia sudah tidak ada di dunia ini lagi dan tidak bisa bermain dengan mereka lagi? Pasti sakit rasanya, karena dia sudah merasakannya dan dia tidak ingin orang-orang yang dia sayangi juga merasakannya.
"Kau benar. Terima kasih telah mengingatkanku." Ucap Kushina sambil tersenyum pada Minato. Sesaat Minato terhenyak melihat senyuman gadis garang di sampingnya.
"Manis…" batin Minato.
"Sama-sama…oh iya, namaku Minato Namikaze. Kau?" Tanya Minato sambil mengulurkan tangannya.
"Aku Kushina Uzumaki." Jawab Kushina sambil menyambut tangan Minato.
"Hangat…" batin Kushina ketika tangan Minato menggenggam tangannya.
"Kushina, ya? Nama yang cantik seperti orangnya." Ucap Minato 'jujur' sambil tersenyum lembut kearah Kushina. Sesaat Kushina merasa wajahnya memanas ketika melihat senyuman itu. Sulit bagi Kushina Uzumaki untuk mengakui kalau pemuda yang berada di sampingnya ini 'sangat tampan'. Belum lagi orang ini sudah memuji Kushina, jujur selama ini belum ada anak laki-laki yang memujinya cantik. Paling-paling dia malah 'dipuji' Monster oleh anak laki-laki di sekolahnya.
Minato menyerngitkan alisnya melihat Kushina menatapnya dengan wajah yang memerah.
Tap.
Minato menempelkan dahinya di dahi Kushina membuat Kushina terbelalak. Ditambah lagi jarak wajah mereka yang terlalu dekat ini.
Plak!
"WADAW!"
"Apa yang kau lakukan-dattebane!" jerit Kushina dengan wajah yang merah padam.
"Aduuhh! Kenapa kau memukulku? Tadi kulihat wajahmu memerah, kupikir kau terkena masuk angin, jadi aku menempelkan dahiku ke dahimu untuk memeriksa keadaanmu." Jawab Minato sambil mengelus pipinya yang terkena cap lima jari Kushina.
"Oh…hehe, maaf." Kushina cengengesan sambil memasang tampang tidak berdosa sehingga Minato menjadi cengo melihat gadis di sebelahnya ini sama sekali tidak merasa bersalah karena sudah seenaknya menampar pipi orang lain. Apa lagi baru pertama kali ini dia di tampar oleh seseorang dan orang itu malah memasang wajah tanpa dosa ketika minta maaf. Minato hanya bisa mendengus sebal.
"Dasar. Oh iya, ngomong-ngomong kau sekolah dimana? Kelas berapa?" Tanya Minato.
"Aku sekolah di SD Konoha, kelas 4B. kau?"
"Kita satu sekolah. Aku kelas 5A, berarti aku seniormu." Jawab Minato.
"Benarkah? Asik dong! Berarti kita bisa sering ketemu dan main bersama!" seru Kushina dengan nada khas anak-anak.
"Ya, tentu saja. Nanti setiap istirahat aku akan mampir ke kelasmu dan bermain bersamamu." Janji Minato sambil mengecak-acak rambut Kushina. Entah mengapa dia bisa dengan mudah akrab dengan seseorang apalagi perempuan. Baginya gadis berambut merah disampingnya ini sangat menarik dan istimewa.
Dan semenjak hari itu Kushina mulai mau menerima perawatan dari Tsunade dan tentu saja hampir setiap hari Minato datang menjenguknya. Yah, semenjak pertemuan itu, Minato berjanji akan selalu menjenguk Kushina dan mereka pun berteman dengan akrab. Awalnya Kushina menolak dan menggerutu karena Minato selalu menjenguknya dan memperhatikannya, karena dia tidak mau dianggap anak kecil. Tapi dalam hati Kushina, dia merasa senang karena masih ada yang peduli dan memperhatikannya setelah kedua orang tuanya dan neneknya. Dan perlahan Kushina mulai menyukai Minato. Minato sangat baik kepadanya, selalu bisa membuat Kushina tertawa dan menghilangkan kesedihannya.
-Flash Back End-
Setelah selesai sarapan, Kushina menelpon Mikoto, sahabatnya. Dia mengajak Mikoto ketemuan untuk meminta saran mengenai pernikahannya dengan Minato. Biasanya Mikoto selalu punya saran yang bagus, secara Mikoto itu adalah sahabat Kushina dari kecil.
.
.
.
.
.
"Hei, lama menunggu, ya?" Tanya seorang perempuan berambut hitam panjang pada Kushina. Perut wanita itu membuncit, itu menandakan kalau dia sedang mengandung. Mikoto Uchiha, istri dari Inspektur kepolisian pusat Fugaku Uchiha.
"Ah, tidak. Aku juga baru sampai." Jawab Kushina.
Mikoto duduk dihadapan Kushina, sekarang mereka berdua berada di Kafe konoha.
"Lalu, ada apa kau mengajakku ketemuan?" Tanya Mikoto to the point.
"Ah, begini Mikoto, aku-" ucapan Kushina di potong oleh Mikoto.
"Tentang Sara, kan? Aku dengar Sara memintamu dan Minato untuk menikah. Lalu kau jawab apa?" Tanya Mikoto sambil meminum minumannya.
"Belum. Aku belum menjawabnya. Dan sampai sekarang pun aku bingung mau menjawab apa." Jawab Kushina sambil meminum minumannya juga.
"Kenapa harus bingung? Bukankah kau mencintainya? Kau jawab saja kalau kau bersedia. Dan semuanya selesai." Ucap Mikoto santai, sehingga Kushina jadi tersedak.
"Uhuk, uhuk! Uhuk!"
"Maaf." Mikoto tertawa pelan melihat reaksi sahabat karibnya itu.
"Mikoto! Aku sedang tidak dalam keadaan bisa diajak bercanda. Aku serius. Ini tidak semudah yang kau ucapkan. Minato masih membenciku. Apa jadinya rumah tanggaku nanti kalau aku menikah dengan orang yang sama sekali tidak mencintaiku, malah membenciku. Tidak kusangka dia bisa membenci seseorang sedalam ini," ucap Kushina setelah bebas dari acara tersedaknya.
"Benar. Apa lagi orang yang di bencinya itu adalah kau. Haah, sudah kubilang dari dulu, kan Kushina? Kenapa kau tidak menurutiku waktu itu? Kenapa kau malah menuruti permintaan orang itu?"
"Kau benar. Kalau saja aku tidak melakukan hal bodoh semacam itu, Minato pasti tidak akan membenciku sedalam ini. Memang salahku," Kushina menundukan kepalanya.
"Sudahlah. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Yang perlu kau lakukan adalah memperbaiki kesalahanmu dan menjelaskan semuanya pada Minato." Ucap Mikoto sambil tersenyum lembut.
Kushina balas tersenyum.
"Ya, kau benar Mikoto. Aku tidak boleh lemah seperti ini. Aku ini Kushina Uzumaki yang tegar. Terima kasih atas saranmu, Mikoto. Sekarang aku tahu apa yang harus ku jawab dan kulakukan." Ucap Kushina.
Kushina POV.
Yah, Mikoto adalah adalah sahabatku dari kecil, dan satu-satunya orang yang tahu kejadian dan alasan kenapa aku dan Minato bisa bertengkar. Karena pada saat itu, Mikoto lah yang selalu menghiburku ketika aku dan Minato putus atau saat aku merasa sakit hati melihat Sara nee-chan dan Minato bersama.
-Flash Back-
Aku sedang duduk di kafetaria Konoha sambil menyerutput orange juice-ku. Dihadapanku ada seorang wanita paruh baya berambut merah terang dan mata merah darah.
"Kau yang bernama Kushina Uzumaki itu, kan? Sara sering cerita padaku tentangmu. Dan aku cukup senang kau bisa berteman baik dengan putriku." Kata orang itu, lebih tepatnya Megumi Nakamura-san, ibu dari Sara nee-chan.
"Berapa umurmu sekarang?" tanyanya. Aku menjawabnya dengan gugup.
"16 tahun."
"Begitu, kau satu tahun lebih muda dari Sara. Dan satu lagi, benarkah kalau kau berpacaran dengan Minato Namikaze? Putra dari Jiraiya Namikaze pemilik perusahaan Namikaze Corp.?" tanyanya lagi. Entah mengapa aku merasa dia seperti mau menginterogasiku.
"Be-benar. Memang apa urusannya, ya?" Tanyaku gugup dengan wajah merona. Aku memang baru seminggu jadian dengan Minato.
Megumi-san menghela napas.
"Kau tahu, Minato adalah satu-satunya laki-laki yang sangat dekat dengan Sara. Sara tidak diijinkan bergaul dengan bebas, ayahnya selalu memilih-milihkan teman untuknya. Semenjak seminggu ini, Sara sering murung dan jarang makan. Aku tidak tahu alasannya, setiap kutanya dia selalu mengelak. Akhirnya setelah bersusah payah, dia mau menjawab. Dan kau mau tahu apa jawabannya?" Tanya Megumi-san padaku sambil tersenyum. Aku tidak tahu arti senyumannya itu. Sinis? Mengejek? Aku tidak tahu. Aku hanya mengangguk. Memang Sara nee-chan akhir-akhir ini sering murung dan suka melamun.
"Dia bilang kalau dia sangat sedih melihat Minato berpacaran denganmu. Kau tahu, Sara sudah menyukai Minato jauh sebelum kau bertemu dengan Minato. Dan kau sekarang kau telah menghancurkan hatinya." Aku terhenyak mendengarnya. Jadi karena ini Sara nee-chan akhir-akhir ini sering menghindariku. Apakah dia membenciku?
"Maaf. Aku tidak tahu." Ucapku menyesal.
"Aku punya satu permintaan untukmu, ini demi Sara. Kumohon, akhiri hubunganmu dengan Minato,"
Aku terkejut mendengarnya. Aku menatapnya dengan horror.
"Apa maksud anda?" Tanyaku sambil menatap tajam kearahnya dengan penuh amarah. Bagaimana mungkin dia menyuruhku untuk memutuskan Minato dengan seenak jidatnya. Dia pikir dia itu siapa? Seenaknya saja memerintahku.
"Sudah seminggu ini aku mendengarnya menangis setiap malam. Mungkin ini berlebihan, tapi itulah putriku. Dia akan begitu bila menyangkut orang yang disukainya."
Aku terkejut untuk kesekian kalinya. Tidak kusangka Sara nee-chan bisa seperti itu. Tapi bagaimana mungkin aku memutuskan Minato? Apalagi dengan alasan yang tidak jelas. Dia pasti tidak akan percaya. Aku sangat mencintainya. Tapi aku juga sangat menyayangi Sara nee-chan. Aku mengenal Sara nee-chan jauh sebelum aku mengenal Mianto. Aku juga tidak tahu kalau Sara nee-chan mengenal dan sekelas dengan Minato. Dia tidak pernah cerita. Dia selalu berada disampingku dan membelaku kalau aku diejek teman-temanku atau ketika aku terkena masalah karena kecerobohanku sendiri.
Dia selalu menemaniku bermain dan selalu menjadi sahabat terdekatku disaat senang maupun sedih. Bahkan ada yang bilang kalau kami ini kakak-beradik karena rambut kami yang sama. Tapi aku senang dibilang begitu. Toh, aku memang sudah menganggapnya sebagai kakakku sendiri. Aku tidak ingin menyakitinya. Tapi aku juga tidak mau menyakiti Minato. Aaarrghh! Apa yang harus kulakukan?
Aku hanya terdiam.
"Aku tahu kau sangat menyukai Minato. Akan kuberikan apapun keinginanmu kalau kau bersedia memutuskan Minato. Aku tidak tega melihat Sara terus seperti itu." Ucapnya dengan nada memohon.
"Aku…" aku bingung mau jawab apa!
"Masih banyak laki-laki yang lebih dari Minato. Kau tahu, bagai ikan-ikan dilaut yang luas. Aku yakin di sekolahmu pasti banyak anak laki-laki yang menyukaimu dan lebih tampan dan kaya dari Minato. Karena itu, biarkan Sara memiliki salah satu dari laki-laki yang mencintaimu. Biarkan dia memiliki Minato,"
Aku mendelik kearahnya. Dia bicara seolah-olah aku ini cewek matre yang hanya akan berpacaran dengan orang kaya dan tampan. Yah, meskipun kuakui di sekolah memang banyak laki-laki kaya dan tampan yang menembakku hampir setiap hari, tapi selalu ku tolak karena aku hanya mencintai Minato.
"Akan kupikirkan dulu." Aku berdiri dari kursi yang kududuki. Aku merasa ingin jatuh karena kakiku melemas memikirkan semua ini. Dengan gontai kutinggalkan kafe itu beserta Megumi-san yang tengah menatapku dengan tatapan penuh arti.
Keesokan harinya aku pergi ke kelas Sara nee-chan yang kebetulan selalu sekelas dengan Minato. Saat aku sampai di kelasnya, para senior cewek atau bisa disebut juga fans-fans (?) nya Minato langsung mengerubungiku dan menatap tajam dan menghina-hinaku karena aku adalah pacar dari pujaan hati mereka. Tapi aku tidak peduli. Toh, aku sudah biasa diejek dan di hina. Pertama, aku diejek tomat. Kedua, aku dihina miskin karena perusahaan orang tuaku bangkrut. Ada juga yang menyebutku cewek murahan yang telah merebut pangeran mereka yang langsung kuhadiahi cap lima jari ala Kushina Uzumaki yang pastinya tidak bisa dibilang pelan. Bisa kulihat Sara nee-chan sedang mengonbrol dengan Minato dengan wajah yang ceria. Tapi Minato sadar kalau aku datang ke kelasnya, lantas dia menghampiriku sambil tersenyum lembut dan meninggalkan Sara nee-chan yang tengah menatapnya dengan sedih dan kecewa. Aku merasa bersalah melihatnya.
"Hei, ayo ikut aku. Ada sesuatu yang ingin kutunjukan padamu." Kata Minato sambil menarik tanganku. Sekilas aku mendengar jeritan histeris cewek-cewek fansnya Minato dengan nada terluka karena Minato menggandeng tanganku. Tapi bukan itu yang ku khawatirkan. Kulihat Sara nee-chan sedang menatapku dengan tatapan tajam dan iri. Aku tidak ingin dia menatapku begitu.
.
.
Saat waktu pulang sekolah tiba, dengan cepat aku membereskan buku-buku dan alat tulisku. Setelah selesai, aku segera keluar kelas lalu menaiki tangga menuju kelas Sara nee-chan. Aku ingin pulang bersama dengannya. Akhir-akhir ini dia seperti menghindariku. Aku tidak mengajak Minato, karena hari ini dia ada ekskul klub sepak bola. Aku dan Sara nee-chan masuk klub yang sama, yaitu karate.
"Ne, Sara nee-chan. Kenapa akhir-akhir ini kau selalu menghindariku?" tanyaku saat kami dalam perjalanan pulang.
"Eh, benarkah. Maafkan aku kalau begitu." Jawabnya. Aku tahu dari nadanya kalau dia sedang berusaha tidak berkata sinis padaku.
"Apa karena aku berpacaran dengan Minato?" tanyaku lagi.
"Tidak." Aku tahu dia bohong.
"Kau menyukainya, kan?" dia menghentikan langkahnya lalu menoleh kearahku. Aku juga ikut menghentikan langkahku.
"Apa maksud perkataanmu, Kushina-chan? Aku sama sekali tidak menyukainya. Mana mungkin aku menyukai si pirang aneh yang suka tebar pesona macam dia," dia mengelak. Lalu dia kembali melangkahkan kakinya dan berjalan membelakangiku. Bahunya bergetar. Apakah dia menangis? Aku sudah menyakiti perasaannya. Bingung. Aku bingung apa yang harus kulakukan. Siapa yang harus kupilih. Sara nee-chan? Ataukah Minato? Tapi tampaknya Sara nee-chan benar-benar menyukai Minato.
"Apa? Orang itu bilang begitu? Dan kau menyetujuinya?" seru Mikoto. Yah, aku baru saja menceritakan semua kebingunganku pada Mikoto.
Aku hanya mengangguk.
"Lalu bagaimana dengan perasaan Minato? Kau tega menyakiti perasaannya? Apa kau tidak takut dia akan membencimu?" Tanya Mikoto cemas.
"Aku tidak ingin menyakitinya. Tapi aku harus melakukannya. Aku tidak peduli dia akan membenciku atau tidak. Yang jelas aku sudah membulatkan tekadku, dan aku akan menerima segala risikonya." Jawabku tegas. Kulihat Mikoto memandangku dengan raut wajah khawatir.
.
.
Setelah aku memutuskan Minato, aku melihat Sara nee-chan menjadi ceria kembali dan menjadi sangat dekat dengan Minato. Sementara aku menjadi renggang bahkan tidak pernah berbicara lagi dengan Minato. Setiap kami berpapasan, dia selalu mendelik dan melemparkan tatapan dingin dan penuh kebencian kearahku.
Aku tahu, waktu itu aku memang kesusahan untuk memutuskan Minato, karena Minato bersih keras tidak mempercayai alas an yang kubuat. Memang sih alasan yang kubuat tidak masuk akal. Aku bahkan sampai memanggil senpai-ku yang kebetulan hari itu menembakku, tapi aku belum menjawabnya. Lalu kucium senpai itu di depan mata Minato agar dia percaya. Lalu aku menarik senpai itu menjauh dari Minato. Senpai itu tampak kebingungan tapi aku tidak peduli. Aku harus segera pergi dari sana sebelum air mataku meleleh dan di ketahui Minato. Kulihat matanya memancarkan kemarahan dan kebencian. Hatiku sakit melihatnya memandangku begitu. Setelah aku dan senpai-ku cukup jauh dari Minato, senpai itu tiba-tiba memelukku dan mengatakan kalau dia tahu kalau aku hanya bersandiwara. Dia tidak menanyakan kenapa aku tiba-tiba menciumnya dan memutuskan Minato. Dia hanya menyuruhku menangis dan melampiaskan semuanya. Dia bilang aku tidak perlu menjadikannya pacar untuk mengelabui Minato. Dia menyuruhku untuk menganggapnya sebagai kakak saja. Aku senang mendengarnya, aku pun memeluknya lagi tanpa sadar.
Setelah seminggu aku putus dengan Minato, aku mendengar gossip kalau Sara nee-chan dan Minato berpacaran. Dan itu benar, karena aku menanyakannya langsung pada Sara nee-chan. Dan dia mengatakannya dengan wajah yang berbinar-binar. Aku tersenyum miris melihatnya. Sesenang itukah dia bisa memiliki Minato dan membuatku harus dibenci Minato. Tapi aku tidak pernah membenci Sara nee-chan. Dia sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri, karena kakakku sudah tewas dalam kecelakaan udara.
Hatiku sakit bagai di tusuk beribu-ribu pedang beracun melihat mereka bersama dan bergelayut dengan mesra. Karena aku tidak tahan melihat mereka terus bersama dan bermesraan begitu di depanku, aku meminta Megumi-san yang pernah menawariku untuk bersekolah diluar negri sebagai ucapan terima kasih karena aku sudah mengabulkan permintaannya untuk memutuskan Minato. Aku menyetujuinya karena aku tidak tahan harus satu sekolah dengan Sara nee-chan dan Minato. Aku menyambung sekolah di belanda dan aku kembali ke Jepang ketika umurku 20 tahun. Aku bekerja di sebuah perusahaan majalah fashion sebagai editor. Aku mendapat sebuah undangan dari Sara nee-chan. Dan undangan itu adalah undangan pernikahannya dengan Minato. Hatiku sakit, kakiku melemas, dan tubuhku bergetar. Aku masih mencintai Minato. Selama di Belanda aku tidak bisa melupakannya, malah semakin merindukannya. Itulah sebabnya aku segera menyelesaikan pendidikanku dan kembali ke Jepang untuk menemuinya, karena ku pikir mungkin saja Minato sudah tidak ada hubungan lagi dengan Sara nee-chan. Tapi dugaanku salah. Tidak kusangka Minato bisa mempertahankan hubungannya dengan Sara nee-chan. Padahal aku sudah banyak berharap kalau aku bisa memilikinya lagi. Aku terduduk lemas di kamarku. Mataku terasa panas begitu juga dengan semua anggota tubuhku. Dadaku terasa sesak. Air mata membanjiri pipiku dengan derasnya bagaikan sungai. Aku menangis semalaman. Kini harapanku benar-benar sudah hancur. Aku menyesal dengan perbuatanku dulu.
Selama aku di belanda, aku sudah puluhan kali berpacaran dengan seseorang, tujuannya agar aku bisa melupakan Minato dan berhenti mencintainya. Tapi tidak ada satupun dari mereka yang bisa mengusir pergi Minato dari hatiku. Pria itu tak bisa tergantikan dengan semua pacar yang pernah kumilki. Bahkan ada beberapa dari mereka yang kuhajar karena memaksaku untuk berciuman dengan mereka. Yah, aku memang tidak mengijinkan mereka untuk menciumku seenaknya. Di pipi pun tak boleh. Karena menurutku orang yang boleh berciuman denganku adalah orang yang kucintai dan mencintaiku. Yah, meskipun aku adalah pacar mereka, bukan berarti aku mau di perlakukan seenaknya. Sepanjang sejarah hidupku, hanya dua orang yang pernah berciuman denganku. Orang pertama, tentu saja 'Minato Namikaze', karena aku memang mencintainya, jadi kuijinkan saja dia menciumku tapi tidak setiap waktu. Orang kedua, tentu saja senpai-ku yang waktu itu. Waktu itu aku sangat terpaksa melakukannya agar Minato bisa percaya kalau aku serius ingin memutuskannya. Bicara soal ciuman, aku jadi merindukan bibir Minato yang lembut…dan hangat…Aaarrrgght! Sudahlah, dia sudah jadi milik orang lain. Jangan mengharapkannya lagi.
Kuputuskan untuk datang ke pesta pernikahannya, kulihat dia ampak bahagia bersama Sara nee-chan. Aku menghampiri mereka dan mengucapkan selamat, lalu berjabat tangan. Saat aku berjabat tangan dengan Minato, mata kami saling bertemu. Didalam matanya, bisa kulihat disana terkobar kebencian dan kemarahan yang mendalam ketika matanya yang tajam menatapku. Hatiku miris ketika dia menatap tajam kearahku. Rupanya dia masih sangat membenciku. Tapi sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Ini adalah risiko yang harus kutanggung.
Dan aku baru tahu setelah Sara nee-chan menceritakan tentang masalah keluarganya padaku. Dia sekarang sebatang kara. Ibunya, Megumi-san meninggal karena penyakit diabetes. Dan ayahnya menikah lagi dengan seorang perempuan yang tidak jelas asal-usulnya. Perempuan itu mengkhianati ayahnya dan meninggalkannya dalam keadaan sekarat dan mengambil harta 'Jun Nakamura' ayah Sara nee-chan sampai tak bersisa. Akibatnya, ayahnya terkena serangan jantung dan meninggal. Perusahaan yang mereka kelola menjadi bangkrut. Sungguh, aku merasa Sara nee-chan sama denganku.
-End Flashback-
Setelah selesai menemui Mikoto, aku memutuskan untuk mampir ke rumah Minato untuk melihat 'calon anak tiriku'. Ketika aku sampai di depan pintu rumah bergaya Eropa itu, samar-samar aku mendengar tangisan bayi. Mungkin itu suara Sara kecil yang sedang menangis. Kutekan bel, tapi tidak ada yang menyahut ataupun membukakan pintu. Mungkin tidak kedengaran karena tangisan bayi. Akhirnya terpaksa kubuka sendiri pintunya, aku bukan bermaksud tidak sopan, tapi dari pada aku berdiri di depan pintu seperti orang bodoh. Kulihat ada seorang wanita memakai seragam khas babysitter sedang menggendong seorang bayi sambil menyodorkan botol susu kemulut bayi itu tapi selalu ditolak bayi itu. Aku berlari kecil dan menghampiri mereka.
"Ada apa? Kenapa dia bisa menangis tersegan-segan seperti itu-dattebane?" tanyaku.
"Anu, tadi dia habis bangun tidur dan tiba-tiba mnenangis sampai seperti ini. Saya sudah memberinya susu, tapi dia tidak mau." Jawabnya panik. Sepertinya dia tidak sadar kalau aku masuk kedalam rumah tanpa sepengetahuannya.
"Sini. Biar kugendong." Ucapku sambil mengambil Sara kecil dari gendongannya. Dia tampak ragu-ragu menyerahkannya.
"Yosh, yosh. Sudah berhenti menangisnya. Anak perempuan tidak boleh cengeng." Ucapku lembut sambil menimang-nimangnya. Seketika bayi itu langsung berhenti menangis. Aku terkejut. Babysitter itu melongo.
"Mustahil. Kenapa dia bisa langsung diam ketika anda menggendongnya? Siapa anda sebenarnya? Dan kenapa anda bisa berada dirumah ini tanpa sepengetahuan saya?" Tanya babysitter itu heran. Rupanya dia baru menyadarinya.
"Tenang, aku bukan penyelinap. Namaku Kushina Uzumaki, teman dari ibu bayi ini." Jawabku. Kulihat dia terkejut mendengar jawabanku.
"Itu berarti anda adalah calon istrinya Minato-sama?" tanyanya sambil menunjukku. Aku mengangguk.
"Kya! Hancur sudah harapanku!" aku sweatdrop mendengarnya. Rupanya babysitter ini sudah terkena panah mautnya Minato.
"Dari mana anda tahu kalau aku ini calon istrinya Minato? Aku bahkan belum menyetujui pernikahan itu." Ucapku heran.
"Ah, itu, Tsunade-sama yang bilang. Meskipun anda bilang belum menyetujuinya, tapi tampaknya bayi ini menginginkan anda menjadi ibunya. Buktinya dia langsung berhenti menangis ketika berada dalam gendongan anda." Jawabnya sambil tersenyum ramah. Aku balas tersenyum dan mengalihkan perhatianku pada bayi yang tengah tertidur digendonganku.
"Benarkah itu? Kau mau aku menjadi ibumu? itukah keinginanmu Sara kecil? Baiklah, akan kuturuti kemauanmu…" batinku sambil tersenyum lembut menatap bayi berambut merah terang di dekapanku. Entah mengapa aku langsung jatuh cinta pada bayi ini. Dia memiliki mata biru shappire seperti Minato. Aku sangat suka dengan warna matanya, aku juga menyukai Minato karena warna matanya yang sewarna dengan langit dan kelihatan lembut namun tajam.
Kini aku benar-benar yakin dengan keputusanku. Dan setelah hari itu, hampir setiap hari aku pergi kerumah Minato. Entah mengapa, aku merasa sangat rindu kalau tidak bertemu bayi itu sehari saja. Minato? Dia tidak tahu kalau aku hampir setiap hari datang kerumahnya. Karena aku datang pada waktu siang, dan pulang pada waktu sore, sementara Minato pulang malam hari. Aku meminta babysitter itu merahasiakannya dari Minato.
Dan sekaranglah saatnya aku mengatakan kalau aku bersedia menjadi istri Minato dan mengurus dan menganggap Sara kecil sebagai anakku. Bukan hanya karena aku masih mencintai Minato, tapi karena aku sangat menyayangi Sara kecil. Dan dihadapanku ada paman Jiraiya dan bibi Tsunade menantikan jawaban yang akan keluar dari mulutku.
"Jadi apa jawabanmu, Kushina? Ini sudah tepat 2 minggu dari waktu yang kuberikan. Seharusnya kau sudah mendapatkan jawabannya, kan?" Tanya paman Jiraiya. Aku mengangguk .
"Ya. Aku bersedia menikah dengan Minato. Aku bersedia karena aku sangat menyayangi Sara kecil. Aku tidak ingin dia menjadi yatim dan tidak menerima kasih sayang seorang ibu-dattebane." Jawabku mantap.
Mereka saling berpandangan lalu tersenyum hangat kearahku dan berkata,
"Jawaban yang bijak. Pernikahanmu akan dilaksanakan 1 bulan lagi. Terima kasih atas perhatianmu, Kushina." Ucap bibi Tsunade sambil tersenyum penuh arti. Aku kembali menangguk lalu permisi untuk pergi dari kediaman Namikaze.
End Kushina POV.
Setelah upacara pernikahan selesai, Kushina dan Minato langsung pulang ke kediaman Minato dalam diam. Setelah sampai, Kushina langsung mengganti baju pengantinnya, lalu bermain dengan Sara kecil. Sementara Minato hanya memperhatikannya dengan sebuah seringaian kecil.
Minato POV.
Melihat wajahnya yang begitu polos dan lembut saat menggendong Sara, putiku, hatiku menjadi luluh. Aku tahu, aku memang masih menyimpan 'sedikit' perasaan padanya. Tapi aku harus membunuh perasaan itu. Dia sudah menyakiti hatiku, mempermainkanku, dan menginjak-injak harga diriku. Aku masih ingat caranya memutuskanku waktu itu.
-Flahback-
"Ada apa, Kushi-chan? Kenapa kau menyeretku ketaman belakang sekolah ini? Kalau kau ingin bermesraan denganku, kita bisa melakukannya sepulang sekolah nanti." Kataku untuk menggodanya, aku memang suka menggodanya karena saat aku menggodanya wajahnya selalu terlihat lucu dan imut. Tapi rasanya kali ini ada yang aneh, wajahnya tidak kelihatan cemberut ataupun memerah sama sekali, dia menatapku dengan pandangan…sedih?
"Minato…." Panggilnya.
"Ya."
"Minato, kita putus ya."
JDGEER!
Terasa ada petir menyambarku di siang bolong.
What the hell? Apa yang baru saja dikatakannya? Aku rasa aku harus periksa telinga. Mungkin saja teligaku sudah rusak sehingga aku bisa mendengar sesuatu yang aneh.
"Apa yang baru saja kau katakan, Kushina? Kau tahu, aku sama sekali tidak suka bercan-"
"Aku tidak bercanda. Kita putus. Selama ini aku hanya berpura-pura mencintaimu, dan sama sekali tidak pernah terlintas di pikiranku untuk mencintaimu. Mana mungkin aku mencintai pria pengecut dan lemah macam dirimu. Sekarang sudah berakhir. Aku mau kita putus,"
Saat itu juga aku merasa tidak bisa bernapas, dadaku sesak karena paru-paruku terasa tersumbat oleh perkataannya yang menyakitkan itu. Hatiku terasa di tusuk beribu-ribu jarum beracun, sehingga aku bisa saja mati ditempat ini sekarang juga,
"Tidak mungkin." Gumamku.
"Kau bohong! Katakan padaku kalau kau berbohong. Aku tahu kalau kau sedang bersandiwara. Sudah hentikan semua sandiwara ini. Aku tidak suka." Bentakku sambil memegang kedua bahunya dengan erat. Kutatap mata violetnya dalam, mencari kebohongan yang tersembunyi disana. Tapi yang kutemukan adalah keseriusan dan tatapan dingin.
Dia….serius?
"Aku tidak bohong-dattebane." Ucapnya sambil melepaskan pegangan tanganku dari bahunya. "Aku memang tidak menyukaimu. Aku menerimamu sebagai kekasih karena kau adalah orang kaya dan populer. Tidak ada alasan lain. Sekarang aku sudah menemukan orang yang lebih kaya dan lebih populer darimu. Kau mau bukti?" dia mengeluarkan handphonenya lalu mengetikan sesuatu disana. Beberapa menit setelah itu, ada seorang laki-laki berambut hitam dan mata hitam pula datang menghampiri kami.
"Ano, Kushina-chan. Ada apa memanggilku kesini?" Tanya lelaki itu. Aku mengenalnya, dia adalah anak kelas 3 dan juga merupakan seorang artis yang sedang naik daun. Ayahnya juga seorang pengusaha yang sukses. Jadi karena dia Kushina tiba-tiba memutuskanku. Aku mengepalkan tanganku, bersiap untuk meninjunya. Namun perlakuan Kushina membuatku mengurungkan niatku. Aku syok! Kushina mencium bibir lelaki itu di depan mataku. Mataku terasa perih dan dadaku makin sesak. Di dunia ini hanya aku yang boleh menyentuh bibir Kushina. Hatiku terasa diiris-iris oleh pemandangan di depanku.
"Lihat? Aku mencintai pria ini. Dia lebih baik dari pada kau." Katanya setelah dia melepaskan bibirnya dari bibir pria terkutuk itu. Lalu dia menghampiriku dan membisikkan sesuatu,
"Ingat, jangan mencintaiku lagi. Marahlah padaku, kalau perlu benci juga aku. Dan setelah itu lupakan aku. Karena itulah yang kuinginkan." Bisiknya, tapi terdengar lirih. Lalu dia menarik tangan lelaki brengsek itu dan meninggalkanku sendirian disini. Api kemarahan segera mengelilingiku. Mataku berkilat-kilat marah. Kulangkahkan kakiku untuk mengikuti mereka secara diam-diam. Aku masih belum percaya kalau Kushina tega melakukan itu terhadapku. Aku bersembnyi dibalik pohon lalu melihat dua orang itu yang saling berpelukan. Aku tidak bisa melihat ekspresi wajah Kushina, karena terhalangi punggung laki-laki brengsek itu. Mereka kelihatan begitu mesra. Lalu mereka berjalan pergi sambil bergandengan tangan.
Ternyata benar. Kushina…kau hanya mempermainkanku. Padahal aku tulus padamu.
Aku mengepalkan tinjuku, lalu kulayangkan dipohon tempatku bersembunyi.
DUK!
Kau tega sekali!
DUK! DUK! DUK! DUK!
Kulayangkan tinjuku tanpa henti hingga tanganku berdarah. Tapi aku tidak peduli. Aku benar-benar terbakar amarah. Sehingga aku tidak bisa berpikir jernih. Amarah sudah mengmbil alih tubuh dan pikiranku.
"Kau mau aku membencimu, huh? Baiklah, kalau itu maumu. Akan kutunjukkan padamu seberapa dalam aku membencimu dan seberapa besar keinginanku untuk membalasmu." Aku pun pergi menjauh dari sana.
Setelah hari itu, aku memutuskan untuk melupakannya dan bertekad untuk membalasnya. Tapi apa yang bisa kulakukan untuk membalasnya dan membuktikan kalau aku tidak lemah dan aku bisa hidup normal tanpa dia di sisiku.
Setelah aku putus dengan Kushina, Sara tiba-tiba menyatakan perasaannya padaku. Dan aku terima saja. lumayan, untuk membuktikan pada Kushina kalau aku bisa menjalin hubungan lagi dengan wanita lain selain dirinya. Dia pikir setelah memutuskanku, aku tidak bisa mencari gadis lain apa? Kalian pasti berpikir kalau aku hanya menggunakan Sara sebagai pelarian, kan? itu ada benarnya sih. Tapi lama-kelamaan aku menjadi mencintainya dan kuputuskan untuk menikahinya. Tapi aku tidak menyangka kalau aku bisa bertemu dengan Kushina di pesta pernikahanku. Ku pikir dia sudah menikah dan hidup bahagia dengan orang kaya di belanda sana. Dan aku pernah berpikir kalau dia ke belanda karena di biayai oleh pacarnya yang baru mungkin.
Ketika kami berjabat tangan, mata kami saling bertemu. Kutatap dia dengan penuh kebencian dan kemarahan. Tapi kulihat ada yang aneh dengan matanya. Matanya sayu dan berkaca-kaca, tatapannya memancarkan kesedihan dan…kerinduan?
Ah, masa bodohlah dengan semua itu. Yang jelas sampai sekarang aku sangat membencinya.
-Flash Back End-
Sekarang dia adalah istriku dan juga sudah menjadi milikku. Dan aku bebas melakukan apapun terhadapnya. Tapi apa yang bisa kulakukan padanya? Menyiksanya? Tentu saja tidak kulakukan. Walaupun aku membencinya, aku masih punya hati. Aku tidak tega jika melakukannya terhadapnya, wanita yang pernah kucintai segenap hatiku. Bukan berarti aku masih mencintainya. Haahh! Lebih baik kupikirkan dulu apa yang harus kulakukan.
Bersambung…
Next Chapter : Aku Mencintaimu!
"Aku mencintaimu. Tidakkah kau sadar akan hal itu?"
"Kau tahu, yang tadi itu adalah ciuman pertamaku. Dan kau mengambilnya."
"Kau salah paham!"
"Ibu kenapa menangis?"
"Aku sangat mencintaimu! Tapi kenapa kau menghianatiku!"
"Eh? Ada bekas darah di seprai? Punya siapa? Dan kenapa aku bertelanjang dada seperti ini?"
…..
Tunggu chapter selanjutnya dan jangan lupa untuk meninggalkan jejak kalian setelah membaca chapter ini! ^^
Good Bye for next Chapter!~
~Kushina Namikaze027~
