Langkah-langkah kaki mendekat dari luar. Hanya perlu beberapa hitungan sampai Takasugi dan Sakamoto sampai di ruangan. Mereka secara otomatis memfokuskan pandangan ke Gintoki, yang juga menatap lurus ke pintu masuk.
"Yo, Chibigin, sudah bangun dari tidur siangmu?" Takasugi tersenyum tipis, agaknya menikmati saat-saat dimana posisinya dan Gintoki secara ajaib berbalik.
"Berisik, Takachibi, berapa kardus susumu habis hari ini?" Gintoki balas bertanya.
Takasugi melenggang masuk, ekspresinya menjadi serius. "Gintoki, beritahu kami semua yang kau tahu tentang kondisimu sekarang. Kalau tidak, sulit untuk melakukan sesuatu."
"Apa yang kau maksud? Aku tidak sebermasalah itu," Gintoki tersenyum tanpa beban.
"Tidak mungkin," tegas Sakamoto, berdiri di samping Takasugi. "Jika tidak segera ditangani, apa kemungkinan terburuknya?"
Katsura mengusap-usap rambut Gintoki, kelihatan seperti sedang memainkan bulu kucing. "Kau tidak perlu bersikap sok kuat di depan kami. Setelah buku harianmu kutemukan waktu itu, harusnya tak ada yang lebih rahasia lagi kan?" dia ikut bicara.
"Pertama, berhenti mengacak rambutku, Zura. Kedua, sejak kapan kau menemukan buku harianku? Aku bahkan gak pernah punya yang begituan!" protesnya sengit.
Katsura tidak menanggapi, tapi dia mengangkat tangannya dari kepala Gintoki. Ikut masuk mode serius seperti Takasugi dan Sakamoto.
Gintoki memejamkan matanya, "Jika tetap begini, kemungkinan terburuknya adalah, aku akan mati." katanya datar dengan suara pelan. Atmosfer ruangan itu tiba-tiba terasa turun beberapa derajat.
"Dan bagaimana mencegah hal itu?" Sakamoto mengambil inisiatif untuk lanjut bertanya
"Menunggu," Gintoki menjawab seperti sebelumnya.
Takasugi mengepalkan tangannya, "Kau tidak akan melakukan apa pun dan hanya menunggu kematianmu, hah?!"
"Temperamenmu memburuk, Takasugi." Gintoki mengupil dengan tenang. "Kau tidak bisa mendapatkan sesuatu tanpa kehilangan kan? Ketika kau nemu uang 300 yen, kau harus siap ketika pemilik aslinya minta kembalikan. Ketika kau memukuli adik seseorang, kau harus siap kakaknya datang balas dendam."
"Gintoki, ngomong-ngomong apa kau yang ngambil uang 300 yen ku yang tercecer di lantai kemarin?" potong Katsura.
"Gintoki, kau sedang menyindirku atau apa?" sela Takasugi.
"Intinya," Sakamoto menyimpulkan, "Ada sesuatu yang kau dapatkan di wujud itu?" tanyanya.
Gintoki menatap sayu ke langit-langit. "Seharusnya begitu." sudut bibirnya membentuk senyuman, "Jatah tidur siang yang lebih lama misalnya."
"Komandan! Ada pergerakan mendadak dari pasukan musuh!" lapor anak buah Takasugi.
"Lagi?" Takasugi mengantongi yakulknya.
"Tunggu Takasugi, kita tidak dalam keadaan mampu bertarung!" Katsura mengingatkan.
"... Jadi, apa kau punya rencana, Jendral Kotarou?" tanyanya menguji.
"Menyusup. Kurasa mereka akan menunda penyerangan jika ada sabotase. Saat ini dengan kita berempat berkumpul di satu tempat, memang sasaran yang bagus untuk para bakufu. Tapi kuharap mereka tidak senaif itu untuk meremehkan kemampuan kita."
"Dengan kata lain, kau berasumsi bahwa mereka menghindari kontak senjata jarak dekat?" Sakamoto membaca arah Katsura.
"Begitulah, dan ini kesempatan kita." Katsura membenarkan. "Dan kita butuh seseorang untuk melakukan itu. Orang yang ahli menyamar dan mudah beradaptasi."
Takasugi angkat tangan. "Jadi, biarkan aku yang menangani ini. Kiheitai menyusup ke lokasi pertahanan Amanto dengan sempurna minggu lalu."
"Penyamaran yang cocok untukmu adalah tipe berkelompok." ungkap Sakamoto. "Tapi kurasa aku bisa beradaptasi dengan baik dengan lingkungan baru. Kita akan menyabotase mesin bukan? Boleh kukatakan bahwa di antara kita yang paling mengerti hal-hal seperti ini adalah aku?"
"Memang, tapi ciri tubuhmu mudah dikenali. Kurasa aku yang akan melakukan misi ini." tukas Katsura. "Aku dijuluki Tukang Kabur Kotarou setelah semua."
"Tunggu, tunggu, kita sedang mencari orang yang bisa menyusup ke lokasi musuh dan melakukan sabotase senjata jarak jauh kan? Aku rasa yang paling cocok untuk tugas tersebut adalah..." Gintoki menunjuk dirinya sendiri, "Aku."
Jadi di sinilah Gintoki sekarang. Ketiduran dalam sebuah kardus besar yang harusnya berisi bubuk mesiu.
"Hah? Memangnya kau bisa pergi dengan kondisi seperti itu?" Katsura dan Takasugi kompak tidak setuju begitu dia mengajukan diri.
"Dan kenapa tidak? Skill berpedangku tidak berubah. Dengan ukuran minimize begini akan lebih mudah menyusup. Daripada mengambil resiko penyamaran, aku bisa lewat pengiriman barang. Dan jika ketahuan aku bisa berlagak bodoh dengan lebih meyakinkan." papar Gintoki meyakinkan.
"...Gintoki, tapi, bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi pada tubuhmu ketika kau sendiri?" Katsura masih khawatir. Dia selalu khawatir untuk jelasnya.
"Tidak ada juga yang bisa kalian lakukan tentang itu." jawab Gintoki. Kemudian hening, yang lain tidak punya bantahan.
Sakamoto menghela napas. "Kita tidak bisa terus menerus ragu. Gintoki, bawa pemancar ini. Setidaknya jika kami memutuskan meledakkan kapal tempatmu menyusup, kami tidak akan secara tidak sengaja membunuhmu."
"Ya sudah, pergi sana." Takasugi mengibaskan tangannya. "Tujuanmu ada dua kan?"
Gintoki nyengir.
Jadi Sakamoto melompat ke salah satu kereta yang membawa banyak amunisi bersama Gintoki dan membongkar isinya. "Gintoki, masuklah ke dalam sini." katanya setelah kotak itu kosong, isinya telah pindah ke karung-karung kecil untuk diambil alih Jouiroshi.
"Ok, sankyu, Tatsuma." Gintoki kecil dengan mudah masuk dan meringkuk nyaman di kotak itu.
"Baiklah, semoga berhasil teman." Sakamoto menutup kembali kotak tersebut, melompat turun dari kereta sebelum keberadaannya disadari pasukan bakufu yang membawa muatan menyadarinya.
Sakamoto bergabung dengan Katsura yang sudah menunggunya di bawah jembatan. "Sudah beres?" tanya Katsura. Dijawab Sakamoto dengan acungan jempol.
"Kuharap dia baik-baik saja. Gintoki kecil sangat imut, Zura." Sakamoto teringat wajah tidur Gintoki beberapa waktu lalu.
"Hmm, begitukah?" gumam Katsura.
Sakamoto meringis, "Kalian tumbuh bersama jadi tidak terasa bedanya ya?"
"Karena itulah, Sakamoto." Katsura menggeleng-gelengkan kepala. "Aku yakin dia hanya akan ketiduran di kotak itu."
"Begitukah? Apa Takasugi sedang mengumpulkan Kiheitai?"
"Ya, mereka akan mengadakan serangan mendadak Saat Gintoki berhasil mengacau."
Jawab Katsura. "Nah, kau dapat banyak mesiu, ayo bawa itu ke tempat persembunyian." ajaknya, membantu Sakamoto mengangkat karung-karung kecil mesiu curian.
"Apa rencana Takasugi?" tanya Sakamoto, berjalan beriringan dengan Katsura menyusuri bawah jembatan.
"Menunggu." Takasugi sedang berdiri di depan pasukannya. "Seperti yang kalian ketahui, kita pasti kalah jika berhadapan langsung dengan pasukan gabungan bakufu dan amanto. Jadi kita akan bersembunyi dan menghancurkan musuh dengan satu serangan telak. Dan kunci yang membuka kesempatan itu..."
Nun jauh dalam kereta barang, Gintoki kecil memejamkan matanya, agaknya keenakan dengan naik turun kereta menyusuri jalanan.
"... Adalah Gintoki."
Kotak mesiu dibuka, prajurit bakufu yang memeriksa isinya berteriak kaget, hampir saja mengisi meriam dengan seorang bocah laki-laki.
Gintoki menguap, ekspresinya jengkel karena merasa terganggu. "Halo," ia meringis sebelum melompat keluar. Seringainya tidak memudar ketika pedang-pedang berjarak sekian senti dari lehernya.
"Bunuh dia." salah seorang petinggi Tendoshu berkata final ketika melihat Gintoki.
"Baik,"
"Tunggu," sela seorang berpakaian hitam yang baru saja masuk ke ruangan. "Dia mungkin bisa digunakan." mengangkat capingnya, orang itu adalah Oboro.
"Dia bisa saja disusupkan oleh musuh, dan bertugas melakukan sabotase." bantah prajurit Bakufu yang bukan bagian dari Naraku.
"Anak-anak yang bertahan di medan perang? Aku bahkan tidak yakin dia mampu memegang pedang." Oboro menarik kerah kimono Gintoki, mengangkatnya ke luar. "Dia akan jadi budak sementara, begitu keluar dari kapal ini kupastikan dia sudah ke dunia selanjutnya." pintu logam menutup otomatis.
Di ruang gelap, Oboro menurunkan Gintoki. Menatapnya dengan tatapan tajam, pemuda itu mencabut pedangnya dan menodongkan logam dingin itu ke leher Gintoki. "Apa tujuanmu ke sini?"
"...Seperti yang kau katakan tadi, aku tidak bersenjata." Ketika berjalan mundur, Gintoki merasa punggung kecilnya membentur jeruji besi. Tapi dia tidak repot-repot menoleh, gerakan kecilnya sudah mengakibatkan luka gores tipis di lehernya. "Aku main petak umpet dengan teman-temanku dan tak sengaja tidur, lalu terbawa sampai ke sini. Itu saja."
"Anak-anak normal akan ketakutan ketika bangun di tempat yang tak dikenalnya, apalagi itu kapal tempur, bukannya tersenyum dengan tampang 'Sesuai rencana'. Siapa kau sebenarnya?"
"Sayangnya, dia bukan anak normal..." sahut seorang pria. Gintoki menoleh ke belakang dengan refleks karena merasa kenal dengan suara itu.
"Dia bocah nakal yang tidak normal." besi yang membatasi geraknya ternyata adalah semacam sel kurungan, dengan sosok Yoshida Shouyou di dalamnya. Dan si tahanan menundukkan kepala, menyembunyikan matanya di balik bayangan rambut.
Tapi Gintoki bisa melihat senyumnya, senyum yang mereka rindukan beberapa tahun ini. Senyum yang mereka harapkan sampai-sampai rela menghabiskan awal masa remaja berkejaran dengan maut setiap hari. "Shouyo..."
"...Dia salah satu muridmu? Tidak mungkin." Oboro menarik pedangnya. "5 tahun lalu, bocah ini harusnya masih berusia 2 tahun."
"Jangan bilang kau terkena meriam Shota, Gintoki." Shouyo berdiri, mendekat ke jeruji.
"Malah akan lebih menyusahkan kalau ada alasan lain," Gintoki menjawab enteng.
"Begitukah? kalau begitu kau harus cepat temukan penawarnya." tegas Shouyo.
"Aku yakin Zura, Takasugi dan yang lainnya akan mengurus itu, tapi aku datang ke sini untuk tujuan yang berbeda." jawab Gintoki. "Kamp kami akan diledakkan kapan saja saat ini."
"Aku tidak tahu kau sudah tahu cara menyabotase meriam."
"Tentu, aku hanya akan melakukan sesuatu, apapun itu." Gintoki mengeluarkan pedangnya yang tersembunyi di balik pakaian.
"Kau tidak berubah, menghancurkan apapun yang membahayakan rekan-rekanmu." Shouyo mengulurkan tangan ke luar jeruji, mengajak janji kelingking sekali lagi.
"...Shouyo akan dieksekusi dalam hitungan hari." kata Oboro. Demi mendengar kalimat itu, tangan Gintoki yang hampir menyambut kelingking Shouyo mendadak beku.
"Kalian tidak punya kesempatan untuk mencegahnya. Kami akan menangkap para murid Shouyou dan menyisakan satu untuk melakukan eksekusi. Lalu menghabisi semuanya di tempat..." Oboro membeberkan rencana dengan tatapan kosong.
Gintoki dan Shouyo menjatuhkan tangan mereka. Kedua jari itu lagi-lagi gagal bertaut.
"Tidak ada alasan melibatkan mereka dalam eksekusiku!" sentak Shouyo.
"Tentu saja ada. Meski tidak bagiku, yang memutuskan adalah para Tendoshu." tukas Oboro dengan nada rendah.
"...Aku tidak menerima ini." Gintoki membalikkan badan, membelakangi Shouyo. Mata merahnya yang menyala bertemu dengan tatapan suram Oboro. "Bantu aku."
"Tiba-tiba ngomong seenaknya begitu. Apa yang membuatmu yakin aku akan setuju?" Oboro menghela napas.
"Kau yang duluan bicara seenaknya. Berkat itu aku tidak akan bisa tidur beberapa hari ke depan." sahut Gintoki. "Lagipula, kau tidak benar-benar serius ingin membunuhku."
"Kau sebut apa luka di lehermu itu? Mau coba yang lebih parah?" balas Oboro.
"Setidaknya kepalaku belum melayang sekarang ini." Gintoki menoleh pada Shouyo, "Aku tidak bagus dalam negosiasi. Shouyo, sebagus apa kakak yang hobi begadang ini?"
Shouyo tersenyum, "Nah, anggap saja kemampuan kerja samamu meningkat pesat. Serahkan yang di sini padaku."
Dia bangkit, terlihat berantakan setelah sekian lama dalam kurungan. Oboro diam di tempat, membiarkan Gintoki berjalan pergi, entah ke bagian mana kapal terbang ini.
"Oboro." Shouyo memanggil nama murid pertamanya. Intonasi tenang yang begitu serius, cukup membuat Oboro terbawa suasana tegang untuk beberapa detik.
"... Apaan? "
"Gintoki mirip denganmu. Apa kalian punya ikatan darah?"
Gedubrak!
