Romeo VS Juliet

.

.

.

.

Dark Eagle's Eye

Own Project

.

.

.

.

.

Genre:

Romance, Drama, Hurt/ Comfort,

.

.

.

Cast:

Oh Sehun

Lu Han

And other

.

.

Pair:

HunHan

.

.

Rate:

Mature

.

.

Warn:

GS, Typo, DLDR, Messing EYD, Tidak masuk di akal dll.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Esoknya Luhan kembali ke sekolah lengkap dengan bekal makan siangnya serta senyum lebarnya. Dia menatap kotak itu senang, Luhan tidak menyangka Sehun mau memakan makanannya terlebih pria itu meminta Luhan untuk membuatnya setiap hari, ah mengingat itu pipi Luhan kembali memanas.

Dia berjalan mengedarkan pandangannya berusaha mencari Sehun, namun saat dia berjalan tiba-tiba seseorang menarik tangannya. Saat Luhan akan berteriak mulutnya dibekap, dan Luhan ditarik menuju gudang.

Sosok itu membuka mulut Luhan dan Luhan langsung berbalik, saat Luhan akan berteriak dia malah terheran-heran.

"Sunbae?" Ucap Luhan tidak percaya. "Aku pikir siapa, mengapa Sun—"

"Sssttt... " Sehun mengarahkan telunjuknya di bibir. "Jangan berisik!" Titahnya sembari melihat ke arah kiri dan kanan.

"Menunduk!" Sehun membawa kepala Luhan ke bawah, mereka berjongkok dan saling bertatapan.

"Ada apa Sunbae?" Tanya Luhan, tapi Sehun tidak menjawabnya.

"Sunbae—"

"Ssttt..." Sehun kembali menaruh telunjuknya di bibir. "Kau lihat mereka," Sehun menunjuk segerombolan siswi yang berlarian sembari meneriaki namanya, "sangat menyeramkan." Ucap Sehun pelan.

"Siapa Sunbae?" Tanya Luhan sambil berbisik.

"Wanita-wanita itu, mereka gila dan mereka memang gila!" Komentar Sehun dengan nada jengahnya.

Luhan hanya tersenyum canggung, tiba-tiba Sehun mendekatkan wajahnya dan memandang Luhan dengan serius.

"Dengar Luhan, kau pacarku kan?" Sehun bertanya dan Luhan mengangguk. "Tugasmu selanjutnya adalah menjauhkanku dari gadis-gadis gila itu, mengerti?" Luhan mengangguk dan Sehun ikut mengangguk. "Bagus." Ucap Sehun.

"Tapi bagaimana caranya Sunbae?" Tanya Luhan polos, Sehun yang mendengar itu hanya menggeram kecil.

"Aku pikir kau sudah paham, tetapi kenapa masih bertanya?"

"Aku tahu itu tugasku tapi aku tidak tahu caranya Sunbae."

Mendengar jawaban itu Sehun hanya menghela nafas pelan dan menatap Luhan malas. "Mana ponselmu?" Tanya Sehun sebal.

"Em, apa?" Luhan bertanya tidak mengerti apa yang Sehun ucapkan.

Sehun menggeram. "Ck, ponsel! Mana ponselmu?!"

Luhan mengerjap, dia kemudian tertawa kecil. "Oh, sebentar Sunbae. Nah ini!"

Sehun mengambil ponsel Luhan kasar, dia lalu memasukan beberapa digit nomornya dan menghubunginya. Mengambil ponsel milik Sehun yang berbunyi, dan mematikannya.

"Nah ini nomorku." Sehun meyerahkannya dengan nama kontak 'pacar'. Luhan menerima ponsel miliknya dan tersenyum manis kepada Sehun.

"Nanti aku akan menghubungimu, sebagai pacar yang baik kau harus mengangkatnya dan segera menemuiku. Paham?"

Luhan mengangguk. "Bagus." Puji Sehun sembari bangkit berdiri.

"Sunbae bekalmu," Tanya Luhan melihat Sehun akan pergi keluar.

"Kau saja yang pegang, nanti istirahat aku menghubungimu."

Sehun keluar meninggalkan Luhan yang masih berjongkok, setelah yakin Sehun sudah berada jauh dari jangkauannya Luhan memekik senang, dia tertawa kecil dan bangkit berdiri. Matanya berbinar dan wajahnya terlihat begitu cerah. Luhan membersihkan roknya dari debu dan dia berjalan keluar ruangan dengan riang. Beberapa orang memandangnya aneh tapi Luhan tidak ambil peduli. Dia melangkah dengan riang dan sesekali tertawa sembari menenteng bekal yang dia buat untuk Sehun.

.

.

.

Saat sampai di tengah rumah, Luhan memicingkan matanya melihat berbagai macam hidangan berjejer rapih di sana.

"Bibi!" Panggil Luhan tidak sabar, seseorang menghampiri Luhan dan bertanya ada apa.

"Apa Umma sudah pulang? Apa Umma akan makan malam di rumah?!" Tanya Luhan penuh antusias. Badannya bergerak-gerak tidak sabar menunggu jawaban pelayannya itu.

"Ya, nona muda."

Dan setelah jawaban itu Luhan memekik senang, dia memeluk orang di hadapannya dan tersenyum cerah. Oh astaga betapa sempurnanya hari Luhan saat ini, pertama dia makan bersama pacarnya dan bahkan di selamatkan oleh pacarnya, dan kedua ibunya pulang lebih awal, dan bahkan mau makan malam bersamanya! Benar-benar luar biasa!

Tanpa menunggu apa-apa lagi Luhan berlari menuju kamarnya, Luhan membersihkan tubuhnya dan memilih kira-kira baju mana yang harus dia pakai saat ini. Luhan tidak mau membuat ibunya kecewa, dia ingin membuat ibunya senang dengan penampilannya kali ini.

.

.

Namun apa yang Luhan harapkan hanya angan-angan semata. Dia berdiam diri mencoba menetralkan detak jantungnya yang berpacu keras dengan suasana dingin ini.

Luhan melirik ibunya yang sedang duduk anggun memakan makanannya, begitu tenang tidak ada niatan sama sekali untuk memandang Luhan dan yang bisa Luhan lakukan hanyalah menundukkan kepalanya.

"Umma." Panggil Luhan pelan.

"Tidak diperbolehkan berbicara di saat makan." Ucap Jihyo— ibu Luhan, dingin.

Luhan hanya diam menunduk, nafsu makannya menguap entah ke mana, dia kemudian melihat ibunya bangkit berdiri tanpa mengucapkan satu patah kata apapun.

Luhan menggigit bibirnya pelan, dia melihat makanan Jihyo yang hanya habis separuh. Seharusnya Luhan tidak berbicara, seharusnya Luhan membiarkan Jihyo menikmati makanannya tanpa merasa terganggu oleh dirinya. Luhan menghela nafas pelan kini mood ibunya hancur gara-gara kecerobohan dirinya Luhan tidak yakin setelah ini Jihyo akan mengajak makan bersama. Jarang-jarang dia bisa makan bersama ibunya dan kini Luhan menghancurkan momen itu.

Luhan merasa makanan yang tersaji di hadapannya kini tidak menarik lagi, dia lalu meletakan sendoknya dan pergi beranjak, berjalan pelan menaiki tangga menuju kamarnya.

.

.

.

Hari-hari Luhan lewati dengan kegiatan yang sama. Dibuli Chaeyeon dan melayani Sehun. Sekolah terasa melelahkan bagi Luhan, ada banyak yang tidak menyukainya, bukan Luhan ingin seperti ini namun rasa tidak percaya diri selalu menguasainya dan dia hanya bisa menutup diri dan mencoba menjauh dari lingkungan sekitar.

Luhan kini tengah mendudukkan dirinya di kantin sekolah hanya sendirian dibangku paling pojok membelakangi para murid yang terlihat begitu antusias. Luhan hanya menundukkan kepalanya, kakinya bergerak gelisah dan tangannya mengeluarkan keringat dingin. Tubuhnya terasa lemas dia belum sempat sarapan tadi karena kesiangan dan juga dia belum sempat membuatkan Sehun bekal. Oleh karena itu Luhan menghabiskan waktu makan siangnya di kantin.

Makanannya sudah siap, Luhan memakannya dengan tenang. Saat sedang menyuapkan makanan tiba-tiba wajahnya terasa basah. Seseorang dengan sengaja menumpahkan jus jeruk di wajahnya.

Luhan hanya meringis samar, dia lalu membuka mata dan menemukan Chaeyeon sedang bersidekap di sana.

"Dasar tidak tahu malu! Menjauhlah dari sisi Oh Sehun Sunbae! Kau itu tidak pantas! Kau itu hanya mahluk rendahan, tidak tahu malu dan tidak tahu diri!"

Chaeyeon berdecak kesal, pasalnya dia merasa malu akibat kejadian kemarin. Susah payah dia masuk anggota cheers hanya untuk dekat dengan Sehun dan menjadi yang pertama menyerahkan minum dan handuk kepadanya. Tapi dengan tidak tahu malu, Luhan melakukan itu. Chaeyeon merasa terhinakan, dirinya yang begitu cantik dan manis ini diabaikan hanya karena Luhan yang bahkan Chaeyeon saja tidak sudi untuk melihatnya. Luhan itu jelek, kampungan, dan aneh! Tidak tahu diri sekali dia dekat-dekat dengan orang seperti Sehun, sangat jauh dari kelasnya.

Chaeyeon geram. Dia lalu membalik mangkuk makanan Luhan membuat makanan itu berceceran di lantai dan beberapa mengotori seragam Luhan. Saat akan melempar Luhan dengan garpu di tangannya seseorang tiba-tiba datang memegang tangan Chaeyeon dan menahannya.

"Chaeyeon! Jika ingin berkuasa lihatlah situasi!" Ucap siswi itu sebal. "Kau tidak tahukah di mana tempatmu berada, bagaimanapun juga Luhan Sunbae adalah seniormu, dan kau berada di tempat yang salah. Kau tahu citra angkatan kita jatuh itu gara-gara siapa?!"

"Memang apa masalahmu!" Balas Chaeyeon marah. "Jangan ikut campur! Ini masalahku! Dan ini urusanku!"

"Tentu ini menjadi urusanku juga! Aku tidak mau citra angkatan kita menjadi semakin jelek gara-gara hal yang tidak penting! Sebaiknya kau segera pergi jika tidak ingin menimbulkan masalah dengan Sunbae lainnya."

"Kau—" geram Chaeyeon tertahan. Sosok itu hanya melipat tangannya di depan dada dan memandang Chaeyeon dengan tatapan angkuh.

"Apa?!" desis orang itu tajam. Dan Chaeyeon memekik kesal, kemudian berlalu dengan emosi yang bercokol di hatinya.

Meninggalkan Luhan yang hanya diam menunduk, tangannya terkepal erat dengan bahu yang sedikit gemetar.

Siswi itu mendengus sebal, dia lalu menepuk-nepuk tangannya menghilangkan debu yang ada di sana. Berkacak pinggang sebentar sebelum akhirnya kembali membawa nampan dan meletakkannya di atas meja Luhan.

Luhan mendongak dan melihat sosok itu tersenyum manis kepadanya. Luhan mengenal sosok itu, dia adalah Jeon Jungkook juniornya serta manager baru di klub basket, beberapa kali Luhan pernah bertemu namun Luhan tidak terlalu dekat.

"Halo Sunbae, bolehkah aku duduk di sini? Di sana sangat ramai, aku baru saja menemui Namjoon Oppa jadi malas untuk kembali."

Jungkook tersenyum manis kepada Luhan, dengan gesit tangannya membereskan kekacauan dia bahkan rela mengeluarkan sapu tangan dan memberikannya pada Luhan dan menyuruh Luhan membersihkan wajahnya.

"Makanlah bersama Sunbae, aku memesan banyak, dan tidak mungkin menghabiskannya seorang diri." Jungkook mendorong nampannya dia kemudian mengambil sumpit untuk Luhan.

"Terima kasih." Ucap Luhan pelan. Jungkook malah tersenyum lebar menampilkan gigi kelincinya yang begitu lucu dan menggemaskan membuat hati Luhan menghangat.

.

.

.

Luhan berlari dengan cepat menuju gedung olahraga. Tangannya memeluk selembar handuk dan satu botol minuman. Luhan ingat hari ini Sehun sedang ada latihan, dan bodohnya Luhan dia malah jatuh tertidur. Tadi setelah kelasnya selesai Luhan memejamkan matanya dan terbangun di saat kelas sudah sepi dan langit hampir gelap, maka dengan cepat-cepat Luhan pergi menuju gedung olahraga.

Nafasnya memburu, jantungnya berdegup cepat. Luhan memejamkan matanya, dia kini berada di lorong menuju gedung olahraga raga. Sepi, hanya ada beberapa orang saja di sana sementara rendah riuh suara sorakan para siswa terdengar samar-samar, sepertinya latihan mereka sebentar lagi selesai. Tidak! Luhan akan terlambat dan membuat Sehun kecewa, dia ingin segera sampai dan hadir sebelum latihan selesai.

Karena terburu-buru Luhan jatuh tersandung kakinya sendiri, Luhan tersungkur, handuk dan minuman itu tergeletak dilantai di dekat kaki seseorang.

Luhan meringis pelan, lalu dia merangkak mengambil handuk itu, namun dengan tega orang itu menginjak tangan Luhan. Luhan menggigit bibrnya pelan mencoba menahan ringisannya, dia mendongak dan menemukan Jackson— teman sekelas Sehun, di sana.

"Sunbae, tolong lepaskan." Rintih Luhan pelan, namun Jackson tidak mendengarkan dia malah menambahkan beban tubuhnya dan semakin kencang menginjak tangan Luhan.

"Sunbae tolong, lepas— Aarrgghhh." Luhan memekik keras saat merasakan sakit yang sangat pada tangannya. Dia semakin meringis melihat handuk yang Luhan siapkan untuk Sehun menjadi kotor karena jejak sepatu Jackson.

Sementara itu Jackson tersenyum puas melihat Luhan yang tersungkur di bawahnya dengan kaki dalam injakannya. Jujur dia tidak suka sahabatnya Sehun memiliki pacar seperti Luhan, lihat saja sampai sejauh mana Luhan bisa bertahan, Jackson yakin hubungan mereka sebentar lagi kandas. Lagi pula siapa Luhan, murid rendahan seperti dia saja ingin dekat-dekat dengan sahabatnya, sangat tidak tahu malu.

Jackson sekali lagi menumpukan kekuatannya dan menginjak tangan Luhan dengan penuh kencang, mendengus pelan saat Luhan memekik meminta di lepaskan.

Karena malas bila harus berusaha dengan Luhan lebih lama dia akhirnya melepaskan injakannya, menyeringai pelan lalu melangkah ringan menuju gedung olahraga.

Sementara itu Luhan meringis, matanya sudah memerah panas, tapi dia sebisa mungkin menahan tangisnya. Tangannya sungguh sakit dan meninggalkan ruam biru di sana, Luhan melirik murung melihat handuk putih yang sengaja dia siapkan untuk Sehun kini sudah lusuh bernoda.

Luhan mengambilnya, dia lalu bangkit dan berjalan menuju lapangan. Sorak sorai sontak terdengar di sana, bisa Luhan lihat beberapa pemain yang melakukan high five sebelum bubar menuju tepian lapangan. Luhan diam memandang mereka dengan tatapan sendu, hanya berdiri bersembunyi di dekat pintu dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Menunduk menatap lantai menyembunyikan wajahnya.

Luhan terdiam melihat sepasang sepatu yang kini ada di depannya. Dia mendongak dan menemukan Sehun berdiri di sana.

Sehun mengulurkan tangannya dan meminta handuk yang ada di tangan Luhan. Luhan menggeleng pelan, dia menunjukkan handuk putih itu yang kini sudah lusuh dan kotor. Tapi Sehun tidak peduli, dengan ringan dia mengambilnya dan memakainya untuk menyeka keringat. Sehun lalu mengalungkan handuknya, mengambil air minum dari Luhan dan meminumnya.

"Kenapa terlambat?" tanya Sehun, Luhan tampak diam dan enggan menjawab. Sehun hanya menghela nafas pelan, Sehun lalu meraih tangan Luhan dan memeriksanya, bisa Sehun temukan beberapa ruam di sana, ini karena kelakuan Jackson, Sehun mengetahui hal itu tetapi Sehun tidak banyak bicara, dia hanya meraih sapu tangan miliknya dan mengikatkannya di sana dengan rapi dan hati-hati.

"Lain kali lebih hati-hati lagi."

Sementara itu Luhan hanya mengangguk kecil dan kembali menunduk menahan lelehan air mata di sana, Sehun hanya diam dia ingin tidak peduli tapi entahlah, Sehun hanya tidak tega melihatnya.

Sehun lalu mengangkat tangannya dan menepuk-nepuk kepala Luhan pelan, samar-samar sebuah isakan terdengar di sana di susul air yang jatuh di antara kedua kaki mereka.

"Sudah jangan menangis, kau sudah menjadi pacar yang baik." Ujar Sehun sembari menepuk-nepuk kepala Luhan pelan, Luhan hanya mengangguk kecil dan kembali menangis.

Sehun meraih wajah Luhan dan membuatnya mendongak, memperhatikan dengan tatapan datar dan dinginnya, tangannya dengan kaku mengusap air mata Luhan dan membenarkan letak poninya.

"Jangan menangis lagi, aku akan membawamu ke suatu tempat tapi jangan menangis lagi."

Luhan mengangguk dan tersenyum malu-malu, dia lalu mengekor di belakang Sehun meninggalkan lapangan yang kembali ricuh akibat apa yang Sehun lakukan pada Luhan.

.

.

Keduanya tengah duduk di suatu kedai minuman, sebuah kedai yang tersembunyi di balik taman kota, bertuliskan April Bubble tea di bagian luar. Tidak banyak yang mengetahui tentang warung minuman itu namun kedai itu begitu nyaman dengan dekorasi yang menyatu dengan alam serta beberapa menu yang sangat Sehun gemari.

Sehun duduk diam dan Luhan yang tengah anteng dengan minuman miliknya.

"Kau menyukainya?" tanya Sehun, dan Luhan mengangguk kecil lalu tersenyum.

"Kau itu jangan terlalu baik dengan orang lain bila tidak ingin ditindas. Baik memang boleh tapi dalam batas sewajarnya saja. Jangan lemah, mereka akan semakin menindasmu jika kau seperti ini terus."

"Maafkan aku." Bisik Luhan penuh sesal.

"Tidak perlu minta maaf. Kau hanya perlu merubah diri dan memulainya."

"Tapi aku tidak bisa—"

"Tidak akan ada yang bisa sedari kau masih di kandungan. Kau hanya perlu merubah diri, menjadi berani adalah pilihan. Kau tidak mau kan selamanya ditindas seperti ini terus menerus."

"Tapi, a.. aku belum biasa, aku takut mereka tidak ingin menerimaku."

"Memang apa salahnya mencoba, kau itu berubah demi dirimu sendiri bukan demi orang lain, mereka tidak akan peduli kau itu siapa, mereka tidak akan menjadi rugi atau untung jika kau berbuat hal yang berbeda. Mereka malah senang jika kau terus-terusan seperti ini.

Setidaknya dengan percaya diri kau sudah menghargai dirimu sendiri sehingga orang lain segan untuk menginjak harga dirimu. Apa kau mau selamanya ada di bawah kaki mereka?"

Luhan menggeleng cepat dia kemudian menunduk dan memainkan minumannya dengan gugup, Sehun yang melihat itu hanya menghela nafas pelan.

"Apa kau benar pacarku?"

Luhan mengangguk.

"Maka dari itu jadilah pacar yang pantas. Jangan permalukan dirimu sendiri karena hal itu juga akan mempermalukan diriku."

"Kau tidak ingin kita putus kan?" tanya Sehun.

Luhan mendongak dan menggelengkan kepalanya.

"Jika seperti itu maka dengarkanlah apa yang aku ucapkan tadi, arra?" Luhan mengangguk dan Sehun menggumam pelan.

"Besok sebagai pacar yang baik kembali bawakan aku bekal, kebetulan beberapa hari ini aku sibuk latihan untuk kejuaraan terakhir dan kau harus selalu stand by di sana arrasseo. Dan jangan lupa hubungi aku malam ini."

"Nde arraseo, Sunbae."

Jawab Luhan dengan suara yang terdengar pelan Sehun tertawa kecil dia lalu menatap minuman Luhan yang kini tersisa setengah, dalam hati Sehun tertawa bisa-bisanya anak ini menikmati kudapan di tengah suasana berat seperti tadi.

"Kau benar-benar menyukai minuman ini ya?" tanya Sehun yang hanya dibalas rona merah di pipi Luhan.

"Baiklah aku akan memberikan ini sebagai hadiah bila kau bisa melawan mereka yang menindasmu."

.

.

.

Selepas jam terakhir miliknya Luhan langsung mendudukkan dirinya bersama pelatih dan pemain cadangan yang lain di sisi lapang. Luhan tersenyum manis memperhatikan Sehun yang tengah melakukan sparing bersama kelompok lainnya, Sehun menyeka keringatnya dan dengan nafas terengah datang menghampiri Luhan.

"Air... " ucap Sehun dengan nafas yang masih memburu. Luhan dengan sigap menyerahkan satu botol air pada Sehun.

Sehun meminumnya sembari menenggak air miliknya Sehun memberikan Luhan instruksi melalui jarinya agar Luhan mengelap keringatnya dengan handuk yang Luhan pegang.

Dengan canggung Luhan mencoba menyeka keringat Sehun, begitu pelan dan hati-hati membuat Sehun yang tengah berdiri di sana tidak kuasa menahan satu lengkungan di bibir tipisnya. Tanpa sadar tangannya tergerak mengusak rambut Luhan dengan gemas membuat Luhan mendongak dan kedua mata mereka saling bertatapan.

Keduanya terdiam saling mengagumi keindahan masing-masing, jujur Sehun akui, mata Luhan adalah sesuatu yang indah yang perah Sehun lihat dan jika diperhatikan lebih jeli Luhan memang manis juga.

"Masih ingat ucapanku kemarin?" Sehun berbisik dengan suara beratnya.

"Ya."

"Jika seperti itu, tolong ambilkan jam tangan milikku yang Chaeyeon simpan."

Luhan tiba-tiba berkeringat dingin, dia memandang Sehun dan menggeleng pelan.

"Tidak Luhan, jika kau ingin berubah ambil jam tangan yang aku titipkan pada Chaeyeon."

"Tapi Sunbae,"

"Tidak! Kita sudah bicarakan ini sebelumnya, kau harus mengambil jam itu!"

"Sehun Sunbae tidak, aku—"

"Ya sudah berarti kau tidak ingin aku menjadi pacarmu lagi."

Luhan menggeleng kecil dan mengangguk pelan, pada akhirnya dia melangkah menghampiri Chaeyeon.

Chaeyeon yang tengah duduk dan sedari tadi meradang karena melihat kedekatan Sehun dan Luhan, dia kini menggeram menahan amarahnya.

"Apa?! Ada apa ke sini Sunbae! Dasar tidak tahu malu!"

"Aku—" Luhan mencoba menetralisir rasa gugupnya, membasahi bibirnya dan kembali menata ucapannya. "Aku hanya ingin mengambil jam tangan yang Sehun Sunbae titipkan padamu."

"Apa?!" Chaeyeon meradang, dia bangkit berdiri dan menghampiri Luhan dengan cepat.

"Kau bilang apa Sunbae!" Ulangnya lagi.

Luhan menggeleng pelan, dengan nafas tertahan dia kembali berbicara.

"Aku— a, aku hanya ingin mengambil jam tangan milik Sehun Sunbae."

Plak

Semua orang yang ada di sana tiba-tiba terdiam, Chaeyeon si siswi tingkat pertama yang terkenal akan kemanisannya kini dengan tanpa peduli menampar Luhan dengan kencang, Luhan jatuh tersungkur rasa anyir seketika menyebar di dalam mulut Luhan.

Luhan terbatuk-batuk pelan belum sempat dia memusatkan pandangannya, rambutnya di tarik paksa ke belakang dan dengan cepat dibenturkan pada lantai.

"Dengar Sunbae! Jangan mentang-mentang dirimu menjadi yang paling dekat dengan Sehun Sunbae, bukan berarti kau bisa seenaknya padaku!"

Luhan menggeleng cepat.

"Tidak, bukan begitu maksudku— aku hanya ingin mengambil jam nya saja."

Mendengar itu Chaeyeon menjadi semakin marah, dia merasa terhinakan dan merasa Luhanlah yang lebih berhak dengan barang milik Sehun sementara Chaeyeon tidak! Dan Chaeyeon tidak sudi menerima penghinaan ini!

Chaeyeon bangkit berdiri tepat di depan wajah Luhan, dia benar-benar ingin menginjak wajah menyebalkan itu, persetan dengan citra miliknya, persetan dengan semua image manisnya.

Namun Chaeyeon segera ditahan oleh teman-temannya, semua orang berkumpul di sana dan menyaksikan kejadian ini. Beberapa orang merutuki Chaeyeon sebagai junior yang sangat angkuh dan seenaknya dan sebagian lainnya menampakkan rasa puas mereka saat Luhan terpojok seperti itu.

"Hentikan! Apapun yang kalian lakukan saat ini hentikan!" Sang Coach terpaksa harus turun tangan ketika keributan itu mengganggu berlangsungnya latihan. Dia menggeram marah, dan dengan kasar menjauhkan Chaeyeon dari Luhan.

"Jika kalian tetap seperti ini aku terpaksa harus menghentikan keanggotaan kalian dari anggota Cheers, dan jangan salahkan aku jika kalian mendapatkan tinta merah di catatan laporan kalian. Dan begitu juga kau—" pria berumur dua puluh empat itu menunjuk Luhan.

"Aku tidak peduli kau menjadi pihak yang salah maupun yang tidak bersalah, aku tidak ingin kau terlibat dalam hal seperti ini lagi! Mengerti?" Tanyanya penuh intimidasi, Luhan dan beberapa orang di sekelilingnya mengangguk paham.

Laki-laki itu tampak tersenyum puas. "Jika seperti itu bubar! Jangan berkumpul mengganggu latihan! Latihan selesai!" Ucapnya setengah murka, dia lalu segera menyambar tas miliknya tanpa peduli anak didiknya yang masih melangsungkan sesi latihan.

Perlahan semua bubar dan kembali ke tempatnya masing-masing. Beberapa dari mereka tampak kesal dan malu, beberapa menyalahkan Chaeyeon karena tingkahnya yang menyebalkan padahal masih di tahun pertama. Dan banyak pula yang menyalahkan Luhan karena sebab Luhan latihan mereka kacau. Mereka menatap Luhan dengan tajam dan penuh kebencian. Mendengus jijik, bahkan tidak segan melemparkan hinaan.

Luhan hanya menunduk, tangannya terasa basah dan dingin. Luhan hanya terus berjalan menghampiri Sehun, Luhan hanya berharap Sehun mau memberikannya semangat dan menenangkannya seperti hari kemarin. Namun apa yang Luhan harap ternyata jauh dari kenyataannya. Sehun tampak enggan Luhan datangi dan bahkan menatap penuh kecewa kepadanya. Dan tanpa ragu pria itu berbalik pergi meninggalkan Luhan dan menjatuhkan botol minum serta handuk yang Luhan berikan tadi.

Luhan hanya terdiam dan kembali menunduk, orang-orang di sana memberikan senyum mengejek pada Luhan saat melihat Sehun berlalu begitu saja, Jelas saja seorang Oh Sehun disandingkan dengan gadis seperti Luhan, sangat tidak patut sekali.

Luhan meremas roknya, sebisa mungkin dia menahan air matanya agar tidak menangis. Mencoba untuk tetap tersenyum dan dengan tangan yang bergetar Luhan berjongkok mengambil handuk dan botol yang Sehun jatuhkan.

.

.

.

Memasuki rumahnya dengan lesu, Luhan terdiam melihat suasana yang nampak sedikit hidup di sana. Tidak biasanya pelayan sibuk mondar-mandir menyiapkan makan malam. Mereka semua cenderung menyiapkan sekiranya perlu saja, lagi pula hanya Luhan yang senantiasa makan di rumah sementara Jihyo tidak terlalu sering. Tidak seperti sekarang yang menyiapkan berbagai hidangan di meja makan seperti sebuah acara makan malam pada umumnya.

Luhan diam memperhatikan, dia ingin bertanya namun belum saja dia angkat suara ibunya datang dari atas dan berbicara kepadanya.

"Bersiaplah, Kakakmu datang berkunjung dan Umma harap kau tidak berbuat hal yang mengecewakan."

Luhan diam, dia melihat Jihyo berlalu tanpa berkata lebih wanita paruh baya dengan segera ikut bergabung bersama pelayan lainnya, membantu menyiapkan makanan.

Kakaknya datang berkunjung, entahlah ada rasa senang namun terselip rasa takut di dalamnya. Dia tidak tahu apa maksud kedatangan sang kakak, pasalnya setelah bertahun-tahun mereka berpisah baru kali ini kakaknya datang berkunjung. Bukan Luhan tidak ingin Kris datang, Luhan merasa senang. Namun ketakutan itu ada, Luhan takut Kris mengajaknya kembali ke China dan hidup bersama ayahnya.

Keluarga Luhan bukanlah keluarga yang utuh, kedua orang tuanya bercerai sekitar lima tahun yang lalu dan akhirnya setelah melewati proses sidang yang begitu panjang dibuatlah keputusan bahwa Luhan dan Kris tinggal bersama ayahnya. Namun Luhan menolak, dia tetap ingin tinggal di Korea dan hidup bersama ibunya, Luhan tidak peduli dia tidak ingin Jihyo hidup sendirian, Luhan tidak ingin Jihyo kesepian.

Awalnya keinginan Luhan ditolak mentah-mentah oleh ayahnya, namun Luhan mencoba membujuk dan setelah beberapa hari menjelang penerbangan menuju China, Ayahnya menyetujuinya dengan syarat Luhan tetap ada dalam pantauan dirinya. Luhan tidak mempermasalahkan hal itu, dia hanya sangat senang tidak berpisah dengan ibunya, Luhan sangat menyayangi ibunya.

Setelah terdiam cukup lama, Luhan lalu menaiki anak tangga menuju kamarnya, bersiap-siap membersihkan dirinya. Kali ini Luhan duduk di depan meja rias, mengenakan dress manis berwarna peach.

Luhan menyisir rambutnya dengan rapih, dia lalu mencari hair clip dan memasangkannya. Tersenyum kecil dan Luhan mulai menuruni tangga.

Ibunya tengah duduk dengan tegap dan anggun. Di depannya bisa Luhan lihat Kris sedang duduk dan berbincang santai dengan ibunya. Kakaknya yang berumur dua puluh tahun itu terlihat berbeda dan tumbuh menjadi sesosok pemuda yang tampan. Terakhir mereka bertemu adalah saat Kris berumur lima belas tahun dan mereka hanyalah dua bocah yang belum mengerti apa-apa. Kris hanya menyuruhnya untuk menjaga diri sampai pada nanti dia akan menjemput Luhan.

"Oppa." Panggil Luhan pelan, Kris menoleh dan dia tersenyum melihat adik yang selama ini ia rindukan berjalan menghampiri dirinya. Kris bangkit berdiri, berjalan menghampiri Luhan dan memeluknya. Astaga akhirnya setelah sekian lama dia bisa juga kembali memeluk adik kesayangannya.

Kris mengusap rambut Luhan dengan penuh sayang dan menatap Luhan lekat-lekat.

"Adik Oppa." Ucap Kris penuh sayang. "Bagaimana keadaanmu heum? Kau baik-baik saja kan?"

Luhan mengangguk, dia lalu tersenyum manis ke arah Kris.

"Aku baik Oppa, ibu sangat baik merawatku. Lihat, aku tumbuh menjadi gadis yang cantikkan?"

Luhan menatap Kris penuh harap, namun Kris hanya diam dia menatap Luhan dengan tatapan teduhnya. Jujur hati Kris sakit melihat Luhan, tubuh itu terlalu kurus untuk anak seusianya. Kulitnya tampak pucat dan kusam, tatapan itu, walau senyuman senantiasa terlukis di sana namun tatapan itu tidak mampu menyembunyikan yang sebenarnya.

Kris kembali memeluk Luhan dalam, jujur dia bimbang sekiranya apa yang harus dia putuskan sekarang ini.

"Kajja, kita makan bersama. Oppa tahu kau pasti rindu makan disuapi Oppa kan?"

Luhan hanya menunduk, dan dia mengangguk malu-malu.

Kris tertawa gemas, dia lalu mengusap kepala Luhan dan menuntunnya menuju meja makan serta menyiapkan makanan untuk Luhan.

"Oppa sudah biar aku saja."

Luhan menyuarakan protesannya, dia lalu menunduk malu melihat Jihyo di sebelah sana.

"Tidak Luhan, kau harus makan yang banyak. Biar Oppa pilihkan, Oppa tidak yakin Hannie memilih makanan yang tepat."

"Tapi Oppa—"

"Luhan!" Rengekan Luhan kembali terhenti saat suara bernada datar dari Jihyo kembali mengalun. "Apa kau lupa tentang bagaimana manners dalam meja makan? Jangan banyak protes dan biarkan Yifan yang mengambilkannya."

"Baik Umma, maafkan aku." Luhan menunduk penuh sesal dan Jihyo kembali melanjutkan aktivitasnya tidak peduli.

Mereka kembali makan dalam keadaan hening, Luhan sebenarnya sudah menyelesaikan makannya sedari tadi, tapi Kris memaksa Luhan untuk menambah dan menjejakkan Luhan beberapa daging dan sayur.

"Setelah ini minum susu dan kembali beristirahatlah, ingat Hannie harus jaga kesehatan."

Luhan mengangguk dan kembali melemparkan senyumannya.

"Nde Oppa."

Setelahnya Luhan berbincang sebentar di sana dan kembali naik ke atas untuk beristirahat. Selepas kepergian Luhan, suasana di sana semakin bertambah dingin dan kaku. Jihyo kini menatap Kris penuh selidik.

"Jadi Yifan, apa sebenarnya tujuan berkunjungmu kali ini."

Kris hanya diam saja, dan membiarkan ibunya kembali bicara.

"Dengarkan aku Yifan, selama lima tahun ini Luhan aman bersamaku. Dia sehat dan tumbuh dengan baik. Kau tahu sendiri bagaimana kerasnya ayahmu. Aku tidak mungkin membiarkan Luhan hidup dalam bentuk didikan seperti itu. Kau tahu sendiri bagaimana keadaan fisik adikmu."

Kris memejamkan matanya. Memang ayahnya adalah sosok ambisius, didikannya keras dan Kris tidak yakin membiarkan Luhan untuk hidup bersama ayah dan dirinya.

Tapi,

Dia juga tidak mungkin membiarkan Luhan hidup bersama ibunya.

"Aku tahu Umma." Jawab Kris tenang, dia lalu memejamkan matanya sejenak dan menghirup udara. "Tapi setidaknya ada aku bersamanya, aku mampu melindungi Luhan."

"Tidak! Tetap tidak!" Balas Jihyo cepat. "Selama ini Luhan baik bersamaku, maka selamanya akan seperti itu. Tidak ada masalah sama sekali, kau bisa melihatnya sendiri."

Kris menghela nafas, memang seperti itu, tapi rasa was-was itu tetap ada. Maka saat ayahnya menyuruh Kris untuk kembali membawa Luhan ke China, maka dengan segera Kris melakukan penerbangan menuju Korea.

Satu ketakutan masih terselip dalam hati Kris, ibunya tidak baik-baik saja. Ibunya memiliki sakit mental, dan Luhan adalah objeknya.

Masih segar dalam ingatannya saat Luhan berusia empat tahun, gadis kecil itu meminta Jihyo mendandaninya untuk pesta Halloween namun yang terjadi di luar perkiraan. Luhan datang ke dalam pesta mengenakan gaun yang sangat cantik, wajah yang terpoles make up tipis dan rambut yang terkunci manis. Namun Luhan hadir dengan tangan bengkok karena patah, wajah putih pias dan beberapa gores luka dalam tubuh kecilnya. Semua orang dalam pesta menjerit dan dengan segera melarikan Luhan ke rumah sakit.

Atau Kris mengingat saat Jihyo dengan sengaja mendorong Luhan hingga jatuh di tangga, hampir saja Luhan kehilangan nyawanya jika saja ayahnya tidak terlambat datang.

Jihyo adalah ancaman bagi Luhan, menaruh Jihyo bersama Luhan sama saja membiarkan Luhan mati perlahan. Memang pada dasarnya Jihyo sangat menyayangi Luhan, dia bahkan rela mengorbankan apapun untuk Luhan bahkan jika nyawa sekalipun. Namun tidak dengan sisi gelap itu, sisi gelap Jihyo adalah ancaman untuk Luhan, sebuah obsesi untuk memiliki Luhan dan menjadikan Luhan sebuah objek kepuasan hasratnya.

Sisi gelap Jihyo begitu menyukai Luhan yang terbaring tidak berdaya, menyukai Luhan yang tergeletak bersimbah darah. Setiap ekspresi kesakitan yang Luhan tunjukan memberikan jiwanya sebuah rasa sayang yang semakin dalam. Saat melihat Luhan tidak berdaya adalah suatu kepuasan tersendiri bagi sisi gelap Jihyo.

Namun hal itu sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu, setelah menjalani terapi dan pengobatan Jihyo akhirnya mampu menahan sisi gelapnya. Tetapi tetap saja membiarkan Luhan tinggal hanya berdua dengan Jihyo adalah suatu langkah yang tidak tepat. Maka saat Luhan meminta untuk tetap tinggal bersama ibunya adalah suatu hal yang sangat riskan.

Namun berkat permintaan Luhan, dan permohonan Jihyo bahwa dia mampu mengontrol diri, dan Luhan aman bersama dirinya maka Luhan pun ikut bersama Jihyo.

Akan tetapi tidak menjamin kemungkinan Luhan akan aman, nyawanya terancam, selama lima tahun ini dia hidup dengan orang yang paling menyayanginya juga orang yang paling berhasrat menghabisi nyawanya.

"Dengar Yifan, kau bisa melihat kan, aku dan Luhan baik-baik saja. Dan kami mampu untuk hidup bersama. Aku mampu mengontrol diriku, dan aku tidak akan mungkin membiarkan Luhan terluka."

"Tapi Umma—"

"Tidak ada tapi-tapian! Aku mampu mengurus Luhan dengan kedua tanganku! Dan sampai kapanpun ayahmu tidak akan bisa mengambil Luhan dariku!"

Setelahnya Jihyo bangkit berdiri dan pergi berlalu, meninggalkan Kris yang hanya duduk terdiam dan menghela nafas kaku.

.

.

.

Luhan memasuki sekolah dengan satu buah senyuman manis yang tertera di wajahnya. Di tangannya terdapat satu buah kantung bekal yang sudah dia siapkan untuk pacarnya.

Luhan berencana meminta maaf pada Sehun, bukan maksud hati ingin membuat dia kecewa tetapi Luhan memang tidak tahu harus bagaimana. Kali ini Luhan berjanji dia akan menjadi lebih berani lagi dan tidak akan membuat Sehun malu.

Waktu istirahat telah tiba, Luhan tahu tempat biasa Sehun menghabiskan sisa waktunya di sana. Maka dengan langkah ringan dan wajah berseri-seri Luhan bergegas ke sana. Sesampainya di sana, bisa Luhan lihat Sehun yang tengah berbincang ringan bersama beberapa sahabatnya.

Luhan sedikit ragu, mencoba menarik nafas dan memanggil Sehun.

"Sehun Sunbae." Luhan memanggil, akan tetapi hampir keseluruhan orang di sana berbalik dan menatapnya. Bisik-bisik terdengar bergemuruh, mereka menatap Luhan dengan pandangan jijik, beberapa diantaranya malah menyampaikan rasa ketidaksukaan dengan menatap penuh intimidasi.

Luhan hanya menunduk, tangannya saling meremas gugup akan tetapi Luhan mencoba untuk tetap tersenyum tenang.

Sehun datang menghampirinya, berdiri tepat di depan Luhan. Jantung Luhan berdegup cepat, pipinya merona merah namun Luhan mencoba mengontrol dirinya.

"Sunbae ini bekal untuk Sunbae, dan maafkan aku atas kejadian kemarin. Aku akan lebih berusaha lagi."

"Hn." Jawab Sehun acuh. Dia menatap Luhan malas, sebenarnya terbesit rasa tidak tega di sana. Namun Sehun kembali dibuat kesal, Luhan benar-benar lugu, dan hal itulah yang membuat dia menjadi sasaran empuk penindasan. Sehun ingin tidak peduli, sisi rasionalnya berkata untuk mencampakkan Luhan dan memilih pergi saja, namun hatinya berkehendak lain, dia hanya tidak ingin Luhan ditindas seperti itu. Sehun tidak terima Luhan diperlakukan seperti itu.

Luhan tersenyum manis kepada Sehun sembari menyerahkan kotak makan siangnya.

"Sunbae, aku dengar Sunbae masuk ke babak semifinal di kejuaraan, nanti jika final tiba aku berjanji akan hadir di banch utama dan aku akan berubah."

Luhan menatap Sehun dan kembali berucap. "Aku berjanji Sunbae! Demi diriku dan demi Sunbae!"

Sehun hanya menghela nafas pelan, dia tidak bisa untuk tidak tersenyum. Satu dinding es yang Sehun ciptakan kini luruh hanya dari senyum polos dan tingkah lucu gadis di hadapannya.

Sehun lantas tersenyum, tangannya terulur mengusak rambut Luhan gemas.

"Heum, aku tagih janjimu. Final musim dingin di banch utama."

Luhan mengangguk dan dia kembali merona malu. Oh astaga, Luhan benar-benar terlihat manis saat ini, namun Sehun tetap mengontrol diri. Menerima bekal dari Luhan dan menatap gadis itu tetap dalam tatapan datar. Namun saat Luhan akan berbalik pergi Sehun bersuara.

"Jagalah kesehatan, selamat liburan musim dingin dan aku menunggu janjimu."

Dan setelahnya Sehun kembali bergabung bersama para sahabatnya. Tidak peduli mereka berkata apa, tapi yang pasti sesuatu yang manis kini kembali menghinggapi dunia monoton Oh Sehun. Berawal dari sifat acuh tak acuh dengan menerima Luhan sebagai pacar yang bisa Sehun manfaatkan, berubah menjadi suatu bentuk hal kecil yang Sehun butuhkan.

Namun Sehun hanya belum menyadarinya, biarkan ego yang kini mendominasi dan biarkan waktu yang melerai belukar ego itu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Hey—

Hey tayo, hey tayo... *nyengirkuda/jangangebukiaku.

Oke halooo... Wkwkwk chap duanya udah selesai, ini masih flashback dan nyeritain gimana hubungan Sehun sama Luhan, gimana sikap Sehun ke Luhan, terus jelasin juga keadaan Luhan yang kaya apa kehidupan sekolahnya, keluarganya.

Wkwkwk sebenernya bukan Sehun yang brengsek tapi emang situasi dan kondisi yang gak memadai dan emang kebetulan Sehunnya bikin kezell... Jadi we...

Emm sesi flashback saya usahain chap depan udah selesai, dan udah berlanjut ke masa sekarang ini. Tapi kalo gak nyampe berarti chap depannya lagi baru beres... Tapi kayanya chap 3 udh beres deh, tinggal dikit lagi kok, klimaks sama antiklimaks...

Yasudahhh Terima kasih yang sudah mau baca, fav, follow dan review. Semoga cerita ini menghibur wkwkwk dan sampai jumpa di chapter depan...

See youu~~~~

Aku padamu muaaah muaah :*