...
Daging mungkin adalah sesuatu yang bisa melenyapkan kelaparan Luffy.
Namun hanya ada satu yang merupakan segalanya yang dapat melenyapkan rasa lapar yang tidak dapat dihilangkan dengan daging dan dapat menghabiskan seluruh nafsu Luffy.
Dan dia ada di bawahnya sekarang.
Dengan kulitnya yang putih layaknya susu.
Lembut layaknya sutra.
Manis layaknya madu.
Ini bukan pertama kalinya mereka melakukan hubungan intim,
Namun tetap saja Sanji tidak dapat menghilangkan rona merah yang menyebar di sekujur pipinya.
Sial, kaptennya itu akan membuatnya tidak bisa berjalan lagi hari ini
HARD
CAUTION: adult theme and action contained in this story, please read this if you are 17 years old and older, I'm not too much caring about age limit, but take the risk by yourself.
LUSAN Fanfiksi
Awas, Mature Theme Uncontrolled
Rough sex, a little kinky style, et cetera
PWP—Porn Without Plot
a/n:
Chibinasu: tengkyu dear atas reviewnya ya. Menurut aku sih tidak seintens itu, tapi tetap aja semaput ngebayanginnya. Makasih banget! Aku mencoba ngetik lebih rapi lagi sih, hehehehe
Prissycatice: uhuhuhu, kamu datang lagi ke fic-fic konyol aku, senang banget huhuhu... iya sih, siapa coba yang tahan ngeliat koki seksi kita itu, apalagi Zoro tuh, dikit-dikit pengen grepe-grepe melulu... saya juga pecinta Zosan, kamu juga, kita semua PECINTA ZOSAN! YEAH!
Pii: jawabannya adalah karena rasa nikmatnya itu lebih besar dari rasa sakit yang bersarang di pantatnya, dear wkwkwkwk. Kalo lapor sama dokter tercinta kita, bisa-bisa kenaifannya itu bisa ilang! Jangan plis! Chopper itu terlalu imut untuk mengerti hubungan ini! huahahahaha! Makasih pujiannya! Kita ternyata sama-sama bejaddd...
Fujoshi baru: #lempar tisu, setelah ZoSan, larikan langsung ke stadium LuSan dear, wkwkwk... saudara author pernah terkena wasir—bengkak di rektum dan anus—dan dia gak bisa duduk sama sekali, kacian... iya, Sanji ganteeeeeeeeeeeeng buanget!
The Creator of the IGIRLS: makasih atas repiunya, dear, ah... jadi tambah semangat nih...
Yuuna: DASA BEJAD LU #author ga tau diri# elu lebih bejadddd karena kamu milih VinSan kayak aku, Wekekekekeke... jadi pilih yang mana atuh? XD bukannya itu kebanyakan? Huyao, aku saranin kamu pilih yang sedikit tenang aja, harga lebih murah dan ga perlu transfusi darah lagi #emangnya sale?#
Collin Blown YJ emangnya siapa yang buakal tuahan sama ayang Sanji? Huehehehe... kalo author cowok, bakalan sediain lamaran untuk nikahin itu koki XD
...
"Lu... Luffy..."
Sanji menggeliat geli di atas pangkuan kaptennya tersebut, dimana kaptennya itu tengah asyik-asyiknya menjelajahi struktur tubuh bagian atas Sanji yang terlalu menggoda tersebut—terutama kedua nipples merah muda itu. Sanji sudah biasa memang, namun lain dengan hari ini...
Tega-teganya Nami-san memberikan obat aphrodiasic kepada Luffy!
Dan tega-teganya kaptennya yang oto bin longor itu langsung menyerangnya yang tadi sedang enak-enaknya menyantap kue krim madunya!
Ini memang bukan pertama kalinya mereka melakukan hubungan intim...
Tapi... Sanji tidak bisa membayangkan bagaimana kaptennya itu akan 'menghantamnya' di bawah pengaruh obat perangsang. Jika dalam keadaan biasa saja, Luffy yang memang kuatnya kelewatan batas itu mampu membuat Sanji kesulitan untuk duduk, bagaimana pula kalau dalam pengaruh obat perangsang?! Sanji tidak ingin meminta pada Chopper kompres es dan harus menghabiskan waktunya berebah di atas kasur! Namun, apalah dayanya yang saat ini tengah memberontak terhadap sentuhan-sentuhan kaptennya itu?
Dalam hubungan ranjang,
Luffy itu selalu singanya, dan Sanji adalah rubah yang tengah dikejar-kejar dan dipermainkan.
Bisa dibilang, persentase Sanji untuk mendominasi Luffy adalah 0,001%. Yah, bukannya tidak mungkin bagi Sanji untuk mendominasi kaptennya yang lebih pendek dan lebih kecil darinya itu, tapi kalian sendiri 'kan tahu seberapa besar kekeras-kepalaan kaptennya itu. Tambah-tambah lagi stamina dan kekuatannya yang berlebihan itu... Sanji terpaksa mendapat 0% untuk mendominasi Luffy.
Terlepas dari pemikirannya tersebut, kali ini Luffy tengah menyusuri perut Sanji. Dia kegelian bukan main. Karena kaptennya itu tengah menyusuri perutnya bukan dengan jemari-jemari kokohnya, namun dengan lidahnya yang basah dan hangat itu.
Spontan saja Sanji mengeluarkan lenguhan.
"Uuunh..."
Sayangnya itu malah membawanya untuk mendesah dan terlonjak.
"ANH!"
Karena saat mendengarnya melenguh tadi itu, Luffy jadi semakin 'terbakar'.
"Lu... Luff... AGH!"
Dari menjilati salah satu nipple-nya, Luffy mulai menggigit nipple itu dengan lumayan luat, berhasil membuat Sanji tersesat di awang-awang kenikmatan dan kesakitan.
Sanji meremas bahu kokoh kaptennya tersebut, mengakibatkan dia harus berhadapan dengan kaptennya yang langsung menoleh padanya, memberikan pandangan penuh rasa lapar yang harus Sanji penuhi.
Karena dia adalah kokinya.
Sanji adalah koki.
Dan Luffy tahu, kalau Sanji tidak suka membuang-buang makanan.
Karena itu ide nakalnya terbersit cepat di kepalanya.
Kue krim madu yang sempat terjatuh itu dipolesnya ke seluruh dada bidang Sanji, dan mengoleskan krimnya ke kedua nipples merah muda itu. Sanji semakin sulit mengambil udara untuk bernafas... lalu nafasnya tercekat, ketika Luffy mulai menjilati dadanya dan menggigitnya dengan ganas.
"Ungh! Luf—kau!"
"Sanji... ini enak sekali,"
Pujian macam apa itu! Teriak Sanji dalam batinnya. Namun terdiam begitu Luffy mulai melahap bibirnya. Setiap desahan dan lenguh keluar dari bibir mereka berdua, sesekali benang-benang saliva mereka mengalir dan menetes ke dada Sanji. Sanji tidak mampu melihat apa-apa, semuanya terlihat putih, lalu dia kembali ke bumi di saat Luffy membuka retsleting celana kasmirnya dan melepaskannya dari kaki jenjangnya. Dan dengan seenak jidatnya, dia memaksa Sanji duduk di pangkuannya.
Sanji merinding.
Menduduki kejantanan kaptennya itu selalu bisa membuatnya terintimidasi.
Apalagi ketika kaptennya itu sudah mulai menghantam dirinya.
"Sanji... Sanji! Kamu mau kemana?!" teriak Luffy sambil berusaha menarik kembali Sanji yang mulai memberontak dan kabur dari Luffy. Sepertinya Sanji lumayan lupa, kalau kaptennya tersebut memiliki kekuatan super elastis dan super kuat, karena itulah, Luffy bisa menangkapnya dan menariknya kembali.
Dan Sanji duduk lagi di atas pangkuannya.
Kali ini Sanji menatap ke kedua bola mata besar kaptennya tersebut, dia bisa merasakan tatapan penuh nafsu, namun dia juga bisa melihat rasa bingung yang tersirat di kedua bola mata hitam kelam sana.
"Aku sudah tidak tahan lagi, Sanji—"
Sanji tidak bisa melihat apa-apa, semuanya terasa begitu cepat, dia bahkan tidak sadar ketika Luffy sudah memasukkan kejantanannya itu ke dalam dirinya. Sanji terdiam, lama-kelamaan dia bisa merasakan rasa pedih dan sakit mulai menjalar dan menyerang dirinya. Air mata tergenang di kelopak matanya, siap unuk meluncur dan menetes bebas. Bibirnya siap untuk berteriak, namun keburu dibekap oleh tangan Luffy yang mana jemari telunjuk dan tengahnya dipaksa masuk ke dalam mulut Sanji—berhasil membuat Sanji menelan semua keinginan untuk berteriak sekencang-kencangnya.
Luffy menatap kokinya yang berada di atas pangkuannya, melihat dia gemetaran begitu... dengan mata yang berkaca-kaca, pipi kemerahan, saliva yang belepotan di wajahnya, dan tubuh indahnya itu yang telah berada sepenuhnya dalam kendalinya... benar-benar menggoda Luffy untuk melakukan hal yang lebih. Tambah lagi, dia tidak bisa berpikir dengan jernih—walaupun dia tidak pernah—karena minuman dari Nami, dia akhirnya langsung menghajar Sanji dengan habis-habisan.
Dia merasakan kedua bibirnya tengah digigit erat-erat oleh Sanji, dia ingin melihat ekspresi kokinya tersebut, namun rasa nikmat membutakan matanya.
"Guh—uhm—ahn!"
Sekalipun tersumpal, Luffy masih bisa mendengar suara desahan Sanji dari balik dua jemarinya tersebut. Ingin mendengar lagi dan lebih, Luffy mempercepat temponya dan melepaskan kedua jemarinya dari bibir Sanji. Tangannya yang satu beralih ke pinggang Sanji, membantunya untuk menaik-turunkan tubuh tersebut, dan tangannya yang satu lagi beralih ke kedua belahan pantat Sanji, dan mulai menamparnya—membuatnya memeroleh Sanji memekik kesakitan dan kaget.
Kali ini Luffy menurunkan Sanji dari pangkuannya—tanpa melepaskan dirinya dari Sanji—dan menunggingkan tubuh Sanji, dimana posisi itu membantunya untuk bisa menampar kedua belah pantat Sanji lebih mudah dan lebih leluasa.
Sanji memekik—lagi.
Ingin rasanya dia menendang kaptennya tersebut, namun dia seolah-olah dikendalikan oleh kaptennya yang tengah menyerang habis dirinya dan prostatnya yang membuat dirinya akan meledak dan keluar dengan jangka waktu yang sangat cepat. Dia pikir, tamparan Luffy terhadap pantatnya itu akan membantunya untuk lupa akan rasa nikmat yang diberikan Luffy, sehingga dia bisa merasakan kenikmatan seks itu lebih lama, ternyata dia salah.
Dia malah merasakan lubang kejantanannya sudah mulai mengeluarkan pre-come yang sangat deras, dan tubuhnya semakin lama semakin gemetaran merasakan setiap tusukan demi tusukan yang diberikan kaptennya tersebut terhadap dirinya.
"Aaaaahn~!"
Dan Sanji keluar, kejantanannya menyemburkan cairan putih kental yang keluar dengan sangat deras, dia merasa nikmat sekali. Dia menyenderkan kepalanya ke kasur, membiarkan post orgasm-nya menyelimuti dirinya dengan perlahan-lahan, namun tiba-tiba saja Luffy semakin kuat menghantam dirinya. Kemudian kaptennya tersebut meraih kejantanan Sanji yang setengah menegang, lalu memompa dan menggesek-gesek kepala kejantanannya tersebut.
Spontan, Sanji menjerit tertahan. Air matanya menyembul lagi.
Dia baru saja keluar, dan Luffy sudah mulai memermainkan kejantanannya lagi—yang mana kejantanannya itu masih sangat sensitif sekali terhadap sentuhan apapun. Rasa nikmatnya jadi dihiasi oleh kesensitifan menyakitkan yang entah mengapa membuat Sanji ingin keluar lagi dan lagi.
"Uuugh! Sanji... aku..."
Belum selesai mengucapkannya, Luffy sudah keluar bersamaan dengan keluarnya Sanji yang untuk kedua kalinya. Luffy meremas erat salah satu sisi pinggang Sanji, dan satu tangannya lagi meremas erat kejantanan Sanji yang sedang mengeluarkan cum-nya, hal itu mengakibatkan Sanji sedikit meringis ketika cum-nya terhambat keluar.
Di saat mereka berdua sudah selesai mengeluarkan cairan mereka, Luffy menyandarkan dadanya ke punggung Sanji, kepalanya menelusuk ke sesela rambut pirangnya yang lembab akan keringat. Luffy menghirup dalam-dalam aroma tubuh Sanji, yang entah mengapa membuatnya merasa...
"Nee... Sanji..." celetuknya.
"Ehm?" tanya Sanji.
"Aku tegang lagi..."
Ini gawat... spontan Sanji memucat.
...
"MAAFKAN AKU!"
Sanji mendecih kesal ketika kapten rakusnya itu tengah bersimpuh di hadapannya. Kepalanya dia tundukkan, kedua telapak tangannya berada di atas kedua lututnya, dan kakinya ditekuk dan dilebarkan.
"Sudahlah baka senchou, lagipula itu sudah biasa bagiku harus melayani dirimu yang tidak bisa menahan nafsunya hanya untuk sesaat..." ejek Sanji, namun jelas-jelas Luffy bisa menangkap nada dimana Sanji tidak ingin dia menyesali perbuatannya kemarin sore.
"Ta... tapi..."
Sebelum Luffy menyelesaikannya, Sanji memberikan isyarat padanya untuk datang padanya, dan Luffy menurutinya dengan senang hati. Dia antusias sekali hanya untuk berjalan ke arahnya. Sanji bahkan bisa membayangkan kaptennya itu dengan telinga anjing hitam dan ekor hitam lebat yang sedang berkibas-kibas seolah-olah sedang menerima makanan.
"Aku akan memaafkanmu..." Luffy langsung berniat untuk memeluk Sanji, namun telunjuk Sanji berhasil menahan Luffy untuk memeluknya.
"Kau harus meminta pada Chopper sekantung kompres es dan handuk gel dingin..."
"ROGER!"
Sanji tersenyum-senyum ketika menonton Luffy yang secepat kilat menyerbu ruangan kesehatan kekuasaan Chopper dan dia bahkan bisa mendengar teriakan konyol kaptennya dan jeritan protes dari Chopper.
Sanji menggeleng-gelengkan kepalanya.
...
"Ini Sanji!"
Luffy memberikan kantung plastik berisi blok-blok es dan kantung gel dingin kepada Sanji yang mana orangnya langsung memberikan kecupan lembut di bibir kaptennya tersebut.
"Terimakasih, baka senchou~" ucapnya sambil memberikan nada menggoda di kata-kata ejekan terkahirnya tersebut. Kemudian Sanji terperanjat mendapati Luffy langsung memeluknya dan membawanya jatuh ke atas kasur empuknya. Samar-samar, dia mendengarkan kaptennya itu berbicara lembut di telinganya, berhasil membuatnya bergidik lembut dan tergetar.
"Aku ingin melakukannya sekarang, Sanji..."
"BAKA!"
...
A/N: OKE! ITU AJA! Sebenarnya aku agak susah membuat fic M LuSan karena kapten kita itu terlalu naif atau poltak—polos tak berotak. Karena itulah para readers, saya akan membayar kekurangan chapter fic yang agak terlalu pendek dan kurang panas dan memuaskan ini di chapter selanjutnya.
Jadi, tolongg pilih dari ketiga thema yang ada di bawah ini:
1. LawSan
2. VinSan
3. Keroyokan lanjut ke ZoSan
Silakan dipilih! Kalo ada yang milih LawSan, puji Tuhan... kalau ada yang milih VinSan, segera sediakan literan darah segar... kalau ada yang milih keroyokan ke ZoSan, segera sediakan ruangan kosong ya XD
