Nichkhun menelan ludahnya. Hidung mancungnya sudah bersentuhan dengan ujung hidung Wooyoung yang tertidur di bawahnya. Nichkhun sedikit memiringkan kepalanya, sedikit lagi, matanya nyaris terpejam. Tinggal sepersekian inci lagi bibirnya akan mencapai milik Wooyoung.

Tapi mendadak cahaya terang muncul. Seseorang menyalakan saklar lampu utama. Menerangi ruang santai tersebut. Dan sebuah suara yang terdengar mematikan menyadarkan Nichkhun dari hasratnya untuk mencuri ciuman Wooyoung dalam tidurnya.

"APA YANG KAU LAKUKAN?" seru Junho keras dengan mata menyalang marah.

Nichkhun tersentak. Seruan dari sang Emperor tersebut seolah memukul keras kesadarannya sehingga ia cepat menarik diri, berdiri menjauh sebelum Wooyoung benar-benar membuka matanya.

Chansung lagi-lagi terbangun. Tapi kini matanya juga ikut terbuka lebar beserta mulutnya. Maknae itu terduduk, kepalanya lalu mendongak, matanya yang masih setengah mengantuk itu seolah bisa melihat kilatan listrik dalam tatapan tajam Junho pada Nichkhun yang berdiri di hadapannya. Ia pun menoleh pada Nichkhun, yang tampak sedikit panik melihat gerakan Wooyoung yang bergulir ke samping, meringkuk memeluk gulingnya.

Suara langkah kaki terburu-buru datang dari kamar TaecSu. Junsu tiba dengan wajah panik. "Ada apa?" tanyanya sambil celingak celinguk, memastikan tidak ada perampok atau semacamnya dalam apartement mereka. "Yach! Ada apa? Kenapa kau berteriak?" ia mengulang kembali pertanyaan pada Junho yang masih menatap garang Nichkhun.

"Dia hyung!" Junho menunjuk Nichkhun. Dua pasang mata lalu beralih pada Nichkhun. sementara pangeran Thailand itu mendelik tajam pada Junho.

"Aku memergokinya ingin bertindak asusila pada Wo-hmp!"

Nichkhun melompat dan segera membekap mulut Junho dengan tangannya. Ia lalu berusaha menampakkan senyuman wajarnya di antara raut muka paniknya. "Tidak. Tidak ada apa-apa. Ini hanya salah paham."

Junho hendak memberontak, tapi begitu tatapan tajam andalan pangeran Thailand itu menghujaminya, nyali sang Emperor langsung menciut seketika itu juga. Bagaimana pun Nichkhun tetaplah hyung-nya, yang akan tampak sangat menyeramkan bila marah.


My Namja is Beautiful

By Jang Aya

Romance/Drama/Humor

Disclamer: Semua anggota 2pm milik Tuhan. Dan cerita ini asli milik Ayaaaaa! Yah, buatan Aya sendiri!

Inspirasi: 2pm Drama mini Parody He Is Beautiful!

Main Pairing: Khunwoo / Khunyoung, ChanHo / ChanNuneo, TaecSu / OkKim.

Warning: BoyxBoy. Shounen-ai. Miss Typos bertebaran di mana-mana. =.='

Don't like? So i hope you dont read this. Oke?


.

Chapter 2:

~' Pertarungan dimulai '~

~2pm~

.


Suasana sarapan pagi ini terasa begitu canggung bagi Wooyoung. Ia sepenuhnya tak tahu apa yang sudah terjadi, sehingga dibuat bingung dengan sikap Junho maupun Nichkhun yang tak jarang tertangkap saling melemparkan tatapan membunuh satu sama lain.

Meski kadang Chansung dan Junsu membuat sedikit candaan di sela-sela sarapan mereka. Aura membunuh dari pangeran Thailand dan sang Emperor seolah tak bisa diabaikan di sekitar mereka. Wooyoung sama sekali tak bisa membantu, ia masih merasa canggung jika berhadapan dengan Junho maupun Nichkhun. Sementara Taecyeon, oh jangan tanya. Seperti biasa, ia sarapan dengan mata yang tampak sayu dan wajah yang tampak begitu lelah, seolah ia tidak tidur semalaman. Dan namja tinggi itu tak mau ambil pusing dengan apa yang terjadi di sekitarnya.

Sarapan mereka selesai. Kecuali Chansung yang masih asik mengambil beberapa bagian makanan lagi dalam piringnya.

"Emm," Wooyoung memulai setelah keheningan lama di antara mereka. "Kita tidak ada jadwal sampai jam 3 sore nanti kan?" tanyanya. Mata onyx Wooyoung tertuju pada Junsu sepenuhnya, mengabaikan empat pasang mata yang memandangnya.

Junsu mengangguk. "Yup. Kita bebas sampai sore nanti."

Suara derit kursi terdengar bersamaan dengan berdirinya Junho dari tempatnya. "Aku akan pergi ruang latihan dance di gedung sebelah."

"Maw kuwtewwani (mau kutemani)?" tawar Chansung dengan pisang di mulutnya.

Junho terkekeh kecil menampilkan smiling-eyes melihat tingkah si maknae. "Tidak perlu. Aku bisa sendiri." Tapi senyuman khasnya itu langsung menghilang begitu tatapannya bertemu dengan Nichkhun. Lagi-lagi Chansung bersumpah dalam hati ketika ia bisa melihat kilatan aliran listrik yang mematikan di antara tatapan membunuh kedua hyungnya.

Langkah kaki Junho menuju pintu utama semakin kecil terdengar, dan sebuah bantingan pintu yang keras menutup kepergian sang emperor dari dorm 2pm.

Taecyeon tersentak. Matanya yang nyaris tertutup karena kantuk tadi langsung terbuka lebar dan melihat beberapa piring di meja mereka yang sudah kosong.

Nichkhun berdiri. "Aku ke kamar," tak ada senyuman ramah seperti biasanya, yang ada hanya raut wajah mengeras, karena sang pangeran Thailand memang tak mudah menyembunyikan bad mood yang melandanya.

Lagi-lagi bunyi bantingan pintu dari kamar Nichkhun menyentakkan Taecyeon. Punggungnya yang tadi membungkuk lemas, langsung berdiri tegak. Taecyeon mendesah, sambil menguap kecil ia berjalan linglung meninggalkan meja makan mereka yang juga merangkap sebagai dapur. Tanpa mengatakan apapun, tiga member lain tahu pasti bahwa tujuan Taecyeon adalah ke sofa atau pun ranjang empuk.

Junsu berdiri, mengambil beberapa piring dari atas meja. Wooyoung dan Chansung ikut membantu membersihkan meja makan.

"Kalian lihat?" Junsu memulai sambil meletakkan piring-piring kotor ke wastafel dapur.

Kedua dongsaengnya menatap Junsu dengan innocentnya.

Junsu mendesah sambil menggelengkan kepalanya prihatin. "Perang dingin benar-benar dimulai," ujarnya dengan nada prihatin. "Aissh... sangat disayangkan."

"Aku tidak mengerti," Wooyoung mendekat. Tangannya ikut ambil dalam mencuci piring bersama Junsu. "Apa masalahnya?" tanyanya bingung. "Seingatku, semalam mereka masih terlihat baik-baik saja saat makan malam."

"Itu dimulai sejak lewat tengah malam tadi," Chansung menyahut, mengambil tempat duduk kembali di samping meja makan, dan menatap punggung kedua hyungnya yang sedang cuci piring, berdiri membelakangi meja makan.

"Tengah malam?" Wooyoung membeo, semakin bingung.

"Aku sendiri tidak yakin dengan kejadian tadi malam," ujar Junsu sambil menyalakan keran air, membasuh piring dari busa sabun. "Aku benar-benar tidak percaya dengan ucapan Khunnie yang mengatakan tidak ada apa-apa sementara ia membekap mulut Junho seolah ingin mengatakan sesuatu. Ini benar-benar membuatku frustasi karena selanjutnya mereka sama sekali tidak mau cerita dan hanya saling melempar tatapan membunuh satu sama lain."

Junsu berbalik dan memberikan tatapan menuntut pada Chansung. "Kau yakin tidak melihat apa yang sudah terjadi malam itu?"

Chansung mendesah, "Sudah aku bilang berapa kali hyung. Aku tidur malam itu, dan aku hanya bangun ketika Junho berteriak keras saat itu."

"Berteriak?" Wooyoung lagi-lagi membeo tak mengerti.

Junsu dan Chansung sama-sama mendesah lagi melihat Wooyoung.

"Aigoo Woodong-ah," Junsu menatap Wooyoung. "Bagaimana bisa semalam kau tidur begitu tenang seperti orang mati?"

Wooyoung mempoutkan bibirnya mendengar cibiran hyung-nya. "Sebenarnya aku cukup sadar mendengar sedikit keributan. Tapi aku terlalu malas untuk membuka mata." Wooyoung menghela nafas sambil menunduk. "Aroma dan kehangatan selimut itu membuat aku nyaman untuk melanjutkan tidurku," bisiknya pelan.

"Kau bilang apa?" Junsu yang berdiri paling dekat dengan Wooyoung bisa mendengar bisikan Wooyoung, tapi tidak begitu jelas karena suara keran air pencuci piring.

"Aniya, tidak begitu penting." Wooyoung menggeleng cepat. Namun Junsu bersumpah sempat melihat semburat kecil pink di pipi chubby Wooyoung walau sekilas.

Wooyoung segera membasuh tangannya. "Aku akan membereskan kasurku yang berada di ruang tengah."

"Kau belum membereskannya?" kening Junsu mengerut heran.

"Bukannya tadi hyung yang menyeretku ke dapur duluan untuk mempersiapkan sarapan sebelum aku sempat membereskannya?"

Junsu tampak berpikir sebelum ia mengeluarkan tawa serak khasnya yang tampak canggung. "Hahaha…. Kau benar."

"Tch," Wooyoung mendesis. "Tak kusangka hyung seperti kakek tua yang cepat lupa."

"Apa kau bilang?" suara Junsu naik satu okta dengan tambahan aksen Daegu-nya jika sedang marah. "Yach! Mr. Jang! Kau sudah berani menghina hyungmu, hah?" Junsu hanya bisa berkacak pinggang melihat Wooyoung yang sudah melarikan diri dari dapur dengan kekehan kecilnya.

Mata panda Junsu beralih pada Chansung yang berusaha menahan tawanya. "Berhenti tertawa Chansung!"

"Ndeh, ndeh. Halrabeoji."

"Yach!"


.

~2pm~

.


Untuk kesekian kalinya di pagi hari ini, Wooyoung mendesah. Dia sudah berdiri di depan kamar Nichkhun, sambil memeluk lipatan selimut Nichkhun. Yah, dia sudah tahu itu milik Nichkhun sejak ia bangun tadi pagi, menemukan selimut asing yang menutupi tubuhnya dengan inisial 'N.B.H' di ujung selimutnya. Belum lagi aroma lotus khas yang Wooyoung kenal betul hanya milik Nichkhun di antara member 2pm lainnya.

Tetapi yang jadi pertanyaan besar adalah, kenapa selimut itu bisa sampai pada Wooyoung? Sebenarnya Wooyoung ingin menanyakan hal itu sejak tadi, tapi seperti yang kita lihat (baca), sarapan pagi tadi tidak berjalan dengan begitu baik sehingga Wooyoung harus sedikit menahan rasa penasarannya.

Dan kini, ia sudah berdiri di depan pintu kamar Nichkhun-Chansung. Sebenarnya Wooyoung bisa saja minta bantuan Chansung atau pun menitipkannya pada Chansung untuk mengembalikan selimut tersebut yang notaben adalah roommate Nichkhun. Tapi Wooyoung tidak mau, dia ingin mendengar langsung alasan dari Nichkhun mengapa selimut itu bisa sampai pada dirinya? Berbagai praduga dalam pikiran Wooyoung membuat jantungnya mendadak berdetak begitu cepat. Oh ayolah Wooyoungie, ini hanya sebuah selimut. Mengapa kau begitu gugup?

Pintu kamar pun diketuk pelan oleh Wooyoung. "Hyung?"

Tak ada jawaban.

Sekali lagi Wooyoung mengetuknya lebih keras. "Khun hyung?"

Belum ada jawaban.

"Khun hyung? Ini aku–"

Pintu terbuka sebelum Wooyoung mengetuknya lagi. Namja chubby itu sempat tersentak dengan kemunculan Nichkhun di hadapannya saat ia nyaris mengetuk hidung namja baby face tersebut.

Nichkhun mengerjap. "Oh, kau." suaranya terdengar tenang. Berbanding terbalik dengan perasaannya yang mendadak membuncah mendapati Wooyoung berdiri di depan kamarnya. Memeluk selimutnya di depan dada dan menyembunyikan sebagian wajah malunya di balik lipatan selimut yang sekilas pipi chubbynya tampak memerah. Oh, so cute...

"Ehm." Nichkhun berdehem.

Wooyoung gelagapan. "Ah, itu, ano," oh ayolah Jang Wooyoung. Kau hanya perlu mengembalikan selimutnya. Kenapa kau menjadi gugup?

"Masuklah," Nichkhun bergeser sedikit ke samping. Memberi ruang agar Wooyoung bisa masuk ke dalam kamarnya. Sejujurnya Nichkhun sendiri tidak mengerti apa yang baru saja dia lakukan. Ia bergerak sesuai instingnya tanpa berpikir dahulu. Menawarkan Wooyoung memasuki kamarnya? Untuk apa? Oh Nichkhun, mengapa pikiranmu begitu blank?

"Tapi, aku hanya ingin mengembalikan–"

"Kau tidak ingin menanyakan sesuatu padaku?" potong Nichkhun cepat. Lagi-lagi ia berbicara tanpa berpikir panjang lebih dulu. Yah, memang sudah sepantasnya Wooyoung akan bertanya tentang 'kepindahan' selimutnya pada Wooyoung saat ia tidur. Tapi, apa Nichkhun yakin bisa menjawab pertanyaan itu dengan jujur?

Wooyoung tampak berpikir. "Oh, oke," ada sedikit keraguan dalam nada suaranya. Apa lagi yang kau pikirkan sekarang Wooyoung? Kenapa harus ragu hanya karena kau memasuki kamar Nichkhun dan Chansung. Benar, ini bukan hanya kamarnya Nichkhun, tapi kamarnya Chansung juga. Bedanya, Chansung sekarang berada di luar asrama, entah kemana. Dan sekarang yang berada di kamar hanya ada Nichkhun dan Wooyoung. Hanya berdua.

Jadi... hanya berdua dalam satu ruangan... 'kan?

"Michyeossoe!" bisik Wooyoung sambil menampar pipinya sendiri untuk menghilangkan rona merah di wajahnya yang muncul tanpa alasan.

"Gwencana?" tanya Nichkhun heran.

"Ah.. ndeh, ndeh, gwencana." Wooyoung mengibaskan tangannya ke depan. 'Oh, bagus. Kau sudah melakukan hal yang memalukan Uyongie. Dasar pabboya!' rutuknya dalam hati.

Nichkhun mengusap hidungnya, menyembunyikan senyuman gelinya melihat tingkah Wooyoung yang tampak salting sendiri.

"Ini." Wooyoung menyerahkan selimut itu di hadapan Nichkhun tanpa banyak bicara lagi. Tak ingin ia kembali bertingkah bodoh di luar pikirannya.

Nichkhun mengambilnya. Sebelah alisnya terangkat karena Wooyoung tak mengatakan apa-apa lagi setelah itu. Bahkan mata onyx Wooyoung tak berani menatap wajah Nichkhun. Hey, apa lantai itu begitu indah dipandang dari pada wajah tampan Nichkhun?

"Hanya itu?" tanya Nichkhun.

Mata Wooyoung bergulir ke atas. Melihat Nichkhun sekilas lalu kembali menatap lantai. "Gomawo," ujarnya pelan sambil sedikit merunduk.

"Lalu?" Nichkhun belum puas.

Wooyoung menghela nafas. "Jadi..." ia memberanikan diri menatap mata coklat Nichkhun. "Kenapa selimutmu bisa ada padaku?"

Nichkhun tersenyum. Senang akhirnya Wooyoung mau menatapnya langsung dan berbicara lebih banyak. "Karena aku meminjamkannya padamu."

Wooyoung mendesah. Bukan jawaban itu yang dia inginkan. "Lalu kenapa kau meminjamkannya padaku?"

"Emm... karena..." mata Nichkhun bergulir ke atas, tampak berpikir. "Karena aku lihat kau membutuhkannya."

Wooyoung memutar bola matanya sambil mendesah. Ia mulai kesal sekarang. "Hyung! Kau tahu bukan jawaban itu yang ku inginkan. Berhenti membuat aku penasaran," rengek Wooyoung sambil menghentakkan kakinya kesal.

Nichkhun terkekeh. "Arraso. Aku hanya bercanda." ia berujar sambil mengacak rambut Wooyoung. Nichkhun lalu berbalik, berjalan ke arah ranjangnya untuk meletakkan selimut. "Aku hanya ingin mencairkan suasana. Itu karena kau terlihat tegang. Wae?" Nichkhun berbalik, melipat kedua tangannya di depan dada. "Kenapa masih merasa changgung jika berhadapan denganku? Sementara dengan Junsu tadi, kau sudah terlihat lebih akrab?"

Wooyoung terkesiap. Apa arti dari pertanyaannya itu? Apa selama ini Nichkhun diam-diam memperhatikannya? Kenapa ada nada cemburu dalam pertanyaannya barusan? Oh sadarlah Wooyoung, jangan berpikir yang macam-macam.

"Itu karena..." ada jeda yang diambil Wooyoung. "Karena kau terlihat begitu menyeramkan saat sarapan tadi."

"Hanya karena itu?" alis Nichkhun berkerut tak yakin.

"Yah. Karena itu. Sebenarnya aku mau menanyakan tentang selimut itu padamu tadi. Tapi kau terlihat dalam bad mood saat sarapan tadi. Aku takut jika aku berbicara padamu saat itu, kau hanya akan menatapku tajam seperti saat kau menatap Junho. Itu terlihat..." Wooyoung sedikit ragu untuk melanjutkannya. "...agak menyeramkan."

"Benarkah?" tanya Nichkhun sambil mengerjap. "Aku tidak menyadarinya," gumamnya dengan ekspresi innocent, entah ia sengaja atau tidak.

"Kau belum menjawab pertanyaanku yang tadi," tuntut Wooyoung.

"Yang mana?" lagi-lagi Nichkhun bertanya dengan wajah sok polos.

"Hyung! Berhentilah pura-pura tidak tahu," Wooyoung merengek kesal dengan tingkah hyungnya.

Nichkhun kembali terkekeh. Sebenarnya, ia berusaha keras berpikir mencari jawaban yang tepat, yang mungkin Wooyoung bisa menerimanya dengan baik dan tidak mengajukan pertanyaan lain yang tak bisa ia jawab.

"Begini," Nichkhun memulai. "Tengah malam tadi, aku terbangun karena aku ingin pergi ke kamar mandi. Tapi sebelum aku sampai ke kamar mandi, aku melihat–" Nichkhun berhenti. Tidak yakin apa ia harus menceritakan bagian Junho atau tidak.

"Lihat apa?" tuntut Wooyoung.

Nichkhun menatap Wooyoung yang tampak penasaran. "Aku melihat... kau," Nichkhun menunjuk Wooyoung, memutuskan untuk menghilangkan nama Junho dari penjelasannya. "Tidur di depan ruang tv bersama Chansung. Tapi saat itu kau terlihat kedinginan. Karena selimutmu ditarik oleh Chansung. Jadi aku memutuskan untuk meminjamkan selimutku yang lain. Aku tidak ingin menganggu Chansung. Kau tahu kan? Badannya bahkan lebih besar dariku, dan itu terlalu merepotkan jika aku harus membangunkannya hanya untuk menarik selimutmu itu darinya."

Bayangan ketika Nichkhun menyelimuti Wooyoung saat tidur berkeliaran dalam imajinasi Wooyoung. "Oh, b-begitu," Wooyoung tidak tahu mengapa suaranya terdengar gugup. "G-gomawo." Sekali lagi ia merunduk di hadapan Nichkhun.

"Cheonma," balas Nichkhun sambil tersenyum.

"Tapi hyung," Wooyoung melanjutkan. Ia masih memiliki rasa penasaran dengan cerita Nichkhun. "Tadi kau bilang, itu terjadi saat tengah malam 'kan?"

Nichkhun mengangguk. "Ndeh." entah kenapa ia merasa pertanyaan yang dari tadi ingin ia hindari akan dikeluarkan oleh Wooyoung.

"Tadi aku juga dengar dari Junsu hyung dan Chansung. Kalau tengah malam tadi terjadi keributan di ruang tengah antara kau dengan Junho. Apa yang terjadi? Kapan tepatnya itu terjadi? Apa itu setelah kau meminjamkan selimutmu, atau sebelumnya?"

Tepat sasaran. Wooyoung benar-benar menanyakan hal itu. Punggung Nichkhun tegang seketika. Dan ia benar-benar ragu untuk menceritakan seluruh kejadian semalam pada Wooyoung. "Kenapa kau ingin mengetahui hal itu?" Nichkhun malah balik bertanya.

"Ah, itu karena..." Wooyoung menggaruk tengkuknya. "Aku hanya penasaran saja. Apa pertengkaranmu dengan Junho ada hubungannya denganku?" tanya Wooyoung hati-hati. "T-tapi kalau hyung tidak mau cerita juga tidak apa-apa." Wooyoung buru-buru meralat. Takut kalau Nichkhun malah marah padanya karena tak ingin Wooyoung ikut campur masalahnya.

"Tidak apa-apa. Lagipula, ini sebenarnya bukan masalah yang besar. Ini hanya sebuah..." Nichkhun tampak berpikir. "... kesalapahaman kecil."

"Kesalah pahaman?"

Nichkhun mengangguk. "Sebenarnya, waktu aku menutupi tubuhmu dengan selimutku. Junho tiba-tiba datang. Dan dia... dia... sepertinya salah paham melihat aku... dengan... dirimu... yah... begitu... Kemudian, Junho langsung marah." Nichkhun bercerita dengan tidak jelasnya, karena ia sendiri bingung menyampaikan secara rinci pada Wooyoung.

Namun meski begitu, Wooyoung tampaknya sudah mengambil poin utama dari penjelasan Nichkhun yang tampak ambigu itu.

"Hanya karena masalah itu?" tanya Wooyoung sedikit cengo.

Nichkhun mengangguk. "Yeah... Just... it..." Oke, bagian mengenai Nichkhun yang nyaris mencium Wooyoung dalam tidurnya, sebaiknya dihapus saja. Nichkhun tau pasti apa yang akan terjadi kalau Wooyoung mengetahuinya secara rinci. Dia tidak ingin hubungannya dengan Wooyoung malah makin memburuk.

Wooyoung mendengus keras. Tampak kesal sendiri.

"Waeyo?" tanya Nichkhun makin heran. Seingatnya ia bahkan tidak menceritakan tentang bagian 'nyaris mencium' pada Wooyoung. Tapi kenapa ia sudah tampak begitu uring-uringan.

"Tch, bocah itu," desis Wooyoung menahan kekesalannya sambil melempar pandangan ke arah lain. "Sesekali dia memang harus sedikit diberi pelajaran," tegas Wooyoung sebelum ia melesat pergi ke luar dengan cepat. Meninggalkan Nichkhun yang sempat cengo di tempat.

Ah... apa benar Nichkhun sudah melakukan hal benar?


.

~2pm~

.


Wooyoung sungguh tidak habis pikir dengan jalan pikiran Lee Junho. Namja itu sudah kelewat dari batas aneh, menurutnya. Lihat saja, punya hak apa Junho sampai harus marah dengan Nichkhun hanya karena hyung-nya itu memberikan selimut pada Wooyoung saat sedang tidur. Setidaknya hanya itu yang diketahui Wooyoung.

Bagaimana bisa Junho langsung marah hanya karena masalah sepele seperti itu? Memangnya Junho pikir Wooyoung adalah miliknya seutuhnya apa? Hey yach! Mereka hanya sebatas roommate, tidak lebih, bahkan mereka berdua juga tidak begitu dekat. Terlepas dari fakta kalau Junho sangat menyukai Wooyoung, meski ia tahu betul kalau Wooyoung merasa risih padanya.

Pintu latihan ruangan dance itu terbuka dengan kasar. Mata nyalang Wooyoung menatap tajam pada satu-satunya namja yang berada dalam ruangan tersebut. Lee Junho menghentikan gerakan dancenya begitu mendengar bantingan pintu tersebut. Ia langsung tersenyum lebar dengan smiling-eyes-nya ketika ia melihat pantulan Wooyoung dalam dinding kaca di hadapannya.

"Yo, Wooyoung-ah! Kau datang untuk menyusulku!" riang Junho sambil berbalik. Tak sadar dengan aura gelap yang terpancar dari sosok Wooyoung yang mulai melangkah mendekatinya. Junho kembali berbicara membanggakan dirinya, "Sudah kuduga, pada akhirnya kau akan sadar kalau–"

"YACH!" potong Wooyoung dengan lantangnya, cukup membuat Junho terhenyak dan bungkam dari ocehannya. "Sebenarnya di mana kau meletakkan otakmu itu!" kesal Wooyoung.

Junho menyerngit heran. "Kau kenapa? Kenapa kau tiba-tiba datang dan marah tidak jelas begini?" protes Junho ikut kesal sambil mempoutkan bibirnya cute. "Rasanya aku tidak berbuat salah padamu. Aku juga tidak pernah berselingkuh di belakangmu," tambahnya lagi dengan wajah yang sangat serius.

Jika saja Wooyoung bisa. Ia ingin sekali melemparkan daun pintu yang besar dalam ruangan itu ke kepala Junho untuk menyadarkan namja sipit tersebut. Hey yach! Kenapa kata 'selingkuh' mendadak muncul dalam ucapan Junho. Jadian dengannya saja bahkan tidak pernah.

Wooyoung menahan emosinya sebaik mungkin. Ia tidak boleh lepas kendali. Bagaimana pun Lee Junho tetaplah teman dalam member 2pm.

"Kau?" Wooyoung menunjuk hidung Junho. "Cepat meminta maaf pada Nichkhun-hyung!" pintanya tegas.

"MWO?" mata sipit Junho sedikit melebar. Dari sekian ribu kata, Junho paling tidak suka jika Wooyoung menyebutkan nama Nichkhun di hadapannya. Rival terbesarnya sejak tadi malam, begitulah Junho mengklaimnya secara sepihak. "Untuk apa aku minta maaf padanya?" sungutnya kesal.

"Tentu saja kau harus minta maaf. Kau sudah salah paham padanya."

"Apa maksudmu?"

"Aku sudah mendegar semuanya dari Nichkhun-hyung."

"Semuanya? Memangnya apa yang sudah ia katakan padamu?"

"Dia menceritakan kejadian semalam. Kau melihat Khun-hyung menyelimutiku dan kau langsung marah besar hanya karena itu? Sikapmu itu sudah keterlaluan Lee Junho. Jangan bertingkah kekanak–"

"Aah! Tahan-tahan dulu!" potong Junho cepat sambil merentangkan telapak tangannya ke depan. Menghentikan ocehan Wooyoung. "Kau bilang apa tadi? Khun-hyung bilang kalau aku marah hanya karena melihat ia menyelimutimu? Benar begitu?" Junho menyerngit.

"Ndeh." Wooyoung mengangguk.

"Sialan, dasar licik," umpat Junho pelan sambil memandang direksi lain, merutuki Nichkhun.

"Yach! Kenapa kau bicara seperti itu?" Wooyoung seolah tak terima melihat Junho merutuki Nichkhun.

Junho mendesah. "Dengar Wooyoung-ah. Apa yang Nichkhun hyung katakan padamu itu tidak sepenuhnya benar. Maksudku, hey, aku tidak mungkin marah besar hanya karena dia memberikan selimutnya padamu."

"Lalu untuk apa kau marah?"

"Tentu saja karena aku melihat dia hampir MENCIUMMU ! !" seru Junho lepas kendali. Mengingat kejadian semalam membuat amarahnya kembali memuncak.

"M-mwo? C-cium? Apa maksudmu?" Wooyoung terkejut sekaligus heran bukan main.

"Semalam itu aku memergokinya, Wooyoung-ah. Aku melihat Nichkhun sedang menindihmu. Saat itu wajahnya sudah sangat dekat berada di atas wajahmu. Andai saja aku tidak datang, mungkin ia sudah menciummu saat kau sedang tidur!"

Hening dalam beberap detik kemudian.

Wooyoung terdiam sambil mengerjap lucu menatap Junho yang tampak kesal di hadapannya.

Junho kembali menyerngit "Kau tidak marah?" tanya Junho kemudian melihat reaksi pasif Wooyoung.

"Ahh," mata Wooyoung mendadak bergulir tak tentu arah. "Kau… mungkin hanya salah lihat."

Habis sudah kesabaran Junho. "DEMI TUHAN WOOYOUNG-AH! Aku tidak mungkin salah LIHAT! Kenapa kau lebih mempercayai namja Thailand itu dari pada AKU!" dengan kemarahan yang sudah mencapai puncak. Sang Emperor itu pun pergi meninggalkan Wooyoung. Berniat kembali ke dorm untuk membuat perhitungan terhadap sang Princes Thailand.

Sementara Wooyoung. Masih berdiri diam dalam ruangan tersebut. Ada yang salah dengan dirinya. Dia sendiri yakin dengan hal itu. Kenapa setelah mendengarkan cerita Junho dan membayangkan hal tersebut. Membayangkan Nichkhun sedang menyelimutinya, lalu menindihnya, dan hendak menciumnya... membuat Wooyoung malah ingin...

.

.

.

...tersenyum.


.

~2pm~

.


Lagi-lagi pintu apartement asrama 2PM dibuka dengan kasar untuk ketiga kalinya semenjak tempat itu dihuni oleh para namja tampan sejak kemarin, dan bunyi bantingan pintu yang keras itu cukup mengalihkan perhatian Nichkhun dan Taecyeon yang sedang berbincang di balkon dorm mereka.

"DI MANA KAU NAMJA THAILAND? !" dan suara yang tidak tahu sopan santun itu berhasil mengagetkan duo sohib 'American' tersebut. Nichkhun dan Taecyeon saling melempar pandangan aneh. What-The-Hell?

Nichkhun segera memasuki ruang tv yang paling dekat dengan balkon mereka. Dan tanpa bisa diprediksi, sebuah tangan tiba-tiba meraih baju depannya. Junho sudah berdiri di hadapan Nichkhun dengan kemarahan besar yang menumpuk dalam raut wajahnya.

"Wow wow! Tahan dulu guys!" Taecyeon yang berdiri di belakang Nichkhun segera beranjak cepat untuk mengambil alih. "Lepaskan tanganmu Junho. Mana sopan santunmu terhadap hyungmu!" Taecyeon melerainya.

Terpaksa Junho melepaskan t-shirt Nichkhun. Meski tatapan membunuhnya tidak pernah putus dari sosok Nichkhun.

"Mwoya? Kau mau apa lagi sekarang?" sungut Nichkhun ikut terpancing emosi dengan tatapan Junho terhadapnya.

"Kalau kau memang mau bersaing denganku, katakan saja! Jangan menusukku dari belakang!" seru Junho.

"Menusukmu? Untuk apa? Aku tidak tahu apa yang sedang kau bicarakan, Junho!"

"Jangan pura-pura tidak tahu! Tentu saja ini mengenai Wooyoung!"

Nichkhun tersentak. "Wooyoung?"

"Benar. Kau menyuruhku untuk tutup mulut. Sementara kau baru saja menceritakan kejadian semalam pada Wooyoung, tapi hanya sebagian saja sehingga Wooyoung salah sangka padaku. Kau sengaja melakukan hal itu kan? Iya kan? Agar Wooyoung memarahiku dan malah menyuruhku untuk minta maaf padamu!"

Nichkhun tertegun. "A-aku. Aku tidak bermaksud seperti itu," belanya. Dia bahkan tidak menyangka kalau Wooyoung akan memarahi Junho dan malah membelanya. Dia tidak mengatakan keseluruhan cerita tersebut karena tak ingin hubungannya dengan Wooyoung semakin memburuk, tapi bukan berarti dia berharap hubungan Wooyoung dan Junho yang malah memburuk gara-gara hal ini.

"Omong kosong!" desis Junho penuh emosi. Seandainya tidak ada Taecyeon yang berdiri di antara mereka dan menahan dadanya agar tidak dekat-dekat dengan Nichkhun, mungkin sekarang Junho sudah melayangkan tinjuan emosinya pada wajah polos Nichkhun. Oh Lee Junho, kau benar-benar sang Emperor sejati….

"Dengarkan aku Junho. Apa yang kukatakan pada Wooyoung itu ada benarnya. Maksudku, kau salah lihat saat itu," Nichkhun berusaha menenangkan emosi Junho. Dongsaeng satunya ini memang yang paling cepat terpancing emosinya dari para member lainnya.

"JANGAN BERCANDA!" lihat, Junho kembali meneriaki Nichkhun dengan tidak sopannya. Dia bahkan tidak peduli dengan nasib malang Taecyeon yang berdiri diantara dia dengan Nichkhun, yang sekarang sedang meringis mendengar dengungan suara Junho di telinganya. "Biarpun mataku sipit begini. Pandanganku masih setajam kucing! Dan aku sangat yakin kalau semalam itu kau benar-benar menindih Wooyoung dan ingin menciumnya!"

"MWO?" Taecyeon tersentak kaget. Matanya lalu bergulir menatap tajam pada Nichkhun.

Nichkhun gegelapan "T-tunggu dulu. B-biar kujelaskan," sanggahnya cepat ketika ia melihat Taecyeon berbalik menghadapnya dan berdiri di samping Junho. Seolah Taecyeon menyatakan ia berpindah kubu pada Junho dan tak akan membela Nichkhun lagi jika Junho ingin menghajarnya atau apa.

"Benar. Kau hutang penjelasan pada kami," tuntut Taecyeon sambil mengangguk-ngangguk.

"Sebenarnya waktu itu aku... a-aku..." dia bingung sendiri bagaimana utuk menjelaskannya. Karena kalau boleh jujur, dia sendiri juga heran dengan tingkahnya semalam yang tahu-tahu ingin mencium Wooyoung saat itu. Itu semua terjadi di luar nalarnya. Benar.

"Cepatlah Nichkhun-sshi," tagih Taecyeon.

"Begini, aku tidak sengaja melakukannya. Maksudku... waktu itu... aku setengah tidak sadar," kata Nichkhun tidak meyakinkan.

"Apa maksudmu?" Taecyeon menyerngit. "Kau mau bilang saat itu kau sedang mabuk atau sedang mengigau dalam tidurmu, begitu?"

"Ya... mungkin seperti itulah," Nichkhun mengangguk ragu-ragu.

Junho menyerngit. "Jadi maksudmu... kau mau mencium Wooyoung tanpa ada niatan lebih? Tanpa menyukainya? Hanya main-main?"

Nichkhun mengerjap. Ia bingung mau menjawab apa.

Taecyeon langsung terkekeh. "Aigoo Junho-yah... mana mungkin Nichkhun menyukai Wooyoung lagi. Maksudku, kita semua di sini sudah tahu kalau Wooyoung itu namja. Sementara Nichkhun sendiri adalah Casanova-nya para yeoja di sini. Benar kan?" Taecyeon memukul pelan lengan Nichkhun. Menyadarkan namja Thailand tersebut.

Nichkhun tersentak. "Hehehe... kau benar..." katanya sambil tersenyum canggung. Namun senyumannya segera menghilang begitu manik matanya bergulir ke direksi lain, dan menangkap sosok Jang Wooyoung yang berdiri tak jauh dari mereka. Sejak kapan namja itu kembali ke dalam asrama?

Nichkhun menelan ludahnya yang terasa begitu pahit. Taecyeon dan Junho yang melihat ekspresi tegang di wajah Nichkhun, berbalik untuk melihat arah pandang Nichkhun, dan mereka juga ikut terkejut melihat kehadiran Wooyoung di antara mereka.

Mata Wooyoung menatap tajam ke arah Nichkhun. Namja itu berbalik sejenak untuk mengambil kedua sepatu yang baru saja ia lepaskan semenit yang lalu. Dan Wooyoung kembali berjalan ke ruang tengah. Dengan kekesalan yang memuncak, ia melempar sepatunya secara beruntung ke arah Nichkhun.

Untung saja Nichkhun segera sadar dan melompat untuk menghindarinya. Namun sayangnya pada lemparan kedua, sepatu itu tepat sasaran mengenai tulang kaki Nichkhun. Membuat namja Thailand itu meringis kesakitan. "Auuh... Appo! Yach! Apa yang kau lakukan?"

"Dasar Pembohong!" seru Wooyoung kesal. "Beraninya kau menipuku! Sialan! Kau bahkan mau menciumku tanpa alasan! Kau pikir dirimu siapa, hah? Aku tidak mau melihat wajah busukmu lagi!" setelah melampiaskan kemarahannya. Wooyoung segera berbalik menuju kamarnya dengan langkah cepat.

Nichkhun gelagapan. "T-tunggu dulu! Wooyoung-ah!" ia berusaha mengejar Wooyoung.

Wooyoung sudah memasuki kamarnya, "Aku Membencimu!"

BRAAAK!

Dan pintu kamar itu terbanting tertutup tepat di hadapan Nichkhun yang baru mencapai depan kamar Wooyoung.

Nichkhun mencelos. Bagus. Sekarang dia merasa dirinya sangat buruk.

"Aigoo..." suara Junho menyeruak. Namja itu berdiri tak jauh dari kamar Wooyoung dan juga termasuk kamarnya sendiri. Berdiri, bersikap dada sambil bersandar pada dinding. Senyuman penuh kemenangan terpatri jelas di wajahnya. "Sepertinya pangeran Thailand kita sudah kalah telak," sindirnya.

Nichkhun mendesis. Tatapannya berubah tajam melirik ke arah Junho. Dengan langkah yang cepat ia menghampiri sang Emperor yang merasa dirinya telah berada di atas awan.

"Listen me!" Nichkhun menunjuk dada Junho. "Aku tidak pernah kalah, bahkan sebelum perang ini benar-benar dimulai!"

Junho menyerngit. "Apa maksudmu?"

"Aku terima tatanganmu Lee Junho! Mulai sekarang kita benar-benar bersaing! Kau dan Aku! Perang dimulai detik ini juga!" tegas Nichkhun penuh penekanan.

Junho mencibir. "Bagaimana caramu bisa menang? Wooyoung bahkan sudah membencimu."

Nichkhun menyeringai. "Jangan khawatir. Aku bukan lawan yang membosankan. Memangnya kau pikir siapa yang bisa menolakku jika aku benar-benar serius untuk bertindak?"

Junho ikut menyeringai sinis. Tak mau kalah. "Kau juga pernah meremehkan aku."

Dan pandangan tajam penuh kilatan persaingan terpatri jelas dalam arus pandang keduanya.

The Emperor versus Princes Thailand. Siapa pemenangnya?

Ok Taecyeon yang berdiri tak jauh dari mereka, hanya bisa menghela nafas panjang. "Moga saja persaingan ini tidak merusak kebersamaan 2pm," doanya.

.

.

.

.

_To_Be_Continued_


Udah Aya buat sepanjang mungkin nih chingu, moga aja gak bosan, dan ini bisa mengobati rasa bersalahku yang telah lama mengupdatenya..

Mianhe chingu~~ *membungkuk dalam*

Oh ya, kalau berkenan, kunjungi saluran baru saya di Youtube, video 2pm dg sub Indonesia yang baru aktif bulan ini. Nama salurannya SayNi sub. Dengan akun sakuradini7 ^_^

Btw, udah tahu debut solonya Jang Wooyoung? KYAAAAAA~~~ GUE EXCITED BANGET *capslook jebol*

– Love Uyong – Love Uyong – Love Uyong – Love Uyong – Love Uyong – Love Uyong – (Girang+Histeris gak ketulungan)


IinInayah: yah tetap disini, dengan judul yang sama.

2pandaa: Emang paling bagus baca secara langsung chingu, biar feelnya dapet.. :D kan beda tuh tiap orang dengan imajinasinya, kalau baca sendiri ma dicerikan orang pastinya rada beda.. :p

Izahhottest: wah, statusku bahkan sampai dibaca? Kau bukan stalker kan? *plaak* hehehe... maaf udah buat lama nunggunya... blog saya yah, aduh, masih bingung mau diisi apa... nanti deh nyoba isi sedikit demi sedikit...

Ina: Aigoo,,, jangan mati dunk chingu, nanti klo chingu mati siapa yang baca ffku.. :(

Putree LEN: Lam kenal juga! ^o^ aaah... justru gara2 oppaduel 2pm itu aku jadi suka k-pop. ChanHo yah? Yaaah, namanya juga artis, tidak bisa dikonfirmasi dg jelas hubungan mereka. Tapi kalau menurutku, mereka akraaaaaaab bangeeeeet! Paling akrab dan udah jodoh mungkin (menurutku). Hohoho... masalah ChanHo, paling bagus juga buat ff tersendiri aja, coz yg ini fokusnya memang di Khunyoung...

ayyu nunoe junho: lucu? Sebelah mananya yang lucu?

mochi: Junho-nya tercintanya ma Author aja. *plaaak*dihajar Chansung

Firey: Oke! :D

Lala alaL: Apa? Kenapa kabuten dibawa-bawa segala? *sweatdrop*

Nhawoo: Seketat apakah persaingan mereka, mari kita nanti di chap selanjutnya *bletak#ditimpuk tomat ma reader

Hana HaniOh: Apa anda sudah berani membacanya? *kembali ngasah golok#dihajar balik*

TheCultuR3: Wah maaf sudah membuatmu tidak bisa tidur selama berhari-hari….

WooJay: hohoho… sering2 ngerivew yah.. gampang kan cara reviewnya.. *towel-towel*

Weniangangel: aku malah takutnya kalau nerusin skandal junsu jadi keblablasan. Maksudnya err... diam2 aku juga pernah buat rated m yg menghebohkan di fandom sebelah, dan itu cukup 'hot', meski pada akhirnya aku terpaksa menghapusnya. ,

hottest: mianhe lama...

nn:Share aja Haha Mama show 2pm. Saya lupa episode berapa.. =,=''. Tidak bisa update cepat karena Aya mulai sibuk di bidang lain di youtube *nunjuk channel baru dengan nama SayNi sub*

dhey:aah, maaf chingu, ultra lover tidak akan ada sequel.

Shymi Oktizen: ini pastinya cerita ttg boyxboy. Yaoi? Maksudnya yang rated M gitu? Gak kepikiran sampe ke situ =,=

Reita: Tentu saja. Jang Wooyoung tak bisa diabaikan begitu saja.

maniac manga: tidak secepat ultra lover, karena sekarang aku mulai merangkap ke bidang sub-video di youtube *nunjuk channel baru dengan nama SayNi sub*. Kkk~ jujur saja, aku mulai ngelirik WooHo couple,, *smirk#plaak

khunyoung shipper: wah, sekalinya aku dipuji begitu banyak, Aya-nya malah lama hilangnya, aissh… dasar author tidak tahu terimakasih *memukul diri sendiri*

eLfa chan: Aku yang nulis aja senyum2 sendiri, ngebayangin kalo mereka beneran memeragakan ceritaku *plaaak*

Lee Hyuka: yg He's beautiful memang kagak ada fictnya, ini memang sekuel berdasarkan cerita video yang diperagakan 2pm itu.. :p

Hikari: klo gintu bantu aku juga buat ngelestariin ff 2pm.. jadi author juga kayak Aya.. *towel2*

lee minji elf: iya, ff 2pm jarang banget, *tear* ah, maaf banget chingu, menurut forum (?)pikiran Aya, sudah ditetapkan Ultra Lover tidak akan ada sekuelnya.


Thank you so much chingu~~ Jangan bosan singgah untuk baca dan meninggalkan jejak berupa Review yah! ^^

Twitter: aya0430yes

~AyA~