Hai... Author balik lagi di BIW ... awalnya buat cerita ini cuma buat ngetes kemampuan bisa ato gak bikin cerita yang gak terlalu berat. tapi eh, ternyata banyak yang minta lanjut. tak menyangka responnya pada baik semua.. hiks jadi terharu.
terimakasih untuk reviewnya. saya paling senang jika ada review yang membangun. memberi tahu kesalahan kita. bukan menilai dari pair atau karakter yang hadir di dalam cerita. tapi review murni yang menginginkan agar penulisan author semakin baik lagi. walaupun belum bisa merealisasikannya, tapi setidaknya jika ada yang mengingatkan jadi lebih hati-hati.
baiklah cukup chit-chatnya. selamat membaca !
BEAUTIFUL IN WHITE
Disclaimer : Masasahi Kishimoto
Pair : Sasuke. U, Hinata. H
Ratting : T
Warning : AU, Typo (s) dan segala kekurangan lainnya
DON'T LIKE! DON'T READ!
Chapter 2
Istilah seorang Uchiha yang dapat meredam segala emosi yang ada dalam lubuk hatinya dan tetap menampakan wajah mereka yang datar di depan orang lain, memang bukanlah isapan jempol semata. Lihatlah our favourite Uchiha yang satu ini. Dengan perbawaan yang tenang dia memimpin meeting yang sedang di laksanakn bersama beberapa client penting perusahaannya.
Tentu saja tangan besi seorang Sasuke Uchiha tak bisa di remehkan. Hanya dengan penjelasan tambahan di sana sini, para client yang tadi ragu untuk bekerja sama dengannya karena persentasi wakil sekaligus sahabatnya yang bodoh itu, mereka akhirnya setuju melakukan kerjasama hitam di atas putih.
Namun perbawaan tenang itu tak bertahan lama, setelah para client melangkah keluar dari ruangan meeting, si penguasa tertinggi di Sharingan corp itu langsung menggebrak meja. Membuat beberapa bawahannya yang masih berada di sana berjengit kaget
"Untuk yang lain boleh meninggalkan ruang meeting kecuali Naruto" Ucapnya angkuh, membuat beberapa bawahan segera melangkah meninggalkan ruangan tersebut. Tak mau terkena imbas dari kemarahan sang bos yang kali ini sepertinya akan jatuh pada sang wakil direktur.
"Persentasi macam apa yang tadi kau tampilkan tuan Uzumaki? Kau ingin membuat perusahaan ini rugi?" Tanyanya sarkatis saat tak ada lagi orang selain dirinya dan Naruto
"Hei.. ini bukan hanya kesalahanku saja Sasuke" Naruto berusaha membela diri, si blonde sama sekali tak terpengaruh dengan aura gelap yang mulai menyebar di sekitar Sasuke.
"?" Sasuke mengernyitkan alisnya, tak percaya dengan perkataan Naruto. Jelas- jelas semua ini adalah salah si dobe sialan itu, dan sekarang dia mau menyangkalnya.
Sasuke sengaja memberikan Naruto tanggung jawab untuk membuat proposal kerjasama ini, saking percayanya Sasuke pada kemampuan sahabatnya itu, dia tak memeriksa proposal tersebut terlebih dahulu, karena dia tahu Naruto bisa di andalkan. Dan lihatlah akibat ulahnya tersebut, mereka hampir kehilangan tender jutaan dolar yang sudah di depan mata.
"Jangan menatapku seperti seorang maling ayam yang ketahuan pemiliknya Sasuke. Kau juga ikut andil dalam masalah ini. Seharusnya kau mengatakan kemarin bahwa yang akan rapat dengan kita adalah tuan Yamada" Sasuke menatap tak percaya pada Naruto, apa maksud pria itu. Bukankah dia sudah memberi tahu pada Naruto bahwa pagi ini mereka akan mengadakan rapat dengan tuan Yamada.
"Ya Tuhan ... jangan-jangan kau tidak sadar jika kau salah memberi informasi padaku. Ini sudah yang kedua kali Sasuke. Sebenarnya ada apa dengan dirimu? akhir-akhir ini kau seperti tidak fokus ... " Naruto terus mengoceh tak sadar bahwa orang yang sedang di ajak bicara tak mendengarkan ocehannya.
.
.
.
.
Sasuke fix merasa asing dengan dirinya sendiri. Dia yakin dirinya bukan keturunan werwolf atau shape shifter seperti jacob black dalam seri novel twilight, kesukaan para wanita itu. Heck dia masih sedikit waras kan dibandingkan dengan manusia jadi-jadian itu? yang dengan begitu mudahnya dunia mereka beralih pada satu pusat, sang objek imprint.
Namun di sinilah dia, seluruh fikirannya seolah-olah berpusat pada satu nama, Hinata Hyuga. Gadis asing yang sudah dua kali pernah bertemu dengannya itu seolah menginvasi seluruh kapasitas otaknya, menjadikan dirinya tidak fokus dalam melakukan hal apapun. Lihatlah ketidak fokusannya membuat harga dirinya yang tinggi begitu saja jatuh di hadapan si blonde yang dari tadi mengoceh, mengenai kesalahan dirinya memberi informasi tentag client penting di perusahaannya.
Lebih parahnya, dia sama sekali tidak mengenal gadis itu. Ya ... ya ... dia memang tahu namanya dan pernah bertemu dengannya, namun pertemuan mereka bisa dibilang tidak berjalan dengan baik. Apalagi sepertinya gadis itu kurang menyukai dirinya. Hal seperti ini merupakan pengalaman baru bagi Sasuke, biasanya dia akan menunjukan ketertarikan pada wanita-wanita yang sudah di kenalnya. Ya ampun dia sedang tidak menjilat ludahnya sendiri kan? Atau ini merupakan karma karena sering meledek Naruto yang senantiasa menggemborkan prinsip tentang jatuh cinta pada pandangan pertamanya itu.
"Sasuke ... oi ... Kau mendengar kan ku tidak?" Naruto mulai terlihat marah. Pria itu tak terima di cuekan oleh Sasuke.
"Sasuke!" Naruto menjerit di telinga Sasuke, membuat sang empunya menjengit dengan kelakukan sahabatnya itu
"Apa-apaan kau dobe. Telingaku masih normal"
"Lalu kenapa kau diam saja hah.. kau tidak tahu akau sudah mengoceh selama puluhan menit dan kau tak menanggapi sama sekali pembicaraanku. Kau tidak sedang kerasukan kan?" Si mata biru mulai takut jika Sasuke benar-benar kerasukan jin penunggu gedung yang di pakai untuk tunangannya itu. Apalagi dengar-dengar gedung itu memang cukup angker.
Haruskah dia menghubungi dukun Orochimaru untuk menyingkirkan roh jahat di tubuh sahabatnya itu. Menurut gosip tuan Orochimaru merupakan ahli dalam bidang tersebut. Lihat saja penampilannya yang nyentrik itu tak jauh berbeda dengan dukun-dukun dari indonesia yang konon katanya memiliki ilmu yang tinggi. Baru-baru ini malah ada kabar bahwa di indonesia ada orang yang bisa menggandakan uang. Hah ... Seandainya Naruto punya kekuatan seperti itu, sepertinya dia akan berhenti bekerja saja dan tinggal duduk santai menikmati hidup.
"Jika aku kerasukan setan, kau sudah aku cekik Naruto" Sasuke menjawab tak peduli
"Aha ha ha ... benar juga" Naruto tertawa canggung "Lagian kenapa kau bengong saja. Kau juga tak menjawab pertanyaanku. Jadi, ada apa sebenarnya dengan dirimu hah? Kau tahu, kau bisa bercerita apapun padakau sob ... ingat kita adalah sahabat semenjak dalam kandungan"
"Dan membiarkan permasalahanku menjadi pembicaraan seluruh kantor?" Sasuke tak percaya dengan mulut sahabantya yang lebih mirip perempuan a.k.a bocor.
"Hei aku bukan penggosip" Elak Naruto
"Kau lupa, sebulan yang lalu apa yang kau lakukan?" Sasuke mengingat kejadian sebulan lalu yang meninpa dirinya akibat ulah Naruto yang tiba-tiba membocorkan ciuman pertamanya adalah dengan Sasuke. Dan alhasil banyak kaum pria yang memandangnya dengan pandangan aneh. Tidak tahu apa mereka bahwa Sasuke adalah pria sejati yang suka terhadap manusia berbadan seksi, berkaki jenjang tanpa bulu, dan berdada montok.
Tipe-tipe kayak Hinata gitu ... Shit dasar bodoh apa yang ada di otakmu Sasuke! Sasuke memaki dirinya sendiri. Dia sepertinya harus mempertanyakan kewarasannya. Gadis Hyuga itu sudah benar-benar meracuni fikirannya.
"Hei ... itu tak sengaja tahu. Perkataan itu tak sengaja keluar dari mulutku begitu saja. Lagian mana ku tahu efeknya akan jadi seperti itu" Naruto membela diri lagi.
"Sudahlah aku mau kembali ke ruanganku ... " Sasuke berdiri dan berlalu dari ruang rapat.
"Hei Sasuke tunggu ... " Naruto menyusul Sasuke ke luar " Mmmm ... Begini Teme, bagaimana jika kita makan di luar, kau tahu sebagai syukuran atas keberhasilan kita memenangkan kerja sama ini" Naruto memulai jurus untuk dapat makan gratis sambil berjalan bersisian dengan sahabat stoicnya itu.
Jangan beranggapan Naruto pelit ya sampai mengemis agar mendapatkan makan gratis. Hanya saja dia sekarang ini sedang menabung, kalian tahu kan sebentar lagi dia akan menikah, dan pesta pernikahan jaman sekarang membutuhkan biaya yang tak sedikit. Uang puluhan bahkan ratusan juta bisa habis untuk pesta sehari semalam itu. Belum lagi dia harus melunasi cicilan apartemen yang akan di tinggalinya setelah menikah nanti.
Maklum dia bukan dari keluarga berada seperti halnya Sasuke. Ah bahkan dia sudah tak memiliki ayah dan ibu. Kedua orang tuanya meninggal saat umurnya masih kecil dengan meninggalkan rumah sederhana yang sekarang ditempatinya. Untung saja nyonya Mikoto yang tak lain sahabat karib ibunya mau membiayai sekolahnya hingga mencapai magister di bidang bisnis dan sekarang dia bekerja di perusahaan yang juga di miliki oleh keluarga Uchiha.
"Aku tidak lapar ... " Jawab Sasuke cuek sambil mendorong pintu ruang kerjanya untuk masuk saat mereka sudah tiba di depan ruang tersebut.
Naruto tak menyerah, dia mengikuti Sasuke masuk ke ruangannya. Namun saat dia akan membujuk Sasuke lagi tiba-tiba ponselnya berdering.
MY Lovely Sakura is calling
Tanpa ba bi bu, melupakan kegiatannya tadi Naruto duduk begitu saja di sofa ruang kerja Sasuke kemudian menerima panggilan dari Sakura.
"Hai beb ada apa? ... Oh makan bersama ya ... ha ha aku lupa"
Sasuke memadang bosan pada si blonde yang sama sekali tidak punya tata krama pada atasannya itu. Duduk seenaknya di ruangannya dan bertelepon mesra-mesraan. Tak tahu apa kegiatannya itu membuat Sasuke envy berat. Hei bagaimanapun dia tetap manusia biasa yang merindukan kasih sayang dari seorang gadis. Apalagi jika itu dari gadis berambut indigo, bermata amethyst, bertubuh seksi, dan ...
"Hahhhh ... " Dia menghela nafas dan berniat melanjutkan kegiatan memeriksa tumpukan berkas di kantornya, namun berhenti saat mendengar Naruto menyebut-nyebut nama si gadis penginvasi otaknya.
"Oh dengan Hinata juga, ya ... ya tidak apa-apa. Baiklah aku akan segera kesana. See you soon beb" dengan itu Naruto menutup sambungan telponnya dan berdiri untuk keluar namun suara Sasuke mencegahnya.
"Dobe ... mau kemana kau? Bukannya kau memintaku untuk mentraktirmu. Tentukan tempatnya!" Sasuke memerintah
"Ya Teme ... bagaimana ya" Naruto terdiam sebentar. Dia lupa bahwa dirinya punya janji makan bersama dengan tunangannya. Tiba-tiba ide brilian mampir di otaknya
"Eh Teme apa kau tidak keberatan mentraktir dua orang lagi, Sakura mengajakkua makan bersama dengan membawa Hinata juga. He he he kau tahu kan aku sedang mengirit" Naruto mengeluarkan jurus puppy eye yang sebenarnya membuat Sasuke muak
"Hn ... tentukan tempatnya dan ayo berangkat" Hanya itu jawaban dari Sasuke sebelum pria itu mendahului Naruto keluar dari ruang kerjanya.
Naruto memandang tak percaya dengan jawaban Sasuke. Tumben-tumbenan pria itu tak menolak permintaannya. Biasanya alot sekali. Tapi masa bodo ah yang penting makan gratis. Dan melihat dari dompet tebal si stoic biasanya pria itu tak akan mau makan di tempat-tempat murahan. Dia tersenyum bahagia memikirkan asupan energinya kali ini pasti makanan-makanan yang di masak di dapur chef terkenal. Tak sia-sia otaknya bekerja dengan cerdas hari ini.
.
.
.
.
Hinata menatap Sakura cemas. Sebenarnya dia tak ingin mengganggu kencan Sakura dengan tunangannya, namun gadis yang sekaligus menjadi senior di tempat kerjanya itu memaksanya ikut. Entahlah, sepertinya Sakura mengajaknya atas dasar kasihan. Soalnya Hinata biasanya makan sendirian di kantin Rumah sakit jika tak ada gadis bersurai pink itu. maklum dia kan anak magang, baru lagi, jadi belum punya banyak teman di tempat kerjanya ini.
"Ano Senpai ... apa tak apa-apa jika aku ikut makan bersama dengan kalian berdua? Maksudku apa Naruto-san tidak merasa terganggu nanti dengan kehadiranku?" Hinata masih berusaha untuk memberikan alasan pada si gadis bersurai pink
"Tidak apa Hinata-chan, aku yakin Naruto akan senang sekali. Apa kau tadi tidak dengar jika dia bilang tidak apa-apa. Sudahlah kau tidak usah khawatir ayo pergi" Sebelum mereka berdua sempat melangkah sebuah pesan masuk ke ponsel Sakura, membuat wanita bersurai pingk itu berhenti untuk membuka ponselnya.
Hinata melihat Sakura mengerutkan keningnya sebelum mengangkat bahunya tak pedul kemudian menyimpan kembali ponselnya di dalam tas tangannya.
"Ada apa senpai?" Hinata sedikit penasaran
"Bukan apa-apa, hanya saja tempat makannya berpindah. Sepertinya dia sedang punya uang lebih" Jawab Sakura, sedikit membuat Hinata tidak paham sebenarnya. Tapi dia memilih untuk menganggukan kepalanya.
Jika harus jujur, Hinata merasa iri terhadap Sakura dan Naruto. Mereka begitu saling mencintai. Andai saja dia bisa seperti itu. terakhir kali Hinata membina hubungan dengan lawan jenis adalah semasa SMA, dengan sahabat dekatnya. Itupun karena dia tidak enak hati menolak pernyataan pria itu. Sayangnya hubungan yang tak di dasari rasa cinta itu tak bertahan lama. Mereka putus setelah berhubungan selama 3 bulan.
Hinata mengehela nafasnya. Mereka sudah sampai di parkiran. Dia akan ikut numpang di mobil Sakura. Mau bagaimana lagi mobil kesayangannya sedang menyambangi bengkel saat ini. Mobil yang sudah menemaninya semenjak pertama kali mendapatkan SIM di usia 18 tahunnya itu terpaksa harus masuk bengkel lagi. Mobilnya itu memang sudah sering keluar masuk bengkel. Ya apa mau dikata, memang mobil itu sudah cukup tua, apalagi dulu dia membeli mobil tersebut dalam keadaan second. Tapi dia sayang terhadap mobil itu, karena dia membelinya memakai uangnya sendiri.
Sebenarnya sang ayah sudah menawarkan untuk membelikan mobil baginya. Namun Hinata menolak. Dia tak ingin merepotkan ayahnya tersebut. Sekarangpun sebenarnya Hiashi, sang ayah ingin agar Hinata meneruskan pendidikannya untuk menjadi dokter spesialist, tapi dia lagi-lagi menolak. Dia akan melanjutkan kuliahnya ketika dia sudah bekerja ujarnya.
" Are you ready?" Suara Sakura menyadarkan fikiran Hinata yang tadi terbang kemana-mana
"Hm ... eh Senpai apa kau yakin tak apa-apa jika aku ikut dengan kalian. Maksudku aku bisa makan sendiri di kafe rumah sakit." Hinata lagi-lagi berusaha mengelak ajakan Sakura. Dia benar-benar tak enak.
"Ya ampun Hinata. Aku sudah bilang TIDAK APA-APA. Sudah jangan bicara lagi dan masuk ke dalam mobil" Sakura mulai mengeluarkan aura menakutkan, membuat Hinata bergidik dan langsung mengikuti perintah senpainya itu.
Lima belas menit berlalu, mereka sudah sampai di tempat janjian. Sebuah restaurant ternama yang ada di kota Konoha. Mereka berdua masuk kemudian menanyakan meja yang sudah di reservasi atas nama Naruto, tak lama seorang pelayan mengantarkan mereka ke sebuah ruangan privat. Hinata jadi merasa out off place berada di tempat ini. Dia memakai kemeja lengan panjang yang di gulung hingga ke siku dan celana jeans sepanjang tumit. Kakinya di balut sepatu kets berwarna putih dengan garis biru d sisi-sisinya. Busana yang tidak cocok untuk duduk di retauran mahal seperti ini. Sakura sih enak, dia memakai dress selutut berwarna merah. Setidaknya pakainnya masih cocok untuk di pakai ke tempat seperti ini.
"Hm ... tak biasanya si bodoh itu mengajakku makan di tempat mahal seperti ini. Apa ada hal istimewa hari ini?" Ujar Sakura sambil duduk di kursi yang tersedia.
"Ma-maksud senpai"
"Kau tahu, Naruto jarang sekali mengajakku makan malam di tempat mahal seperti ini kecuali ada peristiwa-peristiwa penting. Dan ku rasa hari ini tak ada sesuatu hal istimewa yang perlu di rayakan" Sakura berfikir
Aduh kok perasaan Hinata jadi gak enak begini ya. Apa ini efek dari dia serasa akan menjadi kambing conge antara Sakura dan Naruto atau akan ada hal lain yang membuat perasaan tak enak itu kembali muncul. Dia jadi merasa gerah tiba-tiba, lalu memutuskan untuk menggulung rambutnya membiarkan lehernya terbuka agar mendapat sedikit udara.
Suara pintu terbuka membuat Hinata menoleh ke arah jalan masuk. Dan pertanyaannya ketidak nyamanan dalam hatinya terjawab saat dua orang pria masuk ke dalam ruangan yang sama dengannya, Naruto dan ...
Shit ... Uchiha Sasuke
Berakhirlah sudah makan siang menenangkan Hyuga Hinata untuk hari ini.
.
.
.
.
Sasuke sengaja mengambil tempat duduk yang langsung berhadapan dengan sang gadis Hyuga. Dia menatap lurus ke arah gadis itu, melingkarkan tangannya di atas dada. Hm ... wanita di depannya ini memang tak berdandan semenarik saat di pesta pertunangan Naruto dan Sakura. Namun tetap tak bisa menutupi kecantikan sang gadis yang di lihatnya malam itu.
Walaupun hanya memakai jeans dan kemeja kotak-kotak yang biasa di pakai kebanyakan wanita. Namun entah mengapa jika Hinata yang memakainya terlihat berbeda ... apa ya kata yang cocok ... Hmmm Sexy apalagi dengan leher jenjangnya yang di biarkan terbuka seperti itu. Ah rasanya Sasuke ingin menjatuhkan bibirnya di leher jenjang itu, menciptkan bercak-bercak merah kepemilikannya.
"Berhenti memandangku seperti serigala kelaparan Uchiha-san" Hinata berdesis, berusaha agar suaranya tak terdengar oleh Naruto maupun Sakura yang sedang membaca buku menu.
Hinata sendiri mengabaikan buku menu di depannya. Nafsu makannya seketika menghilang setelah melihat sang iblis bermulut tajam berada satu ruangan dengannya. Sasuke menampakan evil smirknya, mendengar nada ketus sang gadis.
"Hyuga yang kikuk sudah berubah menjadi singa betina heh" matanya tetap memandang lurus pada Hinata.
"Oh ... jadi sekarang kau sudah mengingatku dengan baik Uchiha ... Sykurlah dengan begitu aku yakin kau tidak sedang tertarik padaku kan. Mengingat aku bukanlah tipe perempuan idamanmu" Hinata menyinggung kembali perkataan Sasuke di masa lalu.
"Hati seseorang bisa berubah kapanpun nona " Shitt! Kenapa mulutnya jujur sekali.
"Apa maks ... "
"Jadi ada kejadian apa sehingga kau mengajak ku makan di restauran semahal ini Naruto?" Suara Sakura mengintrupsi perang dingin Hinata dan Sasuke. Membuat sang gadis Hyuga segera mengambil buku menu dan pura-pura membacanya. Dia tidak ingin terlihat sedang berinteraksi dengan si iblis.
"Ahhaha ... sebenarnya Teme yang akan mentraktir kita. Kami baru mendapatkan tender yang lumayan besar. Benarkan Teme?" Naruto menyikut lengan Sasuke.
"Hn.." Sasuke melirik tajam ke arah Naruto. Pria itu sudah mengganggu dirinya yang sedang memandang Hinata yang tiba-tiba pura-pura membaca buku menu di hadapannya.
"Maaf tuan dan nyonya apa anda semua sudah siap memesan " Seorang pelayan berdiri sambil memgang buku catatan pesanan.
"Ya ... aku pesan ... " Naruto dengan bersemangat mulai memesan menu-menu terbaik di resturant itu. kemudian diikuti yang lainnya.
.
.
.
.
"Kapan-kapan kita harus melakukan ini lagi" Hinata mendengar Naruto berbicara setelah mereka semua selesai makan.
Wanita bersurai indigo itu bersyukur suasana saat makan cukup kondusif. Meskipun dia harus menahan agar tidak menampar wajah Sasuke yang terus-terusan memandang dirinya dengan mata seperti serigala kelaparan. Membuat nafsu makan Hinata semakin menipis saja dan akhirnya dia hanya memakan beberapa suap pesanananya. Padahal dia sengaja memesan makanan termahal yang di sediakan di restaurant tersebut. Biar tau rasa tuh si Sasuke . Apapula pernyataan tentang hati seseorang bisa berubah yang pria itu maksud. Ahh ... bikin illfeel saja makhluk adam satu itu.
"Iya ... aku setuju dengan Naruto. Tapi lain kali kalian harus membawa pasangan masing-masing" Sakura menyahut dengan melirik bergantian pada Sasuke kemudian dirinya.
Apa maksudnya?
"Hn ... " seperti biasa Sasuke hanya mengeluarkan gumaman itu
"Bagaimana Nata, kau mau kan. Nanti kau bawa kekasihmu ke mari. Pria yang waktu itu kau ajak ke pertunanganku dan Naruto." Sakura mengerling pada Hinata.
Sementara si gadis indigo jadi panik sendiri. Pasalnya yang waktu itu di bawa ke pertunangan Sakura bukan kekasihnya. Hell dia masih jomblo sampai sekarang. Tapi tentu saja dia tidak akan mengakui hal itu di depan si iblis Uchiha. Mau di taruh di mana mukanya yang kata orang-orang imut itu.
"Ahahaha ... Te-tentu saja, aku akan membawa kekasihku nanti" Shitt ... lihatlah gengsinya itu membuat dirinya lagi-lagi harus memohon kepada si pria bersangkutan agar sekali lagi mau menemaninya. Ahh ... kenapa hidupnya tak bisa tenang sih semenjak dia bertemu kembali dengan makhluk tampan bermata kelam yang sekarang sedang menatapnya dengan tajam itu.
semoga suka dengan chapter ini. hmm kira-kira siapa ya cowok yang cocok buat di jadiin pacar boongannya Hinata?
Jangan lupa reviewnya... Jaa nee
