Hot Daddy
Pairs: DaddyArima x BabyKaneki
Rated: K
Karakter Tokyo Ghoul dan Tokyo Ghoul: Re adalah kepunyaan Sui Ishida^^
Chapter 2: Kereta dan Schlosspark
Haise melompati anak tangga terakhir dengan antusias dan berhamburan sampai ke pintu masuk apartemen tanpa mempedulikan Papanya yang sedari tadi menempelkan telunjuk ke bibirnya dan bergumam "Ssh, Pelankan suaramu!" Arima mengeluarkan sebundel kunci dari kantong running jacketnya kemudian menunduk dihadapan Haise.
"Dengar, kawan kecil. Aku tahu hari ini waktunya bersenang-senang. Tapi aku ingin kamu tetap disampingku, mengerti? Kita akan berlari di sepanjang trotoar sebelum sampai Schlosspark dan aku tidak ingin melihatmu berlari melebihi kecepatanku, okay sayang?"
"Baik, Papa." Angguk Haise kecil dengan polos.
"Haise, sayang. Apa kamu mengerti? Kita akan berlari di jalan raya dan itu berbahaya jadi kamu harus berjanji untuk mendengarkan Papa, setuju?" Lelaki berkacamata itu meninggikan suaranya, memperingati putra kecilnya bahwa ia punya kendali tanpa menyiratkan kekerasan. "Janji?"
"Baik, Papa. Haise berjanji." Seru bocah berambut hitam putih itu tanpa ada rasa tertekan.
"Baik, sayang. Terima kasih ya." Ucapnya tersenyum sambil membelai kepala Haise dengan lembut. Ia mendorong pintu apartemen dan secepat mungkin mengambil tangan putra kecilnya supaya Haise tidak berlari sampai ke jalanan.
Mereka berdua menyebrangi jalanan yang masih sepi dan mampir sebentar ke taman kecil tempat Haise biasa bermain. Arima mengamankan kunci apartemennya di kantong running jaketnya setelah mengungsikan Haise ke dalam taman yang ditutupi pagar tinggi.
Bocah itu segera berlari mengelilingi taman yang seluruh permukaannya di tutupi serpihan kayu lembap dengan gembira, kaki kecilnya mengitari dua ayunan di pojok pertama taman bermain itu kemudian berlari memunggungi kolam pasir, ia menambah kecepatannya saat kakinya berlari melewati jungkat-jungkit sebelum akhirnya kembali di hadapan Papanya yang sedang tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
"Permulaan yang bagus, atlit kecil. Tapi ingat kita harus melakukan pemanasan dulu."
"Kenapa harus pemanasan dulu, Papa? Aku kuat kok. Lagipula aku bisa berlari secepat shinkansen."
"Aku tahu, sayang. Tapi pemanasan adalah hal yang paling penting di olahraga manapun."
"Lihat," Arima bertumpu pada lututnya supaya ia sejajar dengan tinggi Haise. "Saat kamu berolahraga, otot tubuhmu akan bekerja lebih keras dari biasanya. Jadi pemanasan tubuh diperlukan supaya otot-otot ditubuhmu-ia menggenggam betis mungil Haise-terbiasa sebelum mereka bekerja keras. Seperti Papa yang selalu memanaskan mobil sebelum kita berangkat, bukan? Aku pernah tidak memanaskan mobilku sehari dan bisa tebak apa yang terjadi? Mobilku mogok. Tubuhmu juga akan bernasib sama kalau kamu tidak melakukan pemanasan terlebih dahulu, sayang."
"Aw, Papa. Hentikan! Hentikan! Kakiku sakit!" Haise menjerit saat Papanya meremas-remas kedua betisnya.
"Kamu terlalu berlebihan sayang. Itu tidak terlalu menyakitkan kok." Sanggah Arima sambil memperhatikan wajah cemberut putranya. "Kamu tahu, saat aku melakukan hal itu aku juga melatih tubuhmu supaya tubuhmu kebal terhadap sakit. Bukankah kamu mau tumbuh tinggi supaya kamu bisa menghajar preman-preman yang menggangguku?" Lanjutnya sambil membelai kedua pipi Haise yang menggembung. Putra semata wayangnya itu menatapnya dengan jengkel dan ekspresi kesal yang justru menggemaskan.
"Tetapi kakiku tetap terasa sakit. Papa terlalu kuat menekan kakiku." Protes Haise yang langsung dihujani kecupan di kedua pipi bulatnya.
Setelah puas menciumi pipi putranya dan meyakinkannya lagi bahwa kakinya akan baik-baik saja, Arima kembali berdiri dengan kedua tangan yang terbentang. "Sekarang dalam hitunganku, atlit kecil. Rentangkan tangan dan tegakkan punggungmu."
Haise kembali bergairah saat Papanya mulai mempraktikan pemanasan, ia merentangkan kedua tangannya ke kiri dan kanan sambil tersenyum lebar.
"Punggungmu, Haise. Tegakkan punggungmu." Arima menunjukkan punggung tegaknya yang dalam sekejap diikuti oleh Haise, meskipun tidak sempurna.
"OK, aku ingin kamu melipat tanganmu sampai ke dada, ayunkan dua kali lalu rentangkan tanganmu lagi seperti semula, mengerti?"
Haise kecil meniru gerakan Papanya dengan kikuk, matanya tidak lepas dari gerakan tangan Arima sementara suara tawa tak berhenti keluar dari mulut mungilnya.
"Bagus, sayang. Sekarang kita lakukan sekali lagi sambil berhitung sampai 8, okay? Bersediakah kamu berhitung sampai 8?" Bahkan sebelum Arima menyelesaikan perintahnya bocah berambut hitam putih itu sudah berseru "Aku yang menghitung! aku yang menghitung!"
Haise melipat tangan ke dadanya dan mengayunkannya dua kali sebelum kembali merentangkan tangannya ke kanan dan ke kiri sambil berhitung hingga 8. Ia mengulang kembali hitungannya sampai Papanya berkata cukup.
Bocah enerjik itu membuka kedua kakinya lebar-lebar dan menaruh kedua tangan di pinggangnya seperti yang dilakukan sang Papa kemudian mengayunkan tubuhnya ke kiri dan kanan dengan gembira, sesekali ia berhenti untuk memastikan Papanya belum merubah gerakan pemanasan yang disukainya itu.
Kali ini Haise membawa salah satu lutut ke dadanya, ia berkali-kali kehilangan keseimbangan sebelum hitungan ke-8, kegigihan di wajahnya membuat Arima benar-benar menahan diri untuk tidak menghujani pipi bulatnya dengan kecupan. Ia mengakhiri pemanasan dengan gerakan lari ditempat dan melompat setinggi-tingginya-Haise hanya melompat-lompat di tempat sambil berkata, "Lihat, Papa. Aku lebih tinggi darimu!"
Arima menuntun putra semata wayangnya keluar dari taman dan terlebih dahulu memperingati putranya supaya benar-benar berlari di sebelahnya untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, Haise meresponnya dengan anggukan dramatis dan berjanji untuk tidak berlari jauh dari Papanya.
Setelah Haise berkata, "Aku berjanji" dua kali, Arima melepaskan pergelangan tangan mungil Haise dengan was-was dan membiarkan Haise berlari mengikutinya. Ia menoleh sesekali ke belakang, memastikan tidak ada pengendara sepeda yang melintas atau ngebut di trotoar. Haise kecil berusaha menyamakan kecepatan larinya dengan langkah lari ayahnya yang lebar-lebar, wajahnya mulai bersemu karena kewalahan.
"Lihat ke depan sayang, kamu bisa tersandung." Laki-laki berkacamata itu memperingatkan, Haise segera melihat ke depan. Arima berusaha menempel dengan putranya sepanjang waktu, berusaha mempertahankan kecepatan larinya sambil sesekali melirik ke Haise kalau-kalau ia keluar jalur.
"Bagus, Haise. Pertahankan." Komentarnya melihat Haise yang sudah bisa mengadaptasikan tubuhnya.
Bocah berambut hitam putih itu tidak merespon komentar sang Papa, kaki kecil mengayun bergantian dengan lincah, suhu tubuhnya mulai naik.
Arima menengok keadaan Haise sekali lagi sebelum kembali fokus pada gerakan kakinya, terakhir kali jogging seperti ini yaitu pada awal musim dingin sebelum pergantian tahun, ia membutuhkan 45 menit sampai tubuhnya benar-benar panas berbeda dengan kali ini yang mana ia sudah merasakan perubahan suhu tubuhnya. Ia mengusahakan napasnya beriringan dengan langkah kakinya agar staminanya bertahan lebih lama, Arima menemukan bocah itu hampir melebihi kecepatannya. Ia benar-benar merasa tua sekarang melihat makhluk kecil di sebelahnya bisa mengalahkan kecepatannya tanpa terlihat ngos-ngosan. Bibirnya kembali tersenyum melihat bagian kecil dari dirinya tumbuh semakin kuat dan semakin besar dari hari ke hari, ia jadi mengerti apa yang dimaksud tentang kebanggaan menjadi orang tua; memikirkan bagaimana waktu menyulap bayi mungilnya kemarin sore menjadi jagoan yang bisa diandalkan, melihat buah hatinya itu mempelajari hal-hal baru dari hari ke hari benar-benar membuatnya ingin menangis karena gembira.
Arima kembali menatap jalanan di depannya dan menemui persimpangan kecil yang lengang, ia melihat kondisi putranya lagi sambil menimbang untuk berhenti dan menyebrangkannya atau lanjut berlari seperti itu, semakin mereka mendekat rambu yang menyala diseberang jalan masih berwarna hijau sehingga ia putuskan untuk terus berlari sampai ke sebrang jalan tanpa menuntun Haise.
"Lihat, Papa! Persimpangan!" Pekik Haise memecah konsentrasinya, bocah itu masih berlari sambil menunjuk persimpangan di depannya dengan telunjuk kecilnya. "Haruskah kita berhenti, Papa?"
"Ya, sayang. Kamu bisa berhenti sekarang." Ia memuji putranya atas kesadarannya tertib di jalan raya. Alhasil, laki-laki berkacamata itu mengurungkan niatnya untuk menerobos karena tidak ingin mengajari anak satu-satunya ini ceroboh dalam berlalu lintas.
Arima segera menarik tangan Haise sambil memperingatkannya untuk tidak berlari di zebra cross nanti. Mereka berdua akhirnya berhenti di ujung trotoar yang sepi, hanya ada beberapa pengendara sepeda dari seberang persimpangan yang menyebrang.
Arima mencoba untuk memicu ingatan Haise tentang apa yang harus dilakukan saat seperti ini, "Jadi, sayang. Apa yang harus kita lakukan?" Tanyanya dengan lembut.
Bocah itu masih berusaha mengatur napasnya saat ia ditanyai Papanya. "Lihat ke kanan dan kiri, pastikan tidak ada mobil atau truk yang lewat." Jawab bocah itu sambil melihat ke kanan dan kiri mereka yang lengang. "Lalu,—ia menarik napas dalam-dalam—jangan lupa memastikan lampu penyebrangan berwarna hijau." Tuturnya saat melihat rambu penyebrangan yang masih berwarna hijau.
"Kerja bagus, kawan kecil. Apakah kita bisa menyebrang sekarang?" Arima memutuskan untuk membiarkan Haise yang membuat keputusan, ia ingin menilai respon putranya.
"Yup!" Haise mengangguk dengan sungguh-sungguh, ia mendapat pujian dari Papanya lagi dan berjalan beriringan dengan Arima di zebra cross. Arima membimbing Haise kecilnya hingga melewati silang persimpangan lainnya. Kali ini bahu jalan yang mereka lalui lebih lebar dan berpagar besi, Arima melepaskan tangan Haise tanpa rasa khawatir, mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju Schlosspark, ia masih menoleh ke belakang sesekali memastikan tidak ada pengendara sepeda yang lewat dengan kecepatan tidak wajar.
Haise kecil menyapa pejalan kaki yang ia temui dengan ceria, terutama saat melihat pejalan kaki yang berjalan dengan hewan peliharaan mereka, ia akan melirik ke Papanya sambil menjelaskan betapa lucunya hewan-hewan itu dan bocah itu bisa melihat Papanya mengangguk setuju.
Mereka berdua melewati satu persimpangan lagi setelah berbelok mengikuti bahu jalan, kemudian berlari lagi di bahu jalan yang semakin melebar setelahnya. Mereka semakin mendekat ke jalan raya, suara bising khas jalan raya mulai menghiasi pendengaran mereka.
Arima mengawasi putranya untuk yang kesekian kali, bocah kecil itu masih fokus berlari di kecepatan yang bisa di jangkaunya. Ia menoleh ke belakang dan segera menemui gadis diatas sepeda beberapa meter dibelakangnya, Arima memperlambat larinya untuk melindungi anak laki-lakinya dari belakang. Ketika si pengendara sepeda mendekat, mereka bisa mendengar gadis itu memperingati mereka dengan bell-nya. Arima seramah mungkin membalas sapaan gadis diatas sepeda itu, sementara gadis itu masih memperhatikan dirinya dan Haise sampai ia menghilang di belokan.
Haise memastikan dirinya berada di ruang lingkup papanya, matanya memperhatikan betapa sibuknya Arima memperhatikan jalan dan menjaga dirinya sampai mereka berhenti lagi di persimpangan terakhir di ujung jalan itu. Haise kecil belum begitu mengerti namun semua toko dan restoran yang ada di jalanan itu belum ada yang buka.
Mereka tiba di ujung jalan yang langsung berbatasan dengan jalan raya dan sungai di tengahnya, belokan ke kiri tempat gadis bersepeda tadi menghilang adalah akses bus menuju bandara dan tengah kota, sedangkan arah mereka menunggu adalah pertigaan dari dan menuju jalan raya, jembatan penyebrangan yang melintasi sungai dan jalan layang untuk kereta. Dibalik jembatan penyebrangan itu terdapat stasiun kereta dengan bahu jalan yang hanya bisa di lewati oleh pengemudi sepeda. Mereka akan menyebrang untuk bisa naik ke jembatan tersebut agar bisa sampai Schlosspark. Tangganya menutupi hampir 80% bahu jalan sehingga pengendara sepeda yang lewat harus menuntun sepedanya agar tidak mencelakai orang lain, walaupun ada-ada saja pengemudi ceroboh yang masih berada di sepeda mereka dan tidak mempedulikan orang lain. Arima menggenggam tangan Haise kecilnya erat-erat. Pendengaran mereka semakin riuh saat ada kereta yang melintas di atas mereka, sewaktu Haise masih bayi, Arima selalu mengajaknya melihat kereta yang berlalu lalang dari jembatan penyebrangan itu dan putra semata wayangnya itu akan berteriak, "Kereta, kereta" dengan bahasa bayi yang hanya di mengerti Arima.
Haise menanti dengan tenang sampai rambu penyebrangan berwarna hijau selain itu ia juga harus mengatur napasnya seusai berlari. Arima langsung menyeret tubuhnya dengan cepat sampai ke sebrang jalan karena ia tahu betul pertigaan ini cukup berbahaya, Haise setengah berlari supaya bisa menyesuaikan kecepatan papanya.
Arima menggiring Haise untuk menaiki anak tangga paling kiri terlebih dahulu sambil memperingatkan putranya supaya naik perlahan tanpa ada desakan untuk terburu-buru. Laki-laki berkacamata itu mengikuti di belakangnya sambil terus memegangi tangan putra tunggalnya, ia melarang Haise untuk menyentuh railing tangga karena alasan kebersihan.
Haise kecil berusaha menaiki anak tangga yang curam tersebut hingga ia terengah-engah. Papanya membantu menyeka keringat yang sudah membasahi keningnya sembari mengusulkan supaya tetap tenang dan fokus mengatur napasnya terlebih dahulu sebelum melanjutkan pendakian.
"Sedikit lagi sayang kita hampir sampai." Arima berkata menyemangati putranya yang seperti akan pingsan.
Mereka menyelesaikan anak tangga terakhir bertepatan dengan melintasnya kereta Commuter dari arah utara, seketika kelelahan yang ada ditubuh kecil Haise menghilang saat ia melihat kendaraan panjang itu melintas dengan gagah dari kejauhan.
"Papa, bisakah kita berhenti sebentar disini?" Pinta Haise kecil penuh harap.
"Tentu, sayang." Arima langsung menyetujui tanpa pertimbangan lebih dulu. Mereka berjalan di sepanjang pagar baja tinggi yang membentang memisahkan jembatan penyebrangan ini dengan jalur kereta.
"Papa, bisakah kita menunggu sampai kereta cepat lewat?" Tanya Haise saat mereka tiba di titik yang tepat untuk melihat kereta yang melintas. Papanya menyetujui sambil tersenyum, ia masih memegang pergelangan Haise supaya ia tidak kabur dan menyusahkan pejalan kaki lainnya.
"Maukah Papa menggendongku? Aku tidak bisa menonton keretanya dengan jelas."
"Melihat, sayang. Menonton itu hanya bisa kamu lakukan saat kamu di depan tv atau sirkus." Koreksi laki-laki berkacamata itu sambil mengangkat tubuh jagoan kecilnya. Haise menghadiahi pipi Arima dengan kecupan sebelum ia melingkari kedua lengan ke lehernya dengan manja. Arima lagi-lagi bersyukur punya anak yang peka terhadap kasih sayang, ia membalas kecupan putranya itu dengan membelai kepalanya dengan lembut. Mereka berdua masih memantau ke kanan dan ke kiri, menanti lewatnya kereta cepat favorit Haise dari ke empat lajur kereta yang tersedia dengan penasaran. Dari rel paling jauh arah selatan sebuah Commuter tampak kembali melintas setelah berhenti memuat penumpang di stasiun yang terlihat beberapa puluh meter dari tempat mereka.
"Lihat, Papa!" Seru Haise kecil sambil mengangkat kepalanya.
"Ya, sayang. Papa bisa lihat dengan jelas." Sahutnya lantang, suara mereka hampir teredam oleh bunyi kereta yang lewat.
Haise tertawa dengan gembira sambil melambaikan tangannya hingga kereta itu menjauh dari penglihatannya.
"Papa, apakah kereta tadi mempunyai nama?" Tanya Haise kecil merujuk ke kereta yang baru saja menjauh.
"Tentu saja, sayang." Jawabnya sambil mengangguk kepada Haise. "Mereka memiliki nama, tentu saja. Namun nama mereka berbeda dibanding namamu. Para masinis memberikan mereka nama dengan kode yang terdiri dari angka, bukan dengan huruf. Kau tahu, angka?" Jelasnya saat kedua mata putranya mengerjap-ngerjap bingung.
"Angka, Papa? Kenapa harus pakai angka? Apakah pak masinis tidak mengerti huruf? Mungkin aku bisa mengajari mereka."
"Bukan, sayang. Mereka memberikan angka karena kereta-kereta itu lahir ditempat yang sama pada waktu yang berdekatan, jadi ketika kereta itu rusak atau sakit, pak masinis hanya tinggal membawa mereka ke tempat yang sesuai dengan kode mereka dan melapor pada dokter spesialis yang menciptakan kereta itu. Kamu mengerti?"
"Dokter, Papa? Apakah kereta juga memiliki dokter?"
"Tentu, sayang. Mereka punya dokter sama sepertimu. Bedanya, mereka diberi julukan Mekanik. Mereka akan mengobati kereta-kereta yang sakit itu hingga sembuh." Arima mencuri kesempatan untuk menyambar pipi bulat Haise yang menggemaskan.
"Apakah kereta juga bisa demam sepertiku, Papa?"
"Tentu, sayang. Menurutmu apa yang terjadi jika kereta itu disuruh mengangkut penumpang seharian tanpa ada istirahat? Mereka sama sepertiku atau kamu, mesin mereka punya batas kelelahan sayang, kalau mereka tidak berisitirahat mereka akan sakit dan mogok."
"Sama seperti mobil Papa?"
"Tepat sekali."
"Apa nama mobil Papa juga dari angka?"
"Ya, sayang. Mobilku namanya terdiri dari deretan angka, karena aku tidak menyukainya aku memberikannya nama sendiri."
"Benarkah?" Tanya bocah itu antusias. "Bisakah aku memberinya nama juga?"
"Kamu bisa memberi nama pada mobilmu sendiri, sayang. Mobil itu punyaku jadi aku berhak menamakan mobil itu."
"Kumohon, Papa?"
"Hm?" Gumam Arima pura-pura berpikir. "Baiklah, sayang. Tapi satu nama saja, oke? Pilih satu."
"Yeay!" Jerit bocah kecil dalam gendongannya itu tak lupa ia mengecup Papanya seraya berkata, "Terima kasih, Papa. Haise sayang Papa."
"Ahh, lihat!" Pekik Arima ketika kereta cepat melintas tanpa suara dengan gagah dari arah utara di lajur ketiga.
"WOOOW! KERETA CEPAT! KERETA CEPAT!" Teriak putra semata wayangnya itu dengan sangat antusias, wajahnya terlihat sesegar seperti baru dibelikan mainan baru. Ia belum berhenti melambai pada kereta panjang itu sampai gerbong terakhir menghilang dari penglihatan mereka.
Beberapa pejalan kaki ikut tertawa melihat tingkah polos Haise, namun ada beberapa juga yang terlihat tidak nyaman dan terganggu.
"Aku rasa cukup melihat kereta cepatnya, Sayang. Schlosspark sudah menanti kita." Ucap Arima sambil menurunkan Haise. Pemuda kecil itu menyetujui karena sudah merasa puas bisa melihat kereta idolanya. Mereka berdua kembali berlari beriringan setelah menuruni anak tangga.
Jarak Schlosspark dari jembatan raksasa itu tidak terlalu jauh, bahkan faktanya setengah bagian dari jembatan penyebrangan merupakan bagian dari Schlosspark. Area taman kota itu cukup besar, terdiri dari danau kecil yang bisa berubah jadi tempat ice skating saat musim dingin tiba, hutan mini dengan pohon-pohon ek yang hijau dan menentramkan biasanya para lansia menghabiskan waktu mereka disini, kemudian terdapat wahana skateboard, sepatu roda, lapangan basket, tenis meja, taman bermain anak usia 8-15 tahun, beberapa titik keran air minum, taman bunga yang mekar dengan sempurna di musim semi dan area yang paling disukai oleh Haise yaitu area melompat trampolin.
Mereka terlebih dulu melewati danau kecil dan hutan yang sejuk dan hijau, mereka bisa melihat jalanan yang mereka lalui dari seberang sini, air sungainya jernih membiaskan sinar matahari yang semakin tinggi, sudah ada beberapa orang yang mengisi bangku-bangku dihutan mini tersebut. Arima masih harus menempel pada Haise karena terdapat kemungkinan anak-anak ceroboh yang melintas dengan skateboard mereka. Ia memperhatikan sekeliling dari balik kacamatanya, memastikan jalur yang mereka lewati aman dan kosong, sehingga bayangan kecelakaan atau hal-hal buruk lainnya tidak terjadi.
Mereka berlari di jalan setapak kecil yang terbuat dari batu. Haise mempercepat gerakan kakinya saat menerima sinyal aman dari Papanya. Ia berlari melewati Papanya hingga mereka keluar dari hutan dan dihadapkan oleh taman berumput hijau yang segar. Pemuda cilik itu berbelok ke lapangan berumput dan meluncur seperti roket kecil, kaki kecilnya berlari sampai ke atas bukit.
"Lihat Papa!" Jeritnya kegirangan. "Sekarang aku lebih tinggi darimu! Hahaha!" Kedua kakinya menuruni bukit tanpa rasa takut kemudian kembali menghampiri Papanya yang tengah berlari di trek lari yang tersedia.
"Mau lihat siapa yang lebih cepat sampai trampolin, sayang?" Tanya pria berkacamata itu memperhatikan putranya yang tidak berhenti melompat-lompat.
"Dalam hitungan ketiga kita akan berlari dengan cepat sampai wahana trampolin. Siap?"
"Yeahh!" Jerit bocah berambut hitam putih itu sambil menawarkan diri untuk berhitung. Saat Haise selesai menghitung sampai angka tiga, mereka berdua berlari sekencang yang mereka bisa, Arima mendahului putra satu-satunya itu dengan mudah, sementara Haise kecil tengah berjuang mempertipis jarak dengan Papanya.
"Aku pikir kamu lebih cepat dariku, sayang." Teriak laki-laki berambut putih itu memotivasi putranya, ia memutar badannya ke belakang dan berlari mundur, memperhatikan wajah menggemaskan Haise yang sedang berjuang mengejarnya, Haise lebih terkejut lagi saat melihat kemampuan ayahnya berlari mundur, dengan sekuat tenaga ia mengerahkan seluruh kekuatan terakhirnya untuk mengejar sang Papa yang sebentar lagi sudah mencapai garis finish.
"Yeah! Papa menang." Ucap Arima saat ia melangkah di wahana trampolin yang didominasi hijau. Haise masih berada jauh di belakangnya, ia membungkuk sambil merentangkan kedua tangannya ke depan, menunggu buah hatinya menyelesaikan sisa treknya dengan sabar, ketika Haise semakin mendekat dan berada di jangkauannya, ia mengangkat tubuh anak itu dan mendekapnya dengan erat.
"Selamat sayang, kamu berhasil." Bisik Arima mengabaikan peluh yang mengalir di wajah putranya. Ia mencium sembari menyeka keringat dari muka bulat Haise yang bersemu kelelahan.
"Apa kamu haus?" Tanpa perlu menunggu respon Haisepun ia sudah tahu bahwa makhluk kecil ini kehausan. Ia lantas membawa Haise sampai ke keran air minum terdekat. Arima menurunkan Haise dan mencoba air keran umum itu terlebih dahulu, ia membuka mulutnya dan meneguk air yang menyembur ke atas dengan hati-hati. Haise memperhatikan aksi Papanya sambil terkikik.
"Apa yang kamu tertawakan, kawan kecilku?" Tuduh Arima mengangkat sebelah alisnya, kemudian meletakkan salah satu kakinya diatas batu besar di sebelah sumber air buatan itu dan mengangkat tubuh Haise hingga ia bisa duduk dipahanya, tangannya membimbing kedua tangan Haise agar berpegangan pada tepian keran lalu dengan perlahan merundukkan tubuh putranya hingga mulutnya bisa meraih air yang masih menyembur.
"Telan perlahan, sayang." Bisik Arima membimbing bocah berambut hitam putih itu supaya tidak tersedak, anak itu berhenti sendiri sampai rasa hausnya hilang.
Haise kecil sudah membuka sepatunya terlebih dahulu dan berlari secepat angin menuju salah satu trampolin yang berada disana.
"Haise, kamu belum merapikan sepatumu dengan benar!" Ucap Arima melihat sepatu anak laki-laki itu berserakan di pintu masuk wahana sementara Haise sudah mengabaikan kehadirannya dan mulai melompat-lompat di trampolin yang tersedia.
Anak kecil tetaplah anak kecil, pikir Arima. Mereka akan mengabaikan tanggung jawab mereka segera setelah ada mainan baru di depan mereka, begitu pula dengan Haise. Arima meletakkan sepatunya dengan rapi di bibir wahana dan menyusuri permukaan karbon yang menyelimuti area melompat-lompat tersebut hingga menemukan tempat putranya melompat-lompat.
"Haise, kamu belum merapikan sepatumu, nak." Gumam Arima berusaha membujuk bocah itu, namun ia tidak mendapat respon dari Haise kecuali jeritan-jeritan riang saat ia melompat lebih tinggi di trampolinnya.
"Haise, apa kamu dengar kata-kataku?"
"Uh-huh." Respon Haise sekenanya.
"Tolong lakukan seperti apa yang kuminta, nak. Sekarang."
"Tunggu sebentar, Papa. Aku akan melompat tinggi terlebih dahulu." Ungkap pemuda kecil itu memohon penundaan.
"Tidak, sayang. Aku ingin kamu melakukannya. Sekarang." Sanggah Arima sambil menggeleng, ia masih berusaha bersikap lembut pada Haise.
"Tunggu." Celetuk bocah kecil itu masih melompat-lompat pada trampolinnya. Arima pun menunggunya dengan sabar, ia menghitung sendiri sampai hitungan ketiga namun tidak kunjung melihat anaknya beraksi seperti yang ia minta.
"Haise, aku memintamu untuk merapikan sepatumu, sekarang juga!" Hardiknya menginterupsi kesenangan putra kecilnya. Haise kecil tampak terkejut saat mood Papanya tiba-tiba berubah. Anak itu sedikit bergidik melihat aura disiplin yang terpancar dari tatapan Papanya. "Sekarang juga."
Kegugupan masih terlihat dari kedua mata Haise. Ia menyanggupi permintaan papanya sedetik kemudian, "Baik, Papa." Pemuda kecil itu mengangguk lemah sambil berlari ke arahnya masuk tadi, Arima melihat perilaku putranya dari kejauhan sambil menyesal telah meninggikan suaranya, Haise mengangkat kedua sepatunya dan tanpa sengaja menemukan sepatu papanya, bocah itu meletakkan kedua sepatunya persis disebelah sepatu Arima sambil merapikan dua pasang sepatu itu sesuai yang diinginkannya, Haise kembali menghampiri trampolinnya segera setelah ia selesai merapikan sepatunya.
"Aku melihatmu merapikan sepatuku, sayang." Ujar Arima menangkup kedua pipi Haise yang menggemaskan. "Terima kasih banyak, ya. Maafkan Papa tadi menakutkanmu." Ia menyerang kedua pipi Haise dengan ciuman-ciuman penuh cinta, pemuda cilik itu kembali sumringah dan membalas ciuman yang diterimanya. Arima membelai kepala Haise dengan lembut seraya membuka jaket putra kecilnya itu.
"Baiklah sekarang aku ingin melihat jagoan kecilku ini melompat sampai ke angkasa." Ungkapnya melepas jam tangan yang di pakai Haise. "Apa kamu bisa melakukannya, sayang?"
"Tentu saja aku bisa!" Sahut Haise berapi-api. "Lihat saja, Papa. Aku akan melompat sampai ke bulan."
Arima tertawa mengiyakan reaksi anak semata wayangnya itu. "Baiklah sayang, kita punya sepuluh menit disini jadi kamu bisa melompat sesuka hati sebelum kita melanjutkan lari pagi kita, setuju?"
"Setuju!" Haise berjinjit sampai ke trampolinnya dan mulai melompat-lompat dengan lincah—
-To Be Continued-
a.n: Schlosspark merupakan salah satu taman hijau yang ada di distrik Wilmersdorf-Charlottenburg arah Bandara Tegel di kota Berlin. Karena lokasinya percis sebelahan sama istana Charlottenburg, makanya taman ini bernama Schlosspark, dalam bahasa Jerman, Schloss berarti istana. Saya belum pernah ke Tokyo dan tidak mengerti percis topografi kotanya, makanya saya mengadopsi tempat berdasarkan pengalaman saya saja. Taman ini kalau di akses dari subway station Mierendorffplatz memang punya jembatan penyebrangan yang bersebelahan sama jalur kereta cepat dan kereta dalam kota. Oia Schlosspark ini juga bukan nama resminya lho, saya kurang tahu nama resmi taman ini apa Cuma karena teman-teman kebanyakan nyebut Schlosspark, makanya saya ikut-ikutan bilang Schlosspark oh, satu lagi, saya agak lupa apa taman ini punya wahana trampolinnya, kalau wahana trampolinnya saya adopsi dari taman Gleisdreieck ._.v
Mohon maaf atas penjelasannya yang kepanjangan, dan mohon maaf juga kalau chapter kali ini bisa sampai 10 halaman karena tangan saya ga kunjung berhenti untuk ngetik kegiatan Papa Arima bersama Baby Haise nya.
Kritik dan Saran are welcome.
See you next chapter, Cheerio 3 3 3
