Sequel of
'I was smiling here'
.
By
Kuro Phantomhive
.
.
.
"..Haa-hhah! S-sasu-ke! T-tunggu sebentar! Haah.. haa.."
"Kumohon.. beritahu aku.. apa ada cara.. bagaimana bisa menyelamatkan.. G-Gaara.."
"..Apa katamu?"
"..A-aku.."
"Kau ini bodoh atau apa? Kau sudah terlambat. Terlampau lama terlambat. Sadarlah kalau Gaara sudah mati."
"A-aku.. tahu itu.. m-makanya.. t-tapi.. kau kan sempat bertemu dan melihat.. Orochimaru. Apa kau.. pernah melihat dia mencoba membangkitkan mayat..?"
"Hh. Kau ini benar-benar tak akan menatap kenyataan atau apa? Satu-satunya yang kulihat bukannya membangkitkan mayat atau kembali menghidupkan orang mati. Tapi Orochimaru yang mencoba membangunkan mayat, memperpajang hidup yang seharusnya tak bernyawa. Kembali membuat penderitaan mereka yang sudah mati menjadi semakin menyakitkan dengan cara kembali dihidupkan seperti vampire. Bahkan tidak bisa mati lagi. Itu kutukan namanya, bukan membangkitkan atau resep kehidupan maupun semacamnya. Sekalipun itu Gaara. Kejam kalau kau membuatnya menderita di kedua kalinya dengan mengutuknya harus hidup lagi seperti itu."
"A-ku.. tidak. Bukannya.. aku kejam padanya. Aku tahu itu salahku dan aku bersalah.. namun waktu itu.. aku memintanya untuk-.. L-lagipula aku tidak bermaksud menyakitinya ataupun membuatnya terluka waktu itu!"
"Kau benar-benar yang terbodoh."
"A-.."
"Bukankah sudah kukatakan jangan kejar aku. Jangan cari aku. Aku tidak ada urusan lebih denganmu. Dan aku tidak akan suka kau ikut campur urusanku. Karena tujuanku adalah merebut kembali kakakku dari Orochimaru. Makanya aku mengejarnya dan memburunya. Urusan Gaara, itu salah kau. Memang kau bersalah. Dan tak berfikir."
"S-sasu..ke.. aku.."
"Kau seharusnya tidak mengacuhkan Gaara. Kau tahu ia menyukaimu. Tapi kau malah membuatnya terbunuh. Sia-sia dengan membawaku kembali kesini? Kau tahu kenapa Orochimaru dan Kabuto membiarkanku pergi bersama Gaara yang sekarat? Itu karena dia memanfaatkan Gaara. Percuma kau membawaku kembali ke konoha. Karena Orochimaru tahu bahwa aku akan kembali mengejarnya untuk mendapatkan kembali Itachi."
"Kenapa.. K-kau tidak menjelaskan sebelum pergi!? Hiks.. Sasuke.. Padahal aku menyukaimu.."
'Rupanya aku masih terlena dengan perasaanku? Kenapa..? bukannya sebelumnya aku begitu menyesal soal Gaara? Bukankah aku.. tapi.. kenapa..? ada apa denganku..? mana yang benar.. dan mana yang bohong..? aku harus bagaimana menyadarkan hatiku?'
"..apa? kau bercanda? ..'Padahal aku menyukaimu?'. Sebelum kau berfikir egois dan menyebabkan Gaara terbunuh, seharusnya kau berfikir! 'Padahal Gaara menyukaimu'! jangan konyol dan mengharapkan apa yang mustahil! Seharusnya kau menghargai apa yang kau miliki! Sekarang kau merasakan sendiri, bagaimana rasanya sakit saat dibuang. Gaara lebih hancur dari itu. Lebih menderita dibandingkan penderitaanmu."
"..ha..hiks.. G-..gaa..ra.."
"..tck. Cukup. Aku muak. Jujur saja, aku memang pernah dengan tidak sengaja berkata kau penting untukku. Maksudku.. kalau aku berada dekat denganmu.. mungkin aku akan bisa bertahan dari ancaman karena kau terlindungi. Well.. setidaknya.. sampai aku dapat lebih banyak kabar jelas tentang Kakakku. Dan ketika aku telah mendapatkan titik terang, Aku bersumpah pada diriku sendiri dan juga demi Kakakku. Aku akan hentikan semua kekonyolan berpura-pura jadi kekasihmu. Meski aku menyesal berada bahkan terlampau dekat sampai menyebabkan kau berkhayal berlebihan dan menyia-nyiakan Gaara."
"..U-..U..so.. datta..?" (read: Kau berbohong, 'kan?)
"Aku tidak berbohong."
"Usoo! Hiks.. bohong..! aku tahu itu kesalahanku.. tapi.. aku benar tidak percaya semua itu! Kau bahkan.. berbohong dalam segala hal!"
"Aku benar-benar menyesal Gaara sampai seperti itu."
"Ini bukan tentang Gaara, kuso Teme!"
"Tentu saja ini semua tentang Gaara, bodoh!"
"Salahmu.. hiks.. salahmu karena membohongiku sejak awal, Sasuke!"
"Tetap saja itu salahmu. Kau melibatkannya. Kau melibatkan segala hal, kau juga melibatkanku. Padahal kesalahanku yang paling pertama dan paling tak termaafkan hanya.. Melibatkanmu yang tidak bahkan membuka mata lebar-lebar dengan bagaimana sesungguhnya dunia berputar di sekelilingmu."
"..Sa..su.. hiks.. Kau, sampah."
"Kau lebih sampah, karena menyukai sampah."
"..sial..an.. hiks.. Persetan dengan cintaku padamu!"
"..."
'Sesaat lagi.. kini satu hal lagi. Satu hal terakhir yang kukenal baik. Yang kufikir kumiliki. Akan meninggalkanku lagi. Pergi. Menyusul impiannya masing-masing. ..kecuali aku. Satu-satunya yang tertinggal karena tidak cukup kuat untuk berdiri dan berlari mengejar Impianku. Mengejar Gaara. Mengejar Kematian.'
.
Naruto's POV,
Sakit.. sesak.. rasanya begitu sakit sekali sampai aku ingin memecahkan kepalaku dan merobek lubang pernafasanku. Hidungku terasa sempit. Paru-paruku seakan telah teracuni. Tidak mampu menghirup udara bebas.
Ternyata begini rasanya.. begini rasa sakitnya saat aku melempar Gaara seperti sampah.
Sakit sekali.. ternyata aku telah menyakitinya bermilyar kali lebih perih dari ini. Wajar.. tak ada manusia yang sanggup hidup dengan penderitaan.
Meski Gaara dan aku adalah Monster.
Meski semua orang meneriaki kami terkutuk.
Kami saling memiliki.
Saling melindungi.
Saling menyembuhkan luka perih masing-masing.
Namun kini aku tak memilikinya lagi. Bagai udara kotor yang kubuang, kuhempas kesana sini. Dan berlari kegilaan mencari-cari oksigen. Karbon dioksida itu kukusingkirkan jauh-jauh layaknya aib.
Layaknya sebuah aib paling memalukan. Pantaskah seorang manusia malu menanggung hidup karena kenyataan bahwa dia butuh oksigen sebagai pasokan jiwa yang utama.
Memang.
Tidak pantas.
Padahal harusnya berdampingan. Berdampingan mengatur udara dan partikelnya. Berdampingan menyulingi karbon dioksida dan me-recycle nya lewat pepohonan kembali menjadi oksigen.
Aku telah lupa. Melupakan hal yang begitu sangat kubutuhkan sebenarnya. Melupakan hal terpenting yang pertama kali kumiliki dulu.
Aku lupa bernafas.
Aku lupa bagaimana caranya tersenyum dalam hidup.
Aku menjadi arrogant. Egois. Tidak ingin menghirup Oksigen murahan ataupun karbon dioksida menjijikan. Terlalu tidak berkelas. Rasanya tak ada yang selevel denganku. Semuanya tidak cocok.
Akhirnya aku mengerti.
Aku. Hanya ingin Gaara.
Namun, apa aku telah salah melangkah?
Bukan ke sebelah sana.
Bukan tempat dimana Sasuke berpijak dan terus terbang mengejar kakaknya.
Dan juga bukan jalan tua berlumut yang tengah kupijaki.
Alasanku untuk terus bergerak maju, adalah mencari keajaiban itu.
Keajaiban yang entah kemana lagi aku harus mencarinya?
Aku telah menyusuri tiap pelosok desa dari siang hingga petang menjelang. Menghiraukan kulit jari kakiku yang lecet dan gemetar karena dipaksa terus berjalan.
Bertahan sekuat yang kubisa demi menahan air mata ini mengalir lagi.
Mencoba tetap membuka mata agar dapat melihat setiap objek dengan jelas meski pandanganku buram dan mataku perih. Terus memaksa otakku yang telah lelah untuk terus berfikir.. kepalaku berdenyut.
Demi Gaara. Demi menebus dosaku, yang meski kutahu tak akan mungkin terampuni.
Setidaknya, bagaimana caranya.. aku harus menemukan jalan keluarnya.
.
.
"Maaf aku terlambat!"
Apa.. yang mereka lakukan?
"Hentikan!"
"Oi Naruto! Apa yang kau lakukan!?" teriak Shikamaru ketika aku menariknya yang akan membawa tubuh Gaara ke dalam peti.
"Diam Shikamaru! Justru aku yang harusnya bertanya apa yang akan kau lakukan dengan Gaara!?"
"Tentu saja aku akan memasukkannya kedalam peti ini, berhenti mencegahku karena tanganku tidak kuat menahan ini lama-lama lagi..!"
"Uso, yamete..! dame! Yamete Shikamaruu!" /Read: Bohong, hentikan..! Jangan! Hentikan Shikamaru!/
"Naruto.. sudah cukup kau meratapinya. Kami tidak bisa menunggu lebih lama lagi." sahut Sai.
"Sai! Hentikan ini! Jelaskan padaku alasan dari semua ini..!"
"Naruto, jangan membuat keributan ditempat ini. Kami akan segera menguburnya."
Kenapa.. Apa yang Kakashi-sensei katakan?
"..d-dikubur..?"
"Ya, dengan kata lain.. ditempatkan terpisah, dengan yang masih hidup."
"N-.. Na..nande?" /Ts : A-.. a..apa?/
Ditempatkan terpisah.. dengan yang masih hidup, katanya?
Seenaknya.
"Seenaknya saja kau memutuskannya!?" teriakku.
"Aku memutuskannya berdasarkan kondisi dan keadaan. Bukan atas dasar seenak kemauanku dan tanpa alasan, Naruto."
"Kondisi, katamu? Keadaan, katamu? Omong kosong macam apa itu?!"
"Naruto! Sadarlah akan kenyataan..! Gaara sudah tiada. Jangan memperburuk keadaan dengan sikap konyolmu itu."
Gaara.. mereka bilang sudah mati.
Apa mereka tidak mengerti ?!
Bahwa Gaara masih hidup !?
"Hiks.. Gaara.. masih hidup.."
Jelas-jelas aku masih merasakan keberadaannya yang hangat didekatku kemanapun aku melangkah.
Jelas-jelas aku masih yakin bahwa ada kesempatan!
Tapi kenapa.. mereka tidak percaya.
Dan hanya terkatup menatap jasad yang kaku itu.
Makanya.. oleh karena itu. Sebelum.. Gaara benar-benar dipisahkan. Aku akan tunjukkan bahwa Gaara masih hidup!
dan akan bangun lagi..
"Tidak.. jangan. Kumohon beri aku kesempatan Sai! Jangan pisahkan Gaara! Jangan kubur dia..!"
"Bukan aku yang mampu memberikanmu kesempatan, Naruto."
"Dame.. hiks.." /Read : Jangan.. /
Aku harus menghentikannya.
Hal ini tidak boleh terus dilanjutkan..
Bukan begini seharusnya
Jalan keluarnya tidak mungkin disini!
Bukan tempat dimana sebuah lubang berukuran satu kali dua meter sedang digali untuk tempat bersemayam sesosok tubuh tak bernyawa itu lagi.
Dan bukan juga, hutan gelap dibelakangku yang berisi beberapa kegelapan dunia beserta kekuatan gelapnya yang begitu memukau. Yang menawarkan begitu banyak hal mudah yang dapat kulakukan untuk kembali mengejar Gaara.
Bukan mayat kaku disampingku.
"Tidak.. hiks.. itu bukan Gaara..."
Tapi Gaara seutuhnya.
Yang tersenyum meski datar.
Yang dapat kurangkul meski hanya terdiam.
Dan Gaara.. yang menyahut.. ketika kupanggil.
"Itu bukan Gaara, bodohh!"
Bukan Gaara satu ini, yang bahkan aku menangispun.. ia tidak berkenan membuka matanya untuk sekedar memelukku.
.
Ketika secercah harapan kecilpun kini hendak terkubur bersama tubuh itu.. apa yang dapat kulakukan selain menangis?
Mencari jalan cerah lainnya?
Bernyanyi?
Menari?
Atau bahkan ikut terjun ke lubang itu bersamanya?
Agar selalu memastikan bahwa ia tak kedinginan dan kesepian sendirian dibawah sana?
Atau mungkin.. memukul semua orang agar tidak sadarkan diri dan membawa kabur mayat itu?
Mayat itu dipanggil Gaara.
Disebut Gaara.
Tertulis jelas di sebuah batu tua ukiran namanya.
Aku sungguh benci. Kenapa harus tulisan jelek yang mengukir namanya?
Ia pasti lebih suka mengukir namanya sendiri andaikan sempat.
Disaat air mata terakhir jatuh ke atas permukaan bumi.
Harapan yang hilang. Seharusnya bisa ditemukan kembali oleh sesosok lain yang sebelumnya pernah redup cahayanya juga. Seperti orang disebelah sana.
Sai.
Ya.. Sai.
.
"Sai." panggilku.
".." sesaat orang yang kupangil namanya menoleh.
"Saat secercah harapan hancur. Apa seluruh kenangan akan hilang?" tanyaku.
Mengheningkan suasana sejenak. Membuat aktifitas terakhir yaitu menutup peti mayat tersebut terhenti.
Semua orang tertunduk terdiam.
"..Harapan selalu berputar. Hancur. Melebur. Kemudian muncul lagi. Bahkan hancur lagi. Dan terus terulang hingga beribu kali. Namun hanya kenangan yang terus membuat harapan yang hancur tersebut mampu dirangkai kembali. Kenangan.. tidak ada gantinya. Meski ada kesamaan. Namun beda perasaan."
"Jadi.. begitu ya.. aku mengerti." aku bergumam kecil saat beberapa orang masih terperangah menatap Sai kagum.
"Kalau begitu.. akankah dunia beserta isinya mengizinkanku bermalam sekali dengan tubuh berharga ini?" aku menunduk dan tersenyum miris. Dengan air mata berlinang, menatap raut wajah dingin di tubuh kaku Gaara yang tak bernyawa itu.
"Andai ada sesuatu lebih baik yang dapat dunia lakukan untuk membantumu kembali meraihnya. Kami pasti berikan yang dibutuhkan." beberapa orang yang ikut datang ke upacara pemakaman menyahutku, tanpa aku menoleh menatap mereka.
Mereka pergi.. berjalan menyebar. Menjauh. Menghilang dikejauhan.
Meninggalkan kenyataan di lubang kubur ini.
Menyerahkan keputusan ditanganku.
Mempercayakan Gaara kepadaku.
Aku yang bahkan mungkin tidak pantas dipercayai oleh Gaara. Malah mendapat kepercayaan mengurus tubuhnya kini oleh orang disekitarnya. Ah, apa ini yang namanya cinta?
Masing-masing tahu rasanya. Namun selalu tak sama.. iya 'kan?
.
"Nee Gaara.. hanya kita berdua sekarang disini. Andai aku dapat mempelajari jurus zombie aneh seperti seorang anggota akatsuki yang pernah kutemui. Mungkin aku bisa membuatmu tetap hidup.."
Ah.. tapi tidak. Aku berfikir.. lagi.
Mungkin.. Sasuke benar. Apa jika aku berhasil..? aku hanya akan membuatnya semakin menderita?
Apa jika.. aku berhasilpun.. Gaara tak akan tersenyum lagi?
"..Naruto.." sumber suara, dibelakang pohon.
"Sai.. kau masih disini?" tanyaku pelan.
"Bingkai foto Gaara. Aku menemukannya didekat lubang." Ia menyerahkannya padaku.
Krek!
"Ah!" terkutuk.
Apa yang dilakukan Sai? Apa aku baru saja memandangnya yang sedang merusak bingkai tersebut? Katakan ini hanya bercanda.
"..S-sai. Apa yang kau.. lakukan? kau merusaknya..?"
".." ia hanya terdiam. Berjalan mendekat. Menyerahkan bingkai patah tersebut padaku.
"Apa maksudnya ini!" aku berteriak keras dan membentaknya.
Tes!
Setetes air mata mengalir dipipiku.
"Kau harus kuat Naruto."
"Jangan main-main denganku..!" tangisku pecah.
"Jangan.. membuatku semakin membencimu Sai.." kataku pelan.
"Kau harus hadapi kenyataan. Itu adalah ninja yang sebenarnya 'kan?"
"Ka-kau. Kau bahkan tak mengerti makna sebenarnya dalam hidup! Jadi jangan coba mengguruiku soal jalan ninjaku!"
"Aku mengerti."
"Pembual! Dasar brengsek! Apa yang kau sebut mengerti?! Hidup bukanlah kata-kata yang kau artikan dari buku sastra! Hidup bukanlah membuat gambar dan membuatnya bergerak! Kau tidak mengerti Sai! Kau tidak akan pernah mengerti! Kau seharusnya tahu itu! Dan jangan lagi mengatakan apapun, karena setiap perkataanmu adalah bohong Saaai!" jeritku keras.
"..." sesaat aku menangkap bayangan matanya yang terbias sedikit genangan air mata.
Plak!
"..!" aku terjatuh.
Sai menamparku.
"Kau yang brengsek." suaranya. Sai. Suaranya berubah getar dan berat.
"..Kau fikir. Kau satu-satunya yang mengerti soal hidup, hah? Kau fikir.. hidup ini hanya berisi tentang hidupmu sajakah?!" teriaknya.
"Kau fikir.. menurutmu aku tidak mengerti semua perasaan itu?" lanjutnya.
"Memangnya apa yang kau mengerti? Kau tidak akan pernah mengerti apapun. Karena kau tidak merasakannya..!" aku balik berteriak dengan tatapan tajam.
Plak!
Sekali lagi. Si brengsek ini menamparku seenaknya.
"Hanya karena si bisu sepertiku tidak pernah bicara, bukan berarti aku tidak mengerti. Aku juga pernah kehilangan seorang kakak. Jadi jangan seenaknya mencap seisi dunia tidak mengerti. Malah justru kau sendirilah yang tidak mengerti tentang dunia. Dunia juga punya kehidupan. Bukan hanya kau." katanya tajam.
"..." aku terperangah.
"..Lalu. Kau puas setelah menamparku dua kali? Apa menyadarkanku hanya bisa melalui kekerasan?"
"Aku. Tidak puas. Sebelum kau benar-benar mengerti. Bahwa brengsek sepertimu harusnya jangan egois pada dunia."
"Tche. Aku tidak egois."
"Tidak perduli. Sama saja dengan egois. Berkata kasar. Seolah mencaciku tidak mengerti perasaan. Berkata seolah aku.. tidak pernah merasakan bagaimana memiliki sesuatu yang berharga. Emosiku ingin sekali membunuh brengsek sepertimu."
"Meski kau sedang berduka. Jangan meledekku seperti aku tidak pernah memiliki teman sejak lahir sampai sebesar ini. Jangan seenaknya bilang bahwa aku tidak akan mengerti. Aku juga manusia. Dasar bodoh.."
Cukup sudah.
Memang aku yang salah.
Aku melihat Sai hampir menangis.
Aku.. memang jahat. Dan brengsek.
"Aku mungkin manusia setengah monster. Tapi aku bukan orang gila yang tersenyum dan marah tanpa sebab, Naruto. Bahkan orang bisu pun memperhatikan keadaan dan mengetahui segala sesuatu, namun menyimpan rahasia dunia di bibirnya yang terkunci. Rahasia dimana kau mencari kehidupan. Dan terbuang dari kehidupan."
".." aku hanya bisa terdiam. Semua pernyataan, kini kuredam bersama kebohongan malam dan pengapnya udara dingin tak berangin.
"Relakanlah jasad itu dikebumikan, Naruto. Jika takdir jahat memberimu keberuntungan.. akan ada yang menghidupkannya kambali nanti. Waktu berputar, Naruto. Jangan biarkan tubuh itu hancur sebelum kau berhasil mengembalikan nyawanya lagi. Oleh karenanya, biarkan sang bumi yang menjaganya." aku terperangah, lagi.
Sai.. benar katanya. Aku berusaha melawan waktu. Melindungi diriku sendiri demi mengembalikan Gaara. Namun tubuh itu tak dapat melindungi dirinya sendiri. Harus ada yang cukup kuat untuk kupercayakan. Sang bumi.
"Nee.. Sai. Aku mengerti sekarang.. Sankyu.. aku akan menguburkannya sekarang. Saat ini juga."
Aku berdiri pelan. Mendekati peti berisi tubuh Gaara.
"..Gaara. Aku.. akan menebus kesalahanku. Pasti. Aku akan membawamu kembali lagi. Makanya, tunggulah saja aku. Dan bertahan disini ya. Tidak akan lama.. aku berjanji."
Aku menciumnya. Gaara, sayangnya ini bukan dongeng dari negri Eropa yang dimana kematian akan dihidupkan kembali dengan kecupan cinta murni. Atau mungkin karena cintaku tak cukup kuat dan murni untuk meyakinkan sang pemilik alam agar mengembalikan nyawamu untukku?
Entah persepsi bodoh mana yang kupercaya. Otakku bahkan terlalu bodoh untuk berfikir rasional lagi.
.
.
Sai membantuku, mengebumikan tubuh Gaara. Berdoa bukan untuk ketenangannya di alam sana. Namun berdoa agar Gaara mendengar permohonanku. Permintaan maaf ku. Dan keinginan agar Gaara bersedia menungguku kembali.
"..kau tahu Naruto?" Sai membuka percakapan lagi.
"Jangan meminta maaf soal tamparan itu." sahutku tanpa menolehnya.
"Bukan itu yang ingin kubicarakan."
"..? lalu apa? Sasuke tidak datang hari ini..?"
"..hn, ya. Dia tidak datang.. Aku dengar.. Itachi mati."
"Ah! Apa itu benar? Kau yakin? Itu bukan kabar angin kan?"
"Tentu saja.."
"K-kowaisou.. lalu.. apa yang dilakukan Sasuke?" (read: mengerikan/menakutkan)
"Mengejar Orochimaru, Tobi. Menemui semua yang mengetahui rahasia kemungkinan membangkitkan yang telah mati seperti yang kau lakukan."
"Bagaimana Itachi bisa mati?"
"Dengan tangan Sasuke sendiri, ia membunuh kakaknya. Sebelum mengetahui kebenaran dari Tobi."
"L-lalu–.."
"Sudahlah. Sudah larut. Penghuni hutan akan bermunculan sebentar lagi. Kembalilah ke desa."
"Tch!" tubuhku kaku tidak dapat bergerak ketika kurasakan seseorang seakan mencekik leherku dari belakang.
"Siapa...?" aku berbisik dengan pandangan yang memburam.
"Naruto?" Sai berbalik badan dan melihat Naruto sudah terkulai tidak sadarkan diri.
"Naruto!"
.
"Naruto."
"Ya...?"
"Naruto, Edo Tensei."
"Siapa..? suara siapa itu?"
"Sasuke. Ikutlah denganku. Kita bangkitkan mereka dengan Edo Tensei."
"Edo Tensei..? tapi.. Sasuke.. itu 'kan terlarang.."
"Edo Tensei.. Naruto. Edo Tensei. Pinjamkan aku kekuatanmu."
"Sasuke..? Apa maksudmu Sasuke?!"
~( ^o^ )~
.
To be continued..
.
Haaaah! XD
akhirnya chap 2 selesai!
next chapter! Gaara tiba-tiba muncul didepan mata Naruto,
Request? Boleh..
Vote!
Author's Questions! : Mau dilanjut action atau romance? XD
Saa~ RnR yaa~~
maafkan author terkutuk ini yang udah setahun baru update lagi !
TuT Sampai jumpa~!
Tidak menarik? Iya kuro tahu chap ini belibet.. tapi mau gimana lagi?
selanjutnya lebih menarik sedikit? Banyak juga diusahakan kok! XD
namanya juga author Angst original(?) *plak!
No review? No next Chapter. OwO *Waves
