.

Rasa cinta, rasa suka—

semuanya bertabur menjadi satu

Menghiasi hari-hariku

Menghiasi pesona dunia ini

Tapi—

bagaimana kalau penderitaan yang menghiasi hari-hariku?

Bagaimana kalau isak tangis mereka yang tak bersalah yang menghiasi duniaku?

Apa aku tetap bisa bertahan hidup?

.

"Kita harus bisa, membawa gadis itu kemari," ucap seorang lelaki bertubuh besar dengan suara yang agak berat seperti orang tua pada umumnya.

Seorang lelaki yang kini sedang berdiri tepat di depan lelaki tua itu. Dengan wajah datarnya, ia berkata, "Baik, Tuan."

Seorang anak kecil berambut cokelat duduk di samping lelaki tua itu langsung memprotes keinginan dari lelaki yang sekarang duduk di sampingnya saat ini, "Tuan! Kenapa harus prempuan seperti dia, sih? Anak kecil itu jelek! Pasti tidak enak diajak bermain! Dia kelihatan sangat membosankan! Apalagi, dari gaya dan warna rambutnya itu! Ikh! Benar-benar kuno dan terlihat sudah tua saja! Lebih baik ganti saja dengan gadis berambut merah itu saja, Tuan! Aku lebih suka yang itu. Kelihatannya bisa serius kalau bekerja, `kan? Atau, atau. Kakak orang itu saja, Tuan. Julukannya saat ini saja sudah sangat menyeramkan. Apalagi kalau sudah dewasa, `kan? Pasti akan lebih menyeramkan dan bisa memperkuat organisasi kita! Ayolah, Tuan~"

Sosok lelaki tua yang dipanggil 'Tuan' oleh si gadis kecil berambut cokelat itu tertawa cukup keras. Setelah itu, lelaki tua yang berada di samping gadis kecil itu mengelus rambut gadis itu pelan sambil memberikan penjelasan terhadap gadis kecil itu. "Tidak, sayang. Gadis berambut merah itu masih sangat kuat dalam menghadapi masalah percintaan. Scarlet tidak bisa dipanas-panasi. Tidak seperti anak kecil yang sedang bermain dengan kucing itu. Gadis itu sangat rapuh dan mudah terluka. Ia memiliki kedua kakak, satu kucing yang ia anggap sebagai 'anak', dan juga seorang lelaki yang ia anggap sebagai 'suami'. Walau pun itu hanya permainan, namun bagi gadis polos seperti dia, itu seperti sungguhan.

Berbeda dengan Scarlet. Ia sudah tidak punya kedua orang tua, dan saudara. Bahkan, nama Scarlet pun diberikan oleh temannya sendiri. Bukan dari kedua orang tuanya. Sudah pasti Scarlet lebih tahan. Lalu, kakak orang itu. Apa kau bisa bayangkan betapa sayangnya gadis itu dengan kakaknya? Jika kakaknya meninggalkannya, sudah pasti gadis itu akan balas dendam kepada kita. Ingatlah, dendam yang sangat besar adalah senjata kita. Dan, yang bisa hanyalah gadis itu," jelasnya panjang lebar. Membuat Si Gadis kecil menguap karenanya.

—dan beberapa detik kemudian, Gadis kecil itu hanya bisa mengendus kesal seraya menendang-nendang kursi yang ia duduki saat ini, "Huh! Tuan ini menyebalkan!"

Lelaki tua itu tertawa hingga menimbulkan gema di ruangan yang hanya memiliki sedikit barang tersebut. Kemudian menepuk-nepuk kepala gadis kecil itu dengan manja. Sangat pelan. Agar gadis itu tidak kesakitan. Namun, tetap saja. Walau sudah dimanjakan seperti itu oleh Tuannya sendiri, gadis berambut cokelat itu tetap kesal karena usul nya tidak diterima.

.

YuuKina ScarJou presented—This is Our Life

'Fairy Tail' Belong to Hiro Mashima

Attention! Apabila ada kesamaan cerita, itu hanyalah sebuah kebetulan belaka! Ini hanya fanfiksi, dan kita bebas untuk berkarya!

Warning(s)! AU, OOCness, GaJeness, Typo(s), Rush, boros kalimat, DLDR!, etc.

.

Summary

Senyum, pelukan aku menginginkan itu semua. Tapi, kenapa? Kenapa saat aku kembali, lelaki itu malah akan bertunangan dengan yang lain? Apa yang kurang dariku? Apa aku kurang cantik? Apa karena aku lemah? Atau, hatinya terlah berpindah? Kami-sama, kumohon. Aku bisa gila karena lelaki itu. Aku rela membunuh siapapun agar ia bisa kembali ke dalam keluargaku. Aku ingin seperti waktu itu. Memiliki sebuah rumah kecil yang indah, memiliki seorang anak yang bernama Happy, dan hidup bahagia sampai ajal menjemput …

.

1st Story

Tragedy in Beautiful Summer

.

Lisanna's POV

Musim semi telah tiba. Kini, sudah saatnya untuk kembali memulai berbagai aktifitas yang ada di sekolah. Dan juga di rumah tentunya. Aku, adalah seorang murid SD di sebuah desa yang kecil namun indah dan menyenangkan. Bersama teman-temanku yang lain, aku selalu bersenang-senang bersama mereka semua. Belajar, bermain, bertengkar, berdebat, kami semua selalu melakukannya. Fairy Tail Village, adalah desa yang sangat menyenangkan. Fairy Tail Village adalah satu desa yang tenang dan membebaskan semuanya. Yah, itulah bagian yang paling menyenangkan dari desa yang satu ini. Oh, ya! Jangan lupakan satu hal. Fairy Tail Village adalah salah satu desa yang bisa menggunakan sihir. Ya! Itulah hal yang paling membuat semuanya jadi menyenangkan sangat sangaaat seru!

Setiap hari, bisa bermain dimana pun dan kapan pun. Bolos pun sering kulakukan bersama teman-temanku. Namun, jika kami yang dulu duduk di kelas 2 SD bolos, sering sekali kak Mira, kak Erza, dan juga senior kami yang lainnya mengomeli kami. Bahkan, Natsu yang paling sering bolos pun pernah dihukum untuk membersihkan kelas 1 sampai kelas 6 SD. Tapi, entah apa Natsu masih akan sering mengajak kami semua bolos atau tidak kalau kami naik ke kelas 3 tahun ini. Tapi, aku harap Natsu tidak akan mengajak kami bolos lagi. Aku tidak ingin kalau Natsu dihukum lagi.

"Lisanna! Ayo kemari!" panggil seseorang kepadaku. Ketika aku baru saja memasuki pintu gerbang sekolah yang cukup megah di sekolah kami.

Aku tersenyum, kemudian mendekati dan menyapa kedua kakakku yang bernama lengkap Mirajane Strauss dan Elfman Strauss itu. "Ohayou, kak Mira, kak Elfman …"

"Ohayou, Lisanna," balas Mirajane sambil tersenyum lembut kepadaku.

Jika kalian mendengar bahasanya yang sangat halus kepadaku, mungkin kalian akan beranggapan bahwa kak Mira adalah orang yang sangat baik dan sangat lembut. Namun, sebenarnya kakak perempuan ku yang satu ini sangat menyeramkan. Bahkan kak Mira adalah saingan bagi kak Erza dalam hal siapa perempuan yang paling seram di desa. Aku yang teman-temannku yang lain hanya tertawa ketika melihat perkelahian antara kak Mira dan kak Erza. Begitu juga dengan kak Elfman. Kami semua, sudah seperti saudara satu sama lain.

"Lisanna, ayo semangat untuk hari ini, ya!" seru Mirajane sambil tersenyum penuh semangat.

Aku hanya tersenyum terhadap perkataan kakakku yang satu ini. Aku menatap sebuah pohon sakura yang tepat berada di sampingku sekarang. Musim semi yang baru. Kelas baru. Langit baru. Hari baru. Pelajaran baru. Semuanya akan menjadi baru. Oh, ya. Jangan lupakan sebuah petualangan baru. Ya, itulah yang paling kusuka. Semua akan berubah. Menjadi lebih baik. Dan juga, lebih menantang.

Ketika aku sedang menikamati sejuknya angin musim semi dan indahnya pohon sakura, terlihat seorang lelaki berambut pastel red itu berlari sangat kencang untuk menemui dan menyapa diriku. Aku yang tidak menyadari keberadaannya sungguh kaget. Karena, anak laki-laki yang satu ini berteriak memanggilku begitu saja tanpa melihat keadaan disekitarnya.

"Lisannaaaaa!" sapa lelaki yang akrab dipanggil Natsu ini.

Spontan seluruh orang yang berada di halaman sekolah ikut terkejut. Termasuk juga aku yang sedang bersantai menikmati lingkungan sekolah ketika musim semi. Semua sangat kesal karena tingkah Natsu yang benar-benar membuat orang repot. Termasuk salah satu guru di SD di sekolah kami, yang akrab dipanggil Gildarts-sensei.

"Natsu Dragneel! Kenapa kau berteriak seperti itu, hah?" tanya Gildarts-sensei sambil mencubit kedua pipi mungil anak kecil ini.

"Adu—duh, aduh! Sakit, tahu! Lepaskan orang tua! Hei!" omel Natsu, memaksa lelaki yang cukup tua itu agar mau melepaskan cubitannya yang amat sangat sakit.

Aku yang merasa iba, segera memohon kepada Gildarts-sensei untuk melepaskan cubitannya yang terkenal karena sangat sakit itu. Awalnya, Gildarts-sensei menasihatiku karena aku dianggap ingin melindungi Natsu. Beliau berkata, Natsu adalah anak yang sangat nakal. Jadi, wajar saja jika ia harus diberi sebuah … ah, bukan. Gildarts-sensei berkata, Natsu memang harus diberi pelajaran karena sudah berbuat onar selama bersekolah di sini. Pada akhirnya, aku tidak bisa berbuat apapun dan hanya bisa menyaksikan penderitaan Natsu yang hampir dialaminya.

Aku tahu. mungkin bagi kalian wajar saja jika Natsu dihukum. Pertama, suka berbuat onar. Kedua, suka bolos. Dan segala kenakalan lainnya yang pernah dibuat oleh anak lelaki itu. Namun, justru aku malah merasa iba ketika ia sedang berbuat sebuah keonaran. Kau tahu kenapa?

Natsu tidak memiliki orang tua lagi. Igneel, sang ayah meninggalkannya tanpa memberikan sepucuk surat pun kepada anaknya sendiri, Natsu. Maka itu, untuk menghilangkan rasa sedihnya, ia selalu berbuat onar. Sedangkan aku? Aku masih memiliki dua kakak yang sangat baik. Yaitu kak Mira dan kak Elfman. Itulah yang membuatku menjadi kasihan terhadap Natsu, yang tidak memiliki siapa-siapa lagi.

Kulihat Natsu yang masih berusaha untuk melepaskan dirinya dari 'capit' Gildarts-sensei. Aku yakin pasti sangat sakit. Walau aku sendiri sebenarnya tidak pernah merasakannya secara langsung. Karena, ekspresi Natsu yang menunjukkan betapa sakitnya dicubit seperti itu. Apalagi, kemarin Natsu sempat terjatuh dari pohon sakura sewaktu ingin mengambil bola kesayangannya yang tersangkut.

Semua orang akhirnya bubar dari tempatnya masing-masing dan masuk menuju ke kelasnya. Sedangkan aku? Aku hanya menunggu dan melihat Natsu yang masih juga diomeli oleh Gildarts-sensei. Gildarts-sensei sama sekali tidak menunjukkan keinginannya untuk berhenti mencubit pipi Natsu. Aku semakin iba. Rasanya ingin sekali aku membebaskan Natsu dari hukumannya. Kemudian, tanpa kusadari sesosok perempuan berambut putih melihatku yang masih saja diam di tempatku semula. Kemudian, berlari menuju Gildarts-sensei dengan wajah memelas.

"Gildarts-sensei, ini sudah hampir mau masuk ke kelas enam. Sebaiknya, Gildarts-sensei segera menyiapkan pelajaran untuk kelas kami, ya? Dan juga, lebih baik Gildarts-sensei melepaskan Natsu kali ini. Kasihan dia. Kemarin Natsu terjatuh dari pohon sakura. Kumohon, Gildarts-sensei …." Kak Mira memohon dengan sangat kepada Gildarts-sensei. Wajah kak Mira benar-benar menunjukkan sebuah permohonan yang sangat amat dalam—sebenarnya, itu biasa dan mudah saja bagi kak Mira. Karena, kak Mira adalah seorang perempuan yang sangat pintar berakting. Kuakui itu.

Gildarts-sensei menatap mata kak Mira dalam-dalam. Gildarts-sensei sangat tahu sifat kak Mira. Kak Mira adalah seorang 'iblis berwajah malaikat' bagi kami semua. Yah, itu salah satu julukan kak Mira yang belum kuberitahu sebelumnya. Gildarts-sensei mencoba mencari kebohongan yang terdapat dalam kedua bola mata kak Mira. Namun, setelah beberapa menit mencoba melakukan eye contact, Gildarts-sensei malah berkeringat. Kurasa, Gildarts-sensei kalah beradu mata dengan kak Mira(hahaha).

"Ugh! Baiklah, aku lepaskan," tukas Gildarts-sensei sambil melepaskan cubitannya dari Natsu dengan sangat kasar.

Setelah Gildarts-sensei melepaskan cubitannya dari Natsu, hanya dalam sepersekian detik, lelaki berambut pastel red itu segera melarikan diri dari gurunya yang ia anggap jahat. Ah, tidak. bahkan sangat jahat. Tapi, itu hanya jika Gildarts-sensei mengomeli atau mencubit pipinya.

Sebenarnya, Gildarts-sensei sangat baik kepada kami semua. Bahkan, Gildarts-sensei mau merelakan waktu liburan musim panasnya bersama anaknya hanya untuk mengajari murid yang tidak menguasai sebuah pelajaran. Oh, ya. Gildarts-sensei itu bisa dibilang multi-talent, lho! Karena, beliau bisa mengajarkan dan mempraktikkan apapun kepada kami. Misalnya saja, memasak. Padahal, beliau termasuk ke dalam kaum adam. Tapi, bisa memasak. Hebat, bukan?

"Terima kasih, Gildarts-sensei! Kami masuk ke kelas dulu!" seruku sambil membungkuk sebagai tanda berterima kasih. Tidak lupa kupancarkan sebuah senyuman terbaikku kepada Gildrtas-sensei. Kini, raut wajahku berganti menjadi penuh semangat. Ya, aku sangat senang.

Natsu berlari mendekatiku. Dengan cengiran khas nya yang kembali seperti semula. Aku senang. Ia tidak kesakitan seperti tadi. Walaupun 'suami' ku ini suka berbuat keonaran, tapi aku menyu—ah, tidak. Aku mencintainya. Ya, aku sangat mencintainya. Lebih dari apapun. Dan lebih dari siapapun. Aku tidak pernah memikirkan diriku sendiri. Di otakku, di hatiku, semuanya hanya ada Natsu. Tidak ada yang lain. Bahkan, nyawa pun akan kuberikan kepadanya jika Natsu ingin. Seperti itulah rasa cintaku terhadap Natsu. Bagiku, Natsu adalah jantungku. Yang jika menghilang, aku akan mati seketika.

Lelaki berambut pastel red itu menepuk bahu mungil ku dengan lembut. Kemudian mengajakku untuk masuk kedalam kelas. "Lisanna, ayo!"

Spontan aku mengangguk pelan kepadanya. Natsu tersenyum lebar, kemudian meraih tangan kananku. Lalu mengajakku berlari menuju kelas. Aku hanya menyesuaikan langkah ku dengan lelaki itu. Walau pun agak sulit, aku terus berusaha menyesuaikannya. Hingga, kami berdua pun berlari dengan kecepatan, dan juga ritme yang sama.

Aku berharap, akan terus begini. Berlari dengan ritme yang sama. Detak jantung yang sama. Rasa suka yang sama. Rasa kekeluargaan yang sama. Dan jangan lupakan, rasa cinta kami berdua yang tidak akan berubah …

:':….:':…:':…:':…:':…:':…

Teng … Teng … Teng …

"Baiklah. Lonceng tanda pulang sekolah sudah berbunyi. Sampai jumpa lagi, ya. Jangan lupa kerjakan pekerjaan rumah kalian. Walaupun besok adalah hari libur," pesan seorang wanita yang bernama Coco sambil mengukir senyum manis di wajahnya.

"Terima kasih untuk hari ini, Coco-sensei …," ucap kami semua diiringi sebuah senyuman dari tiap murid di kelas tiga.

Suara lonceng sekolah yang berbunyi di sekolahku, menandakan bahwa sudah saatnya kami pulang sekolah. Seluruh murid yang berada di kelas, kini mulai merapikan peralatan sekolah mereka. Kemudian memasukkannya kedalam tas mereka masing-masing. tidak terkecuali aku dan Natsu. Serta teman-teman kami yang lain. Kami semua saling bertukar canda dan tawa. Ada yang pulang bersama teman-temannya, ada juga yang berangkat berasama Tidak ada yang merasa tertekan di sekolah ini.

"Ngh … hari ini benar-benar hari yang padat, ya!" seruku sambil tertawa kecil. "Tapi, sangat menyenangkan."

Temanku yang berambut biru laut itu hanya mengangguk sambil tersenyum lembut kepadaku. Levy McGarden. Levy adalah perempuan sekaligus sahabat yang sangat baik. Tidak pernah ia terlihat sedih. Karena, yah, kehidupannya bisa dibilang sempurna. Hampir tidak ada yang kurang dari gadis mungil itu. Yang kurang, hanyalah keluarga aslinya menghilang. Sama seperti Natsu, dan yang lainnya.

Ketika aku sedang bercanda dengan Levy, sesosok lelaki yang sudah pasti ku kenal kembali menepuk bahuku. Seperti tadi pagi. "Lissana, ayo pulang!"

Aku hanya tersenyum kepada Natsu. Kemudian meminta izin dari Levy untuk pulang. Levy tersenyum lebar, kemudian mempersilahkanku untuk meninggalkannya. Biasanya, Levy selalu memaksaku untuk pulang bersamanya. Tapi, kali ini berbeda. Sangat berbeda. Aku tahu, Levy pasti akan pulang bersama dengan Gajeel. Gajeel dan Levy adalah teman ba—tidak. Hubungannya lebih dari sekedar teman baik. Walau pun belum terlalu lama. Yang jelas, hubungannya saat ini sama denganku dan Natsu. Kalian semua pasti tahu, 'kan?

Aku menjinjing tasku yang tidak terlalu besar. Kemudian menggenggam tangan Natsu se erat mungkin sambil berkata, "ayo pulang, Natsu!"

Dengan semangatnya, lelaki berambut pastel red itu membalas genggaman tanganku. Tidak lupa lelaki itu menganggukkan kepalanya dan memaerkan cengiran khas nya yang seperti biasa sambil berkata, "ayo! Kita pergi—dengan kecepatan penuh!"

Cengir khasnya semakin terlihat setelah berkata seperti itu. Lalu mengajakku berlari keluar kelas. Haha. Sungguh, aku benar-benar bahagia jika lelaki yang kini juga menggenggam tanganku dengan erat, selalu menggenggam tanganku seperti ini. Aku, benar-benar suka dan sangat menginginkan hal ini terus terjadi selamanya. Ya, selamanya …

:':….:':…:':…:':…:':…:':…

Cuit, cuit, cuit!

suara burung pipit yang bersahut-sahutan di pagi yang indah itu, memecah suasana keheningan di dalam kamar ku yang berukuran sedang. Tidak kecil, tidak besar. Itulah ukuran kamarku. Dengan dinding yang dicat putih, ditambah dengan peralatan perumahan lainnya. Jika dibangdingkan dengan kamar Natsu, kamarku bisa dibilang adalah kamar terbaik. Baya—eh? Kenapa dari kemarin aku terus mengaitkan semuanya dengan Natsu? Oh, ya. Aku lupa. Natsu adalah 'suami' ku. Wajar saja jika aku terus mengaitkannya dengan apapun. Kecuali hal-hal yang berbau negatif, 'kan?

Sedikit demi sedikit, kusesuaikan sinar matahari yang masuk ke kamarku dengan kedua bola mataku yang belum terbiasa dengan matahari pagi hari ini dengan pelan-pelan agar bisa melihat dengan jelas. Sungguh pagi yang cerah. Padahal, ini masih pukul lima lewat tiga puluh menit. Tapi, aku senang. Tidak ada hujan badai.

Ya, matahari memang selalu membawa suasana yang riang. Sangat berbeda dengan hujan badai. Hujan badai, selalu membawa kesedihan, kepedihan, dan juga kesialan bagi para petani di Fairy Tail Village. Walau pun memiliki sihir yang sangat luar biasa, namun para petani di Fairy tail Village lebih suka untuk berusaha sendiri. Daripada terus menggunakan sihir mereka sendiri. Mereka akan cepat kelelahan, bukan? Lagipula, mereka takut kalau dunia luar tahu bahwa mereka bisa menggunakan sihir.

Setelah mataku benar-benar telah bisa menyesuaikan cahaya yang masuk ke mata, kuregangkan otot-ototku yang kaku. Kulirik sebuah benda yang terbuat dari kertas. Benda itu terus menggantung di dinding kamarku. Setia memberitahuku hari dan tanggal kapan saja. Kalender. Hari ini, adalah hari libur. Hari yang sangat kusuka dalam satu minggu. Setelah melakukan berbagai aktifitas dari hari Senin sampai hari Sabtu, kini saatnya untuk mendapatkan kegiatan liburan yang sangat menyenangkan.

"Hah, kak Mira …," panggilku dari dalam kamar. Sambil turun dari kasur yang cukup untuk satu orang saja.

Sambil membuka pintu kamar dengan lemas karena masih mengumpulkan tenaga, aku menguap. Kututup mulutku yang melebar karena menguap. Agar bagian dalam dari mulutku tidak terlihat oleh siapapun. Termasuk deretan gigi putihku yang bersih.

"Ah, Lisanna! Ayo mandi! Dan juga, sekalian bangunkan Elfman, ya. Tadi malam anak nakal itu tidak tidur semalaman." Suara yang lembut nan indah terdengar di telingaku. Ah, suara itu memang selalu membuatku merasa, damai.

Kak Mira. Walaupun masih kelas 6 SD, tapi kak Mira memiliki tanggung jawab yang sangat besar di rumah—tidak. Kak Mira memiliki tanggung jawab yang sangat besar di desa dan juga di rumah. Ia harus menjaga kafe, melayani pengunjung di kafe, dan juga harus memberikan pengarahan kepada petani yang dulunya tidak menygayam pendidikan tentang pertanian. Itu tugasnya di desa.

Dan jika di rumah, kak Mira harus belajar agar bisa lulus, memasakkan makanan untuk kami, menjaga kami ketika ketakutan, mengajari kami ketika tidak mengerti suatu pelajaran, dan juga, membahagiakan kami semua. Sangat banyak tugas kak Mira, bukan?

Tapi, ketika aku bertanya kenapa kak Mira sama sekali tidak kelelahan, kak Mira tersenyum penuh kebijaksanaan sambil mengelus rambut putihku dengan lembut. Kemudian, kak Mira bercerita tentang bagaimana ibu dulu mengurusi adik-adiknya seperti kak Mira. Ibu, sangat mirip dengan kak Mira. Setiap hari harus mengatur dan mengasihi kedua adiknya agar menjadi orang yang berguna untuk desa. Harus mengurusi desa, dan kegiatan lainnya.

Tapi, ada salah satu adik ibu yang tiba-tiba bernasib malang. Adik ibu yang paling bungsu, meninggal karena tertembak oleh—ah, lupakan saja. Lebih baik tidak usah diceritakan.

Kuanggukan kepalaku dengan pelan, tidak lupa kuiringi dengan sebuah senyuman. Setelah keluar beberapa senti dari kamar, aku berjalan pelan menuju kamar kak Elfman. Kemudian aku buka pintu kamar kak Elfman dengan pelan, agar tidak membuat kak Elfman terkejut.

:':….:':…:':…:':…:':…:':…

Cklek!

Suara pintu yang kubuka terdengar cukup keras bagiku. Ku tutup mataku dengan cepat. Takut kak Elfman spontan langsung marah kepadaku karena mengganggu tidurnya yang lelap. Selang beberapa detik kemudian, kubuka mata kananku pelan-pelan. Kemudian, mata kiriku pun ikut membuka secara perlahan.

Masih tidur.

Aku bernafas lega. Ternyata, kakakku yang satu ini masih tertidur dengan lelap. Ah! Aku melupakan sesuatu lagi. Kak Mira berkata bahwa kak Elfman tidak tidur semalaman. Kenapa aku begitu ceroboh dan mudah sekali khawatir, ya? Ah, sudahlah. Lebih baik kubangunkan kak Elfman saja. Daripada kak Mira yang bangunkan. Bisa-bisa, kak Mira membuat kegaduhan lagi. Hihi.

Kakiku berjalan sepelan mungkin agar tidak menimbulkan sebuah suara. Kemudian, setelah aku sampai di kasur kak Elfman, kupanggil kak Elfman dengan lembut. Agar ia tidak langsung marah-marah, "Kak Elfman, ayo bangun. Kak Mira nanti marah kalau kak Elfman tidak bangun-bangun, lho …." Kuguncang-guncangkan tubuh kak Elfman pelan. Sangat dan amat pelan. Tenagaku kurang besar untuk mengguncang tubuh kak Elfman dengan kasar.

"Ngh … lima menit lagi …." Suara kak Elfman yang sudah jelas menandakan bahwa kak Elfman masih mengantuk itu terdengar jelas olehku.

Aku tertawa kecil. Sifat kak Elfman jadi lucu kalau sedang tidur. Agar kak Mira tidak mengomeli kak Elfman yang tidak mau bangun, segera kuraih selimut yang membungkus tubuh kak Elfman. Agar kak Elfman bangun dan mencari-cari selimut hangatnya. Hihi, biarlah. Itu salah kak Elfman sendiri yang tidak tidur semalaman, kan?

Ketika kutarik selimut itu dari kak Elfman, spontan kak Elfman langsung membuka matanya. Tanpa meregangkan otot-ototnya yang sangat kaku itu, dan juga menyesuaikan matanya dengan cahaya matahari. Sehingga, kak Elfman harus menutup kembali matanya rapat-rapat. Dan mebcoba mencariku dengan cara meraba-raba semua objek yang berada di sekitarnya.

Aku tertawa geli ketika melihat kakakku seperti itu. Jarang-jarang aku melihat kak Elfman bertingkah seperti itu. Setelah cukup puas dengan 'pertunjukkan' kak Elfman yang mengocok perut, selimut yang masih berada dalam genggaman tanganku pun langsung kulipat dengan cukup rapi. Kemudian meletakkannya di keranjang yang khusus untuk menaruh semua pakaian, selimut dan lain-lain yang sudah harus dicuci.

Dengan lembut, kupanggil nama kak Elfman sembari menuntunnya keluar kamar. "Kak Elfman, ayo keluar. Nanti kak Mira mencari-cari kak Elfman, lho. Kak Elfman mau digebuki lagi oleh kak Mira seperti hari Minggu kemarin?"

"Apa? Digebuki? Tidak akan. Aku 'kan sudah dibangunkan oleh adikku yang manis," balas kak Elfman sambil tersenyum lembut. Sambil tersenyum, kak Eflman mengelus rambut pendekku sambil menutup matanya karena mengantuk. Walaupun kak Elfman sama sekali tidak membuka matanya, namun aku tahu. Apa yang dikatakan kak Elfman tulus dari dalam hatinya. Ya, aku sangat yakin.

Aku hanya tertawa kecil melihat tingkah kakak laki-laki ku yang satu ini. Kami semua selalu akur. Walau pun kak Mira selalu memukul kepala kak Elfman jika kak Elfman tidak menurut kepada kak Mira. Aku juga, sih. Kadang-kadang tidak menurut dengan kak Mira. Tapi, kak Mira tidak pernah memukulku seperti kak Elfman. Paling-paling hanya dicubit. Dicubitnya `pun tidak sakit sama sekali.

"Lisanna, Elfman, cepat mandi, ya!" seru kak Mira dari dapur. Aku dan kak Elfman yang baru saja keluar dari kamar, hanya berkata 'iya' kepada kak Mira. Kemudian, kak Elfman berjalan menuju kamar mandi yang bersebelahan dengan dapur rumah kami dengan langkah yang sangat lemas karena sehabis bangun tidur.

:':….:':…:':…:':…:':…:':…

Segera setelah aku selesai mandi dan berganti pakaian, segera kutuntun tubuhku menuju ruang makan kecil-kecilan yang berada di dekat dapur rumah. Dress terusan yang panjang lengannya adalah tiga per empat, berwarna biru laut dengan perpaduan warna putih menutupi tubuhku hingga mencapai lutut ku.

Kak Elfman yang lebih dulu mandi dan berganti pakaian, sudah berada di ruang makan bersama kak Mira. Tapi, tentunya mereka tidak akan sarapan terlebih dahulu. Mereka berdua, pasti sedang duduk dengan manis sambil menungguku di ruang makan.

Hanya dalam beberapa detik, aku bisa berada di ruang makan. Kunaikkan tubuhku menuju kursi makan yang tidak terlalu tinggi. Ketika aku hampir bisa menaiki kursi makan itu, kusapa kak Mira dan kak Elfman yang telah menungguku sedari tadi. Tidak lupa kumunculkan sebuah senyuman termanis yang kumiliki, "Ohayou, kak Mira. Kak Elfman."

Kedua kakakku itu membalas sapaan selamat pagiku dengan senyuman termanis milik mereka juga. Kemudian, kak Mira yang ternyata masih menyiapkan sarapan untukku dan kak Elfman, tiba-tiba menyapa ku, "Ohayou, Lissana. Bagaimana tidurmu? Nyenyak? Semalam mimpi apa?"

Aku hanya menganggukkan kepalaku pelan ketika kak Mira mempertanyakan bagaimana tidurku semalam. Apakah ada sebuah mimpi yang buruk? Ataukah mimpi yang sangat indah? Hehe. Aku hanya bilang 'Aku tidak bermimpi sama sekali, kak'. Kakak perempuan ku hanya tersenyum. Kemudian mengajakku dan kak Elfman untuk segera sarapan.

Sembari mengolesi roti panggang dengan selai yang kusuka, aku bertanya kepada kakakku, "Kakak, nanti boleh pergi main, tidak?"

Sambil tersenyum, kakakku hanya menganggukkan kepalanya satu kali sambil berkata, "Hehe. Nanti, kita semua akan bermain bersama di danau yang ada di pinggir desa. Semuanya sudah berencana pergi kesana hari ini. Kau suka pemandangan disana, `kan?"

Aku terkejut sekaligus senang menengar perkataan kakak. Danau di pinggir desa? Itu adalah danau terbaik di Fiore! Danau itu saaaangaatt indah! Jika terkena sinar matahari, airnya yang sangat jernih itu pasti akan menunjukkan aneka pemandangan bawah air yang begitu indah. Aku dan Natsu sering pergi kesana berdua. Bahkan, aku dan Natsu memiliki sebuah 'rumah' di dekat danau itu. Dan kini, aku akan pergi bersama semuanya? Sungguh luar biasa dan sangat keren!

"Wah, baiklah! Ayo kita semua pergi kesana!" seruku bersemangat. Sambil mengolesi roti panggangku dengan selai.

Kak Mira hanya tersenyum terhadap jawabanku yang sangat bersemangat. Kemudian mengoleskan selai rasa cokelat pada roti panggang kak Mira sendiri. Begitu pula dengan kak Elfman. Kami semua sarapan dengan roti panggang setiap pagi. Itu sudah jadi kebiasaan kami.

Ketika aku masih mengolesi selai di atas roti panggangku, aku jadi teringat sesuatu. Perasaan tidak enak apa ini? Rasanya, aku akan seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Namun, karena takut 'sesuatu' itu hilang di dalam pikiranku saat ini, maka aku pun segera menanyakannya kepada kak Mira, "Kak, yang ikut nanti siapa saja? Apa 'suami' ku juga ikut? 'Anakku' juga, `kan?"

:':….:':…:':…:':…:':…:':…

Setelah sarapan, kami bertiga berjalan beriringan menuju danau yang bernama Blue Lake. Kalian tahu kenapa dinamakan sebagai Blue Lake? Itu, Karena keindahan danaunya yang benar-benar bersih dari polusi. Warna air danaunya benar-benar biru. Seperti la—tidak, tidak. Bahkan, lebih biru daripada air laut yang terbaik.

Ketika kami sedang asyik berbincang, suara lelaki yang sudah pasti ku kenal, menyapaku dengan hangat. Bersama dengan seekor kucing berwarna biru, "Lisannaaaa!"

Seperti biasa. Natsu selalu berteriak jika memanggilku. Haha. Walau pun Natsu sering diomeli (sekarang pun sedang diomeli oleh kak Mira) jika berteriak memanggil namaku, Natsu tidak pernah jera dan terus mengulanginya hingga kini. Namun, itulah yang kusuka dari Natsu. Sebelumnya, tidak ada orang yang dipanggil Natsu dengan cara berteriak seperti itu. Tidak ada. Kecuali aku.

Aku tersenyum saja. Walau pun kak Mira sedang memarahi Natsu. Karena, walau pun kak Mira adalah perempuan yang sangat ganas, tapi kak Mira selalu baik dengan Natsu. Karena, aku yang adiknya ini sangat menyu—ih! Aku salah bicara terus. Aku `kan sangat mencintai Natsu. Begitu pula dengan Natsu. Hihi. Aku selalu saja membahas soal itu. Lebih baik, kita kembali ke cerita! Karena, kak Mira sudah puas memarahi 'suami' tersayangku.

Ketika kak Mira telah merasa 'puas' mengomeli lelaki berambut pastel red itu, Natsu menjulurkan lidahnya sepanjang untuk untuk mengejek kak Mira. Namun, kak Mira tidak peduli sama sekali. Kak Mira itu hanyalah sebuah tingkah anak kecil jika kesal. Dan, itu memang benar. Sangat benar. Seperti biasa, setelah diomeli seperti itu Natsu akan segera berlari kearahku. Dan menggenggam tanganku seerat mungkin.

"Kakakmu jahat sekali, sih! Lisanna, ayo!" ajak Natsu sambil menggenggam tanganku. Tentunya dengan cengiran khasnya yang sangat khas itu.

Aku mengangguk sambil membalas perkataan Natsu, "Iya!"

Ketika aku sedang sibuk mengobrol dengan Natsu, sesosok he—tidak, bukan hewan. Lebih tepatnya, bangsa Exceed. Exceed yang berada tepat di belakang Natsu itu langsung menyapaku. Dengan sayap putihnya yang seperti malaikat kecil itu, ia secepat mungkin berusaha mendekati dan memelukku. Jika kalian bisa membayangkannya dengan baik, aku yakin kalian pasti seperti menonton sebuah potongan drama yang paling mengharukan dan menyayat hati. Hihi. Tidak, tidak. Aku hanya bercanda. Baiklah, kembali lagi ke cerita.

BRUUK!

Exceed itu sukses mendarat tepat di dalam pelukanku. Kucium dahinya. Dan kuelus keningnya. Seperti seorang ibu yang sedang memanjakan anak yang paling disayanginya. Segera kucari bahan pembicaraan dengan exceed biru itu, "Ah, Happy. Kau merindukanku?"

Kucing berwarna biru itu mengangguk. Lalu terbang kearahku untuk kupeluk, "Mama, aku merindukanmu."

Aku tersenyum bahagia ketika Happy memanggilku 'mama'. Sungguh, hanya kata itu yang ingin kudengar dari mulut 'anak' ku dan Natsu. Lalu, kebahagiaanku pasti akan semakin lengkap jika Happy memanggil Natsu dengan sebutan 'ayah'. Ya, itu akan jadi sebuah kesempurnaan dalam sebuah 'keluarga'. Tapi, karena Happy lebih senang memanggil Natsu dengan panggilan Natsu, maka aku hanya bisa tersenyum.

"Aku juga merindukan Happy," balasku sambil mengelus kepala Happy dengan lembut. Sehingga membuat kucing biru ini merasa nyaman di dalam pelukanku.

Ketika aku sedang asyik berbincang-bincang dengan Happy, seorang lelaki berambut pastel red itu kelihatan cemburu. Aku tahu kenapa. Apa kalian ingin tahu alasannya? Baiklah, aku akan beritahukan sebagai tanda kemurahan hatiku kepada pembaca sekalian. Hihi. Itu karena, ketika aku bertemu dengan Happy, pasti perhatianku akan teralihkan sepenuhnya. Aku akan lebih senang bermain dengan Happy. Tanpa mempedulikan 'ayah' nya sedikit pun. Jika kalian ingin jawaban lebih simpel dan ringkas, akan kukatakan langsung. Lelaki itu, cemburu'anak' nya sendiri.

"Baiklah, kepala api. Kau jangan cemburu dengan Happy," nasihat kak Mira dengan senyuman nakalnya. Kemudian mengacak-acak rambut Natsu dengan kasar. Sehingga rambut Natsu yang awalya tidak terlalu berantakan itu, kini jadi sangat berantakan.

Aku dan Happy yang mendengar nasihat atau yang lebih tepat disebut sebagai ejekan untuk Natsu itu, hanya tertawa. Padahal, aku adalah 'istri' Natsu. Dan Happy adalah 'anak' Natsu. Tapi kenapa bisa mentertawakan 'suami' ku dan juga 'ayah' Happy ini, ya? Hehe, tidak perlu dipikirkan. Itulah yang namanya keluarga, `kan?

"Kak Mira, ayo kita berangkat!" ajak kak Elfman sambil membawa beberapa barang yang diperlukan untuk

Ketika aku, Natsu, kak Mira dan kak Elfman berjalan sambil mengobrol dengan asyik, tiba-tiba langit biru yang indah dan bersih dari polusi udara, berubah menjadi gelap. Sangat gelap. Namun, tidak segelap pakaian orang yang digunakan ketika sedang melayat orang yang sudah meninggal tentunya.

CTAARR!

Suara sambaran petir yang menggelegar itu terdengar sangat jelas oleh gendang telingaku. Begitu juga dengan Natsu, Happy, kak Mira dan kak Elfman. Sepersekian detik kemudian, spontan otakku langsung memerintahkan tubuhku langsung memeluk Natsu karena ketakutan. Happy yang awalnya berada di dalam pelukanku pun kini ikut memeluk 'ayah' nya. Kami berdua ketakutan dengan suara petir yang datang begitu tiba-tiba. Walau pun kami semua adalah seorang penyihir yang hebat dari ukuran seorang anak kecil, tapi kami semua pasti punya kelemahan tersendiri, `kan? Apalagi, seperti kataku sebelumnya. Aku adalah seorang anak kecil.

"Natsu, a, aku takut …" bisikku sambil memeluk Natsu seerat mungkin. Untuk mencari perlindungan. Begitu pula dengan Happy. Kami terus memeluk Natsu dengan erat.

Kak Mira dan kak Elfman hanya menepuk pundakku dan juga pundak Natsu. Kak Mira dan kak Elfman bermaksud untuk menenangkanku dan (mungkin) Natsu agar tidak ketakutan lagi, "Sudah, sudah. Lisanna, Natsu, tidak usah takut pada petir, ya. `Kan ada yang bisa jadi pawang hujan kita nanti~"

Natsu yang mendengar namanya diabsen sebagai salah satu orang yang takut dengan petir, langsung memarahi kak Mira dengan wajahnya ketika sedang kesal, "Heh? Siapa yang kau bilang 'takut', Satan?" tanya Natsu sambil menepis tangan kak Mira dengan keras dan juga lancang.

Aku dan Happy langsung melepaskan pelukanku ketika Natsu menepis tangan kak Mira. Kemudian menjauh beberapa senti dari Natsu. Aku yakin kalian tahu alasannya. Setelah Natsu menepis tangan kak Mira yang bisa dibilang seperti 'Angel's Hand' itu—yah, kalian pasti sudah bisa menebaknya jika mengetahui sifat kak Mira sewaktu kecil di versi asli Fairy Tail. Wajah kak Mira memerah karena menahan kesal. Natsu yang saat itu tidak mempedulikan kak Mira yang marah, hanya membuang muka sambil mengeluh kan sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak bisa mendengarnya dengan jelas.

Deathglare kak Mira keluar hanya karena 'kecerobohan' seorang Natsu Dragneel. Sambil membawa pisau yang digunakan khusus untuk memotong daging (yang entah sejak kapan ada di tangan kanan kak Mira), wajah kak Mira tampak seperti seorang malaikat pencabut nyawa. Devilsmile –nya yang begitu menyeramkan sekaligus menambahkan kesan manis dari kak Mira, semakin membuat kak Mira semakin terlihat seperti malaikat pen—tidak. Bahkan, kak Mira terlihat seperti sesosok iblis berwajah malaikat yang keluar dari Neraka. Hanya untuk membunuh Natsu.

CTAAARR!

Suara petir yang kembali terdengar, terdengar seperti melodi kematian yang dibuat oleh kak Mira sebagai 'penyemangat' –nya untuk 'mencabut nyawa' seorang Salamander itu. Natsu yang mendengar suara petir yang semakin keras itu, merasa ada perasaan sangat tidak enak. Bulu romannya berdiri. Membuat suasana hati Natsu menjadi kacau. Tanpa basa-basi lagi, kepala dengan rambut pastel red itu melihat kebelakang. Dan—

"KUBUNUH KAU, NATSUUU!" suara amukan dari kak Mira sangat keras hingga membuat hampir seluruh penduduk Fairy tail Village keluar dari rumahnya masing-masing.

—aku, Happy, dan kak Elfman langsung lari secepat mungkin untuk menghindari 'ranjau' kak Mira. Sedangkan Natsu? Lelaki itu, kini tidak bisa berbuat apa-apa. kakinya kaku untuk bergerak. Ingin melawan pun rasanya sulit. Hihi. Walau pun aku sangat mencintai Natsu, tapi karena aku sendiri tidak bisa berbuat apa-apa—yah, aku hanya bisa lari dan menonton dari jarak jauh. Walau pun sebenarnya tidak tega juga melihat Natsu.

Sementara itu, Natsu yang kakinya gemetaran karena melihat deathglare kak Mira, hanya bisa pasrah. Ia lupa, bahwa adalah suatu 'pantangan' memanggil kak Mira dengan sebutan 'Satan' dan juga kata-kata terlarang lainnya. Walau pun yang memanggil kak Mira dengan sebutan itu adalah saudaranya sendiri. Bukti dan contohnya, adalah kak Elfman. Kak Elfman pernah terpaksa tidak masuk sekolah selama 3 minggu karena memanggil kak Mira dengan sebutan—hiiy~! Aku sendiri tidak berani mengatakannya. Walau pun dalam hati sekalipun. Yang jelas, jika kalian tidak ingin masuk rumah sakit atau kuburan dengan cepat, sebaiknya jangan berani macam-macam dengan seorang Mirajane Strauss. Tapi, jika kalian memang ingin masuk kuburan lebih cepat, sebaiknya kalian menghubungi kak Mira. Haha.

Ketika kerah baju Natsu sudah dipegang oleh kak Mira, devilsmile kak Mira semakin mengembang. Yang berarti kak Mira sudah sangat siap dan senang untuk 'membantai' anak kecil berambut pastel red itu.

"Bersiaplah kau …" ucap kak Mira dengan deathglare-nya yang semakin terasa olehku. Happy hanya menutup matanya, tidak mau melihat apa yang akan terjadi dengan 'ayah'-nya. Sedangkan kak Elfman bergidik ngeri melihat nasib Natsu yang sebentar lagi akan berakhir di rumah sakit atau di kuburan,

"HYAAA!"

Ketika suara itu terdengar dari telinga kanan dan kiriku, aku hanya bisa memejamkan mataku karena tidak mau melihat bagaimana kak Mira akan menghajar Natsu. Ketika hanya tinggal beberapa senti lagi tangan kak Mira akan mengenai Natsu, tiba-tiba serangan kak Mira ber—

GREP!

—henti?

"Eh?" aku tidak percaya. Lihatlah siapa yang menghentikan kak Mira. Kak Erza, kak Erza datang!

Dengan tatapannya yang sangat mempesona, dan gerakannya yang sangat cepat, kak Erza menghentikan gerakan tangan kak Mira sembari berkata, "Hei, kenapa kau lama sekali? Bukannya kita sudah janjian jam tujuh pagi? Dan juga, kenapa kau ingin menghajar Natsu? Kalau kau menghajarnya, bagaimana bisa acara kita berjalan dengan baik? Lagipula, apa kau tdiak memikirkan perasaan adikmu? Lihat. Lisanna sangat ketakutan karena kau ingin menghajar Natsu."

Kak Mira menatapku yang memang sangat ketakutan. Bahkan, aku hampir menitikkan air mataku. Begitu pula dengan Happy. Kami sangat takut kalau liburan kali ini tidak akan menyenangkan. Kak Erza masih menatap tajam mata kak Mira. Karena kak Mira kesal dilihat dengan cara seperti itu, ditambah aku yang hampir menangis. Maka, akhirnya kak Mira pun menghentikan aksinya. Fiuh~

Segera setelah kak Mira menyerah, Natsu segera mendekatiku. Kemudian mengajakku untuk berjalan di depan sambil mengobrol dengan Happy. Di sela-sela pembicaraan Natsu, ia segera menghapus air mata yang masih berada di pelupuk mataku dengan tangan mungilnya. Jujur, aku sangat terharu. Setelah ia menghapus air mataku, ia menggenggam tanganku dan juga tangan mungil Happy.

Untuk menghiburku yang masih sedikit menangis, kak Mira berusaha sebaik mungkin bersikap terutama dengan Natsu dan juga tersenyum. Walau pun sebenarnya kak Mira ingin sekali membunuh Natsu. Sedangkan Natsu, ia menunjukkan cengiran khasnya. Kemudian mengajakku dan Happy untuk berjalan lebih dulu. Aku hanya mengangguk pelan sambil memeluk Happy.

Kak Erza, kak Mira, dan kak Elfman terlihat tersenyum karena melihat keakraban kami bertiga. Terutama kak Erza. Walau pun bukan kakak kandungku, tapi kak Erza adalah orang yang paling mendukung hubunganku dengan Natsu. Sangat berbeda dengan kak Mira yang sangat over-protective denganku. Tapi, biar begitu, kak Mira berbuat seperti itu semata-mata hanya untukku. Beda lagi dengan kak Elfman. Kak Elfman hanya diam dan tidak ikut campur dalam hubunganku dengan Natsu. Tapi, jika aku membutuhkan kak Elfman, maka kak Elfman akan bergerak dan membantuku. Seperti itulah sifat mereka semua terhadapku.

:':….:':…:':…:':…:':…:':…

Setibanya di Blue Lake

"Hah, akhirnya sampai juga …" ucap kak Erza sambil meregangkan ototnya yang agak kaku.

Kak Mira hanya tersenyum melihat kegiatan kami semua setelah berjalan cukup jauh. Sudah pasti, kami semua merasa kelelahan. Namun, walau pun lelah sekalipun, kami semua tetap memasang wajah senang. Senang karena bisa berlibur dan menghabiskan waktu bersama. Walau tanpa kehadiran seorang guru.

"Hei, Lisanna! Ayo kemari!" ajak kak Mira sambil melepas pakaiannya. Yang di dalam pakaiannya sudah dibalut oleh pakaian renang.

Aku hanya mengangguk dan tersenyum manis. Kemudian berkata kepada kak Mira, "I, iya!"

Natsu yang melihatku gelagapan, akhirnya mendekatiku. Begitu pula dengan Happy. Mereka berdua memasang wajah seceria mungkin, kemudian mengajakku untuk berenang di danau yang tidak memiliki satwa liar yang ganas di dalamnya, "Haha! Tidak perlu begitu, Lisanna! Ayo kita berenang sepuasnya di sini!"

Ketika Natsu mengajakku dengan cengirannya, rasanya tubuh, otak, dan perasaanku semuanya terhipnotis olehnya. Sungguh, tidak ada yang bisa membuatku menjadi lebih baik daripada cengiran khas itu, "Tentu saja!"

Ketika aku ingin mengganti pakaian ku dengan pakaian renang milikku, tiba-tiba exceed biru itu menahanku dengan cara menggenggam ujung pakaianku. Ia mengajakku dan Natsu untuk pergi ke suatu tempat. Yah, kami bertiga akhirnya sepakat untuk tidak ikut berenang bersama yang lainnya. Dan lebih memilih untuk pergi ke tempat yang diinginkan oleh Happy.

:':….:':…:':…:':…:':…:':…

"HUAAAA!" suara Natsu setibanya di tempat yang dituju kami bertiga memang sangat keras. Namun, tidak ada yang mengomeli atau memarahi si rambut pastel red ini. Lho? Kenapa bisa?

Hehe, itu karena aku, Natsu, dan Happy sekarang berada di 'rumah' kami bertiga. Yang sangat jauh dari basecamp kak Mira dan yang lainnya. Rumah dimana kami merawat Happy sampai menetas. Tempat kami melihat matahari tenggelam. Dan juga, tempat dimana kami selalu berkeluh kesal. Oh, ya. Jika kami memiliki kesempatan untuk kembali ke 'rumah', pasti kami akan mencari dan mengumpulkan segala macam makanan dan minuman. Bahan makanan dan minuman itu kelak akan kami jadikan camilan jika kami menginginkannya.

"Lisanna, kau tunggu disini, ya! Aku dan Happy akan mencari bahan makanan!" seru Natsu sambil menepuk-nepuk bahuku pelan. Kemudian berlari kecil menuruni bukit kecil yang menjadi lokasi 'rumah' kami.

Aku hanya menganggukan kepalaku pelan sambil tersenyum. Lelaki berambut pastel red itu `pun membalas senyumanku. Kemudian mengajak kucing biru itu untuk mengumpulkan bahan makanan untuk kami bertiga nanti.

WUUSSSH~~!

Suara angin sepoi-sepoi di sekitar danau, benar-benar sejuk. Padahal tadi sangat mendung. Ketika aku menatap langit biru yang bersih itu, aku jadi teringat kata kak Mira soal cuaca yang tadi mendung. `Kan ada yang bisa jadi pawang hujan kita nanti. Mungkin perkataan kak Mira memang benar. Ada pawang hujan. Hihi. Tapi, siapa pawang hujan nya, ya? Yah, sudahlah. Lebih baik aku menunggu Natsu dan Happy pulang saja. Tapi—

DEG!

—tiba-tiba detak jantungku berdetak sangat keras. Walau pun hanya satu kali. Mungkin, 'pawang hujan' yang dimaksud kak Mira adalah orang itu. Tapi, aku takut kalau kak Mira dan orang itu akan berkelahi. Bisa-bisa acara ini jadi berantakan kalau kedua orang itu berkelahi. Tap—ah, sudahlah. Semoga saja bukan dia …

End Lisanna's POV

:':….:':…:':…:':…:':…:':…

General's POV

Sementara itu, di sebuah hutan lebat di dekat danau …

"Kenapa lama sekali, hah? Bagaimana kalau Lisanna tahu?" tanya Mirajane dengan wajah yang sangat kesal sambil menghentakkan kaki kanannya karena tidak sabaran. Ditambah dengan suasana hatinya yang selalu berubah-ubah karena masih memikirkan adiknya yang hampir menitikkan air matanya tadi pagi.

Seorang gadis berambut biru yang ada di depan Mirajane mengendus kesal karena diperintah seperti itu, "Huh! Kau kira mudah apa? Ini sangat sulit, tahu! Kalau kau pikir mengubah cuaca sangat simpel dan mudah, kerjakan sendiri saja! Aku lelah kalau terus menggunakan sihir! Tidak sepertimu yang sudah biasa menggunakan sihir! Mira baka! Kau hanya bisa mengganggu acaraku dengan Gray-sama saja!"

Mirajane sangat kesal karena perempuan seusianya yang bernama Juvia mengumpatnya dengan mengatainya baka. Apalagi tidak melakukan eye-contact sama sekali. Rasanya kedua tangan Mirajane tidak sabar untuk merobek-robek mulut orang yang telah mengejeknya. Satu-satunya orang yang dengan 'gagah berani' mengejek Mirajane tanpa rasa ketakutan terhadap dirinya hanyalah Juvia Loxar.

Hanya Juvia dan Erza yang berani mengejeknya secara terang-terangan seperti tadi. Namun, Juvia tidak pernah berkelahi atau pun menunjukkan sisi seram nya kepada semua orang. Itu, demi menjaga nama baiknya di depan Gray Fullbuster, orang yang sangat ia cintai. Namun, jika ada yang berani-berani mencoba merebut hati Gray, maka Juvia pun akan menjadi gadis yang sangat menyeramkan. Bahkan lebih seram daripada Erza dan Mirajane.

"Ugh, baik, baik. Tapi, bisakah kau mempercepatnya? Aku, takut nanti Lisanna jadi sedih seperti tadi. Ya? Kumohon~" bujuk Mirajane sambil menunjukkan akting nya di depan Juvia. Dengan wajah memelasnya, Mirajane menunjukkan aktingnya yang patut diancungi jempol itu.

Juvia menatap sinis akting Mirajane. Gadis yang dijuluki rainy girl itu sudah tahu benar sikap Mirajane. Baik sifat palsunya yang dibuat semanis mungkin, mau pun sifat aslinya yang memang sudah diketahui oleh seluruh penduduk Fairy Tail Village. Namun, setiap akting dan permohonan dari Mirajane pasti ada alasan tertentu. Alasan yang dibuat pun memang apa adanya. Namun, senyum dan wajah memelasnya itu hanya dibuat-buat olehnya. Semata-mata agar 'korban' akting nya mau menuruti apa yang ia inginkan. Dan salah satu korbannya adalah Gildarts-sensei.

"Cih! Apa boleh buat. Karena ini demi Lisanna, Happy dan Natsu, aku akan berusaha untu—" belum selesai Juvia berbicara, teman sebayanya yang berambut putih itu spontan memeluknya dengan sangat erat. Karena saking senangnya.

Juvia yang merasa kesal, segera memukul Mirajane dengan tangannya itu. Sakit memang. Tapi, Mirajane sama sekali tidak peduli. Ia sudah terlalu bahagia karena adiknya tidak akan kecewa. Ia tidak perlu kecewa menahan keinginannya untuk pergi ke 'rumah' nya.

End General's POV

:':….:':…:':…:':…:':…:':…

Lisanna's POV

Kaak … kaaak

suara burung gagak menandakan bahwa hari telah beranjak sore. Matahari kini telah tenggelam—bermaksud untuk menyinari belahan Bumi yang belum terkena pantulan cahayanya. Sementara itu, sang Surya akan digantikan oleh rembulan dan gugusan bintang yang bertabur di langit malam nanti.

Aku, hanya duduk termenung. Menunggu 'anak' dan 'suami' ku yang belum pulang-pulang juga. Sambil melihat matahari yang sebentar lagi akan digantikan oleh si bulan dan gugusan bintang, aku terus berdoa agar Happy dan Natsu pulang dengan selamat. Sejak tadi, 'bocah api' dan kucing biru itu belum menampakkan batang hidungnya di depanku.

Bosan.

Aku sangat bosan. Tidak ada yang bisa kulakukan. Aku hanya bisa menonton menit menit matahari akan tenggelam dengan sempurna. Aku, sebenarnya sangat ingin melihat matahari terbenam bersama Natsu dan Happy. Namun, hingga saat ini mereka berdua belum kunjung datang.

'Natsu, Happy, lama sekali …,' batinku sambil melihat jalan yang biasanya aku, Natsu dan Happy gunakan untuk menaiki dan menuruni bukit kecil ini.

Aku yang sudah sangat bosan menunggu, akhirnya bangkit dari kursi yang biasanya kupakai untuk duduk melihat matahari tenggelam. Namun, sebelum beranjak dari bukit kecil itu, aku melihat matahari tenggelam itu baik-baik. Entah apa yang membuatku merasa akan merindukan pemandangan ini. Padahal, aku bisa saja pergi kemari kapan pun yang aku mau. Hah, sudahlah. Lebih baik aku menuruti apa kata hatiku saat ini.

WUUSSSH~~!

Sekali lagi angin yang berhembus sepoi-sepoi kurasakan. Begitu lembut, dan juga membuatku merasa tenang. Hah, andai saja Natsu dan Happy ada di sini. Mungkin aku tidak perlu mencarinya sampai ke hutan di pinggir desa. Tapi, rasanya hatiku kini tidak ingin meninggalkan bukit kecil ini. Rasanya sungguh berat. Namun, karena sampai sekarang Natsu dan Happy tidak kunjung datang, pada akhirnya aku 'nekat' untuk melawan perasaan ku yang jarang—tidak. Bahkan tidak pernah kualami sebelumnya.

Ketika aku menyudahi acara menonton matahari tenggelam itu, kini aku akan melangkahkan kakiku menuju hutan pinggir desa itu. Namun—

'—ugh! Kenapa susah sekali menggerakkan kaki ini, ya?'

Aku berusaha menggerakkan kakiku agar bisa bergerak. Agak lama, menyusahkan, dan menguras cukup banyak tenaga. Karena, perasaan dan otak seperti sedang berkelahi di dalam tubuhku. Memperebutkan 'hak' mereka masing-masing. Dan, pada akhirnya 'otak' milikku yang mampu memenangkan 'hak'-nya. Segera kulangkahkan kakiku menuruni bukit kecil itu. Dan berdoa, semoga Natsu dan Happy baik-baik saja …

End Lisanna's POV

:':….:':…:':…:':…:':…:':…

General's POV

Beberapa menit kemudian, matahari benar-benar telah digantikan oleh sang rembulan dan gugusan bintang yang berkelap-kelip. Kini, suara burung gagak yang tadi sore terdengar, kini telah berganti dengan suara hewan malam. Namun, sosok gadis mungil berambut putih itu tidak kunjung kembali ke bukit kecil itu. Natsu dan Happy, sudah berada di basecamp. Begitu pula dengan yang lain. Mereka semua sudah siap untuk kembali ke rumah mereka.

"Duh, Lisanna kemana, ya? Kenapa belum datang juga?" tanya Mirajane sambil menggigit kuku jari ibunya dengan wajah sangat khawatir.

Elfman dan Mirajane terlihat sangat khawatir. Tentu saja. Kalau orang lain yang menghilang, Mirajane dan Elfman tidak akan sangat khawatir. Namun, yang menghilang kali ini adalah adik kesayangan mereka berdua, Lisanna Strauss. Begitu pula dengan Natsu, dan juga Happy. Dan juga Juvia, Erza, dan yang lainnya. Mereka semua sangat mengkhawatirkan Lisanna yang err—buta arah.

"Hei! Daripada diam saja, ayo cari Lisanna!" ajak Natsu sambil berlari sekencang mungkin. Menuju hutan pinggir desa. Kemudian diikuti oleh Happy yang terbang di belakangnya.

Walau pun Natsu tidak tahu kemana Lisanna pergi, namun nurani lelaki itu sangat amat yakin bahwa Lisanna bosan menunggu Natsu dan Happy yang sedang mencari bahan makanan. Di hutan pinggir desa itu. Kemudian mencarinya dan Happy. Namun, Lisanna melupakan satu hal yang sangat besar. Ia lupa bahwa Lisanna sendiri buta arah.

Juvia dan Erza, orang yang paling menyayangi Lisanna pun ikut berlari mencari Lisanna. Juvia, Erza, dan Mirajane. Ketiga wanita yang dijuluki sebagai Trouble Makers Fairy Tail itu mencari gadis mungil yang kini entah dimana. Bersama teman-temannya yang lain, mereka mencari dan mencari Lisanna …

End General's POV

:':….:':…:':…:':…:':…:':…

Lisanna's POV

Suara hewan-hewan malam adalah yang paling menyeramkan bagiku. Dingin, tidak ada makanan, tidak ada minuman, tidak ada teman, tidak ada Natsu, tidak ada kak Mira, tidak ada kak Elfman, dan tidak ada teman-temanku yang lain. Yang ada, hanya kegelapan dan ketakutan yang merasuki tubuhku.

"Na … Natsu… Happy …. dimana kalian…?" ucapku sambil menahan rasa dingin yang begitu terasa oleh tubuh dan hatiku saat ini.

Dingin. Sangat dingin.

Ketika udara yang sangat dingin itu mulai membuat tubuhku menggigil, aku mencari sebuah tempat yang kelihatnnya hangat. Walau pun tidak terlalu hangat, aku tidak peduli. Yang penting bisa melindungiku dari hawa yang sangat dingin ini. Aku tidak mau mati kedinginan.

Ketika aku telusuri seluk beluk hutan ini, kutemukan sebuah bangku di pinggir jalan. Aku tidak tahu apa itu. Yang penting, aku hangat dan tidak kedinginan. Dengan lampu pijar yang tidak terlalu terang itu, aku bisa melihatnya. Bagiku, lampu yang tidak terlalu terang itu sudah menjadi lampu yang paling terang bagiku. Karena, di hutan itu sama sekali tidak ada alat penerangan seperti lampu. Hanya ada kegelapan dan ketakutan.

Segera kudekati bangku kosong yang ditemani oleh sebuah tiang yang entah aku tidak tahu dan juga sebuah lampu pijar. Setelah duduk, segera kuhangatkan kedua tanganku dengan nafasku. Sambil menggerutu di dalam hati, 'Bagaimana bisa aku melupakan hal terpenting seperti ini? Aku buta arah. Tapi, kenapa aku malah bisa melupakannya? Aku bodoh! Aku bodoh! Aku bodoh!'

Setelah puas mengumpat diriku sendiri, aku pun tidak bisa menahan air mataku. Rasanya, ingin sekali aku menangis sekencang mungkin agar seseorang bisa mendengarku, kemudian mengantarku pulang kembali ke desaku, Fairy Tail. Namun, malu rasanya kalau aku terus menangis. Gigi ku sudah saling sebuah suara gertakan. Tidak tahan untuk memecah suasana hening di jalan raya yang tergolong sepi ini. Bagaimana kalau kalian ada di posisiku?

Sungguh, rasanya sudah tidak tahan lagi. Aku ingin berteriak, aku ingin mengeluarkan semua air mataku, agar tidak menangis lagi di kemudian hari. Ya, lebih baik aku menangis sekarang. Aku, ingin memuaskan diriku sendiri agar tidak ketakutan di dalam kegelapan yang benar-benar menakutkan ini.

Dan, pada akhirnya aku pun menangis dengan sangat kencang. Sangat kencang, "Hiks, hiks! NATSUU! HAPPY! KAK MIRA! KEMANA KALIAN?"

Aku memukul-mukul bangku yang sedang kududuki itu. Aku ingin menangis dan berteriak lebih kencang lagi. Agar mereka semua bisa mendengar suaraku. Dan menyelamatkanku. Aku, tidak mau sendirian. Aku, takut.

"Kami-sama, t-tolong selamatkan aku … hiks …" aku tidak mampu berteriak kembali. Rasanya energi ku sudah terkuras habis untuk mencari, berteriak, dan juga berlari mencari Natsu dan Happy …

.

Dan mulai sekarang, Aku akan menuliskan segalanya

.

Menuliskan cerita mengenai kehidupanku

.

Kehidupanku yang sangat kelam

.

Di sini

.

To Be Continued

.

Edited (09/05/2012) YuuKina ScarJou™

.

Feedback?

.