[REPOST]
HEAVEN LOVE STORY
Chapter 1: THE CANDIDATES OF ANGEL
Genre: Romance, Angst
Rating: T
Main Pair: WONKYU
Other Pair: YUNJAE, HANCHUL, HAEHYUK, YEWOOK
Warning: YAOI, BOYSLOVE, OOC, TYPO
Summary:
Cinta sejati tidak mengenal batasan apapun walau banyak batasan yang menghalanginya.
DON'T LIKE DON'T READ
BabyWonKyu proudly presents
_Wonkyu_
"Ya! Apa yang kau lakukan disana? Mau bunuh diri, eoh?"
Seorang namja tampan berbadan tegap berseru saat melihat sesosok namja yang mencoba menaiki pembatas jembatan Banpo Seoul. Sungai Han mengalir tenang sekitar 20 meter di bawahnya.
03.30 waktu Korea Selatan.
Malam sudah hampir berada di penghujungnya, membuat suasana sepi yang hening. Manusia-manusia masih terlelap di rumah masing-masing. Namun tidak semua manusia.
"Si-siapa bilang? Aku gila apa?-" sahut namja berwajah mirip ikan jika dilihat-lihat, "-kau sendiri sedang apa? Bunuh diri juga?"
"Aku masih menikmati dunia ini. Apa enaknya mati?" jawab namja tampan itu sambil tersenyum kecil, menampilkan lesung pipi yang dalam, membuat siapapun yang melihatnya akan meleleh.
"Masalahmu akan hilang jika kau mati!" sahut sesosok namja lain yang entah sejak kapan sudah berada di sebelah kiri namja berlesung pipi tadi, hanya berjarak dua ruas besi penyangga darinya.
Sret
Sontak namja berlesung pipi dan berwajah ikan itu menoleh ke asal suara. Disana sosok itu memandang mereka dengan kepala besar. Bukannya sombong, namun kepala namja itu benar-benar besar. Mungkin dia orang yang sombong, pikir dua namja yang lain.
"Dan, kau bisa menemui seseorang yang sudah menunggumu di atas sana. Bahagia selamanya!" sahut seseorang di bawah mereka.
Ketiga namja yang sudah berdiri di atas besi kerangka jembatan Banpo itu menundukkan wajah mereka bersamaan. Namja yang hanya menggunakan coat abu-abu tipis dibawah mereka memandang yang diatas dengan sorot musangnya. Lalu tersenyum kecil saat ketiga namja diatasnya memandangnya aneh.
"Wah, sepertinya menyenangkan bunuh diri massal seperti ini~" sahut namja bermata musang tadi sambil mulai memanjat besi pembatas jembatan itu.
"Ck! Lebih baik aku memilih lokasi lain saja!" sahut namja berkepala besar dengan nada tidak suka.
"Siapa yang ingin bunuh diri?! Ak-aku hanya ingin menikmati udara malam disini!" tambah namja berwajah ikan saat namja bermata musang tiba di sampingnya.
"HAHAHAHAHAH!"
"Ya! Kepala besar! Apa yang kau tertawakan, huh?!" bentak namja ikan tadi sambil melempar death glare terbaiknya. Wajahnya sudah sangat merah padam menahan marah dan malu, juga karena pengaruh udara musim gugur yang dingin.
Seoul sedang dilanda musim gugur yang teramat dingin saat ini. Orang-orang disana bahkan sudah mengenakan pakaian musim dinginnya. Ada apa dengan cuaca di bumi ini? Mereka berubah dengan pola yang tidak teratur. Hei, bukankah mereka berubah karena ulah manusia? Manusialah yang salah disini. Manusia hanya bisa melakukan, tapi Tuhan selalu punya rencana bukan? Seperti rencanaNya pada namja-namja aneh ini.
"Akui saja kalau kau juga akan bunuh diri, namja ikan!" jawab namja berkepala besar dengan suara dan ekspresi anehnya. Mendadak aura disana menjadi lebih aneh.
"A-akuu… HAI KAU! APA YANG KAU LAKUKAN?"
Keempat namja itu reflex menoleh saat namja berwajah ikan itu berteriak pada seseorang di bawah. Dibawah sana seseorang sudah bersiap akan terjun bebas dengan badan yang sudah melewati pembatas bawah jembatan.
"Aku sudah tidak kuat lagi. Aku tidak bisa hidup seperti ini."
Namja yang berada dibawah itu berujar pelan dengan nada yang bergetar. Pandangannya kosong ke depan, sorot matanya redup.
"Kau orang Cina! Kalau kau terjun dari sana, paling kau hanya akan cedera ringan. Kenapa kau tidak naik kemari? Kami juga mau bunuh diri, kita lakukan bersama." Sahut namja berkepala besar sambil melambaikan tangannya.
Namja yang di bawah hanya menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan aneh.
"Kalian pasti pengawal kerajaan yang menyamar kan? Pulanglah! Bilang pada Ayahku, anaknya sudah mati."
"Sepertinya ada pangeran Cina yang melarikan diri~ HAHAHAHAHA" sahut namja bermata musang sambil tertawa keras yang kemudian disusul tawa keras lainnya.
"Ya! Jangan mengejekku, pengawal-pengawal tak berguna!"
"Sudahlah! Kalau kalian ingin bunuh diri, aku ingin melihatnya sekarang! Jarang ada tayangan bunuh diri 'live' seperti ini kan?" sela namja berlesung pipi dengan suara tenangnya. Iris sekelam langit diatasnya itu menatap sendu kedepan. Memandang hamparan sungai Han yang seperti karpet sutra hitam mengkilat. Cahaya bulan terpantul disana.
"Kau juga ingin jual mahal, eoh?-" sahut namja musang sambil menyeringai meremehkan, "Kenapa kau tidak mau mengakui kalau kau juga ingin mati, huh?"
Namja berlesung pipi itu tersenyum simpul, membuat lubang di pipinya semakin terlihat dalam. Tampan sekali. Matanya menatap lurus ke langit malam di depannya, seberkas cahaya tampak membelah langit hitam itu sekejab. Bintang jatuh baru saja melintas. Lalu matanya terpejam.
"Hyung, benda langit apa yang paling kau sukai?"
"Kusukai? Uhm… Bulan!"
"Wae?"
"Karena ia punya cahaya paling terang diantara semua benda angkasa."
"Pabbo, Hyung. Matahari yang punya cahaya paling terang!"
"Hyung tahu, Baby. Tapi Hyung tidak menyukai matahari, Hyung mencintainya. Dan Matahari Hyung sedang berada disamping Hyung sekarang."
"Aish! Hyung~"
"Kalau kau suka yang mana, Baby?"
"Bintang Jatuh! Karena bisa mengabulkan permintaan. Apa permintaan Hyung?"
"Uummm… Aku ingin hidup selama-lamanya bersama orang yang kucintai~, kalau kau?"
"Haha, aku ingin mati untuk orang-orang yang kucintai, agar mereka bisa hidup lama dengan umurku, Hyung"
Tes
"Masih ada yang seseorang yang menungguku di dunia ini. Aku tidak akan mati sekarang."
Sebutir air mata itu menetes bersamaan dengan matanya yang kembali terbuka. Cahaya lampu jalan yang sedikit temaram berhasil menyembunyikan butiran bening itu dari penglihatan namja-namja di sampingnya.
"Kematian tidak semudah itu. Kita tidak tahu apa yang terjadi setelahnya. Jangan percaya cerita dongeng bahwa kau akan menemui orang-orang yang mendahuluimu di alam sana. Darimana mereka tahu? Bagaimana dengan orang-orang yang kau tinggalkan? Siapa juga yang bilang masalah akan selesai saat kau mati? Kau akan menambah masalah untuk mereka yang kau tinggalkan, masalahmu bertambah satu kan? Siapa tahu masih ada harapan saat kau berusaha tegar. Masih ada orang-orang yang kau cintai yang bersedia menunggumu selamanya. Ada jutaan orang di luar sana yang berusaha melawan kematian dan memperjuangkan hidupnya. Jadi jangan pergi, jangan menyerah."
Wuusshh…
Hanya suara angin saja yang terdengar diiringi aliran air sungai Han. Entah mengapa keadaan ricuh tadi menjadi hening setelah namja berlesung pipi tadi menyelesaikan kalimatnya. Bahkan deru nafas mereka seakan tertahan.
"Bagaimana jika orang yang kau pikir akan menunggumu malah akan menikah dengan orang lain?-" Tanya namja berwajah ikan sambil menatap namja berlesung pipi yang masih bertahan menatap hamparan langit hitam itu, "-lebih baik aku mati daripada melihatnya menjadi milik orang lain."
"Bagaimana jika orang yang kau pikir akan menunggumu selalu berpura-pura buta akan kehadiranmu? Tidak akan ada yang menyesal bila aku mati."
Kali ini namja berkepala besar yang berbicara. Nada itu terdengar lemah dan penuh luka. Tidak seperti nada saat namja itu mengolok-olok namja yang lain tadi.
"Dan, bagaimana jika orang yang kau pikir akan menunggumu tidak pantas untuk menunggumu, walaupun dia ingin, karena perbedaan kasta?"
Namja berwajah oriental itu menengadahkan kepalanya untuk memandang seseorang yang kata-katanya membuat rencana bunuh dirinya harus dipikir ulang.
Namja berlesung pipi itu menatap riak sungai yang sedikit terusik karena hembusan angin. Sesosok wajah rupawan seakan terpantul disana.
"Baby, boleh Hyung bertanya sesuatu?"
"Eemm, tentu Hyung."
"Apa yang kau lakukan jika Hyung dinikahkan dengan orang lain?"
"Jika itu takdir Tuhan, maka aku rela. Tapi jika itu takdir yang dibuat manusia, aku tidak akan melepasmu."
"Wae?"
"Manusia tidak berhak menentukan takdir manusia lain. Takdir tidak menentukan bagaimana kisah cinta kita. Kitalah yang mengendalikan takdir dengan kekuatan cinta, Hyung."
"Tapi, bagaimana jika Hyung pura-pura tidak tahu atau tidak yakin tentang takdir?"
"Yang penting aku Yakin kau sebenarnya tahu. Saat aku sudah yakin, kasihku padamu bukan lagi sekedar cinta. Pengorbanan diri, cinta, hidup, bahkan nyawapun rela kupertaruhkan, Hyung."
"Lalu bagaimana jika kita tidak bisa bersatu karena kasta?"
"Maka kita akan melanggar aturan kasta itu, walau akhirnya kita harus hancur dan ditentang, aku rela."
"Baby… Kau luar biasa!"
"Kau mengetesku, Hyung?"
"Hahaha, aku yang belajar dari kata-katamu, Baby."
"Sekarang aku yang bertanya, bagaimana jika kematian memisahkan kita, Hyung?"
"Baby sssttt, jangan mengatakan hal yang mengerikan."
"Tapi kau harus menjawabnya suatu saat nanti, Hyung~"
"Hei, kau menangis? Apa pertanyaan kami terlalu sulit untukmu?" Tanya namja berwajah ikan ketika menyadari sesuatu yang berkilau turun dari mata sekelam malam sang namja berlesung pipi.
"Akan aku jawab setelah namja bermata musang itu bertanya 'bagaimana jika jika orang yang kau pikir akan menunggumu sudah tiada?' benarkan?"
Dengan terkejut, namja bermata musang yang sejak tadi bungkam itu menatap namja berlesung pipi. Mata musang itu terlihat redup dan menyimpan beban berat. Lalu perlahan ia mengangguk.
"Tuhan yang menentukan takdir kita. Pernikahan, derajat, kasta, perasaan, bahkan kematian, semuanya ditentukan olehNya. Tidak ada satu manusiapun yang boleh mengubah seenaknya. Namun Tuhan akan berpikir dua kali untuk menentukan Takdir bila berhadapan dengan cinta sejati. Takdir tidak dapat mengalahkan kekuatan cinta sejati. Keagungan dan kemurniannya-lah yang akan mengendalikan takdir. Cinta sejati memiliki cara dan jalan sendiri untuk mengendalikan takdir. Maka cukup yakini bahwa cinta kita adalah Sejati, Pengorbanan diri, cinta, hidup, bahkan nyawapun akan kita pertaruhkan dengan rela dan tidak dengan mudahnya menyerah pada kematian."
Tes
Butir air mata itu mengiringi akhir kata-kata itu. Walau nada bicara itu tidak bergetar, namun namja berlesung pipi itu menangis keras di dalam hati.
'Aku sudah menjawabnya sekarang, Baby.'
BRUK
TAP
"Kau! Turunlah kesini sekarang!" seru namja bermata musang itu sesaat setelah turun ke tanah di samping namja berwajah cina yang masih menatap kosong namja berlesung pipi diatasnya.
Merasa ditunjuk, namja berlesung pipi itu menaikkan sebelah alisnya bingung, namun detik berikutnya ia turun dengan sekali lompat.
BRUK
BRUK
BRUK
Ternyata dua namja lain mengikutinya turun.
"Apa sebenarnya dirimu? Darimana kau dapat kata-kata itu?!"
Pertanyaan namja bermata musang tadi sukses membuatnya terkejut. Manik sekelam malam itu menatap mata musang itu dengan tajam.
"Aku manusia bodoh yang akan mengatakan hal tadi kepada setiap orang yang menyerah pada kematian dengan mudah."
Mata musang itu berair, bukan hanya mata itu. Tiga pasang mata lainnya juga sama.
"Siapapun kau, terima kasih." Kali ini namja bermata musang itu membungkuk penuh dihadapannya.
"Kata-katamu menyadarkanku, terima kasih."
"Te-terima…hiks… terima kasih banyak. Aku belajar sesuatu darimu."
"Aku merasa bodoh setelah mendengar kata-katamu."
Dan, semua namja yang baru ditemuinya itu membungkuk dalam. Semuanya berterima kasih pada namja berlesung pipi itu. Setetes air mata kembali jatuh dari matanya.
"Jung Yunho imnida." Ucap namja bermata musang itu setelah bangkit. Yunho menjabat tangan namja berlesung pipi itu dan memberinya tepukan di pundaknya.
"Aku Lee Donghae." Ucap namja berwajah ikan.
"Wo shi Tan Hankyung." Namja berwajah oriental itu membungkuk lagi.
"Kim Jong Woon imnida." Kali ini namja berkepala besar menjabat tangannya.
"Terima kasih semua, Choi Siwon imnida."
Choi Siwon tersenyum, kalimat orang yang dicintainya itu memang hebat. Hebat karena ada cinta, ketulusan, kejujuran, dan keyakinan di dalamnya. Terlebih ada cinta sejati yang terkandung dalam setiap katanya.
"Hyung, boleh aku meminta sesuatu padamu?"
"Apapun, Baby."
"Aku ingin suatu saat kau menjadi seorang kesatria, Hyung."
"Kesatria apa, hmm?"
"Aku ingin kau menjadi Kesatria yang memperjuangakan cinta sejati suatu saat nanti."
"Hahaha. Jaman modern sudah tidak ada Kesatria, Baby."
"Kau harus berjanji padaku, Hyung!"
"Heemm… Hyung berjanji."
.
.
Merekalah, malaikat-malaikat yang akan memperjuangkan cinta sejati. Cinta sederhana yang harus bertahan melawan kejamnya rintangan yang bahkan belum pernah mereka bayangkan dalam hidup.
.
.
TBC
.
Heaven Love Story bernuansa Romance Angst, jadi sedikit sekali ditemukan nuansa tenang disini. Nuansa disini cenderung serius dan sedih. So reader, jika tidak cocok saya mempersilahkan untuk tidak membaca ^^
Permasalahan tiap pair akan di bahas di chapter berikutnya.
Fic ini murni BOYSLOVE/YAOI bukan GENDERSWITCH, dan main pair disini adalah WONKYU ^^
FEEL FREE TO REVIEW ^^
Wonkyu is Love,
BabyWonKyu
