Disclaimer : Naruto bukan punya saya
Pair : Naruto x ...?
Rate : M
Genre : Romance, Adventure, Fantasy, Crime.
Warning : Au, OC [Maybe], OOC [pasti], Typo, Gaje, Alur kecepetan, Gore [Maybe], Dsb.
Summary : Naruto seorang Samurai, yang dibuang Klannya karena dituduh membelot. Ia kemudian membuat perjanjian kepada Davy Jones untuk meminjam kapalnya selama 10 tahun sebagai alat untuk menguasai lautan, dan sebagai gantinya ia akan mengabdi seumur hidup pada sang penguasa lautan. Dapatkah Naruto lolos dari jerat sang iblis...
.
.
.
.
.
Terlihat awan Colonimbus dari arah depan, mulai mendekat secara perlahan namun pasti. Kecamuk petir dan kilat menyambar-nyambar permukaan air laut, Guntur-guntur mulai menggelegar membuat suasana semakin mencekam, mendekam dalam kemalut malam, mengancam setiap kapal yang lewat dibawahnya membayang bayangi setiap pikiran awak kapal dengan kematian, memaksa mereka untuk berlabuh atau mati ditelan badai.
Tapi tidak dengan seringaian senang seseorang yang berada di haluan kapal, seolah olah badai adalah teman baginya dan maut adalah bagian dalam hidupnya, ia berjalan dengan santai kearah dek kapal. Sembari meregangkan sendi-sendi tulangnya, dengan gerakan pemanasan ringan.
"Shikaaa... Bentangkan semua layar! Kita akan lewati badai itu.. Dan tunjukkan siapa penguasa laut yang sesungguhnya" Teriak lantang orang itu yang tak lain adalah Naruto sang kapten kapal Queen.
"Aye..aye... Kapten ck! Merepotkan.." Serunya dengan malas, meskipun begitu terpampang sebuah seringaian yang cukup jelas jika diperhatikan, 'hhhmmm... Ternyata jika diperhatikan dibalik sifat dinginya dia adalah pribadi yang cukup ceria... Entah siapa yang membuatmu seperti itu kapten.. Hahhh... Mendukosai..' Batin orang itu, yang tak lain adalah Shikamaru sang wakil kapten merangkap navigator dan koki sekaligus Nakama pertama dari Naruto, mau bagaimana lagi hanya Shikamarulah satu satunya kru dari kapal Queen untuk saat ini.
Shikamaru berjalan dengan malas dari arah tempat kemudi menuju dek tempat Naruto yang sedang melepas tali tali layar pada tiang kapal, ia turut membantu sang kapten melepas tali kekang layar
"Kau yakin dengan ini kapten?" tanya Shikamaru pada sang kapten.
"Hn" hanya itulah dua konsonan huruf, sebuah kata yang ambigu yang keluar dari mulut sang kapten. Naruto menatap dingin kearah sang badai yang sedang berkecamuk ganas seolah dengan tatapanya ia dapat memperbudak badai tersebut.
Naruto berjalan santai kearah anjungan tempat kemudi kapal berada, tiba-tiba ia terdiam saat ia menginjak anak tangga kedua yang menghubungkan antara dek dan tempat kemudi, lalu ia menoleh perlahan pada Shikamaru yang sedang sibuk melepas tali kekang dari sang layar.
"Shika.. Persiapkan dirimu... Aku yang akan mengambil alih kemudi" Ucap Naruto beserta seringaian yang menakutkan dengan latar gemuruh guntur, Kemudian ia kembali melanjutkan langkahnya menuju anjungan kapal "Glup!" Terlihat Shikamaru menelan ludahnya 'Entah kenapa ia jadi terlihat lebih menyeramkan daripada Deavy Jones... ' Batin Shikamaru, merasakan hembusan hawa dingin yang menyebabkan bulu kuduknya merinding.
"Aku merasakan sebuah firasat buruk akan hal ini.. Semoga tidak terjadi apa apa.." Ucap Shikamaru sambil matanya menatap lurus kearah badai lalu berpaling menatap kerah sang kapten yang tesenyum aneh,
Tiba-tiba dari atas tiang kapal, muncul sebuah cahaya Misterius berwarna kebiruan. Membuat Naruto takjub melihatnya, kemudian ia menolehkan kepalanya kearah Shikamaru. "Oii Shika Lihat! Apa itu?" tanya Naruto sambil menunjuk kearah puncak tiang kapal.
"Itu adalah Api Saint Elmo"
"Api Saint Elmo?"
" Benar. Saat diatas kapal ada awan bermuatan Listrik tinggi, maka muatan Listrik Statis yang ada diujung tiang akan menjadi sangat besar. Dan menyebabkan munculnya fenomena langka yang disebut Api Saint Elmo... " Ucap Shikamaru dengan nada malas.
Melirik sekilas kearah Shikamaru, Setelah itu ia mengangguk tanda bahwa ia paham. Kemudian ia alihkan pandangannya keatas langit, Menatap tajam kearah Awan hitam yang berkumpul diatas Kapal. Tiba-tiba perasaannya menjadi tidak enak, seolah sesuatu yang buruk hendak terjadi.
'Kenapa perasaanku menjadi tidak enak' ucap Naruto dalam hati, sembari berjalan kesana kemari seperti orang kebingungan.
Shikamaru menatap tajam Naruto yang masih kebingungan ke sana kemari."woi... Naruto..." panggilnya. Tidak ada jawaban dari sang kapten, membuat Shikamaru kesal. Sedangkan angin semakin kencang menghantam layar yang telah terbentang. Naruto langsung berlari kearah kemudi, untuk menjaga keseimbangan kapal. Tanpa usaha berat Kapal berhasil dikendalikan, Walau kapal tersebut memiliki jiwa sendiri namun tetap perlu dikendalikan supaya bekerja maksimal.
Petir yang menyambar menghancurkan tiang kapal. Akibatnya kapal itu oleng dan terdengar suara teriakan kesakitan. Naruto yang berada di ruang kemudi berdecih kesal. Pemuda berambut Kuning itu membantu Shikamaru yang hampir tertimpa tiang patah itu. Ombak yang terus berdatangan menghempaskan kapal membuat barang-barang yang ada di sana jatuh ke lautan.
Sebuah pusaran angin yang berwarna hitam kelam karena bercampur awan, mengelilingi kapal disertai suara-suara yang memilukan telinga. Kilatan-kilatan petir juga ikut menambah sensasi tegang, yang dirasakan Naruto dan Shikamaru. Terdengar jeritan pilu dan tangis seorang anak kecil, yang entah datang dari mana.
Tubuh Pemuda bersurai pirang itu bergetar hebat, disertai irama detak jantung yang berpacu. Darah nya berdesir hebat, bersama pandangannya yang mulai menggelap. Suara-suara bisikan halus terdengar ditelinganya membuat ia tenggelam dalam buaian. Belaian-belaian lembut semilir angin membuat ia terlena. Melupakan sejenak bahwa ia sekarang terjebak pada situasi yang berbahaya, ingatan-ingatan masa kecilnya tentang sang ibu kembali berputar. Bagaikan bernostalgia ia kembali bertemu sang ibu tercinta, walau hanya sebuah Reuni singkat di alam khayal.
Plakkk!
Sebuah tamparan keras tepat mendarat di pipinya, membangunkan kembali Naruto dari mimpi indahnya. Mengelus pipinya yang terasa panas, setelah itu ia melotot kearah Shikamaru yang sedang bersiul sambil membuang muka. "ERR Apa maksudmu nanas" geram Naruto.
"Cuma membangunkan sang putri tidur dari dunia mimpi" Ucap Shikamaru seadanya. Tanpa melihat ekspresi Naruto yang sedang kesal, alis mata Naruto berkedut mendengar Jawaban sang kru. Urat-urat nya menonjol keluar, menandakan bahwa ia sedang marah.
"Lihatlah sekitarmu! Itu tadi adalah ilusi yang dibuat para roh manusia yang mati dilautan."
"Dan tetaplah waspada Kapten karena badai belum berakhir" Sambung Shikamaru, mengingatkan bahwa bahaya masih mengancam.
Naruto tersenyum tipis, Setelah itu ia menepuk kedua pipinya keras dan berteriak lantang "MARI KITA TAKLUKAN BADAI!" Tersenyum tipis Setelah itu ia mengangguk, mendengar teriakan barusan membuat semangat Shikamaru kembali pulih.
Goncangan keras pada kapal tidak menurunkan semangat Shikamaru dan Naruto. Ombak besar yang menghadang mereka, diterobos bersama kapal Queen mereka. Mereka berfikir bahwa itu semua adalah permainan yang harus bisa dimenangkan, dengan cara lolos dari badai.
" Itu ombak yang sangat tinggi " Shikamaru memandang ngeri kearah ombak tinggi di depannya. Ombak setinggi hampir lima belas meter siap menghantam kapal dari arah depan. Lutut kedua pemuda itu melemas, seolah kehilangan tenaganya. Namun ada sesuatu yang aneh pada ombak itu, seperti ada penggeraknya.
"Itu I-kan yang sangat besar" tepat sekali pemikiran Shikamaru barusan, ternyata Ombak itu tercipta akibat hembasan ikan Paus dari dasar laut.
"Itu Leviathan" ucap Naruto. Memandang ngeri kearah ikan, berbentuk mirip Paus. Namun mempunyai dua tanduk, dan gigi-gigi yang tajam. Serta mata merah menyala yang mampu menembus gelapnya malam. Melebarkan Mulutnya siap menerkam apa saja yang berada didepannya.
"Tamatlah kita" ucap Naruto dan Shikamaru bersamaan.
.
.
.
"Apa kau melihat itu tuan"
"Ya tidak salah lagi bahwa bocah itu adalah anaknya"
"Apa anda tidak berniat membantu mereka dari badai itu?"
"Tidak! Biarkan saja dulu sampai 'Mahluk' itu bergerak"
"Akan sangat berbahaya bila mereka berhasil ditangkap dan masuk dunia bawah"
"Tenanglah, Kalo benar itu sampai terjadi kita obrak-abrik tempat Lucifer dan Hades itu tinggal"
"Tapi... bukankah anda tidak bisa didaratan"
"..."
Diam, hanya keheningan yang melanda. Tidak ada sahutan jawaban, hanya kekosongan. Davy Jones atau yang lebih sering disebut Flying Dutchman, sekarang tengah mengawasi Naruto dan Shikamaru dari kejauhan.
Tanpa ada niatan untuk menolong kedua pemuda itu, mereka sekarang tengah menunggu moment yang tepat untuk bergerak.
"Errrr lebih baik kita minum sampai badai reda" ucap Flying Dutchman, sembari menyimpan kembali teropongnya kedalam baju.
"..."
"Hoiii kenapa kalian diam saja! Biasanya bersemangat kalo soal minum" Teriak sang iblis lautan. Menunjuk para kru nya yang diam mematung, kemudian dengan serempak tangan mereka balik menunjuk sang kapten. Membuatnya bertambah kesal. Namun tepukan halus dari salah satu krunya yang berbentuk setengah tengkorak setengah manusia. Berhasil mengalihkan perhatiannya dan membuatnya menoleh kearah belakang.
Matanya melotot dan keluar dari tempatnya, menggelinding seperti kelereng. Dan berhenti dibawah kaki kru yang menepuknya tadi. Dipungutnya mata itu setelah itu dipasangkan kembali pada tempatnya. "Keparat! Tangkap mahluk itu" perintah Davy Jones.
Ia baru saja melihat pemandangan yang membuatnya tercengang. Disaat ia hendak mengajak minum para krunya, sambil mengawasi Naruto bocah yang membuat perjanjian padanya. Tanpa ia sadari ternyata datang iblis betina dari dasar lautan, yang melahap kapal kesayangannya bersama para penumpangnya. Dan itu semua ia lihat di depan matanya sendiri.
.
.
.
Sejauh mata memandang hanya kegelapan yang terlihat, terasa sunyi mencekam. hawa dingin menusuk kulit hingga ketulang, meraba-raba sekitar mencari sang Nakama yang terpisah dengannya. Bahunya terasa ngilu akibat guncangan tiba-tiba tadi. Akibat kapal mereka dimakan ikan Raksasa yang sering disebut Leviathan. Iblis yang melambangkan sifat iri dan dengki.
Darah segar mengucur dari kepalanya, namun ia abaikan karena segel kutukan Davy Jones membantunya menyembuhkan luka-luka parah. 'Sial... Andai saja aku tidak Lemah pasti Ibu masih hidup, Andai saja aku tidak Lemah. Pasti semua ini tidak terjadi...' pikir Naruto.
Kilasan balik pembantaiannya terhadap pasukan pengejar kembali berputar, memaksanya merasakan sakit yang mencengkram pada bagian kepala sebelah kiri. Sederet peristiwa yang pernah terekam mulai berputar dari tuduhan pembelotan, tragedi kematian sang ibu, Serta sederet kenangan kelam hidupnya membuat ia kehilangan kendali.
"Hahahahahahah..." Seperti orang yang tengah mengalami depresi berat, Naruto tertawa lantang mengingat semua kenangan pahitnya itu. Apakah ada keadilan didunia yang kejam ini? Apakah benar yang kuatlah yang dapat berjaya? Apakah benar yang lemahlah yang tertindas? Apakah benar kekuasaan itu diperlukan? Apakah ia takut pada takdirnya? Apakah ia takut pada kenyataan? Apakah ia takut pada masa depan? Apakah ia takut melihat ke tidak berdayaan dirinya sekarang? Dan Apakah ia takut kematian yang pasti terjadi pada manusia?
"Hiks... hiks" hanya tangisan yang mampu ia keluarkan, Sebagai jawaban atas semua pertanyaan yang berkecambuk dalam benaknya.
"Arrrrgggghhhhhh..." hanya jeritan pilu yang tak mampu ia redam, sebagai bukti bahwa ia merasa tertekan. Ia membutuhkan sebuah jawaban, bukan sebuah alasan. Ia membutuhkan jawaban, untuk membuktikan kebenaran. Ia mencari jawaban untuk ketidakberdayaan. Remuk redam hatinya pilu, hanya tangisanlah yang mengisi kegelapan yang mencekam ini.
Apakah benar kebahagiaan itu ada? Tapi mengapa ia selalu bersedih? Mengapa ia kesepian? Mengapa takdir itu begitu kejam. Yang ia butuhkan sekarang hanyalah sebuah jawaban. Yang akan menuntun pada kebenaran.
Akhirnya setelah lama bergelut dengan batinnya, Naruto menemukan titik terang. Yaitu tujuannya hidup adalah untuk mencari sebuah jawaban. Yang menuntunnya pada kepastian serta kebenaran yang nyata.
Yang kuatlah yang diperlukan, yang lemah hanya jadi budak yang kuat. tanpa ia sadari Aura-aura hitam mengelilinginya, menyatu bersama segel kutukan diperutnya. Tekad kuatnya membuat jiwa-jiwa yang tersesat, memutuskan untuk membantu sang pemuda. Tubuhnya mulai berubah menjadi lebih tinggi dan berisi, surai pirangnya juga bertambah panjang mencapai dagu.
"Jika sebuah kebenaran adalah tujuanku, maka ambisiku adalah mencari keadilan yang menuntun ketidakberdayaan pada sebuah kejayaan" Berucap dengan nada dingin penuh penekanan, ia yang terlahir dari ketidakberdayaan. Namun berani membangkang, ia jugalah yang terlahir dari ketidakadilan. Namun berambisi menaklukan.
" Tekad kuatmu, membuat belenggu takdir yang mengekang ini terlepas. Sebagai imbalan kami siap membantumu " Bisik halus suara jiwa-jiwa yang tersesat
" Perasaan penuh sesalmu membangkitkan amarah kami, dan membangkitkan kami dari ketidakberdayaan atas takdir "
" Hiduplah sebagai pendominasi, buatlah ketidakpuasan sebagai budak. Taklukan hawa nafsu manusia, Dan buatlah itu sebagai kesenangan. Buatlah kemarahan sebagai energimu "
"Dengarlah... Dengarlah wahai manusia ikutilah ucapanku... "
" Ketidakberdayaan adalah jiwaku, keputusasaan adalah darahku
(Ya... Dia yang ditakdirkan telah bangun dari tidur panjangnya)
Badai adalah Hiburanku, Angin topan adalah langkahku
(Ia yang Berdiri diantara lautan luas)
Benua Kutaklukan, samudra ku kuasai
(Turut andil menentukan takdir Dunia)
Aku Sang takdir, pendominasi antra Kekuasaan dan Ketidakpuasan
(Dia yang menertawakan Keadilan menghina Kekuasaan)
Aku bangkit bersama kemarahan, aku berjalan bersama kehancuran
(Ia akan bangkit... Ia akan bangkit Sang pencari kebenaran telah kembali)
hancurkan dunia yang sudah rusak, musnahkan dunia yang penuh kemunafikan
(Ya... Ayo hancurkan, Ayo musnahkan)
Akhirnya... Aku telah kembali, mari berpesta
(Kebangkitanya sudah direncanakan, kebangkitan yang tak bisa ditolak)
Karna Aku adalah...
(Ya...ya... Sebutlah.. Sebutlah namanya... Ialah mimpi buruk bagi penguasa)
Hahahahaha Dia yang terlahir kembali... Namikaze Naruto
(Ia telah bangkit... Hahahhahahaha...)
"Argghhhh..." jerit Naruto merasakan kekuatan dahsyat merasuki tubuhnya. Pandangannya semakin menggelap, setelah itu ia jatuh pingsan. Meninggalkan kesunyian didalam kegelapan yang mencekam.
.
.
.
Panasnya matahari menyinari tubuh Seorang pemuda yang terbaring diatas hamparan pasir putih pantai. Teriknya sinar mentari memaksa ia bangun dari tidur lelapnya, membuka kelopak matanya secara perlahan menyesuaikan cahaya dari sinar mentari yang begitu terik. 'Dimana ini?' Pikirnya dalam hati, sembari mengamati keadaan sekitar yang terasa begitu asing.
"Apa kah ini tempat yang sering dibicarakan orang di alam roh?"
"Tempat apa itu?" Tanya sebuah kepala yang muncul dari dalam tanah, mengagetkan Naruto yang baru bangun tidur.
"Huaaaaaa... mahluk apa kamu?" Ucap Naruto sambil menunjuk kearah tengkorak kepala manusia yang dapat berbicara.
Setelah berucap demikian, Naruto bangkit dari duduknya untuk mengambil sebuah ranting kering. Kemudian ia gunakan untuk memukul pelan tengkorak itu. "Hoii hentikan bocah cengeng" Ucap tengkorak itu, namun bukannya berhenti pukulan Naruto malah semakin keras.
"Kau sudah bangun Naruto" ucap sebuah suara yang amat ia kenali. Menolehkan kepalanya kebelakang untuk mencari sumber suara tersebut.
"Shika-maru..."
"Yo kapten "
"Bagaimana mungkin kita bisa selamat? Aku kira kita sudah... "
"Ini semua berkat bantuannya" ucap Shikamaru sembari menunjuk kearah sebuah kapal besar yang berlabuh disamping Queen.
"Davy Jones, kenapa ia menolong kita" Shikamaru hanya mengangkat kedua bahunya tidak peduli, karena ia juga tidak tau alasan Davy Jones menolong mereka.
"Tuan hanya ingin menangkap mahluk itu" jawab Tengkorak kepala tadi seadanya, sembari meloncat kesana kemari seolah mencari sesuatu.
"Itu... Leviathan" ucap Naruto melihat ikan paus yang menelannya tadi malam, sekarang telah terikat rantai berwarna hitam.
"Jadi dia yang sudah..."
"Ya... itu benar"
"Tapi bagaimana caranya?" Tanya Naruto kebingungan.
"Dengan itu..." bukan tengkorak tadi yang menjawab melainkan Shikamaru, yang dari tadi diam mendengarkan percakapan. Ia menunjuk kearah cumi-cumi raksasa yang muncul dari dalam air, yang besarnya melebihi iblis Leviathan.
Glup!
"Besar sekali" ucap Naruto terkejut.
"Oii bocah bawa aku naik ke kapal tuan" perintah Tengkorak kepala tadi.
"Hn..."
"Terima kasih" Ucap Tengkorak kepala tadi.
"Terbanglah Parasit" bukannya mengantar naik ke kapal, Naruto malah melemparkan Tengkorak itu menuju tujuan nya.
"Terkutuklah kau bocah cengeng!" Teriak Tengkorak tadi lantang.
Setelah itu kapal Davy Jones dan para kru nya pergi menjauhi daratan, Diikuti Leviathan dan cumi-cumi raksasa yang menyeret sang paus.
"Shikamaru sekarang kita dimana?"
"Kita sudah sampai China..."
.
.
.
.
.
Tbc...
Amvun jangan bacok ane :V
Yo kembali dengan Author polos ini, silahkan keluarkan ekspresi kalian di kolom review. Mulai dari pujian ( Ngarep ), flame ( kalo bisa pake akun ), dan sekedar lanjut atau next...
