Sasuke memandang malas ke arah temannya yang satu ini, putra tunggal keluarga Uzumaki yang dengan lahap menandaskan semangkuk ramen berukuran besar.
"Kudengar dari Itachi-nii ada seorang gadis yang tinggal di rumahmu, siapa namanya?" Kedua mata biru laut itu memandang kedua manik Sasuke yang tampak malas.
"Hn," cih, lagi lagi gadis tukang cari perhatian itu.
"Kau sepertinya tak menyukainya?" Uzumaki Naruto mengenal sosok pria itu lebih dari sehari bahkan lebih dari satu dasawarsa, sebuah kilatan tak suka dapat Naruto lihat di kedua manik hitam Sasuke dan saat itu pula dia tahu jika itu adalah topik sensitif bagi Uchiha Sasuke.
Kilatan kedua manik hitamnya menajam saat melihat sosok gadis berhelaian merah muda itu tersenyum simpul pada seseorang yang tentunya Sasuke kenal.
'Apa hubungan mereka?' Sasuke tampak semakin tak menyukai gadis itu.
'Gadis menyebalkan,' Gadis itu nampak seolah tak menghiraukan semua yang di sekitarnya selain pemuda yang mengajaknya bicara. Dia bahkan seolah tak keberatan saat dengan jelas suara bisikan keras para murid di kelas yang mengejeknya.
Uchiha Sasuke tak mengerti tentang gadis itu dan itu entah kenapa membuatnya semakin tak menyukai sosok gadis berhelaian merah muda itu.
Tortoise
.
.
.
Chapter III
.
.
.
.
.
A NARUTO FanFiction
With standart disclaimer applied
.
Alternative Universe (AU) ll Out of Character ll Typo ll DLDR! ll Etc.
.
.
.
Uchiha Sasuke x Haruno Sakura
Teens + ll Drama ll Romance ll Hurt/Comfort ll Etc.
.
.
.
.
.
Enjoy!
Pandangan tak suka kembali Sasuke layangkan pada gadis itu saat melihat kakaknya tengah mengajari gadis itu.
Jam telah menunjukkan pukul delapan malam dan dia baru saja pulang. Alasannya? Dia hanya tak ingin melihat wajah gadis itu, mudah saja baginya untuk bilang dia ingin menginap di rumah Naruto tapi kakaknya beserta kepalanya yang keras itu berhasil menyuruhnya untuk pulang.
Pandangannya bertemu dengan kedua iris berwarna hijau daun itu dan kedua manik yang berbinar dan senyum simpul yang Sakura berikan padanya.
Sasuke tak menyukainya, seolah tatapan tajam yang dia layangkan pada gadis itu sama sekali tak dihiraukan olehnya dan Uchiha Sasuke benci dihiraukan.
Uchiha Itachi merasa sosok yang dianggapnya adik itu sama sekali tak mrmperhatikan penjelasannya dan saat kedua mata hitamnya melirik ke arah gadis itu, gadis itu sendiri tengah tersenyum simpul dan kedua matanya tertuju pada sesuatu di belakangnya. Karena penasaran dia mencoba ikut menoleh ke belakangnya dan dapat dilihatnya sosok adiknya dengan seragam sekolahnya yang tampak kusut.
"Aku tak sadar jika kau telah pulang," ujarnya
"Tentu saja kau tak sadar, sesuatu membuatmu lebih lamban," Itachi melihat kedua mata Sasuke yang melirik sebentar ke arah Sakura dan setelahnya dia naik ke lantai atas.
Dia mengerti maksud adiknya itu. Sangat.
Sasuke memandang jenuh buku pelajaran yang tengah dibacanya, pikirannya terlalu terpaku pada gadis berhelaian merah muda yang tidur di kamar sebelah. Mengacak helaian biru kehitaman miliknya dan berjalan menuju balkon.
Kedua iris kelam itu memandang bulan dengan tatapan lelah, meski awalnya samar tapi mulai terdengar jelas. Kepalanya ditolehkan ke arah kamar di sebelahnya. Dapat dilihat gadis itu tengah berada di balik tirai yang menutup pintu kaca menuju balkon kamar.
"Kau sangat cantik dan itu membuatku iri," Sasuke dapat dengan jelas melihat bayangan gadis itu, dia tengah mengoleskan cat dari kuas ke kanvas.
"Ne... bagaimana menurutmu tentang lagunya?" Sejenak, bayangan gadis itu mengangkat ponselnya dan menempelkannya di telinga, bayangan gadis itu menghentikan gerakan mengoles kanvasnya.
"Aku bertemu senpai lagi, kau tahu dia masih sama, dia masih tampan bahkan sangat tampan," bayangan gadis itu tampak mengangguk kecil dengan ponsel yang masih tertempel di telinganya.
"Sayangnya dia sudah punya kekasih tapi aku menyukainya, sangat menyukainya," bayangan kepala gadis itu terlihat menoleh ke sebuah arah.
Bayangan gadis itu berdiri dan memandang kanvas di depannya. "Kurasa sudah terlalu malam, sebaiknya aku tidur. Maaf, aku ingin sekali berbicara banyak denganmu tapi aku harus sekolah besok," gadis itu mengangkat kanvas dari penyangganya.
"Oyasuminasai, Shi-chan."
Lampu kamar gadis itu dimatikan, Sasuke terlalu terpaku pada ucapan gadis itu, dia belum mengerti. Gadis itu dapat berbicara dengan orang yang dipanggilnya Shi itu? Jadi selama ini gadis itu hanya bersandiwara, kesulitan bicara dan segalanya yang membuat Sasuke muak pada gadis itu hanyalah sebuah sandiwara? Gadis itu patut mendapatkan penghargaan karena berhasil menipu ketiga anggota keluarganya.
Sasuke menyeringai tipis, setipis lembaran tisu. Sasuke akan dengan senang hati memberikan gadis itu 'penghargaan' dan akan ia pastikan itu tak akan pernah gadis itu lupakan.
Brak
"Eh!" Sakura mengerjapkan kedua kelopak matanya polos, dia tak mengerti apa yang terjadi pada pemuda di depannya itu, tapi mungkin satu hal yang Sakura tahu dan dia bahkan sering melihat tatapan itu. Tak suka dan mengintimidasi.
"Aku tahu apa yang kau sembunyikan dari semua orang."
Sakura masih belum mengerti apa maksud pemuda itu, bukankah beberapa menit yang lalu mereka baik baik saja diatas sepeda motor milik pemuda itu dalam perjalanan ke sekolah? Bahkan dia dapat melihat senyum tipis yang pemuda itu berikan pada bibi Mikoto. Lalu saat mereka tiba di jalan yang cukup sepi, pemuda itu mematikan mesin motornya dan menarik Sakura turun dari boncengan pemuda itu lalu membuat Sakura terhimpit antar pemuda itu dan pagar tembok di belakangnya.
"Sandiwara mu mungkin bisa menipu semua orang, tapi tidak denganku. Aku tahu rahasiamu."
Sakura kembali mengerjap "eh ... himitsu? Nani ... desu ka?" Sasuke berdecih pelan, gadis dihadapannya itu masih bersandiwara.
Sasuke melonggarkan himpitannya pada gadis itu dan menghidupkan mesin motornya. "Aku belum melepasmu," dan Sasuke mengendarai motornya, meninggalkan Sakura.
Sakura tersenyum tipis saat memandang kepergian pemuda itu.
"Sakura, apa yang kau lakukan di sini?" Sakura menoleh ke arah belakang dan menemukan sosok senpainya dan dia tersenyum simpul.
"Apa kau mau ikut ekstra melukis?"
"Eng ... ano ... wakaranai,"
"Kau masih sama ya?"
Sakura hanya tersenyum mendengar hal itu. Kini dia duduk diboncengan sepeda milik senpainya itu, dia beruntung karena senpainya itu mau memberinya tumpangan.
"Ikutlah, aku ingin tahu seberapa berkembang kau sekarang terutama dalam hal 'itu'," Sakura tersentak pelan, dia terlihat gugup. Hal inilah yang paling membuat dia tampak tak baik-baik saja.
"Eto ... hanya sedikit, demo ... eng ... eto ...,"
"Santai saja Sakura, kau mungkin sudah terbiasa dengan hal 'itu' tapi tak kusangka masih sama."
"Ne ... Senpai."
"Nani?"
"Arigatou, hontou arigatou."
Dia menyukai senpainya sangat, karena pemuda itulah dia bisa melalui semuanya hingga sekarang.
Sakura tak menyangka hari ini selebaran ekstra kurikuler sekolah telah dibagikan. Hari ini semua murid dibebaskan dari pelajaran dan mereka bisa bebas memilih ekstra kulikuler mana yang ingin dipilih. Beberapa senior tingkat dua dan tiga sibuk dengan promosi mereka.
"Sakura!" Sakura menoleh saat suara dari senpainya itu memanggilnya, Sakura tersenyum simpul saat senpainya itu melambaikan tangan menyuruhnya mendekat.
Sakura mendekat tepat di depan meja yang berisi formulir pendaftaran klub melukis. "Jadi bagaimana? Apa kau mau ikut?"
"Eng ... ano ... senp-"
"Wah, aku sudah dapat tanda tanganmu," Sakura mengerjapkan matanya, memandang tangannya yang dipegang senpainya di atas meja dan memegang sebuah ballpoint.
"Gomenne," senpainya itu melepas tangannya dari Sakura dan mengambil formulir itu. "Un ... daijobu, senpai," Sakura senang saat senpainya itu tersenyum. "Biar aku yang akan mengisinya sebagai permintaan maaf." Sakura hanya memperhatikan sosok senpainya yang sibuk mengisi formulir dan terkadang Sakura menjawab pertanyaan senpainya itu.
Mendengar ucapan selesai dari senpainya itu membuat Sakura memilih pergi dari sana karena tak ingin mengganggu kegiatan senpainya itu.
Teriakan heboh membuat Sakura menoleh ke arah lapangan basket, merasa penasaran Sakura memasuki gedung tersebut, dapat dilihat olehnya para gadis yang meneriaki nama para pemain.
Sakura melihat ke lapangan, dia tersenyum simpul saat menemukan sosok Uchiha Sasuke yang berada di dalamnya. Sosok itu terlihat serius namun setitik rasa bebas dapat Sakura lihat di kedua iris kelam itu.
"Pandai sekali mereka merebut perhatian," seorang gadis berhelaian kuning keemasan nampak mengeluh. "Bukankah itu pemandangan yang wajar, Ino?" Sosok gadis berhelain coklat yang dicepol di kedua sisinya itu menanggapi keluhan gadis yang dipanggilnya Ino.
"Cih licik, menggunakan para anak populer untuk menarik banyak murid untuk mendaftar. Dasar!"
"Bukankah itu trik lama mereka sejak dulu? Dari pada kau mengurusi klub basket lebih baik kau ikut aku mengurusi anak baru di klub bela diri."
Sakura menoleh ke arah dua sosok yang berdiri tak jauh darinya. Sakura tak mengerti tapi kedua sosok itu menarik perhatiannya, sangat. Terutama gadis yang berhelaian kuning keemasan dengan kedua iris lautnya, Sakura mengenal gadis itu. Sangat.
Terlalu fokus pada kedua sosok itu, Sakura tak menyadari permaian basket yang mulai memanas.
"AWAS!" Sakura menoleh ke arah lapangan basket itu, dia dapat melihat bola basket yang melayang padanya.
Bruk
Sakura jatuh terduduk dengan pandangan berkunang dan darah mengalir dari kedua lubang hidungnya dan dahinya, dia dapat melihat sosok pemuda yang berjalan ke arahnya sebelum dia pingsan.
To Be Continue
Maaf jika updatenya lama :( chap 1 dan 2 udah tak rapiin jadi satu, semoga suka. dan buat chap ini makasih buat yang udah, fav, follow, maupun review. maa belum bisa bales review kalian :( dan terakhir, kritik, saran dan semua temannya saya tampung di kolom review maupun PM.
See you in next chap :)
Dilla Riri
