Spring.
"Hey,"
Sehun tersadar dari lamunannya setelah Luhan pergi dari hadapannya beberapa menit yang lalu, ia terkesiap begitu telinganya menangkap sebuah suara asing. Ia lekas menoleh ke sebelah kanan, dan mata nya bertemu dengan mata cokelat Namjoo yang kini berdiri agak membungkuk disampingnya.
Ia lekas terbangun dari duduknya, dan berdiri lalu tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuk belakangnya.
"Seorang model tidak seharusnya melamun begitu," Tutur gadis cantik bermata besar itu pada Sehun.
"Tentu, tapi sayangnya, aku bukan model." Sahut Sehun diiringi tawa pendek khasnya diakhir kalimat.
Namjoo berkerut dahi, "Lalu-"
"Baekhyun. Ia sahabatku, Jadi yah—kau tahu, kontrak antar sahabat."
Gadis itu cepat-cepat mengangguk mengerti, pada awalnya ia mengira kalau Sehun adalah seorang model terkenal yang belum ia kenal, bagaimana tidak? Postur tubuh yang nyaris sempurna yang dimiliki Sehun benar-benar menunjukan kalau dirinya memang seorang model atau bahkan atlet.
Namjoo menghela nafas, lalu memegang lengan kekar Sehun, "Syuting pertama akan dimulai beberapa menit lagi, sebaiknya kau bersiap."
Sehun mengacungkan jempolnya sesaat sebelum Namjoo tersenyum kearahnya dan pergi menghampiri penata riasnya untuk membenarkan dandanan.
Hari ini, seperti apa yang sudah direncanakan, syuting video musik milik Baekhyun akan dilaksanakan disekitar areal katedral, adegan pertama tidak melibatkan hal-hal romantis apapun antara Sehun dan Namjoo karena sutradara Kim bilang, adegan mereka akan dilakukan di areal terpisah.
Dimana Sehun akan berpura-pura masuk ke dalam mini market dan membeli sekaleng minuman lalu duduk dikursi tepi jalan menikmati angin sepoi musim semi, sedangkan adegan Namjoo akan diambil disekitar halaman depan katedral dimana ia hanya akan melukis sambil mendengarkan musik.
Sedangkan adegan Luhan, ah, ia belum dilibatkan dalam video musik pada syuting pertama ini. Karena ia hanya akan muncul di tengah-tengah video, jadi, ia hanya duduk dibelakang kamera dan menonton aksi akting Sehun dan Namjoo bersama Baekhyun.
Sepertinya mood sutradara Kim sedang buruk hari ini. Akting para model rupanya tidak membuatnya puas sehingga mereka harus melakukan satu adegan secara berulang. Dan pada pengambilan adegan ke sekian kalinya, ia berteriak dan berkata—
"Break, tiga puluh menit."
Sehun bersyukur dalam hatinya karena Tuhan masih sangat baik karena telah memberinya waktu untuk sekedar duduk dan meneguk sebotol air karena kehausan. Ia duduk dibawah tenda yang sengaja dipasang, meraih sebotol air yang disodorkan seorang penata rias dan segera meneguknya sampai habis.
Ia menoleh ke samping, mendapati lelaki lainnya tengah duduk tepat disebelahnya sambil fokus pada ponsel yang ia genggam. Rupanya, Luhan tidak menyadari keberadaan Sehun.
"Bagaimana?" Sehun membuka pembicaraan, walaupun ia tahu mungkin ia tak akan mendapat respon apapun dari Luhan seperti apa yang ia alami tadi pagi.
Lelaki itu menoleh, melepas kedua earphone yang terpasang di telinganya, "Keren."
"Hanya itu?"
"Lalu, apalagi?"
Sehun tertawa singkat, lalu mengulurkan tangan kanannya dengan seulas senyum yang telah berhasil meluluh lantakan setiap gadis yang melihatnya.
"Kita belum sempat berkenalan," Kata Sehun.
Luhan tampak berpikir sejenak, sebelum akhirnya tangan kiri Sehun meraih tangannya lalu memaksa tangan itu agar menjabatnya. Luhan sempat hendak menarik tangannya kembali, namun Sehun menggenggamnya dengan erat.
"Oh Sehun, kau?"
"Luhan," Jawabnya singkat.
"Kau berasal dari Korea juga?"
"China,"
Sehun mendesis. Cukup menyerah dengan sifat dingin Luhan padanya, tapi ia tidak pergi atau menutup pembicaraan. Sifat dingin lelaki ini justru menjadi salah satu daya tarik bagi Sehun yang menyebabkan ia ingin sekali berteman baik dengan Luhan.
"Astaga, kita tidak sedang bermain kuis. Kenapa kau hanya menjawab satu kata dari setiap pertanyaan yang ku berikan?" Gerutu Sehun.
Luhan menghela nafas, sedikit mendongak dan menatap lelaki tinggi itu.
"Aku Luhan, aku tinggal di Korea bersama teman-temanku. Aku pindah ke Korea setahun yang lalu dan meninggalkan keluargaku di China, lalu—"
Luhan terperanjat, ia baru sadar kalau ternyata dirinya bisa berbicara sebanyak dan sejauh itu pada orang yang baru saja ia kenal, ia memberikan jeda pada kalimatnya yang masih menggantung, Sehun masih diam dan menunggu kalimat selanjutnya.
"Begitulah," tutup Luhan pada akhirnya.
Terlihat jelas pada mimik wajah Sehun, menunjukan bahwa dirinya sedikit kecewa karena Luhan tidak melanjutkan cerita mengenai kisah hidupnya itu. Tapi setidaknya, lelaki itu telah berbicara lebih banyak dengan Sehun dibanding tadi pagi.
.
.
Syuting hari pertama telah selesai, itu artinya masih ada tiga hari kedepan lagi agar mereka bisa pulang ke Korea karena syuting ini akan dilaksanakan empat hari berturut-turut di Rusia.
Mereka kembali ke hotel pada pukul delapan malam dalam kondisi perut kenyang karena sebelun kembali kesini, semuanya memutuskan untuk makan malam bersama dipinggiran jalan sambil menikmati suasana malam kota Moskow.
Luhan memasuki kamarnya, menjatuhkan diri ke atas ranjang putih empuk dan merebahkan tubuhnya disana. Walau ia tak mendapatkan adegan pada syuting hari ini, tetap saja ia merasa lelah dan tulang ekornya seakan patah.
Selama syuting berlangsung, Luhan hanya duduk diatas kursi kayu yang disediakan seadanya di lokasi, dan terkadang membantu para kru untuk memindahkan properti dari satu tempat ke tempat yang lain.
Ia memejamkan kedua matanya, seketika terbayang dalam benaknya akan mimik wajah bocah albino itu. Tatapan dari lelaki itu sangat-sangat tidak asing lagi bagi Luhan. Ia merasa bahwa tatapan dan sifat Sehun mirip sekali dengan seseorang.
Seseorang yang…pernah mengisi sepotong masa lalu Luhan.
Ia segera menyingkirkan pikiran-pikiran anehnya tentang Sehun dan bangkit dari posisinya ketika seseorang mengetuk pintu kamar Luhan berkali-kali.
Luhan beranjak dari ranjangnya, lalu membuka kenop pintu dan mendapati Namjoo berdiri disana dengan setelan piyama panjang dan tangan kiri yang menggenggam sebuah ponsel berwarna putih.
"Apa kau sibuk?" tanya Namjoo.
Luhan menggeleng.
Gadis itu menghela nafas dan menghembuskannya, "Aku sendirian, ada bunyi aneh dikamarku dan aku sangat takut. Sialnya, aku belum mengantuk. Apa kau butuh teman mengobrol?"
Luhan tertawa singkat, lalu menutup pintu kamarnya dan menggiring Namjoo menuju balkon hotel dimana disana terdapat beberapa bangku panjang yang bisa diduduki oleh mereka, juga angin sepoi-sepoi dan pemandangan indah kota Moskow yang menemani mereka malam ini.
Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik setelah keduanya terduduk disalah satu bangku panjang balkon. Rupanya, tidak hanya mereka yang ada disini. Melainkan ada beberapa orang lainnya diujung sana yang tengah duduk-duduk santai juga.
Merasa kecanggungan semakin menyeruak, karena memang baik Namjoo maupun Luhan, keduanya belum saling mengenal satu sama lain, akhirnya Luhan membuka topik.
"Jadi, kau seorang bintang film?"
Namjoo menoleh, "Tidak, aku hanya bintang iklan dan model biasa. Belum ada minat untuk membintangi film atau semacamnya,"
"Kenapa? Maksudku, kau cantik dan aktingmu bagus. Kenapa tidak coba main film?"
"Aku trauma,"
"Trauma?"
Ia mengangguk, otaknya memutar kembali sepotong episode masa lalu dan mencoba untuk menceritakannya pada Luhan.
"Dulu, aku memiliki seorang sahabat, ia juga model sama sepertiku. Kami berdua pernah mencari agensi yang akan melakukan casting untuk film layar lebar, dan pada akhirnya kami lulus tes. Temanku dihubungi oleh pihak agensi di hari selanjutnya dan disuruh untuk mendatangi kantor. Tapi aku tidak."
Namjoo menghentikan kalimatnya, memberinya jeda dan menarik nafas panjang,
"Aku sedikit heran ketika hari itu ia tidak mengabariku sama sekali. Seharian penuh dan aku tak mendapat kabar apapun tentangnya, ponselnya tidak dapat dihubungi dan bahkan orangtuanya meneleponku untuk menanyakan dimana ia berada. Hari selanjutnya, aku dapat kabar kalau ia—ia sudah tewas karena bunuh diri. Setelah diselidiki selama beberapa bulan, pihak kepolisian menduga bahwa ia diperkosa oleh pihak agensi yang menghubunginya."
Namjoo menunduk, air mata nya menetes mengenang gadis naas yang ia sebut sebagai sahabatnya itu. Luhan hanya menyimak dengan saksama dan merasa prihatin dengan keadaan yang menimpa Namjoo di masalalunya.
Gadis itu kemudian berbicara lagi, "Mungkin saja, pihak agensi palsu itu akan melakukan hal yang sama padaku juga kalau aku tidak tahu apa-apa tentang sahabatku itu. Sejak saat itu, aku sempat berhenti dari dunia model dan menolak setiap tawaran film yang di ajukan,"
"Oh ya, kejadian itu…terjadi di Inggris lima tahun yang lalu. Kebetulan aku kuliah disana dulu."
Luhan sedikit tersedak ketika mendengar kalimat penutup dari Namjoo, ia menutup mulutnya dan menahan batuk yang disebabkan karena tersedak saliva. Namjoo kemudian menoleh kearahnya dan membantu lelaki itu menetralkan nafasnya kembali.
"Kau baik-baik saja?" tanya Namjoo.
Luhan mengangguk, "Ya, aku hanya tersedak. Tenang saja,"
Luhan diam setelahnya, terlarut dalam pikirannya sendiri. Kenapa cerita Namjoo tadi benar-benar mirip seperti—sesuatu yang pernah terjadi di masa lalunya juga? Bahkan, waktu dan tempatnya juga sama.
Ia terkesiap ketika Namjoo menyenggol bahu nya, "Aku rasa udaranya semakin dingin, dan aku mulai mengantuk. Aku ke kamar duluan, oke? Oh, terimakasih banyak telah menjadi temanku malam ini."
Lalu gadis itu bangkit dari duduknya dan tersenyum kearah Luhan sebelum akhirnya ia berlalu meninggalkan balkon hotel. Sedangkan Luhan masih melamun disana, menikmati sisa-sisa angin malam yang masih berhembus menerpa pori-pori kulitnya yang halus.
.
.
Hari berikutnya, sutradara Kim memutuskan untuk memilih lokasi syuting di sebuah kafe klasik. Adegan kali ini, Luhan akan muncul sebagai pengganggu hubungan Sehun dengan Namjoo.
Setelah semuanya bersiap, kali ini giliran sutradara Kim yang memberikan pengarahan pada anak-anak asuhnya itu. Ia memegang beberapa carik kertas skenario ditangannya.
"Baik, kali ini, kau Namjoo. Dan kau, Luhan, kalian berdua akan berbincang di kafe ini lalu tiba-tiba Luhan menggenggam tangan Namjoo dan menyatakan perasaan cinta padanya, perlahan kau dekati wajahnya lalu hendak menciumnya. Tapi-"
Ucapan sutradara Kim terpotong ketika Baekhyun menyela dengan penuh semangat,
"Sehun akan tiba-tiba datang dan otomatis Luhan mencium Sehun, bukan Namjoo karena ia mendorong tubuh Namjoo agar tidak mengenai bibir Luhan." Lanjut Baekhyun lancar.
Ketiga model yang kini tengah duduk dengan berbagai posisi itu tersedak secara bersamaan, ketiganya batuk beberapa kali lalu memegangi dadanya, mengecek kalau jantungnya masih berdetak.
"Apa?!" Teriak Luhan dan Sehun bersama, sedangkan Namjoo masih terdiam dan mengumpulkan energi-nya yang sempat berantakan karena kaget mendengar ucapan Baekhyun tadi.
Sutradara Kim tertawa, "Aku tahu respon kalian akan seperti ini. Terkadang, kalian harus bersikap profesional, bukan? Khususnya kau, Luhan. Kau adalah model sungguhan. Kau pasti paham tentang masalah profesional."
"Bukan begitu, tapi, apa ini tidak terlalu berlebihan? Maksudku, aku lelaki dan dia—" Luhan mencoba menjelaskan, tapi ucapannya kembali disela oleh Baekhyun.
"Iya, Sehun juga lelaki. Tapi, Sehun sendiri yang bilang bahwa alur awal video musik ini terlalu monoton. Jadi, ya—aku dan Junmyeon hyung mengubah skenarionya dengan menambahkan adegan ciuman ini," ujar Baekhyun sambil melirik Junmyeon yang akrab disapa sutradara Kim itu.
Sehun mendengus, "Baekhyun, astaga."
.
.
.
TO BE CONTINUED..
A/N : Sorry for make this chapter shorter than before, could u guys guess what happened between Namjoo, Luhan, and Namjoo's bestfriend in the past? xP Keep support me and I'll update A-S-A-P.
