ABOUT LOVE
Chapter 2
.
.
.
Wahahaha! Setelah sekian lama, akhirnya About Love apdet juga….
Ada beberapa hal yang membuat saya males *plak* lanjutin fic ini. Pertama, karena saya, sekarang ini, lagi sibuk-sibuknya di sekolahan, dan yang kedua, saya kirain ga ada yang suka, makanya saya pikir ga usah dilanjutin… *dihajar massa*
Okelah!
Kita langsung saja~
.
.
.
About Love, Chapter 2
Suasana masih sunyi.
Hanya terdengar semilir angin dan gemerisik lembut dedaunan.
Aku terus menatap Natsu. Terdiam oleh perkataannya. Natsu melarang Lucy mengikuti misi? Mengapa?
"Apa maksudmu, Natsu?" Tanyaku. Natsu masih menatap api unggun.
"Kau tahu, Erza, saat kau begitu menyukai seseorang, kau tidak ingin orang itu terluka dalam bentuk apapun. Kau hanya ingin melindunginya…" Kata Natsu pelan. Aku masih tidak mengerti.
"Lalu?"
"Yah… Aku hanya ingin mencegahnya masuk ke medan berbahaya…" Gumam Natsu. Aku terpana.
"Natsu." Panggilku pendek. Ia menoleh.
"Apa?"
BUAK!
Aku memukul kepalanya.
"OUCH!" Seru Natsu kaget. "Apa yang kau—"
"Itu bukan mencegahnya menghadapi bahaya kan? Itu sama seperti kau mengurungnya dalam kotak! Lagipula, apakah kau tahu bagaimana perasaan Lucy yang sesungguhnya?" Kataku dengan nada keras. Natsu terpana.
"Coba kau ingat-ingat apa reaksinya saat kau bilang ia tidak boleh ikut. Aku memang tidak bisa mencampuri hubungan kalian berdua, tapi kalau melihat Lucy yang sekarang…" Suaraku menghilang. Natsu menunduk muram.
"Yeah, Erza, kau benar." Gumamnya pelan. Aku menghela napas.
"Yah… Aku juga tidak berhak bilang apa-apa sih sebenarnya…" Kataku pelan. Aku menatap api unggun yang memancarkan cahaya redup namun hangat.
Suasananya sunyi.
Aku hanya diam, memikirkan masalaku sendiri yang sebenarnya sudah kulupakan tadi. Apa yang tadi kukatakan? Aku tidak berhak mengatakan hal macam itu…
"Erza?" Panggil Natsu tiba-tiba, membuyarkan lamunanku.
"Ya?" Tanyaku.
"Kau tahu dimana Lucy? Aku, aku ingin minta maaf." Kata Natsu pelan. Senyum mengembang di wajahku.
"Hmm~ Lucy ada di kota bersama Mira dan yang lainnya." Kataku. Natsu bangkit berdiri.
"Oke! Aku akan menemuinya!" Seru Natsu. Aku mengangguk.
"Yeah, temui dia, Natsu." Kataku sambil tersenyum. Natsu mengangguk dan mulai berlari.
"NATSU!" Seruku tiba-tiba. Ada sesuatu yang lupa kukatakan.
"Apa?" Tanyanya.
"Ingatlah, Lucy merasakan hal yang sama denganmu!" Seruku lagi. Ia mengerutkan dahinya.
"Maksudmu?" Tanyanya. Ia menghampiriku lagi. Aku menarik napas panjang.
"Yah, kau ingin melindungi Lucy kan? Lucy juga ingin melindungimu. Makanya dia minta ikut misi. Ya kan? Ingat itu!" Kataku. Ia terpana sedetik, dan langsung berlari.
"TERIMA KASIH, ERZA!" Serunya sambil berlari. Aku melambaikan tangan.
"Yeah, sama-sama, Natsu." Gumamku pelan. Senyum di wajahku luluh pelan-pelan.
Kini aku kembali pada kesendirianku.
Kembali pada masalahku. Aku… Aku masih tidak mengerti.
Mengapa permasalahan macam "Cinta" saja sampai ribet seperti ini. Konyol sekali…
Tapi, aku bisa sampai murung seperti ini. Susah. Haah.
Aku terus melamun, bingung. Mengapa aku seperti ini ya? Dan lagi-lagi, Gray muncul di kepalaku. Apa-apaan ini?
Aaah, sudahlah. Biarkan saja. Aku jadi bingung sendiri kan… (Authornya juga bingung kok… *plak*)
Well… Lebih baik aku bergabung pada Natsu dan yang lainnya sajalah…
"Haaah…" Aku menghela napas panjang untuk kesekian kalinya di hari ini. Aku beranjak berdiri, dan mulai berjalan.
KRSAK!
Aku menoleh tiba-tiba.
"SIAPA?" Seruku. Aku mengeluarkan sebuah pedang.
Sesosok orang muncul dari kegelapan. Aku bertambah siaga.
"Tu, tunggu, Erza. Ini aku!" Seru orang itu. Aku terpaku. Suara itu…?
"Gray… ya?" Tanyaku. Orang itu menyahut.
"Iya lah. Siapa lagi? Simpan pedangmu, Erza!" Serunya. Aku menghilangkan pedangku.
"Astaga…" Kataku pelan. Ia mengerutkan dahi.
"Hei, kau nyaris mencabut nyawaku, tahu tidak?" Gumamnya. Aku mengibaskan rambutku.
"Siapa suruh kau mengedap-endap seperti itu?" Balasku. Ia mengangkat bahu, lalu duduk di rerumputan. Aku mengikutinya.
Aku duduk disebelahnya. Kami berdua hanya diam, melihat bintang. Tidak berbicara apapun.
Aku menatapnya. Ia tampak… Berbeda. Lebih dewasa, mungkin? Lebih tenang… Dan ia mulai jarang lupa memakai bajunya… Itu kemajuan, kan?
Aku menunduk sejenak.
"Erza?" Tanya Gray. Aku menghela napas.
"Ya?" Sahutku, tidak menatapnya kembali.
"Apa kau punya masalah? Kau terlihat… Bingung." Gumam Gray. Aku mendongak, dan tersenyum.
"Bukan masalah besar, Gray~" Kataku, berusaha menutupi perasaan kalut dalam hatiku. Namun, Gray tidak dapat ditipu. Ia menatapku dalam.
"Ayolah, Erza, aku megenalmu sejak kecil. Aku tahu kau bingung akan sesuatu! Bilang saja, kenapa sih?" Desaknya. Aku menghela napas.
"Haaah… Ini tidak semudah itu kukatakan, tahu?" Gumamku. Gray mengerutkan dahi.
"Apa salahnya? Cuma tinggal bilang saja, begitu kan?" Kata Gray. Aku tersenyum kecil.
"Ya, kau benar…" Jawabku.
Hening.
Gray mengacak rambutnya.
"Dengar, Erza—"
"Gray?" Panggilku, memutus perkataannya. Aku menatapnya. Ia menatapku balik.
"Ya?" Jawabnya. Aku menarik napas panjang, dan bertanya padanya.
"Gray… 'Cinta' itu seperti apa?"
.
.
.
-Chapter 2, END-
A/N : Huaaah~ Maaf, lama banget ngapdet cerita ini~ .
Sebenernya sih pas minggu lalu udah jadi setengah. Cuman karena saya lagi sibuk milih lagu buat band dan sebagainya, akhirnya baru bisa dilanjutin setengah… Adoh, gomeeen….
Yah, hope you enjoy it!
Bagian romantisnya masih lama… Mungkin….
Mind to RnR?
Kuro-Rena
