A SIDE
...
DISCLAIMER MASASHI KISHIMOTO
SASUKE X SAKURA
...
Summary : Jauh dalam hatinya; Sakura masih mencintai Sasuke Uchiha. Sakura masih menyimpan trauma peperangan yang mengambil kedua orang tua juga Sahabat baiknya, akhirnya memutuskan untuk menjadi 'orang lain' dalam kehidupannya sendiri agar semuanya baik-baik saja.
.
.
Chapter dua.
.
.
.
Sai sudah mengatakan pada Sasuke bahwa aku tidak lagi dilibatkan dalam patroli malam. Mulai sekarang setiap mereka berpatroli, aku akan tinggal dengan satu anggota Natsu untuk memastikan aku baik-baik saja. Kamarku kosong, sekarang aku tidur bersama Karin. Terkadang ketika Karin sedang pergi berpatroli malam hari, aku akan tidur di ruang tengah bersama dengan salah satu anggota Natsu yang ada.
Hari ini semua berpatroli kecuali aku dan Suigetsu. Hyusize-sama sudah tahu tentang kepulan asap dini hari kemarin namun kami sepakat menyembunyikan cerita tentang potongan bajuku.
Setelah sikap histerisku kemarin, aku kira Sasuke akan marah. Aku memberanikan diri untuk minta maaf paginya, yang kemudian disambut baik oleh Sasuke,
Ia berkata bahwa tim ini adalah tanggung jawabnya, aku adalah bagian dari Natsu dan itu artinya aku juga adalah tanggung jawab Sasuke.
Aku lega dan cukup puas dengan kenyataan bahwa Sasuke tidak menganggap besar sikapku kemarin, dan aku cukup berdebar nyeri dengan kenyataan bahwa semakin jelas kami benar-benar hanya bisa menjadi rekan kerja. Aku yakin Sasuke sedikit menjelaskan sikap maklumnya semata-mata karena itu adalah tugasnya sebagai pemimpin Natsu.
Jam dinding menunjukan pukul delapan malam ketika suara ketukan pintu terdengar agak keras. Aku berpandangan dengan Sui, ia mengangguk dan berjalan menuju arah pintu sementara tanganku sudah memegang sebuah kunai.
Pintu terbuka dan menunjukan sosok seorang pria dengan lambang desa Natsu bertengger pada ikat kepalanya. "Aku ditugaskan oleh Hyusize-sama untuk menjemput Haruno Sakura, seorang shinobi diplomasi dari dewa Iwa terkena racun yang aneh."
Aku bersama Sui—ia bersikeras ikut, kemudian pergi menuju rumah sakit bersama shinobi yang memakai masker wajah berlambang O yang artinya itu adalah shinobi dari kepolisian khusus desa ini.
.
.
Begitu sampai dalam ruang pemeriksaan, terlihat enam orang dewasa tengah berdiri mengelilingi seorang laki-laki yang tubuhnya berubah kekungingan dan sudah terbujur lemas.
"Apa urusannya datang ke sini?"
Aku bertanya pada enam orang tadi yang kuperkirakan adalah ninja medis desa ini. Kudekati lelaki itu kemudian menemukan keganjilan dari aliran darahnya.
"Haruno-sama,syukurlah anda datang Ia adalah salah satu anggota diplomasi Iwa yang ditugaskan untuk menyampaikan surat indikasi pemberontakan yang dilakukan oleh seseorang dari desa kami yang mengacau di iwa kemarin petang." Seorang perempuan yang kutafsir lebih muda dariku menjelaskan panjang lebar sambil memberikanku sarung tangan untuk operasi.
"Ia dihadang." Ucap Suigetsu ketika mengamati beberapa luka sayatan dalam tubuh laki-laki yang tengah sekarat. "lukanya ada ditempat-tempat yang tidak dilakukan satu orang." Sui menambahkan dan aku setuju. Ada sebuah luka di telapak kakinya, lalu di punggung, lalu di jemarinya. Seperti dilakukan oleh banyak orang.
Aku menghela napas pendek, mustahil racunnya hampir sama dengan racun Sasori.
"Sui, pulanglah dan kirimkan surat pada Sasuke untuk segera datang ke mari. Kalian berenam, sisakan 3 orang ahli bedah di ruangan ini. Sisanya pergilah menemui Hyusize-sama untuk menanyakan apakah di hutan atau gunung Umigakure ada tanaman langka bernama Egyp yang bentuknya seperti tanaman rambat liar namun getahnya berwarna hijau. Setelah itu carilah tanaman itu secepat mungkin, hati-hati tanaman itu memiliki rancun. Aku akan melakukan operasi malam ini, aku akan mengeluarkan racunnya dahulu. Aku belum menemukan penawar racun langka ini."
.
.
.
Normal POV.
...
Sekitar dua jam akhirnya racun yang ada dalam tubuh lelaki malang itu dapat diambil. Sakura keluar ruang operasi dengan wajah pucat pasi. Kelelahannya sirna ketika melihat Sasuke tengah duduk sambil memjamkan matanya. Sakura memandang laki-laki itu lama sebelum tersadar ia tidak boleh diam-diam mengamati Sasuke terus-terusan seperti itu.
"Hai."
Sakura mendudukan diri di samping Sasuke. Badannya menguarkan aroma Sabun. Sepertinya ia sudah mandi sebelum ke sini.
...
Sakura POV.
...
"Bagaimana?"
Aku tersenyum ketika ia menatapku dengan raut wajah ingin tahu. "Racunnya hampir sama dengan racun milik Sasori. Aku sudah menyuruh ninja medis untuk mencari tumbuhan Eygp yang getahnya kemungkinan adalah bahan utama membuat racun ini. Aku barusan mengeluarkan racun yang ada dalam tubuh orang tadi. Tiga ninja medis membantuku dan kuminta salah satunya untuk menunggui di dalam, sisanya bisa istirahat. Malam ini aku akan menginap di sini. Aku tidak tahu apakah pasienku kali ini masih bisa membuka mata besok pagi."
Kulihat Sasuke terdiam sebentar, ia seperti sedang mengolah semua kata-kata yang keluar dari mulutku.
"Kau pucat."
Dan dari semua hal yang ingin aku dengar, Uchiha Sasuke mengucapkan kata-kata yang membuatku ingin terus mencintainya.
.
.
.
Sasuke akhinya menemaniku menginap di rumah sakit setelah ia melaporkan pada Hyusize-sama semua hal yang sudah aku katakan. Hyusize-sama memang orang yang agak tertutup, aku bertemu ketika kami semua menyerahkan surat tugas dari Naruto sebagai bukti bahwa kami adalah kiriman dari Konoha. Ia bertubuh tinggi seperti Jiraya-sensei, pada wajahnya terdapat luka-luka melintang.
Ninja medis yang aku minta untuk mencari tanaman obat pulang dengan wajah bingung. Mereka berkata bahwa tanaman itu sudah dibakar habis oleh mendiang ibu Hyusize-sama, dan ketika Hyusize-sama meminta untuk mencari sisa-sisanya, mereka belum berhasil menemukan apa-apa.
Aku meminta mereka semua pulang. Menyisakan Sasuke dan aku di ruangan ini. Sasuke terlihat sudah tidur di atas sofa panjang di sudut ruangan. Aku tahu ia pasti kelelahan dengan tugasnya sebagai pemimpin Natsu. Aku menghela napas.
Jam dinding menunjukan pukul satu ketika aku melihat pergerakan dari tangan diplomat Iwa. Aku mendekatinya. Perlahan aku menyalurkan chakra pada dadanya agar ia merasa lebih baik. Setelah beberapa menit kudengar deru napasnya teratur dan halus, aku kira dia sudah merasa lebih baik dan siap terbangun esok hari.
"Sakura."
Aku mendengar bisikan. Sesuatu dari arah pintu memanggil namaku halus. Aku meraba tas pinggangku, katana dan shuriken absen dari sana.
Aku mengumpat kecil.
"Haruno Sakura yang begitu menawan, 'kan?"
Dengan sangat perlahan pintu terbuka. Menimbulkan derit yang panjang dan halus. Aku menahan napas. Tidak ada siapa-siapa di balik pintu, tubuhku masih mematung.
"Sakura-ku."
Sebuah kunai melayang menuju tubuhku dan aku tidak bisa bergerak menghindarinya.
BRUK!
Kurasakan seluruh tubuhku beradu dengan lantai kayu yang dingin, seseorang tengah memelukku. Aku menoleh dan menemukan Sasuke tengah memelukku dari belakang dengan satu tangannya sementara tangan yang lain tengah menggenggam katana yang kuperkirakan ia gunakan untuk menangkis kunai tadi.
Mata Sasuke berubah merah, ia memandang arah pintu dengan... marah?
Ia bergeser hendak berdiri, menyadarkanku agar tidak lama-lama menikmati pelukannya.
"Kau mengeluarkan racun dari pohon pisang?"
Aku menatap Sasuke heran. Sialan, hangat dan aroma tubuhnya masih jelas menempal di punggungku.
Aku mengalihkan tatapanku pada ranjang pasien dan menemukan sebantang pohon pisang berbaring di sana.
.
.
.
Kabar tentang pasien yang berubah menjadi pohon pisang menyebar hingga desa-desa lain, termasuk Konoha.
Sehari setelah kejadian tersebut, masing-masing desa yang menjalin kerjasa sama dengan Umigakure mengirimkan diplomat setidaknya dua orang. Umigakure disepakati sedang dalam siaga penyusup. Pukul sembilan pagi Natsu bersama seluruh diploma masing-masih desa melakukan rapat bersama beberapa Kage yang ikut hadir.
Hyusize-sama terlihat murung dan kawatir. Bagaimana bisa Iwa tidak merasa mengirimkan seorang diplomat yang membawa surat? Bagaimana bisa ternyata tidak ada pemberontakan di sana?
Keputusan rapat hari ini adalah; patroli akan dilakukan setiap hari oleh semua diplomat bersama dengan kepolisian elite Umigakure, yang sifatnya rahasia dan menggunakan kode 'api' sebagai kode rahasia misi ini.
Ayah Kakashi mengirimkan surat dua hari sekali ketika aku menceritakan tentang potongan bajuku yang ditemukan di hutan tempo hari. Ia berkata bahwa lusa akan menuju ke Iwa bersama dengan Naruto.
Sekitar pukul satu siang kami semua dipersilahkan untuk kembali ke rumah yang sudah disediakan untuk para diplomat. Rumah-rumah itu didirikan dalam sebuah lingkungan yang memang disediakan untuk diplomat desa masing-masing. Satu rumah untuk satu desa.
"Sakura."
Aku menoleh—dengan perasaan terkejut ketika seseorang memanggilku dari belakang ketika kami semua sedang berjalan meninggalkan ruang pertemuan.
"Gaara-sama?" aku membungkukkan badan, Kazekage Gaara terlihat ditemani oleh dua shinobi dari Suna, terlihat dari lambang pada ikat kepala mereka.
Ia tersenyum tipis kemudian mengangguk ketika bertatapan dengan satu persatu tim Natsu.
"Boleh aku bicara sebentar?"
Aku tersenyum kikuk, lalu menoleh ke arah Sai, Karin dan Juugo yang mengangguk seolah memperbolehkan aku pergi. Aku menatap Sasuke dan tidak menemukan apa-apa dalam matanya, kami memutuskan kontak ketika ia berbalik pergi disusul oleh yang lainnya.
"Kau sudah makan? Aku ingin berbicara agak lama. Bagaimana kalau bukan di sini?"
Aku lagi-lagi hanyak bisa mengangguk dan tersenyum kikuk.
.
.
.
"Aku dengar racunnya mirip seperti racun Sasori?"
Kami akhirnya pergi ke tempat makan yang aku pilih, aku memilih kedai sushi yang berada di pusat desa. Sengaja kupilihkan tempat makan bagus agar Kazekage Gaara merasa nyaman. Dua shinobi yang menemaninya ikut dan duduk di meja lain.
Aku mengangguk, menelan makananku kemudian menyesap sedikit ocha.
"Jadi begini Gaara-sama, menurut—"
"Gaara, saja Sakura.
"Tapi itu tidak sopan, bagaimana kalau—"
"Sakura."
Aku menghela napas pendek, percuma berdebat dengan laki-laki keras kepala seperti Gaara, atau Sasuke.
"Ya, Gaara, menurutku racunnya langka dan kurang modern. Seperti racun Sasori, asumsiku. Hanya saja racun ini belum aku ketahui efek sampingnya. Yang aku temukan dari pasien jadi-jadian semalam hanya ia lemas dan kulitnya kuning."
Ia mengamatiku dengan saksama. Membuatku tidak nyaman.
"Biar kutebak bahwa kau sempat mengira bahwa musuh yang belum kita ketahui ini sedang mengincar seseorang bukan? Aku menemukan sebuah informasi lengkap hanya dari satu orang saja."
Aku menahan napas, tidak suka dengan asumsi Gaara. Ia sedang menakut-nakutiku?
"Aku tidak berpikir demikian, kita tidak bisa memutuskan sesuatu tanpa bukti sekalipun kita bisa melakukannya, kan?"
Ia tersenyum tipis, lalu membenarkan rambutnya dengan satu tangan. "Cerdas dan logis sekali, seperti rumor yang kudengar. Baiklah, kukira hari sudah akan sore. Aku antar kau pulang."
Gaara berdiri, di ikuti oleh para pengawalnya.
"Aku bisa sendiri, Gaara."
Ia tersenyum sama. "Kita searah sakura, rumah singgahku dan rumah singgah Natsu tentu ada dalam satu lingkungan."
Aku mendengus.
Sepanjang perjalanan kami sama-sama bungkam. Langit mendung, dan angin terasa begitu dingin. Aku menatap seorang anak kecil yang mengintip kami berdua dari balik pohon besar. Aku tersenyum padanya, namun ia hanya bergeming. Ia terus menatapku dengan ekspresi yang susah ditebak.
Aku mengabaikannya.
Kami—tunggu, aku berhenti.
Melihat sekeliling dan semuanya sepi.
Tidak ada Gaara, tidak ada siapa-siapa. Aku sedang masuk dalam genjutsu seseorang. Tanpa pikir panjang aku mengambil sebuah kunai dan menancapkannya pada pahaku.
Aku mengerang, jatuh terduduk. Dan duniaku kembali.
"Sakura, apa yang—astaga!"
Kepalaku pening sekali, dan lamat-lamat aku melihat Gaara menghampiriku. Tubuhku lemas, dan ringan sekali.
.
.
Aku bangun dengan perasaan tidak menentu, badanku pegal-pegal tidak karuan. Aku melihat sosok Sai dan Karin mendekatiku. Karin memelukku erat sedangkan Sai menatapku penuh amarah.
"Apa yang kazekage sialan itu lakukan?"
Aku menggeleng cepat, menceritakan semuanya dan kulihat Sai terlihat lebih tenang.
"Sai memukul wajah Gaara sama ketika ia membawamu pulang."
Jelas Karin membuatku tercekat, "Baka, Sai. Kau tahukan kalau dia pemimpin Suna!"
Sai mengedikan bahu, "Kakak mana yang tidak melakukannya? ketika ada seorang laki-laki yang mengajak pergi adiknya kemudian adiknya pulang dengan luka pada paha, lalu pingsan dengan badan menempel pada lelaki tidak bertanggung jawab itu?"
"Menempel?"
"Sakura-chan digendong Gaara tampan!"
Karin berseru kegirangan.
Ha?
Sai hendak memprotes Karin ketika Sasuke masuk ke dalam kamar yang aku yakin adalah Kamar Sai. Auranya begitu dingin dan wajah tegasnya tidak terbaca.
"Aku ingin bicara pada Sakura." Ucapan Sasuke membuat Sai mengernyit tidak suka.
"Aku kakaknya."
Sasuke menoleh ke arah Sai dengan ekspresi dingin, yang dibalas Sai dengan ekspresi serupa.
"Terakhir aku mendengar seorang lelaki mengajak Sakura berbicara dan berakhir dengan luka tusuk dipahanya, bukan kah kita masih ingat?"
Sasuke menyeringai tipis. Seperti sedang menyiapkan kata-kata yang jauh lebih tajam dari pda ucapan Sai padanya.
Aku menyentuh tangan Sai, kemudian menggengamnya.
"Aku hanya akan berbicara dengan pemimpin kita Sai. Sebentar saja."
Ia menghela napas dan membalas genggaman tanganku. Ia mengangguk, kemudian keluar bersama Karin yang aku yakin menahan napas sedari tadi.
"Aku ingin mendengar langsung darimu."
Sasuke masih berada beberapa langkah dari ranjang, aku tersenyum tipis lalu memposisikan kapalaku bersender pada kepala tempat tidur. Sasuke menatapku intens, aku tahu ia sedang tidak berada dalam kondisi sabar.
"Duduklah Sasuke, aku tidak bisa bicara kalau kau menatapku seperti itu." Aku tersenyum simpul ketika Sasuke menurutiku. Ia duduk di kursi yang berada di dekat tempat tidur.
Aku menghela napas pendek, lalu kuberanikan untuk menatap matanya.
"Aku seperti diincar."
"Aku tahu."
Kami terdiam, aku bingung harus berkata apa. Jika Sasuke sudah tahu, apa artinya selama ini ia memperhatikanku?
Tidak, tidak. Sasuke dan aku adalah rekan kerja yang sempurna terlepas dari sifatku dimasa lalu. Kalau yang mengalami hal ini adalah Karin, aku yakin Sasuke sama mudahnya untuk mengerti kondisi yang ada.
Ia benar-benar pemimpin yang baik, bukan?
"Aku hanya menatap seorang anak kecil yang tengah memperhatikanku dengan Gaara tadi. Lalu ketika aku memutus kontak mata kami, yang aku lihat sekelilingku berubah menjadi aneh, dan sepi. Aku sadar ini adalah genjutsu, kemudian menusuk pahaku agar terbebas. Itu artinya ini adalah genjutsu biasa, dan tidak sekuat genjutsu klanmu."
Sasuke menyenderkan badannya pada kursi yang tengah ia duduki. Ia menatap langit-langit kamar ini.
"Maaf atas perlakuan Sai, dia hanya khawatir."
Kulihat Sasuke mengangguk samar.
Ia lalu berdiri, menatapku dengan wajah datarnya.
"Menurut analisaku sebaiknya kau menghindari berpergian sendiri untuk saat-saat ini, bahkan menghindari berpergian dengan orang yang bukan termasuk tim kita."
Ia meninggalkanku dengan sejumlah tanda tanya. Apa maksudnya aku juga harus mencurigai Gaara?
Sejurus kemudian kulihat Sai datang membawa nasi dan sup yang asapnya masih mengepul. Ia meletakkan nasi dan sup di samping tempat tidurku, lantas memposisikan dirinya duduk di atas kasur, tepat disebelahku.
"Ino lebih menyayangimu dari pada aku."
Hening, kami berdua merindukan Ino dan tiba-tiba Sai memasukkan nama Ino dalam percakapan kami, setelah sekian lama kami berdua tidak menyebut nama itu lagi.
"Kalau dia berada di sini, mungkin yang memukul Gaara bukan aku, tentu saja Ino dengan pengendalian pikirannya, bukan? Kau pasti bisa membayangkan itu."
Kami tersenyum satu sama lain, menyembunyikan luka lewat senyum-senyum memang bagian dari kami berdua. "Aku akan meminta maaf pada Gaara kalau kami bertemu, aku tidak bermaksud menemuinya tentu saja."
Aku tertawa dan memukul pundakknya.
"Jangan jauh-jauh dariku, Sakura. Hanya kau dan Ayah Kakashi yang tersisa. Kau adalah orang berharga bagi Ino dan Ayah Kakashi, lalu sekarang kau adalah orang paling berharg untukku. Aku tidak tahu, kalau ada sesuatu terjadi padamu. Aku harus melindungi siapa lagi dengan tanganku ini."
Aku meneteskan air mata, lalu kami berpelukan. Sai adalah kakak yang baik.
Malam itu Karin memutuskan untuk tidur di kamar Sai bersamaku, dengan wajah polosnya Sai berkata ingin tidur denganku, yang langsung disambut bentakkan kasar dari mulut pedas Karin.
"Tapi aku kakaknya, memangnya kenapa kakak adik tidur bersama?"
Karin semakin berang, lalu mengancam Sai bawa besok makanan Sai akan ia isi dengan obat pencahar.
.
.
.
Aku terbangun dengan pemandangan Sasuke tengah tertidur di kursi samping tempat tidur. Jam dinding menujukkan pukul tujuh pagi dan hujan deras terdengar menampar-nampar jendela.
Dengan hati-hati aku menuruni ranjang untuk mencuci muka. Masing-masing kamar kami memang sudah disediakan kamar mandi dalam. Namun ketika aku menuruni ranjang, hal yang aku lakukan malah memperhatikan Sasuke. Ia begitu pulas, dan menawan seperti biasanya.
Dulu sekali aku memimpikan hari dimana aku bangun dan yang pertama kulihat adalah wajah Sasuke kembali terbayang dalam benakku. Tanpa sadar aku mengusap kepalanya dengan tanganku, sangat perlahan sebab Sasuke terlihat begitu rapuh. Aku tidak ingin menghancurkannya.
Aku terkesiap ketika sebelah tangan Sasuke menggengam tanganku, matanya terbuka dan kami bertatap mata seketika.
Baik aku maupun Sasuke terdiam dengan mata saling berbicara.
Aku tidak berdaya hanya untuk sekadar melepaskan tangan dari genggamannya, aku tidak ingin lepas. Sasuke terlihat hendak mengatakan sesuatu, namun yang terjadi adalah ia melepaskan genggamanku dan matanya lari ke arah pintu.
Aku kecewa dan takut secara bersamaan. Apa sasuke marah? Batinku gusar. Namun kecemasanku hanya sebentar, sebab tiba-tiba pintu kamar terbuka lebar disusul teriakan Naruto dan ayah Kakashi bersamaan.
Kekcewakanku segera kuganti dengan senyuman.
.
See you next Chapter
