Who will u choose?
Cast : Naruto Sasuke Itachi Sakura
Pair : Sasunaru Itanaru Sasusaku
Genre : History Romance Drama
Warning : Mpreg, boys love, yaoi
Disclaimer : karakter milik masashi kishimoto cerita milik saya
Terima kasih sudah mau mereview di prolog sebelumnya ^^
Don't like don't read
Bagi penggemar sakura atau ss silahkan klik tombol back karena akan dinistakan disini
Enjoy~
Chapter 1
Berabad-abad yang lalu terdapat sebuah negara bernama Konoha di pulau yang kini dikenal bernama Jepang. Di negara Konoha sendiri terdapat 3 kerajaan, yang pertama kerajaan Uchiha yang terletak di bagian utara, lalu kerajaan Suna yang berada di bagian selatan, dan terakhir kerajaan Iwagakure. Ketiga kerajaan itu hidup damai tanpa peperangan selama bertahun-tahun. Ketiga kerajaan itu bekerjasama dalam bidang ekonomi, politik, strategi, dan keamanan. Tidak heran jika negara-negara tetangga sangsi jika harus berperang atau merebut salah satu wilayah kerajaan tersebut.
Mari kita tinggalkan sejenak sejarah tentang Konoha yang sudah pasti akan membuat readers bosan dan menguap. Benar kan?
Kita akan melihat di salah satu rumah sederhana di wilayah kerajaan Uchiha . Rumah itu terbuat dari kayu kualitas rendah dan beratapkan jerami. Namun jika kau melihat ke dalam kau akan merasakan kehangatan dan kasih sayang yang tidak akan kau temukan di rumah manapun. Termasuk istana sekalipun.
"Naruto, bangun. Hari ini kau harus membantu tou-san kan?" sang ibu dari rumah itu membangunkan anaknya yang masih setia tidur di futon berantakan miliknya. Wajahnya tersenyum lucu melihat putra nya yang terdapat air liur di mulutnya.
"Hmm iya kaa-san. Naru bangun sekarang" Sang putera aka Naruto berusaha bangkit dari futonnya dan dengan mata setengah terpejam melangkah masuk ke kamar mandi dengan pintu gesernya. Kaa-san Naruto yang bernama Kushina merapikan futon anaknya dan menyimpannya di dalam lemari geser di sudut ruangan. Setelah itu dia menuju dapur untuk membuatkan sarapan bagi anak dan suaminya.
Naruto yang sudah selesai mandi segera menuju ruang makan. Meskipun disebut ruang makan, tapi tidak terdapat meja ataupun kursi. Hanya sebuah teko yang digantung dan dibawahnya terdapat kayu bakar.
"Naru ayo cepat makan, tou-san mu sudah berangkat dari tadi" ujar Kushina sambil mengisi mangkuk Naruto dengan nasi hangat.
"Apa? Kaa-san kenapa tidak memberitahuku? Aduh, kaa-san bungkus saja makanannya. Aku makan di tempat tou-san saja" Naruto buru-buru mengenakan kasutnya dan mengomel karena keterlambatannya. Salahkan dirinya yang terlalu lama di kamar mandi.
"Ini bekalmu Naru. Jangan lupa dimakan ya" Kushina memeluk Naru sekilas.
"Ittekimasu" suara Naruto hilang setelah berlari dan membelok ke arah kanan.
"Itterashai" Kushina melambaikan tangannya dan kembali melanjutkan pekerjaan rumah tangganya.
.
.
.
Naruto berlari menuju tempat kerja tou-san nya, yaitu pasar yang berada di tembok luar istana. Tou-san nya bekerja sebagai pedagang buah-buahan. Naruto selalu membantu tou-san nya dari pagi sampai sore hari. Hasil dari penjualan buah-buahan memang tidak terlalu banyak, namun dapat mereka pergunakan untuk makan sehari-hari.
Naruto yang mempunyai nama lengkap Namikaze Naruto adalah seorang lelaki berwajah manis dan menarik. Dengan rambut kuning cerah dan mata biru langitnya, jangan lupa tiga buah goresan seperti kumis di kedua pipi mulusnya menjadi ciri khususnya. Selain itu tubuh ramping dan kaki yang jenjang tanpa bulu menambah daya tariknya.
Naruto memang tidak pernah menempuh pendidikan layaknya teman-temannya karena orangtuanya yang tidak mampu. Namun Naruto tidak kenal putus asa, dia meminjam buku dari seorang pria bernama Jiraya. Jiraya berjualan buku bekas ataupun buku dari luar negera Konoha. Meskipun sebagian besar berisi buku orang dewasa, tapi banyak juga buku pengetahuan dan sastra. Jiraya yang tidak ingin Naruto-yang sudah dianggap cucunya sendiri- dewasa sebelum waktunya, memilah buku dewasa dan pengetahuan di rak yang terpisah.
Dengan buku yang dipinjamnya, Naruto dapat mengenal apa itu astronomi, tubuh manusia, macam-macam penyakit, pengobatan, dan matematika. Beruntung dia diajari membaca dan berhitung oleh kedua orangtuanya. Jadi dia bisa membaca semua buku milik Jiraya. Kecuali buku dewasa tentunya.
Selain itu tanpa sepengetahuan orangtuanya, Naruto belajar pedang dengan Zabuza, orang yang pernah ditolongnya sewaktu Zabuza pingsan dengan luka yang parah di tengah hutan. Naruto yang tengah mencari kayu bakar sangat terkejut melihat kondisi Zabuza dan tanpa pikir dua kali langsung mengobati nya. Beruntung dia belajar teknik pengobatan dari buku Jiraya. Setelah seminggu, Zabuza sembuh dan Naruto yang mengetahui Zabuza ahli memainkan pedang langsung merengek meminta diajarkan bermain pedang. Dengan mata seperti anjing minta dipungut Zabuza menghela nafas dan menuruti keinginan Naruto. Hingga sekarang Naruto masih belajar dengan Zabuza seminggu sekali. Itupun kalau Zabuza tidak sibuk atau bekerja sebagai seorang samurai.
Setelah sampai di tempat tou-san nya, Naruto menggulung lengan bajunya sampai ke siku. Dan mulai membantu tou-san nya yang kerepotan melayani pelanggan.
Mari kita tinggalkan kegiatan Naruto yang tengah sangat sibuk dan beralih pada kehidupan istana.
Kerajaan Uchiha, merupakan kerajaan terbesar dari ketiga kerajaan itu. Kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana dan disegani rakyat bernama Uchiha Fugaku. Juga Sang ratu yang cantik dan anggun meskipun sudah paruh baya bernama Uchiha Mikoto. Sang raja dan ratu mempunyai dua orang putera atau pangeran yang bernama Uchiha Itachi dan Uchiha Sasuke. Kedua pangeran sudah terkenal di seluruh penjuru Konoha. Mereka terkenal akan ketampanan, kepintaran, keahlian dalam segala tetek bengek tentang kerajaan seperti memanah, berkuda, berpedang, bersyair, dan sebagainya.
Siang itu Itachi tengah meneguk teh hijaunya dengan sepiring kue dango hangat. Dia tengah duduk di gazebo istana dengan pemandangan jemabatan penghubung pavilun miliknya dengan paviliun adiknya. Suara gemericik air sungai kecil di bawah jembatan menemani kedamaian siang itu.
"Hmm memang minum teh di siang hari ditemani kue dango memang sangat nikmat. Betul kan, otouto?" Itachi meletakkan cangkir kiriman negeri China di atas meja. Orang yang dipanggilnya otouto mendengus tidak setuju.
"Daripada kau santai-santai begini, lebih baik kita berlatih memanah, aniki" sungut Sasuke. Dia sama sekali tidak menyentuh teh yang masih hangat itu.
"Sekali-sekali kau harus beristirahat, adik ku. Tidak baik jika terus-terus an berlatih" ujar Itachi lembut. Dia tersenyum kecil melihat raut wajah adik nya. Tiba-tba dia teringat sesuatu.
"Ah, bagaimana jika kita keluar istana? Sudah lama kita tidak melihat kehidupan rakyat di luar istana"
"Tidak mau, mereka itu kotor" ketus Sasuke. Dia melirik kumpulan prajurit yang sedang berjalan menuju paviliun Raja.
"Ckck kau ini pangeran, Sasuke. Seorang pangeran harus memperhatikan kondisi rakyatnya. Ayo cepat, nanti kutraktir buah tomat di pasar" Itachi bangkit berdiri dan berjalan terlebih dahulu. Pengawalnya yaitu Kakashi mengikuti dengan setia. Sasuke mendengus dan terpaksa mengikuti kakak nya setelah mendengar kata tomat.
.
.
.
Setelah beganti pakaian dengan pakaian yang lebih sederhana namun tetap terlihat bagus, mereka berjalan ke luar istana dan menuju pasar. Kedua pangeran itu memakai topi yang berbentuk kerucut untuk menutupi wajah mereka (bayangin topi yang dipake akatsuki. Tanpa kertas-kertas putih dan kerincingan bel lho tapi #digampar). Kakashi sang pengawal juga memakai penyamaran namun tetap menyematkan pedang di pinggang kirinya. Sasuke berualng kali berwajah masam tatkala tidak sengaja seseorang berpakaian kumuh atau bau menabrak bahunya. Setelah ini dia harus mandi minimal 3 kali untuk membersihkan dirinya, pikirnya.
Itachi tidak peduli sikap Sasuke saat itu namun dia melihat permasalahan yang ada di luar istananya itu. Ada yang tengah mengemis meminta belas kasihan padanya, menawarinya barang jualannya, menawarinya berjudi, dan melihat seorang yang tengah dianiaya karena tidak bisa membayar hutang. Itachi kasihan melihat orang itu, namun dia tidak boleh menunjukkan jati dirinya dengan ikut campur. Di dalam hatinya dia bertekat untuk mensejahterakan rakyatnya kelak.
Teringat bujukkannya pada adiknya, Itachi menghampiri penjual buah-buah an disana. Dilihatnya buah tomat yang masih segar walaupun sudah siang hari. Sasuke pun gembira melihat buah kesayangannya itu, walaupun wajahnya masih tetaplah datar.
"Berapa harga buah tomat ini?" tanya Itachi sambil memegang satu buah tomat. Berusaha mencari kekurangan buah itu namun tidak ada. Pasti penjualnya merawat tomat ini dengan baik, pikirnya.
"Ah, satu tomat harganya 10 riyo tuan" jawab Naruto ramah. Itachi menatap wajah Naruto yang manis, meskipun di dahinya terdapat keringat yang mengucur tidak berkedip.
"Aniki? Aniki!" Sasuke menepuk bahu Itachi keras. Itachi langsung gelagapan dan berusaha menangkap tomat yang melompat-lompat di tangannya.
Grepp
Tomat itu akhirnya tertangkap tapi bukan hanya satu orang yang menangkapnya, melainkan dua orang. Itachi dan Naruto.
'Tangannya halus sekali' inner Itachi.
'Kenapa wajahku terasa panas?' ucap Naruto dalam hati.
PLAKK
Sasuke menepis tangan Naruto dari tangan Itachi. Wajahnya benar-benar geram. "Berani sekali kau menyentuh tangan pa—"
"Sasuke, diamlah. Ini uangnya, aku beli 10 buah" Itachi menghentikan ucapan Sasuke yang hendak membongkar penyamaran mereka berdua. Naruto dengan gugup membungkus 10 tomat dan memberikannya pada Itachi.
"Ambil saja kembaliannya" Itachi berbalik dan diikuti Kakashi dan Sasuke. Sebelumnya Sasuke sempat menatap tajam mengintimidasi Naruto. Membuat Naruto bergidik.
"Terima kasih tuan" ucap Naruto setengah berteriak karena ketiga orang itu sudah lumayan jauh.
"Tuan itu, lumayan tampan juga. Hehehe" Naruto tersipu malu dan kembali melayani pembeli.
.
.
.
Di paviliun Raja, Fugaku tengah berbaring di atas futon. Mikoto duduk di sampingnya untuk merawat Fugaku. Sang Raja tengah kelelahan karena usianya yang semakin tua dan mudah letih. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, dia masih kuat untuk berkuda maupun mengerjakan dokumen-dokumen istana, namun kali ini ia harus menyerah pada usia nya.
"Ratuku, kurasa kita harus mengangkat pangeran Itachi sebagai penggantiku. Tubuhku sudah terlalu renta untuk melanjutkan tugasku ini" ujar Fugaku lemah.
"Baiklah kalau itu keinginan mu Rajaku. Besok kita akan membicarakannya dengan putra kita" Mikoto mengelus tangan Fugaku yang mulai keriput itu lembut. Sungguh Fugaku sangat beruntung memiliki istri sekaligus ratu seorang Uchiha Mikoto. Istrinya itu lemah lembut, cantik, bijaksana, anggun, pintar, dan mencintai dirinya. Fugaku sendiri tidak memiliki seorang selir satupun karena dia sangat mencintai istrinya itu.
.
.
.
Keesokan harinya, Itachi dan Sasuke dipanggil oleh sang Raja. Sang Raja duduk di kursi singgasananya dan Ratu Mikoto duduk di sebelahnya. Itachi dan Sasuke duduk di sisi kiri dan kanannya namun agak jauh darinya. Di depan mereka bersimpuh para menteri dan pejabat istana.
"Hari ini aku mengundang kalian semua untuk mengumumkan sesuatu. Karena kondisi tubuhku yang semakin lemah dan renta, aku ingin putraku yaitu Pangeran Itachi untuk menggantikanku sebagai Raja Kerajaan Uchiha".
Sontak para menteri berbisik-bisik dan membuat sang Raja geram. "Apa yang kalian bicarakan? Kalian tidak setuju dengan keinginanku ini?!"
"Bukan begitu Yang Mulia, namun di dalam aturan istana, untuk menjadi seorang raja, orang itu dalam arti Pangeran Itachi harus menikah terlebih dahulu" ujar salah satu Menteri sambil menunduk. Karena sudah menjadi aturan tidak boleh langsung memandang wajah Raja.
"Dia benar Yang Mulia. Sudah bertahun-tahun aturan itu ditaati oleh raja-raja di kerajaan Uchiha. Sudah sepatutnya kita melaksanakan aturan itu juga" imbuh Menteri lainnya.
"Hmm baiklah kalau begitu. Pangeran, apa pendapatmu?" tanya sang Raja sambil menatap Itachi.
"Hamba hanya bisa mengikuti aturan dan kehendak Yang Mulia Raja"
"Lalu, apakah kau mempunyai calon istri, Pangeran?" tanya Mikoto kali ini. Dia penasaran selama ini putera nya tidak pernah menceritakan gadis manapun yang dia sukai atau yang dia tertarik.
"Belum ada Yang Mulia Ratu. Kalau boleh hamba ingin mengajukan satu keinginan" ujar Itachi kalem. Dia berdiri dan membungkuk ke arah kedua orangtuanya.
"Apa itu, Pangeran?" tanya Fugaku penasaran. Selama ini anaknya tidak pernah meminta sesuatu pada nya maupun ibunya. Sejak kecil Itachi sudah dilatih untuk menjadi penerus kerajaan.
"Hamba ingin diadakan sayembara untuk pemilihan calon istri hamba"
"Apa?" Baru kali ini diadakan sayembara untuk calon istri sekaligus ratu. Biasanya sang calon raja akan memilih putri kerajaan tetangga atau putri dari salah satu menteri yang terpelajar.
Sang ibu mencoba membujuk putera nya untuk menghentikan permintaannya itu. "Pangeran, bagaimana kalau putri dari kerajaan Iwagakure saja? Puteri Shion cukup cantik dan terpelajar"
"Tidak ibunda. Putusanku sudah bulat" kalau Itachi sudah mengatakan ibunda atau ayahanda, maka keputusan sudah tidak dapat diganggu gugat.
Fugaku menghela nafas. "Baiklah kau yang mengatur persyaratan dan apa saja yang akan diuji, Itachi"
"Baik ayahanda"
Sasuke terdiam. Masih tidak percaya kakak nya mau-mau nya mengadakan sayembara bodoh itu. Padahal jika Itachi mau, tinggal menjentikkan jari saja semua puteri dari seluruh penjuru bumi akan berdatangan padanya. Terkadang kakaknya itu tidak bisa dia mengerti. Begitu aneh dan penuh misteri.
.
.
.
Maka besoknya mulailah diberitakan di seluruh penjuru negara Konoha bahwa pangeran Itachi akan dijadikan Raja dan diadakan sayembara untuk pemilihan istri sekaligus ratu.
"Sayembara dari kerajaan! Siapa yang berhasil akan diangkat menjadi Yang Mulia Ratu"! Teriak prajurit istana pada rakyat yang tengah berkumpul di pasar.
Semua orang di pasar berdesak-desakkan untuk melihat pengumuman yang ditempel di tembok.
"Kyaa aku harus mengikuti sayembara itu! Aku pasti yang terpilih menjadi ratu" seru salah seorang gadis.
"Hei! Kau itu jelek! Mana mungkin Yang Mulia pangeran memilihmu! Yang pasti dipilih Yang Mulia itu aku bukan kau!" keduanya terus berteriak jika dirinya yang lebih pantas bersanding dengan Itachi.
Naruto yang juga ingin melihat sayembara itu mencoba maju. "Permisi-permisi.. aduh.. permisi" Naruto yang berbadan mungil beberapa kali harus terdorong kembali ke belakang. Namun dia tidak menyerah. Akhirnya dia sampai ke depan pengumuman itu dan mata biru nya berbinar gembira. Dia memutuskan untuk mengikuti sayembara itu...
.
.
.
Besok pagi istana sudah dipenuhi gadis-gadis yang mengantri untuk mendaftar sebagai ratu. Ribuan gadis dari seluruh negeri Konoha tidak sabar untuk bertemu pangeran yang katanya tampan dan pintar itu. Suara jeritan dan keluhan karena panas dan terlalu lama mengantri membuat kaki mereka pegal. Yukata maupun kimono terbaik mereka membuat lautan gadis itu berwarna warni jika dilihat dari atas. Tidak lupa dengan aksesoris mulai dari jepit rambut sampai make up tebal menghiasi wajah mereka.
Para prajurit kuwalahan menyeleksi mereka. Ya karena persyaratan nya hanya satu yaitu tidak sedang menikah atau sudah pernah menikah. Jadi pantaslah kalau banyak sekali yang mendaftar sayembara ini.
Salah satu menteri berdiri di atas paviliun dan membacakan seleksi pertama. "Yang Mulia Pangeran mengajukan seleksi pertama. Yaitu para pendaftar akan dites kecakapan mereka dalam bersyair dan menulis puisi. Seleksi pertama adalah 100 orang" seusai membacakan tes pertama, para gadis itu sibuk berbicara satu sama lain. Ada yang mengeluh, 'aduh aku kan tidak bisa bersyair' atau 'untung saja aku mendapat pelajaran bersyair kemarin' atau yang lebih parah 'bagaimana ini, aku tidak bisa menulis'. Abaikan yang terakhir.
.
.
.
Tes pertama telah selesai dan 100 orang terpilih. Gadis-gadis itu memekik gembira saat diberitahu mereka lolos tes pertama. Hmm sepertinya tidak semua gadis, karena di barisan paling belakang terlihat seorang pemuda berambut jabrik warna kuning cerah dan bermata biru. Ya itu adalah Naruto. Dia benar-benar serius waktu ingin mendaftar waktu itu. Kedua orang tuanya tidak tahu kalau dia mendaftar sayembara ini. Dia pagi-pagi sekali sudah pergi dan menulis surat jika dia akan pergi seharian ke suatu tempat. Dan tidak perlu khawatir. Tulisnya.
Menteri yang berbeda dari menteri di tes pertama maju dan membacakan tes kedua. "Tes kedua adalah : tes pengetahuan. Seleksi 30 orang"
"Uh, kenapa sedikit sekali orang yang dipilih? Aku tidak yakin bisa lolos kali ini' keluh gadis berambut coklat. Temannya menyetujuinya. Tidak banyak yang tersaring kali ini.
Setelah itu terpilih lah 30 orang termasuk Naruto. Entah dia beruntung atau memang dia mampu menjawab semua pertanyaan itu.
Lalu menteri yang ketiga membacakan tes ketiga. "Tes yang terakhir. Yaitu : Tes kesuburan. Selesi 5 orang"
Semua peserta terpekik kaget. Tidak menyangka akan dites seperti itu. Terlebih Naruto. Dia kan laki-laki, mana mungkin dia akan lulus tes semacam itu?
.
.
.
Tabib istana dan dayang-dayang memeriksa ketiga puluh peserta itu. Kekhawatiran jelas terpancar di wajah Naruto. Harapannya untuk membuat keluarganya menjadi lebih baik pupus sudah. Dia pikir jika menjadi seorang ratu ayah dan ibunya akan bisa mendapatkan rumah yang hangat dan nyaman juga makanan yang enak dan pakaian yang bagus. Tidak sadar karena melamun, tiba gilirannya untuk diperiksa.
"Berikutnya!"
"Hey, ayo maju!" Naruto tersadar dan pasrah diperiksa oleh tabib istana. Setelah beberapa menit, sang tabib istana takjub.
"Luar biasa, Anda sangat subur tuan" Naruto membelalakan matanya. "A-apa? Tapi aku kan laki-laki"
"Tapi berdasarkan pemeriksaan ku, Anda memang dikaruniai sebuah rahim layaknya wanita dan tubuh Anda sangat subur. Kelak bayi Anda akan terlahir sangat sehat dan kuat"
Naruto masih tidak mengerti bagaimana bisa dia mempunyai rahim. Menurut buku yang dipinjamnya dari Jiraya, hanya wanita yang mempunyai rahim. Dan laki-laki tidak punya tentu saja.
"Aku harus menanyakan pada kaa-san dan tou-san setelah ini" tekadnya.
.
.
.
Itachi tengah membaca buku saat Kakashi masuk.
"Yang mulia, sudah ada 5 orang yang terpilih lolos tes terakhir sayembara"
"Hmm panggil mereka ke hadapanku" Itachi menutup bukunya dan bersiap ke halaman istana tempat mengadakan pelatihan pedang.
Sasuke yang mencuri dengar pembicaraan itu diam-diam mengikuti kakaknya.
.
.
.
"Yang mulia pangeran tiba!" umum seorang prajurit.
Semua orang di halaman istana membungkuk hormat pada Itachi yang baru saja sampai. Setelah duduk di kursi yang disediakan, Itachi menatap satu persatu orang yang lulus seleksi. Mata nya terbelalak tatkala melihat si penjual buah di pasar.
"Apa-apaan ini? Kenapa ada seorang laki-laki yang
memenangkan sayembara pemilihan Ratu?!" teriak Sasuke tidak terima. Mulanya dia hanya bersembunyi dibalik patung naga istana namun dia langsung keluar dan menuding Naruto.
"Di persyaratan, tidak disebutkan sayembara ini ditujukan untuk wanita, Yang Mulia" sahut seorang pria bermata biru langit dan berambut kuning cerah. Naruto.
"Sasuke, untuk apa kau kemari?" desis Itachi tidak suka. Adiknya ini terlalu mencampuri urusan nya.
"Aniki, kau harus membuang laki-laki ini dari istana! Apa kata negara lain kalau dia tahu ratu kerajaan Uchiha seorang laki-laki, huh?" Sasuke mencoba mengompori beberapa orang yang terlihat setuju dengan ucapannya.
"Benar Yang Mulia, sebaiknya Yang mulia pikirkan nama baik dan ucapan Yang Mulia Sasuke" seorang gadis yang terpilih berusaha mempengaruhi Itachi. Gadis berambut pink yang menatap sinis Naruto.
"Pemuda itu benar. Di persyaratan tidak terdapat tulisan jika sayembara ini dikhususkan untuk perempuan. Itu berarti dia boleh mendaftar dan nyatanya dia sudah berhasil sejauh ini. Jika ada yang tidak sependapat denganku, silahkan pergi dari istana ini" ucap Itachi dingin.
"Dan kau Sasuke, pergi ke paviliun mu sekarang!" Itachi mengusir Sasuke. Adiknya itu tidak percaya jika kakaknya mengusirnya seperti ini. Dia mendecih dan menatap Naruto penuh kebencian. Dan segera berlalu dari sana.
"Baiklah, dari 5 orang ini, aku akan mengajukan satu tes lagi. Yaitu tes kebijaksanaan" ucap Itachi menatap satu per satu lima orang itu.
"Aku akan mengajukan satu pertanyaan. Dan kalian harus menjawabnya. Jawaban yang paling benar akan memenangkan sayembara ini dan menjadi ratu ku"
Kelima orang itu menjawab. "Kami siap menerima pertanyaan Yang Mulia"
"Pertanyaannya. Apa yang paling besar di dunia ini?"
Kelima orang itu memasang wajah kebingungan. Itachi teringat pertanyaan itu dari buku yang baru saja ia baca tadi sebelum kesini. Buku yang berasal dari cina.
"Kau jawab terlebih dahulu" Itachi menunjuk gadis berambut hitam di pojok kiri.
"Me-menurut ha-hamba ya-yang pa-paling besar di d-dunia ini a-adalah gunung Y-yang Mulia" jawab gadis bernama Hinata itu.
Giliram gadis sebelahnya yang menjawab. Yaitu Ino. "Menurut hamba jawabannya adalah dunia ini sendiri Yang Mulia"
Gadis disebelahnya lalu menjawab "Hamba berpendapat jika yang terbesar di dunia ini adalah laut Yang Mulia"
Tersisa Sakura dan Naruto. Sakura menjawab "Hamba berpikir jika yang terbesar di dunia ini adalah hati Yang Mulia" Sakura tersenyum licik. Jawabannya pasti benar.
"Lalu kau, apa jawananmu?" Itachi menatap Naruto.
"Yang terbesar di dunia ini adalah nafsu, Yang Mulia. Karena nafsu membuat banyak orang celaka, menghalalkan segala cara untuk memenuhi nafsu mereka" jawab Naruto tenang. Itachi menatap Naruto tidak percaya. Dia sangat yakin jika buku yang dibacanya tadi hanya satu di dunia ini. Penulisnya sendiri yang menghadiahkan padanya.
Itachi bangkit berdiri dan melangkah mendekati kelima orang itu. Itachi berbelok ke arah Sakura dan Naruto. Sakura sendiri sudah tersenyum-senyum gembira. Dikiranya dia yang memenangkan sayembara ini.
"Selamat, Ratuku. Kau yang terpilih" Itachi mengambil tangan kanan Naruto dan mengajaknya berdiri. Orang-orang disana menatap tidak percaya jika Naruto yang seorang laki-laki terpilih.
"Hidup Yang Mulia Raja!"
"Hidup Yang Mulia Ratu!"
Semua orang disana bersujud pada Itachi dan Naruto. Naruto masih tidak percaya jika dia yang terpilih. Naruto menoleh dan memandang Itachi lekat-lekat.
Tiba-tiba matanya melebar mengingat wajah Itachi yang familiar. "Ya-yang mulia yang waktu itu membeli tomatku kan?"
Itachi tersenyum geli dan menaruh telunjuknya di depan bibir Naruto. "Sstt biar itu menjadi rahasia kita, ratuku"
Naruto mengangguk dengan wajah merona. Itachi pun dengan berani mencium pipi Naruto.
Semua orang sontak menundukan wajahnya. Tidak boleh melihat kemesraan raja dan ratu.
"Ya-yang mulia.." naruto semakin merona dan bersembunyi di dada Itachi.
Tbc ^^
Ada kata2 di prolog yg saya ganti karena kurang cocok. Maaf ya hehehe
Trs sasunaru nya blm muncul disini. Baru itanaru. Mungkin 2chapter lagi baru muncul sasunarunya.
Disini pakaiannya kyk kerajaan jepang jaman dulu ya. Seperti kimono tp bawahannya celana yang menggembung. Gk tau namanya apa. Hahhaa
Review please~
