TRIANGLE-Another Talesvers
(The Secret Lover)
.
.
.
©Mĭķũ
Note:
There are just two point of view which one is the secret lover (I make sure to You, he is a he!-man-) and Wookie's as first person POV.
Noother, key ^^
.
.
.
.
Aku menunggu dengan sabar di mobilku. Sebentar lagi siarannya akan berakhir.
Aku sendiri tak tahu mengapa aku tertarik padanya. Apakah karena kemiripannya dengan Jaejoong?
Mereka sama-sama manis, meski Ryeowook lebih manis, karena Jaejoong adalah cantik, menurutku.
Badan mereka yang mungil, dibandingkan denganku, meski Ryeowook lebih mungil, karena Jaejoong cukup tinggi, dan sedikit berotot.
Sama-sama pandai memasak. Itu tidak bisa dibandingkan. Dua-duanya sepadan, meski sepertinya Jaejoong mengkhususkan diri membeli peralatan masak mahal untuk dapurnya. Tapi Ryeowook memasak penuh cinta.
Ryeowook, bagaimana aku menggambarkannya? Dia seperti Jaejoong. Entah kenapa hanya itu yang bisa ku pikirkan.
Pikiranku buyar saat ketukan kecil terdengar di jendela mobilku. Kulihat Ryeowook menurunkan scarfnya dan tersenyum padaku. Aku segera membuka pintu mobilku dan keluar menemuinya.
"Sudah selesai?"
Ryeowook mengangguk. Mantelnya terlihat tebal, dan hangat. Dia seperti porselen mungil yang hangat. Kulit pucatnya bercahaya terkena pantulan lampu-lampu disekitar kami.
"Hyung, sebaiknya kita cepat pergi. Nanti Sungmin hyung melihat kita dan menanyaiku macam-macam" ucapnya lembut.
Kuusap pipinya yang memerah karena dinginnya udara. Aku berjalan ke sisi lain mobil untuk membuka pintu untuknya. Kuantarkan sampai dia duduk di kursi penumpang bagian depan.
"Gomawo" bisiknya lirih, membuat desiran hangat di dadaku.
Aku menutup pintunya dan masuk kembali ke belakang kemudi. Aku menghidupkan mesin mobil dan melaju ke arah pinggiran kota.
Kulihat dia memejamkan matanya.
"Kau lelah?" tanyaku dan membingkai sebagian wajahnnya dengan tangan kananku.
Dia membuka matanya, beradu pandang denganku dengan tatapan hangat.
"Takkan lebih lelah darimu, hyung" jawabnya.
Kuacak poninya mendengarnya menjawab seperti itu.
"Tidurlah. Kita akan sampai 30 menit lagi" ujarku sambil meraih tangannya. Dia menggenggam tanganku dan meletakkan didadanya, memeluk lenganku erat.
"hmm" gumamnya.
Aku hanya bisa tersenyum dan kembali fokus pada jalanan di depanku.
.
.
.
.
©Mĭķũ
.
.
.
.
Dia tertidur pulas. Aku tak tega membangunkannya. Jadi kuputuskan saja untuk menggendongnya. Kuraih dia dibagian leher dan lekukan lututnya, mengangkatnya yang bagiku seringan bulu tanpa kesulitan. Aku membawanya masuk ke apartemenku. Tapi aku cukup payah juga memasukkan id card pintunya.
"Kenapa tidak membangunkanku, hyung?" tanyanya dengan suara serak.
Aku menurunkannya dan menyandarkannya di dadaku, memeluk erat dengan sebelah lenganku.
"Kau tidur pulas, bagaimana aku tega"
Dia tersenyum dan melingkarkan tangannya di punggungku.
Ketika pintu akhirnya terbuka, aku membawanya masuk, dan mengarahkannya ke sofa besar di ruang tengah. Kududukan dia disana.
"Mau mandi? Aku akan menyiapkan air hangat untukmu. Berendam akan membuatmu nyaman"
Dia mengangguk dan merebahkan dirinya di sofa. Kutinggal dia pergi ke kamar mandi, menyiapkan air hangat untuknya.
.
.
©Mĭķũ
.
.
Mandi air hangat memang yang terbaik. Perlahan kurasakan sensasi itu membuat otot-otot yang tegang dan kaku menjadi lentur, dan rileks. Aroma lavender yang menguar dari bathup membuat kepalaku ringan. Nyaman.
Yunho hyung yang menyiapkannya untukku. Dia sangat peduli dengan hal-hal kecil seperti ini. Dia lelaki yang bisa diandalkan. Aku mungkin tahu bagaimana perasaan Jaejoong hyung saat harus berpisah darinya. Tak rela. Itu sudah pasti. Tapi mereka sudah membuat keputusan. Entah itu yang terbaik atau bukan, semua sudah terjadi.
Kulihat Yunho hyung memendam sesuatu. Pasti ada hubungannya dengan Jaejoong hyung. Hanya namja itu yang bisa membuat seorang Yunho gelisah.
Tak ingin membuat Yunho hyung menunggu terlalu lama, aku menyudahi acara berendamku. Kupakai piyama yang kulihat sudah disiapkannya di atas tempat tidurnya.
Aku melangkah keluar dan menemukan Yunho hyung sedang menghadapi televisi. Tapi aku tahu pasti pikirannya tidak ada disana. Matanya memandang kosong ke layar besar itu.
Aku melingkarkan lenganku ke lehernya dari belakang sofa tempat dia duduk. Kulihat Yunho hyung memejamkan matanya saat aku mengecup telinganya main-main.
"Sudah selesai?" tanyanya.
"Hmmm" aku mencium pipinya, dan berjalan memutar untuk duduk disampingnya. Segera saja dia menarikku ke dalam dekapannya.
"Mau makan? Aku sudah memesan makanan untukmu" tanyanya lagi seraya mengendusi aromaku dan menciumi leherku.
"Ani, aku sudah makan di Sukira. Batalkan saja hyung, atau kirimkan ke dorm, untuk Changmin" usulku.
Tampak Yunho hyung berpikir sebentar dan mengagguk. Dia menelepon layanan pesan antar tadi, memintanya mengirimkan makanan pesanannya ke dormnya.
Ku lihat tayangan televisi yang menampilkan film barat. DVD rupanya. Aku tidak begitu mengerti. Aku hanya mengikuti teks yang ditampilkan dibagian bawah layar TV itu.
"Hyung… apa kau ingin bicara sesuatu padaku?"
Kudengar dia menghela nafas dalam-dalam. Kungkungan lengannya semakin erat.
"katakanlah, hyung…" bisikku meyakinkannya.
"Jaejoong…"
Aku menunggunya melanjutkan ucapannya. Kulihat tatapan matanya sendu. Mata musang yang biasanya menatap tajam itu, memancarkan keharuan dan kesedihan yang mendalam.
"Wae?" tanyaku saat dia hanya terdiam.
Dia memainkan helaian rambutku.
"Aku… membaca interviewnya di JYJ magazine. Meski aku tahu apa yang diungkapkannya adalah kenyataan, tapi tetap saja itu membuatku terluka. Aku… masih saja belum sepenuhnya menerima kenyataan bahwa dia dan kedua dongsaengku yang lain kini bukan lagi Dong Bang Shin Ki" ujarnya dengan suara berat. Kurasakan nafasnya memburu. Ini adalah luka yang teramat dalam baginya.
Ku bingkai wajah tampannya, membawanya agar menatapku. Kuyakinkan dia dengan tatapanku.
"Hyung…. mereka tetaplah Dong Bang ShinKi. Kau atau siapapun tak bisa merubahnya. Meski hyungdeul tidak bisa bersamamu, dan bernyanyi dengan nama yang lain, mereka tetap bagian dari DBSK. Kalian pernah tampil berlima, membesarkan nama itu berlima. Perpisahan hanya masalah waktu hyung. Ini tulisan takdir yang harus kau ikuti."
Ku kecup bibir hatinya dengan lembut. Jemariku menyusuri rambut pendeknya yang tebal.
"Bukan salahmu kalian berpisah. Juga bukan salahnya. Kalian sudah memilih."
Dia memandangku lekat.
"Bukankah kalian masih bisa tetap bersama? Itu privasi, dan tidak berhubungan dengan profesionalitas kerja?" tanyaku. Ku arahkan jariku pada dahinya, memisahkan dua kerutan yang muncul di keningnya.
Yunho hyung menjauh, kembali duduk di posisinya semula.
"Tidak semudah itu, Ryeowook. Mungkin agensi tidak ikut campur, tapi akan banyak pihak yang meributkan hal itu. Tidak semua orang suka kami bersama setelah dia pergi dari SM."
"Hyung…"
.
.
©Mĭķũ
.
.
"Hyung…"
Aku menoleh padanya, dan dia mendekatiku. Dengan lembut dia duduk dipahaku, menghadapkan tubuhnya ke arahku, sementara kedua kakinya terentang di kanan dan kiri tubuhku. Dia menyurukkan kepalanya di dadaku. Aku mendekapnya erat.
"Junsu berkembang pesat setelah keluar SM. Semua orang tahu kini dia selebriti terkaya di seantero Korea. Yoochun menjadi aktor terkenal, membintangi berbagai film besar. Jaejoong…"
Aku tak tahu lagi apa yang harus ku katakan. Rasanya sakit membicarakan tentang hal ini, seolah benar bahwa penghasilan mereka di SM hanya sekelumit dibanding setelah mereka keluar SM.
"Hyung… kita bernyanyi karena kita menyukainya. Memperoleh materi adalah jackpot. Kau senang menari, kan? Bagimu tak masalah berapa yang kau dapatkan asal kau menari…"
Hembusan nafas hangat Ryeowook merasuk ke dadaku. Hangat, dan menenangkan. Aku hampir saja lupa kesenangan kami yang utama. Passion. Gairah bermusik. Dan Ryeowook benar. Uang adalah bonus utama setelah kami bernyanyi. Yang penting adalah kami bernyanyi. Tapi tetap saja…
"Wookie, kau tahu…"
Tanganku menyusup masuk ke dalam piayamnya dari bagian bawah, mengelus pungungnya, membuatnya gemetar.
"…..saat kami konser di Yokohama arena, JYJ akan konser di Tokyo Dome…. disiarkan langsung di 21 teater di Jepang…. mereka…. sangat hebat, kan" bisikku di telinganya.
Ryeowook mengerang kecil karenaku. Tangannya tak mau kalah dan masuk ke balik kaus yang ku pakai, bermain di dadaku. Sensasi sentuhan telapak tangannya yang lembut mengenai kulitku, hampir membuatku melayang.
Tak sabar, kubuka piyama yang menutupi bagian atas tubuhnya, menampakkan bahunya yang mulus, dan kecil, dadanya yang menggoda, dan perut ratanya yang menggiurkan.
"Enghhh… hyung… jadi… JYJ membuatmu sedih atau…. bangga…" tanyanya dengan nafas terengah.
Aku tersenyum. Bicara dengannya memang pilihan yang terbaik. Dia sangat tahu bagaimana membuat nyaman seseorang yang suasana hatinya sedang tidak menentu. Atau mungkin itu hanya berlaku padaku saja? Ah, tentu saja aku yakin pada Kyuhyun dan Changmin juga.
"Keduanya… selalu keduanya…" jawabku dan hendak menyambar niple nya kalau saja ponselnya tidak berdering.
Ryeowook menjauh, dan mengambil ponselnya. Kuperhatikan dadanya yang terengah naik dan turun, sangat sexy. Keningnya yang mulai berkeringat, membuat sebagian poninya basah dan saling menempel satu sama lain. Mata cokelatnya yang hangat, selalu penuh kelembutan.
"Kyuhyun" ucapnya memberitahu padaku bahwa yang menghubunginya adalah Kyuhyun, salah satu magnae setan itu. Matanya menatapku was-was.
Aku meraih ponselnya dan menolak panggilan itu. Ponsel tak bersalah itu pun langsung kumatikan.
"Kau akan menjelaskan pada mereka besok" kukatakan padanya, dan menariknya kembali ke pelukanku. Ku kulum bibir tipisnya lembut, mencoba membuatnya tahu, aku mencintainya. Tapi dia kembali menjauh.
Tanpa kusangka dia mengambil ponselku dan mematikannya.
"Aku takut nanti Jaejoong hyung menghubungimu. Aku bisa mati ditangannya" ujarnya sambil menjulurkan lidah padaku.
"Jaejoong takkan sekejam itu" jawabku dan menarik tubuh mungilnya berbaring di sofa.
"Siapa yang tahu" sahutnya sambil berusaha melepaskan ikat pinggang yang kupakai.
"Aku tahu" sergahku dan menarik turun celana piyamanya, membuatnya merona.
"Hyung…" dia membawa wajahku menghadapnya dengan menarik daguku, mengalihkan pandanganku dari bagian bawah tubuhnya.
Kubelai pipi indahnya, dan menatapnya dalam-dalam. Dia tersenyum.
"Bagaimana cara agar aku membuatmu nyaman?" suara lembut Ryeowook mengusik gairahku, menyalakannya hingga membara.
Ku kecup keningnya, lalu ujung hidungnya, dan berbisik di sudut bibirnya, "Kau sangat tahu…."
.
.
©Mĭķũ
.
.
"Ngghhhh… Yun…. ho… hyung….."
Ryeowook meremas kasar rambutku saat aku menikmati niplenya. Suaranya bagai terpecah saat sesekali aku menggigit dan menghisap kuat tonjolan kecil didadanya itu.
Pinggulnya terangkat, membuat milik kami bertemu, dan menciptakan friksi tersendiri saat Ryeowook bergerak menggesekannya.
"ehmmmm hyunghhhh…."
Ciumanku kembali naik, menambahkan satu tanda lagi di lehernya. Dia tak mau kalah. Dia juga menghisap leherku dengan kuat. Udara di kamar apartemenku ini semakin panas, meski kami tak lagi mengenakan satu lembar pun kain.
Aku meninggalkan lehernya dan mengajak bibirnya kembali beradu. Lidahku yang pertama kali masuk, menyapa setiap sudut mulutnya, menyusuri giginya tersusun rapi, menghisap semua saliva yang tercipta di lidah basahnya.
"mmmphhh….enghhh"
Ryeowook begitu sibuk mengerang, melenguh dan menggumamkan bisikan-bisikan kenikmatan.
Saat aku menyudahi battle tounge kami, dia menelan semua liur yang tersisa di bibir bawahku. Matanya memandang sayu. Rambutnya berantakan, membuatnya tampak lebih sexy, dan menggairahkan.
Aku tersenyum padanya dan dia tersipu. Tanganya menuju pada milikku yang kubanggakan.
"Aku…. menginginkannya, Yunho-ya" dengan manisnya dia berkata demikian, nafasnya terengah, dan dia meremas milikku.
.
.
©Mĭķũ
.
.
.
"Fasterrhhh… Wookie…..aghhhh"
Yunho memejamkan matanya saat aku memanjakan miliknya. Kulihat Yunho hyung sangat menikmatinya. Kukatakan saja padamu, aku lebih senang mendesahkan 'Yunhooohhh' daripada 'hyunghhhh'. Memanggil namanya saja membawa keintiman tersendiri.
Aku menikmati miliknya. Jangan tanyakan tentang ukuran. Dia yang terbaik.
Kulingkarkan jemariku di bagian yang tak mampu ku jangkau dengan mulutku. Kugerakkan jemariku naik turun seirama dengan maju mundurnya kepalaku. Begitu besar, dan nikmat.
Otot perut Yunho menegang saat kubawa miliknya jauh dan dalam hingga ke tenggorokan, memberinya ijin masuk sedalam mungkin. Untuk beberapa saat selanjutnya aku mengulangi hal itu, membuat Yunho kelabakan, dan hampir saja klimaks. Tapi Yunho menahan bahuku.
"Enghhh…Cukup….. biarkan aku memanjakanmu.." Ujarnya terengah. Bulir-bulir keringat membasahi dada bidangnya. Perutnya yang terbentuk sempurna juga berkilatan basah. Miliknya yang tegak menantang berkilauan oleh liurku.
Dengan cepat Yunho membalikkan posisi kami. Kini dia yang mengubur wajahnya di sela pahaku. Menangkup milikku erat dengan mulutnya yang terasa hangat.
"Hyunghhhh….." desahku frustasi oleh kenikmatan yang diberikannya.
Kurasakan dia menyeringai, dan menggigit kecil milikku. Giginya memantul pada kulitku, dan lidahnya menari melingkar-lingkar disana.
Dia menghisap dengan kuat, menyedot di bagian kepalanya, membuatku terlonjak oleh sengatan kenikmatan.
"Yun…hohh… nghhhh…. hahahhhh" aku hanya bisa mendesah dan mendesah nikmat. Rasanya memang nikmat. Bercinta selalu menyenangkan.
"Moooreeee,,, yunh….. pleaseee… nghhhh" kupinta padanya agar lebih cepat dan lebih dalam. Aku sudah tak tahan.
Yunho menurutiku, kepalanya memantul lebih cepat, membuat milikku keluar dan masuk ke dalam mulutnya tanpa bisa kuikuti pergerakannya. Kedua tangannya mengangkat pinggulku dan menghisap milikku dengan kuat, mencengkeramnya dalam mulutnya yang menyempit.
"Yun… ho… arghhhhhh….."
Akhirnya aku sampai juga. Kuremas rambutnya dengan erat, menyalurkan rasa pusing yang sekejap menyerangku. Pandangnku sesaat memudar, dan punggungku yang sempat terangkat kini kembali terhempas ke tempat tidur yang lembut.
Yunho menaikkan wajahnya. Kulihat cairan berleleran di sudut bibirnya. Tak kusiakan, aku menyambar bibirnya dan menjilatinya dengan rakus, meminta milikku sendiri.
Yunho menggigit bibirku dan memisahkan ciuman kami. Nafas kami saling bersahutan.
"Bagaimana?" tanyanya sambil menyeringai.
Kukalungkan lenganku di lehernya, dan mencium dadanya yang terbuka.
"Itu hebat, Yunho… hyung…."
.
.
©Mĭķũ
.
.
Kulihat Ryeowook yang terengah. Ini baru permainan awal. Dan aku sudah tidak tahan. Aku senang dia mengakui aku hebat. Itu suatu kebanggaan menerima pujian dari pasanganmu.
Dia mengulum jari-jariku dengan lembut. Membuatku semakin tergoda. Sesekali dia menggigitnya main-main. Lidahnya membasahi setiap inchi jemariku. Saat kurasa cukup aku menarik jariku dari mulutnya. Jari tengahku bermain padanya, masuk kedalamnya dan memperluas pintu yang akan ku masuki. Kulihat dia mengernyit. Aku membelai pipinya, meyakinkan padanya aku akan berlaku lembut. Ryeowook semakin gelisah saat aku menambahkan satu persatu jariku. Setelah beberapa waktu, kurasa sudah cukup.
Ku peluk dia dengan erat, dan mencium telinganya, membuatnya menggelinjang geli. Kuputar posisi kami. Kini dia diatasku.
"ride me, please…" pintaku padanya.
Ryeowook merona. Dia selalu senang saat dia diijinkan melakukan hal itu.
Kutatap dia dengan sayang. Aku menyayanginya. Aku tidak ragu tentang hal itu. Mungkin kami memang tidak pernah terlihat bersama. Tapi kami menghabiskan cukup banyak waktu berdua. Tentu saja sebagian besar waktunya adalah untuk bekerja, dan memanjakan dua magnae kekasihnya itu. Karena itulah saat Ryeowook bersamaku, aku ingin sepenuhnya memanjakannya.
Ryeowook memelukku erat, dan aku membantunya memasangkan puzle tubuh kami. Kuarahkan milikku tepat di pintu masuknya. Kurasakan Ryeowook menanamkan kukunya di punggungku saat aku perlahan masuk.
"susshh… sebentar lagi…. bertahanlah.." ucapku menenangkannya. Sesekali aku berhenti dan memberinya sedikit waktu, lalu dia akan kembali menurunkan tubuhnya hingga aku sedikit demi sedikit menyatu sepenuhnya dengan dirinya.
Ryeowook menjatuhkan tubuhnya padaku saat kami benar-benar terpasang sempurna. Nafasnya memburu. Kami tidak terburu-buru, jadi ku usap lembut punggungnya dengan pola melingkar.
"Wookie….." geramku saat merasakan dia bermain dengan lubangnya, membuatnya sempit dan memijat milikku perlahan.
Dia menciumku. Kulumat bibirnya yang sudah sedikit membengkak. Tapi dia tetap berbibir tipis. Manis sekali.
"ride me, Wookie, when you're ready…." bisikku padanya.
Dia memegang bahuku, dan mengangkat pinggulnya, membuatku melihat milikku yang perlahan keluar darinya. Dan Ryeowook turun kembali sebelum aku benar-benar terlepas.
"Yunhhhh…enghhhh" keluhnya sambil memantulkan tubuhnya naik dan turun.
Ohhh…. dindingnya menjepitku, membuatku gila. Menyebarkan semua kenikmatan ke seluruh tubuhku.
"Wook….nhhhhh….." aku mendesahkan namanya, dan membantunya untuk naik dan turun. Milikku timbul tenggelam di lubangnya.
Ditengah sunyinya malam, desahan Ryeowook sungguh menggoda keteguhan hatiku. Kubantu dia agar lebih cepat.
"Ahhhh… ahhh….. ahhh… nghhhhh" suaranya seirama dengan gerak tubuhnya. Kulihat Ryeowook memejamkan matanya, meresapi setiap kenikmatan yang tercipta.
Lubangnya menyempit. Miliknya tegak sempurna, dan otot perutnya menegang. Aku tahu dia hampir datang. Kuhentikan gerakannya dengan satu sentakan kuat, membuatnya menelan milikku dalam-dalam. Kupeluk dia erat-erat.
"Ahhh… hyung…" suaranya tercekat.
Kutangkupkan tanganku di wajahnya. Mata sayunya begitu menggoda.
"Tidak sekarang, Wookie" kucium keningnya perlahan.
Aku berputar dengan dia masih dalam pelukanku. Tanpa melepaskan penyatuan kami, aku memerangkapnya di bawahku.
Sekali lagi, dan tak bosan aku menjamah bibirnya. Kugesek dengan pasti niplenya dengan ibu jariku. Saat kami menyelesaikan ciuman, dia menyusuri perutku dengan jarinya.
Aku mengangkat kedua kakinya dan melingkarkannya di pinggangku. Aku memundurkan tubuhku, dan maju menyentak dengan kuat, menanamkan milikku jauh dan dalam padanya.
"Arghhhh…"
Ryeowook mendesah kuat. Tangannya mencengkeram seprei yang sudah berantakan, dan meremasnya kuat-kuat.
"Ughhh… Wookie…. so… tight…." keluhku.
"Hyung… ahhhh…. Yunhooahhh…nghhhhh" Ryeowook mendesah bersama dengan seranganku.
Aku maju mundur dengan cepat. Menghentak dengan kuat, memasukannya dalam dan bertenaga.
Tangan Ryeowook menggapai bahuku, "more… hyung… moree….. fasterr…. nghhhh" bisiknya memohon.
"Wookie…..enghhh… kau.. nikmathhh" tentu saja permintaannya tidak kusiakan. Kugarap dia semakin cepat, bertambah cepat, secepat yang aku bisa.
"Ahhhh… hyung… ahhhh….deeper… moreee….. lebihhh dalam Yunhhh" pintanya.
Aku menurut padanya. Kutanamkan diriku dalam-dalam. Ranjang yang berderit menjadi bukti betapa aku melakukannya dengan kuat.
Kutuntun tanganya agar melingkari leherku. Kupeluk dia erat dan menghentak tubuh bawahnya kuat, membuat suara kulit beradu semakin hebat, berkecipak nyaring.
"Yunhhh…..aghhhh" tubuhnya terhentak-hentak dalam dekapanku. Aku melepaskannya.
Aku menusuk dalam, dan dia terkesiap. Aku mendapatkannya. Aku memberinya kenikmatan. Saat dia menahan nafas, aku tahu aku mengenainya dengan tepat.
'Ohhh.,,good…. Yunhhhh…. there…"
Ryeowook menolakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, menahan sensai yang memabukkan. Aku juga merasakannya. Lubangnya menyempit. Aku tahu dia segera datang.
"Enghhhh, Yunhhh… there… againhhh,,, aku…. akuhhhh…enghhh"
Kuteteskan liurku padanya, dan dengan tersedak dia menelannya. Aku terkekeh. Kucoba sekali lagi. Kali ini dia lebih siap. Dengan tak sabar, Ryeowook menarik wajahku turun dan menghisap saliva di bibirku.
Gotcha! Dengan begitu perhatiannya teralihkan dan klimaknya sedikit tertunda.
Aku mendekati telinganya, menggigit kecil dan berbisik parau padanya, "hand and knee, pleasee…."
.
.
©Mĭķũ
.
.
Aku membungkuk. Menumpukan badanku pada lengan dan lututku. Dibelakang sana Yunho menanti. Saat aku mengangguk, Yunho mendorong dirinya dengan kuat.
"Arghhh…" kami sama-sama mengerang.
Yunho masuk semakin dalam. Tangannya memegangi pinggulku, dan tubuhnya maju mundur dengan cepat namun teratur. Selama beberapa saat dia terus mengulanginya.
"Yunhhhh…. jebal…" pintaku padanya saat dia menunduk dan membasahi punggungku dengan lidahnya.
"enghhh… Yunhohhh, cum…. please… cummm"
Yunho mengerti. Dia membalikkan badanku kembali. Kali ini kakiku bertumpu dibahunya. Yunho menunduk hingga lututku menyentuh dadaku sendiri. Dengan kekuatan yang mungkin mustahil dilakukan manusia, Yunho merasuk dalam-dalam.
'Yunhhhhhh!" seruku saat kurasakan miliknya tepat mengenai sweetspotku.
Yunho menyeringai. Berulangkali ditusuknya tempat yang sama. Membuatku semakin tidak tahan.
"…cum.. Yunhhh… cummmm" pintaku padanya.
"datanglah…. enghhh" geram Yunho. Tusukannya semakin cepat dan kuat. Tangannya meraih milikku yang terabaikan, mengurutnya cepat naik dan turun, seirama hentakannya.
Kurasakan tubuhku semakin menggila. Kenikmatan menjalar hingga ke ujung rambut, dan seluruh syaraf-syarafku. Aku tak tahan. Aku perlu datang.
Yunho menghentakan dirinya kuat, meremas milikku kuat, memainkan twinsku.
Tubuhku terangkat, dan aku klimaks kedua kalinya.
"Yunhoohhhhh….. arghhhhhhh" cahaya berpendar di pandanganku. Semuanya memutih. Semua otot menegang, membuat Yunho kewalahan. Frustasi dan ingin segera menyusulku.
Hentakannya menggila. Geraman berat dan dalam menyertai setiap tusukannya. Dan beberapa tusukan berikutnya…
Yunho memelukku erat-erat, dan melesakkan miliknya kuat-kuat, jauh ke dalam,
"Arghhhhh…"
Yunho mencapai klimaksnya. Cairan cintanya terasa hangat memenuhiku. Hangat dan nyaman.
Dia memelukku beberapa saat, menenangkan nafasnya yang tak beraturan. Aku pun demikian. Dia mengangkat wajahnya dan menghadapiku. Ku sisihkan anak rambutnya yang menempel di keningnya. Kuusap keringat yang berkilauan di pelipisnya. Aku tersenyum.
Yunho membalas senyumku, dan mengecup bibirku.
.
.
©Mĭķũ
.
.
"Aku mencintaimu…" kubisikkan kata itu di telinganya. Kudekap Ryeowook semakin erat didadaku.
Ryeowook membuka matanya.
"Benarkah? Lalu bagaimana dengan Jaejoong?" tanya Ryeowook menggodaku.
Kucuri sebuah ciuman darinya. "Dulu Jaejoong nomor satu" jawabku santai.
"Hmm, lalu sekarang?"
Ku acak-acak rambutnya. Membenarkan selimut yang menutupi kami berdua.
"Dia tetap yang pertama. Kau tahu itu. Tapi aku mencintaimu" Kataku padanya.
"Tak masalah bagiku jadi yang kedua. Aku sudah jadi yang pertama untuk Changmin dan Kyuhyun"
"benarkah?" tanyaku. Tanganku menyusup masuk ke dalam selimut, meremasnya.
"hyung….." elaknya. Dia mencoba menarik tanganku pergi dari sana. Aku tak peduli.
"Hyung! Lihat jam berapa ini! Kita hanya punya waktu dua jam sebelum matahari terbit." Tolaknya lagi.
Aku mengalah. Lagipula dia pasti lelah. Aku mengisinya lima kali malam ini. Kutarik dia agar bersandar di bahuku.
"Tidurlah. Istirahatlah walau sebentar, karena pagi ini aku menagih morning sex. Kamar mandiku merindukanmu" bisikku.
Ryeowook tersipu, dan menenggelamkan wajahnya semakin dalam padaku. Aku memainkan rambutnya. Ku kecup keningnya.
"Gomawo, Wookie. Saranghe…"
Meski tak yakin Ryeowook masih mampu mendengarku, aku terus berbisik padanya.
"Aku mencintai Jaejoong. Tapi kini semua semakin sulit. Kami sama-sama sibuk. Aku mencintainya, dan mencintaimu. Seperti kau mencintai Changmin, dan Kyuhyun. Kau bilang tak ada yang salah dengan cinta, kan? Karena itu biarkan aku mencintaimu. Kau bukan pilihan, Ryeowook-ah. Saat aku tak bisa dengan Jaejoong, kupastikan kaulah yang akan bersamaku….."
.
.
©Mĭķũ
.
.
"Mwo? Dia tidak bersamaku semalam" seru Changmin saat Kyuhyun menanyakan Ryeowook padanya.
"Hah! Lalu dimana Wookie jika tidak bersamaku atau bersamamu?" Kyuhyun mondar-mandir dengan frustasi.
Dan jadilah sepagian itu kedua sahabat karib kelabakan mencari keberadaan kekasihnya.
"Wookie… padahal aku sudah membuat puisi untukmu" erang Kyuhyun nelangsa.
"Mwo? Coba kulihat!" Changmin menarik secari kertas yang dibawa-bawa Kyuhyun.
You're my love, my Sunshine,
I don't know what to say, just be mine,
Hard missing our session again,
When I was 6 and you're 9
Don't feel like tortured
I'll give you big pleasure
Thrusting you to the max
'till you reach the climax
Let your moan...
harder, faster and deeper
Sounds like a heaven whisper
Hitting you the deepest
Makes you growl the shameless
From the front change the back
Thrusting from the side
Yelled sexyly more and more
Behind our close door
Wasting time in the dark
Leave thousands my love mark
Get your hand and knee
Dont be shy my lovely
Just let the story flow
Smoothly like the blow
Driving you dirty wet
Covering all of sweat
.
.
Mata Changmin membulat lebar, "Kyuhyun mesum!" serunya.
"Eh, benarkah?" tanya Kyuhyun.
Changmin mengangguk, "Ne. Tapi ini ada yang kurang"
Kyuhyun menatapnya tak mengerti, "Apa, Min?" balas Kyuhyun tak sabar.
"Kau lupa judulnya, Kyu! Judulnya!" dengan histeris Changmin melambai-lambaikan kertas itu di muka Kyuhyun.
"Kupikir kau jenius. Judul saja tidak terpikirkan" tambahnya lagi.
Sementara Kyuhyun—- o_O
Ryeowook is unbeatable! Realy Loveable!
.
.
©Mĭķũ
.
.
Behind The Scene
Kenapa bisa YunWook?
Karena Yunho memeluk Ryeowookkie dengan sangat erat saat kedatangannya di Sukira ^^
BUt, I am KyuWook Shipper, yes, I am, and ChangminLovers
