Made By: HaruLoveAmefuto

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

A/n: maaf kalau Chapter ini gak memuaskan. Maaaaaaf! Maaaaf! Maaaf! Maaf! m.m dan Haru minta maaf kalau memang di luar sana ada cowok bermuka tikus atau kuda atau bebek atau babi. OOC dan nanti ada OC.

Chapter 2

"..rumus tadi di masukan ke dalam soal. Lalu kita akan mendapatkan hasil-ah!" perkataan Umino Iruka, guru Matematika di Konoha Gakuen terputus oleh suara bel istirahat yang menggelegar membuat semua murid bernafas lega karena bisa lepas untuk sesaat dari pelajaran. "Well, sudah bel istirahat. Jangan lupa kerjakan PR kalian."seru Iruka yang langsung disambut dengan desahan yang amat sangat kompak "Yaaaah".

"Oi…Ino.." gumam Sakura sesaat Iruka telah keluar dari kelas. Ino yang tepat duduk di depannya menoleh saat namanya dipanggil. Tetapi ia mulai merasa menyesal saat menoleh ke arah sahabatnya itu, dikarenakan saat ini Sakura memandang dengan tatapan super tajam yang melebihi keluarga Uchiha.

"Dengar ya, Goukon yang kemarin itu yang terakhir! Aku ulang, T-E-R-A-K-H-I-R!" seru Sakura dengan kesal. Ino hanya tertawa dengan gugup saat tatapan tajam Sakura naik ke level 10. "Ehehehe…kemarin kan baik-baik saja." Gumam Ino ditengah-tengah tawanya. Hinata dan Tenten tidak ada di kelas karena mereka memeng tak sekelas dengan Ino dan Sakura. 'Dimana Hinata dan Tenten saat aku butuh mereka!?' batin Ino panik.

"Baik-baik apanya!? Kau tidak tau? Aku harus berkali-kali menutup hidung tanpa sepengetahuan cowok berwajah tikus itu karena mulutnya bau jengkol! Kau tau apa itu Jengkol!? Makanan dari Indonesia yang baunya minta ampun!? YOU KNOW THAT RIGHT!?" beruntung saat Sakura mengamuk-ngamuk di depan Ino yang mulai panik, seluruh murid kelas 1-5 sudah keluar menuju kantin untuk makan. Kalau tidak reputasi Sakura sebagai cewek baik bisa ternoda. (A/n: maaf bagi pecinta Jengkol!)

"Tenang! Tenang! Oke, yang kemarin itu kesalahan! Lagipula tipe cowokmu levelnya terlalu tinggi! Mana ada orang yang seperti itu di sini. Salah! Di dunia ini!" seru Ino sambil berdiri dari bangku dan mengepalkan tangan kanannya di depan dada. Sakura hanya mendengus kesal sambil melingkarkan kedua tangnnya di depan dada.

DRRT DRRT DRRT

Ino membuka Handphone Flip ungu miliknya dan melihat isi e-mail yang ternyata dikirim dari Hinata. Sakura yang masih duduk di bangku mulai menenangkan diri. Ia masih ingat betul saat cowok berwajah tikus itu mendekatkan wajahnya ke Sakura dan mulai berbicara sesuatu yang tak Sakura mengerti. Tiba-tiba saja bau 'itu' masuk ke hidung Sakura dan ya, selanjutnya seperti yang dijelaskan Sakura tadi.

"Oi, Forehead-girl kita ke kantin. Katanya tim Shinobi ada sedikit masalah dengan Akatsuki." Seru Ino sambil menarik Sakura paksa.

Kantin saat ini snagat ramai. Ada beberapa yang makan, ada yang tidur, ada yang sibuk berebutan mengambil roti yang tinggal 1 lagi, ada yang menonton debat antara Tim Amefuto Konoha, Shinobi dengan Akatsuki.

"Dengar ya, kalau cowok tikus tadi minta ganti rugi karena wajahnya makin tak berbentuk jangan salahkan kami! Kau yang salah!" seru Hidan dengan kasar sambil mengacungkan jari tengah bagian kanannya. Kakuzu yang disebelahnya tak memperdulikan, ia malah makan dengan tenang.

"Enak saja! Yang membuatnya makin gak berbentuk itu kan kau dan Deidara! Jangan salahkan kami! Kami hanya menghajarnya sedikit sampai memar tau!" seru Naruto tak mau kalah sambul menjulurkan lidah saat ia selesai.

"Naruto….tidak ada kata-kata kami…" gumam Sasuke. "What!? Gak setia kawan amat sih kau Teme!?" kini amarah Naruto pindah dari Hidan menuju Sasuke yang tengah asik memejamkan mata sambil mendengarkan lagu.

"Ha! Kau lihat, un!? 2 lawan 10! UN!" seru Deidara saat melihat tim Shinobi tidak membantu Naruto. Well, ada satu. Yaitu Rock Lee.

"Iie, 2 lawan 2. Yang menghajar cowok itu kan hanya kalian berdua." Ujar Sasori membenarkan perkataan Deidara. Biarpun ia sangat kesal dengan cowok tikus itu dan ingin menghajarnya sampai wajahnya tak berbentuk. Tetapi ia menahan diri, dan malah membiarkan Deidara dan Hidan yang menghajar.

Untuk sisanya mereka juga berpikiran hal yang sama dengan Sasori. 'Biarin aja Deidara dan Hidan yang menghajar. Toh yang tanggung jawab mereka.' Ya, itulah pikiran mereka saat melihat cowok tikus dihajar habis-habisanoleh Deidara dan Hidan plus Naruto. Tak setia kawan.

"Naruto? Hidan-senpai? Deidara-senpai?" suara Sakura membuat tiga orang yang sedang berdebat heboh terlonjak kaget. Sasori pun ikut kaget. Bahkan detak jantungnya mulai berdegup kencang saat melihat Sakura berdiri tak jauh dari ia yang lagi duduk. 7 kaki ada lah.

Deg Deg Deg

"Kalian ini kayak anak kecil! Terlebih lagi kau Naruto-baka!" seru Sakura mulai menghampiri Naruto, Hidan dan Deidara. Sasori menelan ludah gugup. Masalahnya ia duduk dekat Deidara berdiri. Detak jantungnya semakin tak terkontrol. Tetapi wajahnya masih stoic seperti biasa. 4 kaki lagi.

Deg Deg Deg

"Sakuraaa-chaaan! Kau kejam sekali! Aku ini sudah dewasa tau! Umurku 15! 15!" seru Naruto sambil memajukan bibir bawahnya membuat beberapa Fans kecilnya termasuk Hinata ber-blushing'ria. 3 langkah lagi dan Sasori siap pingsan. Tubuhnya benar-benar lemas. (A/n: OOC kan!? So what? Jangan protes!)

Deg Deg Deg

"Baka-"

BRUK

Perkataan Sakura terhenti. Deidara menyeringai saat melihat Danna-nya pingsan dengan wajah di atas meja. Benar-benar merah seperti kepiting rebus. Konan hanya tertawa geli saat melihat ekspresi Sasori yang pingsan. Mata berputar-putar dan mulut membentuk persegi panjang ke bawah, seperti yang ada di komik-komik.

"Sasori-senpai?" tanya Sakura sambil menatap tubuh Sasori yang diangkat dan dilempar ke pundak Kisame seperti karung beras. "Ahaha, tenang saja Kitten! Dia hanya….tidur! ya tidur! Jaa!" seru Kisame sambil membawa Sasori yang berada di pundaknya ke ruang UKS yang letaknya dekat ruang guru. Sakura hanya menatap tubuh Kisame menghilang dibalik tembok yang sedikit retak akibat umur.

'Sasori-senpai kenapa?' tanya Sakura dalam hati. 'Apa dia sakit? Mungkin nanti aku harus jenguk di-Ah! Kenapa aku jadi mikirin Sasori-senpai!?' tiba-tiba wajah Sakura sedikit memerah hanya dengan mengingat Sasori. Sakura dan Sasori jarang sekali berbicara. Sekalinya berbicara paling hanya say "Hi" saja.

"SET! HUT! HUT!"

Chouji mengirim bola oval Amefuto melalui bawah kakinya ke Shikamaru. Sang Quarterback tanpa tunggu lama lagi langsung memberikan pass. Kali ini yang menerima pass bukanlah Neji si Receiver melainkan ke Runningback, Inuzuka Kiba yang langsung berlari melewati pemain lawan yang siap men-tackle dirinya.

Sakura yang tengah duduk di kursi pemain sambil memperhatikan perkembangan tim Shinobi kaget saat disebelahnya ada seseorang yang asing. Ia memiliki rambut spike yang sedikit wild, tetapi panjang dan diikat seperti Uchiha Itachi. Warna rambutnya merah dengan highlight berwarna pirang sedikit.

"Heh…kalau latihan seperti ini saja kalian akan kalah.." Sakura yang masih memperhatikan cowok tersebut terlonjak kaget dan sedikit marah. 'Berani sekali dia mengatakan itu kalau belum tau kekuatan mereka!' gerutu Sakura dalam hati.

"Aku tau kekuatan mereka..itu sebabnya aku berkata begitu. Aku beritahu ya..di pertandingan Kanto nanti, akan ada banyak tim Amefuto yang sangat kuat. Aku beri saran…masukan beberapa anggota yang staminanya besar." Ujar cowok tersebut sambil bangkit dan pergi. Meninggalkan Saura yang kebingungan. 'Siapa dia?' batin Sakura.

"Sakura-chan!" teriakan Naruto membuyarkan lamunan Sakura. Ia menoleh ke asal suara dan mendapati wajah Naruto amat sangat dekat dengannya. Bahkan hidung mereka saja hampir bersentuhan. "NARUTO-BAKA!" seru Sakura sambil mendorong Naruto hingga ia terjatuh.

"Apa yang kau lakukan disini? Bukannya tadi kau pulang duluan mangkanya gak ikut latihan!?" tanya Sakura sambil mencubit kedua pipi Naruto.

"Hahuu hahi uhah huhaaaah hahi hah he huhah huuhi ha haha!" Sakura dan beberapa anggota tim Shinobi yang tak sengaja mendengar sweatdrop saat Naruto menggumamkan sesuatu yang sangat tak jelas.

"Translate: "Aku tadi udah pulaaaang tapi pas ke rumah Kyuubi gak ada" itu katanya." Jelas Sai sambil mengeluarkan kamus kecil dengan judul "Cara mempelajari Bahasa Naruto".

"Namanya juga hewan pasti dia main di sekitar pekarangan rumahmu." Ujar Shikamaru. Latihan akhirnya selesai. Naruto masih celingak-celinguk sekitar lapangan berharap ada rubah berbulu merah yang nakal itu di lapangan. "Hhhh…aku bantu cari." Seru Sakura sambil menarik tangan Naruto. "Eh!? Honto!? Arigatooooo!" seru Naruto girang. Duo sahabat itu berjalan berdampingan sambil melewati gerbang. Tak lupa mereka juga melihat sekitar takut-takut nanti ada Kyuubi lewat.

"Naruto…kapan kau terakhir kali melihat Kyuubi? Aku yakin bukan tadi pagi.."

"Kok tau..udah 5 hari aku gak ke kandang Kyuubi. Sepertinya 5 hari yang lalu aku tak sengaja menutup kandangnya tanpa di kunci." Naruto menghela nafas pasrah. Kini mereka sudah melewati taman dekat Ikkebukuro. Tinggal melewati beberapa toko rumah Naruto akan terlihat. Kyuubi masih belum ditemukan.

"Ah! Sakura-chan…Uzumaki-dobe." Sapa seseorang mengagetkan Sakura dan Naruto. Terlebih lagi Naruto. Karena saat memanggil namanya ia menambahkan kata-kata ejekkan. Hanya ada satu orang yang memanggilnya begitu selain Sasuke-teme.

"Che…Deidara, Sasori-senpai." Sapa Naruto dengan menambahkan nada sarkastik saat menyebut nama Deidara.

"Grrr..kenapa hanya Sasori-Danna saja yang kau panggil senpai saja hah!? Tunjukan rasa hormat ke senpai-mu!" seru Deidara kesal.

"Mana mau aku memanggilmu dengan sopan dasar cowok tapi cewek!" ejek Naruto.

"Aku cewe-maksudku..AKU COWOK TULEN!" seru Deidara makin kesal. Terlihat urat-urat marah di keningnya yang tak tertutup poni.

Sasori dilain tempat berusaha sebisa mungkin untuk tidak memperlihatkan kalau ia kini sudah blushing hanya dengan Sakura berdiri disebelahnya. Tidak, kali ini dan seterusnya dia tak akan pingsan.

"Umm…Sasori-senpai.."

DEGH

"Ya?"

"Kau…baik-baik saja?"

"…"

"…"

"Ya..baik-baik saja."

Canggung. Suasanan antara Sasori dengan Sakura benar-benar canggung. Di pihak Sasori, ia terus melirik ke arah Deidara dan berdoa dalam hati semoga debat 'bodoh' antara pecinta seni 'ledakan' dan pecinta ramen bisa selesai, jadi bisa buru-buru pergi. Di pihak Sakura, entah kenapa ia terus menerus melirik ke arah Sasori dengan wajah sedikit pink.

DRRT DRRT

"Kya! Eh, Handphone-ku.." Sakura buru-buru mengambil Handphone flip miliknya yang ada di saku rok dengan tangan gemetar. Saat membaca isi e-mail yang ternyata dari Shikamaru ia menoleh ke arah Sasori dan Deidara juga Naruto.

"Umm..Naruto-baka, Shikamaru bilang kita harus ke Murakami Inn. Oh, Deidara-senpai dan Sa-Sasori-senpai juga harus ikut." Ujar Sakura. 'Kenapa pas ngomong nama Sasori-senpai aku terbata-bata!?' tanya Sakura dalam hati.

Sasori tak menjawab tetapi ia sedikit sadar saat Sakura menyebut namanya dengan terbata-bata. 'Mungkinkah…iie. Gak mungkin! Gak mungkin!' batin Sasori. Deidara dan Naruto hanya memberikan jawaban "Hah?" dengan serempak sehati sejiwa.

~TO BE CONTINUED~

Haru: …

Natsu: kok aku belum ada!?

Saku: Haru?

Haru: aku takut ceritanya aneh udah gitu gak ada yang mau me-review!

Rii: mulai deh negative thingking mulu…Minna! Tolong review yaaaa~