The Fox's Bride

Arc 2 : Bangkitnya Taishogun berekor sembilan

Summary : Dia dikhianati. Pedang yang dia angkat demi membela beralih menghunus. Dan ketika takdir berpihak padanya, kekacauan terjadi. Dendam menjadi musuh abadi.

.

.

.

.

.

.

.

Rate : T

Genre : Drama, Historical, Fantasy, Suspense, Tragedy, Hurt/Comfort

Pair : [Naruto U. Hinata H] Sasuke U

.

.

Naruto milik Kishimoto Masashi-sensei

.

.

.

Tubuh itu tergolek tidak berdaya. Di buang di gunung dan ditinggalkan. Sebuah pedang tertancap di dada; bukti atas gugurnya ia serta pengkhianatan yang diterima.

Napasnya putus-putus; sekujur tubuh sudah tidak bisa ia rasakan—apa ini akhirnya?

Mata safir itu bergetar; menahan amarah dan kekecewaan. Merapal doa dalam hati, ia meminta keadilan. Untuk dirinya juga Hinata; seseorang pengisi hati, gadis yang ia kasihi.

Dan tepat saat matanya benar-benar terpejam, sebuah guntur membelah langit. Angin kencang bertiup mengelilingi gunung. Membawa berita duka pada sang agung Kamikaze. Membuat kuil kecil itu terguncang hebat dan si ekor sembilan menggeram.

Tes

Tes ...

Hujan mengguyur bumi. Istana Kekaisaran Kamakura sepi. Darah di lapangan ikut terkikis, mengalir menuju pinggir, menciptakan sebuah jejak yang kemudian bersinar terang.

Hinata duduk mematung memandang hujan; dengan tatapan kosong bak raga tanpa jiwa. Sasuke menghancurkan hatinya.

Suara pintu diketuk tidak membuat ia serta merta beranjak. Seseorang masuk, meletakkan beberapa makanan hangat, "Makanlah ... setidaknya isi perutmu."

"..."

"Aku tahu kau mendengarku, Hinata ..." Sasuke menyentuh pundak Hinata.

Plak ...

Gadis itu menepis tangan Sasuke, membuat pria penyandang gelar Kaisar itu menggenggam erat tangannya; menahan diri untuk tidak berbuat lebih.

Hinata tidak bereaksi lagi. Sasuke menatap dengan pandangan terluka—bukan ini yang ia inginkan.

Mengerti jika kehadirannya sia-sia, Kaisar Tenno muda itu memilih pergi. Hinata harus bisa berpikir jernih.

Haruskah kau seperti ini, Sasuke?—tanya Hinata dalam hati.

Seminggu sejak kejadian tragis itu, Hinata sama sekali tidak keluar kamar. Ratu berdarah Yuan itu juga menolak untuk makan. Hanya beberapa gelas air yang ia teguk setiap hari. Alih-alih memperhatikan keadaan sang permaisuri, Sasuke malah disibukkan dengan rencana pemindahan ibukota. Beberapa kali Satou bersujud; meminta belas kasihan sang Kaisar pada Hinata tetapi Sasuke berlalu begitu saja. Hati pria itu sudah terlalu beku. Kecemburuan tidak mendasar mengikis habis perasaannya, menyeret ia ke dalam kegelapan.

Hinata membuka laci kecil di kamar, mengeluarkan sebuah syal merah yang harusnya ia berikan pada Taishogun Oktober mendatang.

Ingat akan kejadian kemarin, Hinata menggenggam erat syal tersebut.

.

Musim dingin 1283

Sasuke pulang setelah tiga bulan menyelesaikan semua pekerjaan di Kyoto. Membawa beberapa bingkisan, pria itu pun tersenyum—Hinata pasti menyukainya.

Ia merindu. Ingin sekali melihat Hinata-nya. Berdiri di depan kamar sang permaisuri, Sasuke mematung. Ada sedikit keraguan di benaknya. Bagaimanapun ia ingat apa yang sudah ia lakukan. Hampir membunuh Hinata adalah kesalahan tidak ter maafkan.

"Hinata ..." panggil Sasuke lembut.

"Hina—"

Ceklek ...

Satou keluar kamar dengan ditemani seorang tabib. Betapa terkejutnya mereka melihat Kaisar berada di sana, "Apa yang sedang terjadi? Ada apa dengan Hinata?"

Sang tabib meneguk ludah kasar, "Beliau sakit keras, Yang Mulia Sasuke-sama."

Degh

"Ba ... bagaimana mungkin?" Sasuke tidak percaya. Tangannya melemas, bingkisan hadiah untuk Hinata pun terjatuh.

Satou maju, "Anda tidak membaca surat yang saya kirimkan? Yang Mulia meminta Anda pulang dua minggu setelah Anda tiba di Kyoto."

Sasuke membeku. Surat itu ... surat yang sering datang hampir setiap hari, ia membuangnya.

Hinata sudah jatuh sakit sejak lama.

Sebilah belati berhasil menyayat hati. Sasuke menahan napas, kesalahan apa lagi yang sudah ia perbuat?

Memasuki ruangan, Sasuke mendekat dengan lunglai, perasaannya campur aduk. Hinata terkulai tidak berdaya. Wajahnya pucat dengan ditumbuhi beberapa koreng yang memenuhi sebagian wajah juga tangan.

"Apa yang sedang terjadi, istriku?" tanya Sasuke nanar.

Hinata terbatuk. Permaisuri yang masih menyandang status gadis itu tersenyum culas, "Hinata ..."

Tangan mungil itu bergerak pelan. Sasuke membacanya—jangan khawatirkan aku.

Sasuke menatap nanar.

Tangan itu kembali bergerak—jangan menangis. Bukankah ini yang kau inginkan, Kaisar?

Mulut Sasuke terasa getir. Hinata memperjelas kesalahan apa yang sudah ia lakukan.

Baru saja ia hendak menyentuh Hinata, membawa gadis itu ke dalam pelukan, Satou datang. Mengabarkan bahwa semua Shogun sudah berkumpul di aula.

"Yang Mulia Sasuke-sama, mohon kebijaksanaannya!" para Shogun bersujud. Kini Sasuke tengah berada di aula pertemuan. Para Shogun meminta pengusiran Hinata dari istana.

"Dia istriku!" tegas Sasuke.

"Istri yang tidak bisa mengandung maksud Anda?" Hidan mengoreksi. Sasuke mencengkeram erat sisi kursi singgasana.

"Anda tidak bisa mempertahankannya, Yang Mulia Hinata-sama telah berselingkuh dengan Taishogun Uzumaki Naruto. Yang Mulia Hinata-sama sudah tidak layak menjadi ibu negara."

Salah seorang Shogun mengemukakan pendapat.

"Terlebih dengan penyakit yang beliau derita. Anda tidak boleh sampai tertular. Jadi melepas jabatan sebagai Permaisuri dan mengusirnya adalah pilihan terbaik," Taishogun Suigetsu ikut mendesak.

Sasuke menahan api kemarahan. Tentu ia tidak lupa akan perselingkuhan itu. Hinata bisa saja tengah mengandung anak Naruto karena Sasuke sendiri belum pernah menyentuh istrinya.

Pandangan Sasuke berubah pancaran. Jelaga hitamnya mengeruh menjadi abu-abu. Kegelapan menyelimuti.

Jadi ketika ia mendongakkan wajah, bibirnya membentuk segaris senyum tipis. Menyetujui petisi yang para Shogun ajukan.

.

Fajar belum menyingsing. Tetapi istana Kamakura sudah gaduh. Derap langkah kaki para samurai menggema secara serempak. Sebuah pavilium menjadi tujuan.

Hinata kembali terbatuk, berusaha menggapai air di nakas kecil yang terletak di sisi kanan.

Brakh ...

Pintu didobrak, gelas Hinata pun terjatuh.

"Yang Mulia Hinata-sama, mohon ikut dengan kami!" seorang Taishogun membungkuk sesaat sebelum memaksa Hinata bangun.

"..." bibir Hinata terbuka; bergerak tanpa suara, bertanya apa yang ingin mereka lakukan.

Diseret secara paksa, Hinata digiring menuju lapangan Kekaisaran. Bahkan para samurai itu tidak segan untuk menghempaskan tubuh Hinata ke tanah dingin bersalju—Apa yang kalian lakukan?—tanya Hinata dalam hati.

"Yang Mulia Hinata-sama, sesuai perintah Kaisar, atas semua kesalahan Anda maka bersamaan dengan ini jabatan Anda sebagai istri dan Ratu akan dilepas," seorang Shogun mengumumkan.

"Dan Anda akan diasingkan untuk dijadikan budak."

Hinata terpana. Gadis itu kehilangan kata-kata. Tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Menggerakkan tangan, ia bertanya di mana Sasuke. Alih-alih mendapat jawaban, sebuah tarikan kuat ia dapatkan. Samurai-samurai itu kembali menyeretnya. Memasukkan ia ke dalam kurungan yang berada di atas sebuah gerobak.

Hinata berteriak tanpa suara. Gadis itu meraung, memanggil-manggil nama Sasuke; berharap sang suami menarik kembali perintahnya. Namun naas, Sasuke bahkan tidak menampakkan diri.

Sasuke ...

Hinata di bawa pergi. Tanpa diketahui khalayak dan tanpa dibekali pakaian hangat. Sasuke menghukumnya atas kesalahan yang bahkan tidak pernah ia lakukan.

Ketidakadilan.

Ia hanya bisa diam. Tidak bisa bicara dan ia terlalu takut untuk sekedar mengadu atau meminta pertolongan pada sang ayah. Karena ia tahu, satu kalimat darinya bisa membuat Jepang dibanjiri genangan darah.

.

Kekaisaran Kamakura terguncang. Berita meninggalnya sang Ratu membuat seluruh negeri bersedih. Tidak ada yang menduga bahwa Ratu cantik nan baik hati itu begitu cepat mangkat.

Sasuke berdiri sambil memegang guci. Memandang datar para Shogun dan pengikutnya yang bersujud memberi penghormatan.

Seolah ikut berduka, langit pun menurunkan gumpalan putihnya. Salju besar mulai turun. Para Shogun menyelamatkan diri ke tempat masing-masing. Meninggalkan Sasuke yang masih berdiri di tengah-tengah.

Pria itu menangis.

Terluka akan apa yang dirinya sendiri perbuat.

Hinata telah pergi membawa serta kehangatan yang dimiliki. Meninggalkan ia sendiri yang terperosok ke dalam lubang kehampaan.

Wush ...

Badai semakin kencang. Kamikaze menunjukkan taring. Memberitahu bahwa ia sedang dalam keadaan marah. Ketidakadilan semakin merajalela. Kekaisaran menjadi pusatnya, "Wahai Dewa yang agung ... berikanlah karmamu pada mereka."

Bumi bergetar. Para hewan ternak gelisah. Bahkan anjing istana mengaung keras. Melolong seolah takut akan apa yang akan terjadi.

Rubah berekor sembilan membuka mata. Kamikaze sedang dalam kondisi tidak stabil. Angkara dan murka tengah menyelimuti; membuat kendali akan siluman bertaring itu melemah.

Penjara merah memiliki celah.

Sett ...

Kamikaze mengayunkan tangan sekuat tenaga; sebuah kesempatan.

Rubah berekor sembilan itu telah menghilang. Berlari di antara dinginnya hutan yang diselimuti salju. Mencari kebebasan.

Kamikaze berambut putih itu terbelalak. Sadar akan apa yang baru saja hilang.

Kurama lepas dari kandang, "Bagaimana mungkin?"

Ia tertawa. Setelah ribuan tahun akhirnya ia telah bebas. Naas, semua tidak seindah yang dibayangkan. Kamikaze terlalu lihai. Dewa angin itu mengejar; menyebabkan angin dan badai salju beradu kian mengerikan.

Kilatan merah melesat. Kurama berusaha lolos dari cambuk neraka. Menghilang dan bersembunyi pada sebuah tubuh yang tergolek di bawah tumpukan salju.

Jdieer ...

Kilatan membelah langit. Kamikaze menghentikan aksi mengejar, "Apa yang sudah si rubah itu lakukan? Jangan bilang dia terjebak dalam tubuh yang cocok."

Kamikaze pergi; membawa kembali badai dan angin ke dalam sangkar.

Seorang pengelana keluar dari Goa tempat ia bernaung. Berjalan di kegelapan gunung Kamakurayama—perbukitan setinggi 100 meter di bagian barat Kamakura. Menyusuri hutan dengan pencahayaan minim. Sesekali menoleh ke kanan-kiri; memastikan tidak ada makhluk halus yang mengikuti.

Angin berembus pelan, meniup lampu obor yang ia bawa. Mengundang hawa dingin menggerayangi tengkuknya.

Krssk ...

Orang itu berhenti. Mengarahkan lampu obor ke arah sumber suara. Menajamkan mata, sayup-sayup ia melihat gundukan tanah bersalju bergerak pelan.

Jantungnya berdetak.

Degh degh ...

Orang itu semakin mendekat. Pelan dan hati-hati.

Darahnya berdesir, cepat.

Tangannya mulai bergerak. Gundukan tanah itu bergerak.

Orang itu berhenti tepat di samping gundukan. Memperhatikan detail tanah yang tertancap pedang.

Sebuah makam.

Ia pun beranjak. Bertepatan dengan terbukanya sepasang mata berwarna merah darah.

Krssk ...

Gundukan itu terbelah. Tangan berkuku panjang meraba. Mencari pegangan untuk membantunya bangkit, "Tunggu ..."

Orang itu menoleh. Matanya melebar; terkejut akan rupa sosok di depan.

Rambutnya pirang diikat berantakan. Bermata merah dengan iris keemasan. Sebuah pedang menancap di dada, sementara ke-sembilan ekornya melambai-lambai.

Siluman.

Orang itu tidak bisa bergerak. Tubuhnya mendadak kaku, persendian seolah lumpuh. Terlebih, ketika sosok itu semakin mendekat, ia hanya bisa melolong dalam hati; berharap si siluman tidak berkenan membunuhnya.

Seiring ia melangkah, seiring itu pula salju-salju di tanah melelah. Menumbuhkan rerumputan yang seharusnya tumbuh di musim semi.

Brukh

Pengelana itu terjatuh. Siluman berekor sembilan sudah berada tepat di hadapan mata. Menatap dengan pandangan mengerikan haus akan darah.

Dan ketika salah satu ekornya bergerak; mengincar jantung, lolongan pun menggema. Membuat mereka yang bersemayam di gunung Kamakurayama menggigil ketakutan.

"Apa itu benar?" tanya Sasuke tatkala Shogun Orochimaru datang menghadap. Membawa sebuah berita dari bagian barat Kamakura.

"Benar, Yang Mulia Sasuke-sama ... beberapa warga dan pengelana melihat seekor siluman berekor sembilan berkeliaran saat malam tiba," Orochimaru kembali menjelaskan.

"Itu pasti hanya rumor, Shogun. Mereka sengaja melakukannya agar kita tertarik untuk pergi ke sana."

Sasuke mengakhiri pembicaraan. Beranjak dari singgasana menuju pavilum; tempat guci Hinata diletakkan. Meninggalkan Orochimaru yang menatap kepergiannya dengan pandangan sulit diartikan.

.

Musim semi 1285

Dua tahun lebih sejak diusirnya Hinata dari istana. Gadis itu dibuang, dilelang untuk dijadikan budak dengan nama; Sun Yang tanpa marga. Dibeli oleh seorang bangsawan untuk dibawa pulang ke tanah barat Kamakura.

Meski awalnya kikuk, Hinata tetap berjuang dan bersyukur. Tuannya tidak jahat seperti yang ia bayangkan. Hinata diberi tempat tinggal, makanan juga obat dikala sakit. Bahkan putri tunggal keluarga mereka, Haruno Sakura sangat baik padanya. Memperlakukan ia layaknya teman dan seorang kakak yang bisa diandalkan.

"Ne, Sun Yang ... di mana kau belajar bahasa isyarat?" tanya Sakura saat keduanya berada di teras samping; menatap riak air kolam tempat ikan koi berada.

Hinata menggerakkan tangan—Kenapa nona sangat ingin tahu?

Sakura menggembungkan pipi, "Kau ini, apa harus ada alasan jika aku bertanya?"

Hinata tersenyum. Nonanya ini benar-benar mengingatkan ia pada seseorang—dia adalah teman dekatku dulu.

Membaca gerakan tangan tersebut, kedua mata Sakura berbinar. Gadis berusia 17 tahun itu mendekat, merapat untuk bisa mendapatkan informasi lebih.

"Kau punya teman? Kapan? Seperti apa dia? Apa dia secantik aku?"

Hinata menjauh, ia tahu apa yang akan terjadi jika nonanya sudah seperti ini—jika Anda punya waktu untuk mendengar ceritaku, tidakkah lebih baik Anda selesaikan sulaman Anda? Sudah dua minggu tetapi Anda belum membuat kemajuan apa pun.

Sakura memicing, "Aku membuat kemajuan. Setidaknya aku tahu cara memasukkan jarum."

Hinata terkekeh tanpa suara.

"Sun Yang ... beraninya kau tertawa? Kau mau aku menghukummu?"

"..."

Brakh

"Kerjakan itu sebelum fajar terlihat!" Sakura pergi sambil mengentakkan kaki. Meninggalkan tugasnya pada Hinata.

Menghela napas, Hinata yang tahu seperti apa watak sang nona memilih mengambil jarum. Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia menyulam. Sebuah sapu tangan bersulam bunga teratai dan kupu-kupu berhasil ia buat. Mengundang decak kagum Sakura.

Memasak, membersihkan rumah, menyetrika, bahkan menyulam. Hinata bisa melakukan semua tanpa cacat. Meski wajahnya sedikit buruk rupa akibat koreng yang memenuhi pipi kiri dan sebagian tangan, tetapi sikap dan segala tingkah lakunya terkesan anggun. Ia bersinar layaknya Amaterasu Omi-kami. Bahkan Sakura berani bertaruh, Hinata adalah gadis tercantik jika luka di wajahnya tidak ada.

"Sun Yang, persediaan kayu bakar kita habis. Bisakah kau mencarinya?"

"..."

"Ingat, kembali sebelum petang. Banyak rumor beredar kalau siluman rubah berkeliaran di sana."

Nyonya Haruno memperingati.

Berbekal seutas kain untuk menggendong kayu, Hinata masuk ke hutan gunung Kamakurayama yang terletak cukup jauh dari kediaman Haruno.

Hari ini cuaca begitu cerah. Meski begitu tidak banyak kayu bakar yang jatuh di sekitar tempat ia biasa mengambil. Membuat ia harus mencari lebih. Menyusuri hutan demi mencari kayu bakar kering. Tidak sadar jika ia sudah masuk terlalu dalam.

Ini yang terakhir.

Hinata menggendong kayu bakarnya dan berdiri terkejut. Tidak tahu di mana ia berada sekarang. Padahal hari sudah mulai petang, keluarga Haruno sedang menunggu makan malam.

Krsskkk

Ia menahan napas. Teringat akan perkataan Nyonya Haruno tadi.

Pelan, Hinata pun mulai melangkah. Mencoba mengingat ke arah mana ia sebelumnya. Tetapi suara itu seolah mengikuti dan semakin dekat hingga menuntut ia harus berlari.

Duk ...

Hinata terjerembap. Kayu bakarnya berserakan.

Krssskkk

Hinata semakin panik. Ia berusaha berdiri, tetapi naas, kakinya terkilir. Sementara suara itu kian mendekat. Semakin dekat seiring malam menyapa.

Dan ketika bulan benar-benar muncul, sosok itu menjulang tinggi di depan. Dengan mata merah dan sembilan ekor yang melambai-lambai.

Mata ametis Hinata membulat sempurna. Ketakutan menyergap. Membuat tubuhnya melemas seketika.

Sett ...

Sosok itu meraihnya; tepat sebelum tubuh mungil Hinata terjatuh di tanah.

Mata merah itu memudar, digantikan sepasang mata safir bercahaya. Pun dengan kesembilan ekornya yang berubah warna menjadi kebiruan, "Putri ..."

Gadis itu terbangun. Meraba seluruh tubuh dan tempat sekitar. Sadar bahwa ia sudah berada di kamar.

"Sun Yang ... kau sudah bangun?" Sakura masuk membawa sebuah nampan.

Di mana aku? Bagaimana bisa aku berada di sini?

"Kami menemukanmu pingsan di pinggir hutan semalam."

Tidak mungkin—kata Hinata dalam hati.

"Makan buburmu dan minum obat ini. Kau harus segera sembuh," Sakura beranjak, memberikan Hinata waktu istirahat.

Hinata menerawang; mengingat kembali apa yang terjadi semalam. Seingatnya ia ke hutan mencari kayu bakar. Terlalu ke dalam dan tidak tahu jalan keluar hingga seseorang mengikuti. Berdiri menjulang dengan ...

Sembilan ekor.

Degh

Tidak mungkin—rapal Hinata dalam hati.

Gadis itu termenung. Menatap bubur hangat hingga menjadi dingin. Mengabaikan sosok yang mengamati dari jauh di atas ketinggian pohon, "Itu benar kau. Bagaimana mungkin?"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Naruto baru saja datang di istana. Bercakap dengan Sasuke di lapangan panah. Kemampuan Kaisar Tenno meningkat. Naruto cukup terkejut akan hal itu.

Duduk di sebuah kursi, keduanya menikmati acara minum teh di bawah rindangnya pohon.

Sasuke menghela napas, "Kau harus memberiku hadiah, Taishogun."

"Apa hadiah yang Anda inginkan?" Naruto meletakkan cangkir tehnya.

"Menurutmu, apa yang bisa kau berikan padaku?" Sasuke menatap Naruto dengan tatapan serius.

"Anda tahu kalau aku—"

"Aku tidak butuh uang, Taishogun!"

Naruto terdiam. Sikap Sasuke sedikit mengusiknya. Setelah Kaisar Tenno Fugaku mangkat, Sasuke benar-benar berubah. Mimik pemuda itu sulit dibaca. Ia bahkan tidak tahu apa yang ingin atau sedang Sasuke rencanakan.

Hingga bibir itu kembali terbuka, terkekeh dan memegangi perut. Sasuke begitu tergelitik dengan perubahan mimik Naruto, "Kau konyol sekali, Taishogun. Tidak aku sangka kau bisa bersikap seperti itu padaku."

Naruto masih diam. Ia tahu Sasuke tidak sedang bercanda.

"Aku tanya sekali lagi. Apa mau Anda?"

Sasuke diam. Ia tidak bisa mengalihkan pembicaraan.

"Taishogun, tidak ... maksudku Naruto. Bolehkah aku meminta sesuatu darimu? Sesuatu yang paling berharga di hidupmu?" tanya Sasuke ambigu.

Naruto mengernyit; tidak mengerti apa maksud dari kata berharga yang Sasuke katakan. Baru saja hendak menidakkan, Kaisar Tenno muda sudah memotong, "Katakan saja boleh atau tidak."

Satu menit lengang.

"Apa pun yang Anda inginkan."

Sasuke tersenyum. Begitu bahagia dengan apa yang telah Taishogun katakan. Naruto memberikan izin. Jadi apa pun yang terjadi setelah ini bukanlah kesalahan.

"Oh! Hinata menunggumu. Tolong temui dia sebelum kau kembali!"

Naruto mengangguk patuh.

Berjalan pelan, ia pun sampai di depan pavilium tempat Hinata berada. Satou yang melihat Taishogun datang, memberi kode; meminta para dayang dan samurai untuk pergi, "Beliau berada di dalam," Satou mempersilakan.

Naruto berdiri di depan pintu; ragu. Sangat tidak nyaman jika hanya ia dan Hinata saja di dalam. Ia mengerti arti kata tidak pantas yang sering orang katakan. Hingga sebuah bunyi gaduh menyita perhatian. Naruto masuk begitu saja. Taishogun itu menemukan Hinata terjatuh dari kursi.

"Apa yang sedang Putri lakukan?!" Naruto sedikit membentak.

Hinata tersenyum; seperti seorang anak yang kepergok melakukan kenakalan. Naruto membantunya berdiri, "Bukankah sudah aku katakan untuk tidak memanjat? Kenapa Anda susah sekali mendengar?" bibir itu kembali mengomel.

Gadis itu cemberut. Lututnya sakit tapi Naruto sungguh tidak membantu.

Ingin membalas, Hinata berusaha meraih buku dan kuas hingga sebuah tangan menahannya. Taishogun itu menatap datar penuh arti.

"Harusnya Anda melukai tubuh Anda lebih. Istana pasti akan menjadi sangat menakjubkan," cibir Naruto tatkala sedang mengobati lutut Hinata.

Satou menahan tawa.

Hinata merengut tidak suka.

"Lihatlah lutut jelek ini. Kaisar Tenno pasti langsung tertawa melihatnya," bibir itu semakin mencibir.

Sett

Hinata memukul kepala Naruto tetapi pria itu menahannya, "Pukulan hanya dilakukan saat terdesak, Putri."

"Dan beliau memang sedang terdesak, Taishogun ..." kata Satou.

Hinata mengangguk.

"Satou. Harusnya kau mengajarkan Putri hal yang baik. Akan sangat tidak lucu kalau Putri Yuan dipulangkan hanya karena sifatnya."

Naruto berujar mantap.

Bukh

Ia merintih. Hinata benar-benar memukulnya. Gadis itu bahkan meraih sebuah buku tebal untuk ia pukulkan di kepala Naruto. Taishogun itu menghindar. Membuat wajah Hinata memerah karena menahan kesal.

Taishogun, mendekatlah. Aku sudah tidak kuat lagi—tulis Hinata. Napas gadis itu terengah karena terlalu lama mengejar.

Naruto mendekat; bersiap mendapatkan pukulan. Tetapi ketika ia membuka mata, sebuah bandul terpampang di depan beserta sebuah kertas bertuliskan—apa ini bagus?

"Ya."

Hinata tersenyum puas. Menarik kembali bandul yang baru saja ia tunjukkan.

"Ulang tahun Kaisar, 'kah?" tebak Naruto tetapi Hinata tidak menjawab. Gadis itu hanya memicing; meminta Naruto untuk berhenti bertanya.

"Yang Mulia Sasuke-sama, apa Anda tidak khawatir dengan Taishogun?" Shogun Orochimaru bertanya.

Sasuke tidak menjawab. Meski mengerti apa yang Orochimaru katakan, ia tidak pernah berpikir demikian. Naruto tidak pernah berkhianat. Ia percaya itu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Naruto terbangun. Goa yang ia tempati mulai menggelap yang artinya hari sudah malam. Beranjak dari batu tempat ia tidur, mantan Taishogun itu menyalakan api. Duduk di depan perapian sambil menerawang.

Ia tidak mengerti. Harusnya ia sudah mati. Tetapi secara tiba-tiba terbangun dan ketika sadar seorang manusia sudah mati tepat di hadapannya dengan luka tusukan di jantung. Tidak hanya itu, bahkan pedang yang menjadi penyebab kematiannya pun turut menghilang.

Keanehan terus terjadi. Di setiap ia menemui seseorang, mereka langsung ketakutan seolah melihat siluman.

Naruto tidak ingin percaya. Tetapi sebuah fakta menamparnya tatkala ia menginjakkan kaki di hilir sungai. Sebuah sosok terpantul di riak air yang mengalir. Bermata merah dengan iris keemasan. Memiliki sembilan ekor berwarna oranye yang menyala.

Naruto ambruk saat itu juga. Otaknya tidak sanggup mencerna apa yang sedang terjadi.

Siluman.

Begitulah ia menyebut diri sendiri—mungkinkah ini keadilan yang diberikan Dewa?

Ia hanya bisa pasrah. Hidup kembali nyatanya tidak serta merta membuat ia bahagia. Rasa panas dan haus akan darah selalu datang tatkala malam menyapa. Ia tidak ingin membunuh tetapi hawa nafsu itu selalu menghasut. Membuat logikanya nol dan lepas kendali hingga semalam.

Ia mencium sesuatu berbeda petang kemarin. Mirip harum bunga antara Lavendel dan Tulip. Mengikuti bau harum tersebut, Naruto menemukan seorang gadis tengah menggendong kayu bakar sendirian.

Ia sudah tergelitik. Ingin sekali menghunjam jantung gadis tersebut dengan ekornya. Tetapi takdir berkata lain. Ketika ia melihat mata bening yang menatap penuh ketakutan, dadanya tiba-tiba berdesir. Perasaan hangat kembali hadir. Menggerayangi dalam waktu sekian detik. Dan ketika ia sadar, kedua tangannya sudah menahan berat tubuh gadis itu, "Putri ..."

"Putri ..." Naruto mengulangi kalimatnya semalam.

Lain Naruto, lain juga Hinata. Gadis itu masih bertanya-tanya bagaimana mungkin ia bisa selamat. Penasaran, hari ini ia menyelinap keluar. Memasuki hutan untuk mencari tahu sosok tersebut. Tetapi ia harus menelan pil pahit lantaran tidak menemukan apa pun.

Naruto tersenyum culas. Tidak mungkin ia muncul begitu saja di depan Hinata setelah dinyatakan meninggal.

Dan hari-hari itu terus terulang. Hinata tidak jera. Bahkan gadis itu selalu meletakkan sebungkus nasi kepal di pinggir hutan. Berpikir itu adalah tanda terima kasih karena telah membiarkan ia hidup.

Senyum mengembang. Setiap paginya Hinata terus menemukan kotak makannya sudah habis tidak tersisa beserta sepucuk surat bertuliskan; terima kasih.

"Sun Yang ... apa yang sedang kau pikirkan? Kenapa kau sering tersenyum akhir-akhir ini?" Sakura berteriak pada Hinata yang sedang menyapu di teras depan.

"..."

"Sun Yang!"

Hinata terkejut—ada apa nona?

"Lupakan!" wajah Sakura ditekuk.

Satu menit lengang. Sakura meraih sepatunya; mendekat ke arah Hinata, "Besok kami akan pergi ke Kyoto untuk beberapa hari. Tidak apa-apa 'kan kau sendiri?"

.

Pasukan kerajaan bergerak cepat. Memenuhi desa yang berada di kaki gunung Kamakurayama. Hari ini sang Kaisar sedang melakukan peninjauan pemerintahan daerah; memastikan bahwa para Shogun bergerak sesuai perintah.

Hinata yang baru saja pulang dari pasar dibuat tercengang dengan keramaian di jalan. Terlebih ketika ia mendekat. Tubuhnya membeku. Ketakutan menyelimuti.

Sosok itu di sana; duduk di atas kuda.

Tidak ingin ketahuan, ia pun berlari. Mencoba secepat mungkin sampai di rumah. Namun naas, para samurai sudah berdiri di depan gerbang kediaman Haruno, "Apa Kizashi-sama tidak ada di tempat?"

Hinata menaikkan cadar yang ia kenakan. Ia tidak boleh ditemukan atau Jepang benar-benar akan tamat. Jadi bersembunyi di hutan adalah pilihan terbaik.

Naruto terengah. Hari ini kondisinya sedang tidak bagus; demam menyerang.

Merasakan sesuatu, Kamikaze bernama Tobirama menjatuhkan cangkir teh yang terbuat dari tanah liat, "Kurama sedang dalam musimnya."

Apa aku bisa beristirahat di sini?—tanya Hinata dalam hati. Saat ini ia sedang berada di bibir Goa gunung Kamakurayama.

Ia semakin terengah. Sekujur tubuhnya terasa semakin panas.

Hujan tiba-tiba turun. Hinata meringkuk memeluk tubuh. Tidak ingin kedinginan, ia pun masuk ke dalam Goa. Beruntung bisa menemukan perapian kecil yang masih menyala—syukurlah.

"Argghh ..." Naruto menggeram.

Ia mencium aroma itu lagi.

Hawa nafsu memerangi.

Hinata menggosok telapak tangan; menghangatkan diri. Begitu khusyuk hingga tidak sadar seseorang sudah berdiri di belakang. Menatapnya dengan tatapan lapar.

Brukh

Kresh

Perapian mati. Hinata terdiam tatkala tubuhnya didorong di tanah. Kedua tangan dicekal dengan tubuh yang ditindih. Sementara sosok itu mendekatkan wajah; mengendus harum gadis yang ia tindih.

Apa yang kau lakukan?!—teriak Hinata.

Sosok itu semakin berhasrat. Ia menekan Hinata lebih dan lebih. Mencium setiap jengkal yang bisa ia raih. Hingga tendangan kuat berhasil menghentikannya.

Naruto tersungkur ke samping. Hinata merapikan pakaian dengan mata berkaca-kaca. Mendekat ke arah sosok yang hampir menggauli secara paksa. Dan betapa terkejutnya ia ketika tangannya membalik tubuh itu—Taishogun?!

"Ngghh ..." sebuah sapu tangan terjatuh ketika ia bangun. Demamnya sudah turun. Perapian pun menyala.

Naruto mengernyit. Seingatnya ia tinggal sendirian.

Berjalan ke perapian, ia menemukan seseorang sedang menyiapkan sesuatu, "Siapa kau?!"

"Aku tanya, siapa kau?! Bagaimana mungkin kau bisa berada di sini?"

"..."

"Kau ... mendengarku?" Naruto memastikan.

Alih-alih menjawab, orang itu malah menyodorkan beberapa ubi dan ikan bakar, "Aku sedang bertanya ..." Naruto menurunkan nada bicara.

Ia mengerutkan kening. Seseorang itu membuat gerakan lain. Memaksa matanya untuk memicing; menyimak dan menerjemahkan.

Makanlah. Jangan hanya diam sambil menahan perut lapar. Kau bisa jatuh sakit lagi sewaktu-waktu.

Degh

Ia terbelalak.

Kalimat itu, ia pernah mendengarnya.

Seiring tanda tanya yang kian membesar, seiring itu pula sosok itu melepas cadar. Dan kedua mata safirnya terbelalak tatkala kain berwarna hijau tersebut terlepas sempurna.

Naruto mundur satu langkah.

Kau mengenalku? Taishogun?

Naruto membeku.

Apa kau tidak mengenalku?

"Jangan mendekat?!" teriak Naruto menghentikan langkah Hinata.

"Jangan mendekat padaku, aku mohon padamu ..."

Pria itu ketakutan, "Aku tidak seperti dulu, Putri. Aku tidak ingin menyakitimu," ujar pria itu menggenggam erat kedua tangan.

"Aku bukan lagi manusia."

Apa itu penting? Aku bersyukur Taishogun masih hidup—kedua mata itu berkaca-kaca.

"Ini bukan saatnya mengkhawatirkanku. Anda harus kembali ke istana. Tidak baik berada di kediaman orang lain seperti ini?!"

Satu menit lengang.

Hinata diam seribu bahasa.

Sebuah desiran baru saja berembus ke tepi lukanya. Membuat lembaran-lembaran lama berputar kian cepat. Mengingatkan ia akan darah di tangan; tuduhan dan pembunuhan.

Hinata tersenyum getir—aku bukan lagi bagian dari mereka, Taishogun. Jadi jangan khawatirkan aku.

Naruto mengernyit. Ingin sekali lagi bertanya tetapi lidahnya terlalu kelu. Sadar bahwa ia tidak memiliki kapasitas. Terlebih melihat wajah sendu sarat akan luka itu, hatinya tercubit.

"Jika yang Anda maksud adalah luka Anda, maka selamanya aku akan diam."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continue

Mina ... bertemu lagi dengan Nao di chapter dua. Semoga tidak mengecewakan. Jujur saja, mempertahankan diksi dan cara menulis itu susah sekali. Butuh baca berulang-ulang. Kerja keras.

Terima kasih bagi yang sudah membaca atau menanti cerita ini update.

Nantikan update selanjutnya paling lambat minggu depan.

Best Regards,

Nao Vermillion