AKU BUKAN YANG PUNYA XXX HOLIC KARENA AKU TIDAK SEJENIUS PARA LADY CLAMP. KALAU AKU YANG PUNYA, GENRE XXX HOLIC BAKAL BERUBAH 100 % JADI SHONEN AI.

2

One Step Closer

x

x

x

Doumeki Shizuka menghentikan mobilnya, diikuti yang lain. Saat ia keluar, para anak buahnya berderet membentuk barisan di jalan yang dilaluinya. Doumeki mengabaikan semua itu, dan berjalan masuk begitu saja menuju markas grup Wakasuji, cabang dari grup Doumeki. Bos besar pemimpin klan itu sudah menunggunya di halaman. Menyambutnya dengan tepukan akrab di bahu, lalu mempersilakannya masuk ke ruang tamu.

Doumeki tidak impresif sama sekali dengan sambutan itu.

Pelayan mengantarkan makanan dan minuman ringan. Taro Wakasuji mempersilakan ia menikmati hidangannya. Doumeki tidak menyentuhnya. Alih-alih, ia berkata, "Aku dengar kau menjalankan bisnis yang menguntungkan, Wakasuji-san?"

Pria itu tampak cemas, walau wajah tersenyum itu berusaha menutupinya. Sayangnya Doumeki jauh lebih lihai. "Aku tidak akan ikut campur dengan bisnismu tentu saja, kau salah satu pelanggan setia kami. Kau tahu betul peraturan grup Doumeki." Ia menyentil sedikit dengan nada kesal, dan binggo, pria itu tertangkap basah.

"A—aku tidak mengerti apa yang kau katakan, Doumeki-san..."

"Kurasa kau bisa membaca, huh," Doumeki mengambil selembar kertas dari saku jasnya, membuka lipatannya, meletakkannya di tatami dan dengan hati-hati mendorongnya ke depan pria tua itu, mata Doumeki tak lepas dari eskpresinya. Pria tua itu melirik kertasnya, tapi tak menyentuhnya. "Aku tak akan berkata apa-apa lagi," ia berdiri, pada pria yang masih terduduk lemas di depannya ia berkata, "Asal kau ingat bahwa klan Doumeki melarang keras peredaran obat terlarang."

Hanya untuk sopan santun, Wakasuji menawarkan, "Anda tidak ingin makan siang dulu?" ia berdehem, "Pelayanku sudah menyiapkan jamuan untuk anda."

"Tidak." Makanan di rumah jauh lebih lezat, membayangkan itu Shizuka menjilat bibir. Tanpa menunggu diantar, ia pergi.

Begitu sampai di rumah, ada tamu mengejutkan yang sudah menunggu.

"Paman Asado," sapanya.

"Shizuka," mereka berpelukan.

"Apa yang membawamu kemari?"

"Tidak boleh aku mengunjungi keponakanku?"

"Saat makan siang," Shizuka tersenyum miring.

"Kau tahu masakan disini sangat enak."

"Mari masuk kalau begitu."

Tak lama pelayan membawa masuk makan siang mereka. Inari sushi, Fugu, sungguh makanan yang luar biasa. Asado berkomentar positif di setiap gigitan. "Bukankah kokinya sangat berbakat? Kau merekrut orang luar biasa, Shizuka."

"Mungkin kau benar. Aku tidak pernah berpikiran sejauh itu..."

"Seharusnya dia memang luar biasa! Kau tidak tahu siapa yang memasaknya?"

"Hn."

Asado menggeleng-geleng, "Terlalu banyak gen ayahmu!"

Setelah mereka menghabiskan makanan. Sambil menyesap sake, Asado berkata, "Apa kau tetap akan membiarkan posisi peramal kosong seperti ini?"

"Menurutmu?" Shizuka menaikkan sebelah alis.

"Menurutku posisimu sangat rawan. Kau beruntung masih bisa hidup sampai sekarang."

"Hn. Aku rasa ada atau tidaknya peramal tidak terlalu berpengaruh. Aku sudah bekerja selama tiga tahun tanpa peramal, lagi pula."

"Apa kau tidak tahu siapa peramal yang sudah dipilih oleh Haruka?"

"Bahkan sampai kematiannya, ia masih memegang teka-teki itu. Tapi dia mengisyaratkan bahwa dia sudah memilih."

"Lalu apa tindakanmu? Tidak mencarinya?"

"Peramal itu bahkan tidak menunjukkan batang hidungnya kemari. Aku sudah hampir melupakan tradisi itu."

Suara Asado menggelap, "Itu bukan hanya tradisi, Shizuka. Jika peramal itu memang ada, tanpamu dia akan mati. Dan tanpanya, klan tanpa pertahanan."

"Jika dia memang ada."

"Kau harus mencari tahu, atau kau harus berhadapan dengan kelompok-kelompok yang berusaha mempengaruhimu. Ada beberapa kandidat yang sudah dipilih oleh para tetua."

"Aku sudah mendengarnya."

"Apa kau akan membiarkannya?"

"Aku ingin melihat rencana mereka."

Asado meletakkan cangkirnya, "Aku tidak akan berkata banyak. Tapi satu hal yang harus kau tahu. Kau adalah orang yang paling bebas memilih di tempat ini. Kebebasan melahirkan tanggung jawab."

"Aku memikirkan perkataanmu."

Asado mengangguk, lalu muka seriusnya digantikan cengiran saat berkata, "Sake!"

Sore hari menjelang saat Doumeki berada di dojonya. Berlatih panahan. Ia melepaskan anak panah terakhir sebelum mengakhiri latihannya. Ia menurunkan busurnya, mengamati hasil latihannya saat sudut matanya menangkap seluet seseorang. Saat menoleh, bayangan itu menghilang, tapi sepiring mochi dan secangkir teh menunggu di sudut ruangan. Doumeki menghampirinya, mengambil satu dan merasakannya. Seperti biasa, enak.

Doumeki tidak pernah mempertanyakan apapun soal apa yang dimakannya, sejauh itu enak. Tapi ia sadar gaya masakan itu belum lama dirasakannya. Ia masih mengingat betapa frustasinya ia, sebelum menemukan koki lamanya diganti. Tapi sebelumnya tak pernah ada rasa penasaran siapa orang baru itu, ia secara alami menganggapnya seperti pelayan lainnya, tua dan tidak menarik. Sampai Asado membangkitkan rasa penasarannya.

Sore itu dia pergi ke dapur membawa piring dan gelas kosongnya, menanyakan siapa yang membuatnya. Awalnya para pelayan bingung. Siapapun yang membuatnya pasti memberikannya dengan sentuhan pribadi, batin Doumeki.

Sampai seorang pelayan perempuan berseru, "Oh, bukankah Kimihiro selalu menyiapkan makanan ringan untuk Doumeki-san? Tapi dia sepertinya sudah kembali ke kamarnya?"

Kimihiro. Nama yang aneh. Doumeki penasaran apakah kanji nya juga ditulis 1 April. Selain itu orang yang memasak untuknya seorang laki-laki?

xxXxx

Kimihiro keluar dari chasitsu-rumah teh. Pelayannya, Subaru, merundukkan kepala dan menutup pintu di belakangnya. Sudah dua tahun ia tinggal di shinden-zukuri—rumah utama klan Doumeki. Haruka memberinya sebuah bangunan bekas rumah teh yang letaknya terpisah dari bangunan utama dan berada di dekat danau. Tidak akan ada orang yang pergi kesana karena tidak ada apapun selain bangunan terbengkalai yang sekarang menjadi miliknya. Tapi menguntungkan karena dari tempatnya, ia bisa melihat kamar Doumeki dan mempelajari kebiasaannya.

Selain itu, tempat tinggalnya indah. Kimihiro tidak mengerti mengapa bangunan ini tidak difungsikan, atau mengapa para Yakuza itu tidak mencoba berjalan-jalan ke danau. Mereka terlalu sibuk dengan urusan mereka sendiri sampai tidak menyadari keindahan rumah mereka.

Kimihiro selalu pergi ke dapur untuk melakukan tugasnya lebih pagi dari yang lain, dan pulang saat tidak ada yang melihat. Tidak ada yang mempertanyakan dimana dia tinggal, shinden-zukuri tempat yang sangat luas, lagi pula.

Ia mengerjakan tugasnya seperti biasa; pertama ia akan memanaskan air, lalu bergerak menyiapkan bahan untuk sarapan. Biasanya ada permintaan aneh-aneh dari Doumeki, dan ia harus menyiapkan menu di luar musim yang tidak mudah membuatnya. Tapi Kimihiro tidak protes, tidak secara terang-terangan, tentu saja.

"Oh, Kimihiro-san. Kau sudah ada disini? Selalu pagi seperti biasanya, huh."

"Nayo-san," sapanya pada kepala dapur.

"Apa lagi yang diminta bos besar kali ini?"

"Um... Tsukudane."

"Tidak seaneh biasanya, untunglah. Sekalipun aku tidak meragukan kemampuanmu, Kimihiro-san. Tapi siapa yang bisa membuat menu yang tidak lagi ada seperti feodal udon!"

Kimihiro tertawa.

Suara derap langkah mengagetkan mereka. Salah satu pelayan bernama Miyuki masuk ke dalam dapur sambil berseru, "Kalian sudah dengar?" ia mengambil satu napas besar, sebelum melanjutkan, "Para tetua membawa kandidat peramal malam ini!"

Kimihiro membeku.

"Uh. Setelah Haruka meninggal mereka semua mulai bertingkah."

"Akan ada perjamuan besar malam ini!"

"Kita harus bersiap-siap. Berapa banyak kira-kira tamu yang datang?"

"Seluruh tetua dari fraksi Nagayo."

"Kembali bekerja, Kimihiro. Kita akan banyak tugas!"

Kimihiro masih membeku. Setelah beberapa saat ia bertanya dengan hati-hati. "Nayo-san. Bisakah aku menjadi orang yang mengantarkan makanannya?"

Nayo dan Miyuki memandangnya, membeku. "Oh!" seru wanita tua itu, lalu tersenyum. "Kau sangat penasaran sepertinya. Tentu, itu bisa jadi pengalaman yang bagus. Kau perlu bertemu dengan orang yang kau layani."

Kimihiro hanya tersenyum kecut. Bersyukur tidak ada yang menyadari kegundahan hatinya. Ia tidak memimpikan sesuatu yang buruk, jadi pasti semua akan baik-baik saja, kan? Batinnya.

Malam menjelang. Mereka bertiga keluar dari dapur untuk mengintip ke halaman luar lewat jendela. Mereka melihat satu persatu tamu keluar dari mobil-mobil yang berjejer.

Nayo berkomentar, "Mencoba meniru gaya peramal klan, huh..."

"Apa?"

"Coba lihat, Kimihiro. Para peramal gadungan itu, mereka memakai monstuki cerah dengan aneka motif, bukan?" Kimihiro mengangguk, "Itu simbol peramal klan. Pola dalam monstuki yang dipakai peramal klan menandakan besar kekuatannya. Semakin cerah, semakin banyak motif, semakin besar kekuatan peramal itu. Juga simbol apa yang menjadi motif ikut berpengaruh. Naga adalah yang terkuat, dan selama seratus tahun terakhir, belum ada peramal yang menyandang simbol naga."

"Peramal itu memakai monstuki berpola naga. Dia pasti kuat?"

"Kau tidak mendengar ceritaku? Ku bilang, mereka hanya meniru gaya peramal klan. Pakaian mereka tidak memiliki arti karena hanya keluarga Inari yang bisa membuat Monstuki magis bagi peramal klan."

"Oh... aku tidak pernah tahu itu..."

"Tentu saja. Aku sudah senior disini," Nayo menyeringai senang. Lalu mereka kembali menguping dengan tenang.

xxXxx

Doumeki menyusuri lorong menuju ruang pertemuan dengan langkah mantap. Tidak ada keraguan atau kecemasan dalam tingkah lakunya. Wajahnya tetap tanpa ekspresi. Doumeki menyadari tatapan dan bisikan para pelayan yang mengintip di sela-sela pintu geser, tapi ia tidak peduli.

Ia menggeser pintunya dan berdiri sejenak di ambang pintu sambil mengamati orang-orang yang hadir disana. Ia duduk di paling ujung. Tempat kehormatan bagi pemimpin klan. Mereka basa-basi sambil menunggu makanan disiapkan, tidak menyentuh sama sekali alasan yang membawa mereka kemari. Tapi tujuan mereka tercium di udara, menunggu kesempatan. Pada akhirnya, setelah menu terakhir diletakkan. Para Tetua memulai. "Jadi, Shizuka-san. Siapa yang kau pilih diantara semua pemuda dan gadis cantik disini?" pria itu menunjuk para peramal yang memasang wajah penuh harap. Shizuka tidak berkomentar. "Aku tidak akan bertele-tele sementara kita semua tahu alasan kami kesini," lanjut pria tua itu. "Jadi siapa yang kau pilih?"

Ada keheningan. Ia bahkan bisa mendengar suara teh di tuang di dalam gelasnya. Shizuka melirik pelayan yang menuangkannya, dan membeku. Ia bersirobok dengan mata biru terindah yang pernah dilihatnya. Pemuda itu punya ketampanan klasik, dengan kulit pucat bagai sinar bulan dan bibir merah tipis yang seakan menahan amarah. Pelayan itu selesai menuangkan tehnya, dan bergerak mengambil tempat disisinya, agak ke belakang, siap melayaninya kapanpun. Ia bisa mencium bau vanila.

"Shizuka-san?"

Doumeki kembali menoleh ke arah tamunya. Eskpresinya tidak menunjukkan apapun. Pada para kandidat peramal ia bertanya, "Di kamar tidur kalian, ada berapa banyak amulet dan jimat yang kalian tempel untuk melindungi diri?"

Para peramal itu tampak bingung dengan pertanyaannya, tapi menjawab satu persatu.

"Tidak lebih dari tiga buah, tuan. Saya bersyukur karena itu."

"Saya tidak membutuhkannya sama sekali benda macam itu."

"Saya tidak pernah menghitungnya. Pelayan saya yang biasanya mengurusi hal itu."

"Amulet?"

Shizuka berdiri. "Peramal terakhir milik Haruka, ia memiliki lebih dari seratus jimat menempel dan belasan amulet untuk menjaganya sebelum bertemu dengan kakekku. Itu menunjukkan sebesar apa kekuatan peramal. Lebih kuat dia, lebih rentan dia." Terjadi keributan di antara tamunya. Tapi Shizuka tidak peduli dan malah, pada para tetua ia berkata, "Jika kalian ingin mengajukan kandidat, paling tidak pilih yang benar-benar berguna bagi klan. Bukan sekumpulan pelacur dan gigolo. Tidak ada yang perlu dilanjutkan dalam pertemuan ini."

Shizuka berhenti sejenak di ambang pintu, menoleh ke belakang, "Kau," katanya pada pelayannya. "Bawa makanan itu ke kamarku."

xxXxx

Kimihiro tidak pernah tahu Doumeki adalah orang yang bisa melawan tetua dengan cara seperti itu! Dan dia seumuran dengannya?! Perasaan Kimihiro masih campur aduk saat keributan melanda ruang pertemuan, dan seakan Doumeki tidak menyadarinya, atau tidak peduli, pemuda itu malah meninggalkan ruangannya. Ia masih ternga-nga saat diambang pintu Shizuka menyuruhnya membawa makanan ke kamarnya. Sambil mengambil langkah goyah, Kimihiro membawa set makanan itu. Kesal dan bingung.

Kimihiro sering mengamati kamar Doumeki dari kejauhan, tapi tidak pernah punya kesempatan untuk melihat dari dekat. Ia sedang mengamati ruangan-ruangan yang dilaluinya saat tangan kuat menahan lengannya. Kimihiro menatap sejenak tangan itu sebelum melemparkan pandangan bertanya pada Doumeki. "Kau mau kemana?" kata Doumeki tanpa eskpresi. Membuat Kimihiro menyadari ia masuk ke dalam ruangan yang salah. Pipinya seketika merona. Cengkraman di lengannya menguat beberapa detik sebelum dilepaskan.

"Letakkan disana."

Kimihiro meletakkannya di dekat ranjang. Ruangan itu besar, tapi tidak banyak barang disana. Hanya ada lemari, meja, lampu tidur dan ranjang. Ia menundukkan tubuh dan berniat keluar saat Doumeki bertanya, "Kau. Siapa namamu?"

Kimihiro menatap mata emas itu mengamatinya tanpa ekspresi. Bibirnya bergetar, ragu apakah pilihan yang benar untuk menyebutkan namanya. Tapi siapa yang bisa keluar dari situasi macam ini? Tidak wajar jika seorang pelayan menolak menyebutkan namanya pada tuannya, bukan?

Sambil merasakan takdirnya bergulir ke arah yang tidak bisa ditebaknya, Kimihiro menjawab, "Kimihiro. Watanuki Kimihiro."

Kimihiro keluar dari kamar dan berjalan secepat mungkin keluar dari lingkungan pribadi Doumeki Shizuka, hanya untuk berpapasan dengan Kurogane.

"Kimihiro-sama," pria itu menunduk saat melihatnya.

Kimihiro tetawa, "Kenapa kau terus-terusan memanggilku dengan sebutan sama! Aku pelayan kau tahu!"

Kurogane hanya menatapnya, tidak mengomentari orang yang sudah berkali-kali menyelamatkan hidupnya tanpa dia sendiri menyadari. Kurogane merasakan sejak lama, dan akhir-akhir ini semakin yakin bahwa Kimihiro bukan orang biasa. Ia satu-satunya yang masih mengingat, jika seandainya seluruh orang di tempat ini sudah melupakannya, hari pertama Kimihiro datang ke tempat ini bersama Haruka. Pemimpin klan sebelumnya membawa sendiri Kimihiro, memberikannya akomodasi yang tidak mungkin diberikan pada seorang pelayan. Kurogane telah lama bekerja pada Haruka. Ia tahu benar bagaimana cara pria tua itu berpikir. Lagi pula, Kurogane sangat mempercayai instingnya.

"Kau akan bertemu Doumeki-san?"

Kurogane mengangguk. Kimihiro membuka mulutnya seakan ingin mengatakan sesuatu, lalu menggelengkan kepala pelan dan tersenyum. "Cepatlah pergi. Mungkin kau bisa menghiburnya. Dia dalam suasana hati yang buruk."

Dari pada suasana hati yang buruk, lebih tepatnya Shizuka sedang mengawang-awang. Ia menyesap sakenya sambil menatap ke kejauhan. Bahkan tidak menoleh saat ia masuk.

"Kau tahu, pemuda itu orang yang memasak makanan kita."

"Aku tahu."

Shizuka menoleh padanya.

"Kimihiro-sama," kata Kurogane.

"Sama?"

"Aku punya alasanku sendiri," sambil berkata begitu Kurogane menyodorkan lipatan kertas. Mengalihkan pemikiran Shizuka pada sesuatu yang lebih serius. "Ini bukti adanya transaksi ilegal kelompok Wakasuji."

"Mereka tidak berhenti kalau begitu."

Kurogane mendengus, "Akan sedikit lama sampai seluruh jajaran dibawah kepemimpinan Wakasuji tahu tindakanmu siang tadi. Bersabarlah. Kita akan menunggu tindakan mereka selanjutnya."

"Taro Wakasuji bukan orang yang punya mental melakukan pemberontakan. Tapi aku lebih mencemaskan bos kedua."

Kurogane mengangguk. "Aku akan bersiap pada kemungkinan terburuk."

"Perang antar geng?"

"Lebih buruk lagi. Pembunuh bayaran."

Shizuka tersenyum miring, "Ini bukan pertama kalinya." Dan bukan yang terakhir. Kalimat itu menggantung di udara.

"Akan lebih mudah jika ada peramal klan disisimu."

Shizuka menaikkan sebelah alis, "Kau menganjurkan menerima para kandidat peramal yang disodorkan paman-pamanku itu?"

"Tidak. Aku menyarankan kau mencari peramal yang sudah dipilih oleh Haruka."

"Tidak kau juga..."

"Kita membutuhkannya, Shizuka."

"Selama ini kita bisa bertahan."

"Karena keberuntungan," dan intuisi Kimihiro, batin Kurogane.

"Tapi tidak ada yang tahu dimana dia. Atau siapa dia. Atau apakah dia benar-benar ada?"

"Aku menyempatkan diri menyelidikinya," Kurogane bergerak tak nyaman. Shizuka menatapnya dengan mata mengisyaratkan untuk melanjutkan, "Ada kemungkinan penyihir Ichihara Yuuko tahu keberadaan peramal itu."

"Selidiki lebih jauh."

Kurogane merundukkan kepala dan berpamitan.

Bagi Kurogane, ini akan jadi malam yang panjang.

xxXxx

x

x

x

Aku penasaran, apa kisah ini akan jadi kisah percintaan tarik ulur?