Disclaimer © Naruto milik Masashi Kishimoto dan saya tidak mengambil keutungan materi apa pun
Story © Nuria agazta/ Naya Aditia
Pairing: SasuSaku
Warning: AU, OOC (little bit..), Abal dan aneh, Typo(s) bertebaran, tidak masuk di akal, diksi jelek.
.
.
.
Naya Aditia
Proudly Present...
Versus: Generation Miracle
.
.
.
Don't Like? Don't Read and please Go Away over here...
.
.
.
Enjoy this one^^
.
.
.
Suasana bandara semakin ramai. Hilir mudik para pengunjung yang datang-pergi semakin membludak mengingat akhir libur panjang telah berakhir. Gadis manis bersurai merah muda berdiri dari kursi tunggu pengunjung seraya melambaikan tangannya ke arah seseorang di depan sana.
Sakura―gadis itu tersenyum manis lalu berlari menerjang pria berambut raven yang notabennya adalah kekasihnya. Pelukan maut Sakura sedikit membuat Sasuke terjengkang ke belakang. Bersyukurlah Sasuke memiliki keseimbangan yang bagus sehingga kejadian memalukan bisa dihindari. Mendengus kesal Sasuke melepaskan pelukan gadisnya lalu menatapnya tajam.
"Ups! I'am sorry," ujar Sakura dengan wajah tanpa dosanya. Orang-orang yang berlalu lalang di sekitar mereka melihat ke arah pasangan yang serasi itu dengan pandangan tertarik. Wajah tampan Sasuke menyedot perhatian pengunjung wanita yang ada di sana begitupun sebaliknya dengan Sakura. Para lelaki menatap lapar pada gadis cantik itu. Tangan Sasuke ingin rasanya menyongkel mata mereka karena seenak jidatnya melirik nafsu pada gadisnya. Menghela nafas pasrah Sasuke menarik―lebih tepatnya menyeret tangan Sakura.
"Sasu-kun sakit... lepaskan," rintih Sakura berusaha melepaskan genggaman kekasihnya itu.
"Hn." Mengambil koper Sakura yang berada di samping seorang gadis berambut merah maroon Sasuke menarik Sakura pergi dari sana.
"Hei... lepaskan temanku," cegah Karin berusaha membela Sakura. Sasuke menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Karin dengan wajah datarnya itu.
"Hn. Jangan ikut campur urusan kami, MATA EMPAT." Sasuke membalikan badannya kembali serta tangan Sakura yang masih digenggam olehnya.
"Oh shitt... apa kau bilang? Dasar ayam kentucky sialan!" Karin mengumpat marah. Kelakuannya itu mendapat sorotan aneh dari beberapa pengunjung.
"Dasar tidak waras," kata anak laki-laki berusia sepuluh tahunan yang melewati Karin.
"Diam kau bocah!" amuknya sengit. Si anak laki-laki malah menjulurkan lidahnya mengejek Karin lalu berlari dari sana.
"Ck. Dasar bocah tengik." Menenangkan emosinya sebentar lalu Karin menarik kopernya gusar lalu melangkah pergi dari sana menuju jemputan supir pribadinya yang sudah menunggu di depan bandara. Malu rasanya diperhatikan orang-orang yang berada di sana. Imagenya hancur sudah pikir Karin kesal.
.
.
.
"Sasuke-kun sakittt... sebenarnya kita mau kemana," rengek Sakura tapi tak dihiraukan sama sekali oleh sang pria. Langkah Sasuke yang besar membuat Sakura kewalahan menyeimbangkan dengan langkahnya yang kecil.
"Aku antar pulang," jawab Sasuke acuh tak acuh. Ia malas meladeni kekasihnya yang cerewet itu, ia sudah terlanjur kesal dan marah entah karena apa Sasuke pun tak tahu.
"Tapi aku laparrr," keluh Sakura sambil mengusap perut rampingnya. Sasuke menghentikan langkahnya mendadak dan menatap Sakura malas.
Mau bagaimana pun Sasuke tidak akan berkutik jika Sakura sudah menatapnya dengan tatapan kucing minta dikasihani itu. Untuk kesekian kalinya ia menghela nafas. Lagi dan lagi Sasuke lah yang harus mengalah. Dan sang juara bertahan― Sakura menyeringai senang. Ck.
.
.
.
Sakura dan Sasuke kini sedang berada di dalam taxi. Mengingat Sasuke tidak tinggal di kota ini dan Sakura yang kebetulan baru pindah jadi jalan satu-satunya adalah menaiki transportasi umum. Mereka sempat berdebat alot untuk menentukan tumpangan yang akan dinaiki. Sakura yang ingin menaiki busway ditolak mentah-mentah oleh kekasih tercinta dengan alasan, "Hn. Busway terlalu penuh dan berisik. Taxi saja," katanya mutlak tak ada bantahan.
Inilah yang terjadi. Sakura yang ngambek beringsut menjauhi Sasuke. Si pria berusaha mendekatkan tubuhnya namun sang gadis lagi-lagi menjauh. Jadilah Sakura yang duduk di pojokan dekat dengan kaca jendela.
Melalui kaca tengah, supir taxi hanya geleng-geleng kepala melihat interaksi mereka yang sangat 'dewasa' sekali.
Sasuke menggeram rendah melihat kelakuan kekasihnya. Sungguh kekanakan sekali. Semakin dikerasi maka Sakura akan semakin membangkang. Ia bukan orang yang romantis dan penuh kelembutan. Tapi ia punya cara tersendiri membujuk Sakura walaupun dengan cara yang terbilang sinting.
Diambilnya smart phone mahal dibalik saku celana jeansnya. Ia membuka kode sidik jari dan terbukalah barcode hand phone miliknya. Terpampanglah photo Sakura yang sedang tersenyum manis saat musim panas tahun lalu saat mereka berlibur ke Hawaii. Lalu ia berusaha menghubungi seseorang.
Drrtttt...drttt..
Sakura mengambil asal hand phonenya di dalam tas kecil karya Louis Vuitton miliknya lalu meletakan di sisi telinganya.
"Hn. Jangan marah lagi kelinciku yang cantik," ujar suara pria di seberang telepon yang tak lain dan tak bukan adalah Sasuke Uchiha. Wajah Sakura merah merona, ia berusaha menutupi wajahnya dengan salah satu tangannya. Ia arahkan pandangannya pada Sasuke yang juga sedang menatapnya lembut. Dan jadilah mereka saling tatap-tatapan dan berbicara disambungan telepon padahal jarak mereka hanya beberapa jengkal saja.
Pak supir taxi sweatdrop melihat kelakuan mereka. Apa ini sedang nge-trend dikalangan anak muda? Pikirnya kepo.
.
.
.
.
Sant Pau Restaurant, Perfektur Hi Barat.
Dari sekian banyak restaurant, Sant Pau menjadi tempat yang dipilih oleh mereka untuk mengisi perut yang memang sudah lapar. Kalau boleh jujur, sebenarnya Sakura lah yang meminta― merengek ingin makan di restaurant khas masakan negeri yang terkenal dengan club sepak bolanya itu―ya, Spanyol.
Setelah memesan tempat private untuk mereka berdua. Sasuke mengajak Sakura untuk menuju ruangan yang sudah mereka pesan. Sant Pau sendiri merupakan tempat makan yang mengedepankan kenyamanan pribadi. Memiliki dua puluh dua ruangan yang setiap saat selalu penuh jika tidak dibooking terlebih dahulu. Cocok sekali untuk Sasuke yang tidak begitu menyukai acara santap-menyantapnya diperhatikan orang banyak. Dekorasi ruangannya pun bervariasi dari yang kualitas standar sampai yang membuat tamu gigit jari.
Di sinilah mereka dengan ditemani salah seoarang waitress yang mencatat masakan yang akan mereka pesan. Sasuke dan Sakura mulai membuka buku menu melihat jenis-jenis makanan dan minuman yang disediakan.
"Saya pesan Paella de arroz dan Empanada gallega untuk minumannya saya pesan Milkshake Strowberry saja," kata Sakura sedikit tidak yakin dengan pilihannya.
"Hn. Gazpacho dan Sangria satu," ujar Sasuke lalu menyerahkan buku menu tersebut. Waitress wanita itu wajahnya memerah melihat wajah tampan Sasuke secara dekat. Ia terlihat gugup dan sedikit gelabakan saat menerima buku menu dan cepat-cepat mencatat pesanan.
Setelah memesan makanan kini mereka tinggal berdua di ruangan yang cukup besar dan interiornya khas eropa tersebut. Keheningan menyelimuti mereka berdua, entahlah mereka seperti memikirkan sesuatu di otak mereka masing-masing. Sasuke juga sedikit heran kenapa gadisnya tiba-tiba mendadak menjadi pendiam. Fakta absolut yang ia tahu adalah Haruno Sakura adalah gadis yang cerewet. Bukannya Sasuke tidak suka― ia sangat menyukai keheningan dibanding keramaian tapi yang kita bicarakan disini adalah puteri Haruno Kizashi yang...hahhh―sudahlah tidak usah dibahas lagi. Ck.
Lima menit berlalu tetapi mereka masih terdiam satu sama lain hingga akhirnya Sasuke meminta izin untuk pergi ke kamar mandi. Baru hendak berdiri dari kursinya suara Sakura menginterupsi.
"Sasuke-kun bolehkah aku pinjam Smart Phone milikmu, aku ingin main game Hay Day. Boleh yah?" Mata cemerlang Sakura berbinar indah.
Sasuke terdiam bisu. Akhirnya dia kembali, batin Sasuke lega. Bukannya bermaksud apa― tapi keheningan beberapa saat yang lalu bukan seperti Sakura yang ia kenal.
"Kenapa tidak di ponselmu sendiri?" sewotnya. Apa-apaan Smart Phone canggihnya jadi ajang mainan game Sakura. Jangan ingatkan kejadian setahun lalu saat Sakura mendominasi ponselnya. Semua isi Smart Phonenya dipenuhi berbagai game Sakura. Dari yang adventure sampai game ke wanitaan seperti mendandani wajah dan cooking. Hahh... itu bukan Sasuke sekali. Dasar gamers! umpat Sasuke dalam hati.
"Kuotaku sedang sekarat Sasuke-kun... boleh ya? Sekali ini saja. Hanya Hay Day aku janji," katanya memohon.
Satu-satunya game yang ada di Smart Phone Sasuke sekarang adalah Hay Day. Itu pun Sakura beberapa menit yang lalu―saat di dalam taxi― yang meng-unduhnya. Ia bilang game ini mengingatkan dirinya dengan ayam peliharaan kakeknya yang juga mengingatkan akan dirinya. Bloody Hell... ia disamakan dengan ayam. Demi celana kolor Itachi kakaknya, ini penghinaan telak untuk Uchiha Prodigy seperti dirinya.
Sasuke mengambil Smart Phonenya dan membukakan codenya menggunakan sidik jari. Mau bagaimana lagi ia lemah tak berdaya jika menyangkut Sakura dan keinginannya. Hell... ia benar-benar diperdaya oleh seorang wanita.
Baru hendak berdiri suara Sakura mencegahnya lagi. "Apalagi Saku-chan?" geramnya tertahan.
"Jangan lama-lama yah?" Sakura tersenyum sangat manis sampai matanya ikut menyipit. Wajah Sasuke sedikit memerah walau mimiknya tetap datar. Sudah berapa kali ia mengatakan ia pria yang lemah jika berhadapan dengan seorang Haruno Sakura. Egonya yang tinggi itu harus mengakui kalau ia seorang yang tunduk terhadap sang kekasih.
"Hn." Sasuke melangkah keluar pintu ruangan meninggalkan Sakura sendirian di ruangan tersebut.
Sakura meregangkan kepalanya sedikit ke kiri dan ke kanan agar lebih rileks. Wajah manis itu berubah manjadi sosok yang dingin dan raut muka yang datar. Smart Phone yang ada di tangannya ia putar ke atas ke bawah sesuka hatinya lalu membuka kotak messege tersebut dan membaca beberapa pesan lain selain dirinya.
Pesan dari Naruto-dobe. Pesan si mayat hidup― Sai dan pesan da―hey..Sakura menemukan sesuatu. Pesan dari salah satu teman Junior High Schoolnya dulu. Ya, kau pasti tau itu dari siapa― Yamanaka Ino.
"Sasu-koi...malam ini ke apartemenku ya? Okey :')" Sakura membacanya pelan. Begitu banyak pesan dari gadis pirang itu mengalahkan intensitas pesan miliknya. Ia beralih membuka kotak keluar untuk melihat balasan dari Sasuke. "Hn. Jika aku sudah sampai kau harus sudah ada di ranjang."
Sakura mendengus geli."Dasar jalang licik," cemooh Sakura. Sakura hanya bisa geleng-geleng kepala melihat ke-brengsekan mereka. "Mereka memang sangat cocok," ujarnya menyindir prihatin. Ia tekan panel merah untuk mengembalikan ke posisi awal screen.
Wallpapernya yang masih dipasang oleh Sasuke bukan berarti ia merasa senang. Ditatapnya lurus sudut ruangan dengan pandangan gamang. Ponsel Sasuke masih setia digenggamnnya kuat. Beberapa menit kemudian ponsel digenggaman Sakura menimbulkan bunyi 'krekk' seperti bunyi pecah dan benar saja layar ponsel tersebut retak melintang horizontal. Tangan Sakura sedikit berdarah tapi tak dihiraukan sang pemilik tangan. Sakura tak bersuara sedikit pun wajahnya datar tak berarti. Ponsel di tangannya masih dapat berfungsi dalam artian hanya layarnya saja yang pecah.
Suara pintu ruangan terbuka. Sasuke mengernyit bingung melihat gadisnya melamun dengan ponselnya di genggaman Sakura. Mendekat dan menghampiri Sakura mata Sasuke terbelalak melihat darah mengucur di tangan mungil kekasihnya.
"Sakura tanganmu berdarah, apa yang sebenarnya terjadi?" Sasuke panik dan segera membawa Sakura ke luar ruangan untuk meminta kotak P3k kepada pihak restaurant. Langkah Sakura yang terseok-seok membuat sedikit Sasuke kewalahan berjalan. Gadisnya seperti tidak ingin menggunakan kakinya atau kata lainnya adalah tidak ingin melangkah. Ada apa sebenarnya? Pikirnya heran. Melihat ponselnya yang retak Sasuke mengasumsikan bahwa ponselnya jatuh ke lantai namun retakannya mengenai tangan gadisnya.
"Ada apa tuan?" Manager restaurat menghampiri clientnya yang terlihat panik.
"Ambilkan kotak P3k secepatnya," perintah Sasuke lalu mengamati luka di tangan Sakura.
"Baik tuan. Tunggulah sebentar."
"Kau tidak apa-apa? Apa ada yang sakit?" khawatirnya pada Sakura. Orang yang ditanyai malah diam dan memandang udara hampa seolah-olah jiwanya sedang tidak berada di raganya.
" Ck. Sakura ayolah jawab," geram Sasuke menuntut. "Bagaimana aku bisa tahu keadaanmu kalau kau tak mau berbicara," lanjutnya menahan kesabaran.
Sakura menorehkan wajahnya ke arah Sasuke, menatapnya datar dengan tatapan kosong. Lima tahun meneganal Sakura baru kali ini ia melihat mata indah itu menatapnya hampa tidak secemerlang sebelumnya terhadapnya.
"Ada apa sebenarnya?" desisnya lirih. Ia merasa Sakura memusuhinya. Sangat kentara sekali kalau Sakura enggan terhadap Sasuke.
"Aku tidak apa-apa," ucapnya lirih―sangat pelan sekali.
Sasuke menyentuhkan telapak tangannya ke kening Sakura. Tidak panas, pikirnya bingung.
"Sudah kubilang aku tidak apa-apa." Baru Sasuke ingin mengelak perkataan kekasihnya, manager restaurant datang dengan kotak P3k di tangannya.
"Ini tuan. Apa ada yang diperlukan lagi?" Sasuke menggeleng pelan dan memintanya pergi.
Tanpa buang waktu Sasuke mencuci telapak tangan Sakura dengan air bersih dan mengolesinya dengan antiseptic lalu membalutnya dengan perban halus.
Sasuke memegang tangan kanan Sakura lalu menciumnya, "Sudah lebih baik?" tanyanya sambil mendongak menatap kekasihnya yang masih memasang wajah datar bahkan melebihi dirinya.
Baru ingin mengutarakan kebingungannya suara ponsel Sasuke mengambil alih keadaan. "Tunggu sebentar," katanya pada Sakura yang tak merespon apa pun.
Ponsel yang layarnya pecah tersebut di ambilnya dan melihat siapa pengganggu yang dengan seenak jidatnya mengganggu waktunya.
DEG.
Sasuke meneguk salivanya berat. Ia reject panggilan tersebut dan cepat-cepat mengembalikannya ke kantung celana jeansnya.
"Kenapa tidak diangkat?"ucap Sakura parau. Ia menatap sasuke dengan pandangan menyelidik.
Sasuke memalingkan wajahnya ke arah lain mencoba mencari alasan.
"Dari Naruto, tidak penting juga," katanya menjelaskan. Sakura memasang wajah tidak percaya. Ia ambil ponselnya miliknya sendiri lalu menekan nomor seseorang di sana. Mencoba menghubungi. Beberapa kali bunyi 'tut tut' hingga terdengar suara 'Hallo' di seberang telepon.
Ia tekan tombol Loudspeaker. Sasuke yang bingung berkali-kali mengernyitkan alisnya gusar. Sebenarnya Sakura menghubungi siapa? pikirnya berkecamuk.
"Ya, hallo..."
"Ada apa Sakura-chan?"
Mata Sasuke terbelalak kaget. Telinganya panas. Rasanya ia seperti tidak bisa bernafas.
"Naruto, apa tadi kau menghubungi Sasuke-kun?"kata Sakura sambil melihat tajam ke arah Sasuke.
"Tidak. Aku baru saja bangun tidur. Ada apa memangnya dengan Teme, Sakura-chan?"
"Tidak ada apa-apa." Panggilan teputus sepihak oleh Sakura. Menatap Sasuke nyalang Sakura berkata, "Bisa kau jelaskan sesuatu?" suaranya ia tekankan seolah ia meminta jawaban.
Sasuke terdiam. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Bibirnya kelu untuk mengeluarkan suara.
"Sa-saku...aku bisa jelaskan," ucapnya gelabakan dan sedikit panik.
"APA YANG MAU KAU JELASKAN HUHH!" amuk Sakura dan membanting ponselnya ke sembarang arah.
"Aa. Aku paham. Tak perlu kau jelaskan aku sudah SANGAT PAHAM UCHIHA SASUKE,"desisnya tajam menahan emosi yang memuncah.
Sakura melangkah ke dalam ruangan yang mereka pesan tanpa menghirauan Sasuke yang mencoba menjelaskan―mungkin juga untuk meminta maaf.
Orang-orang yang ada di sana khususnya para staff yang bekerja di restaurant menatap Sakura prihatin dan sedikit berempati. Tak sedikit juga yang menatap Sasuke benci.
.
.
.
Sakura POV
Cukup sudah aku tidak tahan lagi. Berani sekali mereka menusukku dari belakang. Lihat saja nanti aku akan balas perbuatan kalian. Tak seperti cara kalian yang licik aku akan hancurkan kalian terang-terangan. Berani meludahiku kubuat kalian akan menyesal seumur hidup.
Kuambil koperku di dalam ruangan yang di pesan Sasuke tadi dan cepat-cepat kulangkahkan kakiku keluar restaurant. Masa bodoh jika dia berlutut di kakiku.
"Sakura dengarkan aku..." Sasuke terus mengikutiku dari belakang mencoba mencegahku untuk pergi. Siapa peduli dengannya. Mati saja sana Shanaroo!
Tak kudengarkan kata-katanya dengan terus melangkah menyeberangi zebra cross. Kebetulan sekali letak Sant Pau Restaurant berada di dekat jalan raya yang memudahkanku untuk mencari taxi. Kami menjadi tontonan orang-orang yang ada di sana. Melihat sinetron, huh! Sayangnya ini kenyataan.
Ku tepis tangannya yang mencoba menyentuhku. Kutarik kasar koperku agar cepat sampai ke seberang jalan. Dan kejadian itu cepat sekali. Aku tak bisa melangkah seolah kakiku membatu.
End Sakura POV
.
.
.
Sebuah mobil melaju dengan kecepatan maksimum saat Sakura dan Sasuke masih berada di area pertengahan jalan.
Sakura yang kaget hanya bisa pasrah dan menutup matanya ketakutan.
Satu detik..
.
Lima detik..
.
Sepuluh detik..
.
Tidak ada yang terjadi padanya. Ia tidak merasakan sakit atau pun bunyi mobil menghantam tubuhnya. Ia buka sedikit demi sedikit matanya dan saat menoleh ke samping matanya terbelalak kaget. Mulutnya tidak bisa berkata-kata.
Mobil yang seharusnya menghantam tubuhnya dan Sasuke melayang di udara. Si pengemudi histeris ketakutan karena mobil beserta dirinya terbang di udara. Ia menjerit minta pertolongan tapi tak ada satu pun yang membantu. Sakura mengedarkan mata emeraldnya ke samping, ia melihat Sasuke merentangkaan tangan kanannya ke udara dan manik hitamnya berubah menjadi merah crimson. Sakura bergidik ngeri. Ia torehkan wajahnya ke sekeliling dan lagi-lagi ia dibuat tidak percaya. Orang-orang yang berada di sana tidak bergerak mereka seperti berubah menjadi batu.
Bahkan mobil-mobil yang ada di sana berhenti dan pengemudinya tidak bergerak sedikit pun. Waktu seolah berhenti. Sakura menjerit ketakutan di dalam hati. Perlahan-lahan kesadarannya berangsur-angsur menghilang. Kumpulan itu menjadi hitam pekat dan ia tak sadarkan diri di pelukan seseorang.
"Sas-su..." Sakura menutup matanya. Yang terakhir ia lihat adalah Sasuke menaruh jari telunjuk di bibirnya seolah mengatakan untuk diam.
.
.
.
"Ada apa? Kenapa kau berkeringat seperti itu?" tanya seorang wanita berambut pirang.
Si pria mengatur nafasnya pelan untuk menenangkan detak jantungnya yang beberapa saat lalu terasa sakit.
"Salah satu segel terbuka," ucapnya lirih. "Aku merasakannya. Rasanya kuat sekali," lanjutnya. Tak beberapa lama kemudian telepon miliknya berbunyi.
"Ya..."
"Tournament Spring day pekan ini akan sangat menyenangkan. Seseorang yang jenius sepertimu pasti akan tertarik."
"Tentu. Aku ingin sekali melihat 'mereka' seperti apa?"
"Jangan kecewakan aku tuan renkarnasi Sherlock Holmes..." Orang di seberang telepon terkekeh pelan.
TBC
*Sangria adalah minuman khas spanyol yang mendunia dibuat dari bahan utama wine dan campuran buah buahan.
*Gazpacho adalah sup dingin ala spanyol atau nama lainnya sup tomat
*Paella adalah makanan khas spanyol yang mirip dengan nasi kuning namun di atasnya ditaruh semacam makanan laut seperti cumi-cumi dll.
.
Sakitnya tuh di sini di dalam hatiku. Sakitnya tuh di sini melihat kau selingkuh. (Nyanyi heboh wkwk..)
Entah kenapa ngeliat Sasu di sini jadi mirip Magneto di X-men wkwwk. Dan cerita ini memang dari segi kekuatan rada kaya di X-men tapi beda ceritanya tentu saja. Dan Tournament nya nanti ada rada mirip sedikit dengan The Hunger Games dan sekali lagi nay mengatakan tentu dengan cerita yang berbeda.
Pertama: Kemampuan nulis nay menurun gara-gara lama gak nulis jadi maaf jika part ini rada aneh dan abal tentunya. Maaf mengecewakan kalian. Udah lama aneh pula ceritanya. Maklum lah lagi pemanasan dulu. Kenapa Sakuranya baru bertindak sekarang ya karna dia menunggu waktu yang tepat. Jadi yang sebelum-sebelumnya itu dia akting seperti yang dikatakan karin.
Kedua:Masaah plot twice. Di bagian awal memang rada prolog nya porsinya kecil. Karena di bagian itu tidak terlalu penting. Agar tidak membosankan tentunya. Makanya time line nya juga cepat.
Ketiga: Hubungan awal SasuSaku bakalan di ceritakan di flashback di beberapa part kedepannya.
Keempat: Typo dan bla bla bla. Pendek? no coment. Harap maklum.
Kelima: Maaf gak bisa balas review satu-satu tapi sudah saya baca semuanya. Tenang saja. Thank you.
Keenam: dari fik MC saya yang lain kira-kira yang mana duluan yang akan di publish? Saya usahakan untuk mengetiknya detik ini juga. yang masih bingung dengan maksud cerita ini yang kurang jelas bisa PM aku okey :')
Dan terakhir..
Mind to Review agar saya tahu fik ini layak atau gak di lanjut^^
See you later..
Sign,
Nayong,
20 November, Banajr Baru, KAL-SEL.
