Diliriknya jam pada ponsel yang terhubung dengan headphone, masih ada waktu setengah jam lagi, garpu perak ditusukan pada sebuah croissant yang dari tadi tidak tersentuh, disantap perlahan, sudutnya digigit sedikit, rasanya dingin, tidak seperti saat pertama dihidangkan tadi, diambil dari showcase warmer kotak transparan serupa etalase kecil berlampu - hangat, tapi tak apalah, masih terasa gurih manis di mulutnya.
Sepasang keping cerulean kembali menelusur susunan huruf pada novel yang tengah dibaca. Kepalanya kembali mengangguk-angguk kecil. Entah musik apa yang didengarnya, tapi sepertinya j-pop karena sebelumnya sudah banyak yang ia unduh, tersimpan di playlist ponselnya.
Kuroko mengangkat garpunya untuk memakan pastry yang tampak renyah di luar dan lembut didalam tersebut, tiba-tiba kudapan itu lenyap.
Hap! masuk kedalam rongga mulut seseorang. Sontak ia menoleh.
.
.
EVADE
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Story by Mel
.
Warning: Typos, AU, sho ai, it's only fictitious
Please enjoy
.
.
"Nyam nyam enaak ssu, hmm…" mulutnya penuh.
"Kise-kun!" cerulean membulat kaget. Juga sepasang rubi yang tiba-tiba membelalak di seberang sana.
"Kise-kun, kau ada disini?" dikuceknya kedua matanya.
"Aku mimpi ya!" gumam Kuroko sambil mendorong kebelakang batang headphone, yang kemudian menggantung di lehernya.
"Tehee….Kurokocchi, aku rindu ssu!" Kise yang masih berdiri di belakang Kuroko membungkuk mengalungkan kedua tangannya di dada kecil tertutup parka. Sementara dagu lancipnya hinggap di ubun-ubun biru muda. Menghirup wangi vanilla dari helaian lembut rambutnya. Lalu menggesekkan pipi licin terawatnya ke pipi gembil seputih susu.
Beberapa orang pengunjung café melirik interaksi mereka, tapi kebanyakan mereka tidak peduli, melanjutkan kegiatan mereka yang sedikit terinterupsi suara riang sang model Jepang.
"Berat, Kise-kun!" Kuroko menggoyangkan badannya minta dilepaskan.
"Tapi aku rindu Kurokocchi!" rajuknya, mata madunya dibuat sendu. Kise memutari kursi berbahan dasar alumunium lalu berjongkok di depan Kuroko, menyamakan tinggi. Dari arah kedai kebab keduanya terlihat seperti tengah berciuman, kepala bersurai kuning menutupi wajah manis yang sedari tadi dipandanginya.
Sukses lelaki berambut merah itu memecahkan cangkir yang digenggamnya dengan kekuatan penuh. Wajah tampan mengeras berubah menyeramkan.
"Kise-kun sedang apa di sini?" suara halus Kuroko masuk ke gendang telinga Kise Ryouta, mata biru besar menatapnya intens, menenggelamkan sepasang iris madu yang menatapnya penuh rindu. Mata indah itu benar-benar mempesona pemuda tinggi dihadapannya.
Sementara di balik jendela sana sepasang mata memicing, mengawasi setiap pergerakan dua pemuda yang baru saja bertemu, seperti seorang sniper mengintai musuhnya. Kepalan tangannya makin mengeras.
"Aku ada job di Denmark, di Kopenhagen ssu, aku pikir aku bisa bertemu denganmu." Kuroko tersenyum samar.
"Kau melalui Oresun Bridge dengan kereta, Kise-kun?" netranya berbinar.
"Ya, lautnya sangat biru ssu, dan aku menemukanmu di sini dengan smartphone-ku!" sambil menunjukkan sebuah perangkat ponsel model terbaru. Pada layarnya tergambar peta dengan bulatan berwarna biru muda. Lokasi tepat di titik itu.
"Kurokocchi, apa kau tahu ssu, kalau aku setiap waktu merindukanmu, kau pergi terlalu jauh." Ada nada sedih dalam ucapannya. Seulas senyum menggaris di wajah datar pemuda mungil. "Dan kau jarang sekali pulang!" lanjutnya setengah merajuk.
Kali ini tangan mungil mengelus surai pirang. "Tapi sekarang kita bisa bertemu, Kise-kun." Pemuda tampan itu mengangguk. Wajah itu berubah, menjadi ceria, "aku akan menabung untuk bisa datang lagi ke sini, aku ingin menemani Kurokocchi biar tidak kesepian ssu!" katanya bersemangat, manik madunya berkilauan.
"Aku tidak kesepian, Kise-kun." Sanggah pemuda datar itu. Tapi tetap saja seorang Kise Ryouta tidak akan mengingkari janjinya ia bertekad untuk bisa bersama Kurokocchi-nya, walaupun ia tahu mantan kapten basketnya juga menyukai sosok mungil itu. 'Tapi kan Kurokochi jauh dari Akashichi sekarang, jadi aku bisa mendekatinya lebih bebas' batinnya.
"Kise-kun, kelasku hampir mulai." mata Kuroko melihat jam yang tampil pada telepon genggamnya.
"Sampai jam berapa kuliahnya ssu?" bokongnya ia hempaskan di kursi di depan Kuroko, kursi itu berderit menggesek andesit beberapa inci kebelakang.
"Cuma satu matakuliah hari ini, selesai jam 12.30." ia tutup novel yang tergeletak di meja lalu dimasukan ke dalam postmen bag-nya.
"Aku akan menunggumu! Kurokocchi, nanti kita makan siang bareng ya ssu." mata madunya berbinar-binar, Kuroko mengangguk. "Ide bagus Kise-kun." Seulas senyum tipis kembali tertoreh.
"Kau mau menunggu di sini atau di perpustakaan dekat kelasku, Kise-kun?" opsi kedua dipilih Kise, ia tidak mau berjauhan saat pertama bertemu di kota kecil ini.
Mereka berjalan beriringan, tampak sekali perbedaan tinggi badan, membuat pemuda pirang yang penampilannya sangat mencolok itu menunduk, seakan mengecupi puncak kepala biru muda.
Kise diminta menunggu di lobby ruang perpustakaan yang hangat, sofa empuk bergaya kuno dengan sebuah televisi layar datar diletakkan di depannya. Di sebelah sofa tampak rak pajang, beberapa news letter, dan majalah universitas ditata rapi, baik yang berbahasa Inggris, maupun Svenska. 'Bahasa Inggrismu pasti bagus ya ssu.' batin Kise yang ditujukan pada sosok pemuda biru dipikirannya.
Beberapa mahasiswi yang melintasi melirik pemuda tampan itu, pakaiannya pasti mengundang lirikan selain wajahnya yang enak dipandang. Kebanyakan warna pakaian yang membalut tubuh para mahasiswa itu berwarna gelap cenderung hitam, navy, atau abu-abu, warna terang biasanya pastel seperti coklat muda, krem, sedangkan saat itu Kise menggunakan mantel berwarna kuning, dengan syal merah membelit lehernya. Sangat eye catching.
Akashi kesal, inginnya tadi ia langsung menarik lengan mungil itu, tapi tidak lucu juga kalau tiba-tiba ia muncul, pastinya akan menimbulkan keributan, dan ia tidak bersedia untuk dibenci sosok yang disukainya. Hanya saja ia merasa sedang dipecundangi.
'Kali ini aku tidak akan kalah, Tetsuya!' Pemuda crimson itu sangat tahu tempat dan waktu kuliah Kuroko. Layaknya seorang detektif handal, Akashi telah mengumpulkan semua informasi yang terkait dengan sosok biru kesayangan.
Langkahnya mantap melalui lobby perpustakaan. Ia berhenti ketika seseorang memanggilnya. "Akashicchi?" dibelakangnya Kise berdiri, pemuda itu membalikkan badan.
"Ryouta." Ujarnya datar.
"Nee…Akashicci sedang apa disini?" refleks ditariknya lengan sang mantan kapten, diajak duduk bersama di sofa. Pemuda bersurai merah itu tidak sempat menolak.
"Setahuku, Akashicchi tidak kuliah disini." suara Kise berbisik takut mengganggu para mahasiswa yang sedang belajar di dalam sana.
"Aku kuliah bisnis di Hamburg, sekalian mengurus perusahaan cabang di kota itu". Terpaksa Akashi mengikuti Kise, duduk bersisian.
"Aku kira Akashicchi kuliah pindah dari Todai ke sini, kuliah dengan Kurokocchi, ssu." masih dalam bisikan, Akashi hanya memutar bola matanya. 'Maunya sih begitu, biar aku bisa menjaga Tetsuya darimu.' batin Akashi.
"Sepertinya tidak ada yang tahu kalau Akashicchi kuliah di Jerman, setahuku dan yang lain kau kuliah di Jepang." celoteh Kise.
"Apa gunanya orang lain tahu?" jawabnya ketus.
"Eeh, setidaknya kita bisa berkirim kabar, Akashicchi!" rengut Kise. Perbincangan berlangsung tidak lama, karena Akashi segera sibuk dengan smartphone-nya yang hampir setiap menit berdenting. Berbagai informasi masuk ke perangkat canggih itu, nilai saham perusahaannya yang merangkak naik, dokumen yang harus di-approve, sampai tugas yang diberikan asisten dosennya untuk diselesaikan minggu depan, membuatnya sejenak melupakan mahluk kuning yang merasa sebal karena diabaikan.
"Kurokocchi lama!" sungutnya. Matanya beralih pada televisi 42 inci layar datar yang menampilkan suasana kampus Lund. 'Hmm pantas saja Kurokocchi ngotot ingin kuliah di sini.' semua yang masuk retina sang model adalah gambar-gambar yang sangat indah penuh estetika yang tinggi.
'Tapi kan gambar-gambar itu bisa diedit, jadinya bisa sebagus itu-ssu.' pikirnya lagi. Setidaknya Kise tahu pengambilan gambar yang menurutnya bagus, mengingat dia yang terbiasa dengan lensa kamera profesional.
Waktu yang dirasa menjemukan dan seakan beku akhirnya berlalu.
"Akashi-kun?" suara halus memecah kesunyian, yang dipanggil menoleh, bangkit, lalu memeluk sosok mungil yang selalu ia rindukan. Padahal Kuroko Tetsuya baru akan menyodorkan tangannya mengajak bersalaman pemuda yang baru saja bangkit dari sofa.
"Tetsuya, apakabar?" melepas pelukannya, tinggi mereka sepertinya tetap tidak jauh berbeda. Rubi menatap cerulean indah dengan intens.
"Aku baik, Akashi-kun." 'aku juga tahu Tetsuya.'
"Hmm…ano, apa kalian janjian di sini?" selidik Kuroko, lazuardi bening itu sedikit memicing. Sangat sedikit. Telunjuk kanannya menggaruk ringan pipi pucatnya.
"Tidak!" kompak surai kuning dan merah menjawab.
"Aku di Kopenhagen selama 5 hari ssu, ayo kita jalan-jalan, Kurokocchi." senyum sang model mengembang. Akashi sebal sekali melihatnya.
"Tapi aku 'kan harus kuliah, Kise-kun, tugasku banyak, barusan juga ada tugas yang harus aku kumpulkan hari Senin depan." jawab Kuroko datar.
"Bagaimana kalau Kise-kun dan Akashi-kun saja yang jalan-jalan di kota Lund ini." usulnya, tapi langsung dihadiahi tatapan horor Akashi.
"Tidak mau ssu, aku mau sama Kurokocchi saja." rengek Kise, lengan panjangnya hendak memeluk tubuh mungil, namun tatapan tajam sepasang rubi mematikan menyorotnya.
"Aku juga tidak sudi jalan denganmu." suara rendah Akashi menakutkan, tubuh Kise mengerut. Tangannya bergetar, langsung disembunyikan pada saku coat panjang.
"Kurokocchi, ayo kita makan siang, aku sudah lapar ssu." bisik Kise.
"Eeh iya, kita makan siang dulu, hmm tapi dimana ya?" Kuroko menggaruk tengkuknya. Kafe yang berada di lantai dasar Bibliotek atau perpustakaan pasti berjubel di jam istirahat seperti ini
"Café St. Jakobs Stenugnsbageri di Klostergatan street?" sebuah usul diajukan Akashi.
"Eeh, Akashi-kun tahu tempat itu? Apa kau sering kemari?" kepala bersurai biru sedikit miring menatap iris rubi di depannya.
"Aku hanya gugling barusan, Tetsuya." balasnya setengah berbohong. 'tentu saja aku tahu, semua tempat yang ada di sini sudah aku sambangi.' Bahkan lorong-lorong sempit di setiap sudut kota kecil ini Akashi sudah tahu, demi keamanan sosok kesayangan.
"Iya, café itu tidak jauh dari sini." Kuroko setuju. Mereka hanya perlu berjalan selama 15 menit untuk sampai ke café itu, menyusuri jalanan berbatu dengan motif lengkung. Di samping kiri tampak taman sepi dengan satu ring basket, jaring yang sudah sedikit koyak, warna putih papannya sudah mengelupas disana sini, tampaknya sudah jarang digunakan.
"Kurokocchi, apa masih suka main basket ssu?" tanya Kise memecah kesunyian diantara mereka, wajahnya masih menatap ring tua itu. Kuroko hanya menggelengkan kepala.
.
Past
Kuroko Tetsuya berjalan di sisi lapangan basket yang sedari tadi digunakan untuk berlatih, mengingat beberapa hari ke depan akan ada pertandingan tandang ke high school yang tim basketnya kuat, sebagai latihan untuk kejuaraan nasional pada summer cup mendatang.
Beruntung ia tidak dihukum sang kapten karena kemarin membolos latihan. Walaupun jelas-jelas pada kolom kehadiran anggotanya Akashi menyilang kehadiran sang bayangan, untuk anggota lain jelas Akashi akan memperhitungkannya dengan hukuman berat, seperti mendouble atau triple latihan.
Namun tidak dengan Kuroko, sebenarnya hampir semua anggota timnya ingin memprotes ketidakadilan ini. Akashi hanya memberikan alasan bahwa Tetsuya tidak sehat. Hal ini juga dikuatkan oleh Kise yang menyebutkan kepala Kurokocchi sakit karena terbentur sesuatu sehingga pening dan tidak bisa ikut latihan.
Alasan menyebalkan untuk Akashi, untuk apa Ryouta ikut membela Tetsuya, cukup dirinya saja yang berhak atas sosok bayangan.
Saat Kuroko melintasi bench, beberapa anggota first string masih duduk di sana, mata rubi meliriknya, saat bibirnya hendak memanggilnya…
"Kurokocchi, apa akan ganti baju sekarang ssu?" pemuda bersurai pirang itu seketika bangkit, menyejajarkan langkah dengan sosok mungil yang tubuhnya basah karena berkeringat.
"Ha'i, Kise-kun juga sudah selesai kah?" wajahnya datar ditolehkan ke samping, sedikit mendongak. Kise dengan senyum secerah matahari, mengangguk. Ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, walaupun sedikit lepek karena keringat.
Sementara di bench, Aomine Daiki menangkap tatapan tidak suka dari kaptennya pada dua sahabatnya. Juga sepasang netra almond yang sejak tadi menatap kaptennya, ia menghela nafas, saat rubi itu terus saja mengawasi tubuh mungil yang berhenti di depan mereka karena panggilan Kise Ryouta.
"Ooi Kise, kita belum selesai diskusinya, kembali kemari!" ia berusaha memanggil pemain copy cat, yang sebelumnya sedang membicarakan strategi dengan sang ace, juga pemain three point shooter andalan tim basket itu.
Kise sontak menoleh, begitu juga Kuroko. Langkah yang baru saja akan diayun mendadak mereka hentikan. Wajah tampan sang model remaja mengerut.
"Eeh, bukankah barusan Akashicchi sudah setuju dengan strateginya?" pemuda itu kembali menggaruk belakang kepalan. Ia tidak mengerti kalau Aomine hanya ingin menyelamatkan situasi, terutama kondisi mood sang kapten. Ia tidak mau kejadian kemarin terulang lagi.
"Kise-kun, kembalilah sepertinya diskusinya belum selesai." Suara lembut itu seolah memerintahkan pemuda disampingnya untuk kembali ke bench.
"Tap…tapi…siapa yang akan menemani Kurokocchi ganti pakaian ssu?" mata madunya menunjukkan kekhawatiran. Yang tentu saja sangat berlebihan menurut semua anggota tim Akashi.
Seulas senyum manis tertoreh di wajah rupawan, membuat iris madu membulat, "tidak apa Kise-kun, jangan khawatir." Tanpa melepas senyumnya Kuroko melanjutkan langkahnya. Sepasang netra memicing tidak suka dengan interaksi itu, sebelah tangannya mengepal.
"Kurokocchi…" Kise masih terpana dengan senyum tipis manis itu. Tiba-tiba sebuah bola keras menimpa belakang kepalanya, hampir saja ia terjerembab.
"Ittaii…Aominecchi, hidoi ssu," rengeknya mendekat ke arah bench. Aura masih kelam, Akashi menatapnya dengan dingin. Namun Kise tidak peka, ia dudukan dirinya di sebelah Aomine. Bibirnya mengerucut, tapi matanya tak lepas dari punggung mungil yang makin menjauh.
"Jangan lakukan lagi, Aominecchi, aku tak mau otakku bergeser, nanti aku jadi bodoh!" ucapan berlebihan itu hanya ditanggapi dengan dengusan dari beberapa orang yang tengah duduk berhadapan.
"Akashicchi, apa Kurokocchi tidak diajak diskusi tentang ini?" Kise bingung karena sang bayangan tidak dilibatkan.
"Kurochin, hanya mem-passing, tidak terlalu penting dengan strategi ini," ujar Murasakibara yang anteng dengan camilannya.
Mata rubi merotasi, sebenarnya sang kapten tidak setuju dengan pendapat Murasakibara, tapi membiarkannya. Ia juga tidak ingin membebani Tetsuya, biar dirinya dan anggota tim yang lain saja yang meng-handle pertandingan ini. Mereka tidak menyadari hal ini menyinggung harga diri seorang Kuroko Tetsuya. Apalagi di sana ada beberapa anggota baru.
.
Sebuah surat dengan tulisan tangan yang rapi masih digenggamnya, ia tidak tahu harus berbuat apa ketika isi surat bertulisan tangan Tetsuya sampai ditangannya.
"Kenapa kau mengundurkan diri, dalam suratmu tidak ada alasan apapun." suatu sore Akashi sengaja menemuinya.
"Tidak ada, Akashi-kun, hanya saja aku sudah banyak ketinggalan pelajaran, kita sudah kelas 12, sebentar lagi ujian." manik lazuardi menatap sekilas rubi di depannya.
"Kau bisa keluar setelah pertandingan nasional yang terakhir, dan waktunya tinggal sebentar lagi." sahut Akashi sambil menggenggam amplop berwarna putih hanya gelengan yang diterima.
"Tetsuya, kami membutuhkanmu. Tidak, aku sangat membutuhkanmu!" mata Akashi menajam, yang ditatap hanya menunduk, tersenyum.
"Tidak Akashi-kun, tanpaku pun semua pasti akan lancar, dan tim sekolah ini pasti menang, seperti biasa," pelan dan sangat tenang. Masih banyak pemain bagus saat ini, dan mereka sudah sangat berkembang tanpa harus ada passing yang biasa Kuroko lakukan pada para pemain inti.
Kuroko tengah memasukan buku-bukunya ke dalam tas, ketika ia mendengar langkah terburu-buru, lalu sebuah pelukan mendekap tubuh mungilnya.
"Kurokocchi, hidoi ssu!" air matanya berlinangan, "Jangan berhenti ssu, aku tidak mau bermain kalau tidak ada Kurokocchi, aku juga akan berhenti!" lama sekali Kuroko menenangkan sosok tinggi itu, lalu beberapa derap langkah terdengar. Semuanya merubung tubuh yang masih ada dalam pelukan Kise, pemuda itu tidak sedikit pun melepaskannya.
"Aku pasti mendukung kalian, tapi ijinkan aku berhenti bermain di lapangan." ucap Kuroko lirih. Semua menatapnya, ingin mengucapkan sesuatu, tapi Kuroko menggeleng. Untuknya semua sudah selesai. Ia juga tidak mau terlibat lebih jauh dengan sang kapten. Apalagi ada seseorang di sana, yang tidak menghendaki keberadaannya.
.
Ada kemarahan tercetak pada manik rubi, tapi pemuda mungil itu mencoba untuk tidak peduli, bangkit dari duduknya, membuat suara deritan bangku yang terseret ke belakang menjadi pertanda sosok itu akan meninggalkan tempatnya. Kuroko beranjak, namun baru saja tungkai ramping itu akan melangkah, lengannya sudah dicekal.
"Tetsuya, jangan hindari aku lagi!" kepala bersurai biru memutar 90 derajat, menatap paras tampan disampingnya.
"Aku tidak menghindarimu Akashi-kun, tolong lepaskan lenganku!" pintanya, tangan kecilnya melepaskan pegangan kuat Akashi, lalu melangkah meninggalkan kelas yang telah kosong, teman-temannya sudah sedari tadi meninggalkannya atas perintah sosok itu tentu saja, yang masih tegak di depan meja Kuroko.
"Aarggh…" surai merah cerah itu diremat, andai saja akar-akar itu tidak kuat tertanam pada kulit kepala, tentu akan tercerabut dalam rematan kuat barusan.
"Tetsuya, sampai kapan akan terus begini?" teriaknya kesal.
Yang dipanggil hanya menghentikan langkahnya sejenak, menggeleng-gelengkan kepala, seolah membuang keluar benda-benda yang mengotori kepalanya. Namun ia tidak dapat melupakan satu hal yang seolah berkerak di kepala, saat orang itu mengatakan sesuatu. Sesuatu yang harus membatasi gerak dirinya.
Hari itu, saat Kuroko sedang duduk sendiri di bangku, malas untuk keluar kelas karena udara yang menyengat. Ia meletakkan pipi kanannya di atas meja, sedangkan matanya menatapi awan putih di atas sana.
"A ano…K kuroko… sepertinya aku menyukai Akashi..." suara lirih itu sampai di gendang telinga Kuroko, perlahan ia angkat kepala bersurai biru, alisnya terangkat sebelah. Sebuah konfesi yang seharusnya langsung ditujukan pada orang itu, bukan padanya. Wajah manis di depan Kuroko memerah, lalu menunduk, meremas ujung seragamnya.
"Begitukah?" surai coklat bergoyang maju mundur, tanda mengangguk. Mata coklat menyiratkan sesuatu yang sulit untuk diartikan, tetapi Kuroko mengerti. Sangat mengerti. Ia harus menyingkir demi sang teman.
.
.
tbc
.
.
Note
Dear readers,
Saya coba melanjutkan cerita ini, terimakasih sudah meluangkan waktu membacanya, terutama untuk yang sudah mengklik favorit, follow, dan review :
AkaKuro-nanodayo, Kizhuo, Vanilla Parfait, drunkenfish, miichan maru, vintana, , KakaknyaKuroko Tetsuya, nasyhiinasy, Stry, flowercrwon07, lixyana, moveengcastle, killua san, Seira, Guest, , juga Ev.
benar-benar mood boaster buat saya menulis… ;D/
Mudah-mudahan readerds nggak puas, masih penasaran, karena masih ada lanjutannya… XD
Luv you all
Mel
