Disclaimer: Assassination Classroom by Yuusei Matsui
Warning: AU, BL, typo, bahasa gaul, OOC. Don't Like, Don't Read! ;)
Summary: [KaruNagi] O em ji, dipuji Nagisa-kun. Calon istri yang baik katanya. Aku bisa jadi calon istri buat kamu dong, iya kan Nagisa-kun?!
Note:
1] mereka naq sma kelas 2-E, gedung kelas E nggak terpencil dan dikucilkan.
2] AU yapz—jadi Koro-sensei ga perlu dibasmi, dicintai aja.
XoXo-XoXo-XoXo
Uncharted Waters © Kiriya Diciannove
XoXo-XoXo-XoXo
Jam olahraga.
"Kyaaa! Karma-senpai! Fighting!"
"Ganbatte!"
"Kyaaa! Masukkan bolanya!"
"Kyaaa! Tolong masukin aku ke hati kamu, Isogai-kun!"
"Ikemen-kun!"
"Maehara-senpai!"
"Notice me senpai!"
Naasnya, ternyata banyak adik kelas yang tidak tahu betapa evil-nya karakteristik Karma. Mereka rela keluar kelas dengan alasan izin ke toilet hanya untuk melihat cogan kelas 2-E macam Karma dan player seperti Maehara. Kalau Isogai sih memang pantas dipuji yha.
Nagisa meminum minuman isotonik merk baru yang dibelikan Sugino untuknya sambil memperhatikan teman-teman bermain basket itu. Dia duduk di kursi panjang setelah pemanasan berlari keliling lapangan dengan teman-teman lain yang tidak ikut bermain basket, karena tim basket gak perlu banyak-banyak orangnya. Ntar dikirain persiapan buat tawuran dengan sekolah sebelah, SMA Teikou. Bisa kalah pamor. Disana kan lebih penuh ikemen gagah merangkap husbando idaman.
Bola basket itu sukses memasuki ring. Karma tampak tersenyum sombong. Sempat terbesit di pikiran Nagisa kalau lelaki pencinta wasabi itu memang cool dan hebat dalam olahraga.
"Cool dan hebat dalam olahraga."
Heh?
Remaja berambut baby blue itu langsung menoleh pada Sugino. Sejak kapan Sugino bisa membaca pikirannya?! Oh, no—
"Itu kata-kata yang langsung terpikir olehku kalau melihat Karma main basket. Dia sekeren itu ya. Walaupun kadang keliatan juga bejatnya," Sugino memperhatikan permainan basket dengan kalem.
Nagisa tertawa hambar, "Haha… aku juga berpikir demikian."
Hampir saja si remaja angelic itu berpikir kalau Sugino sedang belajar santet dari Hazama, hingga punya kemampuan membaca pikiran orang.
Iya, santet gak ada hubungannya dengan membaca pikiran. Lagian siapa yang bilang Kirara bisa main santet, Nagisa-kun?
"Kyaaa!" seorang gadis berteriak ketika bola basket yang dilempar menuju ring malah mengarah padanya. Gadis itu menutup matanya rapat-rapat—pasrah akan dicium mesra bola basket. Lagian tadi bolanya sempat dipegang Isogai. Lumayan, bersentuhan secara tidak langsung.
Hup!
Dengan sukses Karma menangkap bolanya. Membuat para adik kelas makin terpesona.
"A—anu, terima kasih, Karma-senpai."
"Heh, kouhai-chan, jangan berada terlalu dekat sini, bahaya kalau wajah manis ini jadi merah-biru. Yaah, walaupun aku suka merah sih."
Dia bicara dengan nada santai sambil memutar bola basket ditangannya.
Dan para adik kelas bergender cewek itupun pada blushing.
"I—iya, maafkan aku, s—senpai!"
Geh. Tipikal cerita manga shoujo mainstream.
Sayangnya, para kouhai-chan tidak mengetahui fakta kalau lelaki yang mereka anggap sebagai cowok idaman ala pangeran itu sebenarnya adalah perpaduan greget antara iblis dan setan. Tapi, meskipun mereka tahu, sepertinya tidak masalah sih, toh yang beneran iblis aja banyak yang ngefans. Itu lho, Mas Sebastian dari fandom pelayan hitam. Padahal mas ganteng itu udah taken kontrak secara eklusif dan tipe yang setia, masih aja, ada yang pedekate. Contohnya sosok shinigami laki (atau cewek?) yang surainya merah kayak Karma, tapi doyan megang gergaji. Btw, nasib Agni gimana, astagaaa…! (triggered)
Pandangan Nagisa masih tertuju ke lapangan, karena ngitungin daun di pohon gak penting.
"Para cewek demen cowok yang seperti itu ya," gumam Nagisa kemudian.
"Badboy adalah tipe cowok yang sekarang banyak digandrungi perempuan lho, Nagisa," Nakamura muncul sambil berkacak pinggang, gadis berbaju olahraga itu kemudian menadahkan tangan kanannya, meminta minuman milik Nagisa. Nagisa menyerahkan dengan ikhlas. Nagisa adalah orang yang baik.
"Dan para cowok jealous dengan cowok seperti itu," tambah Sugino sambil menunjuk rekan satu tim Karma.
"Wooiii Karma, jangan pamer mulu!"
"Cepetan bawa bolanya!"
"Karma, mati aja kamu sana!" suara Terasaka terdengar paling jelas.
Bola basket melesat ke arah Terasaka. Hampir mengenai kepala lelaki itu, kalau saja tadi Itona tidak mentakle kaki Terasaka untuk menyelamatkannya. Oke, wajah selamat, tapi kaki nyut-nyutan. Itona kecil unyu gitu pejantan tangguh juga ternyata. Ada rumor yang mengatakan kalau Itona lebih kuat dari pada Karma.
"Maaf ya, Terasaka-kun, sepertinya lemparanku tidak sengaja mengarah padamu. Tadinya aku ingin melempar ke ring."
"Karma! Sini berantem sama gue!" Terasaka hampir kalap, "Lo gak lihat jarak ring sama gue segimana?!"
Syukurnya ada Muramatsu dan Kimura yang menahannya. Karma hanya memeletkan lidahnya. Sepertinya Nagisa semakin melihat dengan jelas tanduk imajiner di kepala Karma.
Botol dikembalikan pada Nagisa oleh sang gadis blonde, "Ah, tapi kamu gak cocok jadi badboy seperti Karma, Nagisa. Kamu cocoknya jadi anak yang manis. Sini, aku kepangin rambut kamu!" ujar Nakamura bersemangat.
Sepertinya di atas kepala Rio Nakamura pun mulai menampakkan tanduk imajiner.
Nagisa sweatdrop, botol yang masih terisi setengah kembali di tegak olehnya sebelum membalas ucapan si blonde, "Gak, makasih deh Nakamura-san."
"Atau mau pakai rok? Sekarang trap lagi populer juga!"
"Aku gak hobby crossdress, Nakamura-san…"
Karma berjalan ke arah mereka bertiga, "Haus," sejurus kemudian botol minuman Nagisa beralih tangan hingga isinya tersisa separuh, "Thanks, Nagisa."
Detik berikutnya botol kembali berada di genggaman pemuda bersurai baby blue. Menyisakan hening beberapa saat sebelum terdengar perdebatan antara si blonde dan si jago merah.
"Sugino-kun, sepertinya teman-teman kita suka dengan minuman merk baru yang kau belikan ini," ujar Nagisa sambil memperhatikan Rio yang saling serang kata-kata laknat pantas disensor dengan Karma. "Padahal kayaknya rasanya biasa aja deh."
Sugino melirik Nagisa yang kembali minum dari botol itu.
Nagisa mendapati arah pandangan sang sobat, "Kamu mau coba, Sugino-kun?"
Penggemar permainan baseball itu menatap Nagisa ragu, "Um… boleh?"
Nagisa mengangguk dan menyerahkan botol pada sang pencinta bola kasti.
"…sepertinya bukan tentang minumannya deh," Sugino berucap pelan. Minuman itu rasanya hambar, tipikal rasa air putih botolan yang bersumber dari pegunungan pada umumnya semacam aqoa.
Sekarang Sugino mengerti, Karma tampaknya tidak mau kalah pada Nakamura soal indirect kiss dengan Nagisa.
Sugino tercekat.
Kebetulan dia juga dapat indirect kiss dengan Nagisa.
XoXo-XoXo-XoXo
"Nagisa-kun, air minum kamu masih ada? Boleh minta?" Kayano mencoba peruntungan dengan nada sungkan. Terselip modus dalam hatinya begitu melihat botol minuman di tangan sang teman sekelas.
Sang pemilik netra biru menatap botolnya, "Oh, masih ada kok, tapi sisa sedikit sih, tidak apa-apa?"
"Iya—"
Sugino terkesiap, tahu dengan jelas modus Kayano. Tampaknya gadis bersurai hijau itu tidak tahu yang terakhir minum dari botol itu bukan Nagisa melainkan dirinya—Sugino Tomohito. Dengan sigap dia merebut botol yang dipegang Nagisa.
"A—aku masih haus!"
"Eh—"
Dia meminumnya segera hingga tandas. Hanya menyisakan botol yang kosong tanpa bersisa satu tetespun air.
Kayano menatap Sugino nanar.
Jadi kamu mengincar indirect kiss dengan Nagisa-kun juga? Bukannya kamu suka Kanzaki? Apa kamu sekarang belok pada Nagisa-kun?!
Kenapa kamu tega sekali melakukan hal ini padaku, Sugino-kun? Kenapaaa?!
XoXo-XoXo-XoXo
Kelas home economics.
"Anak-anak cewek di kelas kita pada pandai masak ya," Maehara berucap sambil makan cookies yang dia dapat dari anak perempuan yang duduk di depan kursinya. Semua murid perempuan membagikan kue buatan mereka pada teman-teman sekelasnya. Sehingga iri hati dan dengki tidak memenuhi hati para jones di kelas. Bahkan Takebayashi juga dapat, dari Ritsu.
Koro-sensei juga mendapatkan banyak, tapi sayangnya beberapa sudah diracun pakai sianida.
"Cowoknya juga kok, tuh Isogai juga pandai, benar-benar ikemen sejati," Nagisa menunjuk Isogai yang sedang memegang kantung kresek hitam.
Pemuda ikemen itu tersenyum pada pemilik surai biru.
"…apaan tuh, Isogai-kun?" Nagisa menatap penasaran benda yang dipegang.
Isogai tersenyum tipis, "Eh, ini cookies. Aku bawa pulang, untuk adik-adikku."
Ya ampun Isogai-kun. Sungguh kakak yang begitu mulia.
Nagisa terharu, berniat memberikan kue buatannya, "K—kalau mau, kau boleh ambil punya—"
"Nagisa jangan khilaf. Cookies buatan kelompok kita kan gagal!" Sugino menahan tangan Nagisa. "Nanti Isogai keracunan."
"O—oh, benar. Maaf Isogai-kun, buatanku gagal, tidak bisa diberikan kepadamu, meskipun aku pengen, pada udah sepenuh hati lho," Nagisa memainkan jari-jarinya.
Isogai menepuk bahu Nagisa, "Tidak apa-apa, tapi terima kasih sudah berniat baik. Oh ya, nanti kalau mau membuat cookies, kau bisa minta bantuanku, Nagisa."
"Wah, tentu saja Isogai-kun!"
Gimana kalau kamu aja yang bikinin aku makan tiap hari Isogai-kun? B—bukan sebagai pembantu, tetapi pasangan hidup yang saling melengkapi.
Itu cuma ungkapan delusi author. Maaf.
"Pasti akan menyenangkan kalau bisa masak bareng sama pacar sendiri," sahut Kayano sambil memakan cookies buatannya sendiri. "Nagisa-kun, coba deh. Enak tidak?"
Nagisa mencomot cookies yang ditawarkan Kayano, "Enak kok, Kayano-chan. Sepertinya kamu berbakat membuat kue. Gak kayak kami." Lelaki androgini itu melirik kue buatannya yang fail karena dia salah membedakan garam dan gula. Juga gosong.
"Kamu pasti bisa jadi calon istri yang baik."
"E—eh, gitu ya?" Kayano blushing.
Dia memegang kedua pipinya.
O em ji, dipuji Nagisa-kun. Calon istri yang baik katanya. Aku bisa jadi calon istri buat kamu dong, iya kan Nagisa-kun?!
"B—bagaimana rasanya Karma-kun?"
Karma mengangguk, "Lumayan," ujarnya pada beberapa cewek yang menggerubunginya. Beberapa jenis kue sudah memasuki perut Karma, mulai dari yang lumayan enak, enak banget, asin, sampai pedas. Karma cukup penasaran komposisi kue yang pedas itu bikinnya pakai cabe atau pakai cinta. Kalau cabe, Karma ingin tahu, jenis cabe apakah yang digunakan.
"Haahh, padahal kurasa aku lebih keren daripada Karma. Setan macam dia kok banyak yang naksir sih?" Maehara mencomot cookies milik Kayano, karena bagiannya yang didapatnya dari para perempuan sudah habis. Serakah memang.
"Ah… aku juga merasa cemburu…" ujar Nagisa.
Tepat saat Nagisa selesai berucap seperti itu, Karma menoleh ke arahnya dan tersenyum tipis.
Eh? Apa dia mendengar ucapan Nagisa?
Apa Nagisa mengucapkannya dengan terlalu keras?
Cemburu yang dimaksud Nagisa bukan yang seperti itu kok. Jangan salah paham ya!
XoXo-XoXo-XoXo
Jam pelajaran Matematika.
"Kita sekelompok lho, Nagisa," ucap Karma dihadapan Nagisa dengan wajah santainya.
Nagisa yang memasukkan bukunya ke dalam tas mendongak pada Karma, menanggapinya dengan senyum ramah.
"Aku tahu, kita kerjakan besok saja bagaimana? Soalnya hari ini ibuku pulang cepat."
"Aku sih nggak masalah, tugas ini mau dikerjain kapan. Lagipula soalnya gampang."
Nagisa tertawa hampa seraya berucap pelan, "Masa iya gampang?"
"Ya gampang menurutku."
"Ngerjainnya nanti dimana, Karma-kun? Di rumah atau perpustakaan?"
"Perpustakaan boleh deh."
"Aaahhh! Aku sangat berharap bisa berpasangan dengan Yuuma padahaaal!" ucap Maehara dengan nada tidak terima. Dia sekelompok dengan Okajima.
Isogai hanya menyahut dengan senyum, "Maaf ya, Hiroto, mungkin lain kali, saat ini takdir berkata lain."
"Kalian sudah jelas tidak ditakdirkan, Isogai lebih pantas disandingkan dengan Asano," ujar Fuwa berapi-api.
Heh. Isogai dan Maehara sweatdrop.
"Asano mana yang kamu maksud—"
"Yang manapun oke, baik itu yang (sr) atau (jr)!" Fuwa menyahut mantap.
Wut—
"Loh, jadi AsaIso ya? Terus aku ntar sama siapa?" Maehara menunjuk dirinya sendiri.
Fuwa hanya menghadiahinya dengan tepukan simpati di bahu.
"Anjay Fuwa, jangan bikin cerita percintaanku terkesan mengenaskan gitu dong!"
Mendengar percakapan itu, Okano dari kejauhan memainkan jemari tangannya dengan malu-malu.
"Coba bandingkan dirimu dengan Asano," Fuwa melanjutkan.
Maehara menatap langit-langit ruangan kelas lalu menghela napas. "Takdir memang kejam. Semoga next time kita berjodoh, Yuuma."
Isogai makin sweatdrop. Bisa-bisanya Maehara ngikut sesat begitu omongannya.
"Eh Mae, kamu sebenarnya males ngerjain tugas kan? Makanya pengen sekelompok dengan Isogai," Nakamura berujar pada Maehara.
Pemuda itu menanggapinya dengan cengiran dan pose peace.
"Jangan bahas takdir dan jodoh, berat itu." Takebayashi berucap dengan nada serius.
"Waa~ beruntungnya bisa berpasangan dengan Karma-kun…" –cewek normal 1-
"Pasti bisa dapat nilai A." –cewek normal 2-
"Senangnya bisa sekelompok dengan Karma-kun…" –cewek 2 sekelas, fans Karma-
"Unyu dan ganteng, mereka cocok." –cewek fujo 1-
"Lihat betapa dekatnya mereka… kyaaa!" –cewek fujo 2-
"Sial, aku juga pengen sekelompok Nagisa!" –teman sekelas cowok random-
Cowok random, kok kamu kepengen sekelompok dengan Nagisa—
XoXo-XoXo-XoXo
Perpustakaan.
"Buku ini?"
Nagisa menoleh ke belakangnya begitu melihat seseorang mengambilkannya sebuah buku yang tadi ingin diraihnya dengan cara berjingkit. Faktanya adalah hal yang sangat jelas kalau dia gak tinggi-tinggi amat. Dan sangat kebetulan sekali bukunya berada di rak paling atas. Tentu, hanya kebetulan.
Oh. Karma toh yang ngambilin.
Kampret. Ini seperti moment mainstream di manga. Tapi harusnya tokoh heroine cewek sama pangeran tampan sekolah. Bukannya sama-sama cowok kayak begini.
"Oh, terima kasih Karma-kun."
Tumben banget Karma baik hati. Serius. Biasanya malah meletakkan bukunya ke tempat yang lebih tinggi.
"Kembali," Karma mengambil kembali buku di rak yang sama dan membawanya berlalu sambil duduk di kursi perpustakaan yang kosong. Duduknya sih biasa aja seperti orang normal lainnya, memegang buku sambil membacanya ditambah background dedaunan pohon momiji yang bergoyang karena tiupan angin di luar jendela perpustakaan. Tapi entah kenapa terlihat begitu kece seperti sedang ada scene pemotretan iklan sambal cabe botolan.
Sejenak Nagisa tertegun. Beberapa saat Karma benar-benar terlihat keren seperti tokoh-tokoh utama di dorama yang sering ditonton nyokapnya. Entah ini pengaruh angin atau memang Nagisa baru sadar kalau Karma itu cakep banget waktu sedang serius membaca buku.
Nagisa tersenyum kecil, "Apa itu? Ternyata dia bisa belajar dengan serius juga. Tumben gak bolos seperti biasanya."
Nagisa berjalan ke arah meja tempat Karma berada, duduk di kursi perpustakaan yang berseberangan dengan Karma. Bukan modus, tapi karena memang tempat itu dekat dan strategis. Dia mengerjakan tugasnya dan menyalin materi yang ada dibuku.
Sesekali lirikan mengarah pada sosok yang duduk di kursi seberang.
Suasana perpustakaan sangat tenang, tapi debaran jantung tidak setenang biasanya.
Jantung siapa, yang berdetak secepat ini?
Yha. Itu suara detak jantung anak-anak klub olahraga yang sedang lari tiga kali putaran di lapangan.
なんちゃって~ ~
(nanchatte~ ~)
XoXo-XoXo-XoXo
[tbc]
XoXo-XoXo-XoXo
a/n: this is Karunagi ff desu, ntar nyempil Asaiso kayaknya—
berchapter, paling nggak sampe Asano x Isogai nikah [?]
Yang nanyain watttpad, aku pernah bikin tapi terlalu kudet untuk memakai wattpad :"
Thanks buat yang udah baca n review: Wako P, Daisy Uchiha, BlackCrows1001, Guest, yuuna, ParkYuu, Nanaho Haruka, orihimehimari, AkaKuro-nanodayo, aon, Kiara Fra, kiupi alfi, yang folfav juga. ^^
Kalteng, 01/05/2017
-Kirea-
Mind to review? :)
