Pretty Please, Granger

by GwendyMary

Disclaimer - Seluruhnya di fic ini milik J.K Rowling, kecuali jalan cerita yang mana milik saya sendiri

Dipersembahkan untuk , aifebry, allxra, HapherGxx, Ranchanjr, Ra, usherone, Mikazuki Ryuuko, Guest, MiOS, babykyusung, to.a99, Deauliaas, SHEVANNY DISPATCH, Guest, dan Guest

Hope you like it!


Dedicated to the readers,

I believe

you can handle whatever life throws at you

.

.

.

"Hearts like ours,

are not designed to beat

separate for long,

.

.

They have never been made

that way."

-Tyler Knott Gregson

.

.

.

8 Juli, 2013

Sepasang kaki mungil tampak berlari-lari di lorong rumah yang tampak kosong itu, menciptakan suara menggema yang nyata. Bola mata abu-abu milik empunya kaki mungil itu berkilat jenaka, menoleh ke kanan ke kiri, sebelum akhirnya mendorong sebuah pintu kayu oak di hadapannya dengan sekuat tenaga. Ia mengintip, memastikan bahwa ruangan itu kosong lalu mulai masuk dan kembali mendorong kembali pintu kayu di belakangnya untuk menutupnya.

Sebuah suara 'pop' yang tiba-tiba muncul di sampingnya membuat tubuh mungilnya terlonjak kaget.

"Anda harus tidur siang sekarang, Sir. Ini sudah pukul 2 siang." kata peri rumah yang tingginya hanya beberapa senti lebih rendah dari bocah yang baru saja dipanggil 'tuan muda' tersebut.

Scorpius Malfoy memajukan bibirnya, tanda bahwa ia merajuk. Ia berkacak pinggang, menatap Poppy—peri-rumah miliknya—dengan tatapan jengkel.

"Aku tidak mau tidur siang, Poppy. Aku kan sudah besar! Umurku 7 tahun."

Seketika peri-rumah itu salah tingkah. Di satu sisi, ia harus menuruti kemauan tuannya—yang mana adalah ayah dari Scorpius sendiri yaitu Draco Malfoy. Namun di sisi lain, ia pun tidak bisa tidak menuruti kemauan tuan mudanya. Kedua bola mata milik Poppy yang besar dan berair melihat ke kanan ke kiri, tampak gugup.

"T...Tapi..."

Akan tetapi, belum sempat peri-rumah yang malang itu menyelesaikan kalimatnya, kaki-kaki kecil Scorpius telah membawa laki-laki mungil itu lebih jauh ke dalam perpustakaan milik keluarganya. Putra semata wayang keluarga Malfoy yang menyukai kegiatan membaca—selain Quidditch tentunya, siapa yang bisa tidak menyukai Quidditch?—itu menatap penuh takjub rak-rak buku di sekitarnya yang tampak menjulang.

Tiba-tiba saja ia tidak mengingat lagi akan kemungkinan bahwa ayahnya akan pulang lebih cepat dari pekerjaannya dan memergoki dirinya yang melewatkan tidur siang dengan sengaja. Secara asal, ia berjongkok ke salah satu rak buku yang terdekat. Bola matanya berbinar-binar melihat deretan buku-buku yang warna sampulnya beragam mulai dari merah maroon, hijau kebiruan, sampai kuning keemasan. Semua sampul buku-buku itu terlihat cerah sampai matanya menangkap sebuah buku yang tampaknya lebih besar dibanding buku-buku lainnya dan bersampul hitam—amat mencolok diantara buku-buku berwarna lainnya.

Dengan seluruh kekuatan yang dimiliki oleh seorang anak berumur 7 tahun, Scorpius berusaha menarik buku itu dari jepitan buku-buku lainnya. Sayangnya, melihat begitu rapatnya jarak antar tiap buku membuat usahanya sia-sia. Tatapannya memelas, mengarah ke arah Poppy yang kini berdiri di belakangnya—jelas mengikutinya untuk memastikan bahwa tuan mudanya itu baik-baik saja. Peri-rumah itu terlihat kikuk sesaat, tampak masih mengutuk diri sendiri karena telah melawan kehendak tuannya yang menginginkan jatah tidur siang milik Scorpius selalu terlaksana dengan baik. Namun bola mata milik tuan mudanya yang mulai berair membuatnya dengan sigap langsung menarik buku hitam tersebut. Buru-buru diberikannya buku itu kepada tuan mudanya yang kini tersenyum manis.

"Terimakasih, Poppy. Kau memang yang terbaik." katanya, sembari menunjukkan deretan gigi-gigi susunya yang rapih untuk ukuran anak-anak seumurnya.

Setelah meletakkan buku itu di lantai, Scorpius pun mendudukan dirinya sendiri. "Temani aku, Poppy. Please?" ucapnya, yang tentu saja langsung dipatuhi Poppy dengan mendudukan dirinya di samping putra pewaris kekayaan keluarga Malfoy satu-satunya itu.

Mata bulat Scorpius berusaha mencermati setiap senti dari buku hitam besar tersebut. Di tengah-tengahnya, terdapat sebuah simbol perisai yang terlihat dibagi menjadi 4 bagian. Pada bagian pojok kiri atas, terdapat seekor singa dengan latar belakang merah di belakangnya. Tepat di sampingnya, seekor ular dengan latar belakang hijau. Di bawah ular tersebut terdapat seekor gagak dengan latar belakang biru. Dan yang paling terakhir adalah seekor badger dengan background kuning.

"Ini buku apa ya?" tanyanya, lebih kepada dirinya sendiri.

"Itu lambang Hogwarts, Sir. Salah satu sekolah sihir paling terkenal di dunia. Saudara Poppy, Chipper, bekerja disana." jawab Poppy dengan senyuman penuh bangga.

"Apakah disana ramai?"

"Hogwarts tidak pernah sepi, Sir. Lorong-lorongnya selalu penuh dengan suara murid-muridnya dan meja makan mereka selalu terisi dengan makanan-makanan yang berlimpah."

Scorpius tertegun, kembali menatap buku yang ada di hadapannya lalu berkata, "Kedengarannya menyenangkan sekali... punya teman dan makan bersama..."

Melihat mood tuan kecilnya yang mendadak berubah menjadi sendu, Poppy bergerak-gerak kikuk. Ia berkali-kali menyatukan lalu melepaskan kedua jari telunjuknya—sesuatu yang selalu ia lakukan ketika ia tengah bingung menghadapi sebuah situasi. Meskipun ia seorang peri-rumah, ia pun tahu bahwa tuan kecilnya itu sangat ingin memiliki teman sebayanya.

"O-oh! Anda pasti a...akan bersekolah disana, Sir. Seluruh anggota keluarga Malfoy bersekolah disana."

"Benarkah?"

Poppy mengangguk-angguk, kelewat antusias melihat harapan dapat mengembalikan mood tuan kecilnya seperti semula. "Ada baiknya kalau Anda melihat-lihat buku itu dulu, Sir, untuk mengetahui tentang Hogwarts."

Bola mata Scorpius berkilat jenaka, tampak setuju dan sama antusiasnya dengan Poppy—meski bukan karena alasan yang sama.

"Ide bagus, Poppy!" katanya, lalu mulai berusaha membuka-buka buku tersebut.

Setelah dengan susah payah membuka cover buku tersebut yang cukup berat dikarenakan logonya yang terbuat dari perunggu, Malfoy kecil itu tertegun melihat halaman pertama buku tersebut. Disana—di halaman itu, tampak foto ayahnya saat masih muda dulu yang tengah tersenyum tipis.

"He...ad Boy? Apa itu Poppy?"

"Itu artinya Tuan adalah orang yang dianggap menjadi contoh yang baik bagi teman-temannya, Sir." jawab Poppy, berusaha semampunya menyusun kalimatnya agar tuan kecilnya mengerti.

Scorpius tertawa kecil. Ia tahu ayahnya memang ayah terhebat di seluruh dunia. Lalu tak lama kemudian pandangannya teralih pada sosok perempuan cantik yang fotonya terpampang di samping foto ayahnya. Perempuan berambut cokelat ikal itu tersenyum lebar—memperlihatkan gigi-giginya yang rapih. Cantik sekali pikirnya.

"Apakah dia contoh yang baik juga, Poppy?" tanya Malfoy kecil itu, tanpa mengalihkan pandangannya dari foto ayahnya dan perempuan cantik di sebelahnya.

Poppy mengangguk. "Miss Hermione Granger adalah salah satu pahlawan perang kita, Sir."

Sebuah senyuman lebar terpatri di wajah tampan milik Malfoy muda itu. Entah mengapa ia merasa senang sekaligus nyaman sekali melihat perempuan itu tersenyum ke arahnya—meski hanya dari foto.


"My soul

chose yours

.

.

and a soul

doesn't just

forget that."

-b.m.


4 Juli, 2011

"Daddy."

"Hm?"

"Daddy."

"Ya?"

"Daddy!" tekan pemilik suara tersebut.

Draco Malfoy menghela nafas, menyingkirkan salah satu dari dokumen yang harus dibacanya dengan sedikit enggan. Niatnya, ia ingin menyelesaikan semua pekerjaannya hari ini, mengingat ia harus mempersiapkan pesta ulang tahun ke-6 milik Scorpius lusa. Namun sayangnya, semua niat itu hancur akibat yang empunya pesta.

Matahari tengah bersinar cerah di luar, seolah-olah mengolok dirinya yang tampak lelah dan memilih untuk mengurung diri di ruang kerjanya yang tertutup dengan tirai sambil mengubur diri sendiri diantara tumpukan dokumen-dokumen yang memenuhi meja mahoganynya.

Ia menatap Scorpius, putranya yang sebentar lagi akan beranjak setahun lebih tua. Putra semata wayangnya itu tampak jengkel—terlihat jelas dari bibir bawahnya yang dimajukan, berusaha membuat ekspresi yang segalak mungkin dengan alisnya yang tertekuk. Draco tersenyum sendiri menatapnya, seringkali berpikir bagaimana orang seburuk dirinya bisa memiliki anak sebaik Scorpius.

"Aku mau ice cream." ujarnya, kembali dengan nada yang pelan. Meski tengah merajuk, laki-laki mungil itu selalu mengingat bahwa ia harus selalu bersikap sopan kepada orang-orang yang lebih tua darinya. Setidaknya begitulah ajaran yang diberikan oleh satu-satunya orang tuanya di dunia ini, tak lain dan tak bukan adalah ayahnya.

"Janji tetap akan menghabiskan makan malam mu meski kita makan ice cream sekarang?"

"Janji!" kata Scorpius mantap—merasa menang. Ia tersenyum lebar, memperlihatkan gigi-gigi mungilnya. Dengan gesit ia langsung berlari memeluk ayahnya yang mulai berdiri mengambil mantel miliknya di pojok ruangan. Apapun ucapan yang dikatakan ayahnya setelah itu tak ia dengar karena pikirannya kini tengah penuh.

Ice cream rasa apa ya hari ini?

.

.

.

Sesuai dengan perkiraan Draco, cuaca hari ini adalah cuaca yang sangat cocok untuk berjalan-jalan mengitari Diagon Alley bersama putra kecilnya. Tidak terlalu panas, tidak terlalu mendung—cocok. Namun seorang Draco Lucius Malfoy memiliki sebuah daftar panjang tersendiri mengenai alasan mengapa ia benci berjalan-jalan di Diagon Alley layaknya orang biasa. Karena ia bukan orang biasa. Seorang Malfoy bukan, dan tidak pernah menjadi orang biasa. Tatapan kebencian yang diberikan oleh orang-orang di sekitarnya merupakan salah satu alasan teratas di daftarnya. Oh, betapa ia sangat ingin pulang sekarang dan berkutat dengan pekerjaannya dibandingkan harus berada di situasi ini. Ini ide yang buruk, kutuknya pada diri sendiri.

Kedua tangannya yang kuat dengan cepat menggendong Scorpius, berusaha melindungi putranya dari tatapan buruk yang diberikan orang-orang. Ia tidak peduli tentang bagaimana masyarakat memperlakukannya—itu sama sekali tidak penting untuk ia pikirkan dan semacam bukan urusannya. Toh lagipula ia merasa bahwa ia memang pantas mendapatkan itu semua, mengingat masa lalunya yang kelam dan ikatan keluarganya dengan Voldemort. Namun lain halnya apabila orang-orang itu ingin menghancurkan hidup anaknya, maka itu jelas merupakan urusannya. Scorpius, ia pastikan, tidak akan pernah menjadi seperti dirinya dahulu. Dengan apapun yang tersisa dari dirinya, ia akan memastikan bahwa putra semata wayangnya itu akan mendapatkan versi kehidupannya yang terbaik. Dan ketika seorang Draco Malfoy telah berjanji pada dirinya sendiri, maka satu dunia harus berusaha keras untuk menghalanginya karena ia tidak akan pernah mundur.

Suara bel toko yang berbunyi ketika pintu dibuka menarik perhatian Draco kembali ke realita. Iris Draco menerawang sekitarnya. Florean Fortescue sama sekali tidak berubah, semuanya masih sama seolah-olah Mr. Florean tidak pernah hilang diculik dan dihabisi nyawanya oleh segerombolan Pelahap Maut. Ia sering datang kesini dulu bersama ibunya dan ia bisa mengeluarkan nafas lega karena setidaknya keluarganya tidak termasuk ke dalam gerombolan Pelahap Maut yang telah membunuh laki-laki tua yang baik itu.

"Hai, Digby!" Scorpius melambai-lambaikan tangannya pada seorang pemuda bersurai burgundy yang tengah berbicara santai dengan salah satu pelanggannya di kasir.

Pemuda yang dipanggil Digby itu menoleh ke sumber suara, lalu tersenyum ke arah Scorpius dan Draco sambil melambaikan tangannya kembali. Digby Fortescue—menurut Draco—adalah satu-satunya orang yang memperlakukan dirinya dan Scorpius dengan baik meski apa yang telah terjadi dengan ayahnya. Kunjungan Draco ke toko ice cream ini sejak kecil membuatnya cukup dekat dengan anak lelaki dari pemilik toko itu yang usianya 2 tahun di bawah dirinya. Pertemanan mereka cukup dekat, mengingat sosoknya saat masih anak-anak dulu masih belum mengerti tentang buruknya ajaran ayahnya dan hanya ingin bersenang-senang dengan teman-temannya. Cukup dekat, sampai Digby pun tahu kalau jauh di lubuk hatinya, Draco sama sekali tidak ingin mengambil jalan yang sama dengan ayahnya.

"Hai, champion! Aku punya ice cream rasa baru untuk kau coba hari ini. Mau?" tanyanya ramah dan tertawa ringan ketika yang ditanya mengangguk-angguk antusias.

"Kau harus berhenti menjadikannya kelinci percobaan untuk rasa ice cream mu, mate. Aku nyaris tidak bisa menghentikan rajukannya setiap kali dia ingin kesini." Draco menghela nafas, lalu memijat pelipisnya dengan tangannya yang kini bebas dari tubuh Scorpius dikarenakan putranya itu langsung berlari ke counter, melihat-lihat setiap ice cream.

Digby tertawa lagi. "Entahlah, mate. Aku belum menemukan food taster lainnya yang mau dibayar dengan ice cream gratis setiap minggunya."

Dengan cekatan, laki-laki itu menyiapkan ice cream untuk Scorpius sambil diam-diam menyiapkan satu untuk Draco juga. Ketika selesai, ia menyerahkan kedua ice cream itu kepada Malfoy kecil—yang terlihat amat girang, dan ayahnya yang tampak kebingungan.

"Satu Sticky Toffee Pudding untukmu, champion. Dan satu Salted Caramel Blondie untuk teman menyebalkanku satu ini yang mengancam kelangsungan usahaku dengan berniat mengambil food taster satu-satunya yang kupunya." katanya.

"Aku tidak memesan apapun, Digby."

"Betul sekali, tuan jenius. Tapi ekspresi wajahmu yang kusut itu jelas membutuhkan ice cream ku yang hebat ini," Ia tersenyum lebar, memaksa tangan Draco untuk mengambil ice creamnya.

",Ayo cepat, cepat. Lihat, satu Diagon Alley sudah mengantri di belakangmu. Selamat menikmati, mate!"

Draco terpaksa mengambilnya lalu keluar menuju jalanan Diagon Alley bersama dengan Scorpius di sampingnya yang tampak sibuk dengan ice cream rasa baru miliknya. Sebelum keluar, ia menoleh ke arah Digby yang masih dengan ceria melayani pelanggan-pelanggannya yang lain sebelum akhirnya menetapkan bahwa ia akan membelikan sesuatu untuk pemuda itu nanti untuk membalas semua kebaikannya.

Jalanan Diagon Alley masih ramai seperti sebelum ia masuk ke Florean Fortescue dan matahari masih menyembul dibalik awan. Ia meraih tangan Scorpius dan berjalan bersamanya, menyusuri jalanan Diagon Alley—masih sambil mengacuhkan tatapan mencemooh dari orang-orang. Dari kejauhan, ia dapat melihat sebuah kastil yang pernah menjadi—ralat, masih menjadi rumahnya hingga saat ini, Hogwarts, dibalik awan-awan. Kastil itu masih berdiri megah dan Draco menahan keinginannya untuk pergi kesana lagi, sekedar duduk-duduk di pinggir danau yang nyaman. Ia merindukan Hogwarts dengan sangat, meski ia tahu kalau ia bahkan tidak pantas lagi untuk menyebut kastil yang indah itu sebagai rumahnya. Kenangan-kenangan menyenangkan tiba-tiba melintas di kepalanya dan satu orang signifikan muncul di benaknya. Bagaimana kabar Hermione Granger—mantan partner Ketua Muridnya—sekarang?

"Daddy, boleh aku bertanya?" tanya Scorpius seketika, membuyarkan lamunan Draco.

"Tentu saja boleh. Anything for you, buddy."

Pertanyaan Scorpius selanjutnya membuat Draco berharap ia bisa menarik kembali perkataannya sebelumnya dan memfokuskan diri untuk segera pulang ke rumah mereka lalu membenamkan dirinya.

"Dimana... dimana mommy?"

Draco menelan salivanya lamat-lamat, mengabaikan ice creamnya yang mulai mencair dibawah sinar matahari. Iris abu-abunya bertukar pandang dengan iris abu-abu milik Scorpius yang identik. Keduanya berhenti berjalan dan Draco menemukan dirinya sulit merangkai kata-kata yang tepat. Lagipula, apa yang harus ia katakan pada anak laki-laki berumur 5 tahun layaknya Scorpius? Mengatakan bahwa ibunya meninggal karena dirinya? Karena berusaha membawa dia ke dunia ini?

Astaga, seorang Malfoy tidak dirancang untuk situasi seperti ini. Apa yang akan dikatakan Lucius kalau ia berada di posisiku? tanyanya dalam hati meski ia sebenarnya tahu bahwa ayahnya mungkin akan mengacuhkan pertanyaannya dan berusaha membawanya ke toko Quidditch untuk mengalihkan perhatiannya. Namun ia tidak ingin melakukan itu. Putranya berhak mengetahui kenyataannya agar ia tidak tumbuh sebagai anak laki-laki yang kebingungan—selalu bertanya-tanya dimana ibunya. Dengan perlahan, ia berdiri di hadapan Scorpius sambil menyentuh pucuk kepalanya penuh sayang.

"Begini, champion... Ketika seseorang sudah melakukan banyak hal baik—menjadi pahlawan contohnya, dalam kasus ibumu..., " Sebuah helaan nafas keluar dari bibir Malfoy dewasa itu. Astoria memang seorang pahlawan karena mengorbankan nyawanya untuk anaknya, semua ibu adalah seorang pahlawan kilahnya dalam pikirannya sendiri. ",maka ia diizinkan untuk tinggal di sebuah kastil di atas awan yang indah."

Draco Malfoy mengutuk dirinya. Mempunyai anak sungguh memang telah mengubah jalan pikirannya dan membuatnya melakukan atau mengatakan sesuatu yang sangat bertentangan dengan dirinya di masa lalu.

Scorpius tampak mencerna perkataan ayahnya dengan serius, terlihat dari kedua alisnya yang bertautan. Lalu iris abu-abunya kembali ke ayahnya—sebelum akhirnya membelalak, seolah-olah mendapat sebuah pemahaman baru. Matanya tak lagi melihat ke arah Draco, namun lebih tepatnya ke sebuah objek menarik yang ada di belakang kepala ayahnya itu.

"Oh! Apakah mommy tinggal di kastil indah itu, daddy?" tanyanya dengan mata berbinar-binar dan penuh antusiasme, sambil menunjuk ke arah Hogwarts.

Draco menemukan dirinya tidak dapat menghancurkan kebahagiaan putranya tersebut dan mulai mengangguk. Lalu dengan terburu-buru ia berkata, "Ayo kita pulang, Poppy pasti sudah mulai menyiapkan makan malam."


"I used to be afraid

of the shadows in me.

I'd wonder of the sounds they made

in the still of night,

and swear that sometimes,

sometimes they were footsteps.

.

.

Now

I find comfort in the fact

that there could be no shadow

if somewhere hiding in me,

there wasn't light."

-Tyler Knott Gregson


Ini pasti sudah tengah malam ucap Draco di dalam hatinya. Rasanya sudah lama sekali sejak ia membacakan cerita ke Scorpius yang kini sudah tertidur pulas di kamarnya dan mungkin sudah 3 jam ia tidak bisa tidur. Ruang kamarnya yang luas kini terasa begitu lapang dan... sepi. Di dalam pikirannya, laki-laki bersurai platinum itu merasa kalau Scorpius pasti lama-kelamaan akan mulai menanyakan perihal ibunya dan bodohnya dia karena tidak menyiapkan semua jawabannya. Suka atau tidak suka, ia harus mulai menyadari bahwa putra kecilnya pasti membutuhkan sosok ibu di hidupnya—meski tentu saja Scorpius tidak pernah menyatakannya. Seorang ibu pasti akan lebih bisa memahami emosi Scorpius dan memberikannya jenis kasih sayang lain yang tidak bisa dipenuhi oleh Draco. Namun pikiran untuk menikah lagi membuatnya mual. Lagipula, siapa yang mau menikahi seorang mantan Pelahap Maut seperti dirinya? Merupakan sebuah keajaiban bahwa Digby Fortescue masih menganggapnya seorang manusia dan teman.

Draco berusaha memejamkan kedua matanya rapat-rapat, mengenyahkan pikiran-pikiran buruknya yang kini mulai memenuhi otaknya. Sesungguhnya, ia benci sekali menjadi pewaris satu-satunya Malfoy manor. Ia benci harus terus menerus menghindari satu ruang spesifik yang bisa memicu memori terburuknya. Ia benci setiap ia mendengar suara teriakan perempuan yang amat familiar di telinganya dari ruangan tersebut. Untuk kesekian kalinya, a merubah posisi tidurnya, menghadap ke arah jendela kamarnya dan menatap bulan yang bersinar redup di luar. Entah mengapa, pertanyaan Scorpius tadi mengenai ibunya membuat perasaan bersalah bersarang di hatinya. Benaknya kembali ke masa-masa pernikahannya dengan Astoria. Sejujurnya, Draco bahkan sama sekali tak mengenali perempuan itu. Ia hanya tahu bahwa salah satu teman asramanya, Daphne, memiliki adik yang berumur satu tahun di bawahnya dan ia tidak pernah berniat mencari tahu.

Kalau diingat-ingat, dirinya memang tidak memiliki satu pun foto Astoria di manor—bahkan foto pernikahan pun tidak. Tidak sempat mungkin kata yang lebih tepat untuk mendeskripsikannya, karena ayahnya jatuh sakit setelah acara pernikahannya dan mengharuskan seorang Lucius Malfoy untuk dirawat di St. Mungo. Setelahnya, hari-harinya penuh dengan mengunjungi ayahnya dan mencoba menguatkan ibunya yang tampak semakin rapuh di matanya. Ia tidak pernah menyentuh Astoria, tidak sampai hari kematian ayahnya dan ia tengah mabuk berat.

Rambut milik istrinya yang cokelat dan ikal membuatnya terlihat seperti orang lain. Seperti... Draco buru-buru mengenyahkan pikirannya. Tentu saja ia tidak setolol itu untuk membiarkan perasaannya mengontrol dirinya. Namun sekuat apapun ia mencoba membungkam pikirannya, ia kembali teringat ke malam dimana ia menyentuh Astoria untuk pertama kali.

Semuanya memang terasa samar, kecuali rambut Astoria, dan ia yakin ia benar-benar mabuk berat saat itu. Akan tetapi, ia tidak cukup mabuk saat itu untuk berhenti berpikir bahwa ia lebih menyukai warna rambut cokelat yang lebih terang.

.

.

.


A/N:

Halo semua! Akhirnya aku bisa nyelesain chapter pertama ini meskipun diterjang badai UAS HAHAHA. Lumayan puas meskipun rada susah dan rada bingung masukin ide aku ke chapter ini. Di chapter ini aku mau ngasih background storynya dulu dan jujur aja aku takut banget nulis soal Scorpius kecil karena takutnya nggak masuk gitu karakternya :(

Aku sampe nyari "How 7-Year-Old Act/Speak" saking takutnya dan nggak tau deh ini berhasil atau enggak huhu. Mohon maaf ya kalo mungkin ada slight OOC atau gimana :(

Kritik, saran, dan komentarnya aku tunggu sangat di kolom review supaya aku tau aku harus perbaikin apa aja demi keberlangsungan fic ini HEHEHE. Dan jujur aja aku seneng banget liat review-review kalian sampe tiap mau UAS pun disempetin baca-baca review—iya, secinta itu dan sesuka itu, bikin semangat banget. Makanya aku minta banget reviewnya ya!

Gimana menurut kalian OC aku, si Digby Fortescue? Hihi sempet bingung gimana nulisnya tapi untuk hasil akhirnya lumayan puas. But please do share me your thoughts, I really appreciate it!

With love,

GwendyMary