Matahari bersinar malu-malu pukul sembilan pagi, seperti mendukung Kelas XI B-I saat memasuki pelajaran olahraga. Semua siswa dan siswi telah siap di lapangan outdoor yang terletak di bagian belakang gedung utama, sedikit lebih ke selatan dari lapangan basket indoor. Semuanya telah siap untuk materi lari estafet.
"Baiklah, buat semuanya kelompok, masing-masing lima orang." Guru Shin, guru olahraga mereka memerintahkan dengan suara begitu lantang.
Semua penghuni XI B-I berkerumun menentukan anggota kelompok masing-masing, beberapa berebut untuk bersama dengan orang yang dianggap ahli dalam bidang lari, sementara yang lain memilih anggota yang layak untuk mejadi bagian dari mereka. Dan Sung Min mungkin satu-satunya yang lebih memilih menjadi pihak yang dipilih ketimbang memilih, jadi ia hanya berdiri di tempat tanpa melakukan apapun kecuali memandangi teman-temannya yang lain.
"Sung Min-ah, apa boleh jika aku bersamamu?"
Sung Min tersentak kecil, menoleh ke samping dan mendapati teman sekelasnya berdiri dengan senyum tipis yang manis. Dengan setengah tidak yakin Sung Min bertanya. "Kau mau satu kelompok denganku?"
Dasom mengangguk antusias dan mengembangkan senyum yang lebih lebar, yang mau tak mau menular pada Sung Min. "Apa kau keberatan?" Dasom bertanya ringan setelah ia berdiri di samping Sung Min.
Sung Min sontak menggeleng, dan menundukan kepala kemudian. "Hanya saja... rasanya aneh." Sung Min berucap lirih, entah Dasom mendengarnya atau tidak karena gadis itu tidak merepon sama sekali, hanya berdiam tenang sambil memandang teman-teman mereka yang lain dengan senyum tipis yang tak pernah luntur dari bibirnya.
Sejauh yang Sung Min tahu, Dasom adalah gadis yang cukup disenangi banyak orang, ia anggota klub dance dan paduan suara sekolah, meskipun harus ia akui—dan mungkin orang lain, jika Dasom itu sedikit aneh. Kadang-kadang gadis berkulit putih itu bisa bertingkah lain dari biasanya, juga sepontan. Tapi mungkin hal itulah yang membuatnya disenangi banyak orang.
"Apa yang kau pikirkan?"
Sung Min tersentak kaget saat Dasom menepuk pundaknya. "Ti-tidak, bukan apa-apa."
"Baiklah." Dasom mengangkat bahu acuh. "Kalau kita diam di sini saja kita tidak akan mempunyai kelompok." Dasom bermonolog dengan suara yang tidak untuk didengarnya sendiri. "Ah! Kau tunggu di sini ya, aku akan menyeret yang lain agar kelompok kita pas."
Lalu Dasom berlalu begitu saja dan membuat kerusuhan di antara teman-teman mereka hingga Guru Shin harus menegurnya juga beberapa siswa laki-laki yang senang sekali dekat-dekat dengan siswa perempuan padahal Guru Shin telah memberikan perintah untuk membuat kelompok sesuai gendernya.
Sung Min menatap tak percaya ke arah Dasom yang dengan santainya menyeret kedua teman perempuan mereka yang terlihat pasrah, bukan tak ingin melawan tapi tenaga mereka harus mereka sisakan untuk lari nanti dan sekalipun mereka mengerahkan seluruh kekuatan belum tentu juga mereka bisa lolos dari cekalan Dasom yang kuat.
Dalam hati Sung Min tertawa geli melihat apa yang ada di hadapannya. Sepertinya menyenangkan jika ia pun mampu bertindak atau bersikap seperti gadis bermarga Kim itu.
.
.
.
Miss Invisible
.
©Jejae Present
.
Cho Kyu Hyun
Lee Sung Min
.
Romance / Chapter / Songfiction
.
Warning!
GS! (Gender Switch), Typo(s), OOC! (Out Of Caracter)
.
Disclaimer: SJ's members are belong to their self, God and family. But the storyline is MINE!
.
Don't Like, Don't Read!
And please Don't be Silent Reader^^
.
.
.
Chapter 2
(Nothing)
.
.
.
Sung Min hanya mampu mengulum senyum saat lagi-lagi Dasom berulah untuk mendapatkan satu orang lagi untuk melengkapi anggota kelompok mereka. Gadis cantik itu tak pernah benar-benar bisa diam bahkan seberapa keras dan sering seseorang memperingatinya, termasuk Guru Shin. Setiap guru laki-laki itu memperingatinya Dasom langsung memasang wajah memelas seperti anak anjing yang tak berdosa, itu seperti terprogram otomatis untuk dia lakukan, dan tentu saja Guru Shin menjadi tak berkutik padanya untuk memberinya hukuman.
Sung Min melirik dua orang di sampingnya yang asyik dengan obrolan mereka, menerka-nerka apa yang mungkin mereka bahas hingga membuat mereka seperti tak menyadari keberadaanya, apakah sesuatu tentang fashion, makeup, atau mungkin tentang anak laki-laki? Sung Min bukannya nol dalam topik seperti itu, ia mengerti walau hanya sedikit, tapi sayangnya ia tidak pernah benar-benar punya kesempatan untuk sekedar berbagi hal itu.
"Apa yang kau lihat?"
Sung Min tersentak ketika salah satu di antara keduanya—yang berdiri paling dekat dengan Sung Min, berbalik menatapnya. Ia hanya dapat menggeleng dan mengalihkan wajah dengan perasaan malu karena kedapatan memperhatikan keduanya seperti ia adalah seorang penguntit. Arah pandangnya kini beralih kelompok lain yang terlihat sudah lengkap lalu setelahnya ia alihkan pada Dasom yang berjalan ke arahnya dengan wajah masam.
"Ada apa?" Sung Min bertanya setelah Dasom berada di hadapannya.
"Sung Min~" Dasom mendekat ke arah Sung Min dan menjatuhkan kepalanya dramatis di pundak Sung Min, membuat Sung Min bingung harus bagaimana dan hanya bisa berdiam pasrah sambil menatap ke sekililing yang hanya melihat mereka sepintas lalu. Lagi pula Dasom memang sudah terlahir begitu, sudah tidak aneh lagi jika "penyakit"anehnya sudah kambuh.
Dasom menaikkan wajahnya dan menatap Sung Min dari jarak yang begitu dekat, dan jika ada yang melihat mereka dari posisi belakang masing-masing sudah pasti orang itu akan salah sangka dengan posisi mereka yang tidak lazim. "Tidak ada yang mau menjadi anggota kelompok kita, padahal aku sudah memaksa mereka." Sung Min mengerjapkan mata, mematung dengan ekspresi kikuk yang luar biasa bibirnya terbuka dan tertutup begitu saja, bingung harus berkata apa di situasi seperti ini.
"Sudahlah Dasom, itu tidak akan menjadi masalah." Anggota kelompok yang sebelumnya menegur Sung Min pun angkat bicara.
"Tapi—" Ucapan Dasom terputus begitu saja saat Guru Shin meneriaki mereka untuk berkumpul dan berbaris di hadapannya bersama anggota kelompok masing-masing.
Sung Min menjadi orang yang paling akhir berjalan untuk ambil barisan, matanya mengamati teman-teman sekelasnya yang sudah berbaris rapih. Ia menyernyit heran saat tak mendapati Jessica dan Tiffany di lapangan, padahal saat di ruang ganti tadi ia yakin betul keduanya masih ada, bahkan mereka jelas sempat merusuh di kelas sebelum bel pelajaran berbunyi dengan majalah terbaru keluaran Ceci.
"Sebelumnya kita telah mempelajari teknik lari estafet di pertemuan sebelumnya, jadi hari ini mari kita peraktekkan apa yang telah kalian dapat sebelumnya, mengerti?!"
Guru Shin selalu begitu, berkarakter dengan suara kerasnya yang membakar semangat, dan saat murid-murid Kelas XI B-I menjawab dengan tidak sama bersemangatnya—walau kenyataannya mereka berteriak seperti suporter bola, Guru Shin menyuruh dengan suara yang lebih lantang untuk mengulangi kembali. Sudah pasti mereka membutuhkan jatah air mineral lebih banyak.
"Kim Dasom, bukankah sudah kubilang satu kelompok lima orang."
"Ini bukan salah saya pak, Ji Yeon tidak mau membiarkan Min Ah untuk satu kelompok dengan kami." Dasom memberi pembelaan konyol yang mau tak mau membuat beberapa anak mengulum senyum, sementara Ji Yeon yang hanya berjarak satu kelompok melotot galak ke arah Dasom.
"Tentu saja, kenapa aku harus mengorbankan diriku untukmu. Harusnya kau lebih cerdik Kim Dasom."
Dasom sudah akan beranjak ke arah Ji Yeon—mungkin untuk menjambak rambutnya, namun dihalangi oleh intrupsi galak Guru Shin yang meminta mereka berdua untuk diam. Guru shin terlihat memperhatikan semua murid-muridnya, menghitung dalam hati jumlah mereka. Untuk sesaat Guru Shin terlihat mengerutkan kening sebelum kembali mengatur mimik wajahnya.
"Kemana Jessica dan Tiffany?" Guru Shin bertanya lantang, lalu untuk beberapa saat ia munggu jawaban dan tidak ada satu pun yang mengetahui keberadaan keduanya. Lalu Guru Shin melihat ke arah ketua kelas dan hanya ditanggapi senyum canggung.
"Kim Jong Woon, setelah pelajaran hari ini selesai suruh mereka menghadapku."
"Baik pak."
Guru Shin terdiam sebentar, menghitung secara adil pembagian kelompok. Seharusnya ada empat kelompok yang terdiri dari tiga kelompok dengan anggota lima orang dan satu kelompok dengan anggota enam orang, sementara jumlah laki-laki di kelas itu adalah enam orang. "Baiklah karena hanya satu kelompok yang berjumlah empat, sementara hanya Seung Ho yang bergabung dengan kelompok putri, bapak akan merombak kembali kelompok kalian agar adil."
Guru Shin memutuskan untuk menempatkan anak laki-laki dan perempuan menjadi satu kelompok, membuatnya seimbang dalam praktik lari kali ini. Dan Dasom bukan satu-satunya orang yang menolak keputusan Guru Shin, tapi ia menjadi satu-satunya orang yang berhasil menolak untuk satu kelompok dengan Ji Yeon dengan alasan bahwa Sung Min tidak ingin berpisah dengannya, hingga akhirnya Guru Shin harus mendesah pasrah dan membiarkan Dasom bergabung dengan Sung Min, Seung Ho, Bo Gum, dan Jong Woon.
.
—oO𝔪𝔦𝔰𝔰.𝔦𝔫𝔳𝔦𝔰𝔦𝔟𝔩𝔢Oo—
.
Sung Min berjalan seorang diri menyusuri koridor dengan sebuah kotak makan siang dan sebotol air mineral di tangan. Kantin tidak sesesak hari kemarin saat tiga diva sekolah hadir di tengah-tengah mereka, mungkin karena Hyuk Jae sunbae-nim sudah berbaikkan dengan kekasihnya atau mungkin juga karena alas an yang lain, yang jelas dengan ketidak adaan ketiganya banyak siswa—terutama laki-laki, yang kecewa.
Tapi sesungguhnya itu bukanlah alasan Sung Min berbelok menuju arah sebaliknya dari ruang kantin, ia hanya… entahlah, mulai kembali berpikir jika menyendiri adalah hal terbaik yang ia miliki walaupun pada kenyataannya ia sering merasa kesepian. Sementara berbaur dan mendapatkan setidaknya satu saja untuk menemaninya seperti hal yang mustahil bisa ia lakukan sampai kapan pun, itu seperti tertanam dalam pikirannya tanpa sadar.
Sung Min berjalan hingga kesudut koridor, dihadapannya adalah sebuah tangga yang menghubungkan atap gedung. Sebenarnya tempat itu terlarang bagi siswa, bukan tanpa alasan hal itu begitu saja ada. Katanya, dulu sekali pernah ada seorang siswi yang mati bunuh diri dari atas atap karena ia hamil diluar pernikahan, dan karena tak mampu menanggung aib dari kemungkinan jika orang lain sampai mengetahuinya ia akhirnya memutuskan bunuh diri dengan melompat dari atas atap. Meskipun tak pernah ada kejelasan dari cerita tersebut seperti nama atau atap mana yang menjadi lokasi atau bahkan kebenaran cerita itu sendiri, tapi cerita itu terus diceritakan hingga sekarang, bahkan beberapa orang melebih-lebihkannya entah dengan tujuan apa.
Mungkin itu sebabnya atap adalah tempat terlarang bagi siswa meskipun sebenarnya pihak sekolah telah membuat pagar tinggi dari kawat untuk mencegah hal yang sama terulang kembali, tapi sepertinya hal itu dinilai kurang oleh pihak sekolah bagi keamanan siswa. Tapi bagi Sung Min itu adalah cerita yang sengaja dikarang seseorang untuk menakut-nakuti, ia tak akan terpengaruh cerita karangan seperti itu.
Sung Min hampir mencapai tangga saat suara seseorang terdengar di telinganya. Sung Min menoleh ke ruang laboratorium kimia yang tidak jauh dari tangga dan melihat siluet tiga orang di sana. Dengan langkah mengendap-endap Sung Min menghampiri ruangan tersebut, mengintip dari balik pintu yang sedikit terbuka. Ia bisa melihat dengan jelas siluet yang tadi ia lihat, Jong Woon, Jessica dan Tiffany. Ketiganya terlihat tengah terlibat pembicaraan yang serius. Sung Min makin merapatkan tubuhnya dan menguping pembicaraan ketiganya.
"Kau tidak bisa memerintahku seenaknya." Jessica terlihat tidak senang, gadis bermarga Jung itu menaikkan dagu menantang Jong Woon.
"Bukan aku, Guru Shin."
"Tapi kami tidak mau." Kini giliran Tiffany angkat bicara, gadis berambut hitam itu terlihat sama tidak senangnya dengan Jessica.
"Aku tidak peduli hal itu, kalian tahu bahwa kalian harus lulus dalam semua mata pelajaran di semester ini bukan? Minimal sama dengan nilai standar dan jika karena hal ini kalian mendapat nilai dibawah itu maka—"
"MAKA APA?' Jessica menyela dengan suara yang sangat tinggi—hingga mungkin saja orang-orang yang berada di jarak lima ratus meterpun akan mendegarnya juga, wajahnya terlihat merah menahan kesal. "Jangan karena kau putra seorang perdana mentri maka aku akan dengan sukarela mengikuti perintahmu."
Jong Woon memasang ekspresi datar mendengar ucapan Jessica yang sarat dengan emosi yang menggebu. Putra perdana mentri? Huh..
"Kalian benar-benar tak tahu caranya berterimakasih." Jong Woon membalas dengan nada ejekan, ia sebenarnya jengah berurusan dengan sepasang teman baik ini, tapi ia tak memiliki alasan untuk lepas begitu saja dari tanggungjawabnya.
BRAK!
Tiffany menggebrak meja begitu keras hingga beberapa tabung raksa juga sekoci kecil berpindah dari tempatnya. "Sudahlah Jessie, biarkan saja dia dengan ceramahnya yang membosankan itu. Aku sudah tak peduli." Lalu setelahnya ia berlalu begitu saja, membalikkan badan dan berjalan menuju pintu dengan langkah lebar, tak menyadari jika sedari tadi ada seseorang yang mengintip di balik pintu.
BRUK!
"Akkh…" Entah itu suara Tiffany atau Sung Min, atau bahkan keduanya. Tiffany menabrak Sung Min yang setengah condong ke dalam ruangan meskipun terhalang pintu hingga mundur beberapa langah ke belakang dengan rasa sakit di sekitar bahu kirinya. Sementara Sung Min, ia berpikir akan menanggung rasa sakit luar biasa karena mendarat dengan bokong terlebih dahulu tapi hal itu nihil, ia bahkan merasa tubuhnya setengah melayang. Aku tidak mungkin mati hanya karena bertabrakan dengan Tiffany kan?
Sung Min perlahan membuka matanya dan mendapati wajah seorang asing tepat di hadapannya. Wajahnya tampan dengan hidung mancung juga tulang pipi yang terlihat luar biasa, sepertinya Tuhan dalam keadaan senang sekali saat menciptakannya—inner Sung Min berbicra ngawur.
"Punggungmu tidak sakit?"
"Hah?" Sung Min berkedip lucu saat laki-laki itu berbicara yang sepertinya kepadanya. Lalu tiba-tiba laki-laki itu membuatnya berdiri dalam keadaan setengah sadar dari kejadian ia hampir saja terjungkal ke belakang jika tidak ditahan oleh laki-laki itu.
"Kyu Hyun-ah?" Jong Woon memanggil bingung pada laki-laki yang baru saja menolong Sung Min. Ia baru saja membuka mulut untuk menahan Tiffany karena ia merasa ia belum selesai berbicara saat suara seseorang—yang sebenarnya dua, terjatuh dan bergegas menghampiri ke asal suara.
Sementara itu Jessica yang juga melakukan hal yang sama, bedanya ia langsung menghampiri Tiffany dan membantunya berdiri. Setelah memastikan sahabatnya baik-baik saja ia langsung melirik pada sumber masalah yang membuat Tiffany terjerembab. "Lee Sung Min, apa yang kau lakukan? Kau menguping heh?" Jessica menegur dengan nada sinis yang kentara, membuat Sung Min yang baru mendapatkan kesadaran penuh tersentak kaget.
"A-aku… aku tidak bermaksud—"
"Tidak bermaksud apa?" Kini giliran Tiffany dan suara nyaringnya menyerang Sung Min. "Dasar gadis aneh! Apa kau tidak diajari sopan santun oleh orangtuamu? Menguping pembicaraan orang, ckk! Pantas saja semua orang malas berdekatan denganmu."
Sung Min hanya bisa diam tanpa pembelaan apapun yang ke luar dari mulutnya, membiarkan Tiffany bebas mencela dan menindasnya. Entah bagaimana Sung Min tahan membiarkan seseorang berbicara kasar tentang dirinya, hanya karena membenaran tentang ketidak sopanan menguping pembicaraan orang lain yang Tiffany katakan ia sampai tidak melakukan apapun, menyalahkan dirinya sendiri berdasarkan pandangan orang lain atas dirinya.
"Kau bicara tatakrama dan sopan santun tapi bicaramu saja sepeti gadis bar-bar."
Tiffany terdiam begitu seketika dan beralih memandang seseorang yang sebelumnya tak ia sadari keberadaanya. "A-apa? Diam kau!" Tiffany sebisa mungkin mengontrol nada suaranya yang tetap saja terdengar terbata akibat keterpesonaan dan kesal pada seseorang yang baru saja memotong ucapannya.
Tiffany baru saja hendak membuka mulut saat Jong Woon menyadari hal itu terlebih dulu dengan meminta Sung Min itu pergi dari sana. Awalnya Sung Min merasa ragu karena biar bagaimana pun ia merasa harus tetap menjelaskan jika sebenarnya ia tidak bermaksud untuk menguping, tapi pada akhirnya Sung Min tetap pergi—dengan suara nyaring Tiffany yang mengiringi, setelah Jong Woon meyakinkan jika ia tidak bersalah.
Sung Min berjalan perlahan berbalik arah dari tujuan awalnya, karena hal yang baru saja terjadi dan ia tidak ingin diketahui oleh siapapun tentang tempat tujuannya yang tak lain adalah atap sekolah. Sung Min hampir berbelok di ujung koridor saat ia berbalik dan mendapati Jessica, Tiffany dan Jong Woon masih terlibat adu mulut. Ia mengamati untuk beberapa saat sampai tanpa sengaja seseorang yang telah menolongnya tadi juga menoleh ke arahnya hingga tatapan mereka bertemu. Untuk beberapa saat yang singkat Sung Min dibuat kikuk harus bersikap bagaimana, hingga ia memutuskan untuk berbalik pergi begitu saja.
.
.
.
To be continued
.
.
.
.
Hi saya kembali setelah lama gak nongol xD /pisss…. -_-'V
Ini lanjutan yang sebelumnya saya janjikan hehee
Mungkin ada typo atau banyak kekurangannya mohon dikoreksi, saya tidak akan meninggalkan alasan ini dan itu (*o*) Dan untuk epilog He Said He Won't Wait yang juga telah saya janjikan mohon kesabarannya sedikit lagi yaaaa
Itu akan jadi cerita perdana saja dengan rating dewasa (18+) jadi mohon maklum dengan keamatirannya /bow
Ok, terimakasih telah mampir dan membaca. Jadi tolong tinggalkan jejak dikolom review^^
See yaaaa
.
.
.
.
Desember 2016
