Batas
Shiroi Kage's Project
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Mature
.
.
.
ItaFemNaru
.
.
.
Kau tahu batas ?
Sebuah garis pemisah ?
Bagiku batas lebih dari itu,
Batas adalah keegoisan yang menghancurkanku secara perlahan
.
.
.
Bab II [ Kembali Pada Kenyataan ]
Gelap. Hanya kegelapan yang menemani Naruto saat ini. Terakhir kali hal yang diingatnya adalah saat Itachi menghembuskan nafas terakhirnya. Wajah si brengsek bersurai pirang yang sialnya menyandang status sebagai ayah kandungnya. Tidak ada lagi yang diingatnya. Yang dia tahu, saat terbangun dia sudah berada di ruangan hampa tanpa cahaya ini.
"–to, Naruto bangun!"
Naruto mengedarkan pandangannya, mencari sumber suara seseorang yang sangat dikenalnya. Seseorang yang telah berhasil merebut tempat spesial di dalam hatinya. Apa dia akan membawa serta Naruto pergi ke alam baka. Entahlah, jika memang benar begitu. Naruto tidak akan segan untuk menerima tawarannya tanpa perlu berpikir dua kali.
"Hei Bangun!"
Naruto melihat ada satu titik cahaya terang berada di hadapannya. Samar-samar dia melihat tangan seseorang terulur kearahnya. Memintanya segera berjalan mendekat. Dengan ragu Naruto berjalan mendekati sumber cahaya tersebut. Ketika telah berdiri tepat dihadapan sumber cahaya, tiba-tiba tubuhnya tertarik masuk kedalam dan kegelapan kembali menyelimutinya. Apa aku mengambil keputusan yang salah?
Kedip Kedip
Naruto membuka kelopak matanya, dia melihat bayangan laki-laki bersurai raven panjang yang juga sedang menatapnya. Wajah laki-laki itu terlihat kabur, membuat Naruto harus mengedipkan matanya lagi hingga akhirnya gambaran laki-laki utu terlihat jelas di kedua netranya.
"Kau sudah bangun?"
Naruto terdiam. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Jadi itu semua hanya mimpi, syukurlah. Tidak terkira leganya hati Naruto saat tahu itu semua hanya mimpi.
"Hei, ada ap –"
Kalimat laki-laki itu terpotong saat tangan kecil Naruto terulur dan membelai lembut pipi kanannya. Ekspresi terkejut jelas terlihat di wajah laki-laki tersebut. Sedangkan Naruto justru memasang wajah lega, dia bisa merasakan kehangatan saat dia menyentuh pipi laki-laki raven tersebut. Ini bukan mimpi.
"Ini bukan mimpi kan?"
Laki-laki itu menggeleng. Dia membantu Naruto untuk segera bangun dan segera bersiap-siap.
"Mandilah, kita tidak memiliki banyak waktu. Persidangannya akan dimulai dua jam lagi."
Naruto hanya bisa mengangguk kaku saat laki-laki itu mendorongnya untuk masuk kedalam kamar mandi. Saat laki-laki itu akan menutup pintu kamar mandi, tangan Naruto menghentikannya. Sejenak pandangan mereka bertemu, lalu Naruto mengambil inisiarif untuk berjalan mendekat. Kakinya berjinjit dan –
Cup
Satu kecupan ringan Naruto alamatkan pada pipi laki-laki raven itu. Belum sempat laki-laki itu bereaksi, Naruto sudah lebih dulu berlari masuk kekamar mandi dan segera mengunci pintunya.
"Aku mencintaimu, Itachi-nii."
Naruto bukanlah seorang yang pandai bersyukur. Dia memang jarang mengeluh atas apa yang terjadi pada keluarganya. Tapi dia juga tidak sekalipun menemukan sisi kehidupan yang harus dia syukuri. Semua sisi kehidupannya terkesan pahit untuk diingat. Tapi baru kali ini Naruto sangat bersyukur akan sesuatu. Dia sangat bersyukur saat tahu apa yang terjadi pada Itachi hanya merupakan bagian dari bunga tidurnya. Tidak kurang dan tidak lebih.
Tidak bisa dikatakan seberapa bahagianya Naruto saat melihat wajah Itachi saat dia membuka mata. Dia yang berpikir benar-benar akan kehilangan Itachi sama sekali tidak menyangka jika itu hanyalah mimpi. Hingga kejadian sebelum dia jatuh tertidur berputar jelas di otaknya.
.
.
.
.
Flashback ON
.
.
.
.
Setelah pulang dari disney land, Itachi dan Naruto menyempatkan mampir ke toko kaset. Mereka berencana untuk membeli dvd film Free dan menontonnya saat sampai di rumah. Free, sebuah film yang diambil dari sebuah novel dengan judul yang sama. Novel yang menjadi list utama novel favorit bagi keduanya. Naruto terus saja memaksa Itachi untuk membeli versi film dan mereka bisa menonton bersama. Akhirnya setelah sekian lama Naruto membujuk Itachi, akhirnya Itachi mengabulkan permintaannya. Disini mereka sekarang. Menatap layar televisi layar datar yang berada di ruang keluarga. Sementara keduanya terlihat duduk berdekatan di sebuah sofa dengan beberapa makanan ringan yang berserakan di meja. Naruto menatap setiap scene yang ditampilkan oleh televisinya. Air mata itu mau tidak mau jatuh dari sepasang bola sapphire nya saat melihat sang suami di film itu bersandar di dinding apartemennya, mendengarkan suara desahan istrinya yang menyuarakan nama laki-laki lain.
"Film ini terlalu vulgar, kita matikan saja."
Naruto menahan tangan Itachi yang akan menekan tombol merah di remote control. Naruto menggeleng lemah, dia meletakkan remote control itu jauh dari jangkauan Itachi. Tidak ingin mematikan televisi itu tanpa sepengetahuannya.
"Ayo menontonnya sampai selesai. Kau sudah berjanji kan?"
Itachi mau tidak mau mengangguk. Onyx nya bergulir kembali menatap layar LCD yang sedang menampilkan scene sang suami yang sedang bercengkrama dengan sang anak untuk pertama kalinya. Ada perasaan hangat di hati Itachi saat melihat suami di film itu memeluk sang anak yang memangis karena telah salah sangka kepadanya.
"Entah disengaja atau tidak. Ceritanya mirip dengan kisah tou-san kan?"
Itachi mengangguk. Walaupun pandangannya masih terfokus pada scene yang ditampilkan di LCD televisinya. Mereka melihat film itu hingga akhir cerita. Namun sayang, akhir cerita di film berbeda jauh dengan yang ada di novel. Jika di novel sang suami akhirnya menemukan kebahagiaannya bersama sang anak. Sedangkan di film, sang suami mati ditangan selingkuhan istrinya saat memperjuangkan cintanya pada sang anak. Miris.
Naruto tidak juga berhenti menangis saat tokoh sang suami mencium kekasihnya -sang anak untuk terakhir kalinya. Bahkan Itachi sendiri bingung harus melakukan apa untuk membuat Naruto berhenti menangis. Akhirnya dengan gerakan kaku, Itachi membawa Naruto kedalam pelukannya dan membiarkan Naruto menangis sampai si pirang jatuh tertidur. Dan itulah awal kenapa Naruto bisa bermimpi tentang Itachi yang pergi meninggalkannya sendiri.
.
.
.
.
Flashback end
.
.
.
.
Naruto sama sekali tidak tahu akan begini jadinya. Nafasnya tercekat saat melihat Itachi jatuh berlutut di depan kedua orang tuanya. Meminta mereka untuk merestui hubungannya dengan Naruto.
Seperti de javu.
Naruto segera berlari menghampiri Itachi. Si pirang ikut bersimpuh disamping Itachi. Tangan kecilnya menggenggam tangan besar Itachi. Seolah tidak ingin terpisahkan. Ya, dia tidak akan membiarkan Itachi merenggang nyawa dihadapannya.
"Dasar tidak tahu diri!"
Ucapan kasar itu keluar dari mulut Minato -ayah biologis Naruto. Itachi sendiri hanya diam tidak menyahut.
"Maaf tuan, bisakah anda tidak berbicara sekasar itu?"
Minato mendelik tidak suka pada Naruto. Putrinya sendiri kini berpihak pada laki-laki jalang itu. Menggelikan, apa yang sudah dilakukan Itachi sampai Naruto berani membelanya seperti ini.
"Kau pria brengsek. Apa yang kau lakukan pada putriku?"
Minato menarik kerah baju Itachi. Memaksa si raven untuk bertatap muka dengannya. Sementara Itachi sendiri hanya tersenyum miring sambil melirik kearah Naruto yang menatapnya cemas.
"Aku sudah menidurinya, aku tidak bisa meniduri istriku sendiri. Apa salahnya meniduri anaknya?"
Hampir saja sebuah pukulan melayang di wajah tampan Itachi. Jika saja Naruto tidak menahan tangan Minato. Kedua sapphire itu bertemu.
"Jangan menyentuhnya, aku tidak ingat pernah memiliki ayah pengecut sepertimu!"
Naruto melirik kesamping, kearah seorang wanita bersurai merah yang menatapnya dengan emosi berkecamuk di kedua matanya.
"Dan aku sangat malu untuk mengakui kalian sebagai orang tuaku."
Setelah mengatakan itu, Naruto duduk disamping Itachi. Memaksa laki-laki tiga puluh tahunan itu untuk ikut pergi bersamanya.
"Ayo pergi Itachi-nii. Kita bisa menikah dengan ataupun tanpa restu mereka."
.
.
.
.
.
"Tidak seharusnya kamu berkata sekasar itu. Biar bagaimanapun mereka itu orang tuamu."
Naruto tidak menjawab. Pandangannya masih terfokus pada pemandangan di luar jendela mobil. Baginya melihat lalu lintas kendaraan lebih menarik dibandingkan sibuk menyahut omelan Itachi.
"Naru, apa kau mendengarku?"
Naruto melirik kearah Itachi sekilas, lalu pandangannya kembali teralih pada pemandangan di luar jendela mobil.
"Hn."
Itachi menghela nafas berat. Sungguh dia tidak tahu kesalahan apa yang pernah dia perbuat di masa lalu. Seingatnya dia bukan dalam kategori pria brengsek. Tapi kenapa jalan hidupnya serumit ini. Jatuh cinta pada perempuan yang salah. Menyetujui pernikahan sepihak yang dibuat perempuan itu, berharap suatu saat perempuan itu akan membuka hati untuknya. Tapi kenyataan bahwa dia tidak pernah ada dalam kamus kehidupan perempuan yang disukainya membuat dia sadar, betapa bodohnya dia selama ini. Bahkan perempuan itu mengandung anak dari laki-laki lain, saat perempuan itu masih berstatus istri sahnya secara hukum. Saat dia bisa membuka hati untuk perempuan lain, justru dia memilih anak dari perempuan itu. Anak yang menjadi awal kebenciannya pada dirinya sendiri.
"Aku tidak suka cara mereka merendahkan Itachi-nii."
Itachi tidak menjawab. Membiarkan si pirang melanjutkan ucapannya.
"Apa Itachi-nii tahu? aku tidak pernah sekalipun tertarik pada laki-laki. Aku juga membuang semua emosi diwajahku. Berpura-pura kuat, padahal aku sangat membutuhkan pundak seseorang untuk kujadikan sandaran."
Itachi hanya mengangguk pelan. Mobil mereka telah terparkir di bagasi. Tapi tidak satupun dari mereka berniat keluar dari mobil. Keduanya tetap diam ditempat. Menikmati keheningan yang tercipta. Keheningan sementara sebelum suara Naruto kembali mengudara.
"Hidup di keluarga seperti ini membuatku muak! bahkan aku pernah merencanakan secara matang untuk membunuh kalian berdua. Itachi-nii dan juga wanita bersurai merah itu. Aku berpikir, akan lebih baik jika aku benar-benar menjadi anak yatim piatu, dibandingkan hidup di keluarga seperti ini."
Itachi menoleh kesamping. Onyx hitamnya terpaku pada sepasang bola sapphire indah sewarna langit musim panas milik kekasih pirangnya.
"Tapi setelah pagi itu, saat Itachi-nii merebut ramen edisi spesial milikku. Aku menyadari sesuatu. Bukan hanya aku yang menderita. Penderitaan Itachi-nii juga lebih berat, bahkan jika aku berada di posisimu, pasti sudah ada batu nisan yang bertuliskan namaku."
Itachi tetap diam. Pandangannya masih terfokus pada sepasang sapphire milik Naruto. Menebak seberapa dalam bola sapphire itu. Menebak apa yang selama ini tersembunyi didalamnya.
"Jadi maukah Itachi-nii berjanji sesuatu?"
Itachi tanpa sadar mengangguk. Apapun akan dia lakukan untuk kekasih pirangnya.
"Menikahlah denganku. Hiduplah bersamaku sampai ajal menjemput. Jangan lepaskan aku apapun yang terjadi."
Itachi terkejut. Tentu saja, seumur hidupnya baru kali ini dia merasa begitu di cintai oleh seseorang. Tapi bukankah ada yang aneh –
Pletak
"Ittaii yooo Itachi-nii! kenapa memukul kepalaku!"
Itachi tersenyum jahil lalu mengacak pucuk surai pirang Naruto dengan gemas.
"Kamu masih anak bau kencur tapi sudah membahas masalah pernikahan. Pikirkan juga masa depanmu, bocah!"
Naruto menggembungkan kedua pipinya. Merajuk.
"Lagi pula, melamar itu tugas laki-laki. Dan aku akan melamarmu setelah kamu lulus. Jadi fokuslah pada sekolahmu. Mengerti?"
Naruto tersenyum mendengar ucapan Itachi. Hanya bersama dengan Itachi saja sudah membuatnya nyaman. Tidak ada hal yang perlu dia khawatirkan. Mereka pasti akan bisa melalui masalah yang datang bersama-sama. Naruto yakin itu.
"Aku mencintaimu, Naruto."
Blush
Wajah Naruto sukses memerah mendengar pernyataan cinta Itachi yang begitu mendadak. Naruto bisa melihat dengan jelas kedua mata Itachi yang terpejam saat senyuman itu tergambar jelas di wajah tampannya. Menghela nafas sejenak, tidak lama Naruto mengangguk, meyakinkan dirinya sendiri. Entah untuk apa. Namun tidak lama kemudian Naruto mendekatkan wajahnya kearah Itachi. Dengan mata terpejam, Naruto menempelkan bibirnya di atas bibir Itachi. Membuat laki-laki raven itu tersentam kaget. Tapi saat melihat kedua kelopak mata Naruto yang terpejam akhirnya Itachi membalas ciuman Naruto. Kedua tangan Itachi bergerak kearah pinggang Naruto yang mengangkatnya untuk membuat tubuh Naruto berada dipangkuannya.
"Hmm Itachi-nii."
Desahan Naruto hampir saja menghilangkan rasional Itachi yang berada diambang batas. Beruntung sisa-sisa kewarasan itu berhasil menghentikan nafsu Itachi pada perempuan pirang itu. Jika tidak sudah di pastikan bahwa Naruto akan merubah status perempuannya menjadi wanita.
Ciuman itupun terlepas. Naruto memandang sayu kearah Itachi. Membuat kabut nafsu hampir saja mengambil alih kewarasan Itachi.
"I Love You too. Itachi-nii, zutto zutto."
Bolehkah Itachi egois kali ini? Tolong jangan ambil Naruto. Biarkan Itachi bahagia. Tidakkah Itachi juga pantas mendapatkan kebahagiaannya?
TBC
