Okay, ini cerita kedua. Mungkin upload ceritanya bisa cepat atau bisa lambat, kebetulan aja lagi mood dan rasanya belum tenang kalau belum menampilkan konflik inti. Seperti yang saya bilang kemaren, tag pairing akan saya ubah per chapternya menyesuaikan dengan cerita terbarunya.

Chapter 2

Kotori

"bye, honoka chan, mata ashita ne" kotori melambaikan tangannya pada honoka saat mereka akan berpisah untuk pulang kerumah masing masing. Honoka hanya menjawab dengan "nn" dan sedikit anggukan ditambah senyum hambarnya, tangannya melambai pelan padaku.

Aku merasakan ada yang aneh dengan honoka hari ini, tadi pagi dia seperti orang yang tidak tidur semalaman, dan porsi tidurnya dikelas juga lebih banyak dari hari biasanya. Saat aku pulang dengannya, dia lebih banyak diam dan seperti ada yang mengganggu pikirannya. Aku coba percaya dengan alasannya kalau dia emang lagi kurang semangat gara gara kurang makan. Tapi apa benar begitu?

Aku cukup kaget saat dia mulai bertanya tentang orang yang kusukai, apa honoka sedang menyukai seseorang dan ingin curhat padaku makanya tingkahnya jadi aneh? Itu hanya pemikiranku saja, tapi aku merasa itu ada benarnya. Ngomong ngomong soal orang yang disukai, atas desakannya akhirnya aku menceritakannya pada honoka. Aku terlalu semangat menceritakannya sampai akhirnya kami harus pulang malam, hehe. Sebelumnya aku tak yakin akan berbagi cerita dengan honoka tentang dia, tapi saat kata pertama terlontar dari ku, aku tak bisa berhenti mengutarakan kekaguman ku padanya, pada Umi.

Yaps, umi. Aku sudah mengaguminya dalam setahun ini, ini berawal saat kami bertiga merencanakan untuk naik gunung bersama saat liburan musim panas tahun pertama kami di SMA. Tapi sayangnya keluarga honoka dapat begitu banyak orderan dari costumer nya sehingga honoka harus membantu keluarganya dan tidak bisa ikut bersama kami. Awalnya umi membatalkannya karna tak akan asyik kalau salah satu dari mereka tidak ikut. Aku hampir setuju dengan keputusannya sampai aku teringat bahwa setelah hari ini dan esok umi tak lagi punya waktu senggang karna harus focus membantu orang tuanya di dojo mereka. Aku tau seberapa besar keinginan umi untuk dapat pergi dan seberapa besar tekad dan semangat yang ia kumpulkan untuk esok. Aku juga bisa merasakan raut wajah kecewa umi saat bilang akan membatalkannya. Karna tak sanggup melihat pemandangan kekecewaan itu aku meminta umi tidak membatalkannya dan kami bisa pergi berdua saja, aku menyatakan kesediaan ku walau hanya berdua dan meyakinkan umi kalau aku tak akan keberatan. Cukup lama jeda yang diberikannya atas permintaanku, umi berpikir sambil memegang dagunya dengan tangan kanannya sampai akhirnya wajahnya kembali tersenyum dan mengatakan "baiklah, arigatou kotori"

Sampai saat itu perasaanku padanya masih sebatas sahabat. Apa yang terjadi berikutnyalah yang membuat ku jatuh cinta padanya. Kami janji bertemu di stasiun jam 5 pagi, aku sengaja datang setengah jam lebih awal karna ku pikir akan menyenangkan bisa melihat wajah bersalah umi karna membuat aku menunggunya. Tapi tak susangka dia sudah ada disana, berdiri dengan tas besarnya dan setelan mendaki gunungnya. Terlihat girang sekali walau umi hanya diam saja mematung disana.

Dibandingkan tas nya yang besar itu tas ransel ku benar benar tak ada apa apanya. Kemaren dia hanya menyuruhku bawa pakaian ganti, jaket dan makanan instan saja, jadi ku pikir akan cukup. Tapi setelah melihat ransel yang digendongnya aku mulai berpikir, apa saja yang dibutuhkan untuk mendaki? Dalam benakku mendaki gunung adalah kegiatan jalan santai dengan jalan menanjak. Benar, awalnya aku mendapati diriku mendaki jalanan menanjak saja sampai akhirnya kami mulai memanjat berpegangan akar pohon atau apa yang dapat di raih dan merayap seperti anak bayi karna jalanan gunung tak semulus yang ku bayangkan, benar benar tidak rata dan di suatu titik cukup licin untuk membuat ku terpelesat beberapa kali.

Aku benar benar sangat letih dengan rutinitas ini dan banyak menghabiskan waktu untuk jeda, aku mulai sadar kalau aku merepotkan umi, dia harus mengurusku belum lagi tas besarnya itu tak terlihat enteng baginya. Dia banyak mengeluarkan keringat dibandingkan denganku, tapi saat aku hampir menangis begini karna sudah tak tahan lagi, dia masih bisa memberikanku senyumannya. Dia duduk di sebelahku dan memegangi tanganku. Pandangan jauh kedepan dan bilang "kalau ga sanggup lagi kita sampai sini saja" dan seutas senyumnya menyambangi penglihatanku. Saat itu aku merasakan perasaan yang aneh, jantungku berdetak kencang, tapi aku yakin bukan karna aku lelah, aku hanya tak tau saat itu tentang apa yang aku rasakan.

"aku ga mau berhenti, ini bahkan baru sebentar kita berjalan, umi chan, aku ga selemah itu" aku mencoba meyakinkan umi dan kembali dengan posisi tegak. "ngomong ngomong boleh aku mencoba menbawa tas mu?" yah, dari awal aku sangat penasaran seberapa berat tas yang dibawanya itu.

"ga usah" umi ikut berdiri dan masih memegangi tanganku.

"kamu meragukan ku, umi chan?" ku lepaskan tanganku darinya dan mengambil posisi berhadapan dengannya.

"beneran, ga usah" umi mencoba menghindari melihat kearah ku

"kamu mau aku melakukannya?" sedikit senyum jahilku merekah.

"melakukan apa?" umi tampak bingung, sesaat kemudian tampak dia mengerti apa yang akan terjadi tapi itu sudah telat karna aku sudah mengepalkan tanganku di dada, mataku sudah ku setting biar tampak mengiba, saat aku mulai mengatakannya "oneg…." Umi dengan sigap menutup mulutku dengan telapak tangannya, membuatku tak bisa menyelesaikan aksi ku. Aku sedikit terkaget, begitu pun umi "maaf, tanganku kotor, tadi reflex" dia menarik tangannya dari mulutku dan menyapukannya pada celana nya, tampak ekpresi bersalah dari wajahnya, imut nya. Aku sadar kemudian dengan kata "kotor" dan reflex melap mulutku dengan tanganku sampai akhirnya aku juga sadar tanganku juga kotor. Hal ini membuat wajahku terutama di bagian mulut terkena noda lumpur, ah, aku yakin pasti mukanku udah kayak badut, aku memukul umi di bahunya "umi chan, kamu jahat banget". Yang dipukuli bukannya merintih malah tertawa. "maaf, kotori, maaf"

"aku ga mau maafin kamu" aku melipat tanganku di didada dan memalingkan wajahku darinya membentuk pose orang lagi ngambek.

Umi kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku celana nya, dan melap kan tisu basah di bagian wajahku yang kena lumpur. "maaf, maaf" katanya sambil terus melapkan tisu itu di sekitaran mulutku, wajahnya dekat sekali, aku dibuat beku sesaat dengan tindakkannya.

"nah, sudah cantik lagi" umi menarik wajahnya dari ku, mengambil tanganku untuk kemudian juga dibersihkannya, aku tak tau berapa lama itu berlangsung, saat aku sadar, tanganku juga telah bersih dan aku lihat umi sedang membersihkan tangannya juga. Aku mendekatinya "eh, udah sadar? Kirain tadi tidur sambil berdiri" seutas tawa kembali menghiasi wajahnya.

Aku kembali dibikin jengkel dengan katanya "mana mungkin. Dan umi chan, aku masih belum memaafkanmu" ucapku pura pura ngambek.

"eh?" umi menghampiriku "bagaimana caranya biar aku termaafkan?" pintanya

"sini, biar aku bawa tas mu" sepertinya aku berhasil membuatnya menuruti ku.

Umi menyerah dan meletakkan tas besarnya di tanah "okay".

Aku berikan ransel ku pada umi dan mencoba membawa tas besarnya. Tasnya sama sekali tak bergeming saat aku akan berdiri dari posisi dudukku. Tampak umi senyam senyum tapi saat ku pandang dia, dia pura pura bersikap normal. "kamu mengejekku?"

"g kok" kilahnya memalingkan wajahnya dari ku.

"lihat saja, aku akan membawanya" tekadku.

Saat ku kerahkan semua tenaga ku untuk berdiri, tapi yang ada kakiku tak dapat menahan tubuhku dan terpeleset jatuh. Umi tak dapat menahan tawanya, dia menghampiriku dan membantu ku berdiri masih dengan tawanya itu yang membuat ku kesal.

"umichan, kenapa kamu malah ketawa, umichan kamu kejam sekali hari ini" rajukku. Ku raih tangannya dan berdiri tanpa ranselnya.

"haha, habisnya kamu keras kepala sih, dibilang jangan, juga" dia menuju ranselnya, terlihat aneh saat dia mau menyandang tasnya, dia tidak duduk untuk kemudian berdiri untuk mengangkat tasnya, dia malah menunduk melingkarkan tangannya pada ranselnya, melemparnya ke atas dan hap, tas itu sudah ada dipunggungnya. Aku hanya bisa melongo. "kenapa?"

"kamu ga bilang caranya begitu" aku masih merajuk.

"lah kamu ga nanya" jawabnya enteng, dia menghampiriku dan menggenggam tanganku, "yuk, lanjut"

Berikutnya aku hanya diam mengikutinya. Bosan dengan suasana hening, akhirnya kutanyakan yang sedari awal ingin kutanyakan

"emangnya tas nya ga berat?"

"hm, berat kok"

"isinya apaan sih?"

"eto.. tenda, matras, sleepingbed, tali, selimut, air minum, makanan, lampu senter, handuk, tisu, hm..dan banyak lagi benda benda kecil kayak pisau dan semacamnya"

"hah, sebanyak itu? Apa semuanya diperlukan"

"lihat aja nanti" balasnya enteng. "hm..kayaknya udah mulai gelap, kita berhenti bentar lagi dan diriin tenda, gimana?"

"terserah kamu aja"

Umi membongkar tasnya dan mulai mendirikan tenda, dia memintaku untuk menyiapkan makan malam dengan kompor kecil yang dibawanya, setidaknya aku bisa berguna walau g bisa diriin tenda sepertinya. Saat udah g bergerak lagi kayak sekarang, hawa dinginnya mulai menusuk tulang, dan jaket yang kubawa rasanya tak sanggup lagi mengusir dingin yang terlampau, bahkan walau sudah di depan api unggun yang dibuat umi, dinginnya tak kunjung berkurang.

Saat rasanya aku ingin menyerah dengan dingin ini, umi datang dan duduk disebelahku, dia sangat dekat menempel padaku. Tangannya lalu meraih sesuatu disebelahnya dan menutupi tubuh menggigil kami dengan selimut tebal.

"gimana?" tanyanya

"mm..udah mendingan daripada tadi" jawabku agak malu.

"tenda udah jadi, makan udah siap, mau ngapain lagi?"

"umi chan disini gelap sekali, apa kamu ga takut?"

"kamu takut?"

Aku mengangguk membenarkan. Umi lalu kembali mencari tanganku untuk dipegangnya. "kalau gitu, jangan lepasin tangan ku" dan dia pun tersenyum.

Aku ga tau lagi sudah berapa kali senyumannya itu dan tindakan tindakannya hari ini yang bikin aku jantungan, kenapa dia begitu manis hari ini. Berada di dekatnya saat ini benar benar terasa nyaman dan membuat ku betah, rasanya ingin terus seperti ini.

"kotori, kita pindah kedalam tenda aja, nanti kalau tidur disini biasa masuk angin" umi bangkit, masih menggenggam tanganku. Aku mengikutinya masuk ketenda. Aku lebih banyak diam malam itu dan menuruti setiap instruksi yang diberikannya, malam itu ntah kenapa aku begitu terpesona dengan semua perlakuannya padaku. Malam itu, tanganku tak pernah lepas darinya.

Kisah setahun yang lalu itu benar benar salah satu kenangan paling indah dalam hidupku, walau beberapa hari setelah mendaki itu saat ku Tanya umi seberapa jauh kami mendaki, dengan enteng umi menjawab "bahkan kita g sampai sepertiga menuju puncak" lalu dia tersenyum "tapi itu sudah cukup karna aku sangat senang kotori mau ikut denganku".

Bersambung…

Sebenarnya saya ga maksud buat flashback, tapi keterusan, akhirnya konflik kotori jadi tertunda. Bocoran, kotohono bukanlah pairing utama di kisah ini, begitupun kotoumi. Silahkan tebak sendiri siapa pairing utama disini, hehe. Okay berikutnya mungkin akan ambil sudut pandang Umi