Setibanya personil-personil Connect Three itu tiba di hotel tempat mereka tinggal selama tiga hari di Australia, Shane menghempaskan dirinya ke atas tempat tidur. Jason segera menyalakan kran air hangat dan berendam. Sedangkan Nate melepas kedua sepatunya dan berganti baju.
Shane keluar kamar mandi hanya memakai celana panjangnya namun bertelanjang dada.
"Eh… hai guys. Salah satu orang dari agen kita akan mengirimkan Elvis segera. Kurasa ia tak tahan ditinggal sendirian oleh pacarnya," ujar Shane sekaligus menggoda Nate.
"Apa?!" Nate terkejut. "Anjing betina mana yang bisa merebut hatinya?"
"Umm… Nate," Shane mengernyit pada Nate sambil menyambar kaus hitamnya dari atas tempat tidur. "Sebetulnya yang kumaksud pacarnya itu kamu."
Nate menghela napas. "Aku kira… Elvis memang sedang dalam masa puber…" Jason yang ikut mendengarkan tertawa-tawa sendiri. Shane selesai memakai kausnya dan sekarang ia mengusapkan gel rambut ke rambutnya dan ikut tertawa juga. Nate memasang muka jengkel lalu menaruh gitar akustik miliknya ke pahanya lalu mulai asal-asalan memetik senar agar ia tak bisa mendengar suara tawa kedua rekannya.
Paginya, mereka bangun pagi-pagi sekali tepat ketika matahari masih berada di ufuk Timur. Mereka keluar hotel dengan pakaian olahraga lengkap, kaus olahraga tanpa lengan, celana training, handuk kecil di leher dan ikat kepala.
"Olahraga berpengaruh lho, pada penampilan kalian nanti," ucap Big Rob memberi mereka nasihat. Ketiga-tiganya tersenyum menanggapi apa kata body guard-nya yang memang benar bertubuh besar.
Sepulangnya mereka olah raga, Big Rob membeli sebuah koran di sebuah toko kecil pinggir jalan. Penjaga toko koran itu tertegun melihat tiga orang cowok tampan berkeringat yang menyertai pembeli bertubuh besar itu. Ia memanggil anak perempuannya yang masih belia, "Alicia! Alicia! Cepat, sini!" seru sang penjual. Tak lama kemudian seorang gadis kecil membawa sejumlah uang lalu menyerahkannya pada sang penjaga toko yang masih menatap tak percaya. "Ini, kembaliannya."
Big Rob mengambil uang itu dari tangan sang penjual dan memasukkannya ke dalam kantong.
"Big Rob, cepatlah! Kurasa mereka berdua itu tahu siapa kita!" bisik Jason lalu ia memandang ke kanan dan kiri memastikan tak ada yang akan mengejar-ngejar mereka. "Aku butuh mantra jampi memori!"
Sebenarnya gadis kecil bernama Alicia itu sadar bahwa itu Connect Three. Sayangnya saja ia bukan salah satu fans dari mereka. "Terimakasih sudah berkunjung," ucap Alicia ramah tanpa sekalipun memandang mereka kagum. Big Rob dan ketiga personil Connect Three yang basah keringat itu berbalik badan sampai penjaga toko itu berseru, "Hei, tunggu! Bisakah kalian meninggalkan tanda tangan di sini? Ya, aku akan memajangnya di tokoku," katanya seraya menyodorkan spidol dan kanvas. "Tentu," jawab Shane cepat, menyambar spidol dan menggoreskannya di atas kanvas. Begitu juga Nate dan Jason. Setelah selesai mereka buru-buru pergi tanpa mengatakan apa-apa. Penjaga toko itupun melotot menatap tak percaya pada goresan tiga tanda tangan di atas kanvasnya. Ia bisa membuktikan pada orang-orang bahwa Connect Three pernah membeli Koran di tokonya.
Setelah berlari-lari di sekitar lingkungan hotel, Jason merasa perutnya meratap kesepian. Ia butuh sesuatu yang bisa mengisi kehampaan perutnya. Maka mereka berempat memutuskan untuk mampir sebentar untuk makan. Dikatakan makan siang juga tidak, karena waktu masih menunjukkan pukul setengah dua belas siang. Big Rob sekarang menyambi dua peran untuk Connect Three. Body guard dan penasihat. Ia ingin Connect Three tampil maksimal nanti. Maka itu ia memaksa Shane, Nate dan Jason untuk makan sesuatu yang dulunya berfotosintesis.
"Aku pesan salad, pasta dan kroket bayam merah," kata Shane sambil membaca daftar menu. "Makanan rumahan ini sangat mengingatkanku pada tetanggaku di Kanada yang cantik itu…" ia menurunkan daftar menu dari pegangannya, lalu ia memandang langit-langit dengan pikiran yang entah ada di mana dan tersenyum-senyum.
"Oh… jangan mulai, Shane!" seru Nate dengan membanting daftar menu ke meja sebagai pelampiasan.
"Aku kira Mitchie benar-benar mengubah sikapnya… aku benar-benar ingin memasukkan Shane ke Alcatraz…" timpal Jason. Nate seakan tak memedulikannya, tetapi Shane mendengar perkataan Jason.
"Alcatraz? Memangnya, penjahat apa aku ini, heh?!" Tanya Shane agak jengkel dengan muka menantang. Kesan cool-nya hilang seketika.
"Shane bukan penjahat wanita… tapi dia memang buaya… yang setia pada seribu gadis… Shane hanya mencintai… umm… mencintai…" Jason menyanyikan salah satu lagu milik Irwansyah tapi kemudian tak bisa meneruskan liriknya karena tak tahu siapa sebenarnya orang yang Shane cintai. Nate kelihatan setuju dengan Jason karena sepanjang Jason bernyanyi ia mengangguk-anggukan kepala dan jarinya mengetuk meja mengikuti irama lagunya.
"Sudahlah Jason, jangan dipikirkan. Kadang-kadang aku juga bingung sendiri sama Shane, dia itu buaya darat atau buaya air tawar. Banyak cewek mengeluhkan sifat 'buaya' Shane padaku. Tapi aku lebih yakin kalau dia bukan buaya. Dia lebih terlihat seperti kuda nil," kata Nate sambil melirik Shane yang sedang menguap lebar sekali lalu ia mengambil kembali daftar menu makan siangnya.
"Oh ya, Nate," ucap Jason diiringi tolehan Nate. "Aku semakin merasa seperti… seperti herbivora di restoran ini. Memakan semua makanan tanpa daging. Tapi aku bersyukur kita tidak usah makan langsung dari pohon. Kau tahu? Kadang-kadang aku membayangkan diriku seperti jerapah."
Seharian itu mereka, personil Connect Three merasakan menjadi tiga ekor herbivora. Jason menjadi jerapah, Shane menjadi rusa dan Nate menjadi gajah (ia ingin mendapat bagian jadi gajah karena ingin melindas Shane jika ia terus mengoceh tentang cewek). Diawali dengan pagi yang basah karena keringat yang menempel di seluruh badan disebabkan lari pagi, lalu makan siang dengan makanan-makanan berklorofil.
