FT Island Fan Fiction
Mr. Cassanova
©MikiHyo
.
Cast : FT Island, Kira Akegawa, Kazu Uzumi, Miki Amakura, & Other Cast
Genre : Romance, Comedy(?), Friendship
Length : Part
.
Part 2
.
***
Jonghun POV
Aku melihat jam tanganku. Jam 12.30 siang. Kami datang tepat saat jam makan siang, pantas saja seluruh kantin ini dipenuhi oleh murid-murid lain. Entah membeli makan atau membeli waktu untuk melihat kami. (=_=)
"Hyung, kapan ujianmu mulai?"Minhwan memulai pembicaraan sambil mengunyah menu makan siangnya yang dipenuhi dengan berbagai lauk 'Ayam'
"Hey…kami baru saja naik kekelas 3…kenapa langsung ditanya soal ujian? Mana mungkin aku tahu! Sepertinya kau ingin sekali aku segera keluar dari sekolah ini~"gerutu Hongki sambil mencucukan bibirnya cemberut kearah Minhwan.
"Hehe..aku sudah bosan bersamamu, sejak SD…"tawa kecil Minhwan. Hongki-pun langsung menjitak kepalanya.
"Hyung! Kau suka sekali memukulku~"sekarang giliran Minhwan yang menggerutu kepada Hongki.
"Memang~ kau selalu pantas untuk kupukul"ledek Hongki sambil menjulurkan lidahnya. Minhwan hanya diam cemberut.
"Setelah ini kita ada pelajaran olahraga, Hongki…cepat habiskan makananmu"ucapku sambil menatap Hongki.
"Apa? Olahraga? Ya ampun…dihari panas seperti ini? Malasnya~"keluh Hongki sambil menghela nafas panjang.
"Hyung~ kalau kau saja malas olahraga, bagaimana kau tidak sering sakit?"Minhwan membalas Hongki.
"Heh! Kau itu…! Benar-benar menyebalkan~"gerutu Hongki.
Aku-pun langsung menarik kerah baju Hongki saat melihat makanannya memang sudah tidak ia makan lagi.
"Ayo…kau mau kita 'dicegat' kalau tidak duluan ke ruang ganti…"ucapku sambil menarik Hongki. Maksud dari kata-kataku adalah, dikerubungi oleh murid-murid perempuan yang pasti memberikan air ataupun sebagainya sebelum kami olahraga.
"Jo..Jonghun! Tunggu dulu! Pelan-pelan…uhuk..uhuk.."sepertinya Hongki sedikit tersedak. Siapa suruh makannya lama!. (==)
"Hyu..hyung~ tunggu sebentar! Aku ikut!"seru Minhwan yang langsung mengejar kami. Aku-pun membalikkan badanku.
"Minan~ kau juga setelah ini ada kelas-kan? Kembali kekelasmu sekarang"perintahku.
Minhwan hanya menunjukkan wajah cemberutnya.
"Jonghun benar. Kau jangan bolos lagi! Atau nanti kupukul"sambung Hongki yang sudah bebas dari cengkramanku.
"Hyung…"wajah Minhwan memelas. Aku tahu ia pasti bereaksi seperti ini, sudah sifatnya. Aku-pun membalikkan badanku dan meninggalkanya.
"Cepat kembali kekelasmu!"seru Hongki sebelum ia berlari mengejarku.
.
***
Kira POV
Aku kembali ketempat dudukku, begitu juga teman-teman sekelasku. Setidaknya mereka sudah kembali normal sekarang setelah keributan '3 pujaan' barusan. Tentu saja, jam pelajaran siang sudah hampir mulai, tidak mungkin-kan mereka a uterus berteriak-teriak seperti tadi.
Sraaak. Tiba-tiba saja seseorang membuka pintu kelas dan masuk.
"Minhwan!"seru beberapa orang saat melihat orang itu masuk kedalam kelas. Kelas-pun kembali gaduh saat lelaki 'Baby Face' itu masuk kedalam. Tapi tentu saja tidak segaduh tadi, kalau iya berarti sekolah ini gila. (=_=)
"Minhwan, kau baru datang?"sapa beberapa murid lelaki dengan ramah. Aku-pun melihat kearah orang tersebut.
"Ah, iya"jawabnya dengan senyum ramah. Ia-pun berjalan…mendekatiku? Lelaki itu melirikku sekilas.
"Eh?"kagetku dalam hati.
Ia benar-benar berjalan kearahku, dan berhenti didepanku-agak didepanku. Ia-pun duduk dibangkunya. Tenyata bangku miliknya tepat berada didepanku.
"Minhwan…"senyum hampir seluruh perempuan dikelas.
"Hai~"sapanya ramah, membalas senyuman teman-teman sekelasku.
Aku masih menatap setengah punggungnya sekarang, karena ia duduk agak miring untuk menyapa semua teman-teman sekelas. Tiba-tiba saja ia melihat kearahku.
"Ng? Murid baru? Halo~"sapanya ramah dengan bahasa Jepang. Sepertinya ia tahu aku orang Jepang.
"Hai! Aku bisa bahasa Korea-kok"balasku sambil berusaha tersenyum. Jujur saja aku kurang suka tersenyum dengan orang yang baru (sekali) kukenal, apalagi kalau orang itu tenar seperti dia.
"Oh begitu. Baguslah, aku juga hanya bisa bilang Halo. Kenalkan aku Choi Minhwan"ia mengulurkan tangan kanannya sambil tersenyum.
Aku-pun menjabat tangannya.
"Akegawa Kira"jawabku singkat.
"Aah…Kira-chan? Boleh aku memanggilmu seperti itu? Itu panggilan dekat di Jepang-kan?"senyumnya.
Mendengar kata –chan, senyum dibibirku langsung menghilang. Berubah menjadi senyuman setengah memaksa, walaupun dari tadi juga sudah memaksa. (=_=)
"Maaf…aku kurang suka dengan –chan. Cukup Kira saja…kalau kau mau"senyumku tipis.
"Aah…maafkan aku kalau begitu. Baiklah, Kira~"lagi-lagi ia hanya tersenyum. Membuat wajah 'Baby Face'nya itu semakin terlihat. Setidaknya begitulah pikiranku.
Semua murid langsung kembali ketempatnya saat guru memasuki kelas. Minhwan-pun membalikkan badannya menghadap kedepan. Aku-pun merapikan posisi dudukku dan mengeluarkan buku-buku pelajaranku.
"Psst~ Kira-san…"panggil Mario yang duduk disampingku dengan bisikan.
"Ada apa?"tanyaku bingung. Dengan berbisik juga.
"Kau beruntung sekali diajak bicara olehnya duluan"senyum Mario.
Aku menaikkan alisku, menatapnya bingung.
"Dia?"bisikku sambil melirik kearah Minhwan.
Mario hanya mengangguk pelan dan mengedipkan sebelah matanya. Kemudian menatap kembali buku pelajarannya.
Aku-pun menghela nafas panjang.
"Ya ampun…ada apa ini? Ini seperti cerita-cerita di komik saja…"pikirku dalam hati. Aku mulai memperhatikan apa yang Guru ajarkan sekarang. Walaupun pikiranku belum sepenuhnya berkonsentrasi dengan pelajaran, karena salah satu 'Pujaan' di depanku ini. Baiklah, dia tampan. Mungkin lebih tepatnya imut, karena 'Baby Face'nya itu. Dan tentu saja dia salah satu dari Pujaan sekolah. Mungkin ini 'sedikit' keberuntungan, aku sekelas, duduk dibelakangnya (sangat dekat), dan diajak bicara olehnya. Setidaknya pasti itu pikiran murid-murid lainnya terhadap seorang Akegawa Kira.
.
***
Author POV
"Ash…dia lama sekali~ apa yang dilakukannya sih?"gerutu Miki sambil mengoyang-goyangkan kakinya dengan kencang, menunggu temannya Kazu datang.
"Pelajarannya belum selesai ya? Aku tidak tahu dia dikelas berapa.."sambung Kira dengan wajah malasnya. Mereka berdua menunggu didepan gerbang sekolah.
"Oh iya, kau sendiri dikelas berapa? Aku dikelas 1-C"ucap Miki.
"1-F"singkat Kira.
"1-F? Ah! Kau…sekelas dengan salah satu pujaan itu ya? Aku lupa namanya"seru Miki tiba-tiba sambil menunjuk-nunjuk kearah Kira.
"Choi Minhwan? Iya, aku sekelas dengannya. Ada apa? Jangan bilang kau suka dengannya?"tanya Kira dengan raut wajah heran.
"Aah! Bukan begitu! Dia itu yang mengejar pencuri tasku kemarin.."jelas Miki.
"Hee? Kebetulan sekali"sahut Kira dengan nada datar.
Miki-pun melangkahkan kaki semakin mendekati Kira.
"Aku juga kaget sekali tadi. Ternyata dia murid sekolah ini…bahkan salah satu pujaan sekolah"ucap Miki dengan mata berbinar-binar.
"Yah..kau benar. Dia bahkan mengajakku mengobrol tadi, walaupun hanya sekedar sapaan. Kau tahu? Kupikir ini seperti cerita-cerita di Komik…"ucap Kira.
"Hee? Kau benar juga, sepertinya bagus untuk ide membuat komik"senyum Miki dengan penuh semangat. Matanya melihat kearah langit dengan senyuman 'penuh maksud'
"Ash…kau pasti berkhayal lagi. Justru aku tidak suka situasi ini. Berlebihan!"gerutu Kira sambil menatap Miki.
"Yah..tidak ada salahnya-kan~"Miki semakin tersenyum senang. Mungkin saja terlintas ide-ide kreatif untuk ceritanya kali ini, atau hanya sekedar berkhayal. Kira-pun hanya bisa memutar bola matanya dan menghela nafas panjang menghadapi Teman Otaku*-nya itu. *Tergila-gila pada sesuatu*
.
***
Kazu POV
Aku baru saja selesai dengan kelasku. Ada sedikit urusan dengan wali kelas, karena itu kelasku terlambat keluar kelas.
Kulihat layar Handphoneku, ada pesan dari Miki.
Kazu, kami menunggumu didepan gerbang. Aku sudah bertemu Kira, cepat kemari kalau pelajaranmu sudah selesai.
Miki
"Aah..aku lupa. Aku yang pegang kunci rumah, aku harus segera menemui mereka"ucapku sambil melihat kunci yang sedang kupegang. Aku-pun langsung mengambil tas dan keluar dari kelas. Aku berjalan bersama beberapa teman-teman sekelasku. Termaksuk Suhee dan Xia Mei. Tiba-tiba langkah kami terhenti saat kami melintas didepan Mading sekolah.
"Aah…klub mading memasang foto mereka!"seru Xia Mei sambil melihat Mading. Suhee-pun ikut menatap tajam Mading tersebut.
"3 pujaan sekolah?"gumamku saat melihat Mading memasang foto ketiga lelaki terpopuler disekolah. Choi Jonghun, Lee Hongki, Choi Minhwan.
"Aah…aku suka semuanya. Tapi aku paling suka Hongki sunbae, aku tidak tahan melihat senyumnya~"ucap Suhee dengan mata berbinar-binar.
"Minhwan yang paling imut! Seumuran dengannya saja mungkin bisa dibilang beruntung, karena kita akan merayakan kelulusan kita bersama nanti"senyum Xia Mei.
"Xia Mei, kau-kan disini hanya setahun"sahut Suhee.
"Ah? Ya ampun…kau benar juga~ berarti aku tidak akan lulus bersamanya! Aahh~~"kulihat raut wajah kecewa terpampang di wajah Xia Mei. Sementara Suhee hanya tertawa kecil sambil meledek Xia Mei.
"Kalau begitu..yang ini namanya Choi Jonghun?"tanyaku sambil menunjuk salah satu dari foto pujaan sekolah.
"Yup! Itu dia. Ada apa? Kau menyukainya?"tanya Suhee sambil tersenyum.
Aku tidak menjawab. Aku masih memperhatikan foto Jonghun.
"Laki-laki ini bibirnya tersenyum, tapi matanya tidak. Ah…sepertinya ini foto lama, gaya rambutnya beda. Apa dia tegang saat difoto? Haha..lucu juga, sepertinya dia laki-laki polos"pikirku dalam hati. Tanpa sadar aku-pun tersenyum sendiri melihat fotonya.
"Hey! Kazu! Kenapa kau senyum-senyum sendiri? Jangan-jangan benar kau suka dengannya?"tanya Xia Mei bersemangat.
"Entahlah"senyumku diiringi dengan tawa kecil.
"Ash…mencurigakan. Ah! Sudah jam segini? Aku harus pulang!"seru Xia Mei saat melihat jam tangannya. Xia Mei-pun langsung menarik tangan Suhee dan berpamitan denganku yang masih berdiri didepan mading.
"Eh? A..aku juga harus segera pergi sekarang! Kira & Miki pasti sudah menunggu dari tadi!"aku juga baru sadar kalau aku-pun harus pulang.
Aku langsung berlari menuruni tangga. Melewati beberapa kelas. Terus berlari, dan…
Braakk!. Aku menabrak seseorang dibelokan tangga, orang itu langsung menjaga keseimbangannya sedangkan aku…terjatuh?
"Aaah..tidak! aku akan jatuh dari tangga!"aku menutup mataku.
Braaaak!. Terdengar suara terjatuh yang lebih keras. Tapi…kenapa aku tidak merasakan apa-apa? Bukankah yang terjatuh aku?
Aku-pun membuka mataku. Aku berada didepan dada(?) seseorang. Tubuhku serasa dililit oleh sesuatu.
"Aaah…"kudengar suara rintihan seseorang. Aku-pun tersadar. Aku berada dalam pelukan seseorang saat aku mendangakkan wajahku.
Lelaki anicrus merintih. Tunggu…aku mengenalnya. Choi Jonghun?
Aku-pun langsung keluar dari pelukannya.
"Ma…Maaf…kau…tidak apa-apa?"panikku dengan ucapan terbata-bata.
"Aaah…tanganku…"rintihnya.
"Kau terluka?"
"Bukan…tanganku..keram…."
"Hee?"
"Kau…berat juga…."Mendengar ucapannya itu, spontan aku-pun langsung meneriakinya.
"Kurang ajar!"teriakku tanpa sadar memakai bahasa Jepang.
"Hee? Kau…murid pertukaran yah?"ia berusaha bangkit sambil mengoyang-goyangkan tangannya.
"Aah! Aku memakai bahasa Jepang.."aku menutup mulutku. Jonghun masih menatapku.
"Maaf…kata-kataku barusan…"ucap Jonghun sembari meminta maaf. Aku-pun balik menatapnya. Kurasa aku juga tak pantas marah-marah sekarang, dia sudah menolongku. Mungkin saja memang aku berat. (=_=) Mungkin(?)
"Aah..i..iya, aku juga minta maaf sudah meneriakimu. Terima kasih sudah menolongku"ucapku dengan wajah malu. Ia-pun mengulurkan tangan kanannya padaku.
"Eh?"
"Kau bisa bangun? Tidak terluka-kan?"tanyanya ramah. Aku-pun meraih tangannya dan berdiri.
"Aku tidak apa-apa. Bagaimana denganmu? Kau terluka? Ah! Bajumu sobek!"kagetku saat melihat jahitan baju dipundaknya terbuka lebar. Jonghun melirik kearah pundaknya.
"Ah..tidak apa, sepertinya memang sudah waktunya ganti. Aku tidak apa-apa"jawabnya.
Aku menatap wajahnya. Jauh lebih tampan daripada difoto. Jantungku berdegup kencang, entah kenapa rasanya darahku mengalir lebih cepat dihadapan Jonghun.
"Kalau begitu aku duluan. Lain kali hati-hati"senyumnya sambil melangkahkan kakinya.
"Te..Terima kasih yah!"ucapku yang terus menatapnya. Ia hanya membalas dengan lambaian tangannya.
Tersadar akan sesuatu. Aku-pun kembali berlari menuju lantai dasar. Kira & Miki pasti menungguku!
Aku-pun terus berlari menuju gerbang. Kulihat Kira & Miki bersandar di gerbang sekolah.
"Kazu! Kenapa lama sekali?"Miki langsung berteriak padaku.
"A..ah! Maaf…"ucapku pelan sambil mengatur nafasku setelah selesai berlari.
"Kau tidak baca pesanku?"sahut Kira dengan nada kesal juga.
"Pesan? Miki mengirim pesan-kan? Kau juga? Ah..aku tidak tahu, Handphoneku di Silence dan ada didalam tas, aku tidak lihat pesanmu"jelasku.
"Aaaah…sudahlah. Ayo kita pulang sekarang"gerutu Kira. Aku-pun mengikuti langkah mereka.
"Maaf…tadi ada urusan dengan wali kelasku jadi terlambat"ujarku dengan wajah memelas.
"Tapi…tadi kulihat murid-murid lain sudah pulang, mereka pasti sekelas denganmu..karena hanya kelasmu yang terlambat. Oh iya, kau kelas berapa?"tanya Miki.
"Aku dikelas 1-A. Oh..ta..tadi…aku ke toilet sebentar"bohongku kepada Miki & Kira. Tidak mungkin-kan aku bilang, aku terlambat karena terpana dengan foto Pujaan sekolah di Mading tadi. Mereka akan semakin mengamuk kalau begitu. Dan juga…kecelakaan kecil tadi.
Lagi-lagi jantungku berdegup kencang saat aku mengingat Jonghun. Sedikit-sedikit wajahnya terlintas dipikiranku. Ada apa ini?
Setelah berjalan tak jauh, kami-pun tiba didepan apartemen kami.
"Eh?"panikku saat mencari sesuatu didalam tas.
"Ada apa?"tanya Kira & Miki serentak.
"Ku…Kuncinya…"lirihku pelan.
"Hee? Ja…jangan bilang…!"wajah Kira & Miki ikut anic.
"Tunggu..rasanya aku ingat sesuatu…"aku memikirkan soal dimana terakhir kali kunci apartemen itu berada. Ah! Sejak keluar kelas, kunci itu aku genggam di tangan kiriku. Dan mungkin…waktu aku terjatuh tadi. Kunci itu kecil dan tidak ada gantungan apapun, pasti terjatuh dan aku tidak menyadarinya.
"Aaah…aku rasa kunci itu jatuh saat aku berlari di lorong sekolah tadi…"ucapku dengan suara pelan dan wajah was was.
"Apa? Kita belum punya duplikatnya…ash…"Kira menghela nafas panjang.
"Aku benar-benar minta maaf. Aku akan kembali kesekolah dan mencarinya…"ujarku.
"Ash…baiklah, aku ikut"ucap Kira.
"Hee? Kalian pasti lelah dari tadi menungguku, kalian disini saja"ucapku.
"Akan lebih cepat dicari kalau orangnya banyak. Aku juga ikut"sahut Miki tiba-tiba.
"Ka..kalian..tidak marah padaku?"tanyaku dengan suara pelan.
"Marah-marah sekarang juga tidak ada gunanya"jawab Kira.
"Kira benar. Lagipula tidak pantas juga menyalahkanmu. Aku yang seenaknya memberikan kuncinya padamu"sambung Miki.
Aku langsung terdiam mendengar kata-kata mereka berdua. Mereka memang teman yang selalu mengerti kondisiku. Beruntung sekali aku punya orang-orang seperti mereka.
"Ka…kalian…"senyumku lirih.
"Sudahlah~ ayo cepat! Atau kita tidak bisa masuk ke rumah sampai besok"ujar Kira yang langsung menarik tanganku. Miki-pun mengikuti langkah kami berdua.
.
***
Jonghun POV
Kamar Jonghun
Aku baru saja selesai mandi. Kulihat seragamku masih tergeletak diatas tempat tidur. Aku-pun mengambilnya, bermaksud untuk menaruhnya di tempat pakaian kotor.
Cling. Tiba-tiba saja sesuatu terjatuh dari kantung baju seragamku saat aku mengangkatnya. Aku-pun melihat benda kecil bersinar tersebut dilantai dan mengambilnya.
"Kunci?"bingungku melihat sebuah kunci yang ada ditanganku. Aku-pun mengingat-ingat bagaimana bisa aku punya sebuah kunci, yang bahkan aku sendiri tidak tahu kunci apa itu.
Dan pikiranku langsung tertuju saat aku menolong gadis Jepang yang terjatuh dari tangga waktu dia menabrakku tadi sore.
"Tadi..aku memeluknya, dan kedua tangannya mencengkram baju depanku…jangan-jangan kunci ini terlepas dari genggamannya dan tidak sengaja jatuh ke kantung bajuku?"ucapku sambil bertanya-tanya.
"Jonghun!"tiba-tiba saja suara Hongki mengagetkanku saat ia menggebrak pintu kamarku dan berteriak Jonghun~~~~ Yah…seharusnya dia bisa berbicara sehalus itu.
"Hey! Jangan tiba-tiba masuk dan berteriak seperti itu!"kesalku sambil menatap Hongki yang datang dengan penuh senyuman. Senyuman yang membuat seluruh wanita terkesima oleh karismanya. Karena itulah titik Cuteness seorang Lee Hongki.
Hongki tidak memperdulikan omelanku dan langsung duduk dikasurku.
"Kenapa kau datang malam-malam begini?"tanyaku heran.
"Aku mau lihat PR-mu~~~"ucapnya dengan nada mendayu-dayu.
"Ck…kau-kan bisa kerjakan sendiri…"gerutuku sambil menghampiri lemari pakaianku dan mengambil baju yang bisa kupakai.
"Aaah…aku sedang malas membuka buku. Beberapa hari libur dirumah membuatku malas~"ucapnya lagi. Kali ini ia merebahkan tubuhnya diatas kasurku.
"Menyontek PR sama saja kau membuka bukumu juga-kan? Tidak ada alasan!"tegasku sambil mengganti pakaianku. (OxO) *Author nosebleeding membayangkannya*
"Jonghunnie~ aku mohon~~"pintanya dengan wajah memelas. Dan lagi-lagi ia mengeluarkan senjata ampuhnya. Senyuman.
"Ash…ambil itu diatas meja belajar!"ucapku sambil menunjuk buku PR-ku yang tergeletak dimeja belajar. Aku-pun luluh dihadapan Hongki, sahabatku sejak kecil. Di saat ia tersenyum dengan Smiled-Eye-nya itu, seluruh dunia pasti tunduk. Ah..kata-kataku berlebihan. Maksudku tiap orang yang melihatnya-pun tak berani berkomentar lebih. Kalian sendiri pasti bisa bayangkan bagaimana senyuman manis seorang Lee Hongki. *Itu benar Oppa! Author juga takluk!*
"Ah…kunci…"ingatku saat aku melihat kunci asing yang baru saja kutemukan.
"Kunci?"bingung Hongki yang masih menyalin PR-ku.
"Iya, aku rasa ini milik gadis yang menabrakku tadi"jelasku.
"Gadis? Ada yang mengejarmu lagi?"pertanyaan Hongki berlanjut. Tangannya-pun masih lanjut menyalin PR-ku. (=x=)
"Bukan. Sepertinya tadi ia terburu-buru, dan tidak sengaja menabrakku. Dan dia yang terjatuh dari tangga, untung aku sempat menolongnya. Aku rasa kunci ini tidak sengaja lepas dari genggamannya dan jatuh di kantung bajuku"jelasku lagi.
"Genggaman? Bagaimana bisa 'Genggaman' meraih kantung baju?"tanya Hongki dengan wajah bingung. Kali ini tangannya sudah berhenti menulis, lebih tepatnya menyalin. Hongki menatapku dengan wajah heran.
"Tadi aku memeluknya. Kedua tangannya mencengkram bajuku, jadi bisa saja kunci ini terlepas dari salah satu tangannya"ucapku dengan wajah datar.
"Wah…kau memeluknya? Ya ampun…kau memang baik terhadap semua wanita~"ledek Hongki sambil tersenyum setan(?)
"Kau juga tidak ada bedanya. Noona Killer~"aku membalas Hongki.
"Hey! Kau yang lebih cocok sebagai Noona Killer! Aah…Minan juga Noona Killer!"seru Hongki. Kali ini ia seperti anak kecil yang sedang adu mulut dengan teman sebayanya.
"Haahhh…"aku hanya menghela nafas panjang menanggapi kelakuan Hongki sambil merebahkan tubuhku diatas kasur.
Hongki-pun melanjutkan pekerjaannya (menyalin PR) dan aku masih terbaring sambil memejamkan mataku. Aku melihat kearah jam dinding. Jam 19.30.
"Hongki~ aku bosan~"ucapku dengan nada merayu. Hongki-pun langsung melirik tajam kearahku.
"Kau mau pergi 'kesana'?"tanyanya dengan senyum iblis(?)
"Aku sih memang niat mau pergi. Tapi kelihatannya kau sibuk menyalin PR, aku pergi sendiri saja"ucapku sambil bangkit dari tempat tidur dan mengambil jaketku. Hongki-pun langsung beranjak dari kursi dan berlari menghampiriku. Menarik-narik jaket dan lenganku sambil tersenyum merayu.
"Sudah selesai kok (sebentar lagi sih). Aku ikut! Kau tidak boleh meninggalkanku~"gerutunya cemberut. Aku-pun menatapnya malas.
"OK. Pakai mobilmu atau mobilku?"tanyaku singkat.
"Aku saja! Nanti aku langsung pulang. Tenang saja, aku akan mengantarmu pulang. Oh iya, aku telpon Minan dulu~"semangat Hongki yang langsung mengeluarkan Handphonenya dan menelepon Minan.
"OK. Dia minta kita menjemputnya, baiklah~"ia kembali menghampiri meja belajarku.
"Hey!"tegurku saat melihat ia mengambil buku PR-ku.
"Bukumu aku pinjam~ besok kukembalikan"ucapnya sambil tersenyum iblis.
"Ash…sudahlah! Ayo cepat!"ucapku yang langsung keluar dari kamar. Hongki-pun langsung berlari mengejarku.
Sudah saatnya. Pagi hari sudah kami lalui disekolah. Tidak ada salahnya-kan kami bersenang-senang sekarang? Mungkin para Noona itu sudah menunggu.
.
***
Kazu POV
"Aaaah…sudah dicari beberapa kali tidak ketemu juga. Jangan-jangan jatuh ditempat lain…"keluhku sambil menghela nafas panjang. Aku menatap Kira & Miki yang hanya menundukkan kepala dengan wajah lesu. Kami sedang duduk dibangku taman kota yang menghadap Jalan Raya besar. Mengistirahatkan badan kami setelah mencari kunci apartemen selama 1 jam lebih.
"Maaf yah…"ucapku lagi sambil menatap Kira & Miki.
"Hmm…ada yang bawa uang lebih?"tanya Kira tiba-tiba.
"Untuk apa?"bingungku.
"Menyewa hotel untuk semalam. Tidak mungkin-kan kita tidur diluar…"ucap Kira.
"Hee? Berarti kita tidak ganti baju? Lalu bagaimana besok? Kita-kan masih sekolah"kaget Miki.
"Aku juga tidak kepikiran untuk besok. Aku hanya pikir ala mini kita harus cari tempat untuk menginap dulu…besok kita izin saja"ucap Kira dengan nada ragu-ragu.
"Mana bisa begitu…ini masih hari pertama kita sekolah, tidak mungkin kita langsung izin. Bertiga lagi! Ash…ini semua salahku…"aku terus menggerutu sambil memukul-mukul kepalaku. Kira & Miki hanya menatapku sambil menghela nafas, tapi mereka tidak marah.
"Kalian ini…bukannya orang yang baru pindah kemarin?"tiba-tiba terdengar suara seseorang yang sepertinya berbicara dengan kami. Kami bertiga-pun mengangkat kepala kami dan menatap orang itu. Laki-laki tinggi kurus berpipi tembem sedang memandang kami bingung. Sepertinya aku pernah melihatnya.
"Benar-kan? Kalian murid pindahan dari Jepang itu? Sedang apa kalian disini?"tanyanya bingung. Aku masih menatap wajahnya. Mencoba mengingat-ingat siapa dia.
"Ah! Seunghyun?"teriak Miki tiba-tiba. Aku & Kira-pun langsung menoleh kearahnya.
"Oh iya…Seunghyun! Tetangga sebelah!"seruku menyahuti teriakan Miki.
"Iya. Masa kalian sudah lupa wajahku? Padahal baru beberapa hari bertemu"gerutunya sambil cemberut. Dia adalah Song Seunghyun, anak lelaki yang tinggal sendiri disebelah rumah kami. Umurnya sama dengan kami. Dia bersekolah di SMA Yudon.
"Kenapa kalian ada disini? Malam-malam begini…masih pakai seragam…"wajah Seunghyun masih terlihat bingung melihat kami bertiga seperti orang terlantar ditengah-tengah kota Seoul.
"Aaah…aku menghilangkan kunci apartemen. Kami mencarinya tadi disekolah, tapi tidak ketemu. Jadi kami tidak bisa masuk rumah…"jelasku dengan nada malas.
"Tidak ada yang punya duplikatnya?"tanyanya lagi. Kami bertiga hanya menggelengkan kepala.
"Hmm…ah! Minta saja pada pemilik apartemen, kalian pinjam kuncinya. Pasti dia punya"ucap Seunghyun dengan penuh semangat.
"Hee?"kaget kami serempak. Kenapa tidak kepikiran soal pemilik apartemen dari tadi?
"Ayolah cepat~ ini sudah malam. Kalian harus segera pulang, besok masih harus sekolah. Aku antarkan kalian menemui pemilik apartemen"senyum Seunghyun sambil menarik tanganku. Kira & Miki-pun ikut berdiri.
Seunghyun menarik-narik tanganku, sementara Kira & Miki hanya mengikuti langkah kami dari belakang.
Kami lewat didepan sebuah klub malam yang elit. Kulihat banyak wanita & pria dewasa berkeliaran disekitar tempat itu. Seunghyun masih menarik tanganku, sementara aku-Kira-dan Miki hanya berjalan menunduk dilingkungan orang dewasa itu.
"Rasanya aku tahu seragam mereka…bukankah itu seragam sekolah milik…"kudengar beberapa orang dewasa itu membicarakan kami. Mereka tahu seragam kami? Ah..tentu saja, ini-kan seragam sekolah terkenal.
Namun mataku langsung terbelakak saat melihat seseorang yang sangat kukenali berada dikumpulan orang-orang dewasa tersebut. Lelaki itu berjalan tepat disampingku. Sepertinya dia tidak melihatku juga Kira & Miki yang satu sekolah dengannya. Ia seperti sedang asik mengobrol bersama…wanita-wanita dewasa? (O_o)
"Jo…Jonghun?"teriakku tanpa sadar. Mataku masih terkunci pada lelaki yang baru saja lewat disampingku.
Kira & Miki yang terkejut mendengar teriakanku juga ikut menoleh kearah mataku tertuju. Seunghyun yang juga bingung-pun ikut membalikkan badannya.
Lelaki yang merasanya namanya kupanggil, lebih tepatnya kuteriakkan-pun langsung menoleh.
Ternyata benar-benar Jonghun. Penampilannya berbeda. Sangat berbeda dengan disekolah. Ia juga terlihat terkejut saat melihatku berdiri dihadapannya.
"Eh? Ke..kenapa ada murid MyeoungDam disini?"terdengar suara seseorang yang terkejut dari arah belakang kami. Kami-pun langsung membalikkan badan saat mendengar nama sekolah kami disebut.
"Kira?"kaget salah satu dari lelaki yang berdiri dihadapan kami juga. Mata Kira-pun terbelalak.
"Mi…Minhwan?"kaget Kira. Aku-pun terkejut saat melihat Hongki berada disamping Minhwan.
"Ah! Laki-laki yang mengejar si pencuri!"kaget Miki juga.
"Gadis Jepang yang waktu itu?"Minhwan-pun tak kalah kaget.
Mata kami sama-sama terbelalak. Tubuh kami benar-benar terkejut melihat satu sama lain.
3 Pujaan sekolah ada dilingkungan Klub Malam? Dengan penampilan berbeda, seperti orang dewasa(?)
.
.
To Be Continued.. (^_^)
Now Playing : FT Island – Love Must Have Come (I feel this is the right sec' ending song for this fiction)
.
Balesan Review :
MaxAberu: Jeongmal Mianhae! iya, kemarin aku gak ngerti cara edit"nya jadi berantakan banget, kena bold semua, hancur dah... =="
Gomawo yah udah R&R ^^ Ok, hwaiting!
