Vocaloid © Crypton Future Media, Internet, Yamaha, etc.

Fanloid & Utauloid © their respective owner. No commercial profit taken.

Warning kurang riset. Kesamaan ide harap dimaklumi.


Tipuan yang Salah

Oleh devsky

[02]


"Aku benci mereka."

"Kau membenciku?"

"Kautahu siapa yang sedang kubicarakan, Yuuma!"

Yang kudengar dari ujung sambungan adalah tawa renyah khas seorang lelaki. Aku berbalik, menyandarkan pinggang ke wastafel. Dengus kesal lolos begitu saja.

Saat ini aku berada di kamar mandi. Masih di bandara, tentu saja. Pesawatku mengalami keterlambatan dan aku terpaksa menunggu sedikt lebih lama untuk bisa berangkat. Kamar mandi sedang tidak disesaki banyak orang, jadi aku pun berani menghubungi Yuuma, tunanganku.

"Jangan tertawa. Aku benci kau tertawa di saat seperti ini." Aku menghardik. Berusaha terlihat segalak mungkin. Tapi tentu saja aku tahu usahaku hanya akan berakhir dengan kegagalan. Karena Yuuma tidak pernah terpengaruh sedikit pun.

"Baiklah. Aku tidak akan tertawa mulai dari sekarang."

"Pembual. Aku berani taruhan, kau tidak akan tahan dalam lima menit!" Telunjukku menuding udara secara refleks.

"Aku juga berani taruhan, kau tidak akan tahan bila tidak mendengar tawaku dalam lima menit."

"Narsis."

"Kau yang menolak untuk realistis."

Aku memasang wajah cemberut, tapi selanjutnya tawaku pecah. Begitu pula dengan Yuuma. Kami tertawa.

Berbanding terbalik dengan drama yang dihadirkan televisi; di mana protagonis wanita ditunangkan paksa oleh seseorang yang tidak pernah ia kenal seumur hidupnya, orangtuaku lebih memilih menunangkanku dengan seorang kawan lama. Benar. Yuuma dan aku adalah sahabat sejak kecil. Kami selalu terlihat bertiga dengan Luki.

Kami bertiga bersekolah di tempat yang sama, bermain bersama, melihat pohon sakura yang sama, tumbuh bersama-sama.

Aku ingat, waktu SD, seorang kakak kelas memanggil kami dengan sebutan Gerombolan Sakura Kecil—karena warna rambut kami yang merah muda dan selalu terlihat bersama-sama, jarang sekali terpisah. Aku ingat, waktu SMP, kami pernah datang terlambat dan dihukum mengepel koridor lantai tiga. Aku ingat, waktu itu kami malah berakhir saling mencipratkan air hingga guru piket yang sedang bertugas murka. Tentu saja kami diberi hukuman tambahan: lari sepuluh keliling lapangan. Aku ingat, setiap musim panas tiba, kami datang ke festival untuk melihat kembang api. Kami selalu berjalan berjejer. Aku di tengah, menggenggam tangan Luki di kanan dan Yuuma di kiri.

Aku ingat merasa sangat marah ketika Luki, secara tak sengaja, menemukan secarik surat cinta di depan loker sepatu Yuuma. Yang kulakukan saat itu adalah merebut surat berlapis amplop tersebut dan menyobeknya jadi serpihan kecil kemudian membuangnya ke tempat sampah terdekat, tanpa sedikit pun merasa perlu melihat nama pengirimnya.

Sebuah pengakuan: aku memang sudah lama memiliki perasaan terhadap Yuuma. Itu sebabnya aku merasa tidak berdosa telah menyobek kertas berisi konfesi cinta seorang siswi yang ditujukan untuk Yuuma—bahkan sebelum yang bersangkutan mengetahui keberadaan surat tersebut.

Itu sebabnya, saat ibuku memberitahu bahwa ayah telah merancang sebuah pertunangan dengan Yuuma, aku langsung terima tanpa pikir dua kali. Aku bahkan langsung menghambur untuk memeluk ayah. Peduli amat aku sedang perang dingin dengan Beliau. Persetan dengan gengsi. Persetan dengan semuanya. Aku cuma tahu cinta dan bagaimana memanfaatkan kesempatan.

"Serius," aku mendengar tawa Yuuma telah mereda dan kembali bicara, "banyak sekali kau bilang benci hari ini. Memangnya sekarang kenapa lagi denganmu—oh, tunggu sebentar. Jangan dijawab. Biar kutebak sendiri. Fansmu?"

"Begitulah."

Kudengar Yuuma berseru dan mengatakan sesuatu tentang aku yang harus menraktirnya latté. Imbalan karena telah berhasil menjawab dengan benar. Aku tertawa. Tak peduli apakah Yuuma kini sudah tumbuh menjadi pria dewasa, dia tetap punya sisi kekanakan. Dan aku yakin, sisi itu tak akan pernah hilang.

Bukannya itu menjadi masalah, tentu saja. Malah sejujurnya, sisi itu adalah satu dari sekian banyak hal yang kusuka darinya. Maksudku, hei, tidak banyak pria dewasa yang lucu namun juga bisa serius dalam waktu bersamaan. Kebanyakan dari mereka membosankan, terlalu serius, atau jika dia punya sisi lucu biasanya pria itu brengsek luar biasa.

Yuuma berbeda. Setidaknya, di mataku. Dia manis, lucu, tapi juga punya kharisma khas orang terpelajar. Jika diibaratkan dengan menu di restoran cepat saji, buatku, Yuuma adalah paket lengkap.

"Jadi, ceritakan padaku. Apa yang mengganggu tunanganku kali ini, hm?" tanya Yuuma. "Apa yang dilakukan fansmu? Mengerubungi hingga tidak bisa bernapas? Menarik rambutmu hingga rontok?"

"Hanya minta tanda tangan sebanyak tiga buah."

"Apa itu hal buruk?"

"Masalahnya, ketika aku sedang memberi tanda tangan, dia bicara terlalu banyak. Mengenai aku dan Luki." Aku langsung menjawab. Tidak merasa harus menahan diri, karena Yuuma memang telah menjadi tempatku bercerita sejak lama. Kami teman masa kecil, ingat?

"Bicara terlalu banyak tentang kau dan Luki." Pria itu mengulangi. "Oke. Aku tidak mengerti kaitan antara fans yang meminta tanda tangan sebanyak tiga, Luki, dan juga mood-mu yang meledak seperti … kautahu, granat yang dilempar tentara. Boom!"

Helaan napas. "Dia berpikir kematian Luki bukan kecelakaan."

"Jadi?"

"Bunuh diri. Motifnya karena Luki … yah, kautahu, punya perasaan khusus padaku. Begitu yang dia bilang."

"Gila," Yuuma mengumpat. Refleks, sepertinya. "Dia menuduhmu dan Luki sebagai inses?"

Aku mengangguk dua kali, lupa bahwa aku tengah bicara melalui telepon genggam dan Yuuma tidak dapat melihat gerakanku.

"Oh, astaga. Itu buruk sekali."

"Aku tahu."

"Dari mana dia dapat pemikiran konyol itu—maksudku, dia sama sekali tidak mengenalmu, atau Luki, atau kalian berdua."

"Pengamatan berita di televisi. Spekulasi."

"Ah, rima."

Aku mendengus geli. "Yuuma…."

"Oke, oke. Maaf. Fokusku gampang hilang akhir-akhir ini. Sampai dimana kita tadi?"

"Spekulasi."

"Oh, ya. Spekulasi. Hal paling konyol sepanjang sejarah, huh? Maksudku, dia bahkan tidak punya bukti yang bisa dipertanggungjawabkan. Tidak ada dalil. Tidak ada dasar. Tidak pada porsinya dia berspekulasi."

Aku mendesah. Kali ini menatap cermin, memeriksa eyeliner. "Ya. Dan itulah mengapa aku marah sekali. Tuduhan tanpa bukti pasti. Siapa sih yang suka dilabeli?"

"Lagipula itu ranah privasi."

Aku menggumamkan persetujuan. Yuuma mendapat poinnya.

Urusanku dengan Luki atau keluargaku yang lain ada dalam radius paling privasi. Tidak sembarang orang boleh menyelidiki. Bahkan Yuuma sekalipun, orang yang telah mengenal aku dan Luki selama lebih dari duapuluh tahun, tidak pernah berani menginterfensi. Jika aku dan Luki tengah bertengkar, Yuuma lebih senang meninggalkan kami. Tak pernah ada niat membela salah satu dari kami. Selesaikan masalah kalian sendiri, itu yang selalu ia katakan.

Yuuma juga tidak pernah bilang apa-apa mengenai hubunganku dengan Luki. Memang kami sangat akrab, tapi kupikir itu wajar. Yuuma juga berpendapat sama. "Kalian sudah bersama sejak di dalam perut ibu kalian, omong-omong. Apa yang bisa kukomentari?" Yuuma pernah berujar pada suatu hari.

Jika Yuuma saja tidak pernah berani berpikiran apa pun, maka atas alasan apa seorang fans berani mengataiku inses? Benar-benar tidak punya otak.

Luki tidak mungkin seperti itu. Tidak mungkin….

"Kau tidak perlu memikirkannya, Luka." Aku mendengar tunanganku kembali berbicara. Suaranya rendah, khas lelaki, dan aku selalu menyukainya. "Lupakan saja. Anggap itu hanya ceracauan orang kurang waras."

"Aku mencoba. Tapi itu benar-benar menggangguku." Jujur saja, aku benar-benar tidak nyaman ketika ada orang asing yang berani komentar mengenai kehidupanku.

"Hei, hei. Kau pasti bisa. Oh, apa kau lupa kemana kau akan pergi sekarang?"

Mata biruku bergulir melirik paspor yang kuletakkan di atas mesin pengering tangan. "Venice."

"Dan tujuanmu ke sana adalah?"

"Liburan." Melarikan diri dari kesibukan, lebih tepatnya. Oh, juga realita.

"Tepat sekali!" Yuuma terdengar antusias. Aku bisa membayangkan pria itu kini tengah mengembangkan cengiran lebar. "Memangnya ada orang yang masih stress setelah mengunjngi kota wisata seperti Venice?"

Aku tersenyum, tulus. Bicara dengan Yuuma selalu berhasil membuatku merasa lebih baik. "Kau benar."

"Aku memang selalu benar."

Tawaku pecah. "Hei, jangan lupa untuk menyusulku ke sana. Perjalanan ke Venice bukan sepenuhnya ideku, tahu!"

"Aku mengerti. Aku mengerti," jawab orang di ujung sambungan. "Aku akan segera menyusul ke Venice setelah urusan dengan pemegang saham ini selesai. Tidak akan makan waktu lama, aku janji. Selama itu, jadilah gadis baik dan jangan lirik pria mana pun, oke?"

"Kaupikir aku akan tertarik dengan pria lain?"

"Siapa tahu. Kudengar pria Italia sangat tampan."

Aku tertawa atas jawaban Yuuma. Dia juga tertawa. Kami tertawa.


Lukisan. Mungkin itulah hal pertama yang terbesit di kepala setiap orang saat menginjakkan kaki di Venice.

Dengan wilayah perairan yang mengepung sekeliling kota, gang-gang lebar seperti yang banyak ditemui pada abad pertengahan, serta bangunan-bangunan yang tersusun dari balok-balok bata dan berjendela lebar, membuat kita merasa ditarik masuk ke sebuah dimensi asing atau menjadi bagian dalam sebuah lukisan. Tiada jalan kembali dan kita pun tidak akan keberatan terperangkap di sana selamanya.

Aku bukan salah satu orang yang pernah menjadikan Venice sebagai tempat impian untuk dikunjungi suatu saat nanti. Berbeda dengan Luki yang mengagumi kota-kota di tanah Roma, aku bukan orang melankolis penggila tempat-tempat yang kental akan aura era romantisme, sungguh.

Memang kuakui aku pernah mengambil perjalanan ke Paris beberapa tahun lalu dan amat menantikan kesempatan ke sana lagi. Tapi alasanku menikmatinya bukan semata karena kota itu begitu indah dan pas untuk para pasangan, melainkan lebih ke sisi yang lebih historis dan artistik; museum Louvre (ya ampun, sudahkah aku bilang betapa aku menggilai karya-karya Da Vinci?).

Sementara di Venice, yang dapat kujumpai hanya gang-gang, café kecil yang menjual gelateria—gellato dalam bahasa Italia— buatan rumah, perairan, vaporetto—bus air; alat transportasi utama di sini—yang mengangkut rombongan turis, serta para gondolier yang mendayung gondola mereka sambil bernyanyi dengan suara seriosa. Memang menyenangkan, tapi aku tidak merasakan letupan antusiasme seperti waktu aku mengunjungi Paris dulu.

Mungkin ini karena ucapan Len yang, sedikit-banyak, masih menggelayut di telinga. Mungkin juga karena aku datang ke tempat asing seperti Venice tanpa Yuuma. Mungkin juga karena aku masih diselubungi duka akan kepergian Luki. Aku juga tidak terlalu paham.

Sambil berjalan menyusuri sebuah gang, aku menelusupkan kedua tanganku ke mantel. Mengais sisa-sisa kehangatan yang bisa kudapatkan. Suhu mulai terjun bebas karena waktu telah masuk akhir musim gugur. Bukan saat yang ideal untuk berwisata ke Venice, aku tahu. Turis normal biasanya akan memilih bulan September untuk berkunjung karena bertepatan dengan festival tahunan. Akan tetapi, percaya atau tidak, aku memang memilih saat ini untuk datang.

Venice adalah salah satu destinasi wisata pertama para turis di seluruh dunia. Datang di waktu penyelenggaraan festival sama saja menyiksa diri. Turis akan memadati setiap sudut gang-gang Venice. Terlalu padat hingga mungkin berjalan di beberapa tempat pun akan menjadi hal yang sangat sulit.

Karena itu, aku pilih akhir musim gugur. Karena keriaan festival telah surut dan volume turis pun berkurang. Jalanan lumayan lengang sehingga aku bisa melangkah lambat-lambat tanpa khawatir akan menghalangi orang lain di belakang. Hal yang paling kusyukuri adalah matahari yang masih nampak dan, bahkan, bersinar terang. Jadi, aku masih bisa beradaptasi dengan suhunya.

Aku berbelok ke arah kanan saat melihat papan penunjuk arah bertuliskan Piazza Ferrovia—alun-alun menuju hatle stop vaporetto. Sempat berkeliling sebentar sebelum menuju hotel pada hari kemarin membuatku tidak terlalu khawatir akan tersesat di Venice. Selalu ada papan penunjuk arah di setiap sudut sehingga aku tahu ke arah mana harus berjalan.

Oh, bicara tentang kedatangan, aku sampai di Venice sore kemarin setelah mendarat di Marco Polo. Perjalanan yang cukup lama dan melelahkan, tapi setidaknya cukup nyaman. Maskapai penerbangan yang kugunakan untuk perjalanan kali ini memberi pelayanan yang lumayan memuaskan. Pramugarinya profesional dan tahu sopan santun. Selama berada dalam pesawat, aku sudah meninggalkan pesan pada mereka agar tak membiarkan seorang pun menggangguku (beberapa fans sering kali terlalu malu untuk menyapaku di pesawat, jadi biasanya mereka meminta bantuan pramugari), dan mereka mematuhinya dengan sangat baik.

Sampai di Venice, aku langsung menuju ke Rialto Bridge. Hotel yang manajerku pesankan untukku berada di sana, omong-omong. Aku tidak kemana-mana sepanjang hari dan hanya beristirahat. Begitu pagi, menjelang aku kembali keluar. Bukan untuk menikmati pemandangan, tapi untuk urusan yang … entahlah. Dibilang penting juga ini bukan menyangkut pekerjaan. Dibilang tidak penting juga tidak bisa, karena urusan ini adalah salah satu alasanku untuk datang ke kota ini.

Aku mengeluarkan ponselku saat merasakan getarannya. Sebuah pesan singkat masuk.

Dari: Gakupo Kamui

Aku sudah di Burano dan sekarang ada di Dominio Café, 10 meter dari Ferravio.

Mengembalikan ponsel ke saku, aku merapatkan bibir hingga membentuk sebuah garis lurus.

Gakupo Kamui.

Aku sudah cukup lama mengenal orang itu, tapi tidak pernah kumasukkan ke daftar teman. Kami hanya sebatas kenalan yang saling tahu nama. Ia punya profesi yang sama dengan Luki, penulis, walau sebenarnya Gakupo bisa dibilang lebih senior karena lebih dahulu terjun ke bidang tersebut. Yang aku tahu, mereka berdua sangat akrab. Terlalu akrab, bahkan. Orangtuaku pun sampai mengenal pria itu.

Berbeda denganku yang sejak awal memang sudah tertarik dengan panggung hiburan, Luki lebih senang beraksi di balik bayangan orang-orang. Ia lebih pendiam dariku dan menghabiskan banyak waktunya dengan menulis. Entah di kertas, atau di lembar kosong program pengolah kata.

Aku memang tahu saudaraku senang menulis, tapi tidak pernah menyangka bahwa ia serius dengan hobinya tersebut. Buktinya, aku sendiri baru tahu jika Luki adalah seorang penulis ketika novel keduanya menjadi best-seller. Kuakui, setelah menjalani profesi sebagai aktris, aku tak memberi banyak atensi pada saudara kembarku. Dan aku merasa berdosa karenanya.

Singkat cerita, setelah bukunya mencetak best-seller, nama Luki pun meroket. Beberapa redaksi media cetak jadi lebih sering memburunya dan kami pun mendapat informasi-informasi aktual mengenai dia. Dari sana pula, aku mengetahui jika Luki dan Gakupo akan menggarap sebuah novel bersama.

Saat kukonfirmasi pada Luki, ia mengatakan bahwa penggarapan novel itu memang sudah lama mereka rencanakan. Aku senang mendengar suara Luki ketika itu. Dia terdengar begitu senang dan antusias. Aku sudah hampir tidak pernah melihat sosok Luki begitu bersemangat. Tepatnya, semenjak ia dipaksa Ayah kuliah di jurusan Ekonomi. Tapi, ketika aku menelponnya waktu itu, ia terdengar sama sekali berbeda. Ia seperti Luki yang dulu; Luki yang bersemangat. Karena itu, aku menyemangatinya dengan; "Selamat berjuang, ya!"

Aku tahu itu kata-kata yang terlalu klise, tapi aku memang bukan orang yang pandai merangkai kata dan aku yakin, Luki mengerti akan hal itu.

Hubungan Gakupo, Luki, dengan perjalananku? Mudah. Aku harus mengambil barang almarhum saudaraku yang tertinggal di tempat Gakupo. Sebuah laptop, kalau tidak salah.

Beberapa bulan sebelum Luki meninggal, ia sempat beberapa kali menginap di kediaman Gakupo. Diskusi untuk proyek novel mereka, begitu yang kudengar. Baru pulang saat aku menelponnya untuk minta bantuan menemani belanja sekaligus mengabarkan tanggal pernikahanku dengan Yuuma. Tapi rupanya Luki meninggalkan laptopnya secara tidak sengaja di sana. Terburu-buru, kupikir. Ada kalanya Luki memang jadi makhluk paling ceroboh sedunia.

Sialnya, Luki belum sempat mengambil barang yang tertinggal itu. Karena ia ikut serta bersama keluarga menyiapkan pernikahanku dan terlalu sibuk walau hanya untuk menelpon Gakupo, meminta pria itu mengantar barangnya ke rumah. Atau mungkin, Luki tidak melakukannya karena memang percuma. Gakupo punya jadwal yang cukup padat untuk ukuran seorang penulis (ia kerap keluar-masuk kota untuk mengisi seminar dan acara-acara lain, belum ditambah pekerjaan sampingan sebagai seorang penulis naskah), jadi rasanya akan sulit juga meminta ia datang. Gakupo berada di Venice pun kudengar untuk urusan riset. Laptop Luki, dengan alasan yang tidak kuketahui, sepertinya ikut terbawa.

Karena dapat kabar dari orangtuaku bahwa aku sedang merancang rencana mengunjungi Venice, maka Gakupo langsung menghubungiku, mengajak bertemu.

Perjalanan ke Burano cukup memakan waktu karena harus melewati cukup banyak halte stop, dan vaporetto tidak mungkin bergerak dengan kecepatan maksimum dengan begitu banyak penumpang di atasnya. Jadi, aku sampai di pulau itu agak lama. Beruntung, Gakupo tidak kelihatan terganggu karena ia masih tersenyum ramah ketika aku sampai.

"Senang dengan Venice, Luka?" Ia bertanya setelah selesai berbasa-basi—kalian tahulah, menanyakan kabar, kesibukan, dan sebagainya. Aku agak malas memberi detil.

Seorang pelayan datang ke meja kami sambil membawa nampan berisi pesanan kami—latté untukku, esspresso untuk Gakupo.

"Yah, lumayan nyaman," kataku. Tanganku meraih cangkir dan menangkap hangat yang menjalar dari sana. "Tidak ada kendaraan bermotor di sini dan itu menyenangkan sekali. Aku sedikit mengerti kenapa Luki suka tempat ini."

Gakupo meletupkan sebuah tawa singkat—dan aku baru sadar pria itu punya suara yang menyenangkan. "Kau bercanda? Dia tidak menyukai tempat ini. Dia memuja tempat ini!"

Seulas senyum tersungging tipis di wajahku. "Mungkin kau benar. Itu sebabnya dia ingin sekali mengajak pacarnya datang ke sini."

"Itu pula sebabnya dia antusias saat kubilang kami akan melakukan riset untung novel kami langsung di Venice." Ada begitu banyak binar di mata Gakupo ketika ia mengatakan ini. Tapi, semuanya meredup sedetik kemudian. Realita akan ketiadaan Luki menghantam kami terlalu cepat. "Yah, sayang sekali dia tidak sempat mengunjungi Venice."

Aku tahu. Itu memang menyedihkan. Maksudku, bagaimana Luki bisa pergi sebelum salah satu keinginan besarnya tercapai? Tapi tentu saja aku tidak mengatakan ini pada Gakupo. Yang kulakukan hanya mengangguk. "Aku juga turut menyesal proyek novel kalian harus batal karena insiden ini."

"Tidak. Novelnya masih berjalan," Gakupo menjawab setelah menyesap esspresso-nya. "Aku akan menyelesaikannya."

"Begitukah?"

Anggukan. "Luki sudah memberi begitu banyak ide, gagasan, dan ekspektasi untuk novel ini. Lagipula, dia telah menyelesaikan dua bab awal dengan sangat baik. Tidak mungkin aku membiarkannya terhenti begitu saja, 'kan?"

Aku tidak menjawab. Hanya mendengarkan Gakupo terus bicara. Mataku menatap pantulan bayangan pada latté hangat.

Kalau boleh jujur, aku sedikit lega Gakupo bilang akan melanjutkan novelnya tanpa Luki. Aku tahu bagaimana gigihnya Luki berusaha. Meski dia tidak pernah mengatakan apa pun padaku, tapi aku merasakannya. Kami saudara kembar dan ada sebuah ikatan batin tak terlihat di antara kami. Jadi, aku pasti merasa marah jika Gakupo bilang tidak akan melanjutkannya.

"Ini barang milik Luki yang tertinggal di apartemenku."

Aku mendongak hanya untuk melihat Gakupo menyodorkan sebuah tas tangan hitam berbentuk segi empat ke meja. Di dalam sana ada laptop Luki, aku tidak perlu susah-susah menebak.

"Maaf aku tidak memberikannya waktu upacara pemakaman dan malah baru mengembalikannya sekarang. Beritanya datang terlalu tiba-tiba dan aku—"

"Aku mengerti." Aku memotong, sadar ada kabut duka yang perlahan turun menyelubungi kami.

Kematian Luki adalah sebuah pukulan besar. Bagi keluargaku. Bagiku. Bagi Yuuma. Bagi semua orang yang mengenalnya. Dia orang yang terlalu baik. Karenanya, mengetahui ia meninggal, terlebih dengan cara yang tak wajar—jatuh dari ketinggian lantai 14— membuat kami merasa terguncang.

Terlebih aku.

Aku tidak tahu apa yang terjadi. Yang kutahu, hari itu aku tengah tenggelam dalam kegembiraan. Tinggal tiga hari lagi aku dan Yuuma akan menikah. Tapi kemudian tiba-tiba saja kabar kecelakaan Luki sampai di telinga. Dan masih tidak bisa mengerti—kenapa?

Kenapa Luki harus meninggal? Kenapa harus saat acara pernikahanku tinggal menghitung jam? Kenapa harus di hotel tempat resepsi pernikahanku akan dihela? Kenapa?

Semua pikiran itu terus bermunculan dan membuatku merasa sesak. Aku menghela napas dalam-dalam untuk menetralkan emosi. Bagaimana pun, aku sedang berada di tempat umum. Bukan waktunya mengekspos emosi—buatku, itu masuk dalam radius privasi.

"Aku," Gakupo berusaha kembali bicara, masih mencari-cari kata, "tidak menyangka akan ada kejadian seperti ini."

"Begitu pun aku."

"Aku tidak menyangka dia akan bunuh diri."

"Ini kecelakaan," aku dengan sigap mengoreksi. "Murni kecelakaan."

Gakupo tidak langsung menjawab. Dia menatapku dengan mata yang sedikit memicing. "Kau yakin?"

"Tentu." Aku menggenggam cangkir semakin erat. "Dia tidak punya masalah selama ini. Tidak mungkin bunuh diri."

Aku menangkap kilatan tidak setuju yang hadir di mata Gakupo. Hal itu begitu mengganggu hingga aku cepat-cepat bertanya, "Apa?"

"Bukan apa-apa," dia menjawab. "Hanya saja … aku tidak yakin ada orang yang tidak punya masalah. Terlebih, orang seperti Luki."

"Maksudmu?" Emosiku sedikit terpancing. Apa yang dia coba bicarakan?

Gakupo menatapku sejenak dengan pandangan penuh pertimbangan sebelum menghela napas. "Kau … pernahkah kau tahu bahwa Luki … entahlah, mungkin sedang menyukai seorang gadis?"

"Mungkin. Dia pernah bilang ingin mengajak seseorang yang ia suka ke Venice. Jadi, kupikir dia pasti sedang menyukai seseorang."

"Pernahkah dia mengenalkan kepadamu siapa orangnya?"

Aku menggeleng. "Sekalipun belum. Kau pernah?"

Pria tersebut menggeleng. "Aku bahkan tidak tahu jika Luki sedang menyukai seseorang. Dia selalu terlihat netral, kau tahu."

Aku mengernyit. Oke, aku tidak mengerti.

"Tapi," kataku, "darimana kau bisa menanyakan pertanyaan pertamamu kalau kenyataannya kau bahkan tidak tahu Luki tengah menyukai seorang gadis? Firasat?"

"Aku pernah mendengarnya mengigau."

Pundakku tersentak untuk sepersekian sekon yang singkat, tapi tidak ada respon yang keluar. Gakupo memainkan telunjuknya di atas cangkir. Rambutnya ungu panjang, bergerak dihela angin tipis.

"Saat ia menginap di apartemenku, kami sempat pergi ke bar. Menghadiri ulang tahun Leon—kau tahu dia, 'kan?"

"Penulis di penerbit yang sama dengan kalian. Ya, aku tahu."

"Katakanlah … kami minum beberapa gelas bir di sana—"

"Luki tidak bisa minum."

"Aku tahu." Gakupo menjawab, tenang. "Karena itu dia hilang kesadaran dan aku tahu semua ini."

"Tentang apa?" tanyaku, cepat. Mataku memicing, sadar akan tensi berat yang semakin merapat di antara kami.

"Luki mengatakan sesuatu saat mabuk. Kata-kata seperti…," dia berhenti sebentar, mencari kata-kata, "seperti orang yang patah hati. Dia bahkan menangis, kau tahu."

Cengkeramanku pada cangkir semakin erat. Aku terus berusaha menahan kesadaranku. Membayangkan Luki yang berada dalam kondisi seperti itu begitu membuatku terluka. Apalagi seorang anak di bandara kemarin bilang—

Bilang—

Inses….

Aku menggigit bibir bagian dalamku.

"Tidak banyak yang kudengar dari Luki waktu itu," aku kembali mendengar Gakupo bicara. Nadanya masih sama seperti sebelumnya. "Hanya sesuatu yang menegaskan betapa kecewanya dia. Dan…."

Dan?

"'Kenapa kau harus menikah dengan dia'."


To be Continued


Iya tau, seharusnya saya bikin review buat tugas literatur yang dikumpul besok. Atau dengerin rekaman latihan IELTS yang dikirim sama dosen. Tapi serius, saya nggak tenang sebelum nyelesaiin chapter ini. Hahahaahaha….

Makasih banyak buat yang review chapter kemarin. Makasih juga buat siapa pun yang masih tahan baca chapter ini. Silakan ditebak-tebak gimana cerita selanjutnya #triiingg

Review is love.

Sign

devsky