Chapter 2 telah tibaaa~!

Makasih ya atas semua masukannya... Aku senang banget lho, baru update kemaren yang review udah 5 orang~

Wahaha, jadi kepengen cepet-cepet lanjutin chapter 2.

Micchi nggak terima flame dari siapapun, lho! Kalo kritikan sih, boleh aja...

Oke deh, daripada kebanyakan basa-basi, langsung baca aja...

HAPPY READING! ^^

NARUTO

Disclaimer: Masashi Kishimoto

PLEASE TRY TO LOVE ME!

By Michiyo Murakami

"Aku memang tidak sesempurna dirinya, tetapi apa kau bisa mencoba untuk mencintaiku?"


Rumah keluarga Yamanaka, jam 7 malam.

"Ino, sedang apa kamu? Ini sudah jam makan malam! Kenapa kamu mengurung diri di kamarmu terus?" Kaasan Ino memanggil Ino.

"Sedang mengerjakan PR kaasan, nanti aku turun sendiri, kok!" sahut Ino dari lantai atas.

Aneh, tumben sekali anak ini bikin PR, biasanya jam segini makan lalu nonton tv, gumam Kaasan Ino heran.

.

.

Sebenarnya, bocah satu ini tidak sedang mengerjakan PR. Hari ini, tidak satupun guru yang memberi PR. Yah, ini hari keberuntungan buat Naruto (?). Oke, langsung to the point aja.

"Huaaah, buat apa sih gue galauin si kurcaci rambut pantat ayam jago itu? Kurang kerjaan!" Sudah puluhan kali Ino berkata begitu. Tapi, tetap saja dia masih sewot mikirin Sasuke, kalau bahasa gaulnya "galau".

"Ini emang kurang kerjaan, tapi gue kok kayak sedih banget ya Sasuke udah punya pacar. SEDIH BANGET SIH HIDUP GUEEE!" jerit Ino sambil menendang rak bukunya, dan mendengus sebal ketika beberapa buku-buku jatuh dari tempatnya sehingga Ino harus merapikannya lagi.

"Sms Sakura ah. Pengen curcol. Tapi..." Ino mendesah kebingungan. Ia mengacak-acak rambutnya yang sudah terobrak-abrik gara-gara kegelisahannya yang membuat ia menjambak-jambak rambutnya.

Baru bicara begitu, tiba-tiba ada sms masuk.

From: Sakunyong (Mobile)

At 07:25 p.m.

Message: Hoi, Ino! Lagi apa? Jangan bilang lagi galauin Sasuke.

Ino mendengus. Ini anak tau aja ya, gumamnya dalam hati.

To: Sakunyong (Mobile)

At 07:26 p.m.

Message: Lagi apa kek, yang enak. Ngapain galauin Sasuke? Kurang kerjaan.

2 menit kemudisn, handphone Ino bergetar lagi.

From: Sakunyong (Mobile)

At 07:28 p.m.

Message: Halah, kurang kerjaan sih kurang kerjaan. Tapi betul kan? Ngaku deh lo.

Ino kembali mendengus. Sakura memang sangat mengetahui dirinya. Selalu mengerti apa yang sedang ia rasakan. Benar-benar sahabat yang baik. Ino yang bingung ingin membalas apa, akhirnya menyelewengkan pembicaraan.

To: Sakunyong (Mobile)

At 07:28 p.m.

Message: Besok nggak ada PR ato ulangan gitu kan?

Handphone Ino bergetar lagi.

From: Sakunyong (Mobile)

At 07:29 p.m.

Message: Nggak ada. Kalopun ada, pasti lo nggak bakalan belajar atau ngerjain. By the way, sabar yah Sasuke udah punya Hinata^^

Ino terdiam. Jari-jarinya berhenti menari di keypad handphone-nya. Ia bingung harus menjawab apa. Dan akhirnya, ia menaruh handphone-nya di meja belajarnya lalu berjalan keluar kamar dan menuruni tangga. Ia sudah lapar dan ingin makan karena seharian ia belum makan apapun, hanya beberapa biskuit.

"Hei, Ino! Tumben baru keluar. Biasanya kalau sudah waktunya makan malam, kau yang paling duluan tiba di meja makan," kata Tousan Ino.

"Ah, Tou-san jangan cerewet, deh. Baru laper sekarang nih," sahut Ino sambil mengambil lauk.

Ino sebenarnya sangat lapar, tapi ia tidak nafsu makan. Ia hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa henti sambil cemberut. Gadis ini sedang dilanda musibah, yaitu kesambet jin Sasuke. Jin Sasuke yang nakal ini sudah membuatnya gelisah, sekali lagi bahasa gaulnya "galau".

.

.

Konoha Junior High School, Kantin.

Ino kembali melamun. Yoghurt-nya diaduk-aduk tanpa henti. Matanya menatap kosong kepada Hinata dan Sasuke yang sedang digoda teman-temannya supaya mereka duduk dan makan berdua. Sakura, Tenten, dan Temari juga merasa kasihan pada Ino dan menatap jengkel kearah Sasuke dan Hinata. Sekilas, Sasuke melirik ke Ino lalu membuang muka. Ino yang masih melamun masih saja mengaduk-aduk yoghurt-nya. Bahkan, fusilli yang ia beli dan berupa makanan kesukaannya tidak ia santap sedikit pun. Sakura tidak tahan dengan pemandangan ini. Ia berdiri dan menghampiri Sasuke.

"Oi, lo ini Haruno kelas 8-6 kan? Ngapain kesini? Ada rapat OSIS lagi?" tanya Sasuke.

Sakura geram. Ia berteriak di depan wajah Sasuke, "DASAR TIDAK TAHU DIRI!" dan berlalu. Sasuke bingung dan melanjutkan menyantap nasi gorengnya.

"Sakura, lo bloon deh! Ngapain lo teriak gak jelas ke Sasuke kayak gitu?" tanya Temari.

"Biar aja! Biar dia malu di depan temen-temennya. Biar jelas dia tuh gak tau diri! Belagu udah kayak apaan tau. Mentang-mentang ketua OSIS!" gerutu Sakura.

"Iya sih, tapi cara lo salah! Ini urusan Ino. Kita cuma bisa cari info tentang Sasuke dan ngehibur kita kalo Ino lagi galau. Kita gak berhak ngapa-ngapain ke Sasuke, apalagi kayak lo tadi!" ujar Tenten.

"Udah deh, guys. Jangan ributin si bocah rambut pantat ayam. Udah deh, gue udah males ngebahas tentang dia. Ini cuma cinlok. Bakalan cepet lupa gue ama dia," kata Ino.

"Ya sih, lo bener, tapi emangnya lo yakin bisa lupain si Sasukick cepet-cepet?" tanya Sakura.

"Gue bakal usahain," jawab Ino.

.

.

Di kelas 8-6. Kelas ini menjadi sepi, sejak si bengal Yamanaka menyukai Sasuke. Ia menjadi diam dan kebanyakan melamun. Guru-guru pun membiarkan ia melamun, lebih baik dia melamun tapi diam dan tenang daripada ia berisik dan gaduh. Naruto merasa hari hoki-nya sudah tidak akan ada lagi kalau Sasuke belum pacaran dengan Ino. Ino bakalan sering diam dan melamun sehingga guru-guru betah mengajar di kelas 8-6 sehingga mereka tidak terbebas dari PR.

"Huah, si Ino, kerjanya ngelamun doang. Walaupun emang kelas ini jadi lebih tenteram, tetap aja gue lebih suka Ino yang dulu. Yang ceria dan berisik. Kalo Ino galau terus, kan nggak enak diliat juga," bisik Sakura kepada Tenten dan Temari yang duduk dibelakangnya.

"Betul, gue setuju banget ama lo. Gimana caranya ya biar mereka jadian? Kalo Sasuke masih single gampang, kita bisa comblangin. Sasuke udah punya Hinata sih," ujar Tenten.

"Kita kerjain aja Sasuke, kita bilang Hinata selingkuh lah apa lah biar mereka putus!" seru Temari asal.

"Dudul. Itu namanya nyari mati. Lagian, itu caranya nggak baik. Sama aja kita ganggu hubungan orang. Terpaksa nunggu Sasuke ama Hinata putus dulu. Kalo ternyata mereka langgeng, berarti Ino lagi gak hoki dan harus cari gantinya," kata Sakura.

"Sakura bener. Ya udah deh, sekarang ini kita belom bisa apa-apa," ujar Tenten.

"Semoga aja Sasuke ama Hinata nggak langgeng," kata Sakura.

"Gue bakalan bahagia banget kalo 2 hari kemudian, kalo perlu detik ini juga mereka langsung putus," kata Sakura ngaco.

"Kalo feeling gue bilang, mereka gak bakal langgeng. Hinata itu tipe cewek yang nggak terlalu serius pacaran. Inget gak waktu dia pacaran sama Naruto? Baru tiga minggu udah putus. Hinata itu cewek yang megang prinsip 'Belajar dulu yang bener baru boleh pacar-pacaran'. Dia itu pinternya karena rajin. Kalo Ino kan emang pinternya turunan," ujar Temari.

"Iya, lo betul. Oke deh, kita tinggal nunggu situasi," kata Tenten.

.

.

SATU MINGGU KEMUDIAN...

Sakura, Temari, dan Tenten berkumpul di suatu cafe. Mereka sedang merencanakan sesuatu untuk Ino dan Sasuke. Mereka duduk berhadapan, tenggelam dalam diam. Sama-sama memikirkan rencana yang paling jitu untuk 'nyomblangin' Ino dan Sasuke.

"Sakura, lo udah dapet ide?" tanya Tenten memecah keheningan.

"Belom, tuh. Kalo lo?" tanya Sakura balik.

"Belom," desah Tenten.

"Kalo lo, Temari?" tanya Sakura pada Temari.

"Hmm... Belom juga. Eh, kita disini udah satu jam belom pesen sesuatu loh. Mending kita makan dulu, nanti mudah-mudahan bisa mikir," usul Temari.

Mereka memesan tiga gelas hot chocolate dan enam chocolate muffin. Setelah menyantap semua hidangan itu, mereka kembali berfikir. Di cafe bergaya vintage yang sepi ini, suasana terasa makin sepi karena tiga gadis yang datang kesini kembali hening.

"Ah, aku punya ide!" seru Temari tiba-tiba.

"Apa? Apa?" tanya Sakura dan Tenten penasaran.

"Begini... pst... psst..." bisik Temari.

"Ide yang bagus!" sorak Sakura dan Temari.

.

.

Konoha Junior High School, kelas 8-6.

Kelas ini sudah sedikit lebih gaduh. Bukan karena Ino. Sekarang, Kiba yang menjadi depresi karena tidak bisa konsentrasi dalam belajar malah jadi ikutan berisik. Shikamaru makin sering tidur. Ino sedang melakukan kebiasaan barunya, melamun. Sedangkan tiga bocah penggosip yaitu Sakura, Tenten, dan Temari bergerombol di belakang, sedang menyusun rencana. Naruto yang curiga selalu mendekat dan selalu saja berhasil diusir Sakura. Intinya, suasana kelas 8-6 sudah menjadi lebih hangat dan tidak hening.

KRIIIIIIIIING!

Bel istirahat berbunyi. Kakashi-sensei pun meninggalkan kelas 8-6, dan murid-murid Konoha Junior High School berhamburan keluar dari kelas masing-masing menuju kantin. Ino, Temari, Tenten, dan Sakura berjalan berempat meninggalkan kelas mereka dan menuju ke kantin.

.

.

"Ino, lo duduk sebelah Sasuke, deh! Tuh, masih kosong," Sakura menujuk meja yang ditempati Sasuke.

"Gak deh. Itu tempatnya Hinata," ujar Ino basa-basi.

"Alah, lo sok deh. Gue tau sebenernya lo kepengen duduk disana," cibir Tenten.

"Kalo gue duduk disana, Hinata dimana?" tanya Ino.

"Udah, biar kita yang tanganin. Sono, samperin Sasuke!" jawab Temari.

"Good luck ya, sob!" seru Sakura sambil mengedipkan sebelah matanya.

Perlahan tapi pasti, Ino menghampiri meja Sasuke yang masih kosong sambil membawa nampan berisi semangkuk ramen dan segelas milkshake. Sasuke melirik Ino lalu bertanya "Mau duduk disini?" Ino menganggukkan kepalanya.

"Ya sudah, duduk saja," kata Sasuke.

Jantung Ino serasa sedang tanjidoran. Ia bingung harus bersikap seperti apa. Kalau dihadapan teman-temannya, Ino duduk nangkring dan makan dengan terburu-buru. Jadi sekarang gue harus duduk rapet dan makan pelan-pelan, gumam Ino dalam hati.

"Hm, gak usah bingung harus makan kayak gimana. Gue tau kok, lo kalo makan sukanya nangkring," Sasuke memecah keheningan.

Eh? Kok Sasuke tau? Ino berujar dalam hati.

"Udah, santai aja lo nangkring," kata Sasuke.

Ino yang malu akhirnya nggak nangkring, cuma ngangkang. Sasuke dan Ino duduk berhadapan. Ternyata, dari belakang Sasuke, Hinata sedang berdiri memperhatikan mereka berdua sambil membawa nampan. Ino pun tidak menyadarinya. Tiba-tiba, Sakura CS mendatangi Hinata.

"Hinataaa, duduk sama kita yuuk!" sapa Sakura sksd-sok kenal sok deket dengan ekspresi sok diimut-imutin.

"Hmm..." Hinata ragu lalu melirik ke arah Sasuke dan Ino dengan muka yang agak kusut, "Oke."

Yes! sorak Sakura dalam hati. Rencana pertama berhasil!

To be continued.


Aku nggak telat update kan? Nggak telat kan? Nggak tel... *plak*

Sekali lagi, Micchi cuma terima flame yang berupa concrit, nggak terima flame nggak jelas yang ngejelekin pair yang aku buat. I write my own fic with my own way ^^

Maaf banget banget kalo ada banyak typo!

Maaf juga kalo fic ini panjang dan bertele-tele... Dan chara yang terlalu OOC=_="

Okedeh, Micchi nggak mau cerewet. Mind to Review? :)