Naruto by Masashi Kishimoto
Rahasia by Ghostgirl20
Genre : Romance, Hurt/Comfort, Family
Rated : T
Warning : Typo(s), Cerita Tak Sempurna, No Flames ya!
Chapter Two
-=- Sasuke -=-
Pagi ini Sasuke bangun dengan perasaan berat pada tubuhnya. Seolah-olah ada yang membebani badannya. Tak hanya itu, sekujur badannya diserang rasa sakit. Rasanya seperti ada jarum yang tertancap di seluruh bagian badannya. Terutama di bagian dada dan kepalanya. Sasuke menekan kepalanya yang kali ini berdenyut. Sesekali menjambak rambutnya dan menghembuskan napas keras-keras.
Saat itu, Itachi datang mengetuk pintu kamarnya, "Sasuke! Kau sudah bangun?"
"ya", jawabnya singkat, lemah.
"boleh aku masuk?" Tanya Itachi Khawatir.
Sasuke buru-buru menjawab, "tidak usah! A-aku sedang tidak berpakaian."
"oh, baiklah. Cepat turun dan sarapan!"
Kembali Sasuke menghembuskan napas. Perlahan-lahan. Sedetik kemudian ia menyambar seragam sekolahnya yang tergantung di belakang pintu dan bergegas turun.
Sasuke langsung mendudukkan diri di salah satu kursi di meja makan dan langsung menyantap makanannya.
"wow, Kau terlihat berantakan, Sasuke!" Ucap Itachi sambil memerhatikan wajah pucat adiknya. "kau yakin mau sekolah hari ini? Kau tahu, aku bisa mengijinkan pada gurumu kalau kau sakit."
"tidak. Hari ini ada kuis penting."
"sou-ka?"
Cepat-cepat Sasuke menghabiskan sarapannya dengan rasa mual di perutnya. Setelah sesuap nasi terakhir dia langsung menuju ke luar rumah, menyalakan motor dan melesat pergi. Itachi melihatnya dengan tatapan khawatir.
"apa anak itu tidak akan apa-apa, ya?"
XXXXX
Di sekolah, Sasuke tidak bisa konsentrasi sama sekali. Sejak pagi yang dilakukannya hanya tidur di kelas. Iruka-Sensei sempat memarahinya karena ketahuan tidur saat pelajaran. Tapi kemudian malah membiarkannya saja saat melihat wajah Sasuke yang pucat dan melanjutkan pelajaran.
Bel istirahat lantas berbunyi. Murid sekelas pun mulai ramai setelah 2,5 jam belajar. "pastikan kalian kerjakan tugasnya, ya! Kalau tidak aku akan menghukum berdiri di lapangan."
"Huuuuu….." jawab murid sekelas.
"oh, ya! Dan segera antarkan anak itu ke Ruang Kesehatan." Kata Iruka-Sensei sambil berlalu meninggalkan kelas.
"Sasuke, mau aku antar ke ruang kesehatan?" Sasuke mendongak dan melihat Shino ada di sampingya. Dengan tatapan datar sedater papan tulis. Sasuke agak terganggu dengan atapannya. Ya, hanya dengan tatapannya.
Istirahat 1 sampai 2 jam di sana bukan ide buruk, pikirnya. Sasuke bangkit dari bangkunya dan diikuti oleh Shino. Namun, Sasuke langsung menyetop Shino supaya tidak mengikutinya.
"aku sendiri saja."
"eh-baiklah."
XXXXX
Sampai bel pergantian pelajaran 4 berbunyi Sasuke masih mendekam disana. Semakin siang badannya makin tidak berat. Mau membuka mata saja susah. Rasa nyeri di sekujur badannya juga sakit bukan main. Dan rasa pusing di kepalanya juga belum hilang.
"hah, tubuh sialan!"
Sasuke mengerahkan tangannya untuk merogoh saku celana, tempat ponselnya berada. Pada layar ponselnya, terpampang sebuah foto. Foto seseorang yang selalu ia tak pernah membicarakan hal ini pada siapapun bahkan Itachi. Foto ayahnya.
Di sela rasa sakit yang mendera, ia tersenyum pada sosok di foto itu. Sejenak, memandangnya penuh makna sambil memanjatkan doa. Lalu beralih ke menu utama ponselnya.
Tiba-tiba masuklah beberapa orang. Tiga orang perempuan. Mereka berisik. Sasuke jadi enggan hendal menelepon seseorang untuk menjemputnya. Maka ia batalkan dan mencoba berbaring kembali sejenak.
"nah, tidak ada yang jaga? Bagaimana ini Sakura?"
"tidak apa-apa, deh. Aku obati sendiri. Waktu kelas satu kan aku pernah jadi petugas ruang kesehatan."
"kalau tidak salah, alcohol dan salep antiseptiknya di lemari yang ada di pojok. Kemarin aku mengantar seorang senpai dan petugasnya mengambilkan dari situ," kata seorang perempuan yang satu lagi.
"baiklah, aku mengerti." Jawab Sakura sambil tersenyum.
Selanjutnya, Sasuke mendengar derap langkah seseorang yang berlari. Orang itu berlari dan berterikan ke dalam ruang kesehatan.
"bahaya! Sensei mencari kalian karena bola-bola volley yang kalian ambil tergeletak menggelinding kemana-mana."
"apa? bagaimana bisa? Kami meninggalkannya di gudang penyimpanan, kok!"
Lalu mereka mulai berisik kembali, dan beberapa detik kemudian suasana hening. Sasuke tak lagi mendengar kegaduhan. Tapi ia tahu, masih ada seseorang disini dan Sasuke memilih tetap diam.
Tak lama Sakura bersuara, "dimana, ya? Aku tidak dapat menemukan- ah! Ini dia."
Sakura mengeluarkan satu botol alcohol berukuran kecil dan salep antiseptic yang berada bersebelahan.
"kenapa aku bodoh sekali, ya! Masa lari saja aku bisa jatuh? Jatuhnya di depan anak kelas 3 lagi. Malunya!" kata Sakura sambil membuka buntalan kapas yang menutupi luka di siku kanannya. Ia meringis sakit karena lukanya cukup panjang.
Sasuke memutar bola mata saat ia mendengar Sakura berbicara sendiri. Baru saja ia hendak bangkit dari kasur dan mau melangkah keluar. Tiba-tiba bau yang sangat menyengat memasuki indera penciumannya. Kepalanya serasa berputar-putar. Jantungnya berdegup kencang.
Apa ini bau alcohol? Bukan! Tidak mungkin! Ini tidak mungkin..
Ini adalah bau…
Bau…
Da..rah?!
"ah. Ya ampun. Ternyata ada pecahan kacanya."
Mata Sasuke membelalak. Ada perasaan mengerikan tumbuh di dalam dirinya. Perasaan aneh. Seketika ia melupakan semuanya. Badannya yang terasa remuk redam, kepalanya yang serasa berputar putar, rasa nyeri di sendi-sendinya. Semua segera terlupakan tergantikan oleh rasa haus.
Haus….
Aku … haus…
Minum… aku ingin minum…..
Minum…
Minum…
Sasuke kemudian bangkit dari duduknya. Ia mendekati Sakura. Pelahan. Dengan langkah gontai dan keringat dingin yang mengucur. Sangat pelan hingga Sakura tak masih sibuk meniup lukanya yang perih sehabis di olesi salep antiseptik.
Tapi tiba-tiba Sakura menoleh dan ia menemukan Sasuke di hadapannya. Terengah-engah memandangnya. Tapi pandangan itu kosong.
"sasu…" baru saja ia akan bicara namun Sasuke sudah memegang bagian sikutnya yang terluka. Meremasnya dengan kuat dan membuat luka itu berdarah. Lalu tanpa disadari baik Sakura maupun Sasuke sendiri, Sasuke menggigit lengan yang berdarah itu.
"AH!" Sakura menjerit. Antara sakit dan kaget yang dirasakannya hanya mampu diresponnya dengan teriakan itu. Sialnya tidak ada yang mendengarnya. Walaupun ia sudah sekencang-kencangnya berteriak. Lalu suaranya pun mulai hilang ditelan oleh rasa sakit di bagian sikunya dan kepalanya yang mulai pusing.
Pandangannya mulai kabur. Napasnya terengah-engah. Sebelah tangannya yang bebas tadinya dengan keras mendorong wajah Sasuke selarang juga mulai kehilangan tenaganya.
Sampai akhirnya yang terakhir dilihatnya adalah dua sosok laki-laki. Yang satu memegangi Sasuke agar menjauh dari dirinya. Dan sebelum Sakura bisa memperhatikan sosok laki-laki yang satu lagi, ia sudah kehilangan kesadarannya.
Sesosok pria berubuh tinggi dan badan yang proporsional. Sakura bisa langsung tahu siapa orang itu. Orang yang tadi yak sempat ia perhatikan. Namun, yang diingatnya adalah senyum pria ini.
"Itachi…" ucap sakura dengan suara tercekat.
