haloo... maaf menunggu lamaa... . dikarenakan saya sedang sibuk dengan hal-hal duniawi dan mengalami 'stuck' dalam mengembangkan cerita.. jadinya butuh waktu lama :'3
so, selamat menikmati lanjutannya..
tenang, masih ada lanjutannya lagi kok..
mohon maaf kalau ada typo atau apa pun yang tidak baik di mata pembaca, ini bukan unsur kesengajaan kok.. Q^Q)b hehehe~
Aku berlari menuju cermin besar di dekat lemari pakaian. Alangkah terkejutnya aku melihat pantulan diriku yang berwujud kucing kecil dengan bulu putih, mata berwarna biru terang, dan telinga kecil dan berdiri tegak. Di leherku tergantung kalung kecil dengan batu permata berwarna kuning.
"Wiiii~~" suara asing mengitari telingaku.
"Nyaaa~!" telingaku bergerak naik turun, persis seperti kucing. "Gumi~~! Sekarang kamu sudah bebas berkeliaran di luar~" peri kecil itu sekarang berdiri di depanku, dan tingginya menjadi setinggi badanku (versi kucing). Ia menggerakkan tongkat berwarna keemasan. Seketika itu juga, jendela kamarku terbuka lebar. "Si~lah~kaaann~! Waktumu sebulan~!" peri kecil itu kembali terbang dan menghilang tanpa memberiku kesempatan untuk bertanya.
"O-oi...setidaknya beri aku kesempatan untuk bertanya!"ujarku. Tapi apa? Yang kudengar hanya suara 'miaw miaw miaw'. Ya Tuhan...bagaimana caranya aku berkomunikasi dengan wujud dan suara seperti ini?!
.
.
.
Aku melompat keluar dari jendela yang terbuka lebar. Kegelapan malam tidak membuatku takut, karena aku bisa melihat di dalam kegelapan berkat mata kucingku. Hm...aku harus berjuang walaupun wujudku seperti ini!
Berjalan di atas tembok, melompati atap rumah, dan memanjat pohon sama sekali bukan hal yang menyulitkan untukku. Wah, sepertinya akan seru dan menyenangkan kalau menjadi kucing.
Tembok besar pembatas rumah terus kutelusuri, lalu aku melompat ke atap rumah sederhana. Sepertinya aku akan beristirahat di sini.
"Oi, kau ngapain ada di sini?" suara itu muncul ketika aku meregangkan badan dan hendak tidur di atas atap. Ng? Seseorang berbicara padaku?
"Oi!" sosok kucing besar dengan kuku panjang dan tajam berjalan pelan ke arahku. Sorot matanya tajam dan galak. "Kau ngapain di sini? Ini daerah kekuasaanku. Pergi kau!" kucing besar itu menunjukkan kuku dan taringnya, serta memasang gerak tubuh menakut-nakuti.
"Aku mau tidur..." aku menekuk telingaku ke bawah dan melipat ekorku ke bawah. Namun aku tetap menunjukkan taring dan kuku, walaupun aku tidak yakin akan menang sih..
"Cih, kucing betina jelek." Dia berlari ke arahku dan mencakar wajahku dengan cepat. Lalu ketika aku melihat celah, aku membalas cakarannya dengan menggigit lehernya.
Perkelahian sengit terjadi. Aku sudah sering mendengar kucing berkelahi, dan pasti perkelahian yang sedang kuhadapi ini mengeluarkan suara berisik (ya iyalah).
"Pergi kau!" seru kucing itu. Ia mencakarku dan membuatku terjatuh dari atap. Kucing besar itu segera meninggalkan rumah dan berjalan menuju rumah lain. Beruntungnya, aku terjatuh dari atap dan mendarat di tumpukan daun yang gugur. Fiuh...
"Itta-" aku meringis kesakitan ketika hendak bangun dan berjalan. Kaki depanku terkilir rupanya. Cih, kenapa harus terkilir di saat seperti ini sih. Ya sudahlah, kuputuskan untuk tidur di tumpukan daun tersebut dan pasrah. Entah aku akan dibuang oleh pemilik rumah, atau mungkin ikut dibakar bersama daun-daun itu.
Paginya, aku terbangun karena sinar matahari yang begitu menusuk wajahku. Ada yang aneh. Kenapa tiba-tiba aku bisa berada di dalam rumah? Apa aku diselamatkan oleh sang pemilik rumah? Samar-samar aku mendengar langkah kaki yang terasa seperti langkah kaki raksasa. Dengan sigap aku memasang postur tubuh waspada, mengamati kaki yang lama kelamaan makin mendekat.
"Sudah bangun rupanya.." suara lembut itu mengagetkanku. Tapi sepertinya aku tidak asing dengan suara laki-laki tersebut. Perlahan aku mendongak ke atas, dan mendapati sosok laki-laki berambut hijau yang kukenali.
"Miaw!" aku mengeong, kali ini entah kenapa suaraku muncul dengan sendirinya. Laki-laki itu tersenyum dengan ekspresi sedikit kaget. "Ah, kau kenapa? Aku hanya ingin meletakkan ini kok." Ujarnya sambil meletakkan sebuah mangkuk kecil berisi susu hangat. Baru kali ini aku mencium bau susu hangat yang menurutku cukup menyengat. Perlahan aku menjilati susu tersebut. Hm! Ini enak sekali!
"Miaw.." tanpa sadar aku terus menjilati susunya hingga habis. "Kau suka ya? Yokatta na.." katanya sambil mengelus punggungku. Aku memperhatikan laki-laki tersebut. D-dia kan...
.
.
.
"Gumiya senseeeiii~~~!" suara nyaring khas anak kecil terdengar dari balik pagar.
"Yaa..." laki-laki tersebut berlari kecil menyusuri lorong sempit menuju pintu masuk. Aku memperhatikan laki-laki tersebut dengan tatapan tidak percaya. Gumiya sensei?!
Aku mengikuti Gumiya sensei ke pintu masuk. "Miaw~" aku melihat beberapa anak SD yang masuk ke rumah sensei. Mereka menenteng tas ransel berwarna merah yang bentuknya sama satu dengan yang lainnya.
"Sensei! Ini kucing sensei ya?" seorang anak perempuan berjongkok tepat di depanku. Wajahnya manis, dengan mata bulat berwarna hijau tua. "Ya~ itu kucingku.." jawab sensei dari ruang tamu.
"Kawaii~" anak tersebut mengelus kepalaku dengan lembut, lalu bergegas menyusul teman-temannya di ruang tamu. Rasanya dielus itu seperti ini ya...batinku. Rasanya menyenangkan!
"Sensei! Nama kucingnya siapa?" tanya anak perempuan yang tadi mengelusku.
"Hmm.." mata Gumiya sensei menatapku. Tatapannya membuatku sedikit gugup, terlebih karena mata hijaunya yang cukup tajam. "Namanya Shiro-chan!" jawabnya sambil terkekeh, disambut tawa anak-anak.
"Ah, sensei..! namanya sudah mainstream! Ahahaha.."
"B-biarkan! Sensei suka warna putih sih!" sanggah Gumiya sensei sambil menggembungkan pipi kanannya. Baru kali ini aku melihat ekspresi sensei seperti itu..
Aku hanya menatap kegiatan sensei dari sudut pintu. Jujur, aku tidak tahu harus bagaimana. Dengan wujudku yang berupa kucing...aku tidak tahu harus melakukan apa!
"Aaaahh~" Gumiya sensei meregangkan badannya ketika ia selesai mengajari anak-anak SD hingga sore menjelang. Aku ingat betapa ribut dan menyenangkan suasana belajar tadi. Anak-anak SD yang polos itu sibuk mengerjakan tugas, sedangkan sensei sibuk membenarkan kipas angin hingga diprotes oleh anak-anak.
.
.
"Sensei! Beli AC dong!" ujar salah satu anak bertubuh gempal. Sensei hanya merengut dan tetap membenarkan kipas angin. "AC kan menyebabkan global warming!" anak-anak polos yang tidak tahu-menahu tentang global warming pun sibuk bertanya, sehingga topik pembelajaran hari ini berubah menjadi pengetahuan akan global warming.
"Shiro-chan?" sensei berjongkok di depanku. Ia mengelus kepalaku lembut dan menggendongku. "Hari ini melelahkan ya.." ia pun duduk di beranda dan menaruhku di pangkuannya. "Tahu tidak, Shiro... musim panas ini akan jadi musim panas yang terpanas di Jepang.." Aku tahu kok, sensei. Sensei selalu membicarakannya di rumah dan akan berhenti membicarakan hal itu ketika AC sudah dinyalakan. Aku hanya bisa terkekeh dalam hati..
"Ngomong-ngomong..dia sedang apa ya.." gumamnya sambil merebahkan diri di tatami.
Dia? Dia siapa?
Seketika aku ingin bertanya. Dengan cepat aku berjalan menuju kepalanya,
"Siapa sensei? Dia siapa?"
"Eh? Kamu lapar ya?" sensei menatapku bingung. Ah iya, bodohnya aku.. apa yang kubicarakan hanya bisa terdengar "miaw.. miaw.." di telinga manusia. Bodoh...
Aku kembali ke sudut pintu geser, lalu tidur melingkar. Sudahlah, tidak akan ada yang mengerti apa yang kukatakan..
"Shiro-chan kenapa? Sakit? Lapar? Haus? A-ah! Kepanasan ya?! M-maaf! Aku belum bisa membelikan AC untukmu.." ia sibuk menggaruk tengkuknya.
Bukan itu masalahnya, sensei! Aku..aku hanya ingin ngobrol dengan sensei lagi, seperti dulu, seperti di rumahku ketika sensei mengajariku berbagai macam hal. Tapi dengan wujudku yang seperti ini...
Tanpa sadar tubuhku sudah terangkat. Rupanya sensei menggendongku ke halaman samping. Tatapannya tampak sedikit sendu ketika melihat ke arah langit.
"Dia...apa dia tahu aku mencemaskannya..?" gumamnya sekali lagi. Aku hanya menatap langit, mencoba mencari mukjizat agar terlepas dari wujud yang menyusahkan diriku sendiri.
Entah apa yang tengah dipikirkan sensei, aku hanya ingin bersama sensei..
Sensei yang selama ini membuka pikiranku akan dunia luar, membuat hariku berwarna, dan mengerti aku walaupun belum sepenuhnya..
.
.
.
to be continue~
RnR~?
