a/n: Yosh, maaf lama updatenya m(_)m Sebelumnya saya berterima kasih sekali pada amariys, skyesphantom, ai selai strawberry, Baka Fujo, akumakun, saerusa, Lylia00, dan Leavian yang sudah menyempatkan mampir di kotak review. Entah bagaimana jadinya semangat saya kalau tidak ada kalian /sobs *peluk satu-satu* Terima kasih yang juga sudah fave dan follow-nya, terima kasih untuk yang silent reader juga. Terima kasih untuk meluangkan waktunya membaca fanfic ini :'Da

Sebelumnya, ini balasan review yang tidak log in dan tidak bisa saya kirim inbox. Tehe ...

akumakun: Akashi tidak mati, sayang. Hehehe. Terima kasih, semoga bisa semakin kakkoi—meskipun mustahil HAHAHA. Siip, makasih sudah mampir ya ^ ^

saerusa: HAHAHA OMG YOUR REVIEW IS SO CUTE HAHAHA. Aw, sebenarnya saya agak takut ambil genre ini karena saya masih buta edukasi masalah ini dan jujur aja saya jarang baca novel dengan genre begini. Tapi karena memang saya penggemar crime dengan ikemen, jadinya... asdfgjkl dengan modal fangirling dan jadilah ini. HAHAHA. Tampan-tampan sekali mereka, saya juga kebayang bagaimana jadi makin tampan mereka apalagi sudah dewasa hwkwkwk. Aduh aduh Akashi sayang iya semoga selamat, wakakak. Si manis kan kuat, dia lagi nggak lucky aja kayaknya nolak lucky item bang Mido /no. Ah, syukur tidak berbelit-belit, setengah tahun yang lalu waktu saya post ini ada yang bilang bahasanya berbelit-belit (yang sok-sokan pake bahasa yang cuma bisa ditemui di KBBI tapi pembawaannya geje ._.) jadi saya edit nyaris kayak teenlit (?) dulu sebelum re-publish. Yes, alhamdulilaah. Yoyoy, Mido dokter jenius kyaaaa—sayang di chapter ini saya belum bisa masukin dia lagi :'( HAHAHA OMG HAIZAKI KEPANG TURIS MUAKAKA, ah tidak, saya tidak mau mempermalukan Bang Niji dengan uke-nya yang kayak turis nyasar wakakak *ditabok bolak-balik* Ah, iya. Kalau update-nya kurang memuaskan maaf ya ^ ^ Saya sudah lama tidak menulis soalnya. Terima kasih banyak sudah mampiir, terima kasiiih :'D


.

Judul: Conspiracy Control

Genre: Crime, future!AU

Karakter: GoM, Kagami Taiga, Himuro Tatsuya, etc

Warn(s): Future!AU, maybe Out of Character, Typo, Characters death, OCs

Rating: T

Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi

Image © 弥生 pixiv

Chapter 2

.

.

.

"Meskipun Muro-chin cuma kerja part-time di sini, aku tidak mau mempunyai pegawai malas yang suka melamun."

Pria dengan surai hitam itu berkedip dan menolehkan kepala ke arah Murasakibara yang sudah bersandar di samping pintu masuk ruang kerjanya, kawan sekaligus bosnya itu ternyata sudah mengukir ekspresi jengkel di wajahnya yang membuat Himuro mengingat beberapa hal negatif yang terjadi akhir-akhir ini—yang membuat Murasakibara menjadi tampak lebih seram dari biasanya. Bahkan suara yang barusan dikeluarkan Murasakibara dibawakan dengan nada nyaris terseret saking rendahnya, namun demikian suara tersebut masih sukses untuk memperbaiki jalur-jalur otak Himuro agar membuat sirkuit pikirannya kembali fokus pada aplikasi pembukuan ganda di laptopnya yang notabene menjadi pekerjaannya kali ini.

"Aah ... gomen, Atsushi." Himuro berujar, nada suaranya terdengar ringan meski ada satu keseriusan di sana. "Aku tidak akan mengulanginya lagi."

"Aku tidak pernah suka Muro-chin bekerja di sini. Muro-chin ini anak orang kaya yang tidak mau menggunakan uang orang tua. Bekerja di toko pastry terlihat sangat konyol untuk Muro-chin."

Himuro hanya menyunggingkan senyum tipis sebelum ia menyanggah satu kesalahan pada kalimat pria ini, "Kau sering lupa bahwa Aida-san hanya orang tua angkatku dan Taiga, Atsushi. Kau kira pantas pria berumur dua puluh dua tahun masih menghabiskan uang ayahnya untuk biaya kuliah, hm? Kita sudah sering membicarakan hal ini sebelumnya."

Murasakibara berdecak sembari menggulirkan malas dua bola matanya. "Tapi uang yang biasa Muro-chin dan Kaga-chin berikan pada rekening kami banyak sekali."

"Itu semua uang Aida-san. Kenapa, Atsushi? Apa kau merasa aneh dibayar oleh orang yang biasa kau bayar?" Himuro menarik dua sudut bibirnya, awalnya berniat untuk melemparkan candaan namun akhirnya ia hanya bisa menghela napas ketika menyadari kedua alis Murasakibara yang mulai berkedut dalam kejengkelan. "Kau harus mengontrol emosimu pada saat seperti ini, Atsushi. Bukankah Kuroko-kun mengatakan bahwa kalian semua ini profesional? Termasuk kau, 'kan?"

Garis lengkung bibir Murasakibara semakin menurun, "Tapi aku kesal ..."

"Kenapa, Atsushi?"

"Aka-chin tidak pernah kalah."

"Maksudmu?"

"Aka-chin tidak pernah kalah! Aku tidak mau diperintah oleh orang yang lemah."

Suatu refleks mendorong kelima jemari kanan Himuro untuk mengepal, sebelah memorinya terasa sedikit terkuak untuk mengingat posisi jabatannya di toko ini—namun seketika ia kesampingkan hal tersebut, "Hanya karena Akashi-kun terjatuh satu kali bukan berarti dia lemah, Atsushi. Kau sudah melihat kemampuannya ratusan kali, seharusnya kau membantunya pada saat-saat seperti ini. Jangan bersikap tidak adil."

"Kenapa? Kenyatannya Aka-chin tetap kalah."

"Itu tidak adil, Atsushi. Hanya satu kali—"

"Aka-chin tetap kalah."

Balasan kalimat dari Himuro selanjutnya tidak pernah tercelat, entah apa yang membuat otaknya tidak bisa meraih kata-kata yang tepat untuk mewakili isi pikirannya. Pada akhirnya Himuro hanya bisa melontarkan kalimat yang kontras dari jalur otaknya, "Maa ... kalau begitu terserah Atsushi saja."

Pria bersurai violet itu pun tidak lagi memberikan respon. Ia hanya memutar langkahnya, meninggalkan ruang kerja kecil tersebut tanpa secuil respon terakhir untuk sang pria raven.

Sedangkan Himuro hanya bisa menggunakan ujung ekor matanya untuk memerhatikan gerakan bosnya itu yang sudah kembali bekerja menatap lembaran kertas berisi pesanan-pesanan tokonya yang mulai membentuk deretan panjang. Nyaris semua pesanan tersebut akan disuguhkan untuk pesta atau pertemuan para anggota majelis, semua itu diatur oleh Kensuke Fukui yang mempunyai banyak relasi dengan para head chef dari sebagian besar anggota-anggota majelis tinggi maupun rendah. Jika segalanya berjalan dengan lancar, Murasakibara atau pun dirinya serta para bawahan Murasakibara lainnya—Liu, Okamura, maupun Fukui—secara bergantian akan menyelusup menjadi delivery men yang mencari informasi atau akan langsung menyerang di tempat jika perlu—dengan berusaha bekerja tanpa menimbulkan keributan—tergantung rencana yang disusun berdasarkan permintaan klien tim pengungkap konspirasi.

Toko pastry ini memang jarang dibutuhkan oleh tim secara langsung karena memang pesta ataupun acara perkumpulan para anggota majelis biasanya diselenggarakan pada tanggal-tanggal tertentu. Maka dari itu Murasakibara menghabiskan sebagian besar waktunya untuk stay di apartemen yang menjadi basecamp tim selama kurang lebih tiga tahun ini. Acapkali Murasakibara membantu Kuroko dan menganalisis hasil kerja lapangan para anggota lainnya, ataupun ia pun sering ikut membantu anggota lain untuk turut melakukan kerja di lapangan.

Anggota pembantu dari tim pengungkap konspirasi memang cukup bercabang di berbagai konsentrasi bidang, namun demikian perlakuan untuk Himuro dan Kagami khusus serta sedikit berbeda. Keduanya adalah anak angkat dari Kagetora Aida, yang merupakan ketua Majelis Tinggi Parlemen—di mana Kagetora adalah salah satu klien tim pengungkap tim konspirasi yang sering memakai jasa mereka melewati dua anak angkatnya tersebut.

Di antara mereka tidak ada yang bisa menyentak sela memori masing-masing untuk membuka ingatan samar masa kecil saat tempat tinggal mereka berpindah dari panti asuhan ke suatu rumah yang luar biasa besar. Hanya satu hal yang mereka tahu dan membuat mereka merasa beruntung, bahwa pengadopsian ini tidak memisahkan mereka seperti apa yang sering terjadi pada anak-anak lain di panti asuhan. Bahkan Riko, anak perempuan Kagetora, juga menyambut keduanya sebagai adik barunya dengan sangat baik. Kehidupan mereka masih berjalan pada garis lurus, setidaknya sampai pikiran Kagami dan Himuro secara natural mulai terbuka seiring dengan kedewasaan yang merambati keduanya. Mereka mulai mengerti, mereka mulai mengetahui, bahwa semua masalah-masalah yang menjadi pekerjaan Kagetora—yang pada saat itu baru saja menjadi salah satu anggota majelis tinggi—tidaklah mudah. Konfrontasi dan konspirasi yang bertebaran, dunia politik yang sebagian besar nyatanya hanyalah rekayasa dari orang-orang yang tidak bertanggungjawab, pengkhianatan dan segala macamnya cukup membuat Kagetora pada saat itu mengalami masa depresi di sepanjang sejarah karirnya.

Alasan logis yang membuat Kagami dan Himuro terlibat dalam dunia yang lebih rumit untuk membantu seseorang yang nyaris sepenuh hidupnya telah memberi mereka suatu kehidupan yang layak. Pada saat itu segalanya berjalan dengan mulus, membuat Kagetora serta puluhan kepala kepolisian dapat meraup napas lega. Namun sangat disayangkan kedamaian itu hanya terjadi non-permanen dan berakhir ketika eksistensi tim terliput dan terkuak pada lembaran kertas maupun screen media elektronik, dan sampai leader tim tersebut secara tiba-tiba tidak diketahui keberadaannya.

"Muro-chin ..."

Himuro—yang memang masih menancapkan arah pandangnya pada Murasakibara—mengangkat alis dan membuka dua sisi bibirnya yang sebelumnya terkatup rapat, "Butuh bantuan, Atsushi?"

Yang ditanya hanya mengangguk kecil, kilat matanya yang beberapa menit lalu diliputi oleh kejengkelan kali ini malah terlihat sayu, "Aku takut salah analisa, Muro-chin ... permintaan klien yang ini biasanya lebih dimengerti oleh Aka-chin yang seorang CEO. Muro-chin kan mahasiswa jurusan manajemen bisnis ... uhm, aku bertanya pada orang yang tepat, 'kan?"

"Kukira kau sedang tidak mood dan tidak mau diperintah oleh orang yang lemah, Atsushi?"

"Aku profesional, Muro-chin."

Himuro hanya bisa mengulum senyum.


"I am a firm believer in the people.

If given the truth, they can be depended upon to meet any national crisis.

The great point is to bring them the real facts."

—Abraham Lincoln


.

~000~

Aomine Daiki melempar ponselnya ke dalam kantung seragam biru tuanya pada detik ketika dua bola matanya menangkap sosok Kuroko Tetsuya yang sedang berlari ke arahnya. Pria dengan surai biru muda itu terlihat terengah-engah dengan satu kepanikan yang kentara sekali menguar di wajahnya. Dua pasang manik penglihat mereka kemudian saling bertatapan selama beberapa detik sebelum Aomine ganti melemparkan pandangannya pada sosok figur kecil dengan helaian surai hitam yang sedang terduduk di depan gerbang sebuah rumah besar. Tubuh kecil itu bergetar cukup kencang. Melihat kondisi sosok mungil tersebut sangat cukup untuk membuat Kuroko terperangah selama sepersekian detik sebelum satu refleks mendorong dua kakinya untuk kembali berlari ke arah si gadis kecil, melewati ratusan orang yang sedang mengitari rumah tersebut.

"Akane-chan ..."

Kepala kecil itu pun terangkat, wajahnya basah oleh air mata yang masih belum berhenti membentuk aliran sungai kecil di pipinya, "Tetsuya-sensei ..."

Gadis kecil itu ganti mengangkat dua lengannya dan mendekap erat sosok gurunya. Dua sisi bibir Kuroko Tetsuya tidak berhenti untuk mendesiskan kalimat-kalimat penenang seiring dengan kedua tangannya yang masih mengusap lembut figur mungil tersebut yang bergetar di dekapannya. Harasawa Akane—nama bocah perempuan kecil tersebut—hanya bisa mengencangkan eratan dua kepalan tangan kecilnya dan membenamkan kepalanya pada bahu sang sensei. Isakan anak itu memang nyaris tidak tertangkap oleh beberapa pasang telinga yang agak jauh, namun semua orang yang dapat melihatnya pun tahu bahwa putri bungsu keluarga Harasawa yang beberapa hari lalu memasuki usia lima tahun itu sedang dalam keadaan luar biasa terguncang dari segala sisi mentalnya. Halaman rumah besar kediaman keluarga Harasawa sudah nyaris tidak berbentuk, warna kehijauan rumputnya sudah terkotori oleh beberapa batu maupun kerikil dan sampah bahkan sebagian sudah ada yang menghitam oleh bekas pembakaran.

"Bawa aku kepada Tou-san, Tetsuya-sensei! Aku mau bertemu dengan Tou-san sekarang!" Gadis kecil itu menengadahkan kepalanya seiring dengan suaranya yang mengudara, tak lupa juga kesepuluh jarinya yang mulai menarik jaket biru milik Kuroko. "Sensei..."

"Pasti. Pasti Akane-chan akan bertemu dengan Tou-san secepatnya." Kuroko mengusap dua pipi merah muda sang gadis kecil dengan ibu jarinya dan mengulas senyum hangat, "Tapi sekarang Akane-chan ikut dengan Tetsuya-sensei dulu, ya?"

DAKH

"Tetsuya-sensei!"

Sebuah batu berdiameter tiga sentimeter—entah sengaja atau tanpa sengaja—mendarat cukup keras pada belakang kepala Kuroko, membuat pria itu mengeluarkan desisan seiring dengan rasa sakit yang secara cepat merambati bagian atas tubuhnya itu. Sedikit mengerikan, sepertinya posisi mereka yang cukup jauh dari kediaman rumah Harasawa sudah diketahui oleh orang-orang tersebut.

"MUNDUR!" Wakamatsu Kousuke—yang memang sudah lebih dari satu jam terakhir mengamankan massa, bersama Aomine—akhirnya naik pitam ketika melihat kejadian, "KALIAN TIDAK LIHAT ADA ANAK PEREMPUAN YANG MASIH KECIL DI SINI, HAH?!"

Aomine menghela napas sembari berdecak seketika melihat tingkah temperamen partner-nya tersebut sebelum ia mula ganti berbicara, "Harasawa Katsunori sudah kami amankan, mohon jangan ada keributan di sini. Untuk yang terakhir kalinya kami minta untuk menyerahkan semuanya pada kepolisian."

Gadis kecil itu hanya menunduk melihat reaksi para manusia itu yang malah semakin keras bersuara disusul dengan teriakan kepolisian sebagai respon yang berkesinambungan. Dua bola matanya terasa memanas dan hanya butuh hitungan detik sebelum ia membenamkan keseluruhan wajahnya ke dalam lututnya yang terlipat.

"Harasawa sudah merampas seluruh harta kami, polisi sialan! Dia juga sudah melakukan penipuan besar-besaran terhadap rakyat dan seluruh orang yang bekerja di bisnisnya! Dan kau—ya, kau polisi salah satu tim pengungkap konspirasi! Apa kau buta untuk tahu bahwa dia yang mencelakakan pemimpinmu?!"

Merasa dirinya disinggung, Aomine merasa kepalanya semakin berdenyut pusing, "Pemeriksaan belum sepenuhnya selesai. Rumor yang menyangkut pemimpin tim konspirasi pun akan masih tetap kami periksa. Sekali lagi, kami mohon serahkan semua urusan pada kami."

"Omong kosong. Aku tidak percaya pada polisi! Si Harasawa itu mantan kepala tinggi kepolisian wilayah Kanto sebelum bekerja di parlemen, aku yakin ada kerjasama busuk di sana."

"Delapan ratus juta yen!"

"Majelis brengsek!"

"Kembalikan juga pemimpin tim konspirasi! Suruh dia mengungkap kebenarannya!"

"Harasawa bajingan!"

DOR!

Tembakan pistol di udara cukup membuat orang-orang tersebut mengunci baik mulut atau gerakan mereka selama beberapa saat—meskipun situasi masih sama lusuh.

"DIAM! AKU MINTA KALIAN SEMUA TENANG!" Dan untuk yang pertama kali akhirnya Aomine berteriak, sebelah tangan kirinya mengusap wajah sembari menarik napas—tanda ia sebenarnya tidak mau melakukan hal seperti ini. "Jika tidak mau kalian yang ditangkap karena membuat keributan, aku minta kalian semua tenang."

"Kau tidak akan mengerti, officer sialan." Salah satu orang di sana membuka suaranya, sadar atau tidak mulai kembali menyulut keributan. "Kau tidak akan mengerti bagaimana rasanya bajingan itu merampas harta kami semua. Bahkan kau tidak akan mengerti bagaimana rasanya kehilangan tempat tinggal, istri, dan anak-anak karena kehilangan pekerjaan. Berapa banyak teman-teman kami yang bunuh diri, kau tidak akan pernah bisa menghitungnya! Ketika kami semua menunggu pemimpin tim konspirasi untuk membongkar kejahatannya, dia tiba-tiba menghilang! KAU TIDAK AKAN PERNAH MENGERTI, BRENGSEK! BAGAIMANA KAU AKAN MENGADILINYA TANPA AKASHI YANG MEMIMPINMU?!"

Aomine nyaris meringis samar, "Berarti Anda tidak percaya pada anggota tim yang lain?"

"Kau pikir aku buta? Satu-satunya anggota tim konspirasi di sini yang memegang kendali penuh atas parlemen adalah pemimpinmu, bukan kau yang hanya memegang kendali di deputi kepolisian!"

"Kau bisa apa, Officer? Meskipun kau polisi tapi jika seluruh anggota majelis tidak berpihak padamu, kau bisa dipenggal!"

"Kalian pikir kami tidak tahu kebusukan di majelis, hah? Bahkan Ketua Majelis Tinggi yang terkenal dengan kejujurannya itu juga sudah nyaris menyerah untuk menghadapi kebusukan bawahan-bawahannya."

"Kepolisan tidak berguna."

"Tim pengungkap konspirasi juga sedang kehilangan pemimpinnya."

"Kembalikan pemimpin tim mereka untuk mengungkap bukti kejahatan Harasawa!"

"Negeri monarki ini milik rakyat dan kami tidak butuh lagi wakil-wakil yang duduk di kursi yang bisanya cuma menghancurkan negeri kami!"

"Kami membutuhkan lagi pemimpin yang lebih memilih harakiri ketika ia membuat kesalahan!"

"KAMI TIDAK BUTUH PERDANA MENTERI YANG HANYA JADI BONEKA!"

"KAMI JUGA TIDAK BUTUH RAJA YANG BISANYA HANYA MENIKMATI KEKAYAAN DAN SAMA SEKALI TIDAK BERPERAN UNTUK KEDAMAIAN!"

Satu sisi kepala Aomine berdenyut kencang dalam kelelahan, sela otaknya sama sama sekali tidak mengerti mengapa semua kesalahan-kesalahan pemerintah dilontarkan tepat di depan seorang officer. Pria itu hanya bisa bertukar pandang pada Wakamatsu—yang ternyata sudah menancapkan pandangannya terlebih dahulu padanya—dan memulai begerak cepat sebagai refleks ketika orang-orang pun maju dan mulai melemparkan benda-benda yang tidak selazimnya kepada seluruh kepolisian yang berusaha mengamankan massa.

Kuroko termangu, dua bola matanya berkedip seolah kejadian di hadapannya ini bisa hilang begitu saja ketika kelopak matanya terbuka. Ia menyingkirkan rasa sakit di kepalanya kuat-kuat, kemudian dalam satu gerakan pria itu membawa Akane ke dalam gendongannya dan berjalan ke arah mobil polisi serta membuka pintunya dengan cepat, "Masuklah ke dalam mobil, Akane-chan. Di sini masih luar biasa berbahaya. Masuklah. Di sana ada Sakurai-san yang akan mengantar Akane-chan, nanti Tetsuya-sensei akan menyusul. Mengerti—AAH—AAAH!"

Teriakan itu disebabkan oleh eksistensi satu kain putih yang membalut kepala Kuroko dengan luar biasa kencang secara tiba-tiba dengan tujuan menghentikan darah yang mengalir dari lukanya. Kuroko pun menolehkan kepala untuk menangkap potret oknum yang melakukan hal ini padanya.

Sedetik kemudian ia pun hanya bisa mendesah jengkel ketika mengetahui siapa yang melakukan hal ini, "Ikatannya jangan terlalu kencang dan mendadak seperti ini, Kagami-kun! S—sakit!"

"Di sini ramai sekali. Aomine dan Wakamatsu terlihat sangat kewalahan." Kagami berujar, melontarkan alasan dengan relasi terbalik dari komplain yang Kuroko celatkan barusan.

Kuroko hanya mengeluarkan desisan untuk yang kedua kalinya.

"Aku dan Tatsuya ke sini untuk membawa Akane ke rumah. Harasawa-san sudah mengenal baik Aida-san di majelis. Ah, Akane-chan juga sudah sangat dekat dengan Riko. Ya, 'kan, Akane-chan?" pria bersurai merah itu menjelaskan sejenak sebelum menyimpulkan ikatan kain tersebut untuk terakhir kali—yang membuat Kuroko nyaris berteriak untuk yang kedua kalinya—dan melangkah menuju gadis kecil itu yang merangkak mundur di atas kursi mobil.

"Kau selalu menakuti Akane-chan setiap kali kau mendekatinya, Taiga." Himuro yang sedaritadi berdiri di samping Kagami pun mendorong keras bahu pria tersebut, sebuah senyum yang tidak lepas wajahnya sungguh kontras dengan perlakuannya. Namun sikap Akane yang mulai menundukkan kepalanya dan mendiamkan gerakannya menunjukkan bahwa ia tidak menolak dengan apa yang Himuro lakukan. "Akane-chan?"

"Tatsuya nii-san ..."

Alis Kagami terangkat, setengah jengkel melihat perlakuan kontras yang didapatnya, "Ukh, baiklah. Kau urus bocah itu, Tatsuya."

"Aku mau bertemu dengan Tou-san."

"Akane-chan ..." Kuroko akhirnya kembali bersuara, sebelah tangannya terangkat dan mengusap puncak kepala si gadis kecil, "Nanti kita akan bertemu dengan Tou-san asalkan Akane-chan ikut dengan Tatsuya nii-san dulu."

"Tetsuya-sensei janji akan memberitahu mereka semua bahwa Tou-san tidak pernah menipu mereka, 'kan? Mereka semua salah, 'kan, Tetsuya-sensei?"

"..." Pria itu terdiam sejenak, selang beberapa detik kemudian ia pun menghela napas dan perlahan melengkungkan garis bibirnya ke atas, "Ya. Pasti. Pasti, Akane-chan."

.


.

Dari sudut pandang pria itu, secara sekilas ruangan tersebut tidak mempunyai perbedaan yang kontras dengan ruangan yang biasa ia diami. Kendati demikian, sepasang mata heterochrome tersebut dapat mengetahui bahwa ratusan alarm pengaman sudah terpasang di sekitarnya dan hanya tidak berfungsi jika ada yang akan memasuki ruangan ini. Ia hanya mendesah perlahan, menyandarkan kembali punggungnya pada dinding dingin di belakangnya. Kegelapan yang selalu membungkus rata ruangan tersebut membuat pria tersebut tidak mengetahui warna si dinding sampai hari ini. Tubuhnya terasa lemas, entah obat macam apa yang mereka suntikkan setiap harinya sampai tiga hari ini ia masih tidak bisa melakukan apapun kecuali hanya terdiam serta bersandar di sisi ruangan. Beberapa luka dari handgun dua hari lalu yang bersarang di beberapa bagian tubuhnya sudah sedikit mengering meskipun masih ada rasa perih tersisa yang menjalar setiap kali ia melakukan sedikit gerakan.

Derap-derap langkah merambati indra pendengarannya, menyeruak keheningan gelap ruangan. Ia hanya menggulirkan bola matanya ke arah daun pintu, meski tidak meraba namun saraf pendengarannya dapat merasakan alarm pengaman yang sudah dimatikan. Detik berikutnya, suara nyaring sisi daun pintu yang terbuka pun mengudara. Dua pasang kaki melangkah mendekat, diiringi dengan lemparan suatu benda persegi panjang berbahan kertas yang mendarat di hadapannya.

"Protes ratusan masyarakat dan mantan pekerja perusahaan Harasawa di depan kediamannya. Bagaimana menurutmu, Akashi?"

Akashi hanya menatap samar lembaran kertas yang diprediksinya baru turun cetak pada hari ini, "Itu pasti akan terjadi. Pilihan Harasawa memang hanya satu—masuk penjara."

"Bebaskan dia."

"Bagaimana caranya? Aku tidak bisa melakukan apa-apa jika kalian menangkapku seperti ini."

"Kau pikir kami percaya kau akan membebaskannya jika kami melepaskanmu? Kau bisa saja berkhianat, sialan."

Akashi hanya menyeringai, "Oh? Apa kau pernah melihatku dan timku berkhianat?"

Hela napas selama seperkian detik menjadi respon.

"Bersihkan namanya, Akashi. Bagaimanapun dia calon perdana menteri dari Majelis Tinggi."

Hanya keheningan yang menjadi respon. Dua pasang mata beradu dengan mata heterochrome tersebut selama beberapa saat, dibayangi oleh sinar bulan yang menyelusup dari satu sisi jendela. Sunyi masih menyeruak sampai garis kesabaran milik salah satu dari mereka terbakar habis. Perlahan salah satu dari kedua orang itu mulai mengambil langkah, mendekati figurnya yang masih tidak bergeming, mencengkeram erat sebuah benda yang berada dalam genggaman kelima jarinya.

STAB

Dalam hitungan setengah detik, sebilah pisau tertancap pada luka di kaki sang pemimpin tim konspirasi yang baru saja nyaris mengering. Sontak jeritan tertahan terdengar dari dua sisi bibirnya, pada saat itu juga napasnya memburu dan pandangannya nyaris seluruhnya memutih. Dua telapak tangannya yang terikat di belakang punggung membentuk kepalan untuk menahan rasa sakit yang luar biasa perih, sementara dua matanya kali ini terpejam sangat erat.

"Hentikan! Kontrol emosimu, bodoh! Nanti dia bisa kehabisan darah!"

"Dari awal sudah kubilang bunuh saja dia! Kalau sudah begini dia hanya menjadi sampah yang bisanya hanya menganggu."

Kalimat perdebatan selanjutnya hanya bisa ia dengar samar, bunyi debaman kecil terdengar saat tubuhnya terjatuh ketika ujung pisau yang dingin itu menembus lebih dalam pada lapisan daging bagian bawah tubuhnya tersebut. Setengah mati Akashi berusaha untuk menahan buliran kecil air yang tertahan di matanya agar tidak terjatuh. Harga dirinya terasa hancur pada saat itu juga. Entah apa yang terjadi jika lima anggota timnya melihat dirinya dalam situasinya yang luar biasa memalukan seperti ini. Ia yang sedang menahan rasa sakit, tangisan perih—semua reaksi yang dulu pernah ia lalui beberapa tahun lalu dan detik ini kembali terulang. Rasa sesak yang menguar di dadanya tumpah pada saat itu juga dalam satu jeritan seketika pisau itu beralih posisi pada sebelah kakinya.

"Sungguh, Akashi. Teriakan yang bising sekali."

Akashi hanya bisa mengepalkan kembali dua telapak tangannya yang gemetar. Dirinya tidak bisa berbuat apapun kecuali berharap keajaiban akan jatuh menimpanya, berharap efek obat yang mereka berikan setiap harinya itu lenyap dalam sekejap.

Namun hal itu sungguh naif.

"Leader!" Pintu seketika menjeblak terbuka, menampilkan sosok yang diselimuti bayangan gelap lampu pijar. Sosok tersebut terlihat terengah, mereguk napas sesaat sebelum ia mulai kembali berbicara, "Ini belum pasti ... tapi ... sepertinya ada beberapa orang tak diharapkan yang datang."

.


Seperti kukatakan sebelumnya, semua itu seperti menembakkan peluru kosong—sungguh tidak ada hasilnya.

Namun kenapa kenafsuan duniawi tidak pernah bosan untuk selalu merambati celah-celah kecil dunia dan mengikatnya?

Bukankah pada akhirnya kita semua hanya akan menjadi selosong kerangka mati yang tak bernyawa?

Kenapa hidup yang singkat ini tidak digunakan untuk membuat kedamaian?


.

"TAKAO-CCHI!"

Brukh

"Oops, nyaris saja alarm-nya tersentuh." Sang wartawan itu hanya bisa nyengir setelah tubuhnya sukses terjatuh ke belakang karena tarikan seseorang yang memanggilnya barusan, kemudian dalam hitungan detik ia pun berdiri untuk menyusul posisi sang pilot—yang saat ini mengenakan pakaian casual-nya. "Terima kasih, Kise-kun."

Pria blondie yang disebut tadi hanya bisa menghela napas dan menggelengkan kepala, "Aku tidak bisa melakukan itu untuk yang kedua kalinya, Takao-cchi. Lain kali lebih hati-hati."

"Kise-chiiin ... Takaooo ... apa yang kalian lakukan? Cepat laah ..." Murasakibara yang sudah berposisi beberapa meter di depan mereka pun sontak mengeluh jengkel, kentara sekali guratan wajahnya menampakkan kekesalan ketika melihat dua orang itu terlambat beberapa meter darinya. "Alarm yang bagian itu 'kan belum aku matikan sistemnya, sudah berapa kali aku bilang jangan lewat sana? Honto ni baaaka dana a ..."

Takao hanya menunduk dan nyengir kembali, tulus permintaan maaf di sana. Memang ada beberapa anggota tim pengungkap konspirasi yang tidak cocok dengannya dari berbagai sisi. Namun jika mereka dengan berani menyatakan diri bahwa mereka terbalut dalam keprofesionalan, tentu saja Takao juga bisa menjadi penggali berita yang profesional.

"Harusnya yang ikut kita Haizaki saja ... Haizaki lebih bisa fokus meski dia berandal! Hngg ... kalau Takao yang di sini malah merepotkan." Murasakibara kembali bersuara tanpa menolehkan kepala sementara tangan-tangannya masih sibuk untuk mematikan sistem alarm di hadapannya.

Kendati demikian, kalimat Murasakibara selalu mengalir jujur apa adanya sehingga Takao tidak bisa menyanggah walaupun hanya untuk sepotong kalimat.

"Murasaki-cchi terlalu berlebihan. Takao-cchi juga bisa diandalkan, kok. Jangan begitu, ah." Kise bersuara ringan, meskipun sepasang manik keemasannya masih tetap awas untuk turut berjaga-jaga dan berusaha untuk menemukan garis-garis alarm tak kasat mata lainnya pada jalur lain yang akan dilalui. "Omong-omong, Takao-cchi. Ingat bahwa kita ada di sini hanya ingin mencari informasi kebenaran tentang lokasi penyekapan Akashi-cchi dan siapa yang mendiami rumah ini, jadi—"

"Jadi jangan dengan bodohnya memberitakan hal ini di media dulu atau aku akan mencincangmu."

Takao tertawa samar sembari mengibaskan telapak tangan kanannya, "Aku tahu, tenang saja! Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Berita ini akan kumasukkan ke media kalau semuanya sudah beres."

"Yap! Nanti akan ada saatnya untuk penyerangan sesungguhnya, seluruh anggota akan ikut dengan perannya masing-masing terutama Aomine-cchi. Takao-cchi juga boleh ikut membantu lagi biar informasi yang nanti akan diberitakan benar-benar akurat." Kise mengulas senyum seiring dengan kalimat terakhirnya.

Sementara Murasakibara hanya mendesis, "Sudaaah! Aku ingin Aka-chin cepat kembali, jadi lebih baik Kise-chin lebih cepat lagi membantuku!"

"Hai, hai, Murasaki-cchi."

Jari-jemari Takao masih menimang kameranya sesaat sebelum telinganya menangkap suara derap langkah yang begitu halus. Ia terdiam, memakukan tubuhnya sejenak untuk tidak menimbulkan kecurigaan pada siapapun menuju yang ke arahnya. Sedetik kemudian tangannya mengepal dan ia mulai melangkah mundur, mencoba untuk tidak menciptakan keriuhan dan menghancurkan konsentrasi dua orang tim yang berjarak beberapa meter di hadapannya. Dalam beberapa langkah, ia menghilang dalam kegelapan—yang sama sekali bukan seonggok masalah untuknya yang dikaruniai oleh daya lihat yang cukup tajam—dan dalam satu gerakan memutar balik badannya dengan cepat.

Prediksinya tepat pada saat itu juga. Sebuah revolver yang tergenggam di dalam sepasang tangan teracung angkuh kearahnya dan kapan saja siap untuk memuntahkan timah panas yang bersarang di dalamnya. Detik di mana pelatuk senjata api tertarik adalah detik dimana ia sadar bahwa jika ia terlambat setengah detik saja untuk bergerak serta menyerang dari arah samping, mungkin pada detik ini juga peluru yang meleset tadi sudah bersarang di kepalanya. Degup jantungnya bekerja lebih cepat dari biasanya, parahnya lagi ia tidak bisa melihat wajah yang ternyata ditutupi oleh topeng semi-abstrak dengan sebuah seringai yang tergores di sana. Untuk yang kedua kalinya Takao melangkah maju, dalam satu gerakan ia menendang dua tangan yang kembali terangkat dan nyaris menarik kembali si pelatuk tersebut. Namun sayang kaki jenjang Takao tidak sanggup untuk membuat orang tersebut terjatuh, kondisi diperburuk dengan kakinya yang secara tiba-tiba terperangkap oleh dua tangan tersebut dan menguncinya dengan erat.

Takao menggeram, tiba-tiba kalimat Murasakibara yang beberapa belas menit lalu memasuki gendang telinganya pun kembali berdentang kencang di dalam indra pendengarannya. Dengan gerakan cepat Takao merogoh satu pistol berkaliber enam milimeter—yang Kise berikan padanya sebelum masuk untuk berjaga-jaga—yang terselip dalam belakang saku celananya.

DOR!

"Takao-cchi! Takao-cchi! Kau di mana?!" pekikan tertahan—mereka masih berusaha untuk tidak menimbukan kegaduhan—dari Kise terdengar di belakang Takao, ada lebih dari sepasang derap langkah kecil di sana yang menandakan Murasakibara juga turut mengikuti Kise.

"Aku ... di sini, Kise-kun."

Pria yang baru saja terpanggil itu masih jatuh terduduk, mencoba menormalkan kembali degup jantungnya yang saat ini sedang bekerja lebih keras dari biasanya. Tatapannya masih terpancang sayu pada sosok yang ambruk karena tembakannya barusan. Beberapa detik kemudian penglihatannya terisi oleh dua sosok Kise dan Murasakibara yang memenuhi ruang pandangnya.

"Takao-cchi ... astaga, dua suara tembakan. Kau tidak apa-apa, 'kan?" Bagaimana sebuah kalimat retoris diutarakan dengan ketulusan oleh sang blondie ini, Takao sendiri tidak dapat mengerti.

"Jujur saja ... aku ... ukh ... ini pertama kalinya aku memegang dan menarik pelatuk pistol, sebenarnya." Yang ditanya kemudian hanya bisa tertawa sebelum ia buru-buru melanjutkan, "Kalian duluan saja. Aku butuh waktu sebentar untuk sendiri ... dan tidak mau menghalangi kalian. Aku akan keluar sekarang sebelum orang-orang yang lain datang, nanti kutunggu kalian di tempat kita memarkir mobil."

Kise dengan cepat pun menganggukkan kepala, "Cepat keluar dari sini, ya, Takao-cchi. Lewat jalan yang tadi ... kurasa masih aman."

Kali ini Takao yang balas mengangguk, sepasang matanya pun hanya bisa menatap dua pria di hadapannya ini yang mulai beranjak pergi dari posisinya saat ini. Murasakibara sempat melempar pandangan ke arahnya selama sepersekian detik—yang entah apa maknanya, namun Takao mencoba untuk berpikir positif bahwa Murasakibara sedang memastikan semua akan baik-baik saja—sebelum pria jangkung tersebut memutar kembali kepalanya dan melangkah bersama Kise. Acapkali melihat sosok mereka berdua pada malam ini jujur saja selalu membuat setengah hatinya masih merasa tidak percaya bahwa roommate-nya selama ini sudah terlibat dalam menjalani pekerjaan semacam ini jika sedang tidak mengenakan jas putih dokter kebanggaannya.

Tarikan napas dalam pun terhela untuk terakhir kali sebagai penenang. Pandangan matanya turun pada sosok yang masih terbaring tersebut, Takao memutuskan untuk segera bangkit dan keluar secepatnya dari rumah ini. Namun satu rasa penasaran akan guratan wajah seseorang yang menyerangnya ini tiba-tiba merambati saraf otaknya. Kise dan Murasakibara mungkin lupa untuk membuka kedok di balik topeng tersebut karena orang ini jatuh dalam posisi tertelungkup. Sebelah tangannya bergerak perlahan menuju ke arah sisi bawah topeng tersebut, ada jeda setengah detik di sana sebelum ia menariknya dengan amat hati-hati.

GRAB

"..."

Jika saja Takao tidak dalam keadaan sedang luar biasa terkejut, mungkin ia akan mengeluarkan serapahan untuk yang kedua kalinya. Namun fakta yang sedang terpampang di hadapannya ini hanya bisa membuatnya terpaku dan nyaris tidak dapat bergerak sedikitpun. Seraut wajah yang sungguh ia kenali ada di balik topeng tersebut, ditambah dengan kebodohannya yang baru ia sadari bahwa tidak ada darah yang mengalir dari luka tembaknya—pakaian anti peluru terbalut sempurna pada tubuhnya.

Kinerja jantungnya yang semakin berdetak tidak karuan itu menambah buruk situasi berkali-kali lipat, otaknya tidak lagi bisa bekerja secara cepat. Ketika orang tersebut kembali menyerang dan mengunci lengan dan kakinya erat secara simultan, Takao hanya bisa turut terjatuh dan memandang sosok tersebut dengan bola matanya yang membesar.

"Ssh, tenanglah. Tenang, Takao."

Dua sisi bibirnya masih terkatup dan membeku.

"Tenanglah."

.

.

.

CRASH

.

.

.

.


~000~

.

"Lagipula untuk apa kau dan Murasakibara pergi ke sana tanpa menunggu kita? Ck. Kenapa juga Takao kau bawa? Lihat apa yang terjadi akibatnya sekarang, 'kan? Takao koma dan mendadak Midorima jadi seperti kehilangan oksigen begitu saja. Mood dropped—yang berarti pekerjaan kita di beberapa bidangnya juga terhambat ... akh, sementara klien masih tidak ada habisnya. Untung saja kau dan Murasakibara bisa menanganinya dan keluar dengan aman dari sana. Ukh ..."

Aomine Daiki menutupi wajahnya dengan sebelah lengannya, tubuhnya ia sandarkan sepenuhnya pada sofa panjang di ruang tamu basecamp. Hari ini ia sudah tidak bisa menghitung lagi berapa kali napas berat terhela olehnya. Setelah menghadapi ratusan warga yang protes di depan rumah Harasawa yang membuat beberapa luka dengan sukses mengotori tubuhnya, tiba-tiba ia dilempar oleh berita soal penyergapan Akashi.

"Murasaki-cchi yang mengajakku saat Kuroko-cchi mendapat informasi dugaan tentang lokasi penyekapan Akashi-cchi! Kebetulan Takao-cchi juga sedang melakukan wawancara padaku siang tadi ... ya begini jadinya. Mana kutahu akan jadi seperti ini akhirnya, Aomine-cchi." Kise menaikkan dua kakinya ke atas kursi, melipat kedua lututnya serta meletakkan dagu di tengah sisi dua lututnya yang terlipat tersebut. "Lagipula kasihan Akashi-cchi. Bagaimana coba kalau seandainya kau yang disekap, Aomine-cchi?"

Polisi itu tidak melontarkan meski barang satu jawaban seiring dengan separo pikirannya masih tidak bisa membayangkan apa yang saat ini sedang terjadi pada Akashi. Namun sejujurnya, sebagaimana profesionalisme anggota tim konspirasi yang lain, ia sendiri masih tidak bisa memilih urusan mana yang harus ia pegang terlebih dahulu. Permintaan klien tim semakin menggunung, ditambah tugas kepolisian yang menimbulkan list kewajibannya nyaris meluber, sementara pemimpin yang pada detik ini entah bagaimana nasibnya. Memikirkan itu semua secara bersamaan hanya membuat kepalanya terasa sakit.

"Mereka pasti sudah pindah lokasi sekarang. Akan sulit lagi mencari Akashi-cchi." Kepala sang pilot menengadah ke atas, membuat helaian surai pirangnya bergoyang apik ke bawah sementara bola matanya berputar seolah mencari solusi. "Aaah, aku tidak pandai urusan sistem informasi komputer."

"Sepertinya kita memang harus kembali menunggu hasil kerja Tetsu."

Ujung mata Aomine dan Kise pun melirik figur pria yang baru saja disebut namanya itu di seberang ruangan dengan sebuah laptop yang sedang berhadapan dengannya selama beberapa jam terakhir. Sekilas pria bersurai biru muda itu tampak mirip seperti Akashi jika dipandang dari satu sudut, keduanya memang menguasai bidang sistem komputer dan senang bekerja saat malam hari—tambahan untuk Akashi yang nyaris menguasai semua bidang.

"Nee, Aomine-cchi, semangat ya."

"Huh?"

"Aku lihat Aomine-cchi lelah sekali akhir-akhir ini. Tapi tetap semangat. Dua pekerjaan ganda Aomine-cchi tidak akan pernah mengenal hari libur, bahkan jam libur."

.

Kenafsuan duniawi tidak akan pernah bosan menjerat isi perut bumi, hal itu akan selalu menjadi eksistensi yang permanen.

Hei, aku tidak mengerti—dunia hanyalah dunia, untuk apa terlalu mengejarnya dengan melakukan hal negatif?

Toh, keuntungannya hanya bersifat sementara.

.

"Kau benar." Aomine balik menatap pria tersebut yang masih menengadahkan kepalanya, perlahan satu lengkung senyum pun terulas, "Kau benar, Kise. Aku berjanji sebentar lagi semua akan kembali normal."

Kise menurunkan kepalanya, mengadukan sudut pandangnya ke arah Aomine dan balas tersenyum, "Deal!"

.

To be continued


a/n: Katt-chaan, hahaha, peranmu tidak jelas sekali di sini. Harawasa Katsunori, omg, I'm in love with that curly hair lol. Sebenarnya mau Nakatani, karena Kagetora sepertinya lebih dekat dengan Ma-boy itu hwkwkwk, tapi tampang Nakatani terlalu baik (?)

Akashi dan Takao, dear, I'm sorry m(_)m

Maaf kalau masih ada yang kurang, otak saya mentok :') Typo dan segalanya akan segera diedit. Thanks for reading! Silent reader is welcomed and review will be so much appreciated :D