Title : Tetanggaku, Baekhyun.
Author : Damneed a.k.a Dathan
Genre : Slice of Life.
Rating : T+
Main Cast : KYUNGSOO GS, other EXO member. Perhaps, a few OC.
Disclaimer : Karakter EXO itu milik tuhan, bukan saya. Tapi status-nya sih, memang suami-suami saya. /senyumin/
Pairing : Unknown.
WARNING : Typo & ketidakjelasan; Pengulangan kalimat yang beruntun, karena penulisan masih belajar.
"Baekhyun?"
Suara dari perempuan dengan rambut ukuran sebahu itu, sama sekali tidak membuat si pemilik nama berniat untuk menoleh. Untuk Do Kyungsoo sendiri, itu bukan masalah besar. Tetangga barunya itu, memang memiliki beberapa hal yang menurutnya berbeda dari orang-orang umum yang biasanya Kyungsoo temukan di sekelilingnya dengan mudah.
Kyungsoo memilih untuk tetap bersikeras menegurnya. Ia melangkahkan sepasang tungkai kurusnya mendekati posisi si pemuda yang tadi dipanggil olehnya itu. Sampai ketika Kyungsoo telah tiba di sebelah si pemuda, yang berjarak pendek dari posisi miliknya, Kyungsoo pun menolehkan sedikit kepalanya ke arah Baekhyun.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Ini hari kedua untuk seorang Byun Baekhyun, bersekolah di SMA Inchang. Baekhyun tidak mendapati kelas yang sama dengan Kyungsoo. Kyungsoo di kelas 2-A, sedangkan Baekhyun berada di kelas 2-D, mereka ada di gedung yang berbeda. Meski begitu, Kyungsoo mengetahui apa yang telah Baekhyun lewati sehari yang lalu.
Dalam sehari saja, berita tentang si anak baru manis, Byun Baekhyun, tersebar sepenjuru isi sekolah. Baekhyun dikenal sebagai pemuda yang memiliki paras manis dan cantik, tubuhnya yang terlihat ringan, dan bagaimana pandangannya yang selalu dapat menjerat orang, dalam satu kali kontak mata.
Namun, sehari yang lalu, Kyungsoo sama sekali tidak bertemu dengan Baekhyun. Ia hanya mendapat rumor aneh itu, dari teman dekatnya, Sohyun.
Bahkan, ini pertama kalinya, Kyungsoo dapat bertemu Baekhyun, dengan lokasi berbeda, yaitu atap sekolah, yang sama sekali tidak memiliki pagar tinggi untuk jejeran masing-masing pinggir atap, berbeda dengan sekolah lain yang biasanya memiliki hal tersebut, hanya untuk berjaga-jaga jika ada yang terjatuh atau terpeleset.
"Ironis,"
Satu kalimat keluar dari mulut pemuda itu,
"Sesuatu yang kita lakukan selama ini untuk merasa hidup,
Mata Kyungsoo melebar sembari memperhatikan bagaimana angin menyapu sebagian poni rambut yang Baekhyun miliki,
"Adalah sesuatu yang dapat membunuh kita."
Dan di saat itu, Baekhyun menegok tepat pada Kyungsoo.
"Kyungsoo."
Si perempuan dengan surai hitamnya itu mengedipkan sepasang matanya, "Aa—?"
"Buat aku percaya."
Kali itu, Kyungsoo sempat percaya dengan rumor aneh tentang Baekhyun itu. Soal bagaimana kontak mata dengannya, adalah sesuatu yang berbahaya. Kau dapat terjerat ke dalamnya, dalam satu kali pandangan. Dan itu membuat sang perempuan segera melirikkan matanya ke samping, tidak mau terjatuh ke dalam jebakan gelap.
"Kalau dunia tidak sekedar palsu."
Setelah Baekhyun melanjutkan kalimat tersebut, Kyungsoo tidak langsung menyambarnya dengan lain kalimat, seperti dua hari yang lalu, di mana mereka pertama kali segera berbiicara tentang topik yang cukup jarang dibicarakan bagi seorang yang baru sama-sama kenal.
"Apa yang kau rasakan sekarang, Baekhyun?" Tanya Kyungsoo, masih belum berani menatap sang pemuda.
"Aku kedinginan."
Kemudian, dengan ragu, satu tangan Kyungsoo, meraih sebelah lengan milik Baekhyun. Dan perlahan tangannya turun kepada letak di mana tangan Baekhyun berada, ia menggenggamnya dengan hati-hati.
"Sekarang?"
"Hangat." Jawab Baekhyun segera, "Tanganmu kecil, tubuhmu pendek, kau benar-benar seperti seorang perempuan yang masih duduk di bangku SD."
Kali ini Kyungsoo kembali memandang Baekhyun, dan berpikir kalau kondisi hatinya terasa lebih baik dari sebelumnya. Lagipula, pertama kali mereka bertemu dan saling berpandangan, tidak ada hal aneh yang Kyungsoo rasakan. Dan kali ini, Kyungsoo pula tak mengharapkan perasaan aneh itu pada dirinya.
"Kalau begitu perempuan SD ini, akan membuktikan dunia itu bukan sekedar palsu," Celetuk Kyungsoo, "Tetapi melihat dibalik kepalsuan, yang isinya dalah realita yang ironis."
Baekhyun terlihat sangat pantas mengenakan seragam sekolah itu, dan Kyungsoo sendiri merutuki dirinya sendiri, karena berbicara tanpa sepenuhnya fokus. Si pemuda mengenakan kemeja putih, dan celana biru dongker, yang senada dengan warna rok Kyungsoo. Hanya saja, Kyungsoo mengenakan jaket putih, dan Baekhyun tidak mengenakan balutan seperti sweater atau jaket lagi di tubuhnya.
"Bahkan susu yang berwarna putih bersih, dapat mengandung racun di dalamnya."
Sekarang, Kyungsoo kembali berperan serius.
"Sedangkan kotak debu kotor berkarat, dapat memiliki emas indah di dalamnya."
Ia menyelipkan jari-jarinya pada sela tangan milik si pemuda, dan menurunkan pandangannya ke lantai.
"Kau hanya perlu percaya pada dirimu untuk berpikir ke depan," Ucapnya, "Untuk hidup."
Baekhyun melihat perempuan itu dengan intens, hanya saja Kyungsoo yang masih menunduk, tidak menyadarinya. Mulut pemuda itu sedikit terbuka, tanpa ada niatan untuk melontarkan kalimat lain pada Kyungsoo. Antara tercengang dan tertarik dengan perempuan ini, Baekhyun tak dapat menebaknya, dan Baekhyun tidak ingin mengakui dua hal tersebut dalam dirinya.
Bunyi jam tangan milik Kyungsoo membuyarkan keheningan dalam menit itu,
Si perempuan segera menarik kembali tangannya, dan mendekatkan pergelangan tangan kirinya pada wajah, memperlihatkan jam tangan biru muda melingkar di sana, "Aku harus kembali ke kelas."
"Apa kau selalu bersedih, Kyungsoo."
Kyungsoo dibuat kaget lagi oleh sang pemuda pemilik corak cokelat di mata itu; Ia mengerutkan keningnya, ketika bertemu pandang dengan Baekhyun.
"Apa?"
Sedangkan pemuda tersebut menghela napas kecil, "Kenapa kau selalu terlihat seperti menyembunyikan sesuatu pada semua orang—Tidak, pada dunia."
"Apa aku harus menunjukkan rahasiaku ke dunia?"
"Tidak." Sambar Baekhyun segera, dengan suaranya yang monoton.
Kyungsoo mengedikkan bahunya, menyelipkan sedikit rambutnya ke belakang telinga, sembari mengalihkan perhatiannya ke arah lain, "Lantas, apa yang kau maksud?"
"Apa kita bisa memperbaiki satu sama lain?"
Perempuan itu perlahan melirik kepada Baekhyun, yang ternyata sudah memandangnya sedaritadi.
"Dengan?"
"Dengan hal sesederhana ini," Baekhyun memiringkan kepalanya sedikit, "Kau sudah menyelamatkan sebagian serpihan dalam diriku."
Suara tawa anak muda dan bagaimana percakapan mereka di lantai dasar, perlahan menyelimuti kembali telinga milik Kyungsoo; dengan mata yang terkunci pada corak kecokelatan itu.
"Apa ada sesuatu yang dapat kulakukan untukmu, sekarang?"
Tetapi suara yang Kyungsoo kenal itu muncul dari lantai bawah, dan membuatnya harus menengok ke bawah dari atap sana.
Ia menemukan seorang pemuda dengan surai cokelat, dengan seragam sekolah acak-acakannya. Pemuda itu terlihat sedang asyik bercengkerama dengan sekumpulan kelompok temannya, dan orang yang kali ini Kyungsoo perhatikan, adalah Kim Jongin.
"Kau jatuh cinta."
Pernyataan dari Baekhyun, tak digubris oleh Kyungsoo.
Hatinya tercekam seketika, melihat Jongin kini merangkul mesra Kekasihnya, Jung Soojung.
"Kyungsoo, kau jatuh cinta?"
Saat itu juga, Kyungsoo langsung menolehkan kepalanya pada Baekhyun, dan menatapnya dengan tak suka, "Aku perlu berhenti jatuh cinta dengan orang yang kenyataannya mustahil untukku."
"Memang seperti apa pria itu?"
Kyungsoo terdiam, dan perlahan memindahkan pandangannya dari Baekhyun pada lain arah; Ini bukan kejadian yang sama sekali Kyungsoo bayangkan.
Dari semua orang yang harus ia pilih, kenapa harus Kim Jongin?
Dan dari semua orang yang harus ia beritahu, kenapa harus Byun Baekhyun?
"Dia.. Dia dari kelasmu, kau tidak melihatnya?" Lirih Kyungsoo, dengan setengah hati mengatakannya.
"Oh."
Baekhyun hanya memandang Kyungsoo tanpa arti. Ia tak ingat ada teman sekelasnya yang seperti itu, dan tentu tak terpikirkan kalau Jongin adalah orang yang Kyungsoo sukai.
"Aku takut, Baekhyun."
Kalimat itu tanpa Kyungsoo sadari, keluar dari bibirnya.
Dan itu membuat Kyungsoo kembali mengatupkan bibirnya; Mendecih kesal, dan segera berbalik badan, "Ini salah."
"Kyungsoo."
Lengan kanan milik perempuan itu tertahan oleh genggaman dari Baekhyun.
Gerakan kakinya langsung berhenti, dan Kyungsoo hanya terdiam ketika lengannya itu berada pada sentuhan Baekhyun sekarang.
"Aku juga takut."
Omongan Baekhyun, menciptakan perasaan sempit di dalam hati; Sesak, menurut Kyungsoo sendiri.
"Semua orang memiliki sesuatu hal yang mereka takuti, dan memutuskannya untuk mengubur sedalam-dalamnya di balik dinding yang mereka bangun."
Pelan-pelan, Kyungsoo menolehkan kepalanya, untuk melihat wajah seperti apa yang Baekhyun berikan kali ini.
"Dinding itu," Baekhyun menatap datar si perempuan, "Boleh aku runtuhkan?"
Kyungsoo menggigit bibirnya sedikit sembari menarik tangannya, dan mengambil selangkah untuk mundur.
"Tidak.."
Baekhyun berjalan menghampiri Kyungsoo,
"Kau harus menyatakannya."
Kyungsoo merasa terintimidasi, membuatnya harus mundur dan mundur,
"Apa yang kau bicarakan?"
Pemuda itu bahkan mendekatinya dengan cara yang cukup spontan, dan membuat Kyungsoo yang tak sadar sudah mundur sampai mana, harus berhenti, karena merasa ada yang janggal.
"Kau harus menyatakannya kepada pemuda tadi, perasaanmu, kalau kau menyukainya."
Napas Kyungsoo tercekat karena mendengar perkataan dari Baekhyun.
"Percaya akan kehidupan," Ujar Baekhyun, "Kau hanya perlu percaya."
Dan Kyungsoo baru menyadari, kalau posisi berdirinya sekarang terlihat berbahaya.
Sekali ia mundur,
Kyungsoo akan terjatuh dari atap sekolah.
"Baekhyun—"
"Simpan rasa terima kasihmu padaku sampai nanti."
Satu tangan dari Baekhyun, mendarat di sebelah bahu milik Kyungsoo.
Satu dorongan diberikan darinya,
Kemudian Kyungsoo yang kehilangan keseimbangan di detik itu,
Terjatuh dari atap,
Yang Kyungsoo dapatkan dari pandangannya,
Hanyalah Baekhyun yang kini mengambil selangkah mundur, sembari masih merentangkan sebelah tangan kanannya yang baru saja mendorong Kyungsoo ke depan,
Kakinya melayang dengan udara,
Ia merasa ringan,
Dan terik matahari di siang itu menusuk matanya,
Kemudian,
Gelap.
.
.
.
.
.
.
.
.
투비컨티뉴드
Ada apa gerangan?
Emang di awal kelihatannya Baekhyun macem cowok misterius yang punya pemikiran luas, dan kelihatan baik ya. Tapi apa iya, ke sananya bakal begitu? Apa dia itu kabar baik atau kabar buruk buat Kyungsoo? Kita saksikan di Chapt tiga nanti! /lalu didemo.
Saya, Dathan. Sampai jumpa di Chapter selanjutnya!
