Hari yang cukup cerah untuk melangkahkan kaki Kyungsoo menuju rumah. Satu harian ini dia tiada hentinya beraktifitas, salahkan dirinya yang begitu banyak jadwal. Mulai dari mengurus kelas-Kyungsoo sekretaris kelas- dan akhirnya di ekskul kesukaannya, Cinta Lingkungan- ini berbeda dengan Organisasi yang diketuai Wu Yifan-
Baik, aku jelaskan, ekskul cinta lingkungan ini adalah sebuah komunitas yang berisi para siswa yang mencintai alam, yang memiliki agenda untuk berpetualang.
Kyungsoo adalah salah satu orang yang berutung bisa masuk ke dalam ekskul tersebut, mengingat sebelum memasuki ekskul tersebut diadakan seleksi terlebih dahulu. Dan dia tertimab keberuntungan lagi, dikarenakan sunbae tercintanya, Kim Jongin. Merupakan salah satu anggota dari ekskul tersebut.
Disinilah Kyungsoo berjalan keluar dari area sekolahnya, kenapa berjalan? Hey, Kyungsoo bukan anak orang kaya yang akan ikhlas merogoh koceknya hanya untuk pulang menggunakan taksi, dia lebih memilih menaiki bus walau harus menunggu berjam-jam.
.
.
.
Kyungsoo POV
Bodohnya Kyungsoo, harusnya kau menerima ajakan pulang bersama Sehun tadi, kalau tidak Baekhyun. Aku terus memukuli kepalaku, merutuki kebodohanku yang mengutamakan gengsi, sementara kakiku terus melangkah menjauhi area sekolah.
" Kyungsoo, eonni duluan ya." Aku menoleh dan mendapatkan kenyataan bahwa sunbaeku pulang bersama Jongin. Jongin sunbae, demi tuhan, aku menolak semuanya karena aku pikir Jongin sunbae akan mengajak ku pulang bersama. Tapi tampaknya takdir berkata lain,
"Ne, sunbaenim." aku menganggum sopan kearah mobil mereka. Sementara hatiku terus melafalkan sumpah serapah.
Sesaat mobilnya menuju tekongan, aku terkejut, ternyata Jongin sunbae benar benar tak mengajakku pulang bersama.
"Namja babo." aku mengumpat sendiri di tengah kekosongan hari.
.
.
.
Malam harinya, aku kembali ke kegiatan awalku, belajar dan memegang handphone, tepatnya stalking. Okey, aku memfollow semua akunnya. Bahkan aku pernah ketahuan menyemangatinya lewat sosial media-_-
Hari ini aku kembali lagi menyemangatinya lewat anonimus, hanya itu yang aku bisa, menyemangatinya tanpa harus dia ketahu bahwa aku orang yang selalu mendukungnya dari belakang.
Detik berikutnya, Jongin membalas pertanyaan anonimku, senang bukan kepalang diriku. Jongin sunbae selalu begitu membalas dengan singkat dan tersenyum, hah. Dasar namja pabo.
Normal POV
"Kyungie, bisakah jalanmu sedikit kau pelankan, kau kira aku bisa berjalan secepat itu." Baekhyun sebal sendiri melihat sahabatnya yang menjengkelkan itu
"Kau yang aneh, masa berjalan saja tidak bisa cepat. Kau tahu nona Baek, aku pernah mendengar bahwa orang sukses itu bisa berjalan dengan cepat."
"Maksudmu aku bukan termasuk dalam orang yang akan sukses." Baekhyun menghentikan jalannya. Kyungsoo yang tahu kalau Baekhyun berhenti berjalan menolehkan kepalanya kebelakang.
"Waeyo?"
"Kau menyebalkan."Detik berikutnya Baekhyun melangkahkan kakinya lebih dulu ran mendobrak bahu Kyungsoo.
"Ya! Kau merajuk padaku?"
"Molla" Baekhyun tetap berjalan meninggalkan Kyungsoo yang tertawa melihat tingkah Baekhyun.
"Ya! Jangan merajuk padaku nona Byun." Kyungsoo berlari kecil mengejar Baekhyun.
"Molla, bicara saja dengan tembok." Kyungsoo kembali terkekeh melihat jawaban Baekhyun.
"Baekkie, jangan seperti ini. Kau ini seperti anak kecil saja." Kyungsoo berhasil menyusul Baekhyun.
"Kau kira aku bocah ingusan yang merajuk hanya karena kata-kata anehmu itu. Ooh, dont be stupid." Baekhyun memutar bola matanya, jengah.
"Haha, nona Byun. Kau badmoodpun aku tahu. Wajahmu itu jeleknya minta ampun kalau marah."
"Crazy people." Kyungsoo kembali tertawa di antara keheningan koridor sekolah yang sepi.
"Ya! Pelankan suaramu Kyung. Kita bisa dikira bolos. Padahal kita disuruh oleh Kim Seongsaenim." Lantas Kyungsoo kembali tertawa dalam diam.
Suasana heningpun melanda mereka ketika mereka tepat berada di depan kelas XI ipa 1.
"Kyung, berani taruhan?"
"Mwo?"
"Pasti seluruh siswa yang ada disana, akan meledekmu." Kyungsoo menampilkan wajah freaknya terhadap Baekhyun.
"Kau gila. Memangnya aku siapa pabo."
"Kaukan orang yang menyukai Jongin oppa." Baekhyun mengatainya didepan pintu kelas Jongin. What the hell kau Byun Baekhyun.
"Mwo? Kau gila. Ini di depan kelasnya. Kau mau mati." Kyungsoo menjitak kepala Baekhyun.
"Ah, appo. Masa hanya karena Jongin sunbae kau menjitakku."
"Tutup mulut embermu dan cepat selesaikan tugas ini Baek." Kyungsoo mengetuk pintu kelas tersebut.
Dan pintu tersebut terbuka, coba tebak siapa yang membukanya? Oh, no. Tentu bukan Jongin, tetapi sahabat Jongin yang tahu kalau Kyungsoo menyukai Jongin, Lee Taemin. What the hell, skakmat kau Do Kyungsoo
"Hey, hey. Coba liat siapa yang datang ke kelas kita. Hai Do Kyungsoo." Taemin berbasa basi terhadap Kyungsoo, hey ayolah. Dia hanya berusaha agar seluruh siswa melihat kearah pintu masuk. Dan dia berhasil.
"Lee Taemin, apa yang kau lakukan disitu? Kembali ke tempat dudukmu." Seseorang mengitrupsi kelakuan seorang Lee Taemin, siapa lagi kalau bukan Kim Seongsaenim.
"Ah, algeseumnida seongsaenim. Mianhmnida." Taemin membungkukan badannya ke arah Kim Seongsaenim dan kembali duduk.
Dan semua kejadian itu di lihat oleh Kim Jongin.
"Kim Kyungsoo ayo masuk." Kim Seongsaenim degan sesuka hatinya mengganti marga Kyungsoo.
"D.O seongsaenim." Kyungsoo menarik tangan Baekhyun sembari memasuki kelas tersebut.
"Ah, D.O maksudku. Kemarilah nak."
"Ada apa seongsaenim?" Kyungsoo sudah tepat berada di depan meja guru. Tepat juga berada di depan barisan tempat duduknya.
"Bisakah kau membantuku?"
"Tentu seongsaenim."
"Tolong nanti catatkan catatan ini di kelas. Karena seongsaenim ada acara sayang."
"Ah, nde seongsaenim."
"Ah, gomawo Kyung." Kim seongsaenim memberikan Kyungasoo bukunya.
"Nde seongsaenim, bisakah kami kembali seongsaenim?"
Detik berikutnya Kyungsoo dan Baekhyun melangkahkan kaki kembali ke kelas.
.
.
.
"Kau ini kenapa tidak berbicara sih tadi?" Kyungsoo kesal melihat Baekhyun
"Mana ku tahu. Lagiankan yang dibutuhkan kamu sayangku." Baekhyun mencubit pipi Kyungsoo.
"Ya! Appo. Pabo yeoja." Detik berikutnya Kyungsoo ditinggal sendiri oleh Baekhyun.
"Ya! Gajima. Ya!"
"Mck, kenapa kau berteriak dikoridor nona D.O." Kyungsoo menoleh ke sumber suara, sepetinya ia kenal dengn suara ini.
"Ya! Oppa, wae? Kenapa kau disini?" Kyungsoo bak tersambar petir melihat saudara sepupunya yang tiba tiba muncul.
"Harusnya aku yang bertanya adikku. Kenapa kau disini?"
Baru saja Kyungsoo ingin menjawab, Kris sudah memotong perkataannya lagi,
"Kau bolos ya?"
"Kau kira aku seperti dirimu." Kyungsok mencelos mendahului Kris.
"Memangnya aku seperti apa? Kau lupa? Aku ini multitalented, dan kau beruntung sering bersamaku."
"Apa kau bilang? Aku orang yang beruntung?" Kyungsoo menghentikan langkah kakinya, dan sontak juga membuat Kris mau tak mau berhenti juga.
"Hell no, kau itu menyebalkan, sok ganteng, sok pintar, sok dalam segala hal. Iyuh." Kyungsoo berjalan mendahului Kria kembali.
"Benarkah? Biasanya kata kata sok itu menggambarkan kata-kata yang sebenarnya. Berarti yang kau ucapkan adalah kenyataan, wah. Adikku ini benar-benar memperhatikan aku ternyata."
'Pede sekali si alien ini.' Kyungsoo mengupat dalam hatinya.
Sedangkan Kris yang sudah berhasil menjalankan misinya- yaitu membuat Kyungsoo jengkel- tertawa puas melihat Kyungsoo.
"Berhenti tertawa oppa, aku tahu kau menertawaiku. Jika kau tetap tertawa, jangan harap aku akan membantumu dan organisasi abstrakmu."
Kyungsoo memilih berjalan duluan dibandingkan Kris sementara Kris semakin tertawa melihat Kyungsoo.
.
.
.
Kyungsoo keluar dari kelasnya dengan malas, lagi-lagi ida harus keluar kelas karena harus menghadiri rapat OSIS. Sebenarnya dia ini masih calon pengurus, tetapi kenapa lebih sibuk dibandingkan dengan sekretaris OSIS, mck. Menyebalkan.
"D.O Kyungsoo, jika langkah kakimu seperti it uterus, kamu akan saya beri hukuman. Arraseo." Kyungsoo berhentik melangkah ketika mendengar suara Kim Jongin-Ketua OSIS mereka-
"Eh Sunbae, annyeonghaseyo." Kyungsoo langsung menyapanya dengan hormat.
"Kenapa kau malah dia begitu, cepat jalan." Jongin berjalan dengan santainya tanpa tahu hobaenya yang satu ini berjalan dengan jantung yang tidak karuan.
"Kyungsoo-ssi."
"Nde, sunbae. Waeyo." Kyungsoo berhenti berjalan ketika Jongin menyebutkan namanya.
"Kenapa malah berhenti, tetap berjalanlah. Sunbae hanya ingin bertanya."
"Eh, arraseo sunbae. Waeyo sunbae." Kyungsoo mengejar langkah Jongin.
"Laporkan dan tuliskan apa saja yang dilakukan seluruh calon pengurus OSIS pada rapat nanti. Jangan lupa catat sikap mereka." Jongin berhenti berjalan, sehingga menghentikan langkah Kyungsoo.
"Jangan ada pilih kasih nona D.O" Jongin menatap mata Kyungsoo dengan lekat
"Eh, arraeso sunbaenim." Ucap Kyungsoo gugup.
"Baiklah, oh iya. Setelah rapat ini selesai, langsung laporkan kepada Sunbae. Arra?"
"Arraseo sunbae." Jongin berjalan mendahului Kyungsoo.
Sementara Kyungsoo terdiam untuk sesaat hingga ia teringat ancaman seorang Kim Jongin.
"Aigoo. Aku lupa. Aku bisa mati dihukum olehnya." Kyungsoo berlari tak karuan di koridor sekolah mengejar langkah Jongin yang diatas rata-rata itu.
Sementara Jongin yang sudah mendengar langkah Kyungsoo yang kalang kabut hanya bisa tertawa dalam diam, sepertinya menjahili Kyungsoo adalah kebahagian untuk dirinya.
.
.
.
"Baiklah, rapat OSIS kali ini ditutup. Terima kasih atas kehadiran kalian semua." Jongin menutup rapat dengan wajah dinginnya, namun tetap tampan dimata Kyungsoo. Astaga, pasti Kyungsoo gila.
Kyungsoo tak menyadari bahwa suasana ruang rapat sudah sepi, meninggalkan dirinya dan Jongin.
"Ya! Kenapa kau melamun seperti itu nona D.O." Perkataan Jongin berhasil menyentak Kyungsoo yang tadi sempat bermain-main dialam bawah sadarnya.
"Eh, anni sunbae."
"Jangan-jangan kau melamun terus ya selama sunbae menjelaskan konsep pentas seni kita kali ini?"
"Eh, anniya." Kyungsoo kalang kabut menjawabnya.
"memangnya apa yang sunbae katakana selama berada di depan tadi?" Jongin kembali mengerjai Kyungsoo.
"Tadi Sunbae bilang akan mengembangkan konsep natural, dan apa ya tadi. Aduh, kok jadi lupa ya." Jongin langsung tertawa,
"Sunbae cumin bercanda kok, sunbae yakin kamu ingat apa yang sunbae katakana. Baiklah, ayo kita keluar Kyungsoo." Jongin lebih dulu meninggalkan ruangan rapat tersebut, menyisakan Kyungsoo yang terdiam karena tingkah Jongin.
.
.
.
Kim Gyuna ^^
Annyeong, this ff was edicated for my beloved bestfriend, Kim Yonhee
Yang nangis gara-gara tahu cerita asli dari cerita aku ini, wkwk.
Sabar beb, endingnya ga senyesek hidup aku kok,
Haha.
RCL SAYANG :*
SARANGHAE
Kim Kibum's Wife
