Dua hari lagi menjelang natal berarti kuroko harus menjawab lebih tepatnya menyetujui permintaan akashi untuk menikah. Kuroko masih berpikiran bila menikah adalah sesuatu hal yang sama seperti dirinya saat ini. Akashi selalu mengatakan bahwa menikah akan mengikat mereka dan memiliki sepenuhnya satu sama lain. Namun apa bisa penikahan berlaku seperti itu untuk mereka yang tidak mencintai satu sama lain ya tentu saja tidak. Maka dari situ kuroko beranggapan bahwa pernikahan hanyalah upacara formal dan lembaran kertas legalitas saja. Tidak sama sekali membuat perasaan seseorang berubah. Seperti rasa sayangnya ke akashi yang tidak akan pernah berubah walaupun mereka tidak menikah sekalipun.
Untuk menenangkan pikirannya kuroko meminta izin dari akashi untuk kembali pulang kerumahnya menemui keluarganya ya mungkin itu akan membuat kuroko tenang dan mencoba mencari tahu sebenarnya apa itu pernikahan, apakah memang pernikahan itu akan membuatnya lebih bahagia lebih dari sekarang.
Kuroko menikmati udara sore hari diteras rumahnya dengan berbagai macam makanan ringan yang disediakan ibunya.
"teccan."
"ya kaa-san."
"boleh kaa-san duduk bersama teccan."
"tentu saja kaa-san."
"teccan, sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Boleh teccan tahu apa."
"ya kaa-san. Aku memikirkan mengenai pernikahan. Menurut kaa-san apakah pernikahan itu."
"kau tahu teccan sebagai kaa-san saat seican bilang akan menikah dengan mu adalah hal yang sangat mengembirakan karena anak kaa-san ternyata sudah dewasa dan sudah menemukan pendamping hidup yang baik dan mampu membahagiakan mu. Pernikahan itu seperti hidup baru hidup kau akan menjalani hari-hari mu dengan orang yang kasihi dan memiliki anak maka keluarga mu akan terasa lengkap walau kadang air mata menyertai kebahagian mu tetapi senyuman akan terus terukir di wajah mu. Pernikahan itu adalah hal sangat sacral karena untuk kaa-san pernikahan hanya sekali seumur hidup dengan mereka yang kita kasihi dan menghabiskan hidup dengannya. Bisa dibilang itu cara seseorang menyampaikan perasaan sayangnya dan ingin memiliki sepenuhnya."
"tetapi kaa-san, bukankah aku sudah tinggal bersama dengan sei. Itu sama seperti menikah bukan ?"
"berbeda teccan sayang. Menikah itu akan membuat mu memiliki tanggung jawab lain. Selain kau tanggung jawab dengan diri mu sendiri, kau harus bertanggung jawab juga atas suami,dan anak mu. Membuat mereka bahagia dan juga menjadi sosok yang bisa mereka banggakan. Akan sangat menyenangkan bila nanti kau memiliki seorang anak, maka kau akan mengerti bagaimana rasa senangnya menikah dengan seseorang."
"aku paham kaa-san. Sepertinya alur pikiran ku terlalu rumit membahas mengenai pernikahan sampai aku lupa akan kebahagian yang nanti akan menyambut ku."
"jalani saja dan semua tergantung kepada keputusan mu teccan. Tetapi kaa-san akan selalu mendukung mu apapun keputusan mu. Kaa-san mendukung mu sepenuhnya begitu juga dengan nenek dan tou-san."
"terima kasih kaa-san. Terima kasih." Kuroko memeluk kaa-sannya dengan erat dan kaa-sannya membalas pelukan tersebut.
Malam hari setelah makan makan kuroko berbaring dikasurnya dan melihat hp yang ditinggalnya seharian saat dirumah tanpa disentuh olehnya dan kuroko tersenyum melihat 35 panggilan tidak terjawab dari akashi dan juga 45 email dari akashi. Kemudian dengan cepat kuroko membalas email-email itu.
From : kuroko tetsuya
To : seijuuro-kun
Subject : maaf
Teks : maaf sei, aku baik-baik saja besok aku akan kembali ke apartemen. Seharian aku membantu kaa-san dan nenek jadi tidak sempat mengecek hp. Sudah larut kau tidurlah. Besok malam natal, bagaimana jika kita berkencan.
1 menit kemudia email itu terbalaskan..
From : seijuuro-kun
To : kuroko tetsuya
Subject re : maaf
Teks : tidak apa-apa dan ku maafkan. Baiklah aku menerima ajakan kencan mu. Oyasuminasai tetsuya.
Setelah membaca balasan email dari akashi, kuroko memejamkan matanya karena rasa kantuk tengah menyerangnya.
.
.
.
Setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya dan juga neneknya kuroko berjalan menuju apartemennya. Dan ditengah jalan kuroko melihat kedua temannya sedang berjalan bergandengan tangan ya mereka adalah midorima dan juga kise.
"midorima-kun, kise-kun."
Midorima dan kise menengok kebelakang dan mencari sosok yang memanggil mereka dan melihat sosok surai baby blue itu.
"kurokochi." Kise langsung berlari dan memeluk kuroko erat-erat.
"le..lee..lepaskan kise-kun, aku sesak."
"lepaskan dia, baka." Midorima menarik kise tengah asik memeluk kuroko.
"hidoissu.. aku tidak baka."
"kau baka, kise."
"cukup kalian jangan bertengkar dan kise-kun tidak baik memeluk orang lain didepan kekashi mu."
"ne..ne..ne.. gomen shinchi. Jangan memanggil ku kise lagi yayayayay."
"ah baiklah, ryouta. Dan kuroko sedang apa kau berjalan sendiri kemana akashi."
"aku baru saja pulang dari rumah dan sei ada di apartemen."
"kalian habis bertengkar ya-ssu sampai kurokochi pulang kerumahnya."
"tidak. Aku hanya berkunjung kerumah saja."
"memangnya kau ryouta. Bila ngambek langsung pulang."
"hidoissu, shinchi."
"kalian mau kemana ?"
"kami akan berkencan. Apakah kurokochi dan akashichi juga akan berkencan-ssu."
"ya. Kalau begitu silakan lanjutkan kencan kalian. Aku akan kembali ke apartemen dulu."
"baiklah. Sampai jumpa kurokochi."
"iya. Sampai jumpa lagi kise-kun midorima-kun."
Kuroko melanjutkan perjalannya menuju apartemen. Sampai di apartemen kuroko melihat akashi tengah tertidur di sofa ruang tengah dengan remote yang masih digenggamnya.
"sei." Kuroko menepuk pundak akashi.
"hem, ya tetsuya kau sudah pulang."
"iya aku pulang."
Akashi bangun dan mendudukan dirinya dan menepuk pahanya mengisyaratkan kuroko untuk duduk di pahanya dan kuroko pun menurut. Setelah itu.
CUP
"itu ciuman untuk kau yang tidak menganggat telfon ku."
CUP
"itu ciuman untuk kau yang lama membalas email ku."
CUP
"itu ciuman rasa kangen ku pada mu, tetsuya."
Akashi sukses membuat pipi kuroko merah. Menyadari hal itu akashi tertawa dan kuroko terlihat semakin menunduk karena wajahnya yang semakin merah.
"kau tahu, kau sangat menggemaskan tetsuya, maka menikahlah dengan ku agar aku bisa menerkam mu."
"sei."
"lihat wajah mu semakin merah saja."
"sudah lah." Kuroko mencoba bangun dari duduknya namun akashi menahannya dan mencium bibirnya lagi kemudia melepaskannya.
"kali ini untuk apa sei."
"untuk kau yang sanggat menggemaskan hari ini."
"sudahlah, sana kau bersiap bukankah kita ada kencan hari ini."
"baiklah."
.
.
.
Ya inilah tempat pilihan akashi dan kuroko untuk berkencan, Tokyo tower. Kuroko berjalan dengan menggandeng tangan akashi dan menikmati suasana malam natal dengan hiasan natal dimana-mana dan juga berbagai macam kecerian wajah orang-orang yang berlalu lalang sampai akhirnya mereka bertemu dengan midorima-kise, murasakibara-tatsuya, aomine-kagami, momoi-kasamatsu.
"yo tetsu." Sapa aomine.
"doumo minna."
"wah kurochin dan akachin juga sedang kencan ya."
"iya murasakibara-kun."
"aku bermimpi apa tadi malam-ssu sampai bertemu kalian semua. Dan kali ini namanya apa ya. Bukan double date."
"bagaimana kita cari restoran untuk makan, aku lapar." Intrupsi kagami.
"aku juga lapar, ayo tatsuchin kita makan."
Akhirnya mereka semua mencari restoran.
"bagaimana kalau semua makanan yang sudah kita pesan, kau yang bayar semuanya, kise."
"aku setuju dengan aomine." Sambut kagami dengan semangat.
"tidak mau-ssu. Kagamichi dan murasakichi memesan makanan diluar porsi makan manusia."
"kisechin pelit."
"jangan sembarang bilang orang pelit murasakichi, kenapa tidak kau saja yang bayar."
"tidak, aku lebih setuju kau yang membayar ryouta karena kau sangat berisik."
"ahhhhhhh bahkan sampai akashichi ikut-ikutan."
"bayar semuanya atau kau mau bercumbu dengan gunting ku, ryouta."
Kise merengek ke midorima sampai akhirnya midorima menggantikan kise untuk membayar semua makanan yang mereka pesan sedangkan pasangan aho-baka bersorak ria. Acara makan malam pun berlangsung dengan sangat hangat walau aomine senang meledek kise dan kise yang merengek ke midorima.
"midochin, aku lupa bisa aku ingin bertanya. Beberapa hari ini tatsuchin sering muntah-muntah dan merasa tidak enak badan, dia sakit apa ya midochin."
"aku kurang tahu kalau belum memeriksanya secara detail untuk pastinya namun kalau dengan ciri-ciri yang kau sebutkan kemungkinan tatsuya hamil."
"ahhhhhhhhhhhhhhhh." Teriak kise, aomine, dan kagami bersamaan dan dihadiahi jitakan oleh kasamatsu.
"wah apa benar seperti itu ya, shintarou. Kalau begitu aku akan memeriksakannya besok, kau antar aku ya atushi."
"baiklah tatsuchin, semoga saja kau hamil."
"murasakibara kau hebat sekali baru saja seminggu menikah, tatsuya sudah hamil." Ucap kagami dengan semangat.
"iya iya-ssu. Aku kaget mendengarnya."
"kalian berisik sekali nanodayo."
Acara makan malam pun berlanjut dengan kagami, kise, dan aomine yang semangat mengintrogasi murasakibara dan himuro. Sampai akhirnya mereka semua kembali kerumah masing-masing karena sudah tengah malam.
.
.
"sei, aku ingin membeli sesuatu ayo kita ke supermarket dulu ya."
"baiklah."
Akashi dan kuroko berjalan bergandengan kesupermarket namun langkah kuroko terhenti dan melihat sosok yang ia kenal keluar dari supermarket.
"ogiwara-kun"
"kau bilang apa tetsuya."
"ah tidak apa-apa. Ayo kita ke supermarketnya sei."
Setelah kuroko membeli makanan kecil mereka kembali berjalan menuju apartemennya. Sampai diapartemen akashi berlari ke kamar tidur mereka dan kuroko hanya melihat aneh kelakuan akashi. Dan kuroko pun memutuskan untuk menonton tv karena belum sama sekali mengantuk walau sudah tengah malam.
"tetsuya."
"iya sei. Ada apa."
Akashi berjalan kearah kuroko dan berhenti didepan kuroko lalu mengeluarkan kotak kecil berwarna merah.
"itu apa sei."
"tetsuya, aku akashi seijuuro meminta mu untuk menikah dengan ku. Apa kau bersedia menikah dengan ku."
Kuroko kaget mendengar perkataan akashi dan akashi membuka kotak itu dan ternyata isinya sebuah cincin yang sangat cantik.
"bila kau menerimanya, kau pakai ini."
"sei."
"bagaimana tetsuya."
"tentu aku menerimanya sei."
Akashi memakaikan cincin itu dijari manis kuroko dan kemudian kuroko memeluk akashi dengan erat.
"terima kasih tetsuya."
"aku mencintai mu, akashi seijuuro."
"aku juga mencintai mu, kuroko tetsuya."
.
.
.
Pagi harinya kuroko memutuskan untuk membeli cake kesukaan akashi sebagai surprise untuknya dan ia pun bersiap-siap.
Kuroko sampai di toko kue langganannya dan membeli cake kesukaan akashi lalu memutuskan untuk segera pulang namun sampai ada orang yang menepuk pundaknya dan saat ia berbalik untuk melihat orang itu.
"lama tidak bertemu, kuroko."
"ogiwara-kun"
Kuroko dan ogiwara duduk bersama disebuah taman dekat dengan toko kue itu dan suasana hening tercipta diantara keduanya. Kuroko masih tidak percaya bahwa ogiwara teman kecilnya itu ada disampingnya.
"bagaimana keadaan mu kuroko."
"baik, kapan kau kembali ke jepang ogiwara-kun."
"kemarin."
"apa kau akan kembali lagi ke jerman."
"tidak kuliah ku sudah selesai dan aku pulang ke jepang untuk menemui seseorang dan memenuhi janji ku padanya."
DEG. Kuroko terdiam mendengar kata-kata itu da pikirannya mengingat kembali kejadian 9 tahun lalu.
Flashback
"kuroko, aku akan pindah."
"kemana ?"
"jerman. Aku akan bersekolah disana sampai kuliah."
"lalu."
"tenang saja kuroko percayalah pada ku, aku akan kembali lagi dan saat aku kembali aku akan menikah dengan mu. Apa kau bersedia. Namun lebih baik kita tidak menjalani hubungan karena biarkan saja kita bersahabat karena aku tidak mau menyakiti mu karena tidak bisa disamping mu."
"akan ku pegang janji mu dan menunggu mu,ogiwara-kun."
Flashback end.
"kuroko."
"…"
"kuroko"
"ah iya ogiwara-kun."
"kau kenapa melamun, kau tinggal dimana sekarang."
"ogiwara-kun, boleh aku bertanya."
"iya."
"kau, kenapa tidak menghubungi ku lagi setelah 3 bulan saat kau pindah."
"ah itu."
"kau tahu, entah dengan siapa kau berjanji namun yang pasti jujur aku sangat kecewa dengan mu. Ku rasa kau tidak perlu menjawabnya. Dan maaf aku harus segera pergi."
Kuroko bangun dari duduknya namun tangannya ditarik dan bibir kuroko menempel dengan bibir ogiwara dan kuroko terkejut lalu mendorong tubuh ogiwara agar jauh darinya. Sampai ada seseorang yang memanggilnya..
"tetsuya, apa yang kau lakukan."
~ bersambung ~
