Disclaimer : Tite Kubo

Rate : T

Genre : Romance

.

.

.

WARNING : Typo bertebaran dimana-mana, EYD yang amburaul, Penempatan tanda baca yang tidak sesuai, OOC, Gaje dan masih banyak kekurangannya.

Disini Ichigo menjadi Orihime, dan Orihime menjadi Ichigo jadi jangan heran/bingung kalau nanti pas membacanya, karena sikap dan tingkah mereka akan sangat berbeda.

PLEASE IF YOU DON'T LIKE DON'T READ

.

.

.

X0X0X0X0X0X0X0X

Ruang ganti pria.

Itulah yang tertulis didepan pintu sebuah ruangan, dan bisa dipastikan kalau didalam ruangan ini semuanya adalah laki-laki yang tengah berganti pakaian. Akan tetapi seorang pemuda bersurai orange terlihat berdiri dipojokkan dengan membelakangi orang-orang, tak hanya itu raut wajahnya terlihat merah padam bak kepiting rebus melihat teman-temannya membuka pakaian dan memperlihatkan tubuh bagian atas mereka yang rata-rata sangat bagus dan berbentuk.

"Ya, Tuhan semoga aku tidak mati karena mehanan malu." Batinnya.

PUK...

Seorang pemuda bersurai merah tiba-tiba menepuk pundaknya.

"Ekh!" pekikknya kaget.

"Hei, Ichigo! Apa yang kau lakukan disitu? Cepatlah berganti pakaian, karena pelajaran olahraga akan segera dimulai." ujar Renji yang merupakan teman sekamarnya.

"I-iya," sahutnya gugup.

"Kalau begitu, aku duluan ya Ichigo." Ucap Renji seraya pergi berlalu dari ruang ganti.

Ichigo hanya menanggapinya dengan senyuman kecil.

"Akhirnya sepi juga!" ucap Ichigo dengan bernafas lega.

"Ternyata jadi anak laki-laki itu tidak mudah."

Setelah dirasa sudah sepi, Ichigo mulai berganti pakaian. Jika ditanya mengapa Ichigo yang notabennya adalah seorang laki-laki terlihat sangat malu melihat teman-temannya berganti pakaian, itu karena di dalam tubuhnya adalah jiwa Orihime yang merupakan adik perempuan Ichigo.

Kedua kakak adik ini tertukar jiwanya karena memakan buah persik pemberian dari seorang nenek setelah mengunjungi makan sang ibu. Ichigo dan Orihime sudah menanyakan tentang apa yang menimpa mereka berdua, kepada seorang pendeta suci sekaligus peramal handal disebuah kuil di luar kota.

"Jika ingin kembali ketubuh kalian masing-masing, kalian berdua harus menemukan seseorang yang mencintai kalian dengan tulus, dan waktu kalian berdua hanya 100 hari." ujar sang pendeta.

Dan jika selama 100 hari itu, mereka berdua tidak bisa menemukan orang yang mencintai mereka dengan tulus bisa dipastikan kalau jiwa mereka akan terperangkap selamanya dan tak akan bisa kembali lagi ketubuh masing-masing. Yang membuat kakak, adik ini pusing adalah, bagaimana mereka menemukan pasangan, sementara jiwa mereka tertukar satu sama lain.

Jika Ichigo yang berada didalam tubuh Orihime, mendekati seorang perempuan maka ia dikira seorang lesbi karena menyukai seorang perempuan. Begitu-pun sebaliknya dengan Orihime yang berada di dalam tubuh sang kakak, Ichigo, dirinya akan di anggap gay karena mendekati dan menyukai seorang laki-laki.

"Haah~~" Ichigo menghela nafasnya dengan pelan.

Hampir saja dirinya mati karena jantungnya terus berdebar-debar melihat para anak laki-laki yang merupakan teman sekelas kakaknya berganti pakaian, tak hanya itu saja mereka juga terlihat saling memperlihat dan menyombongkan tubuh mereka masing-masing.

Baru juga Orihime hendak memakai baju olahraganya, tiba-tiba pintu ruangan ganti terbuka dengan keras.

BRAK...

"AAAA!" Ichigo berteriak histeris dan dengan reflek menutupi bagian depan tubuhnya.

Seorang pemuda tampan bermata abu-abu terlihat menyeringitkan dahinya menatap bingung juga aneh dengan sikap Ichigo yang terlihat malu padanya, terlebih wajah pemuda bersurai orange itu terlihat merona merah.

"Apa kau malu padaku Kurosaki?" pria itu menatap dingin Ichigo.

"I...Tidak kok, ke-kenapa aku harus malu padamu, a-aku-kan laki-laki sejati." Elak Ichigo dengan gugup.

"Benarkah itu!? Lalu mengapa wajahmu merah seperti itu? Membuatku sangat jijik melihatnya." ucapnya dengan tajam.

Nyut'

Hati Ichigo terasa sakit mendengar perkataan pemuda tampan itu. Ingin rasanya ia membalas perkataannya namun akan percuma saja karena pemuda itu keburu pergi setelah mengambil sebuah jaket berwarna hitam yang tergantung di dekat loker.

"Siapa sih pemuda menyebalkan itu!" gerutu Ichigo dalam hatinya.

Setelah mengganti pakaian dengan baju olah raga, buru-buru Ichigo ke lapangan untuk mengikuti pelajaran olahraga dari Zaraki Sensei.

Untuk sementara waktu Orihime harus menjalani kehidupan sebagai Ichigo yang merupakan sang kakak di sekolah elit Empire Gakuen dan menyembunyikan jati dirinya dan apa yang tengah menimpa dirinya pada teman baik sang kakak Renji Abarai.

*#*

DRAP...DRAP...DRAP...

Saat ini Ichigo dan teman-temannya tengah bermain sepak bola di lapangan, dan sebagian teman sekelasnya yang tak ikut bermain duduk dipinggir lapangan menonton pertandingan seraya memberikan semangat.

"Oper padaku." Renji telihat melambaikan salah satu tangannya pada Ichigo.

Akan tetapi dengan sigap kedua pemuda terlihat menghalangi langkah kaki Renji dan menjaga ketat setiap gerak langkah dari pemuda bersurai merah itu.

"Awasi Renji dan jangan biarakan Kurosaki mengoper bola padanya." Teriak seorang pemuda bersurai kuning.

"Ck! Sial." Gerutu Renji.

Di saat kedua temannya ini tengah lengah, Renji menggunakan kesempatan itu dan langsung berlari kearah gawang tanpa pengawalan dari dua pemuda itu.

"Ichigo, berikan bola itu padaku." Teriak Renji.

DUAK...

"Terima ini." Ichigo menendang bola ke arah Renji.

Dan dengan sigap, pemuda bersurai merah itu menerimanya lalu menendangnya masuk kedalam gawang.

"Gol!" teriak Renji dengan girang.

"Tembakan bagus kawan." Puji teman-teman setim Renji.

BUK...

"Operan yang bagus, Ichigo. Aku tidak mengira kalau kau pintar juga bermain sepak bola." Puji Renji.

"Hahaha...Terima kasih Renji atas pujiannya." Balas Ichigo malu.

"Tumben sekali kau mau bermain sepak bola dengan kami. Biasanya kau selalu membolos pelajaran olahraga dan tidur diruang kesehatan. Dan kalau-pun kau ikut pelajaran kau selalu duduk di pinggir lapangan menonton kami semua bermain." ujar Kira yang merupakan teman sekelasnya.

"Benarkah itu? Aku hanya ingin ganti suasana saja." Ichigo tertsemyum kikuk menatap pemuda bersurai kuning itu.

"Dan aku merasa kalau kau bukan Ichigo saja." Celetuk Renji yang langsung membuat wajah Ichigo pucat pasi mendengarnya.

"I-itu perasaanmu saja Renji." Sahut Ichigo gugup.

"Aku harap mereka semua tidak curiga padaku." Batinnya.

Dan diam-diam dari balik jendela ruang Osis, seorang pemuda bersurai hitam dengan iris abu-abunya menatap tajam pada Ichigo. Pemuda tampan ini merasa ada yang aneh dengan tingkah Ichigo Kurosaki hari ini, karena tak biasanya pemuda itu bersikap ramah dengan teman-temannya terlebih tadi wajahnya merona merah saat bertemu dengannya karena kepergok sedang berganti pakaian, dan hal ini semakin menambah rasa curiga dan penasarannya.

"Ichigo Kurosaki!" desisnya.

.

.

.

Sementara Orihime tengah bersenang-senang dengan teman-teman barunya disekolah sebagai sang kakak, lain hal dengan Ichigo yang saat ini tengah menderita karena terbaring terpuruk diatas ranjang ruang kesehatan seraya memegangi perutnya yang terasa sangat sakit, karena siklus bulanan yang biasa dialami oleh para wanita.

"Sial! Sakit sekali." Racaunya.

Tiba-tiba saat jam pelajaran pertama mulai, perutnya terasa sakit, tak hanya itu saja dirinya merasa dari bagian antara kedua pahanya terasa mengeluarkan sesuatu dan itu terasa sedikit hangat. Buru-buru gadis bersurai orange kecokelatan ini pamit untuk pergi ke toilet dan melihat apa yang keluar dari tubuh bagian bawahnya.

"Hah! Darah?!" serunya dengan kaget.

Ichigo benar-benar sangat bingung kenapa ada darah di celana dalamnya, gadis cantik ini langsung berlari ke ruangan kesehatan dan menemui guru kesahatan untuk berkonsultasi karena takut terjadi hal buruk padanya, terlebih perutnya terasa sangat sakit sekali. Dan saat menceritakan hal ini pada guru kesehatan, dirinya malah ditertawakan.

"Hahahaha...Kau sangat lucu sekali Orihime," Unohana sensei tersenyum geli menatap gadis bersurai orange kecokelatan yang ada didepannya saat ini.

"Sensei, mengapa kau menterawakan ceritaku!" Orihime terlihat kesal.

"Karena hal itu sangat wajar terjadi padamu, mengingat kalau kau adalah seorang wanita. Memangnya ini bukan pengalaman pertamamu-kan saat datang bulan?" tanya Unohana Sensei.

"Hah! Datang bulan?" Orihime terlihat bengong mendengarnya.

Karena bagi Orihime atau lebih tepatnya bagi Ichigo, hal ini memang pertama kalinya ia rasakan, mengingat kalau sebenarnya ia adalah seorang laki-laki bukannya perempuan.

"Iya, siklus ini biasanya memang datang pada setiap wanita normal. Sensei akan memberikan obat penghilang nyeri juga pembalut padamu dan setelah itu kau bisa beristirahat sebentar di atas kasur." Unohana memberikan sebuah obat dan pembalut pada Orihime.

"Ini bagaimana caranya memakainya Sensei?" wajah Orihime merona merah memegangi pembalut pemberian dari Unohana.

"Kau tidak bisa memakainya?" tanya Unohana bingung.

"Iya." Orihime menganggukkan kepalanya dengan malu.

Sensei cantik ini terlihat bengong sesaat menatap Orihime, ia tidak habis pikir bagaimana bisa gadis cantik bermata abu-abu ini tidak bisa memakai pembalut yang memang biasa digunakannya setiap bulan jika siklus wanitanya datang. Dengan pelan-pelan Unohana mengajarkan cara menggunakan pembalut pada Orihime.

"Nah, sekarang kau sudah mengertikan Orihime." Ujar Unonaha Sensei.

"Iya, terima kasih sensei atas bantuannya." Orihime pamit pada sang Sensei dan masuk kedalam toilet untuk memakainya.

Setelah memakai pembalut Orihime meminum obat penghilang nyeri pemberian dari Unohana Sensei dan berbaring di atas kasur.

"Ugh!" lenguh Orihime seraya memegangi perutnya.

"Ternyata jadi wanita itu tidak enak." Keluh Orihime.

Hampir seharian ini Orihime berbaring diatas kasur di ruang kesehatan karena sakit datang bulannya ini. Dirinya tidak menyangka kalau setiap bulannya sang adik akan merasakan hal menyakitkan seperti ini, mulai saat ini dirinya tidak akan pernah menganggap kalau wanita itu adalah mahkluk yang lemah mengingat setiap bulannya mereka harus merasakan rasa sakit yang luar biasa.

X0X0X0X0X0X0X0X

TING...TONG...

Bel pelajaran terakhir berbunyi dan menandakan kalau pelajaran untuk hari ini sudah usai, dan hari ini Ichigo terlihat mengikuti semua mata pelajaran dengan baik juga antusias. Dan hal ini menurut teman-teman sekelasnya sebuah kejadian yang sangat langka sekaligus luar biasa, mengingat biasanya pemuda bersurai orange itu selalu tidur selama jam pelajaran berlangsung atau pergi membolos dengan Renji.

"Nah, anak-anak pelajaran hari ini selesai." ujar sang Sensei sesaat sebelum keluar dari kelas.

Setelah sang Sensei pergi, para murid terlihat mulai merapihkan buku pelajarannya. Begitu pula dengan Ichigo yang tengah sibuk membereskan buku pelajarannya.

"Hei, Ichigo," panggil Renji yang duduk di sampingnya.

"Iya, ada apa Renji?" sahut Ichigo seraya memasukkan semua peralatan sekolahnya ke dalam tas.

"Apa kau sakit?" tanya Renji tiba-tiba.

Ichigo menatap bingung pemuda bersurai merah itu, "Tidak, aku baik-baik saja kok Renji." Jawabnya santai.

"Hari ini kau bersikap beda sekali, tidak seperti biasanya. Aku merasa kalau kau seperti orang lain saja bukannya Ichigo," celetuk Renji.

Ichigo terlihat sedikit salah tingkah mendengar perkataan Renji, "Mungkin hanya perasaanmu saja, Renji."

"Memangnya aku tak pernah mengikuti pelajaran saja," ucapnya gugup.

"Kau memang tidak pernah mengikuti pelajaran dikelas, karena kau selalu membolos atau tidur di dalam kelas." sahut Renji.

Ichigo hanya bisa tertawa kaku menanggapinya, buru-buru ia membereskan semua peralatan sekolahnya dan meraih tas sekolahnya.

SRUK...

Ichigo bangun dari kursinya seraya menenteng tasnya di belakang, seperti gaya anak laki-laki kebanyakan membawa tas sekolah.

"Ayo kita pulang. Hari ini aku mau menemui Orihime, apa kau mau ikut?" ajak Ichigo.

"Tentu saja aku mau ikut pergi menemui adikmu yang cantik itu." Sahut Renji dengan penuh semangat.

Keduanya-pun pergi meninggalkan kelas, baru juga beberapa langkah mereka keluar dari kelas tiba-tiba saja seorang pemuda bersurai biru dengan gerombolan teman-temannya datang menghampirinya dan menghadang jalan Renji dan Ichigo.

"Mau apa kalian?" Renji menatap tajam pemuda itu dan gerombolannya.

"Minggirlah Abarai, aku hanya ada perlu dengan temanmu itu."

Ichigo menatap bingung pemuda bersurai biru itu, "Kau siapa?" tanyanya dengan polos.

Semua orang kaget mendengar pertanyaan dari Ichigo terutama dengan pemuda bersurai biru itu yang merasa marah juga kesal pada Ichigo.

SREK...

Pemuda itu menarik kerah seragam milik Ichigo, "Kau lupa padaku, hah!" teriaknya.

"Aku memang tidak mengenalimu," ucap Ichigo yang semakin menambah kemarahan pemuda bersurai biru itu.

BUAGH!

Pemuda tampan itu memukul wajah Ichigo dan membuatnya jatuh tersungkur ke lantai.

"Sakit..." rintih Ichigo seraya memegangi pipi kanannya.

Buru-buru Renji menghampiri Ichigo dan membantunya untuk berdiri, "Kau tidak apa-apa, Ichigo?"

"Ya, terima kasih Renji. Siapa pemuda menyebalkan itu?" tanya Ichigo.

"Kau benar-benar lupa padanya dan tak mengenalinya sama sekali?"

"Hm..." angguk Ichigo.

"Dia adalah Grimmjow Jaegarjaques, ketua berandalan di sekolah ini dan musuh besarmu disekolah ini." jelas Renji.

"Ternyata kakak punya musuh disekolah ini." Batin Orihime.

"Hei, kalian berdua sudah berbincang-bincangnya?" teriak Grimmjow dengan penuh emosi.

Disaat Grimmjow hendak memukul kembali Ichigo, para anggota Osis datang menghampiri mereka semua.

DRAP...DRAP...DRAP...

"Hentikan kalian semua!" teriak seorang pemuda tampan bersurai hitam panjang dibelakanganya sudah ada beberapa anggota Osis yang mengikutinya berlari.

"Gawat, ketua Osis menyebalkan itu. Ayo Ichigo kita kabur dari sini." Renji menarik reflek tangan Ichigo dan membawanya kabur dari gerombolan anak-anak nakal itu terutama lolos dari ketua Osis disekolah ini, Byakuya Kuchiki.

Blush'

Wajah Ichigo sedikit merona merah saat tangannya di genggam erat oleh Renji.

"Hangat dan lembut." Batinnya.

Setelah berlari cukup jauh meninggalkan sekolah, Renji berhenti di depan sebuah toko kue dengan nafas yang sedikit terengah-engah. Sementara itu Ichigo terlihat biasa-biasa saja dan tidak terlihat kelelahan sedikit-pun karena baginya berlari adalah hal biasa untuknya, mengingat dirinya sering berlari ke sekolah jika datang terlambat kesekolah setelah mengantarkan susu dan koran.

"Sykurlah kita selamat." Ujar Renji dengan nafas yang terengah-engah.

*#*

Orihime menatap horor wajah sang kakak, karena terdapat luka lebam disekitar pipi kanannya, darah Orihime terasa sangat mendidih saat tahu Ichigo di sakiti atau lebih tepatnya adik tercintanya disakiti.

"Siapa yang melakkukannya, Hi-kak Ichi?" tanya Orihime dengan penuh emosi.

"Grimmjow, yang melakukannya Orihime-chan." Jawab Renji dengan cepat.

"Benarkah itu?" Orihime menatap Ichigo, meminta penjelasan dang pemuda bersurai orange itu.

"Hm.." Ichigo mengganggukkan kepalanya membenarkan jawaban dari Renji.

"Dasar, pemuda bersengsek itu! Awas saja kalau bertemu," Orihime meremas kencang nampan yang tengah dipegangnya.

"Sudahlah, Ka...Hime, aku tidak apa-apa ini hanya luka kecil," Ichigo berusaha menangkan hati Orihime.

"Huh! Andai saja ada aku didekatmu saat itu, sudah pasti aku menonjok wajahnya yang selalu dibanggakan itu," dengus Orihime dengan penuh emosi.

Renji tertawa geli mendengar perkataan Orihime, "Hahaha...Kau seperti Ichigo saja Orihime, selalu marah dengan mata yang berapi-api," ledek Renji.

"Benarkah itu Renji-kun? Mungkin karena kami kakak adik jadinya sifat kami agak sama." balas Orihime dengan memperlihatkan senyuman manisnya.

Blush'

Wajah Renji langsung merona merah melihatnya, "Kau sangat cantik sekali, Orihime-chan aku jadi jatuh cinta padamu." Rayu Renji.

Dan tiba-tiba saja di wajah Ichigo ada sedikit rona merah yang menghiasi wajahnya, karena mengatakan kalau dirinya sangat cantik. Maklum saja karena yang berada didalam tubuh Ichigo adalah Orihime.

"Berhenti menggodaku Renji-kun, bukankah kau sudah punya Rukia. Adik dari ketua Osis menyebalkan itu," Orihime menatap tajam pemuda bersurai merah itu.

PRANG...

Seketika hati Ichigo, yang merupakan Orihime langsung pecah berkeping-keping mendengarnya, ia tidak tahu kalau pemuda tampan bersurai merah itu sudah memiliki seorang kekasih.

"Dari mana kau tahu Orihime-chan?" Renji menatap bingung gadis bersurai orange itu.

"Kak Ichi, yang memberitahukannya padaku." jelas Orihime.

Pemuda bersurai merah itu menolehkan wajahnya dan menatap sebal pada Ichigo karena memberitahukan mengenai Rukia yang merupakan kekasihnya, murid dari Alice Gakuen yang sekolahnya bersebelahan dengan Empire Gakuen.

"Kau merusak kesenanganku saja Ichigo." Dengus Renji.

"Hahahaha..." Ichigo hanya bisa tertawa kikuk mananggapinya.

Disaat mereka bertiga tengah asik mengobrol santai, tiba-tiba seorang gadis bersurai merah muda panjang dengan rambut di kuncir dua datang berlari menerjang Ichigo dan langsung memeluknya dengan erat.

"Sayang aku rindu sekali padamu..." teriaknya dengan manja.

Wajah Orihime langsung menatap horor gadis itu, sedangkan Ichigo hanya bisa bengong juga bingung dengan gadis yang tengah mendekapnya saat ini. Sementara Renji diam seribu bahasa melihat adegan itu, karena yang datang adalah gadis yang sangat berbahaya juga berpengaruh di Alice Gakuen.

"Astaga! Gadis gila itu." Batin Orihime yang merupakan Ichigo.

"Ya, ampun! Gadis menyeramkan itu." Batin Renji.

"Ma-maaf bisakah kau melepaskan pelukkanmu, aku merasa sesak." Keluh Ichigo yang merasa risih dengan sikap gadis berkuncir dua ini.

Gadis cantik ini melepaskan pelukkannya, namun ia langsung bergelayut manja di lengan kanan Ichigo, dan pemuda bersurai orange ini benar-benar dibuat bingung dengan sikap gadis cantik ini, karena dirinya benar-benar tidak mengenalinya sama sekali.

"Kau, siapa?" tanya Ichigo bingung.

Gadis ini menggembungkan kedua pipinya menatap sebal Ichigo, "Kau lupa padaku Ichigo-kun?!"

"Ma-maaf aku benar-benar tidak mengenalimu." sahut Ichigo.

"Ini, aku Riruka Dokugamine. Kekasihmu." ucap Riruka dengan percaya diri.

Wajah Orihime yang merupakan Ichigo, langsung pucat pasi mendengarnya, mimpi apa dirinya semalam. Tiba-tiba gadis bersurai merah muda itu mengatakan kalau ia adalah kekasihnya, mendengarnya saja membuat dirinya merinding apalagi membayangkannya.

"Apa pacar?!" seru Ichigo kaget.

Pemuda bersurai orange ini menatap bingung Orihime dan berusaha mencari penjelasan dari gadis bersurai orange kecokelatan itu mengenai Riruka, yang mengaku-angku sebagai kekasihnya.

"Itu, tidak benar. Kau bukan kekasih Kak Ichi, karena kakaku tidak memiliki pacar satu-pun." Orihime melepas paksa pelukkan Riruka di tangan Ichigo.

"Siapa kau gadis jelek, berani menggangu waktu-ku dengan Ichigo-kun?!" Riruka berkacak pinggang menatap garang Orihime.

"Aku adalah adik dari Ichigo, namaku Orihime," jelas Orihime dengan penuh percaya diri.

"Adik?! Aku baru tahu kalau Ichigo-kun memiliki seorang adik," Riruka menatap bingung pemuda bersurai orange disebelahnya.

"Dia memang benar adik perempuanku, kami terpisah selama sepuluh tahun dan belum lama ini kami bertemu kembali," jelas Ichigo.

Kedua mata Riruka langsung berkaca-kaca mendengarnya, "Benarkah! Aku sangat terharu sekali mendengarnya Ichigo-kun,"

GREP...

Riruka langsung menggenggam erat kedua tangan Orihime, "Mulai hari ini kita berteman baik ya, Orihime-chan, karena aku adalah calon kakak iparmu." Ujar Riruka dengan pedenya.

"Jangan bermimpi, gadis gila." Batin Ichigo.

"Maaf, aku tidak mau berteman baik denganmu. Aku masih banyak pekerjaan." Orihime melepas kasar genggaman tangan Riruka lalu pergi kebelakang untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.

"Huh! Adikmu sangat menyebalkan sekali, Ichigo-kun," Riruka kembali bergelayut manja pada Ichigo.

Drrrtt...

Tiba-tiba saja ponsel milik Ichigo bergetar dan saat membacanya pemuda bersurai orange itu langsung pergi ke belakang menemui Orihime yang tadi mengirimkannya pesan singkat.

"Ada, apa kak Ichi?" tanyanya pelan karena saking pelannya suaranya terdengar seperti berbisik.

"Ini, pakailah hanya ini yang bisa menyelamatkanmu dari gadis gila itu," Orihime memberikan sebuah pakaian perempuan dan wig pada Ichigo.

Ichigo terbengong mendengarnya.

"Percayalah padaku, pakai ini dan kau bisa terbebas dari Riruka," Orihime meyakinkan Ichigo agar mau memakai pemberian darinya.

"Baiklah, aku akan memakainya tapi jangan salahkan aku jika kau nanti ditertawakan ataupun diledek oleh Renji-kun,"

"Hn..." sahut Orihime santai.

Ichigo mulai melepaskan seragam sekolahnya dan memakai pakaian yang diberikan Orihime, ia memakai wig serta berdandan untuk meyamarkan wajahnya dari Riruka. Setelah selesai menyamar ia mengirim pesan pada Renji dan meminta temannya itu menemuinya di dekat kasir.

"Ichigo!" batin Renji.

Buru-buru pemuda bersurai merah itu pergi kasir dan meninggalkan Riruka, saat pergike dekat kasir seorang wanita cantik bersurai kuning panjang dengan pakaian gotic lolita yang melambaikan salah satu tangannya, sesaat Renji bengong menatap gadis cantik itu yang tak lain adalah Ichigo.

"Renji ini aku..." Ichigo memberikan sebuah kode pada temannya itu, dan sepertinya pemuda bersurai merah itu mengerti dan paham dengan kode yang diberikan oleh Ichigo.

"Kau..." Renji menatap tak percaya penampilan Ichigo.

"Hmpthhh..." Renji menahan tawanya.

Pemuda bersurai merah ini benar-benar tak percaya penampilan Ichigo yang dinilainya sangat cantik, andai saja gadis yang didepannya ini bukan Ichigo yang tengah menyamar sudah pasti sejak tadi Renji akan menggodanya.

"Kau cantik juga Ichigo," ledek Renji.

"Berhenti menggodaku, ayo cepat kita pergi dari cafe ini." Ichigo menggandeng mesra tangan Renji dan berjalan keluar dari dalam cafe.

Sementara itu Riruka terlihat sangat kesal, marah juga jengkel saat tahu kalau Ichigo pergi dari cafe tanpa pamit padanya.

"Ichigo-kun." Erangnya.

*#*

Saat berjalan diluar Renji dan Ichigo menjadi pusat perhatian orang-orang yang melihatnya karena dimata para pemuda kalau wajah Ichigo sangat cantik sekali saat menjadi wanita, dan saat berjalan menuju halte bus tanpa diduga sama sekali oleh Renji dan Ichigo kalau mereka berdua akan bertemu dengan Rukia, kekasih Renji yang baru saja keluar dari toko kain.

"Renji-kun?!" seru Rukia kaget karena mendapati sang kekasih tengan berjalan mesra dengan seorang gadis cantik yang tak lain adalah Ichigo.

"Rukia!" Renji menatap horor sang kekasih.

Tangan Rukia terlihat mengepal dengan keras dan Renji sangat tahu apa itu, buru-buru pemuda bersurai merah ini duduk berlutut di hadapan sang kekasih seraya meminta maaf dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Setelah dijelaskan amarah dari Rukia reda dan kini gadis cantik bersurai hitam itu malah tertawa geli melihat penampilan dari Ichigo.

"Hahahaha..." Rukia tertawa sangat lebar hingga air mata keluar dari matanya.

"Sudah puas belum mentertawaiku, Rukia," dengus Ichigo, yang merasa sebal karena ditertawakan oleh Rukia.

"Ma-maafkan aku Ichigo, habis kau sangat cantik sekali." ledek Rukia.

"Huh..." Ichigo membuang mukanya.

"Sudah jangan marah lagi. Oh, ya Renji-kun mau membantuku membawakan barang-barang ini-kan." Rukia memperlihatkan beberapa kantong belanjaan ditangannya.

"Tentu saja sayang," Renji meraih belanjaan Rukia sementara itu, gadis cantik ini menggandeng mesra pemuda bersurai merah itu.

"Maaf ya Ichigo aku mengantar Rukia dulu. Kau pulang duluan saja ke asrama dan jangan mengunci kamar jika aku pulang telat." Ucap Renji sesaat sebelum pergi.

"Baiklah." Ichigo menanggapinya dengan malas.

Setelah Renji pergi menaiki sebuah taksi bersama sang kekasih, dirinya baru teringat kalau ia masih belum hapal betul jalan pulang ke asrama dan mau tidak mau Ichigo harus menghubungi Orihime, akan tetapi sepertinya gadis bersurai orange itu tidak mengakat ponselnya karena sibuk bekerja.

"Ya, ampun! Bagaimana aku pulang ke asrama." jeritnya.

X0X0X0X0X0X0X0X

Minggu depan akan di adakan festifal kebudayaan di sekolah Empire Gakuen, dan semua kelas juga murid wajib mengikuti kegiatan yang dilakukan selama satu tahun sekali ini. Saat ini semua orang dikelas Ichigo tengah rapat mengenai tema apa yang akan dipakainya untuk tahun ini.

"Bagaimana kita membuat rumah hantu saja." Usul Kira pada ketua kelas.

"Rumah hantu sudah dipakai oleh kelas sebelah, bagaimana kalau kita membuat cafe saja," ujar Renji ditengah-tengah rapat.

"Bukankah itu juga sudah dipakai oleh kelas tiga." sahut Hisagi.

"Tapi, kita buat cafe yang berbeda. Bagaimana kalau cafe cosplay saja, itu lebih menarik dari pada cafe biasa yang dibuat oleh anak kelas tiga." jelas Renji.

"Boleh juga idemu Renji. Sudah diputuskan, kalau kita akan membuat cafe cosplay. Bagaimana apa kalian semua setuju?" tanya sang ketua kelas.

"Ya, kami setuju ketua." Teriak para murid bersamaan.

"Aku sih ikut-ikutan saja." Gumam Ichigo malas.

Namun didalam hatinya Ichigo merasa senang dan menantikan seperti apa acara festifal di sekolah megah dan bergengsi ini.

"Pasti festifal disekolah akan seru." Batin Orihime.

Ketua kelas-pun mulai membagai tugas pada teman-temannya, yang kebagian membuat kostum cosplay untuk dipakai dicafe adalah Yumichika, Hirako dan Ggio Vega demi mendapatkan hasil yang sempurna juga bagus mereka semua bekerja dengan keras dan giat tak jarang mereka akan berada didalam kelas hingga larut malam untuk mendekor kelas.

Gara-gara sibuk mendekor kelas dan persiapan festifal sekolah, untuk sementara waktu Ichigo tidak bisa menemui Orihime di cafe dan berbagi informasi mengenai keadaan disekolah namun mereka masih berkirim pesan atau menelpon untuk saling bertukar kabar.

"Hari ini sangat melelahkan sekali." Keluh Renji seraya menjulurkan tangannya kedepan.

"Badanku juga terasa sangat lengket sekali." Tambah Ichigo yang duduk disebelah Renji.

"Kalau begitu bagaimana kalau kita berendam di pemandian milik keluarga Kira saja." usul Hisagi.

"Ide bagus, Hisagi." Renji menyetujui usulan dari temannya.

"Ayo, kita semua pergi kepemandian air panas." Teriak Renji yang langsung disambut gembira oleh teman-teman sekelasnya.

Ichigo kaget mendengarnya dan berniat untuk tidak ikut, akan tetapi dirinya sudah keburu ditarik oleh Renji dan hanya bisa pasrah ikut kepemandian air panas bersama teman-teman sekelasnya. Selama berada dipemandian air panas Ichigo terus berada dipojokkan, berendam dengan tenang, tanpa ikut permainan aneh juga jorok dari teman-temannya.

"Jadi begini kelakuan mereka jika bersama di dalam pemandian air panas." Batinnya.

*#*

Akhirnya setelah bekerja keras siang malam selama beberapa hari ini cafe cosplay selesai dan ketua kelas mulai membagai kembali tugas dengan cara mengambil undian yang sudah dibuat. Yang kebagian tugas menjadi pelayan di cafe adalah Ichigo, Kira, Hisagi, Renji juga Ikaku. Lalu yang menjadi penarik tamu adalah Ashido dan Ggio Vega karena keduanya lumayan populer dikalangan para gadis di Alice Gakuen.

Semua orang juga sudah mendapatkan kostum sesuai dengan undian dan kebetulan sekali Ichigo mendapatkan kostum gotic lolita dan orang yang bertugas mendadani adalah Yumichika, ketua klub kesenian.

"Astaga! Kau sangat cantik sekali Ichigo, aku tak menyangka kalau wajahmu bisa secantik ini." Puji Yumichika.

"Terima kasih." wajah Ichigo tersipu malu mendengarnya.

BRAK...

Ruang ganti didobrak dengan keras dan menampilkan seorang pemuda bersurai merah dengan menggunakan kimono berwarna biru langit bercorak daun momiji dari raut wajahnya terlihat sekali kalau pemuda itu tengah kesal.

"Yumichika! Kenapa aku haru kebagian kostum ini sih?!" protes Renji.

"Sudah kau terima saja, lagi pula ini-kan hasil undian, jadi kau terima saja Renji." Yumichika menepuk pelan pundak temannya itu dan memberikannya semangat.

"Ck, menyebalkan." Dengus Renji.

Ichigo tertawa kecil melihat penampilan Renji yang bisa dibilang lucu, setelah berganti pakaian Ichigo mengerjakan tugasnya melayani para tamu. Acara tahun ini pengunjung yang datang sangat banyak dari tahun kemarin, karena orang luar atau dari sekolah lain boleh masuk kesekolah selain para murid dari Alice Gakuen.

Acara festifal dibuka oleh Byakuya yang merupakan ketua Osis dan panitia untuk festifal tahun ini.

"Acara festifal dibuka." Teriak Byakuya dengan diiringi suara kembang api dan tiupan terompet.

Para pengunjung-pun mulai memasuki area sekolah dan mendatangi stand yang sudah dibuat oleh para murid. Banyak para pengunjung yang datang ke cafe cosplay yang dibuat oleh kelas Ichigo, karena para pengunjung merasa unik dengan para pelayannya dan makanan yang dihidangkan juga sangat enak.

"Ketua kita kehabisan gula." Teriak Mizuho yang bertugas di dapur.

"Ichigo tolong kau ambilkan persedian gula di gudang." Teriak ketua kelas yang ikut bertugas di dapur.

"Baik, ketua." Ichigo menaruh nampan yang dibawanya dan bergegas pergi untuk mengambil gula.

DRAP...

Ichigo berlari menerobos kerumunan orang-orang yang memadati koridor kelas dan tanpa sengaja saat hendak menuruni tangga ia menubruk seorang pemuda tampan bermata abu-abu hingga jatuh.

BRUK...

CUP...

Sebuah ciuman dibibir terjadi antara Ichigo dan pemuda yang ditabraknya itu. Kedua mata Ichigo membulat sempurna melihat pemuda yang diciumnya adalah Byakuya. Buru-buru ia bangun dari posisinya saat ini yang menindih tubuh Byakuya.

SRUK...

Ichigo membungkukkan tubuhnya dalam-dalam pada Byakuya, dan tanpa berkata sepatah kata-pun Ichigo pergi meninggalkan pemuda bermata abu-abu itu. Karena saking takut juga kaget Ichigo tidak sadar kalau ia menjatuhkan ponsel miliknya dan saat Byakuya meneriakkinya, Ichigo malah semakin mempercepat larinya.

"Dasar gadis yang aneh." Gumam Byakuya.

Byakuya menatap penuh arti ponsel lipat berwarna merah marun ditangannya, "Dengan benda ini, kita akan bertemu kembali Nona." Seulas senyum tipis menghiasi wajah tampannya.

TBC

Terima kasih sudah mau membaca Fic ini.

Maaf kalau jelek, gaje, aneh dan tidak menarik.

Jika berkenan Read anda Riviewnya.

Inoue Kazeka.