Never Say Love

.

.

.

Warning: Alternative Universe, Modified Canon, Out of Character, typo(s).

Note: untuk memudahkan, fem Draco, bernama Dracia Malfoy.

.

.

.

By: Ulilil Olala

Disclamer: Harry Potter by J. K. Rowling

Pairing: Harry Potter x fem Draco Malfoy

Rated: T

Setting: 4th Year

.

.

.

Summary: Harry di tahun keempatnya mulai beranjak remaja dan merasakan perutnya bergejolak ketika melihat seorang cewek. Dia sudah yakin bahwa dia menyukai Cho Chang, namun ternyata, dari hari ke hari, keyakinannya digoyahkan oleh seorang Malfoy yang berubah menjadi sangat cantik tahun ini. Tapi Harry juga sangat ingat, bahwa si Malfoy itu berubah sangat menyebalkan tahun ini!

CHAPTER TWO

Dracia Malfoy memandang sekitarnya dengan bosan. Dia sedang duduk di aula depan, melihat setiap orang yang memasukkan namanya ke piala api.

Dia mememandang sekelilingnya sekali lagi dan pandangannya jatuh ke meja Gryffindor. Tampaklah pemandangan yang agak memuakkan—menurutnya. Harry Potter sedang duduk bersama kawanan kutu busuknya—oh dia lebih suka memanggil mereka begitu—memandangi setiap anak Gryffindor yang memasukkan namanya ke dalam piala api dengan mata yang berbinar-binar, seakan mereka adalah orang suci yang telah membasmi kawanan vampir terkutuk di sebuah desa atau semacamnya.

Dracia sedang memandang Potter secara tidak jelas, ketika seseorang tiba-tiba duduk di sebelahnya. Dia mendongak untuk melihat siapa orang yang berani duduk di sebelahnya—dan dia benar-benar menyesal sudah mendongak.

Seorang anak lelaki Slytherin kelas enam duduk di sebelahnya dan terseyum—oh bukan, bukan meyeringai maksudnya—dan memandanginya dengan tatapan mendamba tidak jelas.

Dia mengenali anak lelaki itu sebagai kakak kelasnya yang disukai oleh Millicent. Anak lelaki itu tinggi dan berbadan tegap, berambut pendek rapi berwarna tembaga, hidungnya agak besar—dan membuatnya tampak seperti troll—dan matanya berwarna cokelat kusam. Dracia mendengus melecehkan kepadanya—dan tiba-tiba, kakak kelas anehnya malah mengajaknya mengobrol.

"Halo cantik." Kata anak kelas enam itu. "Sendiri saja hari ini?"

Dracia menahan dirinya untuk memutar mata, dan menjawab "Seperti yang kau lihat, aku sedang sendiri—kecuali jika kau cukup buta untuk mengenali bahwa aku dikelilingi oleh segerombolan mahkluk tak kasat mata."

Tidak sesuai dugaanya, anak kelas enam itu malah tertawa (padahal dia sudah berharap agar orang itu malu sendiri dan pergi.) "Sarkasme yang cukup bagus, cantik." Si Troll kembali menambahkan.

Kali ini, Dracia mendengus dan membiarkan matanya terpaku pada piala api. Dia sudah memutuskan untuk tidak menghiraukan anak kelas enam itu. Namun, baru saja dia pergi kembali ke ruang rekreasi—tiba-tiba saja, si anak kelas enam itu menaruh lengan trollnya di pundak Dracia. Sontak saja dia kaget dan bergeser ke arah kanan, menjauhi troll Slytherin kampungan itu. Namun, si Troll itu malah meyeringai lagi dan ikut-ikutan bergeser ke kanan.

Ini sudah keterlaluan, dan dia tidak terima sabtu indahnya diganggu oleh hal tidak jelas macam begitu, maka dia bertanya dengan suara yang keras dan tinggi, "Apa maumu sehingga tiba-tiba menaruh tangan kotormu di atas pundakku dan menggangguku hari ini?"

"Bagaimana jika mauku adalah mengajakmu kencan ke Hogsmeade?" balas si Troll Slytherin dengan seringai menjijikan di wajahnya.

"Oh berarti maaf sekali jika aku tidak bisa mengabulkan permohonan menjijikan mu itu." Balas Dracia dengan cepat. Dia sudah benci dengan ajakan-ajakan macam ini, jauh melebihi rasa bencinya pada Potter.

Dracia beranjak pergi dari aula depan untuk mengindari anak kelas enam itu yang terus-terusan menyeringai padanya, dengan tatapan seperti itu. Dia memutuskan untuk kembali ke asrama dan tidur saja. Ketika dia berjalan, banyak sekali anak lelaki yang terus-terusan memandanginya dengan tatapan sama seperti anak kelas enam yang tadi menggangunya. Maka dia mempercepat langkahnya.

.

Harry sedang mentertawakan Fred dan Geoge yang berubah menjadi kakek-kakek setelah minum ramuan penua dan terpental begitu saja dari lingkaran batas usia Dumbledore. Dia segera kehilangan minat ketika ekor matanya menangkap bayangan seseorang yang berambut panjang hitam.

Harry mendongak dan mendapati Cho sedang terkikik bersama teman-teman seasramanya di seberang tempat duduknya. Perutnya bergejolak lagi, dan dia merasa agak mual seketika. Tanpa disadari oleh Harry, pipinya memerah sendiri.

Dia sedang asyik memperhatikan Cho, ketika sekelebatan bayangan menghalau pandangannya.

Dracia Malfoy sedang berjalan dengan sangat cepat keluar aula. Harry hanya mengangkat bahu dan kembali memperhatikan Cho yang sekarang tertawa bersama teman berambut keritingnya. Namun, hatinya agak gelisah. Harry harus menahan keinginan untuk mengikuti kemana perginya Malfoy. Akhirnya, Harry hanya memandang Malfoy , yang melenggang pergi—membiarkan rambut pirang platina indahnya, berkibar bersamaan dengan menghilangnya sosok menyebalkan itu.

.

Harry sedang melamun, ketika Ron dan Hermione membicarakan Triwizard dengan penuh antusiasme. Mereka mengagetkan Harry—ketika suara sorakan memenuhi aula depan.

Harry tersadar dari lamunannya dan melihat apa yang sedang terjadi. Angelina Johnson sedang melewati lingkaran batas usia Dumbledore, dan memasukkan namanya ke piala api. Maka, mau tak mau Harry ikut bersorak memberi semangat pada Angelina.

Beberapa menit setelahnya, Harry ikut melibatkan diri ke dalam percakapan, dan ikut memberi dukungan pada Angelina yang tersipu.

Lalu kemudian, pintu aula terbuka lagi—menampilkan rombingan anak-anak Beuxbatons, yang dipipimpin oleh Madam Maxime, dan si gadis Veela itu. Pipi Ron segera saja berubah menjadi merah jambu.

Harry, Ron, dan Hermione segera saja menghabiskan hari itu dengan mengunjungi Hagrid, dan membicarakan berbagai macam hal dengan manusia besar kesayangannya itu.

Sementara itu, di ruang rekreasi Slytherin, Dracia Malfoy sedang mengunci diri di kamarnya—menghindari anak kelas enam yang mirip troll tersebut, dan menghiraukan suara berisik yang ditimbulkan oleh Pansy Parkinson dan kawanan beonya.

Setelah terdiam di kamar cukup bosan, Dracia merasa bosan dan memutuskan untuk keluar kamarnya. Dia menyusuri lorong, dan duduk di ruang rekreasi, dan membaca sebuah buku.

Dracia memang suka membaca. Namun, kebanyakan orang tidak tahu dengan hobinya yang satu ini. mereka beranggapan bahwa dirinya akan memilih berdandan dan mengurusi tubuhnya ketimbang membaca buku. Secara personal, malah Dracia menghindari apa itu yang namanya berdandan, dan membiarkan tubuhnya secara alami—untuk mencoba mengurangi daya tarik pubertasnya—dan gagal sama sekali.

Sekali lagi, dia menegaskan. Dia bukannya benci jadi pusat perhatian. (oh, malah dia senang diperhatikan.) Namun, dia benar-benar benci dengan puluhan lusin anak cowok yang mengikutinya kemana-mana—dan memandanginya dengan tatapan seakan dirinya adalah sebuah ayam panggang lezat. Dia benar-benar benci akan hal itu, karena membuatnya dimusuhi oleh Pansy dan teman-temannya.

Baru saja dia membalikkan halaman bukunya, dia didatangi oleh kawanan beo Slytherin—maksudnya, Pansy Parkinson dan teman-teman berisiknya—dan menggebrak meja tempat ia menaruh bukunya.

Sontak, Dracia terkejut dan memandang Pansy dengan tatapan marah dan menghina.

"Apa maumu, Parkinson?" Ujarnya dengan suara bergetar kerena marah.

"DASAR KAU JALANG RENDAHAN TAK TAHU MALU!" Jerit Pansy sembari menunjuk wajahnya dengan jarinya yang agak pendek.

Dracia tertegun, mendengar apa yang dikatakan Pansy kepadanya. Kesabarannya hampir tersulut habis.

"Apa maumu mengataiku jalang?" Tanyanya. Suaranya masih bergetar.

"Kudengar kau diajak kencan oleh Gilbert!" kata Pansy. Suaranya melengking tinggi tak jelas.

"Apa yang kaubicarakan! Bahkan aku tidak tahu Gilbert itu siapa!" Jawab Dracia.

"TAK USAH SOK PURA-PURA TIDAK TAHU BEGITU!" Jerit Pansy. Seisi ruangan memperhatikan mereka sekarang. "KAU TAHU SEJAK DULU JIKA MILICENT MENYUKAI GILBERT, DAN SEKARANG KAU MENGHIANATINYA DENGAN BERKENCAN DENGANNYA!"

Mendadak Dracia paham apa sebenarnya inti percakapan ini. Gilbert pastilah cowok aneh seperti Troll, yang mengajaknya kencan tadi pagi. Segera saja, amarah memenuhi dirinya, dan tiba-tiba saja, dia menarik tongkatnya dan mengarahkannya pada Pansy.

"JANGAN SEKALI-KALI..." Suaranya menggelegar marah. Dilihatnya Pansy dan teman-temannya agak menciut melihat Dracia mendadak marah.

"JANGAN SEKALI-KALI KAU MENGATAIKU JALANG! LIHATLAH DIRI KALIAN SENDIRI! SIAPA YANG SELALU MENGGODA PULUHAN COWOK YANG KALIAN TEMUI! SIAPA JUGA YANG SELALU MENGHABISKAN SEJAM UNTUK BERSOLEK DAN MENGERITING RAMBUTNYA PAGI-PAGI! DAN SATU HAL LAGI PARKINSON—JANGAN PERNAH MENGATAIKU PENGHIANAT ATAU SEGALA MACAMNYA TENTANG DIRIKU, HANYA KARENA COWOK-COWOK YANG KALIAN SUKAI MENGAJAKKU KENCAN—MEMANGNYA INI SEMUA SALAHKU APA? TANYAKAN SAJA PADA COWOK-COWOK KALIAN APA YANG SALAH TENTANG KALIAN SEHINGGA MENGABAIKAN KALIAN DAN MALAH MENGAJAKKU KENCAN DAN SEGALA MACAMNYA! JIKA KALIAN JIJIK DENGANKU, JANGAN PERNAH GANGGU HIDUPKU LAGI, JALANG!" Dracia berteriak pada mereka dan berbalik keluar menuju ke atas untuk menenangkan dirinya. Tanpa sadar, dirinya telah kehilangan kendali dan mengungkapkan apa yang selama ini dirasakan olehnya. Tidak biasanya dia kehilangan kendalinya seperti itu. Biasanya dia menyembunyikan semua emosinya—namun mau bagaimanapun, dia juga cewek yang masih punya perasaan, dan sakit hati ketika orang lain mengatainya rendahan.

.

Dracia melangkahkan kakinya ke aula. Sedang terjadi kasak-kusuk di bawah. Kebanyakan, mereka sedang berbisik-bisik tentang siapa yang akan menjadi juara Triwizard.

Ketika dia berjalan, banyak anak lelaki yang memperhatikannya. Seperti biasa, Dracia mengacuhkannya.

Sementara itu Harry baru saja kembali dari pondok Hagrid. Dia, Ron, dan Hermione duduk di meja Gryffindor. Ron dan Hermione sedang membicarakan kira-kira siapa yang akan menjadi Juara Triwizard. Ron bertaruh bahwa Krum akan menjadi Juara Dumstrang, dan cewek Veela yang dia taksir, akan menjadi Juara Beaxbatons.

Harry memandang pintu aula, ketika matanya menangkap Malfoy sedang berjalan.

"Selalu saja Malfoy." Gumam Harry.

"Apa Harry? Kau mengatakan apa tadi?" Hermione menanyainya. Dia lupa bahwa sedang bersama kedua sahabatnya.

"Tidak." Harry berbohong. "Tidak ada apa-apa"

Harry merutuki kebodohannya dalam hati. Dia yakin, bila Ron mendengarkan apa yang tadi dia katakan, maka Ron akan mengejek Harry bahwa dia menyukai Malfoy. Tentu saja itu tidak benar. Harry meyakinkan diri bahwa dia menyukai Cho.

Tapi mata Harry sangat gatal untuk tidak menoleh. Maka, dia menoleh dan memperhatikan Malfoy yang sedang berjalan. Matanya fokus kedepan dengan pandangan kosong. Maka, sudah jelas dipastikan bahwa Malfoy sedang melamun.

Harry memperhatikan sekelilingnya. Banyak sekali anak lelaki yang tidak melepaskan mata mereka dari Malfoy. Harry memang berat mengakui, bahwa Malfoy adalah satu-satunya anak Slytherin, yang memiliki wajah tidak menyeramkan dan suram. Adik-kakak Greengass memang cantik, namun mereka tidak dapat menyamai kecantikan Malfoy—yang secara misterius meningkat drastis tahun ini. Malfoy tampak sangat cantik malam ini, dengan rambut yang diikat ke belakang. Entah sengaja atau tidak, dia membiarkan sedikit anak rambut menggantung dan membingkai wajahnya. Hal itu, malah membuatnya terlihat uhm—manis.

Tiba-tiba, Harry sadar akan objek yang dia perhatikan. Dia mendengus, dan membuang muka.

Harry menghabiskan makanan yang ada di piring emasnya dengan gelisah dan tidak tenang. Dia ingin segera mendengar siapa yang akan dipilih untuk mengikuti turnamen Triwizard. Maka, Harry berkali-kali bangkit dan mengangkat pantatnya dari kursi—hanya untuk melihat apakah Dumbledore sudah selesai makan atau belum.

Rasanya lama sekali menunggu Dumbledore makan. Dia berpikir, apakah ini memang kebiasaan orang tua, makan dengan lama—atau, apakah Dumbledore memang sengaja makan dengan lama, untuk membuat banyak anak-anak gelisah dan penasaran. Setelah rasanya seabad semenjak Harry selesai makan—Dumbledore bangkit berdiri. Bisik-bisik yang tadinya memenuhi aula besar, tiba-tiba berhenti—ketika melihat Dumbledore akan berbicara.

.

"Juara untuk Durmstrang," Dumbledore berbicara dengan suara keras dan jelas, "Adalah Viktor Krum."

Kemudian, terdengar sorakan dan tepuk tangan memenuhi aula. Dracia ikut bertepuk. Dari ujung aula, terdengar suara Ron Weasley yang berteriak "Tidak Megejutkan!"

Setelah Viktor Krum bangkit, Dracia mendengar Dumbledore berbicara lagi. "Juara untuk Beaxbatons," katanya, "Adalah Fleur Delacour."

Terdengar tepukan dan sorakan memenuhi aula lagi. Dracia memang tidak menyukai gadis dari Beauxbatons itu—menurutnya, cewek itu sok dan sombong (Memangnya kau sendiri tidak apa!) —tapi dia tetap bertepuk tangan untuk formalitas, dan melihat Delacour pergi ke ruang yang sudah disiapkan untuk para juara.

Dumbledore kemudian mengambil perkamen yang terbang dari piala api—dan membacakan siapa yang akan menjadi juara Hogwarts. Banyak anak Hogwarts yang melihat Dumbledore dengan napas tertahan.

"Juara Hogwarts," katanya, "Adalah Cedric Diggory."

Sorakan dan tepukan terdengar keras dari meja Hufflepuff. Dracia hanya memutar matanya—dan bertepuk, untuk formalitas.

Setelah ekor matanya mengikuti Diggory yang melengang pergi, matanya menangkap sesuatu yang ganjil. Piala api kembali berubah merah. Napasnya tercekat, dan menunggu Dumbledore untuk mengambil nama calon juara keempat.

Dumbledore berdeham, dan membacakan isi perkamen tersebut. "Harry Potter," katanya.

Dan Dracia merosot di tempat duduknya. Hatinya mencelos.

.

Dracia memperhatikan Harry Potter yang membeku di tempatnya. Setelah disodok oleh sahabatnya, Potter berjalan terseok-seok maju ke depan. Ketika siswa seasramanya mencemooh Potter, dia hanya bisa menatap Potter dengan nanar.

"Bodoh." Rutuknya dalam hati. "Benar-benar bodoh."

Dia mengutuk Potter dalam hatinya. Seakan tidak pernah belajar dari pengalaman, seharusnya dia tahu jika Potter pasti akan ikut memasukkan namanya ke piala api bagaimanapun caranya.

Apakah Potter tidak pernah mendengarkan Dumbledore? Kemarin orang tua itu sudah memberitahu mereka bahwa mengikuti Turnamen Triwizard sama dengan menuliskan nama mereka di gerbang kematian. Kenapa Potter menghiraukannya? Apa memang dia ingin mati? Apakah otak Potter memang kelewat bodoh karena bekas luka itu membelah kepalanya?

Semua pertanyaan itu memenuhi otak Dracia. Dia mendadak merasa khawatir pada Pott—TUNGGU—untuk apa dia mengkhawatirkan Harry-santo-kepala-terbelah-Potter?

Tapi, dia tidak bisa membohongi hatinya. Jauh di dalam lubuk hati terdalamnya, dia takut jika Potter akan kenapa-kenapa pada saat Turnamen nanti. Mau bagaimanapun, Dracia tahu, Potter hanyalah bocah bodoh berusia empat belas tahun—yang bahkan, disuruh merebus ramuan mudah pun tak bisa.

.

Setelah Harry puas marah-marah di ruang rekreasi malamnya, dia seketika merasa gelisah dan cemas. Dia mendadak teringat percakapannya dengan Ron.

Harry menoleh memandang tempat tidur di sebelahnya. Tempat tidur itu kosong. Ron telah pergi turun untuk sarapan.

Harry bermaksud turun untuk mencari Ron. Maka dengan ogah-ogahan, dia memakai sepatunya, dan menuju lubang lukisan. Harry mendorong lukisan hingga terbuka, dan langsung berhadapan dengan Hermione.

Hermione menyapanya, dan menyodorkan setumpuk roti panggang yang sudah dialasi tisu. Hermione mengajaknya jalan-jalan. Maka, mereka turun dan menyusuri lapangan rumput.

Harry menceritakan apa yang terjadi, dan sangat bersyukur ketika Hermione mempercayainya, jika dia tidak memasukkan namanya ke dalam piala api. Hermione juga menjelaskan penyebab kenapa Ron jadi sensitif begitu.

Harry merasakan emosinya memenuhi kepalanya saat ini. Dia seketika ingin meneriaki Ron dan mengatakan bahwa dia tidak menikmati semua ini. namun, tampaknya Harry tidak bertemu Ron hari ini.

.

Harry ingin bertemu Hagrid dan menyadari peluangnya adalah ketika jam Pemeliharaan Satwa Gaib. Tapi Harry baru ingat jika pelajaran Pemeliharaan Satwa Gaib adalah pelajaran yang mengharuskan dia bersama anak Slytherin. Dan seketika Harry membayangkan wajah mengejek Malfoy. Harry mencoba mengalihkan bayangan-bayangan tentang betapa mengerikannya tugas Triwizard—dan besarnya kemungkinan dia terbunuh.

Kemudian tiba-tiba saja, Harry membayangkan jika dia tewas terbunuh, dan melihat wajah menyesal Malfoy. Dia membayangkan Malfoy yang berlari, lalu memeluk jasadnya yang sudah dingin dan mengatakan betapa dia menyesal sudah membuat hidup Harry menderita. Dan Malfoy mengatakan betapa dia sangat menyukai Harry dan—Harry tersadar dari lamunan liarnya, dan mendapati Malfoy sedang berdiri di depannya, sambil memilin-milin dasinya sembari melotot kepada Pansy Parkinson—yang menatap Malfoy dengan galak.

Harry merona ketika mengingat apa yang tadi dia lamunkan. Dia menggelengkan kepalannya dan meyakinkan diri sendiri bahwa lamunan tersebut terjadi karena keletihan sehabis pengumuman juara Triwizard kemarin malam. Dia menegaskan diri sendiri bahwa Cho Chang jauh lebih cantik dibandingkan dengan Dracia Malfoy.

Hermione menyodok rusuk Harry dan menyuruh Harry untuk berjalan ke dekat Hagrid. Malfoy berjalan di depannya—diapit Crabbe dan Goyle seperti biasanya. Dan Harry menyadari sesuatu—yang membuat perutnya bergolak.

Dracia Malfoy berjalan dengan memakai kemeja putih sekolahnya, dan menyampirkan jubah Hogwartsnya di bahunya. Hal itu menyebabkan lekuk tubuhnya terlihat jelas dan terang-terangan menyatakan bahwa dia memiliki badan yang paling bagus diantara cewek-cewek lain. Rambutnya yang berwarna pirang—tergerai indah di punggungnya, dan dengan absennya jubah hitamnya, kakinya yang ramping dan jenjang terlihat menambah daya tarik Malfoy sekarang. Ditambah lagi, sinar matahari menyinari tubuh Malfoy, seolah-olah alam mengatakan bahwa Malfoy adalah jelmaan seorang dewi. Sepertinya Harry harus menarik ucapannya tentang Cho yang lebih cantik dari Malfoy.

Tiba-tiba Malfoy berkata, "Ah, lihat, teman-teman, sang juara telah tiba," katanya pada Crabbe dan Goyle. Harry mendengus dan segera menarik pemikirannya tentang betapa cantiknnya Malfoy saat itu.

"Bawa buku tanda tangan? Lebih baik minta tanda tangannya sekarang, karena aku sangsi dia bisa lama bersama kita... separo juara Triwizard sudah mati...berapa lama menurutmu kau bisa bertahan Potter? Separuh menit setelah tugas pertama, taruhanku."

Crabbe dan Goyle terbahak melecehkan. Harry bersumpah bahwa dia telah menarik semua pikiran dan kata-katanya tentang betapa sempurnanya penampilan Malfoy. Yang dia inginkan sekarang adalah menonjok Malfoy tepat di hidungnya yang mancung—sayangnya dia cewek, dan Harry tidak mau dibilang banci karena menonjok cewek. Maka, dia lebih memilih menghiraukan Malfoy. Untung saja, saat itu Hagrid datang dan memberitahu mereka, bahwa mereka harus mengajak Skrewt untuk jalan-jalan, dan membuat perhatian Malfoy teralihkan.

Sementara itu, Dracia terkejut dengan perintah Hagrid. Dia tahu jika Hagrid memang sinting. Tapi ayolah—orang gila juga tidak akan menyuruh dirimu mengajak kalajengking raksasa dengan sengat besar kan?

Maka, dengan terpaksa, dia mengikatkan tali di lengannya dan mengajak Skrewt jalan-jalan—dengan dirinya yang menjauhi tali dan Skrewt itu sepanjang satu setengah meter—karena takut tersengat. Ketika baru mengajak Skrewt itu jalan sekitar dua meter, kalajengking payah itu tiba-tiba mengeluarkan api dari bokongnya. Dan dia menjerit.

Dracia pasrah akan Skrewt yang ditanganinya. Ketika dia akan berbalik—ujung skrewt itu meledak—dan dia terseret dua meter ke depan. Dia terjatuh, dan roknya kotor karena terkena tanah. Dengan pasrah dan hampir menangis dia menyeret skrewtnya ke kotak kayu milik Hagrid.

Setelah marah-marah dan mengutuki Hagrid dalam hati, dia mengambil tongkatnya dan membersihkan bajunya. Dracia bukannya takut kulitnya kasar atau apa. Dia memang tidak menyukai kotor sedari dulu. Setelah bajunya bersih, dia memutuskan untuk memakai jubah Hogwartsnya saja. Dia berpikir sebentar lagi, mungkin Hagrid akan menyuruh mereka mengajak skrewt jalan-jalan lagi. Maka, daripada lututnya lecet terseret skrewt, dia lebih merelakan jubah Hogwartsnya kotor.

Ketika tadi dia mengejek Potter, dia tidak bersungguh-sungguh mengatakan bahwa dia ingin Potter mati. Dia merasa gelisah dan memikirkan bagaimana jika Potter benar-benar terbunuh pada Tugas Triwizardnya nanti. Jika seandainya Potter mati, siapa lagi orang yang akan diganggunya, coba?

Dracia merenung, dan tidak memperhatikan anak lelaki di kelasnya memperhatikannya. Tapi dia berjanji, sebelum tugas Triwizard yang perrtama, dia akan membuat hidup Potter lebih nelangsa lagi. Maka, tahap pertamanya adalah memprovokasi sebanyak mungkin siswa agar jangan mendukung Harry Potter.

.

Suasana hati Harry semakin memburuk saja sepanjang hari itu. Di koridor banyak sekali anak-anak yang mengolok-oloknya. Harry sudah berencana untuk menulikan telinganya. Tapi meskipun begitu otak Harry panas. Dan diam-diam dia berambisi untuk mengutuk mereka satu-satu.

Dan hal terakhir yang diharapkannya adalah dua jam Ramuan bersama anak Slytherin. Tampaknya, sebagian besar mereka sudah berambisi untuk membuat dirinya lebih tertekan lagi. Dan Harry tidak perlu bersusah payah mencari tahu siapa yang memprovokasi mereka. Dia sudah tahu sejak lama, bahwa Dracia Malfoy akan terus-menerus membuat Harry menderita. Bahkan Harry sudah punya prasangka bahwa Malfoy akan senang jika dirinya mati di tugas Triwizard pertamanya.

Hermione sudah berusaha untuk membuat agar Harry mengacuhkan anak-anak Slytherin—dia menyenandungkan lagu yang berima "Jangan acuhkan mereka" namun tampaknya hal itu tidak berhasil, dan membuat suasana hati Harry semakin memburuk.

Ketika dia dan Hermione tiba di depan ruang kelas ramuan, dia memperhatikan semua anak-anak Slytherin memakai sebuah lencana besar di depan jubah mereka. Dia awalnya mengira bahwa mereka memakai lencana S. P.E.W—tetapi lencana itu bertulisan sama, dengan huruf-huruf merah yang menyala terang dalam ruang bawah tanah yang berpenerangan redup. Lencana itu berbunyi, "DUKUNGLAH CEDRIC DIGGORY JUARA ASLI HOGWARTS!"

"Suka, Potter?" Kata Malfoy keras ketika Harry mendekat. "Dan bunyinya bukan Cuma ini. Lihat!"

Malfoy menekankan lencananya ke dadanya, dan tulisan di atasnya lenyap, digantikan tulisan hijau menyala yang berbunyi, "POTTER BAU"

Anak-anak lelaki Slytherin tertawa terbahak-bahak. Dan Harry memperhatikan anak-anak perempuannya hanya tersenyum kecut. Tetapi mereka kemudian mendapat pelototan Malfoy, dan kemudian menekankan semua lencananya. Tulisan POTTER BAU bersinar terang di sekeliling Harry. Harry merasakan leher dan mukanya panas.

Dilihatnya Ron yang berdiri bersandar pada dinding bersama Dean dan Seamus. Ron hanya diam. Dia memang tidak tertawa, tetapi dia juga tidak membela Harry. Merasa marah pada Ron yang mengacuhkannya, dia melepaskan kemarahannya pada Malfoy. Kesabaran Harry sudah benar-benar habis. Maka, Harry mengacungkan tongkatnya ke arah Malfoy.

Anak-anak lain tertegun dan mereka serabutan menyingkir, menjauh dari lorong. Sementara itu Malfoy hanya tersenyum miring kepadanya. Harry tidak mengacuhkan gejolak diperutnya yang datang bersamaan dengan senyum miring Malfoy.

"Harry!" tegur Hermione memperingatkan. Harry tidak menghiraukannya. Dia melihat Malfoy melepaskan jubah hitamnya—dan melemparkannya pada Goyle yang gelagapan, lalu menggulung lengan kemejanya.

"Ayo terus, Potter." Kata Malfoy tenang, seraya mencabut tongkatnya sendiri. "Moody tak ada di sini untuk melindungimu...lakukan, kalau kau berani..."

Sesaat mereka saling pandang. Dia memandang mata Malfoy yang berwarna biru keabuan, kemudian secara bersamaan, keduanya beraksi.

"Expelliarmus!" Teriak Harry.

Malfoy menangkisnya dengan gesit—dan memantulkan mantranya ke dinding. Anak-anak menahan teriakan dan memperhatikan mereka dengan ngeri.

"Tallantegra!" teriak Malfoy. Harry menunduk menghindarinya.

Sesaat mata mereka berpapasan lagi, dan kemudian,

"Furnuncullus!" Teriak Harry.

"Densaugeo!" Jerit Malfoy.

Kilatan cahaya meluncur dari ujung tongkat keduanya, bertabrakan di udara memantul ke segala jurusan. Cahaya tongkat Harry mengenai wajah Goyle, dan cahaya tongkat Malfoy mengenai Hermione. Goyle mengerung dan tangannya memegang hidungnya yang kini dipenuhi bisul besar-besar mengerikan. Hermione kini merintih panik, menekap mulutnya.

Disaat itu, Dracia Malfoy tersadar akan apa yang dilakukannya. Matanya memandang Hermione Granger dengan perasaan bersalah.

.

TBC

A/N: Hello, ketemu lagi sama ulil di chap 2

Ada beberapa hal yang ulil mau tegaskan disini (eaaaaa.) Yang pertama, seragam Hogwarts yang digunakan disini adalah seragam yang dipakai di film. Kedua, Malfoy disini ulil bikin agak labil dan mellow karena dia cewek. Dan, ada beberapa hal yang dirubah dari buku GoF, karena fic ini AU.

Sorry banget karena ulil telat update. Kemaren sekolah ulil ngadain kemping yang berakhir dengan ulil dikerubungin siput ._. (eh malah curcol)

Yah, terakhir maaf kalo ceritanya agak garing, klise, dan aneh. Ulil minta maap ya kalo ada typo, OOC, dan keterlambatan update. Btw, ulil sangat menghargai review kalian, wahai para reviewers. Maap kalo belom bisa dibales satu-satu ya...

Review kalian sangat ditunggu di chapter ini dan chapter chapter selanjutnya. Have a nice day ya!