Naruto © Masashi Kishimoto

Rated: T

Gender: Romance.

Warning: CANON, OOC (mungkin) , Gaje, Typo, EYD berantakan dll.

Don't Like? Don't Read


Sebulan telah berlalu semenjak kejadian itu, Sakura terlihat menjadi seorang pendiam. Setiap saat dia selalu mencoba mengambil misi, bahkan ketika dia baru saja menyelesaikan sebuah misi. Sakura semakin jarang terlihat di Konoha. Ia hanya ke Konoha hanya untuk memberikan laporan misi kepada Hokage dan langsung kembali keluar desa untuk menjalani misi berikutnya. Kondisi Sakura sekarang sudah seperti ninja pelarian saja. Yang selalu berkelana ke desa yang satu lalu ke desa yang lainnya.

Naruto, Kakashi, bahkan Tsunade sendiri tidak bisa berbuat banyak untuk menangani kondisi Sakura. Sedikit banyak Tsunade mengerti perasaan Sakura tidak jauh berbeda dengannya ketika ia kehilangan Dan dulu. Ia pun menjadi pengelana setelah kematian Dan, ia juga menjadi trauma pada darah.

Kali ini ia menggantungkan harapannya kepada orang itu, semoga saja bisa berhasil.

Suara pintu diketuk membuat Tsunade sadar dari pemikirannya.

"Masuklah,"

Terdengar suara derit pintu terbuka lalu tampaklah seorang pemuda berwajah malas dengan ikatan rambut yang menjulang tinggi seperti nanas di belakang kepalanya.

Saat jounin tersebut sudah sampai kehadapannya, ia berkata, "Shikamaru aku memberikanmu sebuah misi yang cukup lama, namun tidak terlalu sulit. Yang dibutuhkan hanya kejeniusanmu disini."

"Misi apa Tsunade-sama? Dan akan menghabiskan waktu berapa lama?"

Tsunade mengambil gulungan di meja dan menyerahkannya kepada Shikamaru, "Negeri Oni no Kuni, Miko negeri itu meminta kepada kita agar mengirimkan ninja yang bisa diandalkan dalam pengurusan administrasi Negara dan kesehatan."

Shikamaru menyeritkan alisnya seraya mencerna baik-baik omongan Tsunade, sedangkan Tsunade menghela napas dan meneruskan omongannya.

"Kalau si Jenius Neji masih hidup mungkin saja aku akan mengirimnya mengingat ia sudah pernah bertugas dan menjadi pimpinan misi ke negeri itu sebelumnya, karena ia telah gugur di medan perang jadi satu-satunya orang yang bisa ku andakan kau."

"hn, mendokusei," jawab Shikamaru sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

"Lalu siapa patner ku dalam misi ini?" Shikamaru kemabali bertanya.

"Haruno Sakura."

Wajah Shikamaru yang awalnya terlihat malas-malasan berubah menegang seketika ketika nama wanita itu disebut, namun ia kembali mengubah raut wajahnya kembali secepat kilat. Namun hal itu tidak luput dari sang Godaime Hokage. Dan membuat wanita itu menyeringai senang.

"Tidak bisakah aku pergi dengan Ino saja? Aku rasa Sakura sudah terlalu banyak misi. Dan selama ini pun aku sudah terbiasa bekerjasama dengannya."

Shikamaru mencoba berkilah, ia mempunya firasat tidak enak setelah melihat seringai Tsunade.

"Aku tahu kau lebih tahu mengapa Sakura selalu mengambil misi dan jarang terlihat di Konoha. Terlalu banyak kenangan Sakura di desa ini bersamanya. Hingga ia mencoba mengindari itu semua dengan mengambil misi yang tiada henti. Aku rasa ia butuh rehat sejenak dari misi-misi berbahaya yang selalu ia ambil akhir akhir ini."

Shikamaru membuka mulutnya kembali untuk mengeluarkan argument, namun sudah kembali diselak oleh sang Godaime Hokage.

"Dan Haruno Sakura juga pernah mendapatkan misi di negeri itu sebelumnya bersama mendiang Neji. Tentunya ia akan lebih membantu tugasmu disana dibandingkan Ino, aku ingatkan kau kembali jika kau lupa akan hal itu."

Ucapan Tsunade barusan membungkam mulutnya seketika, ia tahu tidak ada alasan untuk mengelak lagi. Bukankah seorang ninja harus mengesampingkan urusan pribadi terutama perasaan? Shikamaru mendesah kecewa di dalam hatinya, Kemana logikanya yang selama ini orang-orang banggakan?

"Silahkan kembali untuk melatih anak akdemi yang akan melakukan ujian chunin tiga bulan lagi itu, dan jangan lupa berpamitanlah pada mereka, karena kuyakin misimu minimal membutuhkan waktu dua bulan lamanya. Tugasmu terhadap anak-anak itu akan kualihkan pada Sai."

"Terimakasih Tsunade-sama,"

Setelah itu Shikamaru pergi meninggalkan ruang kerja Godaime Hokage itu.

.

.

.

Sakura berjalan menyusuri jalanan desa untuk menyampaikan laporan misi yang ia kerjakan, misinya memang tidak begitu berat seperti misi-misi yang ia telah ia jalani akhir-akhir ini, hanya mengantarkan gulungan pesan dari Shisou-nya untuk Kazekage di Suna untuk membahas pertemuan lima kage berikutnya yang mungkin akan diadakan di Konoha entah kapan. Namun langkahnya terhenti saat sebuah suara yang begitu ia kenal mengalun di indra pendengarannya.

"Sakura?"

Sakura pun menoleh kea rah sumber suara tersebut dan melihat sahabat pirangnya yang tengah membawa sekantung belanjaan di tangannya.

"Ino? Sedang apa kau disini?"

Ino hanya tersenyum miris mendengar panggilan Sakura kepadanya, semenjak kejadian itu tidak ada lagi ejekan-ejekan yang keluar yang biasanya meramaikan dua sahabat ini. Sakura menjadi pribadi yang amat berbeda dari sebelumnya, ia memang tidak pernah melihat Sakura menangis lagi setelah kejadian itu. Namun semua orang yang melihatnya pasti mengetahui betapa besarnya rasa kehilangan yang Sakura rasakan sepeninggalnya pemuda Uchiha itu.

Dengan mengeluarkan senyum tulusnya lalu berkata, "Aku sedang berbelanja untuk makan malam, Ibu menyuruhku karena ia sedang tidak enak badan. Sesekali mampirlah ke rumahku untuk makan malam bersama seperti dulu Saki."

Sakura hanya membalas senyuman Ino, "Mungkin aku akan ke rumahmu nanti jika tidak ada misi."

Ino mulai menampakan wajah sendunya, "Misi di desa ini tidak aka nada habisnya Sakura, istirahatkanlah dirimu sejenak."

"Aku hanya merasa senang bisa membantu desa, Ino."

"Tapi kau bisa membantu desa dengan tetap berada disini Sakura, kau seorang iryo-nin handal. Satu-satunya murid asuhan Godaime Hokage yang bahkan sudah melampaui kemampuannya. Di desa ini juga banyak yang membutuhkan perawatanmu, Saki. Kau bisa membantu desa tanpa pergi dari desa ini."

Ino memberikan tekanan pada kalimat terakhirnya, ia ingin sahabat keras kepalanya ini sadar. Sedangkan Sakura yang tahu akan kalah berdebat dengan Ino hanya tersenyum dan mengubah topik pembicaraan.

"Apakah di stok lili putih di tokomu masih ada?"

Ino hanya tersenyum getir, ia tahu sahabatnya itu masih memerlukan waktu untuk menyembuhkan luka dihatinya. Tak ada gunanya jika berdebat denganya tentang masalah misi disaat-saat seperti ini.

"Tentu Saki, kau ingin kesana ya?"

Sakurahanya tersenyum dan menganggukan kepalanya,

"Setelah melapor ke Sishou aku akan kesana."

"Titipkan salamku untuknya ya, aku pergi dulu Saki. Jaa…"

.

.

.

Dan disinilah Sakura berdiri sekarang, tempat pemakaman umun Konoha di depan nisan Uchiha Sasuke. Ia menaruh bunga lili putih yang dibelinya di toko Yamanaka setelah member laporan ke kantor Hokage.

"Sasuke-kun apa kabar? Kau pasti sangat bahagia disana, kau pasti telah bertemu dengan keluargamu, berikan salamku untuk mereka yaa.. Maafkan aku jika akhir-akhir ini aku jarang mengunjungimu. Banyak misi yang harus ku jalankan. Oh, iya! Tadi aku bertemu Ino, dan ia menyampaikan salamnya untukmu. Maafkan aku sasuke-kun mungkin sampai dua bulan ke depan aku tidak akan berkunjung kesini, karena aku diberi misi jangka panjang oleh Shisou…"

Setelah itu hanya terdengar suara desau angin yang bermain-main dengan helaian merah muda yang membingkai wajah ayu Sakura yang mulai mengeluarkan air mata.

"Aku merindukanmu Sasuke-kun, aku bahkan belum sempat meminta maaf kepadamu atas percobaan pembunuhan yang aku lakukan."

Tes!

Suara isakan Sakura semakin lama semakin terdengar jelas, diiringi dengan rintik hujan yang semakin menderas.

"Dan aku juga belum mengatakan kepadamu jika perasaanku kepadamu tetap sama, Aku… mencintaimu…"

Tanpa Sakura sadari seseorang tengah memperhatikannya dari balik pohon yang ada disana, dan mendengar ucapan-ucapan yang dikatakannya dengan jelas meskipun sedikit terganggu dengan suara derasnya hujan.


A.N

akhirnya aku melanjutjan fict ini hehehe

maaf banget jika updatenya lama :D

mind to review?