Chapter 2
The Real Kurapika
Kuroro membuka kancing-kancing kemeja Kutapika yang masih utuh untuk membalut luka anak remaja itu. Kuroro mengernyitkan alisnya, me;ihat si pengguna rantai melilit tubuhnya sendiri dengan kain putih, yang kini kain itu terkoyak dan penuh noda darah karena cambukan yang ia terima. Koyakan itu memperlihatkan sedikit kulitnya yang putih mulus, sewarna susu. Ia mengeluarkan pisaunya dan mengoyak kain itu, dan ia menmukan sesuatu yang seharusnya tidak ada di tubuh seorang laki-laki. Wajah Kuroro memerah, seandainya ada anggota laba-laba yang lain di sana, mereka pasti akan langsung menganga, bukan melihat si bocah pengguna rantai, tapi melihat wajah Kuroro yang blushing. Kuroro segera berpaling dan menelepon Machi.
"Uruslah dia!" perintah Kuroro tanpa melihat Kurapika
Machi mengangkat kedua alisnya saat melihat Kurapika, dan ia mengerti.
"Jangan katakan apapun pada yang lain, ia pasti punya alasan mengapa ia menyembunyikan identitasnya"
"baiklah Danchou. Apa rencana mu selanjutnya?"
" Aku masih belum tahu"
"Kenapa dia Danchou?"
Kuroro menjelaskan dengan sinkat, lalu datanglah pertanyaan yang ia sendiri tidak tahu jawabannya.
"Bagaimana kau tahu dia ada di sana?"
"Itulah yang akan ku tanyakan padanya nanti. Rawatlah lukanya, pinjamilah ia pakaian mu. Ia pasti seukuran denganmu, kecuali dadanya yang nyaris rata."
Machi menahan senyumnya, sebelum berkata, "Baiklah" Machi bukanlah orang yang mudah tersenyum apalagi tertawa, tapi mendengar Danchou mengatakan hal it membuatnya geli. Lalu Kuroro pun pergi meninggalkan ruangan itu.
Tiga hari penuh Kurapika tertidur, sebagian lukanya sudah Machi obati kecuali bagian patah tulang rusuk. Ia bisa menjahit anggota badan yang terputus, tapi tidak dengan tulang yang patah. Yang membuat Machi herab adalah daya tahan gadis itu dan proses penyembuhannya yang cepat. Untuk ukuran orang normal, perlu setidaknya beberapa minggu, tapi Kurapika? Yah tapi bukankah gadis cantik itu yang telah membunuh Uvo dan paku? Kenapa ia harus heran?
Kurapika benar-benar mendapatkan kesadarannya di hari ke empat. Ia pikir ia telah mati, tapi ketika melihat sekeliling ruangan, itu bukanlah neraka ataupun surga. Sekujur tubunya terasa sakit terutama daerah dada bawahnya. Patah tulang, pikir Kurapika. Ia mencoba duduk dan mendapati dirinya megenakan sweater warna biru dan celana jeans. Seingatnya dia tidak memakai pakaian itu. Tiba-tiba sebuah suara bariton mengejutkannya, ia kini menyadari bahwa ia tak sendiri. Ia menoleh ke sumber suara di pojok ruangan yang terkena sinar matahari, matanya seketika memerah.
"Bukan aku yang mengganti pakaian mu tapi Machi"
Wajah Kurapika memerah semera matanya, diam-diam Kuroro tersenyum dan mengagumi mata merah yang paling bersinar dan bercahaya yang pernah ia lihat. Kuroro pura-pura membaca bukunya lagi.
Lalu tanpa berkata-kata Kurapika membentuk holy chain nya, rantai itu melilit tubuh Kurapika dan menyembuhkan tulang-tulang nya yang patah, serta bekas-bekas luka yang masih tersisa, karena Machi telah menyembuhkan luka dalam gadis itu. Kuroro mengintip dari balik bukunya kagum dengan kekuatan yang dimiliki Kurapika.
"Kenapa kau tidak membunuhku?" Mata Kurapika kembali ke warna saphire nya.
"Aku tak punya keuntungan dengan membunuhmu saat kau sekarat. Kalau kau hidup, ada kemungkinan aku mencuri abiliti mu"
"Jangan pernah berani melakukannya!" mata Kurapika kembali memerah, lalu tiba-tiba ia teringat sesuatu yang lain, matanya kembali biru. "Kau, apa kau tahu kalau aku.."
"Bajumu terkoyak, tentu aku sudah melihatnya" , kata Kuroro datar, kini giliran wajah Kurapika yang memerah.
"Hanya aku dan Machi yang tahu karena dia yang merawatmu. Urusanmu jika ingin menyembunyikan identitasmu"
Kurapika lega, setidaknya pria itu bertindak bijaksana.
"Tapi.."
Sigh tentu saja tak ada yang Cuma-Cuma walau bagaimanapun, ia kepala laba-laba, Kurapika mendengus.
"Aku akan memberimu beberapa pertanyaan"
"oh akku pikir kau ingin bertarung denganku" kata kurapika tajam.
"Kenapa kau berhenti memburu laba-laba"
"Memangnya dengan memburu kalian, klan ku akan hidup lagi? Aku hanya akan mengotori tanganku dengan darah kalian yang busuk dan kotor. Bukan berarti aku tidak berani pada kalian. Tapi kalian harus tahu, sedikit saja kalian menyentuh teman-teman ku, aku tak segan membunuh kalian!"
Kuroro tersenyum dinin, "Kau sudah lebih dewasa sekarang, dan akhirnya kau sadar dengan hanya seorang dirimu dan teman-temanmu tak cukup untuk bisa mengalahkan kami. Kau bahkan hampir mati mealwan dua puluh kutu itu"
"Aku tidak minta pertolonganmu brengsek!"
"Apa kau tahu, nenmu dalam tubuhku sudah di hapus?"
"Tentu saja, Hisoka memberi tahu ku"
"Apakah nenmu sudah benarbenar terhapus sepenuhnya?"
Kurapika mengangkat alisnya "tentu saja, jika kau ingin bertarung denganku, aku siap sekarang. Jika itu yang kau mau!"
Ya, Kurapika tidak takut, tentu ia tahu, ia tak akan sanggup menghadapi sepuluh laba-laba sekaligus.
"Kuroro, bagaimana kau tahu aku ada di sana?"
Kuroro tertegun mendengar pertanyaan Kurapika yang tiba-tiba, Kuroro megangkat bahu.
"Aku ingin membuat perjanjian"
"aku tidak sedang dalam ancaman untuk sebuah perjanjian"
"aku telah menyelamatkanmu dari mafia itu"
"aku tidak memintanya!"
"Atau kau lebih suka aku mengganggu teman-teman mu?"
"Cih, brengsek! Keparat kau, apa maumu?!"
"pertama jangan mengusik laba-laba, kedua kau harus menghapus nenmu seluruhnya dariku"
"aku menyanggupi bahkan sudah melakukan yang pertama, tapi yang kedua, aku benar0benar tidak mengerti!"
"jangan berpura-pura bodoh"
"apa maksudmu?"
"Jantungku berdetak cepat dan seolah menuntunku kepadamu yang sedang sekarat"
Kurapika mebelalakan matanya, "Tidak mungkin, jika nen ku dalam tubuhmu sudah diangkat, tentu saja itu sudah terhapus semua. Jadi tak ada lagi hubungannya dengan ku!"
"lalu apa itu?"
Kurapika mengangkat bahu tak peduli, sambil keluar ke arah pintu. Ketika ia hendak membuka pintu ia melirik ke arah Kuroro, "Tolong jangan beri tahu siapapun tentang identitas asliku dan terima kasih. Tapi aku tidak ingin berhutang padamu. Jika kau membutuhkan sesuatu dariku, hubungi saja aku. Agar kita impas."Wajah Kurapika memerah, tapi ia memang tidak suka berhutang budi pada siapapun, apalagi pada kepala laba-laba.
"kalau kau tak mengejar laba-laba apa yang akan kau lakukan?"
"Bukan urusanmu!"
"cukup jawab pertanyaan ku dan hutangmu impas"
Kurapika terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya lalu memutuskan untuk mengakannya, hingga ia tidak harus berurusan lagi dengan laba-laba. "Mengumpulkan mata merah, dan..." kurapika terdiam, dia mengigit bibir bawahnya, "Dan?" tanya Kuroro penasaran, sambil mengangkat sebelah alisnya., "Melanjutkan garis keturunan klan ku" jawab Kurapika cepat-cepat dengan wajah semerah tomat yang busuk. Seketika Kuroro tertawa yang mengagetkan para laba-laba di lantai bawah. Mereka saling memandang, dengan tatapan penuh tanya, belum pernah mereka mendengar Kuroro tertawa sekeras dan selepas itu.
"Apanya yang lucu?!" tanya Kurapika dengan bibir cemberut dan dahi berkerut malu campur marah.
"Kau benar, sekarang bukan hanya pintar, tapi juga kau bertambah dewasa."
Kurapika berpaling, lalu melangkah pergi. Kuroro menghentikannya dengan berkata, "Aku dan laba yang lain tak akan menyerangmu, tapi aku tak menjamin mengenai Nobunaga, sang samurai. Uvo adalah sahabat terbaiknya. Jadi berhati-hatilah!"
"cih, si kepala pohon palem itu bukan lawanku!" Kata Kurapika percaya diri, lalu meninggalkan kamar Kuroro. Benar saja, setelah beberapa saat Kuroro merasakan aura nen Kurapika dan Nobunaga menguat. Lalu ia segera melangkah keluar dan menyaksikan pertarungan antara Kurapika dan Nobunaga. Tak ada yang ikut campur, hanya Kurapika dan Nobunaga saja. Pertarungan mereka cukup sengit, Kurapika hampir terluka parah akibat sabetan samurai itu di punggungnya. Jika ia tidak bergerak lebih cepat, dan hanya mengenai pakaiannya saja di bagian punggung, serta sedikit goresan pedang yang tak terlalu dalam. Kurapika memerangkap Nobunaga dengan Jail Chainnya, sebelum akhirnya ia memukul jatuh Nobunaga dengan dowsing chainnya, hingga pingsan.
Lalu Kurapika menrasakan embusan angin dingin di punggungya. Ah ya bajunya sobek besar di bagian punggung, dna mungkin sudah terkoyak, karena ia merasakan bajunya mulai terlepas dari bahunya. Machi terbelalak, tentu saja yang lain tidak tahu bahwa sebenarnya si pengguna rantai adalah seorang gadis. Kuroro langsung meloncat ke arah Kurapika dan menyampirkan mantel danchounya. Kurapika langsung menarik mantel itu menutupi tubuhnya yang kini terbuka semua di bagian belakang, lalu ia pun mengancingkannya. Semua mata tertuju pada kurapika dan Kuroro, mereka lebih tertarik pada sikap danchou mereka daripada menolong Nobunaga yang pingsan, dengan bengkak yang besar di pelipisnya.
"Aku kan mengembalikannya nanti" kata Kurapika, lalu ia segera berlari meninggalkan tempat itu, menahan rasa malu yang amat sangat, Kuroro menatap kepergiannya datar, lalu berkata dengan dingin, "Aku sudah pastikan dia tak akan menganggangu kita lagi. Urus Nobunaga!" lalu ia pergi ke kamarny dan mengisyaratkan Machi dan Shalnark untuk mengikutinya.
"Baik Danchou!" kata feitan
"Shalnark, carilah informasi tentang penghapusan nen. Aku ragu kalau nen si pengguna rantai itu sudah sepenuhnya terhapus dari tubuhku. " kata Kuroro dingin kepada Shalnark, begitu mereka tiba di kamar kuroro.
"Baigaimana kau bisa tahu?" tanya pemuda berambut coklat itu.
Kuroro menceritakan dengan singkat apa yang terjadi padanya saat menemukan Kurapika nyaris mati beberapa hari lalu.
"ah" kata Shalnark, lalu ia segera mengambil laptonya dan mencari tahu.
"bagaimana menurutmu?" tanya Kuroro pada Machi
"Danchou, aku tak tahu apapun, apakah dia mengatakan sesuatu tentang itu padamu?"
"dia sama bingungnya denganku" Lalu Kuroro menyilangkan tangannya di tubuhnya sementara ibu jari dan telunjuknya pada tangan lain menjepit bibirnya, ia berpikir.
"Bukanlah ertanda bagus danchou" kata Machi tiba-tiba.
"eh?"
"firasatku tidak enak danchou"
Tak lama kemudian Shalnark muncul dan menatatp Kuroro dengan serius.
"Aku menemukan informasi penting danchou, ternyata meski nen sudah terhapus, masih akan ada sisa nen itu. Perlu waktu yang cukup lama agar sisa nen residu itu menghilang sepenuhnya. Residu nen itu tak akan membahayakan mu, selama keselamatan si penanam nen itu terjamin hingga nen itu sepenuhnya terhapus. Itu berarti jika si penanam nen itu mati, maka kau pun akan ikut mati, karena residu nen yang ada di tubuh korban seperti magnet yang akan tertarik oleh nen induknya, jika nen induk mati. Maka nen di tubuh korban akan tertarik, mengakibatkan terjadinya kekacauan sistem organ tubuh terutama jantung dan paru-paru, karena nen tersebut bertentangan dengan nen korban., hingga paru-paru menciut, jantung kekurangan oksigen dan melemah lalu mati."
"berapa lama residu itu akan hilang?"
"sekitar dua atau tiga tahun. Tapi bisa lebih cepat jika si penanam nen merasakan hal positif, atau katakanlah jika si pengguna rantai mulai menghilangkan kebenciannya padamu, maka residu nen negatif dlam tubuhnmu akan jadi netral dan akan lebih singkat lagi bila si pengguna rantai mulai menyukaimu. Nennya akan jadi positif dan bahkan akan menyatu dengan nen mu sendiri yang akan membuatmu atau si pengguna rantai justru semakin lebih kuat. Danchou apa yang akan kau lakukan?"
"mm, as if i have any choices. Aku tidak bisa melakukan apapun kecuali membiarkannya bebas. Dan kalian jangan ganggu dia ataupun teman-temannya. Setidaknya sampai nennya hilang. Bukannya aku takut mati, tapi aku tak mau mati konyol."
"Danchou" tiba-tiba Machi bersuara, "aku tak tahu ini baik atau buru, tapi mungkin akan terjadi sesuatu padamu dan dia. Aku masih belum tahu dan yakin"
"mm" kuroro duduk dan bertopang dagu.
Sementara itu Kurapika tidak menyadari bahwa ia telah diintai saat ia dalam perjalan pulang ke apartemenya, karena ia sibuk dengan pikirannya sendiri, mengenai hal-hal memalukan ia ia ucapkan pad akepala laba-laba itu.
"Kurapika!" Leorio berteriak saat membuka pintu, mendapati kurapika memakai mantel kepala laba-laba yang terkenal itu. Kurapika langsung masuk tak menghiraukan Leorio. Lalu Killua dan Gon pun sama terbelalaknya melihat mantel itu.
"Kuroro sialan!" seru Killua
"Kurapika apa kau baik-baik saja? Empat hari kau menghilang, kami mencarimu kemana-mana.? Apakah Kuroro yang menculikmu? Pasti laba-laba kan? Dan mantel itu, bukankah itu mantel milik Kuroro?" tanya Gon panjang lebar dengan wajah khawatir.
"kau terlihat konyol memakainya!" kata Leorio nyengir.
"Aku tak akan memakainya jika tidak terpaksa, bajuku terkoyak"
"Apa? Kau telah diperkosa?!" seru Gon, Leorio da Killua. Kurapika langsung mendidih marah, "aku ini laki-laki!"
"Hoy hoy Kurapika, apa kau tidak tahu kasus si Emon?" tanya Killua
"Emon? Dia temannya si Boy kan?" tukas Kurapika. Leorio tertawa, dan berkata "kau ini memang wikipedia berjalan, tapi kau tak tau si emon raja sodomi yang belakangan sering terdengar beritanya. Siapa tahu saja kau disodomi si Kuroro yang ternyata seperti si emon!"
Kurapika langsung meninju Leorio hinga pria jangkung itu ambruk, "Aduh-aduh kau sadis sekali sih "
"so, so, sodomi itu apa?" tanya Gon polos.
"yah, yah Gon.." Killua mengangkat bahu.
"Aku ganti baju dulu sebelum menjelaskannya pada kalian" Kurapika pun masuk ke kamarnya, mengobati luka gores di punggungnya dengan holy chainnya, sbelum ia mandi dan memakai baju tribalnya. Kemudian ia keluar dan menceritakan semuanya kepada teman-temannya. Tentu melewatkan bagian yang mengungkapkan rahasianya.
"kenapa ia tidak membunuhmu malah menyelamatkan mu Kurapika?" tanya killua
"Itulah yang kenapa aku masih belum mengerti"
