The story of us
.
Present by Indukcupang
.
Kim Mingyu
Jeon Wonu
.
Mature
.
Chapter
.
Ini bukan sequel. Tapi drama diantara Wonu dan Mingyu. Mature untuk sexual content. Tapi tidak untuk semua chapter dan dichapter ini juga belum ada.
Chapter ini adalah awal drama Kim Mingyu dan Jeon Wonu.
Awh. Aku gila banget bikin ini. HAHA. Ganyangka bisa balik nulis lagi dan menciptakan drama yang akan sangat membosankan. Tapi aku harap kalian semua tidak bosan yah?
.
Disclaimer-nya saya seperti biasa. Cerita milik saya. Mingyu Wonwoo milik saya juga. Jan marah. Muah!
.
Warn. GS!WONU. TYPO. PENULISAN YANG TIDAK SESUAI EYD. CAST YANG MEMBUAT CINTA HAKS.
.
Enjoy.
.
Wonu membawa badannya yang lemas meninggalkan kelas. Kelasnya hari ini telah berakhir, Tapi dia harus ke ruang kesehatan dulu. Mencari obat. Kepalanya berdenyut nyeri. Migrain melandanya.
Langkahnya benar-benar terasa berat. Sesekali gadis itu tersenyum datar pada orang-orang yang menyapanya. Baik yang setingkat. Kakak tingkatnya. Ataupun adik tingkatnya. Namun, lama-lama gadis itu lelah tersenyum, hingga akhirnya dia memasang tampang datar, bermuka masam. Agar orang-orang tidak lagi menyapanya.
"Jeon Wonu.."
Seseorang memanggilnya dari kejauhan. Dari arah lapangan. Gadis itu menoleh.
Hong Jisoo.
Mantan kekasihnya.
Aduh. Kepalaku semakin sakit saja..
Gadis itu menghela nafas. Dia tidak ada bertemu dengan Jisoo setelah kejadian itu. Tiap Jisoo menghubunginya, gadis itu selalu menghindar. Bukan ia takut pada Jisoo. Dia itu malas menjawab dan meladeni Jisoo.
Dan hari ini Jisoo telah berhasil menemukannya.
"Ada apa?" Tanya Wonu saat laki-laki itu berada didekatnya.
"Bagaimana kabarmu?" Jisoo berbasa-basi.
"Seperti yang kau lihat. Aku baik."
"Aku tidak baik setelah kamu putusin."
"Salahku?"
"Nu, aku rasa kita dapat memperbaiki keadaan ini. Aku tidak sengaja waktu itu."
"Memangnya apa yang sudah kau lakukan?"
"Itu.. Uhm.. Ya, kamu tahu. Hng. Menyuruhmu mengerjai saudaramu. Yaa~ itu karena aku ingin meno—" Ucapan Jisoo terpotong.
"Sudahlah. Ayahku menyuruhku mencari pasangan yang mampu melindungiku dan keluargaku. Bukannya mencelakai keluargaku."
"Tapi waktu itu aku kasihan padamu yang terus sebal dengannya, Nu. Dan lagi itu—"
"Stop. I can't. Sorry."
Wonu mengakhirinya.
"Nuu, aku mohon padamu."
"Sudahlah. Kau jadi tontonan yang lain." Wonu bicara sambil menatap orang-orang yang tengah memandangi mereka. "Lagian banyak gadis yang menginginkanmu untuk kau kencani."
"Biarkan. Biar mereka tahu kalau aku itu cuma mau kamu." Jisoo menjeda. "Aku hanya ingin kamu, Nu. Bukan merek-" Jisoo berhenti bicara saat Wonu mengangkat tangannya. Menyuruh Jisoo diam.
"Terserah." Ucap gadis itu dan langsung melenggang pergi meninggalkan Jisoo yang tertegun.
Tampak tangan laki-laki kelahiran Amerika bernama lengkap Hong Jisoo itu mengepal.
.
.
"Mengganggu saja." Wonu mengomel karena Jisoo. Tiba-tiba ia kesal dengan lelaki itu.
Gadis itu mempercepat langkahnya. Malas meladeni Jisoo kalau saja laki-laki itu mengikutinya. Ia tidak jadi pergi keruangan kesehatan jadinya. Terlalu malas.
Wonu belok untuk menyeberangi jalanan yang memisahkan fakultasnya dengan fakultas hokum. Ia ingin cepat-cepat sampai keparkiran untuk mengambil mobilnya. Dan jalan pintasnya adalah melewati fakultas hukum ini.
Gadis membenarkan tas selempang dipundaknya dan berjalan cepat.
Namun, langkah gadis itu melambat ketika pandangannya jatuh pada sebuah pohon rindang. Bukan. Bukan pada pohonnya. Melainkan pada dua manusia beda jenis kelamin yang duduk dibawahnya.
Mingyu? Dengan siapa dia?
Wonu memperkecil kelopak matanya untuk memperjelas pandangannya. Bukannya tahu siapa gadis yang bersama Mingyu, Wonu malah mendapatkan mingyu memberikan kotak berwarna kuning sambil tersenyum pada gadis yang sedang bersamanya.
Wonu menarik nafas saat itu.
"Sial. Ternyata ada gadis yang dekat dengan si freak itu. Aih. Apa gunanya aku memutuskan Jisoo kalau si sialan itu punya gadis disisinya?"
Gadis itu berbicara pada dirinya sendiri. Lalu gadis itu menyentuh dadanya. Meraba detak jantung yang kian cepat. "Kok disini sakit ya? Apalagi lihat Mingyu senyum ke perempuan itu."
Wonu masih memandang keduanya dari kejauhan.
"Apa jangan-jangan aku cemburu?"
Gadis itu melotot. "Mana—mana mungkin!"
Gadis itu berusaha menyangkal perasaannya. Namun, pandangannya tetap tidak suka.
Gadis itu mencebik. Mendengus kesal. Ia merasa tidak terima.
Tanpa gadis itu sadari, ia membawa badannya berjalan mendekati Mingyu.
…
Mingyu's Side..
Aku tidak ingin berdekatan dengan siapa pun sesungguhnya. Aku hanya ingin sendiri dan tamat tanpa membawa masalah.
Namun gadis yang ada dihadapanku ini tampaknya sangat tidak peduli dengan keadaanku yang sangat jauh dari kata baik. Padahal gadis ini sangat cantik. Hanya saja dia punya bokong dan dada yang rata.—tadi aku sempat memperhatikannya.
Aku jujur kok. Ya walaupun terlihat mesum. Tapi itu faktanya.
Biasanya gadis seperti Minkyung—nama gadis itu Minkyung—tidak akan sudi mendekati laki-laki sepertiku. Takut dijauhi yang lain ataupun memang tidak sudi berdekatan denganku.
Gadis ini lumayan menyenangkan. Tapi, lama-lama aku risih juga. Minkyung sangat sok akrab. Dan itu membuatku tidak nyaman. Tawanya. Jujur. Aku tidak suka. Bahkan benci.
Karena apa?
Karena mengingatkanku pada seseorang yang telah lama tidak aku ingat.
Seseorang yang telah melahirkanku ke dunia ini.
Ibuku..
.
.
Bruk
"Awh!"
Minkyung menjerit saat ada lemparan kaleng soda mengenai kepalanya. Mingyu dan Minkyung menoleh pada sipelaku bersamaan.
"Noona.."
"YA! JEON WONU! KAU PIKIR APA YANG TELAH KAU LAKUKAN?!" Minkyung berteriak marah pada Wonu.
Kakak tirinya, Mingyu.
Wonu menatap Minkyung sinis.
Tak
Wonu memukul kepala gadis itu.
"Perhatikan dengan siapa kau bicara anak kecil! Kau lebih kecil dariku!" ujar Wonu sinis.
Minkyung mendengus.
"Ya. Kau wanita tua. Saudara tiri Mingyu yang menyebal. Sok cantik." Minkyung mencela.
Wonu melotot. Kurang ajar sekali.
"Minkyung. Jaga bicaramu." Mingyu berbicara untuk menutup mulut Wonu yang akan bicara. Bisa-bisa akan ada perkelahian disini.
"Mingyu. Dia melemparku. Kamu lihat sendiri 'kan?"
"Aku tidak melihatnya."
"Tapi—itu?"
"Memangnya harus kakakku yang melemparmu?"
"Hn. Tidak juga—tapi dia memukulku." Minkyung berusaha membela dirinya.
"Noona. Ada apa?" Mingyu mengabaikan Minkyung yang membela diri.
"Aku kesini untuk menyapa adik tiriku dan kekasihnya." Ujar Wonu tenang.
Sungguh. Ia ingin meledak karena dikata wanita tua. Sok cantik pula. Memang dia lebih tua dari gadis itu. Tapi bukan berarti dia tua. Dan lagi. Sok cantik apanya?
Aku 'kan memang cantik.
"Dia bukan—"
"Oh. Hallo kakak ipar. Bisakah kau pergi tinggalkan kami?" Ujar Minkyung sambil menggandeng tangan Mingyu.
Silaki-laki hanya diam tanpa penolakan.
Sialan. Mereka benar-benar sepasang kekasih.
"Okay. Adikku yang manis. Jangan pulang terlambat. Atau ayah dan ibu akan memarahimu. Bye." Usilan Wonu menggoda adiknya. Mana mungkin ayah dan ibu memarahinya. Gadis itu hanya membuat Mingyu malu didepan kekasihnya.
Setelahnya, gadis itu berlalu meninggalkan Mingyu dan Minkyung.
.
.
Wonu tidak memikirkan Mingyu dan kekasihnya. Serius. Hanya saja—ia berfikir ternyata tebakannya salah—ingatkan waktu itu dia menghina Mingyu. Mengatakan bahwa anak itu tidak memiliki kekasih.
Apa jangan-jangan gadis itu tahu siapa Mingyu sesungguhnya?
Wonu mengangguk. Mungkin saja. Mana mungkin ada perempuan normal yang mau menjadi kekasihnya—kalau dia seperti betty la fea versi laki-laki. Mingyu hanya kurang behel saja. Kalau pakai mungkin mereka sebelas-duabelas.
Gadis itu hampir sampai pada mobilnya.
Langkahnya melambat saat ia mendengarkan kumpulan perempuan yang menyebut nama Mingyu.
"Minkyung sudah mulai, girls! Mingyu sepertinya terjebak."
Ha? Terjebak?
"Tahu darimana?"
"Aku melihat mereka berduaan dibawah pohon. Ewh. Aku hampir muntah."
"Yaampun. Aku yakin Minkyung menahan muntahnya karena berdekatan dengan si nerd itu."
"Berapa kali ini?"
Berapa? Apanya?
"Lumayan. Audy Q7 tidak akan kemana jika dia berhasil membuktikannya."
Membuktikan apa?
"Membuktikan apa kali ini?"
"Kalau si Mingyu itu mempunyai penis yang kecil."
Gelak tawa menggelegar disekitaran mereka.
Sialan. Mereka mengincar penis memuaskan adiknya. Tidak boleh dibiarkan.
Wonu mempercepat langkahnya menuju mobilnya.
.
.
"Hah. Kenapa aku harus peduli?"
Wonu membanting handphone ke backseat beserta tasnya. Toh, bukan Mingyu yang akan membelikan si Minkyung—yang mereka sebut itu—mobil mewah keluaran terbaru itu.
"Tapi nanti si gagah itu ada yang tahu. AAAAH! AKU HARUS APA?!"
Wonu mengacak rambutnya. Frustasi.
"Ah. Terserah."
Sebelum Wonu menghidupkan mesin mobilnya. Kaca mobilnya diketuk oleh seseorang.
Wen Junhui.
Dia kenal siapa laki-laki ini. Lelaki China yang begitu dipuja dikampusnya.
Wonu menurunkan kaca mobilnya.
"Hai, Wonu."
"Yaa?"
"Nanti malam datanglah keparty dirumah Seungcheol."
"Ada acara apa?"
"Dia bertunangan dengan Yoon Jeonghan." Junhui tersenyum. "Well, sekalian. Girls-boys night out. Havefun. Garden party. Swimming pool party juga." Junhui menjeda. "Akan lebih seru jika bidadari kampus datang." Ia menggoda Wonu.
Gadis itu terkekeh. Basi.
"Akan aku usahakan."
"Ayolah. Bikini party akan menghibur semuanya."
"Aku tidak semurahan itu, Jun." Wonu sedikit tersinggung.
Junhui terkekeh. "Okay. Maafkan aku. Bukan maksudku." Junhui menjeda. "Akan ku jemput nanti, kalau kau ikut."
"Okay."
"Jam 9?"
"Call."
.
.
"Aku pulang."
Wonu kaluar dari kamar saat tahu bahwa adiknya sudah pulang. Ia berlari menuju pintu arah keluar. Mingyu sedang membuka sepatunya.
"Mingyu." Panggil Wonu.
"Hmm?"
"Aku lapar.." Wonu berkata sambil memukul-muluk pelan perutnya.
"Lalu?"
"Eih! Buatkan makanan Mingyuuuuu~ Masa kekasihmu tadi dikasih cake sedangkan aku tidak. Kejam sekali." Rutuk Wonu mencebik. Mingyu terkekeh.
Lucu sekali kakak tirinya ini.
"Cake itu dia yang bawakan untukku. Bukan aku yang buatkan." Jawab Mingyu sambil berlalu melewati Wonu.
"Benarkah? Syukurlah. Kalau begitu buatkan aku! Aku ingin makan cake itu, Gyu~" Wonu mendayu merayu adik tirinya.
Entahlah. Sejak kejadian panas itu, perilaku Wonu berubah total. Yang dulunya sangat dingin dan kadang suka mengejek Mingyu, sekarang gadis itu lebih sering bermanja-manja pada adiknya itu.
Bukan karena ia meletakkan rasa pada adiknya. Tapi ia sangat suka dengan kelebihan yang Mingyu miliki. Apalagi ketika Mingyu menyembunyikan sosok aslinya.
Ingin rasanya Wonu menguak masa lalu Mingyu. Namun, gadis cantik itu mengurung niatnya karena itu bukan urusannya. Ya. Singkatnya, Wonu tidak ingin mencampuri urusannya. Tidak ingin mencari siapa Mingyu yang dulu sehingga ia memilih untuk menutup identitas aslinya yang akan membuat semua anak perawan maupun tidak untuk berlutut dan mengangkangi kakinya untuk segera dimasuki Mingyu.
Wonu sudah mencoba berada dibawah Mingyu. Dan itu sangat memuaskan. Sangat.
Ya Tuhan. Apa yang difikirkannya.
"Tadi kenapa tidak minta?"
"Najis. Meminta didepan kekasihmu. Ewh."
Kekasih apanya. Mingyu bodoh. Jadi taruhan juga.
"Dia bukan kekasihku."
"Aku tahu."
"Apa? Kau tahu?"
"Yaa. Aku tahu."
Sial. Tidak mungkin dia mengucapkan alasannya yang sebenarnya. Bisa-bisa Mingyu salah paham.
Wonu diam sesaat. "Mana mungkin ada gadis yang mau dekat denganmu."
"Kau mau."
"Aku kakakmu, bodoh."
"Tidak ada adik yang mau meniduri kakaknya sendiri yang sialan sangat seksi sore ini." Mingyu mengedipkan matanya sebelah.
Sialan. Kenapa dia memerah. Wonu merasa wajahnya memanas. Mingyu sialan.
Yaa. Memang. Wonu sembarang memakai baju tadi. Hangat modal sweater longgar yang menutupi badannya hingga setengah paha. Wonu tidak memakai bawahan.—tapi dia memakai celana dalam.
Tidak seksi. Mingyu saja yang berlebihan. Gadis itu terlihat menggemaskan dengan sweater longgar itu. Karena rajutan benang itu menutupi tubuh sintalnya.
"Terserah! Cake roll squishy dengan selai vanilla didalamnya. Okay?"
"Aku dibayar tidak?"
"Aku tidak punya uang. Nanti kalau ayah dan ibu pulang akan kubayar!"
Cup.
Mingyu mengecup bibir tipis Wonu kilat. "Dengan itu saja sudah lunas. Call!"
Wonu tertegun. Mingyu baru saja mengecup bibirnya. Yaampun. Mingyu itu makin manis sekali. Awh!
Mingyu berlalu meninggal Wonu ditempatnya. Laki-laki tinggi dengan balutan kemeja yang dimasukkan kedalam celana itu beranjak menuju kamarnya. Di lantai dua.
Dan sang kakak menatap kepergian adiknya.
Ia sangat tidak tega.
Tidak tega merusak adiknya. Mendadak ia ingin. Tapi dia tidak suka memulai.
"Aku harus cepat-cepat cari kekasih baru."
Gadis itu memutuskan untuk kembali kekamarnya.
.
.
Saat malam menjelang, Wonu keluar dari kandangnya—kamarnya. Setelah menyambut Mingyu pulang, gadis itu langsung tidur dan baru terbangun beberapa saat yang lalu. Matanya membulat saat cake buatan Mingyu sudah jadi. Mingyu sendiri kini tengah menyiapkan makan malam untuk keduanya.
Wonu mengambil sepotong cake roll buatan Mingyu.
"Woaah! Ini enak sekali. Manis. Sama sepertiku."
"Narsis!"
Wonu tertawa. "Disimpan sampai besok bisa 'kan? Aku akan bawakan beberapa untuk Jihoon dan Soonyoung."
Mingyu mengangguk. "Bisa kok." Mingyu meletakkan piring kotor kedalam kitchen sink. "Makanlah. Makanan sudah siap."
"Hmm? Yaah. Sayang sekali, aku tidak makan malam dirumah malam ini. Kau habiskan saja, Gyu." Wonu berucap dengan penyesalan yang sedikit dibuat-buat.
Air muka Mingyu berubah. "Mau kemana?"
Wonu menoleh. "Party. Temanku bertunangan." Ujarnya lalu memasukkan Cake roll squishy buatan Mingyu kedalam mulutnya.
"Pergi jam berapa?"
"Jam 9 nanti Junhui menjemputku."
"Junhui?"
Wonu mengangguk. "Kenapa bertanya? Ingin tahu saja."
"Noona. Tidak baik anak perempuan keluar malam dengan laki-laki. Apa lagi jam segitu."
Wonu terbatuk-batuk. Gadis itu tertawa meremehkan Mingyu.
"Hei, freak. Makanya bergaul. Apa masalahnya aku pergi? Toh aku sudah besar. Ayolah. Aku bukan anak kecil."
"Apalagi kau pergi dengan Junhui. Aku dengar dia bukan laki-laki baik, Noona."
Wonu lagi-lagi tertawa. Dan mendesis. "Kau fikir kau laki-laki baik? Meniduri kakakmu sendiri? Kau fikir itu perbuatan baik? Come on. Kau saja tidak suci. Jangan suka mengatai orang." Cerca Wonu sadis.
"Oh. Ingatkan aku kalau kakak tiriku itu meminta lagi untuk dimasuki, Jeon."
"Ohya. Terima kasih sudah mengingatkanku, Kim. Tapi jangan mencela temanku."
"Okay. Terserah."
Mingyu mengalah. Melawan kata-kata kakaknya tidak akan berhasil. Apalagi mulut sialannya itu yang terlalu pandai bersilat. Mingyu geram dengan itu sebenarnya.
Mendadak Wonu badmood dibuatnya. Keduanya sama-sama kehilangan mood.
Ya seperti itulah. Walau mereka kadang terlihat baik-baik saja. Namun, kedua akan saling mencaci seperti ini ketika ada yang mengurusi hidup salah satunya.
Mingyu adalah orang pertama yang meninggalkan ruangan makan.
Wonu menghela nafas kesal.
.
.
Klakson mobil berteriak rebut didepan rumah Wonu. Dan gadis itu sendiri masih memakai high heels hitam miliknya. Dan setengah berlari keluar dari rumah. Karena memakai high heels, ia berlari pelan. Gadis itu tidak ingin mengambil resiko terjatuh dihadapan Junhui.
Junhui telah membuka pintu mobilnya untuk gadis itu.
Keduanya saling melemparkan senyum.
"Selamat malam, ratu." Sebuah sapaan konyol menurut Wonu. Junhui dan Wonu tergelak bersama.
"Yaya. Aku memang ratu. Hormati ratumu, Wen Junhui." Ujar Wonu sambil menirukan gaya bicara orang-orang dikerajaan pada drama-drama yang ditontonnya.
"Baik Ratu~" ujar Junhui lalu mengacak rambut Wonu pelan. Gadis itu menepis dengan cepat.
"Jangan lancang pada ratu, Wen. Atau kau akan turun jabatan!" Wonu menjerit bercanda.
Keduanya lagi-lagi tergelak ringan.
Junhui datang dengan mengendarai Zenvo ST1 warna putih. Mobil sport mahal itu tampak sangat berpadu dengan Junhui yang datang dengan setelan gagah ala remaja zaman kini. Nilai plus Junhui. Dia tampan, pintar, popular, dan kaya.
"Siap untuk party, Wonu?"
"Sangat siap untuk menggempur pesta pasangan tertua, Jun." Ucap wonu lalu tergelak.
"Aku juga sangat siap melihatmu memakai bikini nanti."
"In your dream, dude."
Keduanya kembali tertawa.
Junhui membukakan pintu Zenvo-nya untuk Wonu. Dan mempersilahkan sang gadis masuk kedalam mobil mewahnya.
"Silahkan masuk, ratuku." Alhasil. Wonu terkekeh geli dengan tingkah buat-buatnya Junhui.
"Baik, prajurit." Ujar Wonu lalu masuk kedalam mobil. Pintu mobil tertutup pelan oleh Junhui. Dan lelaki kelahiran china itu berjalan memutar melalui depan mobil dan masuk kedalam mobil duduk di kursi kemudi.
Mobil sport Zenvo putih milik Junhui melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan jalanan depan rumah Wonu.
Seseorang melihat keduanya dengan tatapan mematikan.
Kim Mingyu.
Dia adalah Kim Mingyu.
.
.
Party berlangsung dengan sangat meriah. Kedua pasangan yang bertunangan kini telah menggunakan pakaian santai. Bukan tuxedo atauapun gaun putih. Acara pertunangan dilakukan ditaman luas rumah. Dan sekarang para tamu yang merupakan teman-teman pasangan tengah menikmati dinginnya air kolam berenang. Beberapa dari mereka mengganti gaun mereka menggunakan bikini. Dan ada beberapa yang basah-basahan dengan gaunnya. Lalu ada pula yang lebih memilih tidak menyentuh air. Termasuk salah satunya Wonu. Gadis itu tidak bermain air.
Bukannya tidak mau gabung. Hanya saja ia bisa sakit nanti kalau berenang malam. Itu bukan gayanya. Walau sebenarnya ia ingin karena kelihatan sangat menyenangkan.
"Hei, darling. Tidak ikut basah-basahan?" Seorang lelaki bule berdiri bersandar di dinding samping Wonu.
Gadis itu tersenyum lalu menggeleng. "Hai Hansol. Tidak, dingin sepertinya."
Lelaki bernama Hansol itu mengangguk. "Tidak akan dingin kalau kau masuk bersama lelaki china yang datang dengan Zenvonya, Nu. Kalian tampak serasi."
Wonu tergelak dibuatnya. "Perpaduan sempurna, right? Jangan bercanda anak bule."
Hansol itu tertawa bersama Wonu. Lalu Hansol diam sejenak. "Jisoo? Aku dengar kalian berpisah?" Tanya Hansol tanpa melihat kearah Wonu. Gadis itu menoleh kearah Hansol dan begitupun sebaliknya.
"Apa aku seterkenal itu hingga kau tahu? Waah. Aku tidak menyangka." Ujar Wonu dengan nada sinis namun tetap bercanda.
"Tentu, darl. Siapa yang tidak kenal denganmu, hm? Minum?"
Junhui. Laki-laki china itu berkata setelah mengecup pipi Wonu cepat. Lalu lelaki itu menyodorkan segelas minuman berwarna merah pada Wonu.
Gadis itu awalnya terkejut, namun ia mampu menguasai dirinya. Dan gadis itu mengangguk lalu meraih gelas dari tangan Junhui.
"Tuh 'kan. Kalian serasi."
"Terima kasih, Hansol. Kami memang."
Junhui dan Hansol tertawa bersama dan Wonu hanya mencibir atas lelucon murahannya Hansol. "Ewh. Ini kau campurkan apa, Jun?" Wonu menjerit saat minuman yang ia minum terasa panas ditenggorokannya.
Tentu saja. Walau pun Wonu itu sering bertingkah seperti wanita murahan pada umumnya, tapi ia tidak benar-benar seperti itu. Dan ia pantang akan tidak bisa mengkonsumsi minuman keras itu barang seteguk sekalipun.
"Setiap minumannya dicampurkan Beluga, Nu. Sedikit Vodka tidak akan membuatmu mabuk. Cobalah. Ini enak." Ujar Junhui lalu meminum minuman yang sama dengan Wonu.
"Benarkah? Aku tidak bisa minum alkohol, Jun."
"Percayalah. Tak apa."
Dan setelahnya Wonu menelan cairan merah itu dengan perlahan. Sensasi panas namun perlahan nikmat menyapa tenggorokan gadis itu.
Perlahan ia merasa dirinya melayang. "Aku ingin lagi. Ini enaak.." Wonu menyodorkan goblet kosong itu pada Junhui. Dan Hansol segera mengambil minuman yang dibawa oleh pelayan atas perintah mata dari Junhui. Hansol sempat bertanya, "Apa tidak apa-apa?" Dan Junhui mengangguk sebagai jawabannya.
Hansol mendekati Wonu dan menyerahkan segelas minuman yang sama pada gadis itu. Dan Wonu meminumnya dengan sekali tembakan.
"Yang merah ini apasih? Merusak rasa, serius."
"Mau vodkanya saja?"
Gadis itu mengangguk. Junhui menyeringai seperti setan.
.
.
Zenvo ST1 itu berhenti tepat didepan rumah gadis yang tengah tertidur disamping si pemilik mobil sport mahal itu.
"Wonu. Bangun." Junhui menggoyangkan badan Wonu pelan. Tidak ada respon apapun dari gadis itu. Junhui menggoyangkan lebih kencang. Dan gadis itu meringis. Berkata kepalanya pusing.
Junhui tersenyum miring.
"Wonu.. Wonu. Kau itu ya, sangat mudah dikerjai." Junhui berkata sambil mendekati tubuh Wonu. Lelaki china itu menghirup tubuh Wonu yang begitu memabukkan menurutnya. Dan Junhui menyelipkan rambut Wonu yang menutupi wajah cantiknya ketelinga Wonu.
Lelaki china itu menelusuri wajah Wonu dengan hidungnya. Menikmati tiap-tiap aroma Wonu yang masuk kedalam hidungnya.
Ketika ia akan mencium bibir tipis Wonu, kaca mobilnya diketuk keras oleh seseorang yang tinggi.
Ketukan yang tidak sabar membuat Junhui berang. Seseorang yang tidak sabaran. Junhui membanting badannya kekursi kemudi dan membuka pintu mobilnya dengan keras. Dan menganga dengan seseorang yang telah menganggunya untuk mengerjai Wonu.
Pandangannya turun dari atas kebawah. Menatapi siapa seseorang yang tinggi tegap itu.
"Dimana kakakku?"
"Kim Mingyu?"
.
To be continued...
.
HAIIIIII~~ FAAYIAAAAAAAAHHH
I'm back! MISSME?! HAHA. Rindu dongsyakan? sinih cium dulu buat yang rindu *ewh.
Terimakasih atas antusias para Meanie Shipper yang sudah memberikan komentar dan sarannya.
Bigthanks for..
Pearl Metal Gold: Siapatuh yang ngintipin? bener gak Wonu sama Jieqiong? Hihi. terjawab satu disini yah say. dan lagi-lagi pertanyaan kamu terjawab dichapter ini sayang;)) ouh Mingyu yang ngejar?takfikirin duluyeh, Wonu emang rada murahan disini /digamparWonu/ thanks atas review darl.
RenRhen:, dan terjawab. Bukan Jihoon yaaah~ Jihoon uda bahagia sama uriSoonyoung wkwk thanks atas review darl. Muah.
G: yash! Terimakasih atas sarannya sayangs. aku bakal memperbaiki segala kekurangan. tapi kalau masih ada, hmzz. Manusiawi itu wkwk mainstream? U sure? Ikuti dan kamu akan tahu /ketawasetan/
Skymoebius: hadeuh, terjawab satuuu. satu lagi siapa?Masih rahasia haha. trims, sudah review. muah!
BakaNone: Yaaaah, sudah terjawab satu. Masih penasaran? stay terus yaah. Muah!
Meaniecupid: Awh. trims darl sudah suka dengan fanfic perdana GS meanie kepunyaanku wkwk semoga puas dengan chaper ini~
zarrazr: Adeuh. Bener Jisoo gayaaah? RAHASIA HAHA thanks sudah review dear!
pizzagyu: Freak juga manusia tantee wkwk
kjmnwn: Siapa saja? Uknow that wkwk
Re-Panda68: Jan masukin seokminku:" dia kepunyaanku. jan ganggu kami*eh
DevilPrince: ntar kepanjangan kaya otong Mingyu, gamau-" aha. okay. trims sudah baca dan review:*
boonie18: Pasti. itu Wonu yang dateng wkwk
whiteplumm: TARAAAA! ITS STARTED BABE! BAGI-BAGI POPCORNNYAhaha
GameSMl: Hope u like this chapter too, babe. thanks:*
Kyunie: Finally yaah. ini drama nak, bukan sequel hehe trims sudah review. muah!
Ditunggu kritik dan saran terbarunya. Maaf atas kekurangan dalam cerita. Saya masih pemula—kata orang—jadi maaf atas kekurangnyamanan dan kekurangan dalam bahasa dan kebosanan cerita.
if u like, berikan komentar dalam kolom. Kalau tidak, kasih juga hehe.
See you next chapter, gals.
Bye.
