Hari sudah sore. Matahari perlahan tenggelam, menyisakan semburat jingga indah yang memenuhi langit.

Ia berjalan dengan langkah ringan menyusuri jalan yang mulai sepi. Kotak violin berada di genggamannya. Sesekali ia menyenandungkan lagu yang baru saja dipelajarinya—tersenyum ketika nada-nada indah itu memenuhi dirinya.

Ia dalam perjalanan pulang dari les violinnya. Sensei tak bisa datang ke rumahnya hari ini karena harus menjaga anaknya yang sakit, sehingga ia berinisiatif untuk mendatangi rumah beliau yang terletak tidak begitu jauh dari kediamannya. Ia sedang bersemangat menggesek violinnya dan ia tidak ingin tertinggal satu latihan pun.

Duk. Duk. Duk.

Eoh?

Bibirnya berhenti bersenandung ketika sebuah suara yang terdengar seperti pantulan bola mengusik pendengarannya. Ia menoleh ke sebuah lapangan basket di taman yang tengah dilewatinya. Untuk sesaat ia terpana melihat surai merah yang tampak berkilauan terkena cahaya senja. Surai milik seorang anak laki-laki yang bergerak lincah dengan bola di tangannya.

Tanpa sadar ia menghentikan langkahnya dan memandang bocah itu tak berkedip. Bocah yang tampak seumuran dengannya itu tengah bermain basket seorang diri, berkali-kali tersenyum puas ketika bola yang dilemparnya berhasil memasuki ring.

Entah berapa menit berlalu, ia tak menghitungnya. Hingga saat kedua iris merah itu bertubrukan dengan iris birunya, ia terperanjat. Sensasi hangat dengan cepat menjalar di wajahnya.

Mengabaikan bocah yang hendak membuka mulutnya, ia berlari kencang.

.

.

Fated to You

Romance/Drama/Hurt

Akashi x Fem!Kuroko

Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

DLDR!

.

.

CHAPTER 1

.

.

Bunyi alarm berdering nyaring memenuhi sebuah kamar sederhana bernuansa soft blue, membangunkan Kuroko yang perlahan membuka kedua kelopak matanya. Ia mengerjap, memandang tanpa ekspresi langit-langit kamar. Sensasi aneh menyelimuti dadanya. Sensasi yang sama ketika sepasang mata crimson milik bocah dengan warna rambut senada menatapnya.

Mata Kuroko meredup, sebelum kemudian ia tersenyum getir. Apa ia terlalu memikirkan Akashi hingga memimpikan pemuda itu?

Ia melirik jam yang menunjukkan pukul 7 pagi sekilas, sebelum kemudian bangkit dan mematikan alarm. Ia terduduk di kasurnya, termenung.

Mau tak mau ingatannya kembali pada pertemuan pertamanya dengan Akashi. Ia yang saat itu terlalu malu langsung kabur begitu Akashi kecil mermegokinya tengah memperhatikannya. Namun keesokan harinya—entah setan apa yang merasukinya, ia mendapati dirinya kembali berdiri di pinggir lapangan dan menonton anak laki-laki itu.

Bedanya kali ini adalah ia terpaku saat sepasang mata berwarna merah itu berhasil memerangkapnya. Ia tidak bisa bergerak, bahkan saat anak itu mendekat dan mengulurkan tangannya, tersenyum manis.

"Mau bermain bersama?"

Singkat kata mereka berkenalan dan berteman. Sensei tidak pernah lagi datang ke rumahnya untuk mengajar violin, karena sekarang ia yang akan mendatangi beliau. Setiap pulang les ia selalu mampir ke lapangan basket untuk bermain bersama Akashi. Permainannya buruk namun Akashi dengan sabar mengajarinya.

Basket pun menjadi kesukaannya selain musik.

Namun hari-hari menyenangkan itu berakhir ketika suatu hari ia tak menemukan Akashi di lapangan basket seperti biasanya. Ia berpikir Akashi sedang sibuk atau sakit. Tapi hal itu terus berlanjut pada hari-hari berikutnya. Akashi tidak pernah terlihat lagi.

Pertemuan mereka selanjutnya adalah di SMP Teiko, di mana ia harus menelan kenyataan pahit karena Akashi sama sekali tidak mengingatnya. Meski begitu ia tetap mencoba mendekati pemuda itu dan berteman dengannya.

Hingga... kesalahan fatal itu terjadi.

Kuroko menunduk, merasakan dadanya perih setiap ingatan itu berputar di kepalanya bak kaset rusak. Tiga tahun sudah berlalu dan rasa ini masih menghantuinya. Pertemuannya kembali dengan Akashi dua minggu lalu hanya semakin memperburuknya. Beruntung ia tidak pernah melihat pemuda bersurai merah itu lagi di kampus.

Yah, kita berharap saja keberuntungannya itu berlangsung lama.

Mendesah, ia segera bergegas dan bersiap untuk kuliah paginya.

..

..

..

Kuroko tidak menyangka keberuntungannya akan berakhir secepat ini.

Ia dalam perjalanan ke ruang musik ketika suara lengkingan yang entah kenapa membawa firasat buruk menyapa telinganya. Belum sempat ia bereaksi, sepasang tangan sudah menggandeng lengannya dan sekarang ia hanya dapat menyembunyikan kekagetannya sambil menatap datar gadis bersurai pink yang mulai berceloteh riang dengan senyum lebarnya.

"Astaga, astaga! Kukira Akashi-kun berbohong saat dia mengatakan bertemu denganmu di sini! Kyaaaa, aku senang sekali bisa melihatmu lagi, Tetsu-chan! Kau berhutang banyak cerita denganku!"

Kuroko tersenyum tipis. Bohong jika ia mengatakan dirinya tak senang bertemu dengan Momoi. Bagaimanapun gadis itu adalah satu-satunya teman perempuan sekaligus sahabat yang pernah ia miliki. Ia sempat menyesal ketika memutuskan hubungan mereka dulu.

"Ayo, ayo! Yang lain pasti akan kaget melihatmu! Apalagi Dai-chan! Hihi... aku tidak sabar melihat wajahnya!"

Tanpa sadar Kuroko mengerutkan dahinya saat Momoi menyeretnya keluar gedung. Yang lain...? Dai-chan...? Siapa lagi yang berkuliah di sini selain Akashi dan Momoi?

"Tunggu, Momoi-san... Apa maksudmu? Mau ke mana kita?"

"Tentu saja gym!" Momoi menjawab dengan semangat. "Semuanya harus bertemu denganmu!"

"Semua...?"

"Hmm! Dai-chan, Ki-chan, Mukkun, Midorin dan Akashi-kun! Mereka semua berkuliah di sini dan mengikuti klub basket bersama seperti dulu! Bukankah itu hebat?!"

Otak Kuroko mendadak blank. Untuk sesaat ia tidak dapat berpikir dan hanya diam membiarkan Momoi membawanya. Namun langkahnya mulai terasa berat ketika mereka mendekati gym. Otaknya yang sudah kembali berfungsi segera mengirim sinyal-sinyal bahaya. Tidak... ia belum siap untuk bertemu lagi dengan Akashi...

"Momoi-san, aku harus kembali—"

"Tidak, tidak, aku tidak akan membiarkanmu kabur, Tetsu-chan! Ah, Midorima-kun!"

Sesosok pemuda tinggi bersurai hijau yang berdiri di depan pintu masuk gym menoleh. Jari-jari tangannya yang berbalut perban bergerak memperbaiki posisi kacamatanya, sementara tangannya yang lain memegang kotak tisu yang Kuroko yakini sebagai lucky item hari ini. Ia dapat melihat kedua mata pemuda itu yang menyipit saat mereka bertemu pandang.

"Momoi dan... Kuroko?"

Kuroko menyapa pemuda itu sopan saat jarak mereka telah dekat. "Apa kabar, Midorima-kun."

Midorima terdiam dan memandangnya lekat, tampak masih mencerna apa yang tengah terjadi. Sedetik kemudian ia berdehem. "Aku telah mendengarnya dari Akashi, tapi sungguh mengejutkan melihatmu benar-benar ada di sini, Kuroko. Bukan berarti aku senang bertemu denganmu nanodayo."

Kuroko mengangguk melihat ke-tsundere-an Midorima yang tidak berubah. "Senang juga bertemu denganmu, Midorima-kun."

Momoi tersenyum lebar. "Apa semuanya ada di dalam?"

"Ya, kebetulan siang ini kami tidak ada kuliah."

Momoi kembali menyeretnya memasuki gym dan ia hanya dapat menutup matanya pasrah ketika gadis itu berteriak lantang.

"Minna, lihat siapa yang kubawa!"

Suasana gym mendadak hening, menyisakan suara bola yang memantul ke luar lapangan. Kuroko bisa merasakan semua perhatian yang mengarah kepadanya. Ia pun membuka mata perlahan, menemukan wajah-wajah familiar yang sudah lama tak dilihatnya.

"Tetsu."

"Kuro-chin."

"Kurokocchi~!"

Ia tersentak mundur ke belakang saat sesosok tinggi bersurai kuning menubruknya dan memeluknya erat. "Kau benar-benar Kurokocchi!"

"Kise-kun..."

"Kau jahat sekali mengganti nomormu dan tidak pernah menghubungiku-ssu!"

"Maaf..."

Kuroko tak bisa berkutik dan hanya terdiam pasrah mendengar rengekan Kise. Dalam hati ia bersyukur saat Aomine mendekat dan menarik kasar baju pemuda berambut kuning itu.

"Oi! Lepaskan atau kau akan membunuh Tetsu."

"Aominecchi!" protes Kise tak terima.

Aomine mengabaikannya. Kuroko kini mengawasi pemuda berkulit tan yang memandangnya seraya menyeringai. "Aomine-kun."

"Yo, Tetsu. Lama tak jumpa. Bagaimana Seirin?"

Aomine adalah satu-satunya anggota Generasi Keajaiban yang pernah ditemuinya sejak memasuki SMA, itu pun karena ketidaksengajaan saat ia bersama teman-temannya mengunjungi festival sekolah Touo Gakuen. Ia masih ingat jelas kelas Aomine yang mengadakan maid cafe dan laki-laki itu yang menyapanya sangar dalam kostum pelayan.

"Lebih menyenangkan dari yang kukira," jawabnya datar.

"Ehh, jadi kau melanjutkan ke Seirin, Kuro-chin?" timpal Murasakibara yang entah sejak kapan sudah menjulang di depannya. Sekantong besar snack bertengger di tangannya seperti biasa. Kise ikut menyahuti antusias.

"Benarkah, Kurokocchi? Sekolahku sudah beberapa kali menghadapi Seirin! Tim basket mereka lumayan kuat-ssu, terutama Kagamicchi!"

"Yah, kami juga sempat kewalahan menghadapi mereka. Sayang sekali mereka tidak pernah melewati semi final," sahut Midorima.

"Itu karena mereka tidak memiliki Kurokocchi sebagai manajer mereka-ssu!" seru Kise riang seraya melingkarkan lengannya di bahu Kuroko. "Neee Kurokocchi, kenapa kau tidak bergabung dengan tim basket Seirin?"

Kuroko terdiam sejenak. Ia merasa sepasang mata tengah mengawasinya lekat. "Tidak ada alasan khusus."

"Heh, benarkah?" Aomine mengangkat alis.

"Hmmmmmm~" Kise dan Momoi memandangnya dengan mata menyipit. Midorima membenarkan letak kacamatanya, tampak tak peduli namun matanya melirik ke arahnya. Sementara Murasakibara menggumam di sela-sela kegiatan mengunyah snack-nya.

"Hmm, Kuro-chin tak pandai berbohong ne~"

Suasana menjadi tak enak dengan mata-mata yang kini tambah menatapnya penasaran. Entah kenapa tiba-tiba saja Kuroko merasa terpojok. Beruntung sebuah suara menginterupsi dan menyelamatkannya.

"Cukup sampai disitu. Kalian membuat Tetsuna tidak nyaman."

Kuroko dapat merasakan tubuhnya yang mendadak menegang. Perlahan ia mengalihkan pandangan pada sosok yang berjalan mendekat ke arahnya. Pemuda dengan rambut merah menyala, serta sepasang mata heterokromatik yang mampu menghinoptis siapa pun. Aura intimidasi menguar di sekeliling pemuda itu, membuat semua yang ada di sana langsung mengkerut.

Akashi Seijuro berhenti di depannya, menatapnya, dan Kuroko baru sadar jika sedari tadi ia menahan nafasnya. Dalam hati ia mengutuk dirinya sendiri yang masih begitu terpengaruh oleh pemuda itu kendati bertahun-tahun telah terlewati.

"Aka-chin..." gumam Murasakibara.

Aomine mendecih.

"Ne, ne, Akashicchi, tidakkah kau penasaran?" Berusaha mencairkan suasana, Kise tertawa dan dengan nekat beralih merangkul bahu Akashi.

"Sekalipun iya, kurasa itu bukan urusan kita untuk mencampurinya. Dan Ryouta, singkirkan tanganmu dariku."

Kise mem-pout-kan bibirnya, namun dengan patuh segera melepaskan tangannya. Well, dia tidak mau menjadi korban dari gunting Akashi hari ini.

"Daripada itu, kenapa tidak kita ajak Tetsuna makan siang bersama? Aku yakin kalian ingin mengobrol banyak dengannya." Akashi masih menatapnya, membuat Kuroko tak memiliki pilihan lain selain berusaha membalas tenang tatapan yang seakan menembus melihat dirinya.

"Ide bagus-ssu!"

"Tentu saja harus, kan."

"Tetsu-chan, pokoknya kau harus ikut!"

"Mmmm, aku mau makan siang dengan Kuro-chin~"

"Kurasa lebih ramai lebih bagus. Bu-bukan berarti aku ingin makan denganmu nanodayo."

"Bagaimana, Tetsuna?"

Mata dan suara itu penuh dengan keabsolutan, menunujukkan bahwa tak ada satu celahpun untuk dirinya menolak keinginan sang emperor. Sadar bahwa ia tak punya pilihan lain, ia pun mengangguk.

"Baiklah."

..

..

..

Tak ada yang berubah, pikir Kuroko, merasakan rindu yang tiba-tiba menyeruak di dadanya. Pemandangan di depannya mengingatkannya pada masa-masa polos mereka di Teiko dulu. Momoi yang selalu antusias dan mengajaknya berbicara—yang hanya ia tanggapi singkat, Kise dan Aomine yang berisik memperdebatkan hal tidak penting, Murasakibara yang begitu tersedot dengan makanannya hingga tak memperdulikan yang lain, Midorima yang makan dengan kalem dan penuh khidmat—sesekali menegur cara makan Murasakibara sambil berusaha sekuat tenaga menghiraukan keberisikan Kise dan Aomine, serta Akashi yang tenang dan mengawasi semua dari singgasananya.

Melihatnya sekarang entah kenapa membuatnya sedikit bernostalgia.

"Aku tak menyangka Kurokocchi bermain alat musik! Kau harus bermain untuk kami lain kali-ssu!" seru Kise begitu mereka berbicara tentang jurusan masing-masing.

"Benar, benar, aku ingin melihat Tetsu-chan bermain!" tambah Momoi semangat. Yang lain ikut mengangguk setuju.

"Ide yang bagus," Midorima berdehem.

"Kau lebih baik tidak membuat kami kecewa, Tetsu!" Aomine menyeringai seperti biasa. Di sebelahnya Murasakibara hanya menggumam tak jelas dengan mulut penuh makanan, sementara Akashi tidak berkomentar—meski Kuroko sadar sepasang mata heterokromatik itu tak pernah lepas darinya barang sedetik pun.

Berusaha meredam kegugupannya di bawah tatapan Akashi, ia menjawab, "Tentu saja."

Percakapan selanjutnya diisi seputar dunia perkuliahan mereka yang baru. Kuroko masih tak mengira Aomine berakhir di Fakultas Teknik. Ia pikir Aomine akan mengejar karir sebagai pemain basket pro dengan pergi belajar ke Amerika, namun pemuda berambut navy itu dengan enteng menjelaskan bahwa dia juga butuh keahlian lain selain basket. Yang terpenting adalah dia masih bermain basket sekarang dan itu sudah cukup. Kuroko hanya dapat mengangguk mendengarnya, tak menyangka akhirnya Aomine dapat berpikir dewasa. Yah, selain hal-hal kotor yang memang selalu melekat di kepalanya tentu saja.

Sedangkan untuk Kise, Kuroko tidak begitu terkejut mendengarnya memilih Fakultas Seni dengan Seni Akting sebagai jurusannya. Begitu juga dengan yang lain, seperti Momoi yang mengambil jurusan Jurnalistik, Midorima yang dengan kepintarannya berhasil masuk Fakultas Kedokteran, serta Akashi yang sudah pasti memilih Fakultas Ekonomi guna mewarisi kerajaan bisnis ayahnya, diikuti Murasakibara yang bergumam ingin membuka bisnis makanan.

Semua bergerak menuju masa depan dengan pilihan masing-masing. Tapi meskipun begitu mereka masih berkomitmen untuk menjaga hubungan persahabatan mereka, membuat Kuroko sedikit tercubit. Apa sekarang ia berharap dapat kembali setelah sempat meninggalkan mereka begitu saja?

..

..

..

Kuliah terakhir selesai setengah jam yang lalu, dan kini Kuroko mendapati dirinya duduk di bangku sebuah taman yang selalu dilewatinya setiap berangkat dan pulang dari kampus. Tak ada hal spesial yang ia lakukan—hanya diam menikmati hembusan angin sambil mengamati anak-anak kecil bermain. Taman tampak ramai sore itu dengan para remaja yang mampir sepulang sekolah, orang dewasa yang membawa anak atau hewan peliharaan mereka, hingga lansia yang hanya duduk menikmati sore di bangku taman.

Kuroko menunduk menatap sepatu ketsnya. Hatinya terasa tak menentu mengingat makan siang tadi. Bertemu teman-teman mantan setimnya—bahkan satu kampus dengan mereka—merupakan hal yang sungguh terjadi di luar dugaannya.

Mendadak semua usahanya untuk menghindari mereka selama tiga tahun ini terasa sia-sia. Hatinya yang telah ia tata sedemikian rupa mulai berserakan tak tentu arah ketika sepasang mata heterokromatik itu menatapnya.

Sekarang, apa yang akan ia lakukan?

Pandangan matanya kemudian jatuh pada kotak violin di sebelahnya. Senyum tipis terbentuk di bibirnya sementara tangannya bergerak membuka kotak panjang berwarna maroon itu. Hanya violinlah yang mampu menenangkan hatinya saat ini.

Memejamkan mata, ia menggerakkan jari-jari lentiknya yang memegang bow lembut hingga nada-nada lirih nan panjang mengalun di telinganya. Ia tersenyum dalam hati menyadari lagu yang dimainkannya. Ave Maria, lagu yang ia mainkan di kompetisi pertamanya 12 tahun lalu. Memainkannya selalu mengingatkannya akan hari itu, membuat hatinya hangat.

Bagaikan sihir, kegelisahan di hatinya perlahan tersapu seiring dengan nada yang menembus dan merasuk ke jiwanya. Gelombang tak kasat mata seakan menyebar ke seluruh tubuhnya, memenuhinya dengan gelenyar familiar yang selalu ia rasakan setiap memainkan violin. Bahkan ketika lagu berakhir, ia masih setia memejamkan mata, meresapi sisa-sisa perasaan di dadanya.

Namun, suara tepuk tangan yang selanjutnya terdengar membuatnya terperanjat. Kuroko membuka mata, merasakan wajahnya yang memanas mendapati kerumunan orang kini telah mengelilinginya. Ia begitu terhisap dalam dunianya sendiri hingga melupakan fakta bahwa kini ia tengah berada di tempat umum.

Ia berusaha mempertahankan poker face-nya ketika dua anak kecil menghampirinya dengan wajah berseri-seri.

"Nee-san, nee-san, kau terlihat cantik sekali saat memainkannya!"

"Ayo mainkan lagi!"

Kuroko memandang ragu dua anak yang kini menarik-narik roknya. "Ano..." Ia mencoba untuk menolak, namun kemudian anak-anak lain ikut keluar dari kerumunan dan berlari ke arahnya, memohonnya untuk bermain.

"Nee-san, mainkan lagu untuk kami!"

"Iya, iya, kami ingin mendengarnya!"

Kuroko memperhatikan satu-persatu wajah polos yang menatapnya penuh harap sebelum kemudian mengangguk dan tersenyum kecil. "Baiklah. Tapi hanya satu lagu, mengerti?" tawarnya. Anak-anak bersorak senang.

Menghela nafas, Kuroko berdiri dari bangkunya. Ia berusaha memikirkan lagu yang akan dimainkannya ketika tangannya yang memegang bow bergerak menggesek senar dengan sendirinya, menciptakan nada-nada riang bertempo cepat. Gavotte, batin Kuroko. Lagu yang bagus, tambahnya seraya melanjutkan permainan.

Semua memandangnya terkesima, termasuk anak-anak yang kini mendongak dan menatapnya dengan mata berbinar-binar. Sosok yang berdiri anggun, nada-nada yang melantun sempurna tanpa cacat, serta perasaan yang mengalir dalam permainan itu sendiri membuat siapa pun yang melihatnya serasa terhisap. Mereka bahkan butuh beberapa detik untuk menyadari jika lagu telah berakhir sebelum berebutan memberikan tepuk tangan.

Kuroko menurunkan violinnya, tersenyum lalu membungkuk.

Ketika kerumunan akhirnya bubar, ia berbalik untuk memasukkan kembali violinnya ke dalam kotak. Namun suara langkah kaki ditambah sebuah tepuk tangan kecil menghentikannya.

"Permainan yang sangat bagus, Tetsuna."

Suara ini...

Kuroko menoleh, mendapati sosok yang berada di urutan terakhir dalam daftar orang yang ingin ia temui berjalan menghampirinya.

"Akashi-kun..."

Pemuda bersurai merah itu berhenti di depannya. Untuk sesaat mereka saling bertatapan. Sepasang manik biru bertemu dengan merah dan kuning. Berusaha mengendalikan jantungnya yang mulai berdetak liar, Kuroko membuka mulutnya.

"Apa yang Akashi-kun lakukan di sini?"

Akashi memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Aku melihatmu bermain dalam perjalanan pulang, jadi kuputuskan untuk menonton sebentar. Tak kusangka kau benar-benar bermain dengan bagus, Tetsuna."

"Terimakasih," ucap Kuroko lirih.

Akashi tersenyum, lalu memperhatikan violin di tangannya. "Apa kau sudah selesai?"

Kuroko menyadari violin yang masih dipegangnya. "Ah, ya."

"Kalau begitu kuantar kau pulang. Aku yakin kita belum punya kesempatan untuk sedikit berbincang."

Tanpa menunggu jawaban Kuroko, Akashi berbalik dan mulai berjalan. Kuroko masih berdiri di tempatnya, mengerjap, sebelum detik selanjutnya tersadar. "A-Akashi-kun, tunggu...!"

Mereka berhenti di depan mobil ferrari berwarna merah. Kuroko memandangnya ragu ketika Akashi membukakan pintu untuknya. "A-ano... Akashi-kun, tempatku hanya berjarak 10 menit berjalan kaki dari sini—"

"Aku tidak menerima penolakan, Tetsuna."

Jawaban khas dan tegas yang seharusnya sudah ia antisipasi. Tak punya pilihan, Kuroko pun akhirnya menurut.

Perjalanan memakan waktu kurang dari 5 menit ketika mereka tiba di sebuah gedung apartemen berlantai 7 yang lumayan besar. Kuroko memandu Akashi menuju unit apartemennya yang berada di lantai 5 setelah pemuda itu mengatakan—memaksa—akan mengantarnya sampai ke depan pintu.

"Terimakasih atas tumpangannya, Akashi-kun," Ia membungkuk kecil. "Apa kau ingin mampir dan minum secangkir teh?" tanyanya basa-basi, dalam hati ingin segera menjauh dari pemuda itu.

Akashi tak menjawab, hanya diam menatapnya dengan tatapan yang tak dapat diartikan.

"Akashi—"

Yang selanjutnya terjadi sungguh di luar dugaan saat pemuda itu mendekat dan meraih pinggangnya. Kuroko tak bisa menahan matanya yang membulat kaget ketika wajahnya bertemu dengan dada bidang hangat yang tak pernah berani ia impikan. Ia terpaku, terlalu terkejut hingga tak mampu berkata-kata.

"A-Akashi-kun," cicitnya setelah berhasil menemukan suaranya. "Apa yang—"

"Sshhh..." Akashi berbisik memotongnya. Pemuda itu menyandarkan dagu di bahu kecilnya, menenggelamkan wajah di surai lembut baby blue-nya. "Biarkan seperti ini sebentar," tambahnya lirih.

Kuroko mengepalkan tangan. Jantungnya berdebar kencang. Otaknya memerintahkannya untuk segera melepaskan diri, namun tubuhnya menolak untuk bergerak. Ia memejamkan mata, seiring dengan kepalan tangannya yang perlahan melemas, menyerah pada kehangatan yang merengkuhnya.

"Ha'i..."

.

.

.

To be continue...

Thx for reading and for the review ^^