DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO
RATE : T
WARNING : AU, MULTICHAPTER, A BIT OOC, DON'T LIKE DON'T READ
.
.
.
.
.
Informasi dari agen properti bernama Gaara telah berhasil membuat Naruto terutama Hinata dibuat cemas. Rumah baru mereka yang apik terkesan menyimpan sebuah rahasia kelam.
Pintu basement yang selalu terkunci dan dihiasi shimenawa itu telah menghancurkan kesempurnaan kisah lembaran baru hidup mereka yang nyaris sempurna.
.
.
.
.
.
~ The Basement Room ~
Sekarang adalah hari Senin. Hari pembuka setiap minggunya. Hari yang cocok untuk mengawali hal-hal yang baru.
Hinata dan Naruto pun setuju. Hari Minggu kemarin mereka berdua disibukkan dengan seabrek perabotan-perabotan rumah tangga yang wajib diboyong dari kediaman Hyuga. Tak bisa dihitung dengan pasti berapa jumlah barang-barang yang dibawa. Sofa, almari pakaian, ranjang double-bed, televisi layar raksasa, piano, meja makan, kursi, adalah beberapa contohnya. Beruntung karena ayah Hinata adalah seorang pemilik perusahaan skala nasional sehingga tidak perlu menyewa jasa angkut barang yang tentu saja bisa sedikit mengirit anggaran. Para pekerja pria yang jumlahnya lebih dari satu kodi diterjunkan untuk membantu putri dan sang menantu. Alhasil, cukup kurang dari 24 jam saja semuanya bisa selesai tanpa hambatan.
Kini sang nyonya muda Uzumaki sedang kelabakan diburu oleh waktu. Bukan demi dirinya sendiri melainkan demi sang suami tercinta. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 07.15. Empat puluh lima menit lagi suaminya harus sampai di kantornya yang berada di distrik perkantoran kota Kyoto. Dan Hinata baru bisa menyiapkan sarapan pagi detik ini juga karena bangun kesiangan akibat kelelahan mengurusi pindahan rumah.
"Santai-santai saja Hinata-chan. Jangan terlalu terburu-buru. Aku masuk telat lima belas menit tak apa kok."
Sang suami yang sudah duduk manis di kursi makan sedari dua puluh menit lalu mengutarakan keikhlasannya pada keadaan. Namun sang istri tetap berkeras karena diliputi rasa bersalah.
"Tidak apa Naruto-kun. Aku harus cepat menyiapkan makanan agar kau tetap bisa sarapan dan tidak telat." tempo kalimatnya terdengar sangat cepat. Tak sempat wanita ini menoleh saat menyahut karena terlalu sibuk memarut keju batangan. Sandwich adalah jenis makanan yang sedang disiapkan olehnya. Praktis dan ringkas, alasannya.
Cting!
Dua buah roti tawar baru saja meloncat serempak dari dalam toaster alias mesin pemanggang roti. Hinata melirik, mencomot setangkap roti tadi, memasukkan ham-tomat-selada-parutan keju secara cekatan, terakhir menyemprotkan mayonaise dan saos sebelum menutupnya dengan selembar roti yang tadi.
"Maafkan aku Naruto-kun. Hanya ini yang bisa kubuatkan di hari pertama." dengan nafas yang sedikit terengah, pemilik surai indigo ini menyodorkan piring plastik berisi sandwich karyanya kepada Naruto.
"Terimakasih Hinata-chan." ucapan tulusnya dipadu dengan senyuman hangat membuat degup jantung si mantan penyandang marga Hyuga terpompa lebih cepat dari biasa. Ia tidak tahu kenapa hal ini masih kadang terjadi padahal dirinya dan sang pria pujaan sudah hidup bersama hampir sembilan bulan lamanya.
Melihat pria pirang di hadapannya memakan lahap roti isi hingga kedua pipi Naruto menggembung membuat hatinya senang. Ia sedikit mengempos saat menyadari jika menjadi seorang istri yang baik dan bertanggungjawab itu ternyata tidaklah mudah. Baru begini saja sudah merasa kesulitan. Mungkin beginilah hasil dari dua puluh lima tahun selalu hidup penuh kenyamanan dalam sangkar emas mansion Hyuga dan tak pernah sedikitpun merasa repot karena ini-itu tinggal memberi komando kepada pelayan. Hinata cukup menyesali hal ini sekarang.
"Nyam ... Nyamm." Naruto mengusap bibirnya menggunakan tisu. "Aku berangkat dulu Hinata-chan. Ini masih jam setengah delapan. Tapi mengingat Senin pagi seperti ini pasti lalu-lintas akan macet." ia meneguk segelas air putih hingga isinya nyaris kering kemudian bangkit berdiri.
Sang istri mendekat ke arahnya seperti sudah hafal tanpa perlu disuruh. Mereka saling berkecupan singkat di bibir. Bahkan Hinata sempat merasakan sensasi rasa sandwich yang dia buat saat bibir Naruto menempel.
"Aku berangkat dulu Hinata-chan." bergegas pria berwatak ceria ini melaju menuju garasi untuk masuk ke dalam mobil pribadi mereka.
Hinata menunggui suaminya tepat di pintu depan. Naruto sempat menyalakan klakson sebelum akhirnya mobil yang dikendarainya melesat cepat menyusuri jalan raya.
Hinata menurunkan lambaian tangannya. Ia menghela nafas pendek. Pekerjaan sang belahan hati tidaklah terbilang prestisius apalagi sampai kategori 'wah'. Gaji bulanannya saja hanya cukup untuk hidup standar bagi mereka berdua. Sebagai seorang agen asuransi. Namun perbedaan status sosial seperti ini tidaklah sanggup memagari cinta antara keduanya. Awalnya Hyuga Hiashi, ayah Hinata, kurang setuju dengan hubungan mereka. Namun lambat laun hati ayahnya mulai luluh oleh sikap Naruto yang positif, ceria, dan menyenangkan. Dan beginilah akhirnya, mereka berdua dipersatukan oleh Tuhan sebagai pasangan suami-istri yang sah.
Cukup sudah lamunan nostalgia Hinata. Naruto telah berangkat mencari nafkah dan kini dia sukses seorang diri di rumah minimalisnya. Pikiran wanita berumur dua puluh lima tahun ini perlahan tergiring menuju tempat itu. Tempat yang berada persis di bawah rumahnya dan pintu masuk menuju kesana telah dikunci permanen bahkan dipasangi tali segel mantra.
Ia langsung menggeleng kecil dan berusaha mengenyahkan pikiran negatif tadi. Ini masih pagi. Lebih baik dia naik ke kamarnya di lantai dua dan melakukan hal yang lebih bermanfaat.
.
.
.
.
.
Hinata baru ingat kalau hari ini adalah Senin. Bukan itu lebih tepatnya. Senin adalah hari dimana Sakura Haruno akan datang berkunjung. Setiap dua minggu sekali.
Sakura adalah kawan sebayanya dan Naruto semasa sekolah menengah atas dan kini dia dan kawannya itu akan bertemu dalam kondisi privat. Berdiskusi, berkonsultasi, sekaligus berobat bila perlu. Sakura adalah seorang psikiater muda dan Hinata adalah pasiennya.
Hinata telah mengirimkan alamat rumahnya yang baru melalui pesan whatsapp kepada Sakura kemarin. Karena biasanya konsultasi dilaksanakan di mansion Hyuga dan tentu saja temannya itu tidak tahu alamat rumahnya yang sekarang. Ia saja baru menempati belum genap satu hari.
Hanya dengan memakai celana hotpants dan atasan kaos ungu lengan pendek, Hinata telah setia menanti di ruang tamu. Tak lupa setoples kue kering ditemani secangkir jus mangga telah disediakan olehnya di atas meja. Waktu telah menunjukkan pukul 14.00. Sakura bukan orang yang gemar memakai 'jam karet'. Selalu datang tepat waktu.
Tin Tin!
Wanita berambut panjang ini lekas beranjak dari tempat duduknya guna menyambut kedatangan sang dokter sekaligus teman baik.
"Hinata." suara mezzo-sopran yang terdengar centil saat memanggil namanya itu langsung dibalas dengan panggilan nama pula.
"Sakura-chan." keduanya saling berciuman pipi kanan dan kiri. Sang tuan rumah mempersilahkan tamu yang sudah ditunggunya untuk memasuki istana kecilnya.
"Woah, jadi ini rumahmu sekarang bersama Naruto?" Sakura sedikit terperangah. "Kecil, simpel, bersih. Intinya, aku suka." lanjutnya seraya tertawa kecil.
Kedua orang itu langsung mengambil tempat duduk di sofa. Saling berhadap-hadapan.
"Silahkan diminum dan dicicipi cemilannya dulu, Sakura-chan." sebuah prosedur umum selaku tuan rumah saat melayani tamu ini tak mungkin Hinata lewatkan.
Wanita berambut warna merah muda itu membalasnya dengan senyum, "Terimakasih. Tapi aku hanya minum saja. Kali ini cemilan stop. Aku sedang diet, Hinata."
Cangkir berisi likuid kekuningan itu berhasil Sakura habiskan isinya separuh. "Aaah, segarnya. Kau benar-benar paham minuman kesukaanku."
"Tentu saja. Kita kan bukan kawan yang saling kenal baru kemarin sore." sahut Hinata ramah.
Sakura terdiam sejenak. Ia membuka tas jinjingnya lalu mengambil sebuah pulpen dan sebuah buku catatan dari dalamnya. "Oke Hinata, bisa langsung kita mulai acara konsultasinya?"
Yang ditanya mengangguk patah-patah, "Emmh."
Sang psikiater mengambil nafas pendek, "Bagaimana sekarang kondisi mentalmu? Lebih baik dari sebelumnya? Paling tidak, lebih mendingan jika dibandingkan bulan lalu?"
Si pasien tidak langsung menyuarakan isi pikirannya. Hinata masih bimbang untuk berkata jujur. Apa yang dia rasakan saat ini sebenarnya tidak berbeda dengan bulan lalu. Bulan lalunya lagi. Bulan lalu lalunya lagi. Mungkin terasa sedikit lebih baik jika dibandingkan dengan satu setengah tahun lalu.
Saat dimana adik kesayangan satu-satunya meninggal dunia karena kecelakaan.
Ibu Hinata telah lama pergi untuk selamanya setelah melahirkan sang adik, Hanabi Hyuga. Kala itu usia Hinata masihlah dalam tahap kanak-kanak. Dan itu pun cukup membuat batinnya menderita. Kehadiran Hanabi, adik kecilnya yang jahil tapi tangguh itu, perlahan membuat Hinata mampu melewati masa berkabung sepeninggal ibunya ke surga. Baginya sang adik adalah semacam warisan terbesar dari ibunya yang harus dijaga baik-baik.
Namun apa mau dikata. Takdir berkata lain. Hanabi tewas dalam kecelakaan tunggal sesaat setelah bertengkar dengan dirinya. Mobil yang dikemudikannya hancur menabrak tiang lampu jalan. Dan setelah itu hidup Hinata berubah drastis nyaris 360 derajat. Penyesalan, amarah, kekecewaan, dan yang paling mendominasi adalah kehilangan. Hinata merasa sangat gagal. Gagal dalam melindungi apa yang telah ibunya wariskan sekaligus percayakan belasan tahun silam. Satu setengah tahun sudah Hinata bersahabat dengan yang namanya depresi berat. Dan alasan utama dari kepindahannya menuju rumah baru sebenarnya adalah ini. Terlalu banyak kenangan manis yang kini telah berbalik menjadi pahit di mansion Hyuga.
"Hinata?"
Suara Sakura sukses menyadarkan Hinata yang sedang terkurung dalam alam bawah sadarnya sendiri.
"E..Eh? Ano apa yang ... "
"Sudah. Tidak perlu dijawab. Aku sudah tahu jawabannya." Sakura memasang wajah prihatin. "Depresimu masih sama ya. Tapi setidaknya kita harus bersyukur karena kau sudah tidak lagi meraung sambil mengamuk dan hampir mencelakakan dirimu sendiri seperti kala itu." sambungnya lagi.
Hinata membisu. Istri Naruto Uzumaki ini terus-terusan meremas telapak tangannya satu sama lain.
"Gejala yang masih ada?" tanya si wanita bermarga Haruno.
Kali ini baru dia mau menjawab lugas, "Bayangan-bayangan Hanabi dalam pikiranku. Rasa sakit yang sulit didefinisikan. Dan terakhir aku kadang masih menangis tanpa sebab."
Sakura manggut-manggut. Ia sibuk menulis sesuatu di buku catatannya. "Depresimu masih sama kalau aku boleh bilang. Cobalah untuk mengalihkan pikiran negatif dengan kegiatan positif. Dan seperti yang sering kusarankan kepadamu, berusahalah menerima kenyataan."
"Mustahil Sakura-chan. Memaksa hatiku untuk menerima kematian Hanabi akibat sikap egoisku dulu itu justru akan memperparah keadaan." Hinata menyampaikan bantahan.
Sakura mencoba memahami, "Aku tahu. Itu adalah hal yang hampir mustahil untuk kau lakukan saat masih berada dalam tahap depresi berat. Mungkin saat tahapanmu sudah menjadi ringan, kau baru akan bisa. Ingat, menerima kenyataan adalah obat paling mujarab untuk menghadapi masalah apapun."
Konsultasi yang cukup membosankan. Itu yang Hinata rasakan. Selalu saja tak ada anjuran lain selain yang barusan disampaikan oleh temannya ini. Mungkin saja Sakura masih amatiran dalam dunia psikiatri sehingga kompetensinya kurang terasa.
Wanita bermata zamrud itu mengeluarkan selempeng obat dari dalam tasnya, "Hinata, kuberi kau Zoloft 50 mg seperti biasa saja ya. Dosisnya tidak boleh lebih dari sekali per hari, ingat."
Hinata mengangguk pasrah saat diberi obat yang direkomendasikan oleh psikiaternya, "Baik."
Sesi konsultasi berakhir. Seperti biasanya, setelah ini yang terjadi adalah obrolan antar sesama teman tanpa perlu dibayangi oleh status pasien dan dokternya.
"Jadi Hinata, kau baru hari ini menempati rumah ini?" Sakura bertanya ringan sembari kembali meminum jusnya.
"Iya. Hari Minggu kemarin kami pindahan dari rumah ayahku." jawabnya sambil memutar kaleng toples. Dua keping biskuit cokelat yang lezat kini telah masuk ke dalam rongga mulutnya.
"Eh Sakura-chan, kau hari ini wangi sekali. Habis ganti parfum ya?"
Yang dicecar hanya tertawa renyah, "Haha, iya-iya. Aku sedang menjajal parfum aroma avril forbidden rose. Eh, habis ini aku boleh diantar berkeliling rumah barumu?"
Tentu saja itu adalah hal yang juga diinginkan oleh si empunya rumah. "Tentu. Sekarang?"
Kedua wanita sebaya ini pun berjalan pelan masuk dari satu ruangan ke ruangan yang lain. Di ruang keluarga Sakura sempat memuji keberadaan tungku perapian yang sebenarnya kurang lazim ditemukan di rumah-rumah Jepang. Saat berada di kamar tidur wanita pink itu turut menyukai posisi balkoninya yang strategis dan sempat menggoda Hinata mengenai betapa asyiknya bercinta tanpa ada penghuni lain di dalam rumah yang berpotensi mengganggu. Kontan saja kedua pipi milik nyonya muda Uzumaki itu memerah laksana kepiting rebus.
Ruang terakhir adalah dapur. Sakura tak banyak berkomentar. Dan saat dia berbalik arah untuk menuju pintu depan, terpampanglah hal janggal itu.
"Hinata, apa maksudnya ini?"
Sang psikiater menunjuk-nunjuk ke arah pintu bercat putih itu dibarengi tatapan curiga bercampur heran. Ia menoleh ke arah temannya.
"Ituu ... Itu adalah pi..pintu menuju ruang bawah tanah rumah ini, Sakura-chan. Basement." Hinata nampak sedikit gelagapan saat menjawab pertanyaan tadi. Tentu saja. Ia sendiri pun tidak tahu-menahu mengenai isi di dalam sana. Dan dia pun sejatinya penasaran.
"Aneh." Sakura menggaruk sebelah kepalanya. "Untuk apa kau pasangi shimenawa yang digantungi beberapa kertas mantra seperti ini?" ia menyentuhkan tangan kanannya ke selembar kertas berwujud persegi panjang yang sedari awal sudah tergantung di tali warna cokelat itu.
"Itu adalah kertas mantra penangkal arwah atau makhluk halus semacamnya, Sakura-chan." tutur istri Uzumaki Naruto ini dengan polosnya.
"Eh? Sungguh?" Wanita itu mengangkat alis kirinya.
Hinata mengangkat kedua bahunya kompak, "Entahlah. Itu yang dikatakan oleh agen perusahaan properti yang menawari rumah ini pada suamiku."
Sakura masih memasang ekspresi tidak percaya. Tiba-tiba tangannya memegang kenop pintu itu.
"Jangan!" spontan sebuah teguran keras meluncur dari kerongkongan Hinata.
Sakura reflek menarik kembali tangan sebelah kanannya yang lancang disusul kalimat, "Maaf-maaf Hinata. Aku tak tahu kalau pintu ini tidak boleh dibuka."
Melihat reaksi dokternya yang seperti barusan membuat wanita bermata abu-abu itu merasa tidak enak sendiri, "Bukan maksudku untuk melarangmu. Maaf, aku mendadak panik. Lagian pintu ini terkunci permanen karena kuncinya pun katanya sudah dibuang."
Hinata menggoyangkan kenopnya sebanyak tiga kali, "Lihat? Terkunci kan?"
Si wanita dengan potongan rambut sebahu itu mengetuk-ngetukkan telunjuknya di dagu, "Emmm jadi, apa cerita di balik disegelnya pintu basement ini? Kau pasti lumayan tahu kan?"
"Aku hanya mendengar dari pria bernama Gaara itu. Si agen penjualan properti yang tadi kusebut. Katanya anak pertama dari pemilik rumah ini yang sebelumnya mengadakan semacam upacara pemanggilan roh di bawah sana."
"Permainan ouija seperti itu misalnya?" Sakura menginterupsi.
"Yaa mungkin saja. Namun sayangnya arwah yang berhasil dipanggil tidak dapat dikembalikan dan berbalik menghantui keluarga itu. Dipanggillah seorang bhikksu untuk mengusir arwah tadi. Sayangnya bhikksu itu gagal dan terpaksa hanya mampu menyegel si arwah di balik pintu ini menggunakan shimenawa."
Tak disangka reaksi Sakura setelah mendengarkan kisah barusan adalah tertawa meremehkan. "Hehehe, kau percaya cerita yang laku untuk menakuti anak kecil seperti itu?"
Sebuah gelengan mendahului jawaban, "Jujur saja tidak. Kita hidup di era modern dimana rasionalitas menjadi nomor satu. Tapi aku juga tidak bisa meremehkan begitu saja kisah tadi."
Wanita beriris hijau zamrud itu memiringkan kepalanya, "Kenapa?"
Hinata menghembuskan nafas pasrah, "Harga jual rumah ini 50% lebih murah dari harga pasaran. Tentunya jika kisah tadi hanyalah isapan jempol, pihak penjual rumah mustahil mau rugi dengan membanting harga separah itu Sakura-chan."
Sakura mengangguk seakan membenarkan opini dari wanita di jejernya, "Benar juga sih. Begini saja, tak usah kau pikirkan mengenai masalah ini lebih jauh. Fokus saja kepada hidupmu yang baru sebagai ibu rumah tangga dan penyembuhan depresimu. Oke?"
Senyuman lebar terukir di wajah cantiknya, "Ya. Aku setuju sekali dengan kata-katamu."
"Ini sudah jam setengah empat. Aku pulang dulu ya Hinata." pamit Sakura.
"Biar aku antar sampai ke halaman depan." tawar Hinata.
Kedua teman satu alumni ini berjalan beriringan sampai di teras depan rumah.
"Sakura-chan." Hinata mendadak memanggil.
Sakura yang hampir sampai di samping pintu mobilnya langsung menanggapi, "Iya?"
"Apakah Sasuke-kun masih sering berhubungan denganmu lewat telepon?" tanyanya.
Wanita pemilik warna rambut senada dengan warna bunga ikonik negara Jepang itu menyahut, "Aku sudah cukup lama tidak berkontak dengannya. Kini kudengar dia sudah mulai berkarier sebagai jaksa penuntut di Tokyo."
Suara 'Ohh' terdengar lirih berikutnya. "Tapi kau masih punya nomor mantanmu itu kan? Aku hanya ingin memberitahukan alamat rumah kami kepadanya. Begitu-begitu dia dulu adalah teman dekat kita kan?"
Sakura merespon antusias, "Oke-oke. Nanti akan kuberikan nomornya lewat whatsapp. Aku pulang dulu ya Hinata. Jangan lupa rutin minum obatnya dan jangan bebani pikiranmu dengan hal-hal yang sebetulnya tidak perlu dipikir. Bye!"
Sakura melambaikan tangannya singkat sebelum tubuhnya menghilang ditelan oleh pintu mobil. Hinata terus berdadah sampai suara mobil milik temannya itu berangsur-angsur menghilang di ujung tikungan sana.
Sebentar lagi senja tiba. Hinata sudah tidak sabar untuk menyambut kepulangan suami tercintanya di rumah indah nan sederhana milik bersama.
.
.
.
.
.
Pukul lima sore. Seharusnya sang suami sudah sampai di rumah sepulang dari kantor tempat dia bekerja. Tapi hingga pukul enam tidak ada tanda-tanda jika mobil sedan milik mereka memasuki garasi atau membunyikan klakson.
Dan pukul tujuh malam orang yang dinanti-nanti barulah terlihat. Naruto memasuki rumah dengan tatapan lelah sembari mengucapkan salam, "Tadaima."
"Okaerinasai." dengan berlari kecil wanita ini menghampiri suaminya di muka pintu. "Sini biar kubawakan tasmu, Naruto-kun." pintanya. Bertingkah layaknya istri idaman lelaki yang patuh.
Pria itu tersenyum kemudian mengecup singkat kening wanita di hadapannya, "Terimakasih. Bawa ke kamar kita ya."
Keduanya berjalan menaiki tangga menuju kamar tidur. Sesampainya di sana Hinata langsung menaruh tas kerja sang suami di atas meja. Sedangkan Naruto yang sedaritadi sibuk melepaskan dasinya, kini lebih memilih untuk duduk sejenak di atas kasur empuk.
"Bagaimana pekerjaanmu tadi, Naruto-kun?" Hinata selalu menanyakan pertanyaan yang sama persis seperti ini seusai suaminya pulang dari bekerja.
"Biasa. Normal-normal saja. Maafkan aku sedikit pulang telat hari ini, Hinata-chan. Ada sedikit lembur." Naruto beralasan.
Kini gantian dia yang menjadi penanya, " O ya, bukankah tadi siang adalah jadwalmu berkonsultasi dengan Sakura-chan?"
Sang istri mengangguk, "Hm. Tadi dia sudah datang kok. Dan seperti biasa, dengan nasehat yang itu-itu saja dan obat yang sama."
Pria berkulit warna cokelat tan itu sedikit terkekeh geli, "Ehehe, mungkin karena Sakura-chan masih baru sebagai psikiater. Tapi dari itu semua yang penting adalah kesembuhanmu. Mau dokternya sejenius apa jika pasiennya tidak sembuh ya percuma."
"Tapi lebih percuma lagi jika dokternya tidak jenius dan pasiennya tidak sembuh." sebuah lawakan sederhana terlontar dari mulut Hinata. Membuat suasana di kamar tidur seluas lima kali lima meter persegi itu menjadi sedikit ramai karena mereka tertawa bersama setelahnya.
"Eh Hinata-chan, bisa tolong kau buatkan aku susu cokelat dingin? Aku haus."
Tak mungkin ditolak. Hinata dengan senang hati mengabulkan keinginan dari pria miliknya. "Siap."
Menyiapkan segelas susu cokelat dingin setelah suaminya pulang biasanya dilaksanakan oleh pelayan. Sebenarnya dulu Hinata ingin menyiapkan hal itu sendiri. Namun sang ayah selalu melarang dengan dalih gaji para pelayan. Percuma saja menggaji mereka jika kau yang melakukan segalanya sendiri pada akhirnya. Hinata masih ingat dengan jelas kata-kata itu.
Dan kini semuanya berbeda. Ia harus mengurusi segala tetek-bengek urusan rumah tangga seorang diri. Tak merasa kerepotan dan justru dia syukuri. Inilah momen yang tepat baginya untuk menjelma perlahan-lahan menjadi istri berbakti.
Suara dentingan sendok terdengar berulangkali saat Hinata mengaduk minuman pesanan Naruto dari kulkas. Ia tersenyum dan siap mengantarkan minuman favoritnya itu menuju lantai dua.
Hinata berjalan penuh kehati-hatian keluar dari ruang dapur supaya cairan susu dalam gelasnya tidak tumpah muncrat-muncrat di lantai.
Dok Dok Dok!
Terdengar seperti suara ketukan pintu. Hinata menghentikan langkahnya lalu melongokkan sejenak kepalanya supaya bisa melihat dengan jelas ke arah pintu depan. Namun dia baru ingat jika pintu itu tidak sempat ditutup selepas suaminya masuk belasan menit lalu.
Dok Dok Dok!
Suara itu terdengar dua kali. Hinata menelan ludahnya kuat-kuat. Bola matanya pelan-pelan bergeser ke arah kanan. Pintu basement warna putih itu terpantul jelas pada sepasang pupilnya. Pikiran buruknya dalam hitungan sekon mulai menguasai.
Dok Dok Dok!
Ia menajamkan indera pendengarannya. Memastikan bahwa suara-suara ketukan barusan hanyalah halusinasi semata. Namun pikiran sadarnya berkata lantang 'Bukan'. Kedua kakinya melangkah mundur lagi teratur. Nafasnya mulai tersengal-sengal akibat irama detak jantungnya yang meningkat tajam. Telapak tangan kirinya yang memegang gelas berkeringat dingin dan mengalami tremor.
'Su..Suara apa itu ta ... '
DOK DOK DOK!
Gelas ukuran sedang itu terjun bebas ke bawah hingga pecah berkeping-keping dan mengakibatkan likuid manis warna cokelat di dalamnya memuncrati betis jenjang Hinata.
PRAANG!
"KYAAAAA!"
~ TSUZUKU ~
Halo readers. :)
Chapter dua sudah author update nih. Mungkin untuk sementara jalan ceritanya belum menampilkan adegan-adegan berbau horror. Karena author ingin mengatur alurnya agak pelan begitu. Tidak keburu alias tergesa-gesa.
Maafkan author kalau chapter ini kurang memuaskan readers sekalian. Karena tensi cerita terkesan stabil-stabil saja secara keseluruhan. Dan hanya ada sedikit lonjakan ketegangan di akhir. :(
Oke, segitu saja yang ingin author sampaikan. Semoga chapter depan bisa lebih memuaskan readers ketimbang dua chapter sebelumnya.
Terimakasih sudah membaca! :D
